Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Selasa, 28 November 2017

Kopdar Pegiat Literasi Muhammadiyah

Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Pusat Muhammadiyah bekerjasama dengan Universitas Muhammadiyah Surakarta, akan menyelenggarakan Kopi Darat Nasional Pegiat Literasi Muhammadiyah. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Jum’at-Ahad tanggal 8-10 Desember 2017 di Kampus II Universitas Muhammadiyah Surakarta (Jl. Ahmad Yani, Pabelan, Kartasura, Surakarta, Jawa Tengah).

Sehubungan dengan hal tersebut, dimohon kepada seluruh pustakawan dan pimpinan Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyah untuk bisa mendwonload dan membaca undangan, serta proposal yang ada pada link berikut 

Senin, 27 November 2017

MENGEMBANGKAN KECERDASAN EMOSI

Untuk mencapai kesuksesan, tidak harus menjadi mahasiswa suatu perguruan tinggi terkenal. . Dengan pengembangan kecerdasan emosi, orang juga bisa sukses dalam hidupnya. Maka untuk berhasil tidak harus bergelar akademik (apalagi beli ijazah palsu), ber IP tinggi, atau lulus suma cumlaude.
            Sebenarnya tiap orang  mampu mencapai kebahagiaan dan keberhasilan itu dipengaruhi oleh beberapa kecerdasan. Misalnya kecerdasan intelektual, kecerdasan  sosial, kecerdasan religi, kecerdasan tubuh, kecerdasan majemuk , kecerdasan kreatif, atau kecerdasan emosi. Kecerdasan emosi ini merupakan teori yang dikemukakan oleh Daniel Goleman yang ternyata mampu membuka mata masyarakat yang selama ini terjebak pada kecerdasan intelektual/intellectual quotient/IQ.
            Kecerdasan emosi atau emotional quotient/EI adalaah kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lain. Emosi itu sendiri sebenarnya merupakan dorongan untuk bertindak sesuai rencana untuk mengatasi masalah. Sedangkan bentuk emosi  yang muncul sering didasarkan pada suasana perasaan saat itu.
            Banyak para ahli yang mendefinisikan kecerdasan emosi dengan batasan yang berbeda. John Mayer misalnya, seorang psikolog University of Hampshire menyatakan bahwa kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk memahami emosi orang lain dan cara mengendalikan emosi diri sendiri. Maka orang yang memiliki kecerdasan emosi tinggi akan mampu mengembangkan diri antara lain dengan penyesuaian diri dengan keadaan saat itu dan mampu mengambil manfaat untuk mengatur kekuatan diri. Apabila orang mampu membawa diri pada komunitas yang lebih luas, maka akan semakin terbuka kesempatan untuk pengembangan diri.
Lain halnya dengan pendapat Cooper dan Sawaaf tetang kecerdasan emosi. Kedua orang pakar psikologi ini menyatakan bahwa kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk merasakan, memahami, dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber kekuatan dan pengaruh yang manusiawi. Dalam hal ini dapat dipahami bahwa orang yang mampu mengelola kecerdasan emosi akan mengembangkan potensi, energi, dan kekuatan diri untuk mempengaruhi orang lain. Untuk itu diperlukan kepemilikan perasaan yang kuat untuk belajar mengakui dan menghargai perasaan orang lain dan mengatur perasaan diri. Kemudian orang ini mampu menanggapi keadaan itu dengan cepat dan mampu menerapkan energi emosi itu secara efektif dalam kehidupan sehari-hari.
            Dari paparan di atas dapat dipahami bahwa kecerdasan emosi itu merupakan kemampuan untuk mengenal, mengelola, dan mengekspresikan diri dengan tepat. Oleh karena itu orang harus mampu memotivasi diri, memahami orang lain, mengendalikan emosi diri, dan mampu membina hubungan dengan orang lain.
Jenis-jenis Emosi
Kata emosi memang erat dalam kehidupan kita. Namun kadang kita sulit mendefiisikannya. Kita sering emosional berarti sering mengikuti dan mengekpresikan apa yang kita rasakan saat itu. Gejala ini merupakan respon terhadap keadaan dan sikap yang muncul saat itu. Maka dalam menghadapi keadaan tertentu, orang bisa memunculkan rasa takut, tegang, was-was, sedih, gembira, bingung, terkejut, dan cinta

