Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Selasa, 31 Oktober 2017

ANDA KEPINGIN MENULIS ARTIKEL ?

               Para penulis pemula kadang mudah putus asa. Sebab mereka berulang kali mengirim naskah artikel ke redaksi surat kabar/majalah dan belum satupun yang dimuat. Tidak jelas nasib naskah tersebut karena tidak ada informasi dari redaksi, apakah naskah itu ditunda, perlu direvisi, atau ditolak.
               Memang tidak semua redaksi menginformasikan tentang naskah yang dikirim oleh penulis. Hal ini mungkin karena kesibukan redaksional, menghemat beaya, atau kesulitan lain. Keadaan ini justru yang membuat penulis bingung dan cemas karena tidak ada kejelasan. Mereka tidak mengetahui secara pasti tentang kriteria apa saja yang harus  dipenuhi untuk suatu artikel sehingga layak muat.
Artikel Populer
               Artikel merupakan karangan lepas yang dimuat oleh media cetak seperti surat kabar, majalah, buletin, maupun jurnal. Karya tulis ini menyajikan hal-hal yang aktual disertai pembahasan dan penilaian penulisnya untuk memberikan wawasan bahkan jalan keluar tentang suatu masalah kepada khalayak.
               Artikel dapat dibedakan dalam pelbagai kategori antara lain ada yang membagi menjadi artikel populer, artikel ilmiah populer, dan artikel ilmiah. Dengan memahami kategori ini, seorang penulis bisa memilih artikel yang akan ditulis.
               Artikel untuk surat kabar memang dapat ditampilkan setiap hari, maka artikel jenis ini banyak diterima redaksi surat kabar. Oleh karena itu saingannya banyak. Hal ini agak berbeda dengan artikel yang diterima oleh majalah atau jurnal. Redaksi terbitan ini kadang dibuat pusing karena sedikitnya naskah yang diterima.
               Kriteria artikel populer berbeda dengan kriteria artikel ilmiah. Namun demikian secara garis besar kriteria artikel populer antara lain:
1.            Naskah itu orisinil/asli
Naskah yang dikirim ke redaksi hendaknya betul-betul asli dan karya sendiri. Tulisan itu bukan jiplakan, bukan terjemahan, dan bukan merupakan ringkasan suatu karya.
2.            Menyoroti masalah yang aktual.
Sebelum memutuskan untuk mengirim naskah ke redaksi tertentu, perlu dipikirkan apakah masalah yang diangkat itu membicarakan masalah yang sedang menjadi pembicaraan atau problem sebagian besar masyarakat
3.            Tidak memojokkan agama, suku, paham, ras, politik, atau profesi tertentu
Mengingat tulisan itu dibaca oleh masyarakat awam, maka perlu dijaga jangan sampai menimbulkan keresahan, mengusik kateteraman, bahkan jangan sampai menimbulkan kerusuhan dalam masyarakat.
4.            Naskah itu tidak melanggar etika akadmeik, etika penulisan, undang-undang hak cipta, dan peraturan-peraturan yang berlaku.
Dalam kegiatan intelektual dikenal adanya hak-hak intelektual yang harus dipatuhi oleh siapapun termasuk oleh penulis artikel. Sebab penulisan artikel merupakan kegaiatan intelektual, ilmu pengetahuan, dan profesi.
5.            Menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca surat kabar atau majalah tertentu
6.            Memperhatikan kepentingan redaksi dan mengetahui selera bahasa pembaca potensial
7.            Keutuhan naskah
Naskah yang baik akan berisi ide dan pengetahuan yang utuh tentang suatu masalah yang dibahas. Tulisan yang utuh memiliki bagian-bagian yang harus ada dan berfungsi saling mendukung satu dengan yang lain, sehingga mampu mengungkapkan pengertian yang utuh dari suatu persoalan yang diuraikan.
8.            Naskah ditulis sistematis
Dalam mengekspresikan ide melalui tulisan harus mengikuti sistem penulisan yang berlaku sesuai jenis tulisannya, terpola, dan runtut. Aturan-aturan inilah yang harus dipahami oleh seorang penulis agar apa yang dipaparkan itu tidak membingungkan redaksi dan enak dibaca
9.            Kalimat-kalimatnya tidak berbelit-belit dan tidak  terlalu panjang
Pengungkapan ide yang berbelit-belit itu akan menyulitkan pemahaman. Sebab pembaca dipaksa untuk berpikir dua kali dalam memahami bacaan. Redaksi pun enggan mengoreksi naskah seperti tu karena dianggap menambah beban kerja dan ini dianggap cara kerja yang tidak efektif dan kurang efisien. Oleh karena itu dalam penulisan sebaiknya menggunakan kalimat yang pendek-pendek dan padat makna sehingga mudah dipahami. Sebab kalimat yang panjang kadang malah mengaburkan makna. Lagi pula dalam bahasa Indonesia dikenal memiliki sifat pendek, pasif, dan sederhana. 
               Betapapun panjang pendeknya susunan kata-kata dalam suatu kalimat, maka kalimat itu dianggap baik apabila memiliki kesatuan yang utuh dan baku. Oleh karena itu, suatu kalimat dianggap sempurna apabila mampu berdiri sendiri, terlepas dari konteksnya, dan mudah dipahami
Hindari 7 (tujuh) hal
               Kecuali hal-hal tersebut, penulis artikel perlu memerhatikan hal-hal yang sering mengganggu penyuntingan. Masalah ini kadang dianggap sepele oleh penulis. Padahal masalah-masalah seperti inilah yang sering mengganggu proses penyuntingan bahkan merupakan hambatan tersendiri bagi redaksi. Hal-hal yang perlu dihindari oleh penulis artikel yakni:
1.            Tidak konsisten
Konsistensi sangat diperlukan dalam penulisan agar tidak menimbulkan salah persepsi bagi pembaca. Konsistensi diperlukan dalam hal ejaan, penomoran, tanda baca, cara pengutipan, dan lainnya.
2.            Pernyataan tidak tepat
Pernyataan dalam kalimat yang kurang tepat bisa menimbulkan salah tafsir dan membingungkan pembaca. Untuk itu perlu dipilih kata-kata yang tepat dalam pengungkapan ide.
3.            Obral kata dalam penyampaian ide
Komunikasi dalam bentuk tulisan berbeda dengan komunikasi dalam bentuk lisan. Komunikasi tulis diperlukan kelihaian penyusunan kalimat yang sederhana, singkat, dan tidak berulang-ulang, apalagi terlalu banyak kata yang mubadzir. Hal ini harus dihindarkan agak komunikasi tulis itu bisa efisien dan efektif.
4.            Penggunaan kata-kata yang kurang tepat
Penggunaan kata-kata yang kurang tepat dapat menimbulkan salah persepsi.
5.            Penggunaan kata-kata yang terkesan megah, jargon
6.            Tidak memperhatikan selera, pendidikanm dan kultur pembaca
7.            Kurang memperhatikan perangkat kebahasaan
Naskah yang tidak diterima bukan berarti naskah itu jelek, cuma kurang sesuai dengan visi dan misi suatu penerbitan. Oleh karena itu agar naskah yang ditawarkan ke redaksi  itu tidak menyulitkan, kiranya perlu memerhatikan unsur-unsur keterbacaan, ketaat-asasan, kebahasaan, ketelitian fakta, dan kesopanan.
Keterbacaan
               Naskah yang dikirim ke redaksi hendaknya mudah dibaca. Naskah yang sulit dibaca/dipahami mungkin saja terjadi karena kurang tepatnya pemilihan kata, pemilihan huruf, penggunaan tanda baca, maupun sistematikanya. Kadang penulis hanya berpikir yang penting isinya dulu sehingga tidak memerhatikan kesalahan tulis, tanda baca, susunan kalimat, dan lainnya.
Ketaat-asasan
               Dalam penulisan keilmuan perlu adanya konsistensi dalam penggunaan kata, penomoran, ejaan, sistematika, maupun pemilihan huruf. Penulisan yang tidak konsisten bisa membingungkan redaksi dan pembacapun sulit memahami naskah itu.
Kebahasaan
               Bahasa merupakan media untuk menyampaikan buah pikiran kepada orang lain. Orang lain akan dapat memahami maksud seseorang apabila ide yang disampaikan itu menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan tidak berbelit-belit.
Dalam hal kebahasaan ini perlu diperhatikan tata bahasa seperti penggunaan kata, ejaan, dan struktur kalimat. Oleh karena itu, agar naskah itu bagus, sebaiknya sebelum dikirim ke redaksi supaya dibaca orang lain terutama mereka yang memahami dunia tulis menulis. Langkah ini untuk mendapatkan masukan dalam hal isi, sistematika penulisan, maupun penggunaan bahasa. 
Ketelitian Fakta
               Keakuratan fakta dan validitas data merupakan pertimbangan tersendiri bagi redaksi dalam penerimaan naskah. Hal ini juga memengaruhi kredibiltas seorang penulis
Kesopanan
               Dalam mengekspresikan ide melalui tulisan, mestinya telah dipikirkan secara matang tentang apa, bagaimana, bahasa, dan cara pengungkapan masalah. Untuk itu perlu dicek ulang bagaimana tulisan itu apakah masih terdapat hal-hal yang kurang sopan, menghina, memojokkan, atau menyerang pihak lain atau tidak. Demikian pula dalam pencantuman gambar, foto, dan ilustrasi lain perlu diperhatikan.
Penutup
               Tidak sedikit orang yang kepingin menulis dan menjadi penulis terkenal. Namun keinginan itu seharusnya ditunjang dengan motivasi, usaha keras, berlatih, dan mencoba. Tanpa itu keinginan menulis hanya menjadi impian belaka. Sebab para penulis profesional memang bermula dari kegagalan. Kemampuan mengatasi kegagalan itulah salah satu indikator adanya kemajuan.
               Bagi penulis pemula harus berani belajar dan mencoba. Mereka perlu berguru pada penulis-penulis yang telah berpengalaman. Kamudian mereka harus berani mencoba dan mencoba. Kalau orang takut mencoba, maka berarti kegagalan. Sebab orang yang takut itu tak akan pernah maju. Penakut itu mati seribu kali dan pemberani itu hanya mati sekali.

