Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Kamis, 28 Desember 2017

TAWADHU’

Firman Allah SWT yang artinya:”Dan janganlah kamu sekalian memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di muka bumi ii dengan keangkuhan. Sesungguhnya Allah itu tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai (Q.S. Lukman: 18 – 19).
            Rendah hati (tawadhu’) merupakan sikap yang tidak menonjolkan kelebihan diri. Sikap bersahaja ini justru akan menambah karismatik seseorang, respek, dan hormat pada orang lan. Mereka yang low profil ini biasanya tidak suka ribut-ribut. Mereka yang suka ribut-ribut itu kadang kena stress.
            Mereka yang memiliki sikap tawadhu’ ini biasanya lebih mendahulukan kewajiban dari pada hak. Bagi mereka, hak itu akan datang sendirinya apabila benar-benar melaksanakan kewajiban dengan baik dan ikhlas. Tentunya sikap ini berbeda dengan orang yang selalu mengedepankan hak. Mereka menuntut haknya lebih dulu dan kewajibannya kadang tak jelas. Bahkan hak orang lain diserobotnya. Itupun kadang tidak merasa dosa.
            Sikap rendah hati dan bersahaja telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat beliau. Dalam suatu hadist dikatakan bahwa sahabat Anas berkata “Pernah ada seorang budak sahaya kota Madinah yang menggandeng tangan Rasululah SAW berjalan kesana kemari” (H.R. Imam Bukhari). Ketawadhu’an ini juga ditunjukkan oleh Khalifah  ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz (cucu ‘Umar bin Khattab r.a.) . Dalam kitab Minhajul Muslim (2014) dikisahkan bahwa pada suatu malam sedang menulis, lalu kedatangan tamu. Sedangkan lampu ruang tamu hampir padam (karena menggunakan minyak). Melihat keadaan seperti ini, maka tamu itu matur kepada ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz “Saya akan memperbaiki lampu  ini”. Lalu Umar bin ‘Abdul ‘Aziz pun mencegahnya seraya berkata “Bukan termasuk orang yang mulia apabila memperlakukan tamu sebagai pembantu”. Mendengar perkataan ini, lalu tamu itu menimpali dengan berkata :”Kalau begitu saya akan membangunkan pembantu saja”. Sejenak kemudian Khalifah itu bangkit dari tempat duduknya lalu mengambil botol berisi minyak untuk mengisi lampu itu dengan minyak. Menyaksikan kejadian ini, tamu itu lalu berkata “Mengapa Amirul Mukminin mengisi minyak pada lampu itu sendiri ?. Kemudian Khalifah yang adil, sederhana, dan bijaksana itu menjawab :”Saya pergi sebagai Umar dan datang sebagai Umar, tidak kurang apapun dari saya. Sebab sebaik-baik manusia di sisi Allah adalah mereka yang bertawadhu’.
            Dalam hal tawadhu’ ini patut kita renungkan nasehat ulama satu kepada yang lain. Pada suatu saat Abu Salamah berkata kepada Abu Sa’id al Khudri “Bagaimana penilaian anda tentang cara berpakaian, minum, berkendaraan, dan makan orang-orang sekarang?. Beliau berkata “Hai saudaraku, makanlah karena Allah, minumlah karena Allah dan berpakaianlah krena Allah. Sebab segala sesuatu yang disitu ada kesombongan, kebanggaan, dan pamer atau biar menjadi orang terkenal, maka sesungguhnya hal itu merupakan kemaksiatan  dan pemborosan. Laksanakan dan lakukan tugas-tugas rumah tanggamu seperti Rasulullah SAW melaksanakan tugas-tugas rumah tangga. Beliau memberi makan, minum, dan menambatkan unta,menyapu rumah. memerah susu kambing, memperbaiki sandal beliau sendiri, bahkan menambal baju. Beliau juga tidak sungkan-sungkan menjabat tangan orang-orang fakir miskin sebagai rayat kecil. Beliau selalu mengucapkan salam dan menyapa lebih dulu pada setiap orang yang dijumpainya, baik orang kaya, orang miskin, anak-anak maupun orang dewasa.
            Dari beberapa sumber dapat dikemukakakn tentang ciri-ciri orang yang tawadhu’ adalah:
1.                  Tidak selalau menonjolkan diri
Dalam pergaulan sehari-hari,orang tawadu’ biasanya tidak mudah sakit hati bila tidak disapa dan tidak dendam bila dicela. Andaikan orang in kaya, maka tidak menampakkan apalagi memamerkan kekayaannya. Mereka berpenampilan apa adanya seperti orang-orang biasa.
2.                  Menghormati tamu
Meskipun orang ini memiliki kedudukan penting, dia selalu menghormati tamu. Tamu baginya adalah rizki (dalam arti luas). Setiap tamu yang datang, disambutya dengan segera (gupuh), disapa (tambuh) dengan sopan, lalu disajikan (suguh)  minum/makanan. Apabila tamu itu pulang, lalu diantarnya sampai pintu. 
3.                  Makan, minum, berkendara, berpakaian tidak berlebihan
Dalam hal makan minum, orang tawadhu’ tidak berlebihan, baik dalam jenis makanan, tempat, maupun cara menikmatinya. Mereka berkeyakinan bahwa perut adalah sumber segala penyakit (jasmaniah & rohaniah)
4.                  Bergaul dan duduk-duduk bersama-sama orang kecil, fakir miskin, penyandang catat dll.
Orang-orang yang tawadhu’ dalam pergaulan tidak membedakan orang berpangkat dan orang-orang miskin. Mereka tidak membuat jarak dalam pergaulan.Mereka tidak angkuh dengan orang kecil, dan tidak merasa bangga bila ketemu dengan orang-orang terkenal
5.                  Memenuhi undangan orang lain meskipun yang mengundang itu orang-orang kelas bawah.  
Orang yang diundang adalah orang yang dipilh dan sekaligus dihormti. Sebab tidak semua orang dipilih untuk hadir dalam pertemuan. Kehadiran mereka merupakan kehormatan diri dan kehormatan bagi yang mengundang. Apabila tidak bisa menghadiri undangan, sebaiknya memberitahu atau minta ijin.
Sikap tawadhu’ akan menumbuhkan kenyamanan dalam pergaulan dan kesejukan pula pada orang lain. Orang lain akan menghormatiya bahkan bisa meningkatkan kharismatik seseorang di mata masyarakat.


Lasa Hs.

            Perpustakaan UMY

Jumat, 22 Desember 2017

Workshop Katalogisasi di Perpustakaan UNISA Yogyakarta

Bertempat di Ruang A 402 Kampus Terpadu UNISA Yogya, telah diadakan Workshop Katalogisasi. Kepala UPT Perpustakaan UNISA Yogya, Irkhmiyati, SIP., MIP., sebagai ketua panitia menyampaikan bahwa tujuan diadakannya workshop ini adalah untuk merefreshing kembali tentang standar katalogisasi perpustakaan. Hal yang menginisiasi diadakannya kegiatan ini adalah tentang adanya penyusunan Katalog Induk Daerah/KID yang sering dilakukan oleh BPAD DIY setiap tahunnya, dimana Perpustakaan UNISA Yogya termasuk anggota JLA/Jogja Library for All. Semua anggota JLA berkuwajiban dalam penyusunan KID tersebut. Selain itu juga sebagai fedd back dan bahan evaluasi terhadap meta data dan proses input data katalogisasi koleksi di SIM Perpustakaan. 

Katalog merupakan perwakilan koleksi yang digunakan sebagai alat untuk pencarian dan promosi kepada pemakai. Standar yang digunakan dalam penyusunan katalog biasanya menggunkan ACCR 2. Akhir-akhir ini standar katalogisasi berkembang menggunakan RDA. Aturan tentang katalogisasi ini sudah dikeluarkan oleh Perpustakaan Nasional RI. Akan tetapi belum semua aturan yang ada diterapkan di semua perpustakaan. Alasan ini pula yang mendasari dilakukannya workshop yang diikuti oleh Pustakawan UNISA Yogya: Irkhamiyati, SIP., MIP, Agung Suyudi, A.Md; Lilik Layyina, SIP., Dita Rachmawatti, SIP, Pustakawan UMY, dan 4 orang Pustakawan UAD. Workshop juga diikuti oleh Kepala PDSI UNISA Yogya, Bp. Basit Adhi P, ST. Nara sumber workshop adalah pustakawan BPAD DIY sekaligus Pengurus Daerah IPI DIY, Bp. M.Hadi Pranoto, SIP. Materi workshop sangat berguna bagi pengembangan perpustakaan. Workshop menjadi ajang pengembangan kompetensi secara non formal dan sebagai wujud kerja sama antar perpustakaan dan antar insitusi.