Mengembangkan Kecerdasan Emosi
            Ada pendapat yang mengatakan bahwa orang yang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi dan mampu mengembangkannya secara optimal, maka orang itu akan sukses dan bahagia. Sebab dia itu selalu percaya terhadap potensi diri, mampu mengelola emosi, dan mempunyai kesehatan mental yang baik.
            Berangkat dari pemahaman ini, maka kecerdasan emosi itu dapat dikembangkan secara optimal. Dalam upaya pengembangan kecerdasan emosi ini, Salovey seorang pakar psikologi memberikan gambaran tahapan pengembangan emosi ini. Tahapan-tahapan pengembangan itu antara lain; mengenal emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri, memahami emosi orang lain, membina  hubungan, dan mau mendengarkan orang lain.
Mengenal Emosi Diri
Memahami perasaan diri ketika emosi sedang bergejolak merupakan dasar kecerdasan emosi. Kita perlu memahami perkembangan emosi diri dari waktu ke waktu terutama ketika terjadi keadaan yang sangat sensitif. Keadaan ini misalnya ketika sedang menerima keadaan yang sangt menyedihkan, menyenangkan, menegangkan, ketakutan, dan lainnya. Sebab pada saat-saat seperti ini biasanya terjadi ledakan emosi yang luar biasa, dan kadang sulit dikendalikan
Mengelola Emosi
            Emosi yang dikelola dengan baik akan menjadi kekuatan untuk memajukan diri. Sebaliknya, emosi yang tidak diarahkan pada hal-hal yang positif, maka mungkin bisa mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Hal ini bisa terjadi karena emosinya tidak terkontrol lagi.
            Orang yang mampu mengelola emosi berarti telah mampu menguasai diri dan orang lain itulah sebenarnya yang disebut sebagai orang yang kuat. Rasulullah SAW pernah bersabda :”Orang kuat itu, bukanlah seorang petinju, tetapi mereka yang dikatakan kuat adalah mereka yang mampu mengendalkan diri ketika marah’
Memotivasi Diri
            Emosi merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan diri Maka emosi ini perlu didorong terus menerus untuk merealisir tujuan. Motivasi mempengaruhi kualitas kegiatan, maka motivasi tinggi akan menghasilkan produk tinggi. Sebaliknya motivasi rendah akan melahirkan produk yang kurang bermutu.
Memahami Orang Lain
            Eksistensi seseorang akan diterima dengan baik dalam suatu komunitas apabila orang itu mampu menunjukkan empatinya. Yakni bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain. Orang ini juga mampu memahami gejala emosi orang lain lalu mampu mengendalikan emosi itu.
            Dengan memahami emosi orang lain inilah, maka seseorang dapat diterima dalam komunitas tertentu. Dari sini mereka dapat mempengaruhi komunitas tertentu.
Membina Hubungan
            Kecerdasan emosi akan berkembang baik apabila ditunjang dengan kemampuan untuk menjalin hubungan dengan individu maupun komunitas secara harmonis. Untuk itu diperlukan kelincahan dan kelancaran komunikasi lisan maupun tulis. Dengan dua kemampuan ini, orang semakin dikenal secara luas dan dari sini dapat dikembangkan kemampuan diri.
Mau Mendengarkan Orang Lain
            Memang gampang-gampang susah untuk menjadi pendengar yang baik. Artinya mungkin kita ini lebih gampang menjadi pembicara (ngomongin orang lain) daripada mendengarkan omongan orang lain. Padahal kita ini diberi dua daun telinga dan satu lubang  mulut. Mestinya kita ini mampu menjadi pendengar yang baik karena mempunyai alat perekam dua buah yakni dua daun telinga. Kemudian mulut kita hanya satu yang tentunya harus lebih sedikti bicara dan memperbanyak mendengarkan orang lain (bukan berati ngerumpi tentang orang lain).
Kalau kita mau mendengarkan orang lain, berarti kita menghormati orang lain. Disamping juga kita mendapatkan masukan dari orang lain itu.
Tidak sedikit orang yang mampu mencapai karir puncak dengan mengembangkan kecerdasan emosi ini meskipun mereka tidak memiliki IP atau NEM tinggi. Salah satu contoh adalah Bill Gates seorang super milyader Amerika Serikat. Ia pemilik perusahaan perangkat lunak Microsoft. Dia berhenti kuliah dari Havard Business School karena merasa  tidak mendapat apa-apa selama kuliah. Meskipun dia ini drop out dari perguruan tinggi terkenal, toh beliau tercatat sebagai penyumbang nomor satu untuk perguruan tinggi tersebut. Demikian pula halnya dengan Stephen K. Scout yang dikenal sebagai milyader Amerika Serikat itu. Ketika sekolah dulu, ia tidak dikenal dan biasa-biasa saja. Kini dia bergerak di bidang bisnis pemasaran yang terkenal di negeri  Paman Sam itu.
            Adam Malik yang dikenal lincah dan cerdik itu hanya bermodal ijazah SMP dan membawa mesin ketik butut ketika sampai di Jakarta. Dengan kemauan dan kecerdasan emosinya, beliau bergerak dan berkembang di bidang jurnalistik. Dari sini beliau terus mengembangkan diri dan dalam perjalanan karirnya sampai pada keberhasilan menjadi Meteri Luar Negeri dan Ketua MPRS
            Berkaitan dengan pengembangan kecerdasan emosi ini, Purdi E. Chandra yang sukses dengan Primagamanya itu pernah mengatakan :” Untuk menjadi entreupreneur sejati tidak perlu IP tinggi, ijasah, apalagi modal uang. Saat yang paling tepat itu justru pada saat kita tak punya apa-apa. Pakai ilmu street smart saja.Kemampuan otak kanan yang kreatif dan inovatif sudah memadai. Banyak orang ragu berbisnis cuma gara-gara terlalu pintar. Sebaliknya orang yang oleh guru formal dianggap bodoh karena nilainya jelek, justru jadi wirausahawan yang sukses (Berwirausaha edisi 2 tahun 1/2002). Bahkan T. Kiyosaki secara ekstrim mengatakan :”If you to be rich and happy, don’t go to school”
            Kecerdasan emosi dapat dikembangkan menjadi soft skill. Yakni kemampuan yang tidak kasat mata yang berupa ketelatenan, kesabaran, kemampuan adaptasi, dan tahan terhadap stress yang menimpanya. Kemampuan ini memang tidak bisa dilihat, tidak bisa diukur, dan tidak pernah diperoleh melalui bangku sekolah maupun kursi kuliah. Kemampuan soft skill ini dapat diperoleh melalui organisasi, dunia kerja, bermasyarakat, maupun komunitas lain. Semakin banyak interaksi seseorang terhadap berbagai komunitas, maka akan semakin baik soft skill seseoraang.
            Soft skill ini pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua kategori yakni yang disebut dengan intrapersonal skill dan interpersonal skill. Intrapersonal skill adalah sesuatu yang berkaitan dengan kemampuan seseorang mengenai diri sendiri, memotivasi diri, ambisi, dan bekerja keras. Kemudian interpersonal skill lebih berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain seperti empati, kepemimpinan, kemampuan bernegoisasi, memotivasi, dan mengarahkan orang lain  (M. Sholekhudin, 2006).
Lasa Hs

Perpustakaan  UMY

Kamis, 23 November 2017

Memanusiakan Manusia

Suatu ketika ada seorang santri yang bertanya kepada pak kiayi.

Santri : “wahai pak kiayi, kemarin kami bertemu dengan dua orang,,,,,, orang pertama, ia adalah orang yang sangat rajin beribadah. Sholatnya rajin, ngajinya rutin, apalagi puasa sunnahnya juga istikomah. Akan tetapi yang membuat kami aneh, dia selalu berbuat maksiat, dan bahkan perilakunya itu sering membuat orang saikit hati…

Kemudian orang yang ke dua,, Ia adalah sosok orang yang baik hati, rajin bersedekah, sopan santun, dan bahkan ia selalu menolong sesama. Namun lagi – lagi kami merasa aneh, karena ternyata orang itu jarang melakukan sholat lima waktu, dan bahkan ia pun tidak bisa membaca Al-Qur`an……
Dari ke dua orang itu, orang mana yang menurut pak kiayi bisa dikatakan sebagai orang yang baik?”…

Lalu pak kiayi menjawab “ Kedua orang tersebut adalah orang – orang yang baik”.

Mendengar jawaban itu, santripun terkaget kaget,, dalam hati “kok bisa,,, ????????”.

Kemudian pak kiayai melanjutkan “ Wahai santriku, Orang (pertama) yang selalu berbuat maksiat, dan selalu melukai hati orang lain, bisa jadi karena sholatnya, karena ngajinya itu, Allah memberikan hidayah kepadanya, sehingga jadilah ia sebagai orang yang alim, yaitu orang yang rajin sholat dan berakhlakul karimah.

Sedangkan orang yang ke dua, bisa jadi karena amal kebaikannya kepada sesama itu, Allah ketuk pintu  hatinya, sehingga ia pun bisa menjadi orang yang ahli ibadah”.
Mendengar jawaban itu, santripun terteunduk malu.

Dari secuil cerita di atas, maka bisa kita ambil beberapa hikmah :

  1. Tidak ada satupun dari kita yang tau nasip/keadaan kita di masa yang akan datang, sehingga jangan sampai kita menghakimi seseorang seolah – olah ia adalah orang yang hina, karena bisa jadi suatu saat Allah akan mengangkat derajatnya, dan bisa jadi pula kitalah yang dihinakan oleh Allah
  2. Anggaplah manusia sebagai manusia, jangan menganggap manusia seperti malaikat (Kata Gus Mus). Ketika kita menganggap teman atau saudara seperti malaikat, maka yang terjadi ketika teman atau saudara tersebut melakukan kesalahan, kita susah untuk memaafkan, namun sebaliknya, jika kita menyadari bahwa teman atau saudara kita itu juga sebagai manusia, maka kita akan memaklumi dan mau memaafkan jika mereka melakukan kesalahan, karena kita sadar bahwa manusia itu selamanya tidak akak lepas dari yang namanya kesalahan.