Lasa Hs

Perpustakaan UMY

Minggu, 29 Oktober 2017

GELIAT LITERASI DI KALANGAN MUHAMMADIYAH

Muhammadiyah sebagai gerakan kemajuan, tidak saja memajukan dakwah Islamiyah, tetapi kini juga merambah ke bidang literasi. Langkah ini terinspirasi Iqra sebagai dorongan membaca dan nun walqalami wama yasthurun sebagai dorongan untuk menulis. Membaca dan menulis merupakan inti gerakan literasi yang menopang Muhammadiyah sebagai gerakan keilmuan. Demikian disampaikan David Efendi (anggota pengurus MPI PP Muhammadiyah) dalam Workshop Literasi PP ‘Aisyiyah beberapa waktu lalu.
Dipaparkan juga bahwa memang mayoritas masyarakat kita masih senang menonton daripada membaca. Hasil Survei Sosial dan Ekonomi Nasional yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) sampai 2015 menyatakan bahwa pembaca surat kabar hanya 13,1 % dan penonton televisi mencapai 91, 5 %. Menyikapi data ini, kalangan Muhammadiyah tidak mencari kambing hitam. Bertindak akan lebih bijak dalam membangkitkan semangat belajar di kalangan masyarakat. Apresiasi ini antara lain diwujudkan dengan terbitnya beberapa buku tentang Muhammadiyah. Menurut rencana pada awal November nanti akan diselenggarakan launching 12 judul buku di gedung dakwah PP Muhammadiyah Menteng Jakarta.
Ghirah literasi informasi ini juga ditunjukkan oleh ‘Aisisyah (Lembaga Kebudayaan) yang kini sedang mencari bentuk/model literasi informasi ala ‘Aisyiyah. Potensi gerakan literasi di kalangan Muhammadiyah memang potensial. Misalnya saja gerakan itu bisa melalui perpustakaan perguruan tinggi, sekolah, pondok pesantren se Indonesia. Muhammadiyah –‘Aisyihah memiliki ratusan perguruan tinggi. Ribuan sekolah, dan ratusan pondok pesantren. Potensi ini dapat digerakkan untuk memajukan masyarakat Indonesia.
Bagi anda yang ingin membaca tulisan tulisan tentang literasi informasi, anda bisa berkunjung ke http://www.literasiinformasi.com/

Lasa Hs.

                        

MUHAMMADIYAH SEBAGAI GERAKAN ISLAM (RESENSI)

Judul         : Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam
Penulis      : Musthafa Kamal Pasha (Allahu Yarham) & Ahmad Adaby Darban (Allahu Yarham)
Penerbit    : Yogyakarta: Surya Mediatama


“Muhammadiyah Sekarang ini lain dengan Muhammadiyah yang akan datang. Maka teruslah kamu bersekolah, menuntut ilmu pengetahuan di mana saja. Jadilah guru, kembalilah kepada Muhammadiyah, jadilah meester, insinyur dan lain-lain dan kembalilah kepada Muhammadiyah (KH.Ahmad Dahlan)
               Pesan pendiri Muhammadiyah ini tertulis pada sampul belakang buku tersebut. Pesan yang mendalam ini mendorong warga Muhammadiyah untuk selalu belajar dan belajar di manapun dalam bidang apapun. Kepandaian itu lalu digunakan untuk mengembangkan amal usaha Muhammadiyah yang kini bergerak dalam berbagai bidang. Kini Muhammadiyah tidak saja memperhatikan dan mengembangkan dakwah, tetapi sudah merambah ke bidang pendidikan, pengembangan sumber daya masyarakat, ekonomi, kesehatan, perpustakaan, kebudayaan, dan lainnya.
               Memang benar, era yang dihadapi Muhammadiyah kini dan akan datang berbeda jauh dari masa-masa ketika Muhammadiyah sedang berdiri. Perkembangan amal usaha ini sangat luar biasa. Maka pemikiran KH Ahmad Dahlan ternyata mampu menembus dimensi waktu yang tak lekang oleh perubahan jaman.

               Buku ini menyajikan kebangkitan umat Islam dimulai dari Dinasti Umaiyah (661-750). Saat itu kekuasaan Islam memang membentang dari Afrika Utara, sebagian India, Afganistan, Turkistan, Samarkand an sebagian besar kerajaan Rumawi Timur. Saat itu telah berdiri perguruan tinggi Islam terkenal seperti Universitas Iskandariyah dan Universitas Naisabur. Pada periode ini juga telah lahir mujahid besar dalam bidang fiqh seperti Muhammad Idris as-Syafii sebagai imam mazhab Syafii dan penulis kitab Al Um, imam Malik bin Anas, dan imam Ahmad bin Muhammad bin Hambal pendiri mazhab Hambali. Kemudian diuraikan perkembangan dan kebangkitan Islam pada masa Abbasiyah, Dinasti Umaiyah di Spanyol, dan Dinasti Fatimiyah.
               Pada bab-bab berikutnya diuraikan kebangkitan kembali dunia baru Islam dengan menampilkan pemikiran-pemikiran Ibnu Taimiyah, sampai pada pemikiran Sayed Abdul A’la Maududi. Pembahasan ini diteruskan dengan gerakan modernisasi di Indonesia.
Buku yang dicetak berulang kali ini menguraikan latar belakang berdirinya Muhammadiyah, baik faktor subyektif maupun faktor obyektif. Juga disajikan secara ringkas perkembangan kepemimpinan Muhammadiyah sejak KH Ahmad Dahlan sampai periode KH Faqih Usman/periode KH A.R. Fakhrudin (Pak AR).
               Buku yang ditulis oleh salah seorang pendidi UMY ini perlu dipahami oleh setiap warga Muhammadiyah agar tidak kehilangan ruh perjuangan dan tidak keluar dari Khittah Muhammadiyah.