Irkhamiyati

KEDISIPLINAN DIRI


Kata orang-orang yang sukses bahwa dengan kedisiplinan itu dapat membantu untuk mengubah berbagai kegiatan menuju ke arah yang positif dalam rangka mencapai kesuksesan.Dengan keuletan, kerja keras, dan kedisiplinan tinggi, orang atau bangsa akan mencapai kesuksesan.
            Kalau kita mau membaca dan merenungkan sejarah, maka dapat dipahami bahwa naik turunnya peradaban manusia itu dipengaruhi oleh keuletan, kerja keras, dan kedisiplinan bangsa itu sendiri. Kiranya tidak ada bangsa yang unggul dalam peradaban tanpa kerja keras, tekun, dan disiplin.
            Pada masa Rasulullah Muhammad SAW dan Khulafaur Rasyidin, umat Islam mengalami kejayaan.Hal ini bisa terjadi antara lain berkat adanya kerja keras dan kedisiplinan. Demikian pula, kini beberapa negara maju seperti Jepang, Korea,  Amerika Serikat, Malaysia, dan Singapura  mampu mencapai kemajuan lantaran masyarakatnya mampu bekerja keras dan disiplin
            Kini beberapa instansi pemerintah maupun kantor-kantor swasta telah mampu nencapai kemajuan yang signifikan antara lain sebagai hasil kedisiplinan pimpinan dan staf secara keseluruhan. Kedisplinan merupakan faktor penting dalam peningkatan kualitas sumberdaya manusia dan mencapai produktivitas  yang tinggi. Untuk itulah, maka kini ada sejumlah kantor yang menerapkan sistem absensinya dengan  berbagai cara untuk mendisiplinkan staf. Sistem absensi ini ada yang masih tradisional sampai pada yang berbasis teknologi informasi seperti barcode, magnetic card, atau proximinity. Pilihan teknologi informasi ini biasanya diterapkan oleh perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang teknologi informasi atau perusahaan yang berreputasi nasional/internasional.
            Disiplin adalah melaksanakan kegiatan tepat waktu sesuai prosedur, ketentuan, dan  etika yang berlaku. Kemudian  dalam melaksanakan kegiatan itu disertai tanggung jawab yang tinggi. Tanggung jawab ini bukan sekedar tanggung jawab administrasi, tetapi juga tanggung jawab moral. Sebab pada dasarnya setiap individu itu harus mempertanggungjawabkan atas kegiatan yang dilakukakannya.
            Seorang mahasiswa misalnya, harus bertanggung jawab secara akademik kepada dosen atau lembaga pendidikan tempat belajarnya. Secara moral, mahasiswa itu juga bertanggung jawab kepada Tuhan dan kepada orang tua. Ilmu yang diperoleh itu nanti untuk apa. Apakah dengan ilmu itu sekedar untuk gagah-gagahan, mencari jabatan, atau justru digunakan untuk membohongi dan merugikan masyarakat. Semestinya dengan ilmu pengetahuan itu untuk mensejahterakan atau memberi kemanfaatan kepada orang lain.
            Demikian pula dengan bawahan harus bertanggung jawab kepada atasannya. Pimpinan  juga harus mempertanggungjawabkan kepemimpinannya kepada yang dipimpin. Kepala negara harus mempertanggung jawabkan kinerjanya pada periode tertentu sesuai aturan yang ditetapkan masing-masing negara.
            Pelaksanaan  kegiatan tepat waktu merupakan salah satu upaya efektivitas dan efisiensi. Dari sini akan diperoleh produktivitas yang tinggi. Sebab waktu itu ibarat pedang yang apabila kita tidak dapat mematahkannya (memanfaatkannya) justru pedang (waktu) itu akan membunuh (merugikan) kita sendiri.
            Untuk bisa melaksanakan kegiatan tepat waktu, maka perlu perencanaan dalam pemanfaatannya. Selagi muda hendaknya memanfaatkan kesempatan muda ini secara disiplin untuk menyongsong hari tua. Kita ini masih hidup, maka perlu disiplin dalam memanfaatkan hidup dan kehidupan ini sebelum ajal menjemput kita.
            Mungkin kita ini santai dan lenggang-kangkung ketika memiliki waktu longgar. Kita cenderung memubadzirkan waktu/kesempatan. Nah, tentunya kita ini mampu berpikir bagaimana memanfaatkan waktu senggang itu agar tidak menyesal di waktu sibuk nanti.
            Demikian halnya dengan kesegarbugaran kita saat ini. Kita perlu memanfaatkan  kesegarbugaran ini untuk melakukan aktivitas yang bermanfaat untuk diri dan untuk orang lain. Nanti kalau sudah sakit, kita tak kuasa lagi melakukan kegiatan itu. Maka kedisiplinan menjaga kesehatan merupakan langkah bijaksana. Sebab menjaga  kesehatan pada hakekatnya adalah menjaga kekayaan. Nabi Besar Muhamamd SAW merupakan contoh orang yang sangat disiplin dalam menjaga kesehatan. Sepanjang hayat, beliau hanya sakit dua kali. Yakni pada pertengahan hidupnya dan menjelang akhir hayatnya. Itu pun hanya sebenatar dan tidak merepotkan orang lain. Maka wajar apabila ada beberpa tokoh dunia seperti Napoleon Bonaparte dan Van Goethe kagum dan  memuji kedisplinan beliau dalam menjaga kesehatan. Meskipun hanya dengan fasilitas yang serba minim, beliau mampu menjaga kesehatan sejak ujung rambut sampai telapak kaki dari tahun ke tahun.
            Kedisiplinan beliau itu ditunjukkan pada kebiasaan bangun menjelang fajar, makan setelah lapar, dan berhenti makan sebelum kenyang, bila marah tanpa emosi, bila minum tidak bernafas, dan tidak tersugesti bila dihadapkan pada kondisi (kesehatan) yang kurang menguntungkannya.
Bangun Sebelum Fajar
              Bangun sebelum fajar lebih nyaman dan menguntungkan dari pada bangun setelah terbit matahari. Secara rohani dan jasmani, bangun pagi hari lebih memberikan manfaat. Di pagi hari pikiran masih segar dan bisa digunakan untuk belajar, menambah wawasan, membaca, atau membuat perencanaan kegiatan. Sedikit asal ajeg itu lebih baik daripada  banyak tetapi angin-anginan.
            Dari segi lain, dengan bangun pagi kita dapat mendapatkan kesempatan bagus dalam usaha pemenuhan kebutuhan hidup. Kalau kita bangun setelah terbit matahari, kesempatan itu telah diambil orang lain. Maka ada yang mengatakan bahwa bangun kesiangan itu berarti rizkinya telah dipatok ayam.
Makan setelah lapar, berhenti makan sebelum kenyang
            Sebagaimana diketahui bahwa saluran perencanaan seperti lambung memiliki sifat sensitif terhadap perubahan yang tidak wajar pada saluran itu. Ketidakteraturan makan baik dalam waktu dan jenis makanan berpengaruh besar terhadap kondisi saluran pencernakan dan kesehatan tubuh pada umumnya. Maka ada benarnya bahwa  perut itu bisa menjadi sumber segala penyakit (rohani dan jasmani).
Marah Tanpa Emosi
            Marah yang disertai emosi menunjukkan ketidakikhlasan bahkan menunjukkan  kebencian. Marah yang tidak emosional berarti ada usaha mencegah seseorang atau kelompok dari perbuatan negatif dan mendorong untuk berbuat positif disertai ketulusan hati. Jadi dalam  hal ini yang bicara bukan emosi/nafsu tetapi yang bicara adalah hati yang penuh kasih sayang.
            Dari segi kejiwaan, marah dengan emosi akan mempengaruhi fisik. Sering marah atau pemarah besar cepat atau lambat akan menimbulkan berbagai penyakit seperti gatal-gatal, sakit kepala, rasa mual, dan bisa darah tinggi. Bahkan tidak sedikit diantara pada pasien darah tinggi ini berlanjut pada stroke, lumpuh, bahkan meninggal secara mendadak.
Minum Tidak Sambil Bernafas
            Nabi Muhammad SAW selalu minum dari wadah yang tertutup. Sebab wadah yang terbuka sangat mudah kena debu dan kotoran lain yang mungkin mengandung penyakit tertentu. Minum dengan bernafas pun juga tidak baik menurut ilmu kedokteran. Sebab cara minum ini dapat menimbulkan batuk-batuk ringan, radang tenggorokan, dan radang paru-paru.
Tidak Tersugesti Dengan Kondisi Yang Kurang Menguntungkan
            Orang  yang mudah tersugesti berarti sangat  mudah dipengaruhi.Orang semacam ini kadang tidak memiliki keteguhan hati yang  kuat. Mereka mudah terpengaruh oleh keadaan yang sebenarnya keadaan itu hanya sepele. Sehubungan dengan mudah tersugesti ini, maka keadaan tersebut bisa menjadi malah besar.
            Disiplin merupakan faktor luar diri manusia atau bersifat eksternal. Disiplin atau kedisiplinan memerlukan perlakuan khusus agar yang dapat terbentuk dan berkembang. Maka ada yang mengatakan bahwa untuk bisa disiplin itu harus mau mengerjakan sesuatu yang sebenarnya tidak disukainya.
            Ibadah yang dilakukan dengan baik, akan membentuk pribadi yang disiplin asal dilaksanakan sesuai waktu, cara, syarat, rukun, dan tempat. Kemudian agar kedisiplinan itu dapat tumbuh dan berkembang, perlu adanya lingkungan yang kondusif. Disamping itu perlu dikembangkan terus menerus mentalitas approach dan conditional approach dalam setiap proses pendidikan.