Dunia yang Melalaikan


Dalam islam, hidup adalah suatu fase untuk mempersiapkan kematian. Fase dimana kita berlomba-lomba untuk mengumpulkan bekal amalan sebanyak-banyaknya untuk di akhirat. Sayangnya, tidak sedikit  manusia lalai dan terhanyut dengan arus “manisnya” dunia, sehingga hanya fokus untuk menguras kenikmatan duniawi dan bersusah payah untuk memenuhi rasa “haus” mereka akan gemerlapnya kehidupan dunia.  Wajar apabila kita selaku manusia memiliki rasa keinginan untuk mendapatkan sesuatu, namun terkadang apa yang kita inginkan itu belum tentu menjadi hal yang sebenarnya kita butuhkan dan kita tidak harus memenuhi rasa ingin tersebut, seperti yang tercantum dalam Q.S. An-Naziat ayat 40-41, “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).”.
Trend lah yang membuat kita merasa terkejar untuk bisa mengikutinya, dan gengsi lah yang menjadi faktor pendorong terbesar. Gengsi sudah menjadi harga mati bagi mereka yang sudah terlanjur terseret arus modern yang semakin lama semakin maju. Bagi kaum hedon, sudah kewajiban mereka untuk mengikuti trend dunia tanpa memikirkan “sebenarnya butuh banget gak sih?”. Mungkin dalam hati kecil mereka mengatakan “jangan sampai aku kudet” atau “aku harus lebih kece dari dia”, atau mungkin “jangan sampai aku dipandang rendah”. Gengsi memang segalanya untuk mereka yang berfikir demikian.
Tidak sedikit orang yang meninggal dunia dalam keadaan yang banyak harta, tapi sedikit pahala. Hal tersebut bisa dilihat dari gaya hidupnya yang selalu berusaha mengejar materi dan materi, sehingga lalai dalam ibadahnya dan menyampingkan peran Allah dalam hidupnya.  “Dunia adalah penyihir yang lebih hebat dari Harut dan Marut, dan kamu harus menghindarinya.” (Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani). Sungguh orang yang merugi orang-orang yang bernasib seperti itu. Mereka diberi umur yang panjang, tapi umur tersebut hanya dihabiskan untuk menjadi budak uang di dunia.
Sepatutnya kita bisa menyeimbangkan antara dunia dan akhirat. “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S. Al-Qashash:77). Kenikmatan di dunia kadang melalaikan seseorang akan kehidupan akhirat. Padahal Allah SWT memerintahkan kita agar menyeimbangkan keduanya, karena sesungguhnya posisi kita di dunia hanyalah seperti musafir yang hanya “mampir” untuk mencari minum dan selanjutnya berjalan menuju ke tempat tujuan, yaitu akhirat. Dan semua harta benda yang kita miliki kelak akan dipertanggung jawabkan di akhirat.
Dapat disimpulkan bahwa kita sebenarnya boleh untuk mengais apa yang ada di dunia, namun akan lebih bijaknya apabila kita menggunakan itu untuk jembatan kita mendapatkan amal, contohnya seperti kita bekerja dan uang tersebut sebagian disisihkan untuk dijalan Allah seperti shodaqoh, infaq dan lain sebagainya. Karna jangan sampai uang kita hanya dihabiskan untuk memenuhi rasa gengsi yang ada dalam diri kita  J
Aidilla Qurotianti
Perpustakaan UMY


Selasa, 21 November 2017

KEDISIPLINAN DIRI

Kata orang-orang yang sukses bahwa dengan kedisiplinan itu dapat membantu untuk mengubah berbagai kegiatan menuju ke arah yang positif dalam rangka mencapai kesuksesan.Dengan keuletan, kerja keras, dan kedisiplinan tinggi, orang atau bangsa akan mencapai kesuksesan.
            Kalau kita mau membaca dan merenungkan sejarah, maka dapat dipahami bahwa naik turunnya peradaban manusia itu dipengaruhi oleh keuletan, kerja keras, dan kedisiplinan bangsa itu sendiri. Kiranya tidak ada bangsa yang unggul dalam peradaban tanpa kerja keras, tekun, dan disiplin.
            Pada masa Rasulullah Muhammad SAW dan Khulafaur Rasyidin, umat Islam mengalami kejayaan.Hal ini bisa terjadi antara lain berkat adanya kerja keras dan kedisiplinan. Demikian pula, kini beberapa negara maju seperti Jepang, Korea,  Amerika Serikat, Malaysia, dan Singapura  mampu mencapai kemajuan lantaran masyarakatnya mampu bekerja keras dan disiplin
            Kini beberapa instansi pemerintah maupun kantor-kantor swasta telah mampu nencapai kemajuan yang signifikan antara lain sebagai hasil kedisiplinan pimpinan dan staf secara keseluruhan. Kedisplinan merupakan faktor penting dalam peningkatan kualitas sumberdaya manusia dan mencapai produktivitas  yang tinggi. Untuk itulah, maka kini ada sejumlah kantor yang menerapkan sistem absensinya dengan  berbagai cara untuk mendisiplinkan staf. Sistem absensi ini ada yang masih tradisional sampai pada yang berbasis teknologi informasi seperti barcode, magnetic card, atau proximinity. Pilihan teknologi informasi ini biasanya diterapkan oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang teknologi informasi atau perusahaan yang berreputasi nasional/internasional.
            Disiplin adalah melaksanakan kegiatan tepat waktu sesuai prosedur, ketentuan, dan  etika yang berlaku. Kemudian  dalam melaksanakan kegiatan itu disertai tanggung jawab yang tinggi. Tanggung jawab ini bukan sekedar tanggung jawab administrasi, tetapi juga tanggung jawab moral. Sebab pada dasarnya setiap individu itu harus mempertanggungjawabkan atas kegiatan yang dilakukakannya.
            Seorang mahasiswa misalnya, harus bertanggung jawab secara akademik kepada dosen atau lembaga pendidikan tempat belajarnya. Secara moral, mahasiswa itu juga bertanggung jawab kepada Tuhan dan kepada orang tua. Ilmu yang diperoleh itu nanti untuk apa. Apakah dengan ilmu itu sekedar untuk gagah-gagahan, mencari jabatan, atau justru digunakan untuk membohongi rakyat dan merugikan masyarakat. Semestinya dengan ilmu pengetahuan itu untuk mensejahterakan atau memberi kemanfaatan kepada orang lain.