Lasa Hs-Perpustakaan UMY

Jumat, 27 Oktober 2017

INDEKS BACA DIY TERTINGGI DI INDONESIA

Yogyakarta memang istimewa, sekurang-kurangnya bila dilihat dari pengembangan kepustakawanan dan literatur. Beberapa indikator menunjukkan kelebihan ini bila dibanding dari provinsi lain.
Fakta dan data menunjukkan bahwa beberapa prestasi kepustakawanan tiga tahun terakhir menunjukkan prestasi tersendiri. Sejak tahun 2015- 2017,  DIY pegang rekor menjadi juara nasional tentang pustakawan berprestasi, perpustakaan sekolah terbaik, perpustakaan desa, dan story telling. Belum lagi dalam tiga tahun terakhir juga meningkat perpustakaan sekolah dan perpustakaan perguruan tinggi yang terakrediasi oleh Perpustakaan Nasional. Artinya semakin banyak perpustakaan DIY ini yang telah memenuhi standar nasional.

            Indeks baca DIY tertinggi se Indonesia  juga meneguhkan  keistimewaan kota pelajar itu. Demikian disampaikan Budi Wibowo, SH., MM Kepala BPAD DIY  dalam makalahnya berjudul Perpustakaan Sebagai Pilar Literasi pada Workshop Literasi yang diselenggarakan oleh Lembaga Kebudayaan PP Aisyiyah tanggal 14 Oktober 2017 lalu. Dijelaskannya bahwa literasi informasi yang sedang marak ini akan berjalan dengan baik apabila didukung dengan kebijakan, sumber daya manusia, sarana prasarana, dan adanya kerjasama. Untuk menciptakan budaya literet dapat dimulai dari keluarga, sekolah, dan masyarakat.   

Lasa Hs.

UNIKNYA WAKTU


Artinya “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabarab (Q.S. Al “Ashr: 1 – 3)

            Waktu merupakan sesuatu yang unik. Jatah waktu untuk si kaya dan si miskin adalah sama. Jendral dan jembel memiliki waktu 24 jam sehari semalam. Penjual bubur  diberi waktu yang sama dengan gubernur dalam jangka waktu sehari semalam. Oleh karena itu dapat dipahami bahwa jatah waktu itu sebenarnya sama untuk setiap makhluk hidup dalam sehari semalam. Maka waktu itu bisa dianggap mahal bagi seseorang, tetapi bagi orang lain kadang waktu yang berharga itu justru  disia-siakan, dan dibuang-buang untuk hal-hal yang tidak produktif. Betapa banyak kita ini mengecer-ecer waktu untuk berjam-jam menonton televisi, tidur, foya-foya, bahkan menghabiskan waktu tua di penjara. Maunya sih, selagi muda foya-foya, besok tua kaya raya, dan besok bila mati maunya masuk surga. Tetapi bila tidak bisa memanfaatkan waktu dan kesempatan justru ketika muda sengsara karena narkoba masa tua habis di penjara, tidak tau besok kalau mati ditempatkan dimana ?. Sebab banyak kejadian bahwa jasad orang jahat itu tidak boleh dimakamkan di tanah kelahirannya sendiri atau di negaranya sendiri. Mungkin biar orang itu tidak membawa jelek pada daerah atau negaranya.
            Waktu sebenarnya sangat berharga bagi orang yang bisa memanfaatkannya. Hal ini tergantung pada kejelian seseorang dalam menangkap peluang dan ketrampilan memanfaatkan waktu/kesempatan.
  Kehadiran waktu tidak dapat diganti, tidak dapat ditabung, dan tidak dapat diputar ulang. Jam tujuh hari ini berbeda dengan jam tujuh kemarin. Hari kemarin telah hilang ditelan masa dan tak dapat diganti. Banyaknya waktu mungkin tidak begitu penting, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana pengelolaannya agar tidak berlalu begitu saja.
            Pada umumnya, orang memanfaatkan waktu untuk melakukan tugas-tugas rutin. Jarang sekali orang yang memiliki perencanaan waktu yang matang. Pejabat tinggi biasanya telah memiliki pengaturan waktu yang seolah-olah diatur oleh sekretarisnya. Maka waktunya dapat efektif dan efisien. Tetapi nanti bila tidak menjabat lagi, lalu tidak memiliki perencanaan waktu yang teratur lagi.
            Sebenarnya waktu yang akan datang itu seharusnya dapat diperlakukan sebagai modal/aset bagi kehidupan individu maupun lembaga. Ini bisa terrealisir dengan baik apabila dilakukan perencanaan yang matang.
            Apabila waktu dapat dimenej dengan baik, maka tentunya akan dapat dihemat beaya, tenaga, dan sumber-sumber daya yang lain. Berangkat dari pemikiran inilah, maka Peter F. Drucker (1961) meyatakan dalam tulisannya yang berjudul How to Be an Effective Excellence bahwa waktu adalah sumber yang paling angka dan apabila tidak dapat dikelola, maka hal-hal lainpun tidak dapat dikelola pula.
            Waktu adalah sesuatu yang hidup. Kehidupan itu memerlukan waktu, maka orang yang tak mampu menghidupkan waktu berarti menyia-nyiakan kehidupan. Padahal kehidupan seseorang akan memiliki makna dan nilai luar biasa apabila mampu memenj waktu dan kesempatan. Banyak perusahaan yang menghasilkan produktivitas tinggi berkat pengelolaan waktu yang efektif dan efisien. Perusahaan itu antara lain AT & Bank of America, IBM, Lever Brithers, Standard Oil Compaany of California dan sejumlah instansi pemerintah, negara bagian, dan pemerintah Federal. Konsep pemanfaatan waktu ini juga telah dibuktikan oleh orang-orang yang sibuk dan berhasil seperti Gloria Steinam (penulis dan tokoh pergerakan wanita), Malton Glaster (perancang busana), Neil Diamond (penyanyi rekaman (Laken, 1997: 3).
            Dalam hal pemanfaatan waktu ini, sahabat Ibnu ‘Abbas r.a mengatakan :”Waktu bagi seorang hamba hanyalah ada empat, yakni waktu nikmat, waktu celaka, waktu taat, dan waktu maksiat. Siapa yang memanfaatkan waktunya untuk ketaatan, maka itu pertanda akan mendapat karunia dari Allah, mendapatkan hidayahNYa, dan dapat menyesuaikan diri dengan syari’at yang telah digariskan oleh Allah. Siapa yang waktunya terlanjur untuk kemaksiatan, maka hendaknya segera istighfar, menyesali perbuatannya, dan bertaubat. Siapa yang waktunya dalam kenikmatan, maka hendaklah selalu mensyukurinya. Siapa yang waktunya sedang dalam musibah/celaka, maka hendaknya diisi dengan ridho dan  ikhlas, dan tawakal atas ketentuan/cobaan itu (Labib Mz, tanpa tahun)
            Agar waktu yang kita miliki ini dimanfaatkan optimal, kiranya perlu adanya perencanaan yang efektif dan efisien. Untuk itu dalam perencanaan waktu ini perlu dipertimbangkan peningkatan kualitas penggunaan waktu dan sistem akses informasi yang berdayaguna dan berhasil guna.
            Sistem ini harus disusun sesuai dengan maksud dan tujuan individu maupun lembaga/organisasi. Sebab betapa banyak dan tidak disadari bahwa selama perjalanan hidup manusia, telah hilang waktu dan kesempatan dengan sia-sia. Padahal kesempatan hanya datang sekali. Kesempatan yang akan datang belum tentu untuk kita.
            Betapa banyak diantara kita ini telah memubadzirkan waktu untuk hal-hal yang kurang manfaat dan kurang produktif. Kita ini betah berjam-jam ngobrol ngalor ngidul tidak jelas jluntrungnya, menonton televisi, duduk berpangku tangan, dan lainnya.
            Tentang pemanfaatan waktu ini Marrild Douglas (1977) menyatakan bahwa hampir setiap orang menghamburkan waktu secara sia-sia selama 2  (dua) jam seetiap hari. Penelitian ini terjadi di luar negeri yang masyarakatnya telah berusaha memanfaatkan waktu untuk kemajuan. Mungkin angka itu akan lebih tinggi apabila penelitian itu dilakukan di negeri kita yang sebagian besar masyarakatnya masih kental dengan budaya ngrumpi itu.