                                               Yogyakarta, 25 Oktober 2016 

                                                             Lasa Hs.
                                                            MPI PP Muhammadiyah dan

                                                            Kepala Perpustakaan UMY

Kamis, 21 Desember 2017

HAMKA – di “penjara” pun Menulis Buku

HAMKA – di “penjara” pun Menulis Buku

Kata orang, bahwa orang yang cerdas adalah mereka yang bisa membaca peluang, mampu memanfaatkan peluang, mau menciptakan peluang, dan berhasil mengembangkan peluang. Buya Hamka adalah salah satu orang yang memenuhi kriteria ini. Beliau doktor, setelah banyak menulis buku. Bukannnya doktor yang tak punya buku.
          Ulama kharismatik, ketua MUI pertama kali itu juga seorang pujangga, penulis buku produktif, dan da’i yang disegani di kawasan Asia Tenggara bahkan Jepang. Buku-bukunya masih bisa ditemukan di toko buku dan perpustakaan antara lain; Negara Islam, Islam dan Demokrasi, Revolusi Pikiran, Revolusi Agama, Adat Minangkabau, Menghadapi Revolusi, Dari Lembah Cita-Cita. Novel-novelnya antara lain; Di Bawah Lindungan Ka’bah, Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil, dan Di Tepi Sungai Dajlah.Buku-buku ini ditulis sejak bertemu dengan Thaha Husein (tunanetra penulis buku Al Ayyam, dan pernah menjadi Menteri Pendidikan Mesir)  dan Fikri Abadah.
          Menurut penuturan drh.H.Taufik Ismail seorang budayawan dan sastrawan bahwa ketika PKI (Partai Komunis Indonesia) berjaya dan Masyumi mengalami penurunan, Buya Hamka dijelek-jelekkan oleh orang-orang PKI melalui rubrik Lentera d Harian Bintang Timur. Suatu ketika Buya Hamka menghadiri walimatul ‘ursy anak seorang sejawatnya. Di situ, beliau terlibat pembicaraan dengan kawan-kawan lama. Entah bagaimana lalu muncul fitnah bahwa Buya Hamka dan teman-temannya bermaksud membunuh Bung Karno dan Menteri Agama saat itu (Syaifuddin Zuhri). Dari fitnah keji itu, Buya Hamka ditangkap dan dipenjarakan selama 2 tahun 4 bulan. Namun hikmah dari penjara tanpa proses hukum ini adalah beliau berhasil menyelesaikan Tafsir Al Azhar yang 30 juz itu. Di penjara ini, beliau memanfaatkan peluang untuk menulis. Tetapi yang bebas, tidak dipenjara tak menulis buku.
          Hamka bukanlah tipe pendendam dan sakit hati yang dibawa mati. Beliau menunjukkan jiwa besar dan sikap bijaknya. Ketika Bung Karo wafat, Buya Hamka memaafkannya. Bahkan beliau mengimami shalat jenazah untuk Sang Proklamator itu. Ketika ditanya mengapa Buya mau menshalatkan Bung Karno yang pernah mendhaliminya. Beliau dengan singkat menjawab “Beliau adalah sahabat saya”. Beliau tetap menjalin silaturrahmi dengan keluarga Bung Karno. Sehingga tidak ada dusta diantara kita.
          Pahlawan Nasional ini, dipanggil pulang ke Rahmatullah tanggal 24 Juli 1981 dengan meninggalkan ilmu pengetahuan kepada kita dalam berbagai bidang sepeti politik, agama, kebudayaan, filsafat, tasauf, sastra, dan lainnya. Beliau masih hidup (ilmu, pikiran,) meskipun mati (jasadnya).
          Buya Syafi’I Ma’arif dalam Suara Muhammadiyah 3 Syawal 1435 H menyatakan : Benarlah penglihatan Sutan Mansur, bahwa Hamka adalah orang besar yang bertahun-tahun ditempa penderitaan, dan membuatnya menjadi manusia tahan banting dan halus perasaaannya. Penderitaan yang dialaminya justru menjadi tangga emas baginya yang terus berkarya dan beramal :mencari jalan pulang”. Maka tak heran berjibun rakyat dari segala lapisan masyarakat menangisi kepergiannya. Sebab yang pergi itu mewakili hati nurani mereka.
          Prof. Dr. Shawki Futaki, Presiden Japan Islamic Congress menyampaikan pesan dukanya dengan kalimat :” Atas nama 50.000 umat Islam Jepang, kami sampaikan rasa duka cita yang mendalam atas berpulang ke rahmataullah Prof.Dr.Hamka, tokoh Islam Indonesia yang bagi kami adalah seorag pemimpin yang telah memberi bimbingan selama 4 tahun terakhir. Banyak bimbingan Buya Hamka bagi kemajuan umat Islam Jepang. Umat Islam Jepang benar-benar merasa kehilangan seorag tokoh yang selama ini dirasakan sangat dekat.
(sumber : 100 Tokoh Muhammadiyah, yang Menginspirasi, 2014)


Saemuri Yogya.


Rabu, 20 Desember 2017

ANDA INGIN MERESENSI BUKU ?