            Demikian pula dengan bawahan harus bertanggung jawab kepada atasannya. Pimpinan  juga harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya kepada yang dipimpin. Kepala negara harus mempertanggung jawabkan kinerjanya pada periode tertentu sesuai aturan yang ditetapkan masing-masing negara.
            Pelaksanaan  kegiatan tepat waktu merupakan salah satu upaya efektivitas dan efisiensi. Dari sini akan diperoleh produktivitas yang tinggi. Sebab waktu itu ibarat pedang yang apabila kita tidak dapat mematahkannya (memanfaatkannya) justru pedang (waktu) itu akan membunuh (merugikan) kita sendiri.
            Untuk bisa melaksanakan kegiatan tepat waktu, maka perlu perencanaan dalam pemanfaatannya. Selagi muda hendaknya memanfaatkan kesempatan muda ini secara disiplin untuk menyongsong hari tua. Kita ini masih hidup, maka perlu disiplin dalam memanfaatkan hidup dan kehidupan ini sebelum ajal menjemput kita.
            Mungkin kita ini santai dan lenggang-kangkung ketika memiliki waktu longgar. Kita cenderung memubadzirkan waktu/kesempatan. Nah, tentunya kita ini mampu berpikir bagaimana memanfaatkan waktu senggang itu agar tidak menyesal di waktu sibuk nanti.
            Demikian halnya dengan kesegarbugaran kita saat ini. Kita perlu memanfaatkan  kesegarbugaran ini untuk melakukan aktivitas yang bermanfaat untuk diri dan untuk orang lain. Nanti kalau sudah sakit, kita tak kuasa lagi melakukan kegiatan itu. Maka kedisiplinan menjaga kesehatan merupakan langkah bijaksana. Sebab menjaga  kesehatan pada hakekatnya adalah menjaga kekayaan. Nabi Besar Muhamamd SAW merupakan contoh orang yang sangat disiplin dalam menjaga kesehatan. Sepanjang hayat, beliau hanya sakit dua kali. Yakni pada pertengahan hidupnya dan menjelang akhir hayatnya. Itu pun hanya sebentar dan tidak merepotkan orang lain. Maka wajar apabila ada beberpa tokoh dunia seperti Napoleon Bonaparte dan Van Goethe kagum dan  memuji kedisplinan beliau dalam menjaga kesehatan. Meskipun hanya dengan fasilitas yang serba minim, beliau mampu menjaga kesehatan sejak ujung rambut sampai telapak kaki dari tahun ke tahun.
            Kedisiplinan beliau itu ditunjukkan pada kebiasaan bangun menjelang fajar, makan setelah lapar, dan berhenti makan sebelum kenyang, bila marah tanpa emosi, bila minum tidak bernafas, dan tidak tersugesti bila dihadapkan pada kondisi (kesehatan) yang kurang menguntungkannya.
Bangun Sebelum Fajar
              Bangun sebelum fajar lebih nyaman dan menguntungkan dari pada bangun setelah terbit matahari. Secara rohani dan jasmani, bangun pagi hari lebih memberikan manfaat. Di pagi hari pikiran masih segar dan bisa digunakan untuk belajar, menambah wawasan, membaca, atau membuat perencanaan kegiatan. Sedikit asal ajeg itu lebih baik daripada  banyak tetapi angin-anginan.
            Dari segi lain, dengan bangun pagi kita dapat mendapatkan kesempatan bagus dalam usaha pemenuhan kebutuhan hidup. Kalau kita bangun setelah terbit matahari, kesempatan itu telah diambil orang lain. Maka ada yang mengatakan bahwa bangun kesiangan itu berarti rizkinya telah dipatok ayam.
Makan setelah lapar, berhenti makan sebelum kenyang
            Sebagaimana diketahui bahwa saluran pencernaan seperti lambung memiliki sifat sensitif terhadap perubahan yang tidak wajar pada saluran itu. Ketidakteraturan makan baik dalam waktu dan jenis makanan berpengaruh besar terhadap kondisi saluran pencernakan dan kesehatan tubuh pada umumnya. Maka ada benarnya bahwa  perut itu bisa menjadi sumber segala penyakit (rohani dan jasmani).
Marah Tanpa Emosi
            Marah yang disertai emosi menunjukkan ketidakikhlasan bahkan menunjukkan  kebencian. Marah yang tidak emosional berarti ada usaha mencegah seseorang atau kelompok dari perbuatan negatif dan mendorong untuk berbuat positif disertai ketulusan hati. Jadi dalam  hal ini yang bicara bukan emosi/nafsu tetapi yang bicara adalah hati yang penuh kasih sayang.
            Dari segi kejiwaan, marah dengan emosi akan mempengaruhi fisik. Sering marah atau pemarah besar cepat atau lambat akan menimbulkan berbagai penyakit seperti gatal-gatal, sakit kepala, rasa mual, dan bisa darah tinggi. Bahkan tidak sedikit diantara pada pasien darah tinggi ini berlanjut pada stroke, lumpuh, bahkan meninggal secara mendadak.
Minum Tidak Sambil Bernafas
            Nabi Muhammad SAW selalu minum dari wadah yang tertutup. Sebab wadah yang terbuka sangat mudah kena debu dan kotoran lain yang mungkin mengandung penyakit tertentu. Minum dengan bernafas pun juga tidak baik menurut ilmu kedokteran. Sebab cara minum ini dapat menimbulkan batuk-batuk ringan, radang tenggorokan, dan radang paru-paru.
Tidak Tersugesti Dengan Kondisi Yang Kurang Menguntungkan
            Orang  yang mudah tersugesti berarti sangat  mudah dipengaruhi.Orang semacam ini kadang tidak memiliki keteguhan hati yang  kuat. Mereka mudah terpengaruh oleh keadaan yang sebenarnya keadaan itu hanya sepele. Sehubungan dengan mudah tersugesti ini, maka keadaan tersebut bisa menjadi malah besar.
            Disiplin merupakan faktor luar diri manusia atau bersifat eksternal. Disiplin atau kedisiplinan memerlukan perlakuan khusus a. Maka ada yang mengatakan bahwa untuk bisa disiplin itu harus mau mengerjakan sesuatu yang sebenarnya tidak disukainya.
            Ibadah yang dilakukan dengan baik, akan membentuk pribadi yang disiplin asal dilaksanakan sesuai waktu, cara, syarat, rukun, dan tempat. Kemudian agar kedisiplinan itu dapat tumbuh dan berkembang, perlu adanya lingkungan yang kondusif. Disamping itu perlu dikembangkan terus menerus mentalitas approach dan conditional approach dalam setiap proses pendidikan.