Manusia dan Waktu

            Kegiatan manusia tidak dapat dipisahkan dengan waktu. Malah kadang-kadang manusia diatur oleh waktu. Padahal seharusnya manusialah yang mengatur waktu. Bukan sebaliknya.
            Apabila ditinjau dari kesibukan orang dalam pemanfaatan waktu, kegiatan manusia itu dapat dibagi menjadi manusia yang gila waktu, overdoer, dan manusia pengorganisasian.

Gila waktu

             Memang ada tipe orang yang gila waktu. Yakni orang-orang yang selalu memenuhi waktunya dengan berbagai kegiatan. Orang tipe ini sangat ketat dalam pengaturan waktu, malah kadang membuat orang lain repot. Maunya semua itu tepat waktu dengan disiplin kaku. Orang tipe ini tidak kenal toleransi. Rapat terlambat lima menit saja sudah marah-marah. Ia selalu pontang-panting sendiri dalam pemenuhan kebutuhan waktu. Tipe seperti ini bukan tipe orang yang menyenangkan. Biasanya orang ini bersikap kaku dan disiplin mati.

Overdoer

            Orang tipe ini memang menyibukkan diri luar biasa. Namun dalam pemanfaatan waktu kurang memberikan produk yang berarti. Orang seperti ini pada umumnya  kurang disenangi orang. Sebab mereka itu selalu menyatakan kepada orang lain apa yang harus dilakukannya. Dimana-mana selalu mengatakan sibuk. Padahal apa yang disibukkan itu tidak membawa produk apa-apa. Saking sibuknya seolah-olah orang ini tidak punya waktu untuk istirahat.

Gila pengorganisasian

            Ada lagi orang yang selalu membuat rancangan yang detail dan rinci dalam setiap kegiatan yang akan dilaksanakan. Dia tidak akan beraktivitas sebelum meyusun perencanaan waktu yang matang. Akibat dari kesibukan yang luar biasa ini, sering tidak mampu menyelesaikan banyak hal yang harus diselesaikannya.

Pemanfaatan Waktu

            Waktu yang begitu berharga itu perlu dimenej sebaik mungkin. Untuk itu perlu diperhatikan hal-hal berikut:
1. Perencanaan Kegiatan
            Kadang kurang disadari bahwa sebagian besar kita ini terjebak oleh rutinitas kegiatan, monoton, dari itu ke itu saja. Kita kurang memiliki kesadaran tentang pemanfaatan waktu.
Oleh karena itu, agar kita ini efektif dan efisien dalam pemanfaatan waktu, kiranya perlu perencanaan dalam pemanfaatan waktu. Misalnya membuat catatan harian tentang kegiatan apa saja yang diakukan hari itu. Dengan catatan ini akan diketahui seberapa banyak waktu yang dapat dialokasikan untuk hal-hal yang produktif dan manfaat. Disamping itu juga akan diketahui nanti berapa jam ternyata waktu kita untuk hal-hal yang sia-sia.
2. Penentuan Prioritas
            Sering terjadi pada diri kita, terutama pejabat bahwa dalam waktu yang sama ada beberapa kegiatan atau undangan yang harus dilaksanakan/dihadiri. Kadang sulit untuk menentukan mana yang harus didahulukan. Dalam hal ini dapat saja diprioritaskan dari segi lokasi, kedekatan emosi, atau pertimbangan politis. Bisa juga diusahakan dihadiri semua meskipun hanya sebentar. Sebab  kehadiran seorang yang dihormati pada suatu pertemuan memberikan makna sendiri meskipun hanya sebentar.
            Apabila cara tersebut sulit dilakukan, maka dapat ditempuh dengan penentuan prioritas kemanfaatan. Artinya seberapa besar manfaat dan kehadiran diri kita di suatu pertemuan bila dibanding dengan pertemuan yang lain. Dengan penentuan prioritas ini akan dihemat waktu. Kemudian tugas-tugas lain dapat didelegasikan kepada orang/pajabat lain yang berkompeten. Sebaiknya kita tidak menghamburkan waktu untuk prioritas yang rendah.
3. Keajegan kegiatan
            Waktu akan bermanfaat dan memiliki nilai tinggi apabila diisi dengan kegiatan yang rutin/ajeg meskipun sedikit. Sedikit asal terus menerus dilakukan, insya Allah akan lebih berkualitas daripada banyak lalu berhenti. Dari sedikit ke sedikit inilah lama kelamaan akan menjadi bukit. Disamping itu dengan keajegan ini, kita mengerjakannya juga terasa enak. Seolah-olah kegiatan itu telah menjadi bagian dari kehidupan kita.
4. Mampu berkomunikasi ke segala arah
            Kemampuan komunikasi seseorang ke segala arah akan memperlancar komunikasi dan menghemat waktu. Sebab mereka dapat memperpendek jarak dan mempercepat komunikasi kepada siapapun. Dengan kelihaian komunikasi yang efektif akan didapat kejelasan komitmen dan kreatifitas.
            Kemampuan komunikasi ini tersirat adanya dorongan silaturrahim yang akan mengekalkan sejarah dan memperluas usaha. Rasulullah SAW menyatakan
:”Siapa yang ingin dilimpahkan rizkinya dan dikembangkan bekas peninggalannya (umur), hendaklah suka bersilaturahim (H.R. Bukhari).
            Mereka yang suka bersillaturrahim berarti telah mampu melaksanakan komunikasi kepada siapapun dengan baik dan dialah yang berhasil. Adanya silaturrahim dapat menghilangkan hambatan kejiwaan, tidak kaku, dan dari sana dapat dikembangkan beberapa kepentingan.

                                                                                             


                                                               Lasa Hs -UMY.