                                                                                
Resensi merupakan bentuk pembahasan kritis terhadap karya intelektual dan/atau karya artistik orang lain. Pembahasan ini meliputi isi, gaya bahasa, sistematika penulisan, fisik, maupun unsur lain.
                Kegiatan ini juga dapat dikatakan sebagai media promosi buku dan bacaan lain. Oleh karena itu dalam meresensi buku perlu mempertimbangkan tema, penulis, sistematika penulisan, penerbit, kemutakhiran, dan perkembangan keadaan. Sebab tidak semua karya tulis itu layak diresensi karena tidak memiliki nilai-nilai keilmuan, pendidikan, moral, ekonomi, dan budaya.
                Dalam dunia perpustakaan, resensi berfungsi sebagai media temu kembali, media seleksi, dan media promosi koleksi. Dalam hal ini, pustakawan sebagai tenaga profesional kurang memiliki kreativitas memanfaatkan resensi sebagai media mempromosikan sumber informasi yang dikelola perpustakaan. Padahal perpustakaan sering menerima buku-buku baru dalam berbagai bidang sesuai tingkat perpustakaannya. Sebagian besar pustakawan masih berpikir konvensional, terjebak pada pola pikir stagnan, takut melangkah, bahkan cenderung birokrasi. Keadaan ini ibarat ayam yang mati kelaparan di lumbung padi.
Latar Belakang
                Dunia resensi seharusnya mendapat perhatian pustakawan dan dikembangkannya. Sebab aktivitas resensi mampu meningkatkan kemampuan penulisan, berfungsi sebagai media promosi, media seleksi, dan sebagai media temu kembali akan sumber-sumber informasi yang dikelola perpustakaan. Oleh akrena itu, kegiatan ini perlu disosialisasikan kepada para pustakawan dengan berbagai pertimbangan dan realita bahwa:
1.            Pustakawan kurang mampu meresensi  atau bedah buku.
Pustakawan yang memproklamirkan dirinya sebagai seorang profesional ternyata sangat lemah dalam penulisan. Padahal menulis bagi pustakawan memiliki banyak manfaat antara lain bahwa penulisan bermanfaat sebagai media komunikasi antarpustakawan dan masyarakat, dikenal orang lain, dan memperoleh angka kredit. Lemahnya penulisan terutama meresensi ini juga diakui oleh Hermanto (2004: 26) seorang peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Bogor yang menyatakan bahwa sedikit sekali pustakawan di Departemen Pertanian yang telah menulis artikel di surat kabar untuk tujuan promosi perpustakaan.
2.            Pustakawan kurang percaya diri
Pustakawan itu sebenarnya bisa menjadi ilmuwan berbagai bidang apabila memiliki keberanian, kemauan kuat, dan percaya diri. Mereka dapat mendalami berbagai ilmu pengetahuan melalui sumber informasi dan fasilitas perpustakaan yang mereka kelola dan memanfaatkan perpustakaan atau pusat informasi lain.
3.            Pustakawan kurang kreatif
Kreativitas merupakan tuntutan tersendiri bagi seorang profesional. Kurangnya kreativitas menyebabkan lambannya perkembangan profesi. Kreativitas akan muncul karena adanya inspirasi, ilham, maupun rangsangan yang diperoleh melalui renungan, bacaan, diskusi, pengalaman orang lain, memperhatikan peristiwa, dan mengalami sendiri.
4.            Terbuka media bedah/ resensi buku
Di era ini terbuka kesempatan untuk berdiskusi keilmuan termasuk bedah buku yang pelaksanaannya melalui perguruan tinggi, organisasi profesi, event organizer, penerbit, toko buku, maupun perpustakaan. Di samping itu resensi buku dapat dilakukan melalui media cetak seperti majalah profesi dan surat kabar. Memang surat kabar tertentu menyediakan rubrik perbukuan pada hari-hari tertentu. Peluang ini kurang dimanfaatkan oleh para pustakawan. Semestinya mereka menangkap peluang ini, sebab perpustakaan sering menerima buku-buku baru sesuai jenis perpustakaan itu.
Resensi dan fungsinya
                Kata resensi berasal dari kata recensie (bahasa Belanda) yang berarti membicarakan dan menilai/beordelend en besproken. Dari makna inilah, maka media cetak Belanda menyediakan halaman atau kolom khusus sebagai wadah pembicaraan buku ini. Untuk menyebut resensi ada beberapa isttilah. Ada yang menyebutnya boeksennieuws/berita buku, onze bestaafel/meja baca kita, boekbespreking/pembicaraan buku, dan pas veschenen/baru terbit (N. Daldjoeni, 1993: 33).
Dari pengertian ini dapat dipahami bahwa resensi berarti menguraikan isi buku saja, menilai saja, atau menguraikan dan menilai suatu buku. Pengertian yang terakhir inilah yang banyak digunakan oleh para pecinta buku itu dalam menyelenggarakan kajian perbukuan itu.
                Pengertian resensi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia/KBBI (1991) adalah pertimbangan atau pembicaraan buku, atau ulasan buku yang baru saja terbit. Dari pengertian ini dapat dipahami bahwa dalam kegiatan resensi terdapat tiga unsur yang saling terkait yakni adanya buku, penilaian/evaluasi, dan unsur kebaharuan. Dengan resensi ini, antara lain dimaksudkan untuk memperkenalkan produk (buku) kepada masyarakat luas. Buku perlu dikenalkan kepada masyarakat luas dan ini menuntut penerbit untuk menyikapinya secara aktif. Apalagi kecenderungam masyarakat itu lebih senang ke mall daripada ke toko buku dan perpustakaan.
                Dalam kegiatan resensi juga perlu adanya penilaian yang seimbang. Penilaian yang seimbang akan memberikan makna tersendiri bagi penulis, penerbit, dan pembaca/peserta bedah buku.
                Mengingat salah satu fungsi resensi itu untuk mengenalkan, maka sebaiknya buku yang diresensi /dibedah itu adalah buku baru. Kriteria buku baru memang relatif. Namun demikian sebaiknya buku yang diresensi itu minimal terbitan 3 – 4 bulan lalu dan syukur buku yang diresensi itu buku yang terbit bulan ini.
                Kegiatan ini juga disebut timbangan buku/book review. Book review dalam Webster’s Home University Dictionary (1965: 128) diartikan a critical notice of a newly published book. Dari segi ini dapat dipahami bahwa resensi/timbangan buku merupakan kritikan atas suatu karya tulis baik deskripsi, evaluasi, maupun analisa. Kritik  pada dasarnya adalah hasil usaha pembaca dalam mencari, dan menilai karya melalui pemahaman dan penafsiran yang sistematis dan dinyakatan dalam  bentuk tulisan atau lisan. Kritikan yang baik menurut Liauw Yock Fung dalam Atas Semi (1984: 11) harus memiliki unsur mencari kesalahan/fault finding, memuji/to praise, menilai/to judge, membandingkan/to compare, dan menikmati/to appreciate. Dalam hal ini bisa juga diartikan suatu bagian atau halaman suatu majalah atau surat kabar yang menyajikan  deskripsi dan evaluasi buku-buku terbitan baru/a section or page newspaper or magazine devote to such descriptions of newly published books (The Random House Dictionary of the English Language, 1968).
Fungsi
                Resensi berkembang seirama dengan perkembangan perbukuan suatu negara. Artinya apabila dunia perbukuan berkembang, maka kegiatan resensi semakin marak. Apalagi dengan perhatian media massa yang cukup besar terhadap arena perbincangan buku ini.
                Di negara-negara yang sudah maju, resensi selalu disajikan oleh hampir semua surat kabar. Hal ini merupakan cerminan dinamika intelektual suatu bangsa. Kini media cetak kita juga mulai menyajikan halaman atau rubrik resensi pada hari-hari tertentu. Kegiatan ini dihaapkan berfungsi sebagai media informasi buku baru, memberi hiburan, membangun sinergi antara penulis, toko buku, penerbit,  dan pembaca, serta sebagai alat seleksi bahan pustaka/majalah, surat kabar. .
1.            Media informasi pustaka baru
Untuk mengetahui judul-judul buku yang baru terbit, tidak saja melalui internet, toko buku, pamerwn buku, maupun perpustakaan. Melalui resensi buku juga bisa .diketahui penerbitan buku baru. Hal ini merupakan keuntungan tersendiri bagi pembaca resensi. Sebab sekali baca halaman resensi yang dimuat surat kabar, telah diketahui ringkasan beberapa buku tanpa harus berkunjung ke perpustakaan.
Penulis buku juga beruntung karena bukunya semakin dikenal masyarakat. Masyarakat diharapkan memberikan kritikan, evaluasi, dan saran untuk perbaikan karya berikutnya. 
2.            Meningkatkan minat baca
Bukan lagi menjadi rahasia bahwa minat baca kita rendah meskipun di tingkat ASEAN. Fakta ini ditunjukkan oleh beberapa penelitian. Kondisi ini berdampak pada rendahnya kualitas sumber daya manusia kita.
Resensi merupakan salah satu upaya ikut mencerdasakn kehidupan bangsa. Sebab melalui media ini masyarakat bisa membaca secara ringkas isi berbagai macam buku. Apabila mereka tertarik pada salah satu/lebih buku yang diresensi, mereka
bisa membeli di toko buku atau pinjam ke perpustakaan terkait.
3.            Mengenalkan keahlian
Melalui penyajian buku-buku tertentu oleh orang-orang tertentu, akan dikenal orang-orang yang betul-betul ahli dalam bidangnya. Melalui buku yang ditulisnya, akan diketahui kemampuan intelektual dan kedalaman pengetahuan seseorang. Maka semakin banyak buku yang dihasilkan oleh seseorang ,  berarti akan semakin menokohkan orang itu pada bidang yang digelutinya. Sebab buku yang diterbitkan dan beredar secara nasional/internasional itu pada hakikatnya adalah bentuk ujian dan penilaian publik terhadap karya seorang pengarang.
4.            Mengembangkan perbukuan
Dunia perbukuan kita mengalami pasang surut karena beberapa faktor antara lain: rendahnya kesadaran membeli buku, budaya fotokopi, permainan pengadaan buku sekolah, dan kurangnya perhatian pemerintah terhadap penerbitan buku.
                Dengan maraknya resensi dan bedah buku diharapkan mampu memberikan masukan kepada masyarakat tentang perkembangan perbukuan dalam berbagai bidang. Usaha ini akan membantu pemasaran dan sekaligus pengembangan perbukuan pada umumnya.
5.            Sebagai alat seleksi bahan pustaka.
Dalam pengadaan bahan pustaka suatu perpustakaan perlu pemilihan buku yang relevan dengan pemustaka, edisi mutakhir, reputasi pengarang, maupun sistematika penulisan. Faktor-faktor ini antara lain dapat diperoleh melalui resnsi di media cetak maupun bedah buku.
Peluang resensi
                Pustakawan dan tenaga perpustakaan memiliki banyak kesempatan untuk meresensi buku maupun bedah buku. Mereka sering mendapatkan buku-buku baru yang diterima melalui  pembelian, tukar menukar, maupun hadiah. Buku-buku dalam berbagai bidang itu dapat diresensi sesuai selera mereka.
Media cetak yang terbit di daerah maupun pusat rata-rata menyediakan kolom bahkan halaman tertentu untuk memuat resensi ini minimal seminggu sekali. Media ini dapat dimanfaatkan pustakawan dan tenaga perpustakaan untuk menyajikan resensi dalam berbagai bidang.
                Disamping itu, pustakawan dan tenaga perpustakaan dapat menyelenggarakan bedah buku di lembaga tempat bekerja. Mereka bisa menyelenggarakan acara bedah buku dengan mengundang pustakawan atau tenaga perpustakaan di kantor itu sendiri dan bisa ditambah beberapa orang dari perpustakaan lain.
Selama ini pustakawan bernyali kecil dan kurang berani tampil di forum ilmiah atau tidak mau membuat forum keilmuan sebagai pengembangan diri dan profesi. Kalau sikap seperti tidak berubah, maka sulit diharapkan profesi kita ini akan berubah.
Etika  resensi
                Dalam dunia akademik dan tulis menulis terdapat etika yang harus dijaga, dihormati, dan ditaati. Ketaatan pada etika ini menunjukkan tinggi rendahnya moral seseorang.Sedangkan pelanggaran pada suatu etika kadang berakibat pada penderitaan batin dan moral seseorang.
                Etika meresensi pada dasarnya hampir sama dengan etika penulisan pada umumnya. Adapun sopan santun meresensi antara lain:
1.            Tidak mengirim satu judul naskah ke dua media cetak sekaligus
Penulis pemula kadang mengirim 1 judul naskah ke dua media atau lebih. Mungkin mereka berharap mana yang dimuat lebih dulu dan syukur semuanya dimuat. Cara seperti ini akan mengurangi reputasi penulis itu sendiri. Sebab bagi media cetak yang memuat belakangan dapat dituduh sebagai plagiat dari tulisan yang telah memuat lebih dulu.
2.            Secara jujur menyebutkan sumber kutipan
Kejujuran merupakan salah satu etika yang dijunjung tinggi dalam tata krama penulisan  dan kehidupan keilmuan. Hal ini dimaksudkan untuk menanamkan sikap menghormati ilmuwan dalam mengembangkan pemikiran masing-masing.
Oleh karena itu dalam meresensi harus mancumkan kutipan yang dikutip dari penulis lain dan menyebutkan sumbernya. Ketidak jujuran dalam penulisan bisa berakibat turunnya kredibilitas seorang ilmuwan.
3.            Tidak terlalu banyak memasukkan opini
Meresensi memang memberikan pendapat pada suatu buku. Namun apabila pendapat/opini itu terlalu mendominasi, maka timbul kesan seolah-olah resensi itu merupakan artikel ilmiah. Termasuk opini ini adalah memberikan ilustrasi yang berlebihan terhadap diri penulis.
4.            Mematuhi azas-azas penulisan
Penulis resensi juga harus mengikuti azas-azas penulisan pada umumnya. Azas-azas penulisan itu antara lain adalah kejelasan, keringkasan, kesatupaduan, keterpautan, dan ketepatan.
                Kejelasan dalam resensi berarti bahwa resensi itu mudah dipahami oleh pembaca media cetak dan tidak menimbulkan salah tafsir. Resensi harus ringkas berarti bahwa resensi itu tidak berlebihan dlaam kata, tidak ada pengulangan ide, dan tidak berputar-putar dalam penyampaian uraian. Kesatupaduan berarti bahwa antara kalimat satu dengan yang lain atau antara alinea satu dengan alinea yang lain merupakan penjelasan, penafsiran, rincian, maupun penegasan. Kemudian yang dimaksud dengan keterpautan adalah bahwa antar kalimat satu dengan kalimat lainnya saling mendukung. Adapun ketepatan berarti bahwa resensi itu memang sesuai dengan keinginan penulis reensi. Juga naskah itu harus sesuai dengan kaidah penulisan, ejaan, pemilihan kata, dan penggunaan tanda baca.
Penutup
                Resensi buku maupun bedah buku merupakan media yang dapat dimanfaatkan untuk mempromosikan pustaka. Penerbit dapat memanfaatkan media ini dalam usaha mengenalkan buku-buku terbitannya. Untuk itu diperlukan peresensi-perensensi yang memiliki kemampuan. 
                Pustakawan dan mereka yang bekerja di perpustakaan memiliki peluang tinggi untuk melakukan kegiatan resensi mampu bedah buku. Sebab mereka berkecimpung di dunia informasi dan perbukuan. Persoalannya adalah apakah mereka memiliki kemapuan dan kompetensi atau tidak.
Daftar Pustaka
-              Baribin, Raminah. 1989. Kritik & Penilaian sastra. Semarang: IKIP Semarang Press
-              Djuroto, Otong . 2001. Panduan Membuat Karya Tulis. Bandung. Irama Widya
-              Camus, Albert dkk. 2003. Menulis Itu Indah. Yogyakarta: jendela.
-              Hernowo (Editor). 2003. Quantum Writing. Bandung Mizan Learning Centre.
-              Lasa Hs. 2005. Gairah Menulis. Yogyakarta: Alinea
-              ---------. 2006. Menulis Itu Segampang Ngomong. Yogyakarta: Pinus
-              ----------. 2017. Kamus Kepustakawanan Indonesia. Yogyakarta: Calpulis
-              ----------. 2012. Menulis Artikel & Literatur Sekunder. Jakarta: Universitas Terbuka
-              ---------. 205. Menaklukkan Redaktur. Yogyakarta: Ombak
-              Nurudin. 2003. Kiat Meresensi Buku di Media Mass. Malang: Cespur
-              Samad, Daniel. 1997. Dasar-Dasar Meresensi Buku. Jakarta: Grasindo.