 Lasa Hs

 Perpustakaan UMY

Kamis, 16 November 2017

Kesombongan

Manusia diciptakan di muka bumi ini memiliki kelebihan dan kekurangan satu dari yang lain.Dengan kelebihan itu seyogyanya manusia bersyukur. Sebaliknya dengan adanya kekurangan, maka selayaknya  mereka itu sabar.
Namun demikian, dalam kehidupan sehar-hari tidak sedikit orang yang diberi kelebihan justru sombong dan merendahkan orang lain. Orang bisa saja sombong lantaran diberi kelebihan harta,  jabatan& kekuasaan, keturunan,dan ilmu
Memang  ada orang yang diberi kelebihan harta entah itu berasal dari warisan, hasil kerja keras atau penemuan. Dengan kekayaan yang melimpah itu dikiranya mereka mampu menggapai segala yang diinginkannya. Dengan harta dikira semua bisa diatur, semua orang bisa  diperintah, dibentak-bentak dan lainnya. Kadang tidak disadari bahwa harta  yang diburu sejak bangun tidur sampai tidur lagi itu malah menjebak dan menipu bagaikan fatamorgana.
Kisah Qarun menjadi pelajaran menarik  bagi mereka yang menyombongkan harta. Qarun diberi anugerah harta yang melimpah dan itu tidak mengakui bahwa kekayaan itu dari Allah. Qarun mengklaim bahwa kekayaan itu diperolehnya melalui kepandaian/ilmu dan kerja kerasnya. Tidak ada campur tangan Tuhan disitu, katanya.. Alquran S. Al Qashash: 76 menyatakan yang artinya: Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Nabi Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”.
Nasib Qarun memang mengenaskan yakni seluruh harta kekayaan, bahkan Qarun sendiri hancur ditelan bumi. Hal ini dinyatakan  dalam Alquran S.Al  Qashash: 81 yang artinya:
“Maka Kami benamkan dia (Qarun) bersama rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang menolongnya selain Allah, dan dia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri”.   
Ternyata harta yang dicari siang malam itu kalau tidak hati-hati justru mengenaskan pemiliknya. Tanah luas, rumah mewah, mobil model mutakhir tau-tau disita negara. Hal ini terjadi karena dalam menjalankan kehidupan dan kekuasaan tidak amanah. Mereka bangga dengan memamerkan kekayaan yang justru ujung-ujungnya menghabiskan sisa hidupnya di penjara.
Demikian pula halnya dengan pangkat dan jabatan, yang kadang membuat orang menjadi pongah  dan sombong. Ketika ingin meraih kekuasaan, mereka mengumbar janji simpati. Berbagai cara mereka tempuh untuk menjadi pejabat penting Sejak tidur di makam-makam tokoh sampai mandi kembang tiap malam Jum’at, bahkan minta wansit pada ular yang hidup di suatu sendang. Setelah terpilih menjadi orang penting, lalu muncul sikap aslinya yakni  sombong sebagai pejabat karena memiliki kekuasaan.Padahal jabatan yang dipangkunya itu hanya beberapa tahun.
Kalau tidak hati-hati, dengan jabatan itu justru menjadi sengsara. Fir’aun mati mengenaskan tenggelan di Laut Merah karena kesombongan kekuasaan. Fir’aun telah menunjukkan keangkuhan, kecongkakan, dan ksewenang-wenangan pada rakyatnya. Kekejaman dan kebengisan Fira’un ini digambarkan Allah dalam Q.S. Al Qashash: 4:
Artinya: “ Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan”.
Kepongahan, arogansi, dan kesombongan Fir’aun ini hendaknya menjadi pelajaran bagi kita bahwa akhir sikap ini adalah kehinaan dan kenistaan. Apalah artinya sombong jabatan kalau toh akhirnya tanah, rumah, dan rekening disita KPK/negara. Mereka menghabiskan sisa hidupnya di penjara. Isteri lepas dan anak-anak merana.
Untuk itu bagaiamanaa nasib Fir’aun yang notabene melambangkan kesombongan itu. Dalam Q.S. Al A’raf: 136:  yang artinya:” Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat Kami itu”.
Orang bisa sombong lantaran keturunan. Mereka bangga dengan nenek moyangnya. Memang ada orang yang merasa lebih karena masih keturunan darah biru, anak cucu orang terkenal. Mereka tidak mau bergaul denan orang-orang kebanyakan. Bahkan mereka menolak informasi, ajaran, dan dalil yang datang dari luar garis keturunan. Maka benar bahwa kesombongan itu bisa menolak kebenaran, karena nuraninya tertutup oleh berbagai kepentingan
Disamping itu, kesombongan dan kepongahan bisa menimpa pada para intelektual. Mereka yang memiliki kemampuan bidang tertentu merasa lebih hebat dari yang lain. Lulusan dari perguruan tinggi tertentu kadang merasa lebih berkualitas dari lulusan perguruan tinggi lain. Demikian pula mereka yang lulusan luar negeri sering merasa lebih berbobot dari lulusan dalam negeri. Mereka kadang kurang menyadari bahwa wafauqa dzi ‘ilmin alim.(Di atas orang pintar masih ada lagi yang lebih pintar)
Sikap sombong/kibr, takabur adalah sikap bahwa  dirinya merasa lebih tinggi, lebih hebat, dan lebih agung dari yang lain. Sikap ini akan menjauhkan diri dari yang lain dan akan membentuk kelompok-kelompok kelas elit.
Penyakit  sombong, pongah,congkak ini dapat menghapus kebaikan dan jasa orang itu. Apabila sikap ini dikembangkan dapat merusak akidah.  .
Apabilasikap ini telah berakar dalam hati dan selalu bersikap sombong dalam kehidupan kesehariannya, maka penyakit  ini sulit dihilangkan. Untuk itu sikap ini perlu dipahami dan diantisipasi sebelumnya.
Bahaya sombong
Untuk  menghindarkan diri dari sikap smbong ini, perlu dipahami bahaya-bahaya yang ditimbulan dari sikap ini antara lain:
Terhalang dari kebenaran
Kesombongan dapat menutup akal sehat dan menyelimuti hati nurani. Oleh karena itu  orang yang sombog  tak dapat membedakan manayan terang dan mana yang gelap. Telinga tertutup dari saran dan masukan dari orang lain meskipun yang disampaikan itu merupakan kebenaran.  Dalam  hal ini Allah berfirman dalam Q.S.: Al A’raf: 146 yang  artinya: “Aku akan memalingka dari tanda-tanda (kekuasaanKu) orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar”
Mendapat balasan neraka dan azab/siksa yang pedih
Keagungan, kebesaran, kekayaan, dan kemuliaan itu sebenarnya mutlak milik Allah. Manusia hanya diberikan  sangat sedikit dari kelebihan-kelebihan itu. Tentunya dengan kelebihan-kelebihan itu seseorang harus bersyukur. Sebab tidak semua orang diberikan kelebihan harta, kekuasaan, keturnan, maupun kelebihan ilmu pengetahuan. Dalam hadits Qudsi Allah berfirman,yang artinya:”Kesombongan itu adalah pakaian kebesaran-Ku dan keagungan itu adalah kain penghias-Ku. Oleh karena itu,siapa saja yang menyaingi Aku pada salah satu dari keduanya, maka Aku akan memasukkannya ke dalam Neraka Jahannam”
Tidak disukai Allah
Sikap menjunjung diri dan merendahkan orang lain ini merupakan salah satu sikap yang tidak disukai Allah SWT, baik itu  sombong ilmu,sombong kekuasaan, sombong keturunan, maupn sombong harta/kekayaan. Dalam hal ini Allah menyatakan dalam  Q.S Lukman: 18 ,yang  artinya: Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yan sombong dan membanggakan diri:.
Hina di dunia dan akhirat
Sikap sombong tidak hanya dimurkai oleh Allah, tetapi menusiapun muak melihat kesombongan dan pamer kekayaan misalnya dengan pamer akiknya seharga  sekian milyar, rumahnya di hampir tiap kota, mobilnya model mutakhir. Sikap pamer di media publik ini justru menyakitkan orang lain terutama bagi orang miskin yang cari makan sendiri saja susah.     
Dalam pentas kehidupan kita, dapat disimak bagaimna akhir dan nasib
orang-orang yang sombong. Dalam kenyataan, ribuan tanah mereka akhirnya diberi papan bertuliskan; Tanah Ini Disita oleh KPK atau Rumah ini menjadi pengawasan  Kehakiman dan lainnya..
Menyikapi kesombongan ini, Imam Ghozali dalam bukunya “Minhajul Abidin mengutip perkataan Hatim yang menyatakan:”Hindarilah bertemu kematian dalam tiga keadaan; sombong, rakus, dan angkuh. Orang yang sombong itu tidak akan bertemu kematian sebelum dihinakan oleh keluarga, kerabat, dan pelayannya. Sedangkan orang yang rakus, ia tidak akan menemui kematian sebelum hidup dalam kekurangan makanan dan minuman. Bagi orang yang angkuh, tidak dikeluarkan oleh Allah swt dari dunia ini (kematian) sebelum dilumuri oleh kencing dan kotorannya sendiri. Siapa saja yang bersikap sombong atas sesuatu yang tidak dibenarkan, maka Allah swt akan mewariskan kepadanya kehinaan yang tidak ada kebaikan sedikitpun padanya::
 
Lasa Hs


Universitas Muhammmdiyah Yogyakarta.

Rabu, 15 November 2017

Pustakawan FPPTMA Kembali Eksis dalam CFP Nasional

Kamis, 16 - 18 November 2017 Perpustakaan UNILA bersama FPPTI Lampung, serta Dinas Perpustakaan Kearsipan Provinsi Lampung mengadakan sebuah seminar dan call paper dengan tema "Perpustakaan sebagai inkubator inovasi dan kreativitas sumber daya manusia dan teknologi informasi".
Alhamdulilah, berkat motivasi dari masing - masing pimpinan perpustakaan, serta dorongan dari sesama anggota FPPTMA, banyak pustakawan FPPTMA yang esksis menjadi pemakalah pada acara kalini. Diantaranya adalah :

UMS
1. Cahya K.W.

UMY
1. Arda Putri W.
2. Laela Niswatin
3. Aidilla Q.T.
4. Eko Kurniawan
5. M. Jubaidi

UAD
1. Tedy Setyadi.
2. Ana P.
3. Nanik A.
4. Gretha
5. Ardiansyah
6. Maria Dwi Harbono
7. Didit Setia Budi

 STIKes Aisyah
Pringsewu-Lampung
1. Aminuddin

UMJ
1. Rismiyati


Senin, 13 November 2017

JANGAN TAKUT GAGAL.

“Tidak penting berapa kali anda gagal, yang penting berapa kali anda bangkit “. (Abraham Lincoln).
            Kata-kata itu dilontarkan oleh seorang anak manusia yang berkali-kali mengalami kegagalan. Namun toh dengan kegagalannya itu akhirnya berhasil menjadi orang nomor satu  Amerika Serikat di usianya yang ke 51. Wajahnya yang keras itu pernah menghiasi dolar Amerika Serikat.
            Pria kelahiran tahun 1809 itu, dulu ketika masih berumur 7 (tujuh) tahun dia dan keluarganya diusir dari tanah miliknya. Kemudian pada umur 9 tahun, ibunya meninggal dunia.  Pada umur 22 tahun, ia bekerja sebagai staf administrasi suatu toko. Namun karena terlibat hutang, dia lalu dipecat. UntUk melunasi hutangnya diperlukan waktu untuk mengangsur selama 17 tahun.
            Penderitaan dan kegagalan ini tidak membuat anak manusia yang berhati baja ini loyo dan cepat menyerah. Justru dengan kegagalan itu dia bangkit dan bangkit lagi. Diapun nekad untuk mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dan kali ini juga gagal. Lalu ia mencoba berbisnis lagi dan usaha ini ternyata bangkrut. Sementara kepedihan satu belum sirna, lalu muncul kepedihan lain yakni ditinggal mati kekasihnya yang bernama Ann Rutledge.
            Ketika memasuki usia 31 tahun, ia kembali nekad mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dan gagal lagi. Kemudian pada usia 34 tahun dan 39 tahun ia mencoba mencalonkan diri sebagai anggota Kongres dan kali ini  juga gagal. Bahkan saat itu ditinggal mati ketiga anak-anaknya (satu berumur 4 tahun dan yang lain umurnya tidak sampai 18 tahun).
            Penderitaan demi penderitaan ini tidak membuatnya frustasi dan tidak kehilangan semangat hidup. Justru dengan berbagai kegagalan ini akan menempa diri seseorang untuk semakin tangguh dalam menggapai cita-cita luhur. Semangat yang luar biasa ini mendorongnya untuk mencalonkan diri sebagai angggota Senat Amerika Serikat di usianya yang ke 45. Kenekadannya ini semakin menjadi dengan mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika Serikat di umurnya yang ke 47. Untuk pencalonan ini memang gagal. Namun dengan semangat baja, keuletan, kelincahan, dan keberanian akhirnya toh cita-cita luhur sebagai Presiden Amerika Serikat  itupun tercapai di usianya yang ke 51. 
            Ini sepenggal kisah seorang anak manusia yang bernama Abraham Lincoln yang sejak kecil nasibnya terlunta-lunta. Kegagalan dan penderitaan selalu menyelimuti kehidupannya. Kegagalan dan penderitaan yang bertubi-tubi itu antara lain; diusir dari tanah kelahirannya sendiri, ditinggal mati oleh orang-orang yang dicintainya (anak, kekasih, dan ibunya) dan kegagalan menggapai cita-cita  sebagai anggota Senat, maupun anggota Kongres. Bagi mereka yang tidak kuat iman dan jiwanya, dengan penderitaan semacam ini mungkin membuat orang itu sakit jiwa, stress, frustasi, bunuh diri, atau masuk penjara.
            Dari berbagai kepedihan dan penderitaan yang dialaminya itu akhirnya beliaupun memberikan pesan :”Tidak penting berapa kali anda gagal, yang penting berapa kali anda bangkit”.
Keteguhan hati
            Berbagai macam penderitaan yang menimpa seseorang bisa membuat patah semangat terutama bagi mereka yang nyalinya kecil. Sebaliknya, berbagai penderitaan itu justru akan mendorong seseorang untuk bangkit dan bangkit lagi lantaran orang itu memiliki keteguhan hati.
            Keteguhan merupakan kekuatan yang mampu mendorong seseorang untuk mencapai kesuksesan meskipun harus mengalami kondisi yang menyulitkannya. Dengan keteguhan hati seseorang dapat mencapai prestasi gemilang meskipun tadinya biasa-biasa saja. Salah satu contoh adalah Kolonel Sander’s si pendiri dan pemilik Kentucky Fried Chicken. Pensiunan ini memiliki keteguhan hati dalam meraih keberhasilan. Dia tidak ingin menggantungkan nasibnya pada bantuan sosial. Kemudian ia mendirikan usaha penyajian ayam goreng. Beliau tidak segan-segan menawarkan sajian ayam goreng itu dari satu restoran ke restoran lain bahkan dari satu kota ke kota lain. Dengan keteguhan hati, akhirnya ada juga restoran yang mau menerimanya. Usaha ini dikelola dengan sabar, telaten, ulet, dan kreatif. Akhirnya perkembangan usaha ini sampai ke berbagai mancanegara. Di Indonesia sendiri juga banyak berdiri Kentucky Fried Chicken di beberapa kota.
            Menghadapi kesulitan atau kondisi belum sukses perlu keteguhan hati. Maka tidak berlebihan bila Ray Kroc si mantan Kepala Cabang Restoran cepat saji McDonald mengatakan :”Jalani terus. Di dunia ini tidak mungkin ada yang bisa menggantikan posisi kebulatan tekad (keteguhan). Hanya mengandalkan bakat saja tidaklah cukup. Banyak sekali orang yang memiliki bakat, tetapi mereka gagal. Hanya mengandalkan intelektual saja tidaklah cukup karena banyak sekali orang pintar yang tidak bisa memetik manfaat dari keintelektualannya. Hanya mengandalkan pendidikan saja tidaklah cukup karena seorang ilmuwan dikelilingi oleh para murid yang kurang menghargainya. Akan tetapi, kebulatan hati (keteguhan) mampu untuk melakukan segalanya (Ibrahim Elfiky, 2005: 136).
Optimis
            Optimis adalah harapan lebh baik di masa mendatang. Orang yang optimis akan memiliki pandangan jauh ke depan dan berusaha untuk mencapai keadaan yang lebih baik daripada keadaan sekarang. Apapun yang terjadi, orang ini tetap memiliki harapan sukses lebih besar dari pada orang lain. Kesuksesan ini tidak harus diukur dengan materi, pangat, jabatan, maupun kedudukan. Harapan ini ibarat sebuah mobil yang membawa seseorang ke tempat tujuan. Orang yang optimis, insya Allah apa yang  dikehendakinya akan tercapai asal mau berusaha sekuat tenaga, berani menderita. Sebab jaman sekarang tidak ada istilah tenguk-tenguk nemu getuk (diam saja menunggu rizki datang). Justru sekarang ini tenguk-tenguk remuk (kalau diam saja akan hancur sendiri). Maka kalau mau mamah (makan) harus obah (berusaha). Oleh karena itu secara sederhana dapat dikatakan bahwa harapan secara total akan menjadi kenyataan dalam hidup seseorang asal serius dalam merealisirnya.
            Akal dalam diri manusia ibarat magnet dalam ilmu metafisika. Magnet ini akan menarik situasi, lingkungan, keinginan, dan tugas pada pikiran yang serupa. Ketika seseorang memikirkan sesuatu yang positif, maka hal-hal yang positif pula akan mengikutinya. Demikian pula dengan yang negatif. Ketika orang berpikiran negatif (menjadi orang yang negatif) , maka hal-hal yang negatif pula yang mengelilinginya. Kalau orang berpikiran (senang, hobi) sepak bola, maka bacaannya, kawannya, bahkan kamarnya bernuansa sepak bola. Demikian pula orang yang berpikiran/bergelut di bidang bisnis. Otaknya, pergaulannya, dunianya siang malam adalah dunia bisnis.
            Orang-orang yang optimis tidak takut  akan kesulitan dan kegagalan. Kegagalan justru dijadikan sebagai pelajaran dan kekuatan. Bukankah Henry Ford si raja mobil itu bolak-balik gagal dan pernah bangkrut. Demikian pula dengan Bung Karno yang berulang kali dipenjara bahkan nyaris terbunuh ketika menggerakkan revolusi kemerdekaan dan memimpin negeri ini. Dipenjara secara politis lebih terhormat daripada dipenjara karena korupsi.
            Mereka yang optimis menyadari bahwa kualitas hidup itu tergantung sejauh mana respon/tanggapan seseorang terhadap kejadian dan fenomena yang terjadi. Kalau orang itu tidak responsif terhadap fenomena yang dialaminya terutama fenomena yang menyangkut kepentingan masyarakat luas, maka sulit diharapkan adanya kualitas hidup pada orang itu. Mereka cenderung memikirkan apa yang terjadi pada dirinya. Padahal kualitas hidup itu 10 % ditentukan oleh apa yang menimpa seseorang dan yang 90 % tergantung respons/tanggapan seseorang terhadap kejadian-kejadian tersebut. Maka disinilah perlunya orang itu harus bersikap proaktif dalam merespon kejadian-kejadian yang mereka alami, lihat, dengar, dan rasakan.
            Proaktif menurut Stephen R. Covey adalah keleluasaan, kebebasan, dan kemampuan untuk memilih respon-respon terhadap apa yang menimpa seseorang berdasarkan nilai-nlai yang mereka anut. Mereka mampu mengembangkan dan memberdayakan karunia Allah yang berupa kesadaran diri, hati nurani, imajinasi, dan kebebasan.
            Kesadaran diri adalah perasaan yang timbul pada diri manusia akan eksistensi dirinya sebagai manusia dan kesadaran untuk bertindak sebagai pengejawantahan eksistensi dirinya. Dengan kata lain aku berbuat karena aku ada.
            Hati nurani yang merupakan karunia Allah itu merupakan landasan moral seseorang untuk bertindak dan berperilaku berdasarkan tuntunan Allah SWT. Nurani inilah yang akan menghubungkan diri orang dengan kearifan jaman dan kebijaksanaan hati, memahami bakat dan minat, dan menentukan visi dan misi hidupnya.
                Orang-orang yang proaktif akan memiliki imajinasi kreatif. Yakni kemampuan melihat jauh ke depan, mampu memberikan tanggapan, dan mampu mencari solusi dengan kegiatan-kegiatan yang sinergis. Imajinasi kreatif ini adalah fokus dari gerakan visualisasi dan kekuatan pikiran. Kekuatan pikiran ini juga disebut positive thinking (Vincent Peale dkk), possibility thinking (Robert Schuller dk), ateral thinking (Edward de Bono), psycho-cybernetics (Maxwell Malzt) (Harefa, 2005: 130)
            Manusia memiliki kebebasan dalam bertindak.Namun kebebasan ini juga sebenarnya dibatasi oleh kebebasan orang lain. Kebebasan di sini berarti kemauan untuk menemukan jalan dalam mengatasi problema yang terjadi. Mereka yakin bahwa segala problema pasti ada solusinya. Dengan kata lain, dimana ada kemauan tentu ada jalan, tiada derita tanpa prestasi/no pain no gain