PERCAYA DIRI

Betapa banyak orang yang mencapai keberhasilan berkat percaya diri meskipun mereka tidak memiliki gelar. Hamka yang dikenal sebagai ulama, budayawan, sastrawan, dan  sejararawan  itu ternyata secara formal hanya pernah sekolah desa selama  tiga tahun. Kemudian juga ia pernah sekolah agama di Padang Panjang dan Parabek kira-kira tiga tahun.  Beliau tidak pernah terdaftar sebagai mahasiswa perguruan tinggi manapun. Namun berkat percaya dirinya sangat kuat, toh akhirnya menjadi orang yang sukses. Beliau malah menjadi dosen tidak tetap di bebeberapa perguruan  tinggi antara lain di PTAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Universitas Islam Jakarta, Fakultas Hukum dan Filsafat Muhammadiyah Padang Panjang, Universitas Muslimin/UMI Makasar, dan Universitas Islam Sumatera Utara
            Mengingat keluasan wawasan dan penguasaan berbagai ilmu pengetahuannya, maka beliau dipercaya Pemerintah RI untuk duduk sebagai Ketua Umum Majelis Ulama/MUI pertama kali pada tahun 1957. Namun sebelum berakhir masa jabatannya, beliau mengundurkan diri sebagai ketua umum. Sebab saat itu beliau memiliki pandangan yang berbeda dengan pemerintah tentang perayaan natal bersama. Beliau selaku Ketua Umum MUI mengeluarkan fatwa yang mengharamkan umat Islam untuk merayakan Natal bersama.
            Ketokohan Hamka tidak saja dikenal di Indonesia, tetapi juga diakui di Malaysia dan Timur Tengah. Bahkan Tun Abdul Razaq selaku Perdana Menteri Malaysia saat itu menyatakan bahwa Hamka bukan hanya milik bangsa Indonesia, tetapi juga menjadi kebanggaan bangsa-bangsa Asia.
            Tidak sedikit karya tulis yang beliau tinggalkan untuk kita. Karya-karya itu ditulis dengan kesungguhan, telaten, banyak membaca, berdiskusi, dan tak kenal putus asa. Buku-buku beliau itu ditulis meliputi bidang-bidang agama, sejarah, kebudayaan, biografi, novel, filsafat, sastra, dan tasauf. Buku-buku roman dan novel sebagai karyanya antara lain; Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil,  Di Tepi Sungai Dajjah, Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938), Tenggelamnya Kapal van der Wijk (1939), Merantau Ke Deli (1940). Kemudian karya monumentalnya antara lain adalah Tafsir Al Azhar (30 juz) yang beliau tulis selama meringkuk di penjara pada masa rezim Orde Lama (Presiden Soekarno) merupakan tafsir yang sampai kini menjadi rujukan para ulama, cendekiawan, atau umat Islam pada umumnya (Ensiklopedi Muhammadiyah, 2005).
            Kesuksesan seseorang, kecuali perlu adanya percaya diri, juga perlu keberanian/sourage. Yakni keberanian bertindak apapun resiko yang menghadangnya. Ya, secara sederhana dapat dikatakan bahwa orang yang memiliki rasa percaya diri yang kuat akan berprinsip “Lebih baik berbuat meskipun kurang/salah dari pada merasa benar/baik tetapi diam. Sebab diam itu tidak akan mampu merubah. Orang yang membeo selamanya tidak berani bertindak dan takut berbeda dengan sikap orang lain.
            Dale Carniege seorang penulis terkenal itu juga mulanya hidup dalam kemiskinan. Ia sebagai guru di Warrensburg pernah tak kuat membayar uang asrama saking melaratnya. Maka dengan kepercayaan diri yang kuat, dia berkarir sebagai wiraniaga sebuah kursus jarak jauh di Denver. Dua tahun kemudian, dia menjadi wiraniaga Armour & Company di Omaha yang bertugas melakukan penjualan di wilayah Dakota Selatan. Dengan ketekunan dan antusiasnya yang tinggi, dia menjadi wiraniaga yang terkemuka di perusahaan yang memproduksi makanan itu.
            Ibunya semula berkeinginan agar Dale besok menjadi pendeta, misionaris, atau guru sekolah. Namun ternyata Dale sejak kecil bercita-cita ingin menjadi aktor, orator, atau penulis novel yang terkenal. Untuk mewujudkan cita-cita inilah kemudian dia memutuskan diri untuk pergi ke New York dan masuk ke American Academic of Dramatic Art.
            Pada tahun 1912, dia ingin mengubah jalan hidupnya dari wiraniaga otomotif di Packard truck lalu kepingin hidup untuk menulis dan menulis untuk hidup. Di New York, dia rela hidup menderita, hidup di daerah kumuh, makanan kotor, dan kamarnya penuh kecoak. Namun demikian, Carniege memiliki potensi diri yang tidak dimiliki orang lain. Dia menyadari bahwa dirinya memiliki potensi untuk berkembang, terutama setelah direnungkan bahwa ia pernah menjadi juara debat di kampusnya. Ia juga pernah membimbing dua mahasiswa yang kemudian mahasiswa ini berhasil menjuarai lomba pidato dan deklamasi di kampus yang sama. Maka di kota ini, ia membuka kursus pidato yang bernama Public Speaking for Busines. Dari lembaga ini, beliau memiliki modal lumayan lalu mendirikan Dale Carnieges Institute pada tahun 1922. Mulai tahun itu, Dale semakin sibuk. Pada malam hari, ia mengajar dan pagi hari ia menulis buku. Ketekunan menulis memang luar biasa dan semakin banyak buku-buku yang dihasilkannya. Buku karyanya yang berjudul How to Win Friends and Influence People (1936) merupakan salah satu bukunya yang selama puluhan tahun menduduki papan atas sebagai buku best seller dunia saat itu. Royalti yang diterima pertama kali dari hasil penjualan buku itu berjumlah 90.000 dolar AS saat itu. Luar biasa memang. Bahkan Carniege sendiri kaget dan tidak menduga bahwa  bukunya itu bisa menjadi magnit yang menarik pembaca dan royalti yang diterimanya luar biasa banyaknya.. Maka ada benarnya orang yang mengatakan bahwa orang yang tak pernah mau mencoba, selamanya tidak akan tau potensi dirinya.
            Buku terlaris kedua berjudul How to Stop Warning and Start Living (1948) konon telah terjual 4 juta ekemplar.Buku-bukunya juga telah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Bahkan Dale Carniege Training sebagai lembaga pelatihan peningkatan SDM itu telah merambah ke sekitar 70 negara saat ini.
            Dale Carniege berhasil menjadi penulis terkenal antara lain karena memiliki rasa percaya diri atas kemampuan diri dan berusaha untuk mengembangkan potensi diri.Tekadnya “Hidup untuk menulis dan menulis untuk hidup”  yang dicetuskannya pada tahun 1912 ternyata menjadi kenyataan. Untuk merealisir impian ini, ia memang belajar jurnalistik di Columbia University of Journalisme (1913) dan kursus sejenis di New York University (1914).
            Dengan keberhasilannya sebagai penulis ini, Dale Carineige termasuk dalam daftar 100 orang yang paling berpengaruh dalam sejarah Amerika. Ia sesungguhnya telah membuat keputusan yang mendasar yakni melakukan sesuatu yang diyakininya sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuannya. Keputusan ini bukan sekedar memenuhi kebutuhan jasmaniah, tetapi cenderung pada pemenuhan kebutuhan kepuasan rohaniah.
            Keputusan yang telah menjadi kontrak batinnya itu direalisir dengan antuisiasisme yang tinggi. Ia berani menghadapi resiko tinggi dan tidak mudah putus asa/nglokro ketika novel pertamanya ditolak beberapa penerbit. Justru ditolak dan ditolak inilah yang memicu dan memacu Dale untuk terus berusaha untuk menulis dan menulis lagi. Ia belajar sungguh-sungguh dari rekan sekampungnya yakni Abraham Lincoln yang menyatakan :”Tidak penting berapa kali  anda gagal, tetapi yang penting adalah berapa kali anda bangkit:”. Kegagalan adalah sukses tertunda merupakan kenyataan selama orang itu mau berusaha. Putus asa sama dengan bunuh diri sebelum maju perang.



Lasa Hs- UMY

Kamis, 19 Oktober 2017

Kisah Seorang Kiayi dan Seekor Burung Beo

Disalah satu pesantren, ada seoang kiayi yang memelihara burung beo. Bertahun - tahun beliau melatih burung tersebut sampai akhirnya ia mahir sekali ngoceh, dengan ocehan kalimat thayyibah. Saking pinternya, burung itu setiap harinya selalu berkicau "subhanallah, alhamdulilah, Allahu akbar".

Suatu ketika tanpa disadari, pintu sangkar burung itu terbuka, secara otomatis ia kabur, dan terbang-terbang di depan rumah pak kiayi, sampai akhirnya ia mati karna ketabrak dan terlindas oleh mobil yang melintas di depan rumah pak kiayi tsbt.

Setelah kejadian itu, berhari - hari pak kiayi nampak murung dan sedih. Melihat kondisi sepeti itu, maka ada beberapa santri yang memberanikan diri untuk menghadap kepada pak kiayi.

santri : "wahai pak kiayi, berhari2 kami lihat melihat pak kiayi nampak sedih, jika pak kiayi sedih karena memikirkan burung beo yang kemarin sudah mati, kami siap menggantinya dengan burung yang lebih pinter lg pak kiayi......"

Kiayi : "Aku bersedih bukan karena sedang memikirkan burung tsbt"

santri : "lantas kenapa pak kiayi"

Kiayi : "Apakah kalian melihat,,,,,, ketika burung beoku itu sedang mengalami sekarat?...."