Yogyakarta, 20 Desember 2017

Lasa Hs

Perpustakaan UMY

Senin, 18 Desember 2017

Aksesibilitas Penyandang Disabilitas Terhadap Perguruan Tinggi


Judul        : Aksesibilitas Penyandang Disabilitas Terhadap Perguruan Tinggi

Penulis     : DR. Ahmad Soleh, S.Ag., M.Si

Penrbit     : Yogyakarta: LKIS, 2017

Karya doktor pertama tunanetra UIN SunanKaijaga ini merupakan bukti motivasi yang tinggi seorang penyandang disabilitas dalam meniti karir. Kekurangan seseorang ternyata tidak menjadi halangan untuk berprestasi
Buku yang diberi pegantar leh Prof  H .Abd Raman Mas’ud,  Prof. Dr. H.Musa Asy’ari, Prof. Dr. H.M.Atho Mudzhar, dan Prof. Dr. Anies Baswedan Ph.D ini termasuk buku langka. Karena memang jarang buku yang membahas tentang disabilitas, dan jarang buku ang ditulis oleh tunanetra.
Hasil penelitian yang dibukukan ini mengungkapkan fasilitas untuk disabel yang disediakan oleh 4 (empat) perguruan tinggi negeri DIY  yakni UGM, UNY,ISI dan UIN Sunan Kaijaga. Dari keempat PTN tersebut UIN Sunan Kaljaga telah memberikan fasilitas yang lebih baik kepada para penyandang disabilias . Diantara fasilitas yang disediakan oeh UIN Sunan Kaljaga itu antara lain ;1) pusat studi dan layanan disabel; 2) perpustakaan multi media untuk difabel; 3) Al Quran berhuruf Braile; 4) gedung dan ruang-ruang yang ramah difabel;5) masalah teknis yang tekait dengan layanan difabel.
Sesuai tuntutan kebutuhan maka perpusakaan perguruan tinggi perlu memikirkan penyediaan fasilitas untuk penyandang disabel ini terutama untuk tunantra, tuna rungu, dan tuna daksa Beberapa fasilitas yang perlu dipikirkan itu anta lain; koleksi berhuruf Braile, pintu, kamar kecil,,lift, ramp, dan lainnya. .   