Lasa Hs

Perpustakaan UMY

Jumat, 03 November 2017

Launching Lomba Desain Banner Perpustakaan sebagai Pembuka Pelatihan Literasi Informasi oleh Perpustakaan UNISA Yogyakarta

Kamis, 2 November 2017 bertempat di Kampus Terpadu Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, telah terlaksana pelatihan literasi informasi dan Muswil Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah/FPPTMA. Pelatihan literasi informasi kali ini dengan subyek pelatihan pada reference management dan akses eresources bagi Pustakawan Perguruan Tingi Muhammadiyah ‘Aisyiyah se Indonesia. Peserta yang berasal dari Aceh sampai Papua sangat bersemangat mengikuti pelatihan ini. Materi reference management yang dipelajari adalah Zotero, yang disampaikan oleh Pustakawan handal, sekaligus Kepala Perpustakaan FT UGM, Bp. Purwoko, SIP., MA. Apa itu Zotero, apa manfaatnya, dan bagaimana cara mengaplikasikannya sebagai reference management dipelajari oleh Pustakawan FPPTMA secara bersama di UNISA Yogyakarta.
Materi lain dalam pelatihan ini adalah akses eresources Proquest yang disampaikan oleh Bp. Dwi Janto Suandaro. Bagaimana cara mengakses berbagai data base yang ada dari Proquest disampaikan, termasuk bagaimana mengelola hasil akses secara lebih efekti dan efisien. Materi pelatihan bias diakses di https://lib.unisayogya.ac.id/materi-pelatihan. Pelatihan ini sangat bermanfaat bagi pengembangan Perpustakaan PTMA. Irkhamiyati, M.IP, ketua panitia sekaligus Kepala UPT Perpustakaan UNISA Yogyakarta menyampaikan bahwa pustakawan PTMA harus terus berkembang untuk turut berkontribusi nyata bagi civitas akademikanya.

Hal itu juga didukung oleh Wakil Rektor II UNISA Yogyakarta, Ibu Yuli Isnaeni, M.Kep., Sp.Kom, yang mewakili Rektor UNISA Yogya dalam memberikan sambutan dan membuka acara pelatihan. Bu Yuli menyampaikan bahwa Perpustakaan PTMA sebagai jantungnya perguruan tinggi sudah seharusnya terus maju dan mengembangkan diri untuk mendukung kemajuan perguruan tingginya. Berbagai hal dapat dilakukan untuk mengembangkan perpustakaan termasuk meningkatkan daya tarik layanannya. Oleh karena itu, untuk membuka pelatihan ini sekaligus dilakukan launching Lomba Desain Banner Perpustakaan UNISA Yogyakarta, yang bertujuan untuk lebih meningkatkan daya tarik mahasiswa dalam memanfaatkan layanan Perpustakaan UNISA Yogyakarta. (Irkhamiyati)

MUSWIL FPPTMA di Perpustakaan UNISA Yogyakarta

Kamis, 2 November 2017 bertempat di Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, telah terlaksana Musyawarah Wilayah/Muswil Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah/FPPTMA. Muswil diikuti oleh Pustakawan Perguruan Tingi Muhammadiyah ‘Aisyiyah se Indonesia. Peserta berasal dari berbagai PTMA se Indonesia, mulai dari UM Aceh, UM Bengkulu, UHAMKA, UM Tasikmalaya, Stikes Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan, STIE Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan, UM Semarang, UM Purworejo, UM Purwokerto, UM Surakarta, UMY, UAD, UM Magelang, Politeknik Muhammadiyah Magelang, Stikes Muhammadiyah Gombong, STT Muhammadiyah Kebumen, Stikes Muhammadiyah Klaten, STAIM Klaten, Stikes PKU Muhammadiyah Surakarta, Stikes ‘Aisyiyah Surakarta, UM Sidoarjo, UM Malang, UM Banjarmasin, UM Makasar, STIE Muhammadiyah Mamuju, UM Sorong Papua, dll.

Muswil diawali dengan pemaparan kepengurusan FPPTMA Korwil/Koordinator Wilayah DIY Jawa Tengah Selatan. Pemaparan program kerja juga disampaikan untuk memberikan gambaran bagi Pengurus Korwil lainnya se Indonesia. Muswil ini sangat bermanfaat untuk pengembangan Perpustakaan PTMA. Irkhamiyati, M.IP, sebagai pengurus pusat FPPTMA sekaligus Kepala UPT Perpustakaan UNISA Yogyakarta menyampaikan bahwa Muswil dilakukan sesuai dengan jadual yang sudah ditentukan. Muswil sebagai ajang sharing antar sesama pustakawan PTMA sekaligus sebagai bentuk sinergi dan realisasi kerjasama. Lasa Hs, selaku Ketua FPPTMA berharap agar Kepengurusan Korwil lainnya segera terealisasi, untuk mempermudah koordinasi dan mewujudkan kemajuan Perpustakaan PTMA se Indonesia. Pada acara Muswil juga dilakukan penandatangan dan serah terima Naskah Kerjasama antara Perpustakaan UNISA Yogyakarta dengan Stikes Muhammadiyah Gombong, dan  antara Perpustakaan UM Magelang dengan UM Bengkulu. (Irkhamiyati)