Santri : "Iya pak kiayi, kami melihatnya"

Kiayi : "Wahai para santriku, bertahun - tahun aku melatih dan mengajarkan burung tsbt, hingga akhirnya tidak ada kata lain yang bisa ia ocehkan, melainkan hanyalan kalimat subhanallah, alhamdulillah, dan Allahu akbar. Tapi apa yang terjadi ketika ia sedang mengalami sekaratul maut,....?
saking sakitnya sakarotul maut itu, ia hanya bisa kak kek kak kek kak kek, bahkan ia lupa dengan kata - kata yang selama ini ia ucapkan,
Aku takut wahai santriku,,,,,, kita akan mengalami kondisi yang sama dengan seperti burung itu..... Padahal wahai santriku, yang namanya hewan, ketika ia sedang mengalami sekarat, maka tidak ada satupun setan maupun iblis yang datang menggoda, sedangkan ketika manusia yang mengalami sakarotul maut, maka beribu - ribu bahkan berjuta juta iblis yang datang untuk menggodanya,"

Mendengar penjelasan itu, para santripun tertunduk dan merasakan kesedihan yang sama seperti pak kiayi.
--------------------------------------------------------------

Dari cerita di atas, banyak hikmah yang bisa  kita ambil......
Jadi yang namanya manusia, mau nggak mau, siap nggak siap, kita pasti akan mengalami yang namanya kematian, hari ini kita masih bisa bekerja, masih bisa mengolah buku buku, melayai pemustaka, dsb. 
Tidak ada yang bisa menjamin, nanti, besok, atau bahkan lusa kita masih bisa seperti ini lagi. Karena kata Allah: 



Intinya : Setiap manusia pasti mengalami yang namanya mati, dan ketika kematian menjemput kita, maka tidak ada satupun dari kita yang mampu untuk menundanya, dan tidak ada satupun dari kita juga yang mampu untuk mensegerakannya.

Dan setiap orang ketika akan mati, pasti mengalami yang namanya sakarotul maut, dalam salah stau hadits dijelaskan bahwa sakitnya sakartul maut itu diibaratkan kita sedang ditusuk dengan 1000 pedang.
Kita tidak bisa membayangkan bagaimana rasa sakitnya itu, yang bisa kita lakukan saat ini adalah bersiap, dan memperbanyak tabungan dalam menjemput kematian, dan berharap semoga pada saat sakarotul maut nanti, Allah memberikan rahmat kepada kita semua, sehingga kita mati dalam keadaan khusnul khatimah.....





*kisah di atas hanyalah kisah hikmah saja




Kamis, 12 Oktober 2017

KOMITEMEN

                        

            Komitmen adalah sikap menyesuaikan diri dengan sasaran yang akan dicapai oleh suatu komunitas, bidang, atau profesi. Mereka yang benar-benar komitmen akan kelihatan kinerjanya. Tetapi mereka yang tidak komitmen biasanya menghindar dari tugas dan selalu mengedepankan hak dan menuntut fasilitas. Orang-orang yang memiliki komitmen tinggi biasanya memiliki kecakapan:
a. Mau berkorban untuk mencapai sasaran komunitas, lembaga, maupun profesi tertentu
b. Selalu mencari peluang dan memanfaatkan peluang itu untuk berprestasi
c. Merasa ada dorongan dalam dirinya untuk selalu berkembang dan meningkatkan prestasi
            Komitmen adalah kata yang harus selalu disanding oleh orang yang ingin mencapai keberhasilan. Apabila seseorang ingin menjadi penulis misalnya, maka keinginan itu hanya akan menjadi mimpi kosong apabila tidak ada komitmen. Betapa banyak orang yang punya ide bagus,namun sehubungan tidak ada komitmen kuat, maka ide itu hanya berhamburan begitu saja. Dengan komitmen terhadap cita-cita semula sebagai penulis, maka Ernest Hemingway mampu melahirkan buku-buku yang gemilang misalnya The Sun Also Rises, A Forewel to Arms, The Snows of Kilimanjaro, dan The Old Man  and the Sea. Demikian pula dengan Leonardo Da Vinci, Vincent van Gogh,Pablo Picasso,  Affandi, dan Basuki Abdullah yang selalu komitmen terhadap cita-cita semula sebagai pelukis.Andaikata mereka tidak komitmen sejak semula, kita tidak bisa menikmati lukisan mereka.Maka benar juga apa yang dikatakan Calentino  Dinsi yang menyatakan “Gagasan sederhana yang dilaksanakan dan dikembangkan adalah seratus persen labih baik daripada gagasan hebat yang tidak ditindaklanjuti”.

Inisiatif

            Kata Douglas MacArthur “Merupakan kesalahan yang fatal apabila memasuki medan perang tanpa ada keinginan untuk menang/it is fatal to enter any war without the will to win it.
Kata-kata jendral perang ini bila direnungkan memang ada benarnya, terutama kalau kita bisa mamahami apa yang tersirat. Artinya dalam kehidupan kita ini harus bisa membaca peluang dan memanfaatkan peluang itu untuk mencapai kemenangan. Sebab betapa banyak orang yang mengetahui peluang tetapi tidak bisa berbuat banyak dengan peluang ini. Hal ini bisa diartikan sebagai kegagalan dini atau mati sebelum maju perang.
            Lain halnya dengan orang yag mampu membaca peluang dan bisa memanfaatannya. Mereka itu sebenarnya telah siap untuk menang dalam perjuangan. Sebab mereka selalu berinisiatif untuk memanfaatkan tiap lubang kecil dalam mencapai keberhasilan. Orang-orang yang berinisiatif akan memanfaatkan setiap peluang dan kesempatan. Orang-orang yang berinisiatif ini biasanya memiliki kecakapan:
a. Siap memanfaatkan peluang

b. Mampu melampaui persyaratan maupun standar yang ditetapkan
c. Dalam kondisi tertentu berani melanggar batas-batas atau aturan-aturan yang selama ini berlaku
d. Berani berpetualangan
e. Mengajak orang lain untuk memperbaiki langkah-langkah yang selama ini dianggap tidak lazim atau lemah
f. Siap menghadapi celoteh, omongan, atau  suara-suara sinis
            Orang-orang yang memiliki  inisiatif biasanya bersikap berani menanggung resiko. Orang-orang seperti ini akan memperoleh keberhasilan tersendiri. Sementara itu orang yang tidak punya inisiatif cenderung mudah menyerah dan pasrah pada nasib.
            Suatu ketika Rasulullah SAW berkumpul dengan para sahabat. Beliau berkisah tentang tiga orang yang masuk masjid akan shalat jama’ah. Ketiga orang itu kebetulan datang terlambat dan masjid sudah penuh jama’ah. Melihat masjid sudah penuh, maka  orang pertama segera pulang ke rumah untuk shalat sendiri. Orang kedua langsung masuk masjid meskipun duduk di barisan/shaf paling belakang. Sementara itu orang ketika memiliki inisiatif untuk menerobos shaf-shaf itu sambil mengamati barangkali ada shaf yang belumb penuh. Berkat inisiatif, keberanian, dan kejeliannya, maka orang ketiga ini mendapat tempat duduk di depan. Kemudian Rasulullah SAW memberikan komentar terhadap peristiwa itu. Kata beliau bahwa “Orang pertama adalah orang yang putus asa. Orang kedua adalah tipe orang yang malu-malu. Kemudian orang ketiga adalah tipe orang yang berinisiatif, penuh harapan, bersemangat, dan pantang menyerah. Maka orang ketiga ini memperoleh apa yang dia inginkan”.