Minggu, 17 Desember 2017

MENGEMBANGKAN KREATIVITAS PENULISAN BUKU


PENDAHULUAN
            Buku sebagai media rekam ilmu pengetahuan berkembang seirama dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Melalui rekaman ini, ilmu pengetahuan terdokumentasikan, menyebar lebih luas, dan memiliki keawetan. Namun demikian
perkembangan perbukuan kita belum signifikan dengan perkembangan pendidikan kita. Hal ini sangat mungkin karena rendahnya tradisi penulisan kita.
            Melalui penulisan buku, sebenarnya dapat dilakukan kegiatan penyimpanan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Melalui penulisan, seseorang mampu mengekspresikan diri, mampu bersaing secara terbuka, memberikan manfaat kepada sesama, dan mengabadikan diri dalam perjalanan hidupnya.
            Penulisan buku dan tradisi penulisan memang masih rendah di kalangan intelektual, profesional, dan masyarakat pada umumnya. Penulisan memang telah ditradisikan dalam kehidupan akademik. Namun tradisi ini seolah-olah beban berat dan kewajiban tersendiri. Selepas dari ikatan akademik, mereka merasa terbebas dari penjara penulisan. Akhirnya tidak tumbuh kesadaran untuk pengembangan ilmu pengetahuan melalui penulisan buku maupun  artikel.
            Terdapat beberapa kemungkinan rendahnya penulisan buku di kalangan intelektual. Mungkin mereka kurang percaya diri terhadap hasil pemikiran sendiri. Kadang mereka beralasan karena kesibukan diri, takut dikritik, takut dicemooh, dan takut tidak diterima oleh penerbit maupun redaksi majalah/jurnal.         
            Selama ini, tidak sedikit orang yang kepingin menulis. Keinginan ini tidak ditunjang dengan motivasi tinggi, disiplin, ulet, telaten, dan tidak mau bekerja keras. Akhirnya keinginan menulis  buku hanyalah khayalan belaka.
            Menulis buku sebenarnya dapat dipelajari asal ada kemauan kuat dan berani mencoba. Memelajari segudang teori penulisan buku memang baik. Namun tanpa adanya keberanian mencoba, maka teori itu hanyalah wacana. Belajar, berlatih, dan berani mencoba merupakan salah satu cara untuk maju. Albert Einstein mengatakan :”Learn from yesterday, hope for tumorrow. The important things is not stop questioning (belajarlah dari hari kemarin, berharap untuk hari esok. Yang penting jangan pernah berhenti bertanya).
            Mencoba dan mencoba, semangat, disiplin, tak kenal menyerah merupakan kiat-kiat untuk bisa menulis dan menjadi penulis. Barbara Sher seorang penulis ulung menasehatkan: “You can learn new things at any time in your life. If you’re willing to be beginner. If you actually learn to like beginner, the whole wolds opens up to you”. (Anda bisa memelajari sesuatu yang baru kapan saja asalkan berpikir sebagai pemula. Jika anda benar-benar mau belajar seperti pemula, maka dunia akan terbuka bagi anda).
            Menulis adalah proses berpikir jangka panjang. Dalam jangka waktu tertentu, kagiatan menulis telah memaksa orang untuk merenung dan memusatkan perhatian lebih panjang terhadap suatu masalah.
            Mungkin malas berpikir inilah yang menyebabkan rendahnya penulisan buku dalam masyarakat kita. Memang sering orang itu malas berpikir dan cenderung mencari jalan pintas dalam menghadapi sesuatu. Thomas Alva Eddison menyatakan:”Five percent of the people think, ten percent of the people think they think, and the other eighty five percent would rather die than think/hanya lima persen manusia yang berpikir, hanya sepuluh persen manusia merasa bahwa dirinya telah berpikir, dan yang delapan puluh lima persen memilih mati daripada berpikir.
Penulisan Buku
            Dunia penulisan buku bukanlah dunia yang menakutkan. Siapapun berkesempatan dan dipersilahkan masuk ke dunia ini.Di sana tidak ada misteri dan tidak ada hal-hal yang menakutkan, alias bukan dunia lain yakni dunia yang hanya dihuni oleh makhluk tertentu.
Kesempatan ini terbuka kepada siapapun dengan maraknya penerbit, melimpahnya sumber informasi (media cetak, media elektronik), perkembangan ilmu pengetahuan, dan kebebasan penuangan ide.
Fenomena Penulisan Buku
            Konon, pada masa dahulu buku dianggap sebagai barang mewah, sehingga hanya orang-orang tertentu yang memilikinya. Demikian pula dulu kepandaian menulis hanya dimiliki oleh para pujangga, pencipta tembang, penulis hikayat, penulis pantun, dan lainnya.
            Kini buku dan kemahiran menulis dapat dimiliki oleh siapapun. Bahkan tradisi penulisan buku semakin berkembang sesuai dinamika masyarakatnya. Katanya kemajuan suatu bangsa itu berbanding lurus dengan kedekatan bangsa itu pada buku. Oleh karena  itu maju mundurnya suatu bangsa dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas buku yang dihasilkannya.
            Dengan kondisi seperti ini sebenarnya peluang menulis buku terbuka lebar bagi setiap orang dalam berbagai bidang. Apalagi profesi sebagai penulis buku di negeri ini jarang yang menekuninya. Peluang ini juga didukung dengan maraknya penyelenggaraan pendidikan kita.
            Namun demikian, fakta  menunjukkan bahwa penulisan buku di negeri yang kaya sumber daya alam ini ternyata masih rendah bila dibanding dengan negara-negara maju. Bahkan di tingkat Asia Tenggara saja, Indonesia menempat urutan bontot dalm hal penulisan dan penerbitan buku.
            Nampaknya menulis buku atau  penulisan dalam masyarakat masih terdapat beberapa anggapan bahwa menulis itu menakutkan, bakat, cuma mengoplos, perang ide, seni, bahkan menulis itu sebagai profesi. Tetapi sebenarnya menulis itu dapat dipelajari asal mau berlatih, memiliki motivasi tinggi, disiplin, ulet, telaten, dan tidak mudah putus asa.
Menakutkan
            Banyak orang yang ingin menulis tetapi jarang yang mau menulis. Kemauan menulis sangat memengaruhi karir dan pengembangan diri seseorang. Kemauan adalah dorongan dalam diri seseorang untuk berbuat meskipun terdapat beberapa hal yang menakutkan atau yang menghalanginya.
            Sebagian besar orang termasuk para intelektual beranggapan bahwa menulis buku itu merupakan dunia yang misterius, menyeramkan, dan menakutkan sehingga untuk memasukinya perlu keberanian tersendiri. Mereka takut jangan-jangan naskahnya ditolak penerbit. Kadang mereka terbayang-bayang jangan-jangan apa yang ditulis itu banyak salahnya. Ada lagi diantra mereka yang takut ketahuan kedangkalan ilmunya.Bahkan ada yang khawatir jangan-jangan nanti bukunya dibajak. Padahal menulis saja belum.
            Ketakutan harus dilawan dengan berusaha menaklukkan ketakutan itu sendiri. Orang yang takut berenang misalnya, maka harus diceburkan ke air agar berani berrenang. Dengan demikian mereka akan berusaha untuk bisa renang.
            Demikian halnya dengan penulisan buku. Jika ingin menjadi penulis buku atau bisa menulis, maka harus bisa melawan ketakutan itu. Sebab memang para penulis profesional itu pada mulanya juga memiliki pengalaman yang salah satunya adalah kekhawatiran bahwa karyanya itu dianggap jelek. Kemudian dengan optimisme yang tinggi dan keberanian, mereka akhirnya berhasl menjadi penulis
Bakat
            Memang ada pendapat bahwa menulis itu bakat.Mereka berasumsi bahwa kalau orang yang tidak mempunyai bakat, maka dipaksakan seperti apapun, maka tak akan bisa menulis. Demikian pula dengan seni. Para seniman itu memang semula tidak memiliki kemampuan seni. Namun karena bakat dan terus mengembangkannya maka orang itu menemukan jati dirinya sebagai seniman.
            Penulis-penulis berbakat mendasarkan tulisan mereka  pada datangnya ide dan inspirasi yang kuat. Bagi orang seperti ini, menulis tidak banyak memerlukan waktu. Ia hanya menantikan ide sampai datangya perasaan untuk bisa menulis. Sejalan dengan itu, Hainston mengemukakan teori sentuhan magis/magic touch theory. Yakni teori yang menyatakan bahwa seorang penulis menggerakkan tangannya untuk menulis karena adanya sentuhan magis yang datang tiba-tiba (Kusniawan, 2004: 28).
Seni
            Proses penulisan memang sangat pribadi, karena penulisan ini hanya dapat dilakukan secara pribadi oleh seseorang. Hasil tulisan itu mencerminkan kepribadian, pikiran, dan emosi penulis. Dalam praktik penulisan tentunya tidak ada setengah kelimat ditulis oleh seseorang, lalu kalimat berikutnya ditulis oleh orang lain.Hal ini sama halnya dengan lukisan seseorang. Apabila seseorang melukis kepala dan leher manusia dan yang lain melukis tangan dan kakinya misalnya. Maka lukisan semacam ini tidak akan menjadi karya seni yang indah, karena tidak mewakili ”dunia dalam” pelukisnya.
            Tulisan yang berupa susunan kata, kalimat, dan alinea itu merupakan karya emosional seseorang. Penulis secara pribadi dengan perasaan seni memilih kata, menyusun kalimat, merangkai kalimat, dan memilih tema. Dari proses ini setiap penulis memiliki gaya penulisan, pengungkapan,  dan penyusunan kalimat berbeda satu dengan yang lain. Dengan kata lain setiap penulis memiliki gaya tersendiri dan itu merupakan ciri masing-masing. Tentang penulisan ini, Claude Levi-Strauss (Antropolog Perancis) menyatakan bahwa tulisan merupakan ciptaan ajaib yang pengembangannya membawa manusia pada suatu kesadaran yang lebih besar untuk mengatur masa sekarang dan masa depan (The Liang Gie, 1992: 9).
            Proses penulisan memerlukan kreatifitas dan harus memiliki naluri bahasa yang kuat, lincah, dan efektif. Kemahiran memilih kata dan merangkai kalimat inilah merupakan seni tersendiri. Dalam pengungkapan pemikiran ini memerlukan instuisi yang tinggi di samping kekuatan menulis sesuaai inspirasi yang muncul. Maka menulis itu merupakan dunia kerja yang menuntut banyak rasa sepi.
Bukan mengoplos
            Kadang orang meremehkan dunia penulisan yang dianggap hanya model copy paste atau mengoplos ide orang lain. Menulis kata mereka sama dengan mengoplos oli dengan minyak tanah. Oplosan itu menghasilkan oli murahan.