Rabu, 01 November 2017

BEKERJA KERAS MENGGAPAI KESUKSESAN

Setiap orang pasti ingin maju daan berhasil dalam kehidupan mereka. Hari ini diusahakan lebih baik dari kemarin. Besok harus lebih maju dari sekarang. Sedangkan untuk mencapai keberhasilan orang harus bekerja keras, ulet, rajin, dan sabar. Artinya harus berusaha dan tidak malas.
            Kemajuan dan keberhasilan seseorang akan tercapai antara lain karena memahami makna hidup. Hidup adalah anugerah Allah yang sangat berharga. Anugerah itu harus disyukuri antara lain dengan melakukan dan menghaslkan sesuatu yang positif. Salah satu pilihan untuk menghasilkan yang positif adalah bekerja. Bekerja memiliki banyak makna dan bukan sekedar mencari uang. Bekerja dapat dinilai sebagai bentuk syukur dan ibadah kepada Allah. Sebab dengan melakukan suatu pekerjaan berarti kita memanfaatan potensi diri untuk orang lain.  
Putaran otak, gerakan tangan,dan langkah kaki untuk menggapai kemanfaatan itu sebenarnya merupakan langkah positif meskipun belum menghasilkan. Agama apapun tidak mengajarkan pengikut-pengikutnya untuk bermalas-malasan.Pada umumnya agama-agama dunia menganjurkan umatnya untuk berusaha dan bekerja. Sebab dengan melakukan pekerjaan atau bekerja akan menaikkan status seseorang dan tidak menjadi beban orang lain.
Suatu ketika Rasulullah Saw kedatangan seorang laki-laki yang mengadukan kefakirannya. Mendengar keluhan itu, lalu Rasulullah Saw memberikan 2 (dua) dirham dan bersabda :”Apakah kamu memiliki sesuatu ?. “Tidak wahai Rasulullah Saw”, jawab orang itu. Lalu orang itu diberi uang sebanyak 2 (dua) dirham lagi oleh Rasulullah Saw dan beliau sambil bersabda:”Terimalah uang ini. Belilah makanan sekedarnya untuk kamu dan keluargamu. Sisanya cobalah belikan kampak. Dengan kampak itu engkau mencari kayu di hutan lalu juallah kayu itu untuk memenuhi kebutuhanmu yang lain “. Setelah 15 (lima belas) hari dari pertemuan itu, lelaki itu sowan kepada Nabi Muhammad Saw dan matur :”Wahai Rasulullah, Alhamdulillah sungguh Allah telah memberikan berkah kepada kami sekeluarga sebagaimana Rasul perintahkan kepada kami. Alhamdulillah kini kami telah mengumpulkan uang sebanyak 10 (sepuluh) dirham dari penjualan kayu yang kami peroleh dari hutan. Uang yang 5 (lima) dirham saya gunakan untuk membeli makanan untuk anak isteri saya, dan yang 5 (lima) dirham saya gunakan untuk membeli pakaian mereka:. Mendengar cerita ini, Rasulullah Saw nampak berkenan lalu bersabda :”Hal itu lebih baik kamu lakukan daripada kamu meminta-minta kepada orang lain”.
Orang-orang yang bekerja dalam bidangnya dengan baik akan memberikan makna dalam kehidupan dan namanya akan dikenang sepanjang masa. Sekecil apapun pekerjaan seseorang asal dilakukaan dengan tekun dan baik, maka akan memberikan makna tersendiri. Dalam hal ini Martin Luther Jr.pernah mengatakan :” Kalau anda terpanggil menjadi tukang sapu jalan, maka sapulah jalan secara baik seperti Michelangelo melukis atau Bethoven mengubah musik. Bahkan seperti Shakespeare menulis sajak. Sapulah jalan itu sehingga semua penghuni surga dan bumi akan berhenti sejenak untuk mengatakan :”Di sini pernah hidup seorang tukang sapu yang hebat yang sangat baik kerjanya”.
Keberhasilan tidak saja datang dari langit dan tidak otomatis tumbuh dari bumi. Keberuntungan tidak bisa dicari di Gunung Kawi atau menunggu tokek berbunyi. Orang sukses adalah orang yang berusaha, mampu mengatasi kendala, dan memeroleh sesuatu yang diinginkan. Pemalas adalah orang yang enggan bekerja, takut gagal, dan sedikit-sedikit mana uangnya.
Orang yang berusaha adalah orang yang mampu memaknai hidup. Mereka yang malas tidak paham apa itu makna hidup. Bekerja itu merupakan salah satu upaya memberikan makna dalam kehidupan.
Apabila orang memahami bahwa bekerja itu merupakaan makna hidup, maka dia akan merasa bahagia dalam melaksanakan pekerjaan/tugas. Sekecil apapun pekerjaan seseorang asal dilaksanakan dengan baik dan senang, maka akan mendatangkan keberhasilan dan kebahagiaan.
Untuk memeroleh hasil yang diharapkan, orang harus berani berkompetisi dalam berebut kesempatan secara elegan. Bukan sekedar kasak kusuk, kalau cuma begitu aku pasti lebih baik. Oleh karena itu bangun pagi lalu melakukan aktivitas  merupakan salah satu sikap siap untuk berkompetisi. Sebab bangun siang hari, rizkinya sudah dipatuk ayam.
Berkaitan dengan kompetisi dan berebut kesempatan ini, Rasulllah Saw memerintahkan umatnya untuk bangun pagi. Kemudian segera melakukan shalat fajar sebanyak 2 (dua) rekaat yang tentunya dilanjutkan melakukan shalat shubuh.Berkaitan dengan shalat fajar inilah, beliau menyatakan bahwa kebaikan shalat fajar itu lebih baik daripada dunia seisinya. Artinya dengan shalat fajar itu orang akan bangun pagi lalu melakukan kegiatan yang produktif. Pengertian ini bukan berarti bahwa setelah selesai melaksanakan shalat shubuh lalu tidur lagi yang berarti malas-malasan. Nah, berkaitan dengan bermalas-malas inilah suatu ketika Rasulullah Saw menghampiri putrinya Fatimah yang sedang malas-malasan setelah selesai melaksanakan shalat shubuh.Melihat putrinya yang sedang bermalas-malasan itu, beliau menghampirinya sambil menggoyang-goyang tubuh putrinya itu pelahan dan bersabda :” Wahai putriku, bangunlah dan sambutlah rizki Allah dan jangan lalai. Sebab Allah itu membagi-bagi rizki kepada manusia antara terbit fajar sampai matahari terbit” (H.R. Baihaqi).
Kemalasan akan melahirkan penyesalan. Kemalasan membuat orang enggan beranjak, tangan malas bergerak, kaki berat melangkah, pikiran terbelenggu, dan kemauan beku. Kemalasan membuat hidup menjadi redup, langkah mundur, mata tertidur pulas mendengkur. Sikap inilah yang membuat orang atau komunitas ketinggalan dari yang lain. Untuk itu Rasulullah Saw pernah bersabda :”Beberapa hal yang sangat aku khawatirkan akan menimpa umatku yakni besar perut (serakah, tamak, suka makan), terus menerus tidur, dan lemah keyakinan”. (H.R,Daruquthni). Disamping itu, Rasulullah Saw juga mengajarkan do’a yang tentunya harus disertasi usaha. Do’a itu berbunyi :Allahumma inni a’udzu bika minal hammi wal huzni, wa’audzu bika minal ‘ajzi wal kasali, wa’audzu bika minal jubni wal bukhli wa’audzu bika min ghalabatid daini waqahri rijaali”(artinya, Ya Allah, aku berlindung kepadaMU dari kesusahan dan kegelisahan hati, dan aku berlindung kepadaMu dari kelemahan dan kemalasan, dan aku berlindung kepadaMu dari sifat penakut dan kikir. Dan aku berlindung kepadaMu dari lilitan hutang dan kesewenang-wenangan orang-orang yang jahat.

Lasa Hs.

Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.