Optimis

            Kata Teddy Roosevelt (mantan Presiden Amerika Serikat) “Seluruh sumberdaya yang anda  perlukan itu sebenarnya telah ada pada diri anda. Anda telah memiliki segala yang diperlukan untuk menjadi pemenang”. Pesan ini mendorong kita untuk selalu optimis dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Sebab pada diri tiap orang telah ada kekuatan yang bisa dioptimalkan, asal tekun, sabar, tabah, dan selalu berusaha. Sebab pada dasarnya perubahan diri orang tergantung seberapa usaha seseorang untuk merubah dirinya. Allah berfirman :”Allah tidak akan merubah kondisi suatu kaum, selama mereka itu tidak mau berusaha untuk merubah diri mereka (Q.S. Ar-Ra’d:   ?). Oleh karena itu, dalam menghadapi hidup dan kehidupan ini diperlukan sikap optimis.
            Optimis adalah kegigihan dalam memperjuangkan sasaran. Orang yang optimis tidak gentar menghadapi kegagalan dan tantangan. Sebab dalam pikirannya tertanam keyakinan bahwa dalam setiap kegiatan hanya ada dua jawabannya, yakni gagal atau berhasil. Bila gagal, dia siap menerima kegagalan itu dan berusaha untuk bangkit lagi. Kemudian bila usaha itu berhasil dan itulah yang diharapkan dan akan mempertahankan keberhasilan itu. Orang-orang yang memiliki optimisme tinggi biasanya memiliki kecakapan:
a. Tekun dalam mencapai tujuan meskipun ditemukan hambatan dan kesulitan
b. Berharapan besar untuk sukses
c. Berpandangan bahwa segala sesuatu pasti ada solusi
            Dengan optimisme yang tinggi, orang bisa mencapai keberhasilan meskipun tadinya biasa-biasa saja. Sekedar contoh adalah Steve Jobs (Apple), Bill Gates (Microsoft) Abdul Rahman dan Budiono (Detic.com) adalah orang-orang yang optimis, tekun bergerak, dan berhasil di belantika dunia maya. Demikian pula terdapat beberapa nama penulis yang mencuat namanya berkat karya-karya mereka. Dale Carniegate muncul ke permukaan dengan bukunya How to Win Friend and Influence People dan How to Stop Worrying and Start Living. Demikian pula Fadlul ‘Adhim optimis sebagai penulis dan berani keluar sebagai dosen salah satu perguruan tinggi. Namanya mencuat antara lain melalui bukunya Kupinang Kau Dengan Hamdalah. Konon dengan hanya beberapa judul bukunya yang laris, beliau bisa membeli tanah dan rumah dari royalti yang diterimanya.
            Di bidang pengembangan diri kita kenal  nama Stephen Covey yang namanya menghiasi toko-toko buku, artikel, internet, dan terdengar di ruang-ruang seminar. Beliau muncul ke dunia pengembangan diri antara lain lewat   buku-bukunya  The 7 Habits of Highly Effective People, The 7 Habits of Highy Effective Family, dan Livings the 7 Habits 

                                           

 

Lasa Hs


Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Jumat, 06 Oktober 2017

10 Pustakawan UMY lolos Call Paper Seminar Nasional dan Dialog Ilmiah Perpustakaan

Alhamdulillah, kali ini Perpustakaan UMY mampu memotivasi pustakawannya untuk berkembang dan berani berkompetisi antara lain melalui pemilihan pustakawan berprestasi maupun call paper. Dalam pemilihan pustakawan berpretasi tahun 2017 ini, ada 2 orang pustakawan UMY terpilih sebagai pustakawan berprestasi tingkat DIY. Arda Putri terpilih sebagai pustakawan berprestasi I DIY versi Kopertis V. 

Sedangkan Yuliana Rachmawati terpilih sebagai pustakawan berprestasi DIY versi FPPTI Kemudian dalam call paper Seminar Nasional dan Dialog Perpustakaan (penyelenggara FPPTI DIY & Direktorat Perpustakaan UII) ada 10 orang pustakawan UMY yang lolos dari 36 orang pustakawan yang diterima call papernya. Apabila dihitung dari jumlah makalah, maka ada 6 (enam) makalah pustakawan UMY yang diterima dari 28 makalah yang diterima.

Pengumuman resi lihat di sini


Lasa Hs.

Kamis, 05 Oktober 2017

Motivasi

Artinya:”Siapa yang mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaknya ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada Tuhannya”. (Q.S. Al kahfi: 110)
   
Manusia diciptakan lebih sempurna dari pada makhluk lain. Kesempurnaan ciptaan ini tidak saja pada penciptaan perangkat kasar/hardware seperti tangan, kaki, telinga, mata, dan lainnya.  Kesempurnaan  itu juga pada penciptaan  perangkat lunak/software seperti hati nurani, akal, dan nafsu.
            Dengan perangkat-perangkat itu, manusia bisa menggali potensi diri dan mengembangkannya secara optimal. Dalam hal ini kadang manusia kurang menyadari bahwa dalam diri mereka terdapat kekuatan dahsyat yang dapat ditumbuhkembangkan lebih lanjut. Disinilah perlunya manusia itu memotivasi diri untuk berkembang dan berprestasi.
            Motivasi merupakan upaya penggunaan hasrat yang paling dalam untuk mencapai sasaran, membantu inisiatif, bertindak efektif, dan bertahan dalam menghadapi kegagalan. Orang yang memiliki motivasi tinggi akan berusaha keras dan penuh kreativitas dalam mencapai sasaran. Dalam diri mereka akan timbul inisiatif untuk mencari jalan atau cara berupa tindakan untuk mencapai sasaran dengan efektif dan efisien. Mereka yang memiliki motivasi tinggi tidak mudah goyang  hanya oleh angin sepoi-sepoi. Bahkan mereka mampu berdiri tegak dalam menghadapi kegagalan.
Motif,  konon berasal dari kata movere (B. Latin) yang berarti bergerak. Kemudian kata motivasi ini berarti usaha-usaha yang dapat menyebabkan seseorang atau kelompok orang tertentu tergerak melakukan sesuatu karena ingin mencapai tujuan yang dikehendakinya (Kamus Besar Bahasa Indonesia,     :593).
Istilah tersebut dalam penggunaannya sering dikaitkan dengan faktor yang menyebabkan timbulnya suatu gerakan. Atkinson mengartikan motif sebagai individu untuk mencapai tujuan tertentu. Dengan demikian, maka motif merupakan suatu pengertian yang melingkupi semua gerak, alasan, atau dorongan dalam diri manusia yang menyebabkan seseorang berbuat sesuatu. Maka  dapat dikatakan bahwa motivasi sama dengan needs dalam bahasa Inggris yang berarti sesuatu dalam diri manusia untuk berbuat menuju suatu tujuan.

Motivasi dan Prestasi

 Motivasi sangat diperlukan dalam kehidupan manusia. Dengan motivasi tinggi, orang akan bergairah dalam hidup dan kehidupan mereka. Sebaliknya orang yang motivasinya rendah, seolah-olah hidup ini tidak menggairahkan.