            Menulis yang benar bukan sekedar mengoplos ide dan pemikiran orang lain. Menulis merupakan ekspresi diri secara total yang dalam prosesnya memerlukan ilmu pengetahuan, teori, pelatihan, renungan yang dalam, analisis yang tajam, dan menuntut berbagai kecerdasan antara lain kecerdasan kata/word smart. Yakni kecerdasan untuk memilih kata dan merangkai kalimat yang mampu melahirkan ekspresi jiwa dan berpengaruh kuat pada pembaca. Maka tulisan yang baik adalah tulisan yang mendorong orang lain untuk berbuat.
            Kiranya tidak bisa dipungkiri bahwa dalam penulisan ilmiah terjadi kutip mengutip dan sitir menyitir dan hak ini merupakan kewajaran. Pola sitiran ini akan menggambarkan adanya hubungan antara sebagian artikel yang disitir dengan artikel yang menyitir. Pola pengutipan dan penyitiran ini akan mengandung obyektivitas dan manfaat antara lain:
  1. Menjunjung etika keilmuan
  2. Adanya pengakuan atas prestasi orang lain
  3. Membantu pembaca dalam penemuan sumber informasi yang diperlukan
  4. Mengenal metode, teori, hasil penelitian yang pernah ditemukan orang laina
  5. Memperoleh latar belakang masalah yang akan dibahas dalam suatu tulisan ilmiah
  6. Mengoreksi karya atau pendapat orang lain atau pendapatnya sendiri
  7. Membuktikan keaslian data
  8. Mengembangkan pemikiran, ide, maupun hasil penelitian orang lain
Menulis bukan sekedar tatabahasa, ejaan, dan tanda bahasa. Menulis merupakan proses pengembangan kemampuan berpikir dinamis, penumbuhan sikap kritis, kemampuan analisis, dan kemampuan membedakan berbagai hal yang valid dan akurat. Maka menulis bukan sekedar mendemonstrasikan apa yang diketahui atau hasil bacaan. Maka tidak salah apa yang dikatakan oleh Francis Bacon seorang filosof Inggris yang juga disebut sebagai Bapak Ilmu Pengetahuan. Beliau mengatakan :” reading make a full man, conference a ready man, and writing an exact man”.
Mengasyikkan
            Menulis itu menyenangkan dan mengasyikkan. Sebab melalui tulisan, seseorang bisa mengekspresikan kesumpekan diri, menyalurkan emosi dan dapat keluar dari tekanan. Disamping itu penulis memperoleh kebahagiaan karena mampu memberikan sesuatu bahkan pencerahan kepada orang lain. Maka jarang sekali penulis itu kena stres meskipun berulang kali mengalami tekanan politik, ekonomi, dan psikologis.
            Tulisan merupakan media untuk mengembangkan pemikiran, ekspresi, dan eksistensi diri. Melalui tulisan, seorang penulis mampu menyebarkan ide dan pemikiran kepada masyarakat yang lebih luas. Dengan demikian, penullis sedikit banyak mampu memengaruhi orang lain untuk bersikap, berpikir, dan bertindak sesuai keinginan penulis. Hal ini merupakan kepuasan dan keasyikan tersendiri.
            Keasyikan juga dirasakan oleh penulis ketika menlihat bukunya dipajang di toko buku, pameran buku, di perpustakaan, atau dibaca orang. Bahkan ketika buku dibedah atau diresensi, penulisnya merasakan kepuasan tersendiri yang mungkin tidak bisa dirasakan oleh orang lain.  
Dapat dipelajari
            Menulis itu dapat dipelajari asal ada motivasi kuat, disiplin, ulet, tidak mudah putus asa,  telaten, dan berani mencoba. Tanpa ini, maka menulis hanyalah angan-angan belaka. Mereka hanya terbuai oleh khayalan belaka. Belajar tentang menulis belum tentu bisa menulis apalagi menjadi penulis profesional. Tetapi praktik langsung manulis, Insya Allah akan bisa menulis. Di sinilah berlaku sebagai learning by doing.
            Motivasi merupakan modal utama bagi seseorang untuk melakukan kegiatan penulisan terutama penulisan buku. Yakni dorongan dari diri yang berasal dari lubuk hati yang paling dalam untuk mencapai tujuan tertentu. Tanpa motivasi yang kuat memang tidak akan mampu menulis apalagi menjadi penulis yang profesional. Sebab menulis merupakan kreativitas yang didasarkan pada fungsi berpikir, merasa, mengindra, dan instuisi. Unsur-unsur ini diperlukan agar orang tidak kehabisan tema yang akan ditulis.
            Kecuali itu jga diperlukan kedisiplinan dan kemampuan. Kemampuan menulis di sini bukan berarti bahwa menulis itu bakat. Sebab pada hakekatnya bakat itu sendiri baru diketahui setelah seseorang berani mencoba dan berlatih terus menerus. Maka seseorang itu tidak akan pernah mengetahui bakat dan kemampuan diirnya apabila tidak mau mencoba.
Kreativitas penulisan buku
            Untuk bisa menulis diperlukan kreativitas tinggi, menciptakan hal-hal baru, pemikiran baru, atau cara baru. Oleh karena itu penulis harus selalu berpikir untuk menciptakan sesuatu yang baru atau belum pernah ada. Adapun ciri-ciri orang yang kreatif antara lain; terdorong untuk berprestasi, optiiis akan berhasil, mandiri,  berinisiatif, dan berani menghadapi kegagalan.
1. Terdorong untuk berprestasi
            Mereka yang memiliki motivasi tinggi ingin selalu berprestasi. Mereka memacu dirinya untuk berkompetensi (meskipun dirinya sendiri), berusaha menjadi terdepan/pertama kali dalam bidang-bidang tertentu. Upaya pencapaian prestasi ini disebut dengan achievement motivation atau needs for achievement.
            Motif berprestasi ini merupakan dorongan untuk menyelesaikan kesukaran, mengatasi kesulitan, dan berusaha untuk melebihi prestasi orang lain. Oleh karena itu, motif berprestasi ini dapat dipahami sebagai motif yang mendorong inidividu untuk mencapai kesuksesan. Kesuksesan tidak harus diukur dengan materi, kedudukan, jabatan, maupun pangkat. Kesuksesan juga dapat juga diukur dengan ukuran keberhasilan kompetisi itu sendiri antara lain dapat diukur dengan prestasinya sendiri sebagai ukuran keunggulan/standard of excelence
2. Optimis berhasil
            Kata Teddy Rooselevelt (mantan Presiden Amerika Serikat) “Seluruh sumber daya yang anda perlukan itu sebenarnya telah ada pada diri anda. Anda telah memiliki segala yang diperlukan untuk menjadi pemenang”. Pesan ini mendorong orang untuk selalu optimis dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Sebab dalam diri manusia telah disediakan alat penangkal kegagalan.
            Optimis adalah kegigihan memperjuangkan sasaran. Orang yang optimis tidak akan gentar menghadapi kegagalan dan tantangan. Sebab dalam pikirannya telah tertanam keyakinan bahwa dalam setiap kegiatan hanya ada dua pilihan, yakni keberhasilan atau kegagalan. Bila gagal, dia siap untuk menerima kegagalan dan berusaha untuk bangkit lagi. Kemudian apabila usaha itu berhasil, maka inilah yang diharapkan dan akan berusaha mempertahankan keberhasilan itu. Kemudian orang yang memiliki optimisme tinggi biasanya memiliki kecakapan-kecapakan; tekun dalam mencapai tujuan, berusaha dengan harapan sukses, dan berpandangan bahwa segala sesuatu itu pasti ada solusinya. Dengan optimisme yang tinggi, orang bisa mencapai keberhasilan meskipun tadinya biasa-biasa saja.
3. Mandiri
            Sikap mandiri merupakan kemampuan seseorang untuk tidak tergantung pada orang lain serta bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Orang yang kemandirianya kuat akan memiliki inisiatif, mampu mengatasi kesulitan, percaya diri, dapat melakukan kegiatan sendirian tanpa bantuan orang lain. Dalam mengatasi kesulitan ini, Michael Joradan mengingatkan: “obtackles don’t have to stop you. If you run into a wall, don’t turn around and give up. Figure out how to climb it (adanya tantangan, janganlah menghentikan langkah anda. Apabila anda menghadapi tembok (kesulitan, hambatan, kendala dll.) janganlah berputar dan menyerah. Cobalah temukan jalan keluar sebagaimana anda bisa memanjatnya).
            Kemandirian seseorang dapat dilihat dari aspek emosi, aspek ekonomi, aspek intelektual, dan aspek sosial (T. Havighurst, 1972). Dari aspek emosi, orang dikatakan mandiri apabila telah mampu mengontrol emosi diri dan tidak terpancing oleh emosi maupun kemarahan orang lain. Dia tidak cepat gembira apabila mendapatkan kegembiraan. Orang ini juga tidak cepat sedih apabila menerima penderitaan. Semua ini disikapi dengan wajar-wajar saja. Dari sesi ekonomi, orang dapat dikatakan mandiri apabila tidak lagi menggantungkan kebutuhan ekonominya kepada orang lain. Orang ini betul-betul ingin berdiri di atas kekuatan sendiri. Dia tidak ingin merepotkan orang lain apalagi kalau menjadi benalu orang lain. Orang dikatakan mandiri secara intelektual apabila betul-betul mampu mengatasi masalah yang dihadapinya. Dia yakin bahwa setiap persoalan pasti ada jalan keluar dan setiap masalah pasti ada solusinya. Secara sosial, orang dikatakan mandiri apabila orang itu mampu mengadakan interaksi dengan orang lain tanpa menunggu aksi dari orang lain. Orang yang mandiri akan percaya diri dan mudah bergaul dalam bermasyarakat. Dengan modal ini orang akan dikenal masyarakat secara luas. Dari sinilah dia bisa mengekspresikan diri dan mengembangkan diri dan berani bersaing secara terbuka.
4. Berani menghadapi kegagalan
            Seperti pernah dikatakan oleh Abraham Lincoln bahwa yang penting bukan kegagalan itu yang ditangisi, tetapi bagaimana orang itu bangkit dan bangkit setelah mengalami kegagalan. Kata-kata ini dilontarkan oleh anak manusia yang berkali-kali mengalami kegagalan. Lincoln pada umur 7 tahun dan keluarganya diusir dari rumahnya. Pada umur 22 tahun ia bekerja dan tidak begitu lama dalam pekerjaan ini, tidak lama kemudian dia dipecat, Pada usianya yang ke 34 dan 39 dia mencalonkan diri sebagai angota Kongres tetapi gagal juga, bahkan pada waktu itu tiga orang anaknya meninggal dunia.
            Semangat yang membara tetap menyala meskipun berulang kali mengalami kegagalan. Di usianya yang ke 45 tahun ia mencalonkan diri sebagai anggota Senat Amerika Serikat. Ia kemudian mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika Serikat pada usianya yang ke 47,  dan baru  berhasil menjadi Presiden negara  adikuasa itu di usianya yang ke 51.  
            Apabila ingin bisa menulis dan ingin menjadi penulis , maka tidak boleh putus asa bila naskahnya belum dimuat media cetak atau belum diteima penerbit. Kegagalan adalah sukses yang tertunda memang menjadi kenyatakaan. Masalahnya adalah begitu seseorang sekali gagal (tidak mampu menulis atau naskahnya ditolak) lalu putus asa dan tidak berusaha untuk menulis dan menulis.

Langkah-langkah
            Setiap penulis itu memiliki langkah penulisan yang berbeda satu dengan yang lain. Perbedaan ini sebenarnya terletak pada kepandaian penulis pada pengolahan ide. Ide yang baik belum tentu menjadi tulisan yang baik karena tidak bisa mengolah dan tidak bisa mengembangkan ide. Sebaliknya ide sederhana justru bisa menjadi tulisan yang menarik apabila diolah dan disajikan dengan baik.
-Menemukan ide
Sebelum menulis tentunya sudah ada ide lebih dulu. Ide dapat diperoleh melalui mata (membaca), telinga (mendengarkan), khayalan, perenungan, dan merasakan. Ide yang baik diharapkan menjadi tulisan yang baik. Untuk itu perlu diketahui criteria ide yang mungkin bisa menjadi tulisan yang baik yakni:\
  1. Ide yang akan dituangkan ke dalam buku itu memiliki kelebihan apa dari buku lain meskipun tema dan objeknya sama.
  2. Ide itu merupakan sesuatu yang actual
  3. Tema yang akan ditulis benar-benar dikuasai penulis
  4. Ide itu bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya
  5. Buku yang akan ditulis itu memiliki kelebihan atau sesuatu yang menarik bila dibanding dengan buku-buku yang telah terbit.
-        Mengamati fenomena masyarakat
Kejadian, peristiwa, atau keadaan yang dialami orang lain atau masyarakat pada umumnya dapat dicermati, diperhatikan, dan direnungkan. Fenomena ini apabila dipandang perlu sebenarnya dapat ditulis dalam bentuk artikel bahkan bisa menjadi sebuah buku. Hal ini tergantung sejauh mana kepekaan dan ketajaman daya analisis seseorang dalam menangkap suatu fenomena. Fenomena yang terjadi di sekeliling kita mungkin tidak memiliki nilai apa-apa bagi sebagian besar orang. Tetapi bagi mereka yang memiliki kreaivitas tinggi dan kemampuan berpikir divergen, maka hal-hal yang nampaknya sepele, justru menjadi karya besar. 
-        Mencari literatur
Setelah ditemukan tema, seorang penulis buku seharusnya mencari literature yang relevan. Literatur dapat dicari di internet, took buku, perpustakaan, pameran buku, acara bedah buku, maupun berkomuniaksi dengan teman sejawat/visible college. Literatur ini digunakan untuk mnambah wawasan, mencari solusi, mencari landasan teori, dan pengembangan gagasan. Oleh karena itu bobot tidaknya suatu tulisan dipengaruhi oleh kualitas dan kemutakhiran literatur yang digunakan sebagai acuan.
-        Survei ke toko buku atau pameran buku
Surevi ke took buku atau pameran buku perlu dilakukan. Survei ini diperlukan untuk mengetahui tema-tema apa saja yang telah ditulis orang, tema apa yang paling laris, atau tema apa yang jarang ditulis orang tetapi ditunggu masyarakat. Survei sekilas dapat diketahui secara garis besar masyarakat itu cenderung pada buku apa dengan mengamati kelompok  buku apa saja yang banyak diminati pengunjung took buku.
Di samping itu, bisa juga sering bersilaturrahim ke penerbit. Penerbit biasanya memiliki pengalaman tentang tema-tema yang menarik dan belum banyak digarap penulis. Pengalaman mereka itu besar manfaatnya bagi penulis.
-        Penulisan
Proses penulisan dapat dilakukan di mana saja dan kapanpun waktuya. Sebenarnya menulis itu tidak harus dilakukan di ruang sunyi di malam hari. Di tempat keramaianpun, orang dapat melakukan penulisan seperti ketika mengikuti seminar, mengikuti rapat yang berjam-jam, naik kendaraan, menunggu ujian, dan lainnya tergantung kemauan dan kedisiplinan.
Menulis pada dasarnya adalah ekspresi perasaan, emosi, pemikiran, dan kemauan secara total. Oleh Karen aitu dalam menulis buku hendaknya dikeluarkan seluruh emosi, perasaan, pikiran, dan ide tentang tema yang sedang digarap itu secara tuntas.
Agar semua ide tercurah semua dalam suatu naskah, maka disarankan untuk sementara tidakmemikirkan tatabahasa, ingat-ingat literature yang pernah dibaca terutama yang terkait dengan tema buku yang akan ditulis. Dan penulisan buku tidak harus dari awal, atau tidak harus dari bab I lalu ke bab II dan seterusnya.
-        Penyuntingan
Sebaiknya penyuntingan dilakukan setelah seluruh ide, pemikiran, teori, pendapat, dan perasaan tentang tema itu telah dicurahkan semua. Cara ini untuk menjaga agar pikiran lebih tenang dan lebih teliti dalam mengoreksi naskah. Penyuntingan dapat dibuat secara bertahap meliputi penyuntingan isi, sistematika penulisan, dan perangkat kebahasaan. Adapun penyuntingan mengenai perangkat kebahasaan meliputi perhurufan, penomoran atau angka, lambing, ejaan, dan tanda baca. 
-        Pendokumentasian
            Salah satu kelemahan ilmuwan kita atau para penulis adalah kurang memperhatikan pendokumentasian naskah. Naskah  yang telah dikirim ke redaksi atau penerbit, sebaiknya memiliki dokumennya. Pendokumentasian ini pentng dan nanti dapat digunakan untuk:
a.      Mengetahui tema apa saja yang pernah kita tulis;
b.     Apabila  naskah yang dikirim itu tidak diterima penerbit, maka naskah (cetak atau softcopy) yang di tangan kita (didokumentasikan) dapat diperbaiki seperlunya lalu dapat ditawarkan ke penerbit lain.
c.      Mengetahui naskah itu telah dikirim ke penerbit mana saja;
d.     Mengetahui seberapa banyak naskah yang kita tawarkan ke beberapa penerbit;
e.      Sebagai bukti kepemilikan (hak) atas naskah apabila ternyata naskah yang disampaikan ke penerbit itu diaku oleh orang lain. Sebab sering terjadi ada orang yang mengaku karya tulis orang lain sebagai karyanya
-        Penawaran naskah ke penerbit
Setelah naskah dianggap final perlu segera ditawarkan ke penerbit yang relevan. Sebab tiap penerbit memiliki karakteristik buku yang diterbitkan seperti tentang agama Islam, ekonomi, pendidikan, komputer, politik, dan lainnya. Penawaran atau pengiriman naskah dapat dilakukan melalui e-mail, pos, jasa kiriman, dan lainnya.
Dalam pengiriman ini sebaiknya tidak mengirim langsung naskah utuh apalagi softcopynya. Sebaiknya yang dikirim cukup sinopsisnya, daftar isi, biodata penulis, deskripsi pangsa pasar,  cara pemasarannya menurut pandangan penulis, foto, dan lainnya. Apabila nanti sudah ada kejelasan naskah itu diterima, baru dikirim naskah utuh beserta softcopynya. Sebab mengirim softcopy ke penerbit yang tidak disertai perjanjian atau jaminan, sangat bahaya.
Sebelum memutuskan naskah itu akan dikirim ke suatu penerbit, maka perlu dipahami kriteria naskah buku yang layak terbit. Naskah buku yang diterima dan insya Allah diterbitkan penerbit dipertimbangkan dari segi kualitas naskah, potensi pasar, dan reputasi penulis. Namun demikian rata-rata penerbit itu mementingkan kualitas naskah.
Apabila dilihat dari kualitas naskah, maka naskah yang akan diterima penerbit buku dengan urutan:
  1. Naskah buku itu berkualitas dan marketable
  2. Naskah buku itu berkualitas meskipun kurang marketable
  3. Naskah itu kurang bermutu, tetapi marketable
  4. Naskah itu tidak mutu dan tidak marketable.
Apabila naskah yang kita kirim ini hanya masuk kriteria nomor 4 yakni tidak mutu dan tidak marketable, maka kecil kemungkinan untuk diterima penerbit.
            Suatu naskah buku akan dipertimbangkan untuk diterima atau ditolak penerbit juga dilihat dari potensi pasar. Artinya siapa dan seberapa banyak calon peminat naskah buku yang ditawarkan penulis untuk diterbitkan itu. Dalam hal ini penerbit memiliki urutan ketentuan diterima/tidaknya suatu naskah berdasarkan potensi pasar yakni
  1. Naskah itu memiliki pasar (peminat) yang lebar/banyak dan buku itu memiliki lifecycle panjang
  2. Naskah buku itu memiliki pasar/market/peminat sempit/sedikti tetapi memiliki lifecycle panjang
  3. Naskah buku itu memiliki pasar/market lebar/banyak meskipun lifecycle pendek s
  4. Naskah buku itu kira-kira pangsa pasarnya sempit dan memiliki lifecycle pendek
Popularitas penulis juga menjadi pertimbangan tersendiri bagi penerbit dalam penerimaan naskah. Maka tidak heran kalau penulis-penulis terkenal diburu oleh penerbit. Namun demikian bagi penulis pemula tidak perlu mati nyali apabila ingin menjadi penulis. Sebab yang dikenal itu bermula dari tidak dikenal. Kemudian perlu dicari kiat-kiat dan langkah-langkah bagaimana caranya untuk menjadi dikenal.
Dari segi poplaritas penulis, penerbit rata-rata memiliki urutan prioritas seagai berikut;
  1. Penulis populer dan tema naskah bukunya populer
  2. Penulis populer dan tama naskah bukunya kurang populer
  3. Penulis tidak populer dan tema populer
  4. Penulis tidak populer apalagi naskahnya tidak populer.    
Penutup
            Penulisan buku dan yang lain merupakan fenomena tersendiri di kalangan terpelajar maupun dalam masyarakat. Penulisan dianggap menakutkan, profesi, bakat, sulit, sekedar mengoplos, kurang percaya diri, dan lainnya. Kondisi ini antara lain yang menyebabkan penulisan buku di negeri ini masih rendah bila dibanding penulisan buku di negara lain.
            Penulisan buku sebenarnya memiliki banyak makna antara lain menyehatkan kulit wajah, mampu memengaruhi orang lain, memberikan pendidikan, sharing ilmu pengetahuan dan lainnya secara luas. Disamping itu, media cetak ini lebih fleksibel bila dibanding dengan media trasfer  lain. Sebab buku dapat dibaca di berbagai tempat tanpa memerlukan sarana pendukung, dapat dibawa ke mana-mana, dan relatif terjangkau oleh masyarakat banyak.
Daftar Bacaan
-        Arifin, E. Zaenal. 1998. Dasar-Dasar Penulisan Karangan Ilmiah. Jakarta: Grassindo
-        Camus Albert dkk. 2003. Menulis Itu Indah. Yogyakarta. Jendela
-        Hernowo. 2003. Quantum Reading. Bandung. Mizan Learning Centre
-        -----------. 2003. Quantum Writing. Bandung: Mizan Learning Centre
-        Kartanegara, Mulyadhi. Seni Mengukir Kata; Kiat-Kiat Menulis Efektif Kreatif. Bandung: izan Learning Centre
-        Lasa Hs. 2005. Gairah Menulis. Yogyakarta: Alinea
-        ----------. 2009. Menulis Itu Segampang Ngomong. Yogyakarta: Pinus
-        Nurudin. 2004. Menulis Artikel Itu Gampang. Semarang: Effhar.
-        -----------. 2004. Membangkitkan Roh Menulis Artikel. Malang: Cespur
-        ------------. 2003. Kiat Sukses Meresensi Buku di Media Massa. Malang Cespur.
-        Stevenson, Robert Louis. Seni Menulis dan Membuat Buku. Yogyakarta: Jendela



Yogyakarta, 18 Desember 2017

Lasa Hs
Perpustakaan UMY