Mereka yang memiliki motivasi tinggi ingin selalu berprestasi. Mereka memacu dirinya untuk berkompetisi, berusaha menjadi yang terdepan, atau berusaha untuk menjadi orang pertama dalam bidang-bidang tertentu. Upaya pencapaian prestasi ini disebut dengan achievement motivation atau needs for ahievement.
Motif berprestasi ini merupakan dorongan untuk menyelesaikan kesukaran dan berusaha untuk melebihi orang lain. Oleh karena itu motif berprestasi ini dapat dipahami sebagai motif yang mendorong individu untuk mencapai kesuksesan. Kesuksesan tidak harus diukur dengan materi, tetapi dapat diukur dengan ukuran keberhasilan kompetisi itu sendiri. Kompetisi ini tidak harus dengan prestasi orang lain, tetapi bisa juga diukur  dengan prestasi sendiri sebagai ukuran keunggulan/standard of excellence. Atletik lari misalnya, ia  selalu berusaha memperbaiki prestasi diri meskipun prestasi tertinggi telah di tangannya.
Disamping itu, dengan motivasi tinggi orang akan terdorong untuk berani meskipun tadinya takut. Dalam Perang Badr misalnya, Nabi Muhammad SAW dan umat Islam saat itu  berhasil memperoleh kemenangan yang gemilang dalam perang melawan orang-orang kafir. Saat itu jumlah umat Islam hanya sepertiga yakni sekitar 300 orang dari jumlah orang-orang kafir yakni sekitar 1.000 orang. Berkat pertolongan Allah dan motivasi tinggi toh jumlah yang kecil bisa mengalahkan jumlah yang banyak.
Sebaliknya dalam peristiwa Perang Uhud, umat Islam menderita kekalahan. Hal ini disebabkan karena sebagian kelompok orang Islam tidak mau mengikuti perintah Nabi Muhammad SAW dan disebabkan motivasi perang karena materi (harta benda). Maka umat Islam saat itu menderita kekalahan. Malah dalam suatu kisah dikatakan bahwa Nabi Muhammad SAW patah giginya sebagai salah satu akibat perang tersebut.
Pada masa pemerintahan Umar ibn Khattab r.a. terjadilah peperangan antara umat Islam melawan orang-orang kafir Persia. Saat itu sang khalifah berhasil mengumpulkan sekitar 14.000 pasukan sabilillah. Peristiwa yang terjadi pada tahun ke 14 hijriyah itu juga diikuti oleh Khansa’ binti Amran dan keempat anaknya yang kesemuanya laki-laki. Khansa’ adalah seorang janda dan penyair terkenal sehingga kata-kata hariannya bernada syair dan berisi fatwa-fatwa berharga.
Sebelum maju ke medan perang, Khansa’ memberikan motivasi dan semangat kepada ke empat putranya itu. “Wahai anak-anakku, kamu sekalian telah memilih Islam dengan rela hati. Kemudian kamu berhijrah dengan sukarela pula. Demi Allah yang tiada Tuhan selain Allah, sesungguhnya kamu sekalian adalah putra-putra dari seorang laki-laki dan wanita. Aku tidak pernah menghianati ayahmu. Aku tidak pernah menjelek-jelekkan saudaramu yang lain. Aku tidak pernah merendahkan keturunanmu. Aku juga tidak pernah mengubah persahabatan  kamu. Kamu telah mengerti pahala yang telah disediakan Allah untuk kaum muslimin yang memerangi
kaum kafir. Ketahuilah, bahwa kampung yang kekal itu lebih baik daripada kampung yang fana,”. Kemudian Khansa’ membacakan ayat-ayat Alquran :”Wahai orang-orang yang beriman . sabarlah dan sempurnakan kesabaran itu.Teguhkanlah kedudukanmu, dan patuhlah kepada Allah, semoga menjadi orang yang beruntung (Q.S. Ali Imran: 200).
Kemudian beliau melanjutkan nasihatnya :”Kalau kalian bangun esok pagi dalam keadaan selamat, maka keluarlah untuk berperang melawan musuh-musuh Allah. Gunakan semua pengalamanmu dan mohonlah pertolongan kepada Allah .Apabila kamu melihat api peperangan semakin berkobar, maka masuklah ke  tengah-tengah kobaran api pertempuran itu. Maka raihlah puncak kobaran perang itu, semoga engkau mendapat kejayaan dan balasan di kampung yang abadi kelak”. Mendengar nasehat ibunya yang bijak itu, keempat anak itu maju perang dengan semangat yang menyala-nyala. Di tengah-tengah berkecamuknya peperangan itu, keempat bersaudara itu saling memotivasi dalam memperjuangkan kalimat-kalimat Allah SWT. Mereka bertambah semangat ketika melihat pedang mengkilat. Tekad merekapun semakin kuat ketika melihat darah muncrat. Merekapun menggebu-gebu ketika  melihat mayat-mayat terkapar beku membisu.
Setelah perang usai, orang Persia kalah dan umat Islam mendapatkan kemenangan, lalu dilakukan penghitungan berapa pasukan umat Islam yang gugur sebagai syuhada’ saat itu. Setelah dilakukan penghitungan secara cermat, ternyata keempat putra Khansa’ itu gugur di medan perang membela Islam.  Begitu mendengar kabar bahwa  putra-putranya itu gugur, Khansa’ tetap tenang dan tidak shock. Beliaupun berdo’a “Segala puji bagi Allah yang telah memuliakanku dengan mensyahidkan mereka. Aku mengharapkan dari Tuhanku agar Dia mengumpulkan  aku dengan mereka di tempat tinggal yang abadi dengan rahmatNYa”. Dari peristiwa itu, beliau lebih dikenal dengan Khansa’ binti Amru Ummu Syahid.
Orang-orang yang bermotivasi tinggi akan maju selangkah dari orang lain. Mereka ini biasanya memiliki ciri khas seperti ambisius, kerja keras, kreatif,  berani bersaing, tekun dalam peningkatan kedudukan sosial, dan menghargai produktivitas. Sebaliknya, orang yang achiemenet motivationnya rendah, maka orang ini kurang menghargai produktivitas, kurang kreatif, apatis, lesu darah, dan tak punya tujuan yang jelas. Maka dapat dikatakan bahwa penakut itu mati seribu .  kali dan pemberani itu hanya mati sekali. Penakut sebelum mati beneran, pada hakekatnya sudah mati. Sebab mereka tidak mampu berbuat sesuatu dan berarti tidak akan mampu merubah.
Soichiro Honda (Pendiri Honda) yang dulu miskin, kini namanya melegenda. Dengan motivasi tinggi, anak seorang pandai besi ini bekerja keras untuk merubah keadaan (kemiskinan) menjadi keberhasilan. Dulu, saking miskinnya, Soichiro Honda sering memakai ikat pinggang ibunya. Sebab ayahnya tidak kuat untuk membelikan ikat pinggang padanya.
Konon di waktu kecil prestasinya rendah. Kira-kira NEMnya rendah, sehingga tidak pernah menduduki ranking. Bahkan ia sering membolos. Makanya banyak nilai matapelajarannya yang jelek.Untuk membantu keuangan orang tuanya, ia bekerja sebagai pengasuh bayi dengan bayaran 5 yen sebulan. Bahkan pernah bekerja sebagai tukang ojek motor untuk sekedar membeli beras.
Dengan motivasi tinggi,kegigihan, dan keuletannya, Honda yang dulu sebagai anak nakal kini menjadi konglomerat dan dihormati di Jepang. Jerih payahnya dimanfaatkan oleh masyarakat banyak.      
Motivasi Star Performance
Orang-orang yang memiliki motivasi tinggi ini oleh Goleman disebut sebagai star performance. Mereka ini biasanya memiliki dorongan berprestasi, komitmen tinggi, berinisiatif, dan selalu optimis.

Dorongan Berprestasi

Kata Jim Ryan “Motivasi  merupakan sesuatu yang membuat anda mulai melangkah. Sedangkan kebiasaan adalah apa yang membuat anda terus melangkah/motivation is what gets you started. Habit is what keeps you going. Dorongan ingin berprestasi inilah yang membedakan antara orang yang berani dan orang yang takut melangkah. Pemberani selalu siap menghadapi kegagalan dan siap menang. Penakut takut gagal dan selalu menerima menjadi orang yang kalah dan pasrah sebagai warga yang terpinggirkan . Orang-orang yang berprestasi selalu berusaha mencari keunggulan meskipun standar keunggulan itu dirinya sendiri  
Mereka yang memiliki dorongan berprestasi ini biasanya memiliki kecakapan:
a. Berorientasi pada produk dan bukan sekedar mengejar status
                  b. Menyukai tantangan dan berani mengambil resiko
                  c. Memanfaatkan informasi dalam pengambilan keputusan
                  d. Terus berusaha meningkatkan kinerja

            Orang-orang yang ingin berprestasi tidak mudah putus asa bila mengalami kegagalan. Dengan kegagalan, dia mendapatkan ilmu pengetahuan dan pengalaman. Otaknya terasah untuk mencari solusi atas kegagalan itu. Dengan keberanian dan kreativitas tinggi, orang-orang semcam ini mencapai keberhasilan meskipun mungkin saja prestasi sekolahnya rendah. Dengan mengasah kecerdasan emosi, kecerdasan sosial, maupun kreativitas akhirnya toh menjadi orang yang berhasil. Henry Ford si raja mobil itu pernah mengalami kebangkrutan lima kali dalam usahanya itu.


                                                           

Lasa Hs.

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta