Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Rabu, 30 Mei 2018

BUDAYA MEMBACA dan MEMANFAATKAN E-JOURNAL MAHASISWA UNIVERSITAS ‘AISYIYAH YOGYAKARTA

Agung Suyudi
Pustakawan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta
ABSTRAK
Budaya baca bukan hanya membaca buku, akan tetapi dalam wujud yang berbeda. Seiring dengan kemajuan teknologi informasi, bahan bacaan juga mengalami perkembangan pesat. Sivitas akademika diharapkan memanfaatkan koleksi cetak mapun koleksi digital yang dikelola perpustakaan Perguruan Tinggi dan perpustakaan lain.
Untuk itu perlu ketrampilan akses informasi cetak maupun sumber-sumber elektronik ang dapat diakses melalui internet. Melalui e-journal yang telah disediakan oleh berbagai perpustakaan, para pemustaka diharapkan mampu mengakses dan memanfaatkan sumber-sumber informasi yang up to date . Dengan pemanfaatan sumber-sumber informasi yang up to date ini diharpkan mampu meningkatkan kualitasnkeilmuan mereka.
Kata kunci: Sumber elektronik. Budaya baca. Akses informasi

Selasa, 29 Mei 2018

DATA ANALYST: TRANSFORMASI PERAN PUSTAKAWAN DIERA BIG DATA


Atin Istiarni
Pustakawan Universitas Muhammadiyah Magelang
ABSTRAK
Fakta menunjukkan bahwa produksi di era informasi mengikat tak terkendali. Andrew McAfee dan Erik Bryjolfsoon menemukan bahwa pada tahun 2012. “Sekitar 2,5 exabytes data yang dibuat setiap hari, dan angka itu adalah dua kali lipat setap 40 bulan atau lebih”. Satu exabyte kira-kira setara dengan 4.000 kali jumlah data. Ukuran data yang sangat besar tersebut kemudian lazim diistilahkan Big Data. Perpustakaan memiliki sumberdaya manusia pustakawan. Pustakawan memiliki peran strategis untuk mengelola dan menganalisis data menjadi informasi. Peran strategis ini belum banyak dikuasai para pustakawan.
Artikel ini mendeskripsikan secara sederhana tentang big data, data analyst  dan kompetensi apa saja yang diperlukan pustakawan untuk menjadi data analyst  profesional. Metode yang digunakan yaitu kajian pustaka. Hasilnya, pustakawan perlu menambah kemampuan statistika dan logika agar mampu melakukan pemetaan data.
Kata kunci: Big Data. Data Analyst. Pustakawan.

Sabtu, 26 Mei 2018

Serunya Diskusi Buku Jelang Buka Bersama Perpustakaan Unisa Yogya


Jumat 25 Mei 2018 bertempat di Ruang Prof. Baroroh Baried Lantai 4 Kampus Terpadu, telah dilakukan diskusi buku oleh Perpustakaan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta bekerja sama dengan Prodi Ilmu Komunikasi. Buku karangan Fajar Junaedi M.Si. dan Dr. Filosa Gita S, M.Si. dengan judul “Komunikasi Kesehatan   menjadi bahan diskusi yang seru dan menarik. Total peserta diskusi kurang lebih 200 orang dari berbagai unsur baik mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi, mahasiswa prodi non komunikasi, organisasi mahasiswa, Unit Kegiatan Mahasiswa, perwakilan dosen UNisa, dan peserta dari luar Unisa Yogyakarta yang sangat antusias mengikuti acara.
Acara diskusi diawali dengan penyampaian Literasi Informasi oleh Irkhamiyati, M.IP., Kepala UPT Perpustakaan Unisa Yogyakarta, yang menyampaikan beberapa akses sumber informasi yang ada. Selanjutnya diskusi dipandu oleh moderator Ade Putranto PWT, MA.,  dosen Prodi Ilmu Komunikasi. Kedua penulis buku hadir dan sangat menarik dalam menyampaikan paparan tentang buku yang ditulisnya. Penulis mengungkapkan bahwa salah satu tujuan diterbitkannya buku ini adalah untuk melengkapi bahan perkuliahan mahasiswa Unisa Yogya. Lebih khusus lagi bagi Mahasiswa Prodi Ilmu Komunikasi dan Mahasiswa semua prodi di Fakultas Ilmu Kesehatan Unisa Yogya. Kedua penulis juga menjadi pengajar di Prodi Ilmu Komunikasi Unisa Yogya.
Tak kalah seru dan menarik adalah pemaparan dari Andari Wuri Astuti, MPH, Ph.D., dosen kebidanan Unisa Yogya yang baru saja menyelesaikan Pendidikan doktornya dari luar negeri. Andari sebagai pembedah buku menyampaikan pertanyaan seputar cover dan beberapa redaksional dalam buku tersebut yang menjadi ranah dari penerbit. Andari juga menyampaikan bahwa sistematika bukunya sangat bagus, dan isinya sangat menarik yang mengawinkan ilmu sosial dengan ilmu kesehatan. Selain narasi teksual yang mudah dipahami dalam buku ini, juga dilengkapi dengan gambar, grafik, dan lampiran pendukung. Pembedah merekomendasikan bahwa buku tersebut layak dan bagus untuk dibaca dan dimiliki oleh mahasiswa, dosen, dan praktisi di lapangan. Ada sedikit saran yang disampaiakan Andari untuk merevisi sedikit pembahasan yang dirasakan kurang utuh di sebagian bab yang ada dalam buku tersebut. Sebagai penutup pembedah juga mengusulkan beberapa judul buku komunikasi yang dihubungkan dengan tema lain seperti komunikasi psikoterapi, komunikasi teraupetik, dsb. (Irkhamiyati-Mei, 2018)

Kamis, 24 Mei 2018

Japanese Language Book Classification Development in Indonesia Perspective of Library Science: Expansions of Japanese Notation on DDC (Dewey Decimal Clasification)


Japanese Language Book Classification Development in Indonesia
Perspective of Library Science: Expansions of Japanese Notation on DDC
(Dewey Decimal Clasification)

Arda Putri Winata 
Pustakawan
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
081904185435
Abstrak

This paper discusses the new classification development in DDC (Dewey Decimal Classification) system for Japanese language book collection. It is based on most of library in Indonesia uses DDC system for classify all book collections, while notation of Japanese language books classification is not specified. Only one notation classification in Japanese language books (495.6), whereas Japanese language studies or topics is varied. This is different in Japan which uses NDC (Nippon Decimal Classification) with many notation (code) classification for each language category. Because of the library system not effective using 2 system, DDC system and NDC system can’t be use simultaneously. The purpose of this research is to expand Japanese language books notation in DDC system according to Taylor, Barwick, Sayers, and Hamakonda based on the criteria of good classification system. This research is expected to facilitate the library of universitas muhammadiyah and library in Indonesia to classify the Japanese language book. This research use descriptive method with qualitative approaches since analyzed descriptively with qualitative method. The method of analysis used evaluating DDC system as a library collection classification system, reviewing various topics or subject in Japanese language (linguistics), reviewing and to study the NDC (Nippon Decimal Classification) system related notation Japanese language books classification.

Key words             : Japanese Language, DDC, Classification System, Library


PERSEPSI PEMUSTAKA TERHADAP KOMUNIKASI NONVERBAL PUSTAKAWAN DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA


Arda Putri Winata
Abstrak
Pustakawan menjadi jembatan penghubung pemustaka dengan kebutuhan mereka. Komunikasi sangat memengaruhi hal tersebut. Komunikasi yang efektif yakni ketika komunikasi verbal selaras dengan komunikasi nonverbal. Melihat pentingnya komunikasi, maka perlu dilakukan kajian untuk menilai persepsi pemustaka terhadap komunikasi nonverbal pustakawan di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan kuesioner. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa baru angkatan 2017-2018 dari berbagai prodi sebanyak 50 orang.
Berdasarkan kuesioner yang disebarkan kepada 50 (lima puluh) mahasiswa baru tahun akademik 2017-2018 didapatkan hasil bahwa: 1. Dari segi penekanan intonasi suara pustakawan, sebanyak 23 % mahasiswa setuju; 2. Dari penampilan fisik sebanyak 33 % mahasiswa merespon setuju (baik); 3) Sebanyak 15 % mahasiswa dengan gerakan; 4. Sebanyak 21 % setuju dengan variabel ekspresi wajah dan kontak mata, namun sebanyak 8 % mahasiswa memberikan respon yang kurang positif terhadap beberapa indikator komunikasi nonverbal pustakawan UMY.
Kata kunci: Komunikasi Nonverbal. Pustakawan. Persepsi. Perpustakaan.


PEMANFAATAN APLIKASI ANTIPLAGIASI DALAM MEMINIMALISIR TERJADINYA PLAGIASI DI PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA/UMY


Eko Kurniawan (UMY); Umi Fatimah (UIN Suka);
 M. Jubaidi (UMY)
Abstrak
Teknologi internet yang berkembang pesat memberikan danmpak yang positif bagi penggunanya. Pengguna dapat dengan mudah dan dapat mencari informasi yang mereka cari tanpa dibatasi ruang dan waktu. Namun demikian, di balik dampak positif juga terdapat dampak negatif. Yakni munculnya pribadi yang instan dan cenderung melakukan copy paste terhadap sumber inbformasi yang telah didapatkan. Dari sini, maka muncullah tindaKan plagiarism. Dalam kaitan ini, Unversitas Muhammadiyah Yogyakarta telah 2 (dua) tahun menerapkan apliksi anti lagiasi dalam meminimalisir terjadinya plagiasi di lingkungan sivitas akademika UMY. Untuk itu dalam makalah ini akan dibahas bagaimana praktik dan pemanfaatan aplikasi tersebut.
Makalah ini disusun menggunakan metode kualitatif sedangkan hasil peneliitan menytakan bahwa pemanfaatan aplikasi anti plagiasi di UMY sangat efektif. Hal ini disebabkan bahwa dengan adanya aplikasi ini sivitas akademika UMY tidak serta merta bisa melakukan copy paste terhadap sumber-sumber informasi yang didapatkan. Hal ini bisa terjadi karena ada aturan Rektor UMY yang mewajibkan kepada sivitas akademika untuk mengecek karya ilmiah mereka melalui aplikasi tersebut.
Kata kunci : Plagiasi; Aplikasi anti Plagiasi Turnitin.



Rabu, 23 Mei 2018

Dakwah Kontekstual “Sebuah Refleksi Pemikiran Islam Kontemporer”


Judul Buku      : Dakwah Kontekstual “Sebuah Refleksi Pemikiran Islam Kontemporer”
Penulis Buku   : Drs. A. Busyairi Harits, M.Ag.
Penerbit           : Pustaka Pelajar
Cetakan           : Pertama, 2006
Ketebalan        : 309 halaman
ISBN               : 979-2458-19-0

Dakwah bisa disampaikan dengan berbagai metode dan media, salah satunya adalah media tulisan yang bisa dibaca oleh khalayak luas. Menyampaikan dakwah dengan tulisan dirasa efektif di era globalisasi saat ini, karena bisa mempengaruhi wacana dan pemikiran publik. Dengan tulisan, isu-isu kontemporer, sejarah dan perkembangan perspektif Islam juga bisa disampaikan dengan menarik sehingga bisa lebih dimengerti oleh umat manusia yang beragam.
Buku yang ditulis oleh Drs. A. Busyairi Harits, M.Ag dengan judul “Dakwah Kontekstual” ini terbagi menjadi empat bagian. Bagian pertama menjelaskan tentang pemikiran Islam kontemporer, yang membahas tentang revolusi seks dalam sudut pandang kaum Syi’ah, pemahaman tentang tarekat dan sufi untuk kalangan pemula, Bahasa Al-Quran, dan tulisan tentang sholat serta  dinamika industrialisasi.
Di bagian kedua, menjelaskan tentang masalah-masalah pendidikan khususnya dalam perkara budi pekerti, petingnya mengimplementasikan tasawuf dalam kehidupan serta pemikiran-pemikiran para ahli tentang ilmu akhlak. Menurut Hafiz Hasan al-Mas’udi, pribadi yang memiliki akhlak yang baik di dunia dirinya akan mendapatkan ketenangan hati dan kebaikan pancaindra, sedangkan di akhirat akan memperoleh martabat dan keuntungan derajat yang paling tinggi. Di bagian kedua buku ini juga menjelaskan bagaimana menanamkan budi pekerti dalam kehidupan sehari-hari. Baik pendidikan budi pekerti dalam rumah tangga, sekolah, masyarakat bahkan dalam pemerintahan, karena upaya menegakkan kebenaran tidak akan tercapai tanpa peran pemerintah di dalamnya. 
Buku ini juga membawa kita memahami tentang pemikiran Islam yang berhubungan dengan politik, sosial dan budaya serta bagaimana dimensi sosial kerukunan antar umat beragama harus diterapkan, karena kerukunan umat beragama dapat dijalin dengan mencerminkan ikatan persaudaraan. Di akhir dakwah kontekstual yang disampaikan, buku ini membawa para pembaca untuk mengetahui sekilas perkembangan dua organisasi besar yaitu Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU) serta pentingnya dialog keterbukaan dalam Islam. Sebagai penutup, penulis juga menggambarkan tentang “revolusi religious” di bulan Ramadhan, dimana sikap dan sifat seseorang mengalami perubahan drastis untuk taqarrub atau sebuah upaya mendekatkan diri kepada Allah SWT.
Oleh:
Yuliana Ramawati

Minggu, 20 Mei 2018

PENGEMBANGAN POTENSI DIRI PUSTAKAWAN MELALUI KETRAMPILAN KOMUNIKASI


Abstraks

            Pustakawan sebagai individu memiliki potensi diri yang dapat dikembangkan secara optimal. Pengembangan diri ini dapat terlaksana dengan baik apabila mereka mampu menjalin komunikasi yang efektif.
            Melalui berbagai media komunikasi, pustakawan dapat mengekspresikan diri, mengaruhi orang lain, menjalin kerjasama, dan meningkatkan potensi diri. Dalam hal ini, pustakawan memiliki peran strategis karena pustakawan bergerak di bidang ilmu pengetahuan dan informasi. Bidang-bidang ini sangat diperlukan oleh profesi dan fungsional lain. 

Lasa Hs.


Jumat, 18 Mei 2018

MENJAGA KESEHATAN Bag I


Semua orang pada umumnya kepingin sehat. Mereka tidak ingin sakit meskipun hanya sakit panu misalnya. Sehat memang mahal, maka perlu dijaga sebaik-baiknya.
Orang sehat insya Allah dapat melakukan banyak aktivitas. Sehat dalam hal ini adalah sehat dalam segala aspek baik fisik, mental, sosial, maupun akidah. Mereka yang sehat adalah orang yang kuat. Untuk itu perlu dipahami prinsip utama dalam kesehatan adalah mengupayakan secara teratur dan optimal agar orang menjadi kuat. Rasulullah SAW menyatakan dalam salah satu hadits yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah dengan sabdanya: ”Seorang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah (H.R. Muslim).
            Dari hadits ini dapat dipahami bahwa Islam sangat memperhatikan kesehatan fisik, jiwa, akal, sosial, dan akidah. Oleh karena itu menjaga kesehatan di saat sehat lebih baik dari pada berobat ketika telah sakit.  Sehat rohani dan jasmani merupakan kebahagiaan tersendiri bagi seseorang dalam hidup di dunia ini maupun di akhirat nanti. Rasulullah SAW sendiri selalu berdo’a pagi dan sore untuk diberikan kesehatan. Dalam hadits yang diriwayatkan ’Abdullah ibn ’Umar r.a. ia berkata bahwa Rasulullah SAW selalu berdo’a pagi dan sore dengan do’a: Ya Allah aku memohon kepada-Mu kesehatan di dunia dan akhirat, Ya Allah, aku mohon kepada-Mu ampunan dan kesehatan agamaku, duniaku, dan hartaku (HR Ahmad, Abu Daud, dan Ibn Majah).
            Agar orang tetap sehat, beberapa pakar kesehatan menganjurkan untuk mengonsumsi gizi yang cukup, olah raga cukup, jiwa yang tenang, dan menjauhkan diri dari berbagai pengaruh yang menjadikannya kena penyakit. Sedangkan Badan Kesehatan Dunia/World Health Organization (WHO) memberi batasan tentang sehat adalah suatu keadaan jasmaniah, rohaniah, dan sosial yang baik, tidak hanya tidak berpenyakit atau cacat/health is a state of complete physical, mental and social being,  not merely the absence of disease on infimity. Definisi ini pada tahun 1984 ditambah dengan agama/religion. Dengan demikian sehat itu meliputi bio-psiko-sosio-spiritual. Oleh karena itu seseorang dapat dikatakan sehat yang sebenarnya apabila tubuh/jasmaninya tidak berpenyakit, mental yang baik, kehidupan sosial yang baik, dan agama yang baik.
            Dalam hal kesehatan ini, Ibnu Qayyim al Jauziyyat (wafat 1350 M) salah seorang ulama terkenal dalam bukunya berjudul al Thib al Nabawi membagi cara penjagaan kesehatan Nabi Muhamamd SAW menjadi 3 (tiga) kategori, yakni obat alami, obat Ilahi, dan gabungan diantara keduanya (departemen Agama RI, 2003: 24). Sedangkan al-Dzahabi dalam bukunya al Thib al Nabawi menyatakan bahwa inti pengobatan Nabi Muhamamd SAW √°dalah keterpaduan kesehatan pada diri seseorang meliputi aspek-aspek: spiritual, psikologis, fisik, dan moral. Diantara cara pengobatan Nabi Muhammad SAW √°dalah pola makan minum, menjalankan puasa, menjaga keseimbangan, minum madu, menggunakan air jernih, minum air susu murni, makan buah kurma, pencegahan, pengobatan dan olah raga.
1. Pola Makan dan Minum
            Sebagaimana dipahami bahwa makanan dan minuman merupakan unsur penting untuk menjaga kesehatan. Kemudian makanan dan minuman ini dalam Islam disyaratkan makanan dan minuman  yang halalan thayyiban. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Q.S. al Baqarah: 168)  yang artinya ”Hai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi”. Pengertian makanan/minuman yang halal dalam hal ini harus dilihat dari 4 aspek. Yakni dari segi zat, sifat, cara memperoleh, dan akibat yang ditimbulkan bila mengonsumsinya. Kemudian pengertian thayyiban berarti makanan yang baik dan bergizi. Makanan inipun harus dilihat dari segi kebersihan, rasa, dan cara penyajiannya, cara memperoleh, dan mengonsumsinya.
            Islam menjaga kebersihan makanan minuman antara lain dari cara memerolehnya. Bila cara memerolehnya dengan cara yang tidak halal seperti mencuri, merampok, korupsi, memalsu cap, memalsu tanda tangan, dan lainnya, maka cara-cara ini tidak dibenarkan dalam agama Islam.
            Demikian pula keharaman makanan/minuman dapat dilihat dari jenisnya seperti bangkai, daging babi, darah, minuman keras, dan lainnya. Dalam hal ini Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa ”Setiap tubuh yang tumbuh dari makanan/minuman yang haram, maka neraka lebih layak baginya (H.R. al Turmudzi)
            Disamping itu dalam mengonsumsi makanan/minuman hendaknya sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan. Firman Allah Swt yang artinya:” Makan dan minumlah kamu sekalian dan janganlah berlebihan, sesungguhnya Allah SWT tidak menyukai orang-orang yang berlebihan (Q.S. Al A’raf: 31)
            Dari ayat tersebut dapat dipahami bahwa pengaturan pola hidup sederhana merupakan rahasia untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Resep sehat disini adalah tengah-tengah, artinya tidak berlebihan, tidak terlalu kenyang sehingga di dalam perut itu ada rongga sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk makanan/minuman dan sepertiga lagi untuk napas.
            Pola makan seperti itulah yang digunakan oleh Rasulullah SAW sehingga dalam catatan sejarah Nabi SAW hanya sakit 2 (dua) kali selama hidupnya. Bahkan kepada beliau itu pernah dikirim dokter khusus untuk menjaga kesehatan beliau. Akhirnya dokter itu minta ijin pulang karena selama mengawal kesehatan Nabi SAW ternyata beliau tidak pernah sakit. Jadi dokter tadi tidak punya pekerjaan. Sampai-sampai Rasulullah SAW bersabda ”Kami tidak memerlukan dokter, sebab umat Islam itu tidak makan sebelum lapar, dan bila makan tidak sampai kenyang”. Pernyataan ini sesuai dengan hadits lain yang menyatakan ”seorang mukmin itu makan dengan satu lambung dan orang kafir itu makan 7 (tujuh) lambung (H.R. al Bukhari dan Muslim)
2. Menjalankan Puasa
            Puasa wajib maupun sunah kecuali memiliki nilai ibadah, juga memiliki makna sosial, pendidikan, kultural, dan kesehatan. Dalam berbagai penelitian telah dibuktikan bahwa puasa dapat menyehatkan badan, terutama pada pencernakan dan kegemukan. Orang yang puasa berarti:
a. Memberikan kesempatan pada organ pencernakan untuk istirahat sementara
b.. Meremajakan sel-sel tubuh yang mulai menua
c. Mengendalikan emosi.Sebab dengan pengendalian ini akan memberikan pengaruh positif terhadap organ tubuh seperti jantung, sistem saraf, dan sistem peredaran darah
d..Menuju keseimbangan makan dan minum
e. Menghindarkan diri dari kegemukan
f.. Menyehatkan lambung
g.. Bepengaruh positif terhadap rohani.
Dalam hal puasa ini Rasulullah bersabda :
Artinya : Berpuasalah agar kamu selian sehat” (H.R. Al Thabarani)
3.Menjaga Keseimbangan
            Kadang orang terlalu semangat melakukan aktivitas. Bagi mereka kerja keras mencapai keberhasilan merupakan prestasi sendiri dalam hidup. Dalam melakukan kegiatan ini kadang orang tidak memikirkan makan minum dan tidak istirahat. Saking sibuknya, lalu sering sakit perut karena makan minum tidak teratur.
            Islam sebenarnya mengajarkan keseimbangan hidup antara lain dengan cara tidur cukup, istirahat cukup, makan makanan bergizi, disamping beribadah kepada Allah SWT.
Keteraturan tidur dan berjaga harus dipenuhi agar terjaga kesehatannya. Dari sisi lain, Islam melarang membebani badan melebihi kemampuannya seperti begadang sepanjang malam,membiarkan perut tak terisi makanan/minuman berhari-hari.
            Disamping itu perlu dipahami bahwa berlebihan dalam makan dan minum kadang mendatangkan kesengsaraan. Perut harus dijaga kesehaatannya. Sebab sebagian besar penyakit itu bersarang di perut dan sekitarnya. Perut yang lemah biasanya berasal dari keturunan. Sebagai stasiun pertama, perut itulah tempat makanan dan minuman disimpan dan diproses dan kadang menimbulkan penderitaan. Oleh karena itu bila perut itu sehat, maka akan baik akibatnya pada seluruh tubuh. Sebaliknya apabila perut itu berpenyakit, maka hal ini akan mempengaruhi sistem kerja alat jasad yang lain (Ramali, 1951: 253). Kemudian berkaitan dengan perut ini, Rasulullah SAW menyatakan :”Perut itu ibarat kolam air di dalam tubuh manusia, dan disana ada pembuluh-pembuluh darah yang bersambung ke seluruh tubuh. Apabila perut itu sehat, maka kesehatan pula yang dibawa pembuluh darah ke seluruh tubuh (H.R. Abu Hurairah).
            Penjagaan perut in, besar pengaruhnya terhadap kesehatan dan keselamatan secara rohani dan jasmani. Sampai-sampai Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa ”Ilmu dan akal tidak mungkin pada perut besar yang dipadati dengan makanan (Karim, 1938 dalam Ramali 1951). Menguakan hadits ini ’Umar ibn Klhattab r.a. menyatakan :”Kuasai dan kendalikan nafsu perut besarmu, karena perut itu dapat merusak jasd dan mendatangkan penyakit yang menyia-nyiakan shalat (Ramali, 1951).

Bersambung
( Lasa Hs)

Kamis, 17 Mei 2018

HAK AKSES INFORMASI PEMUSTAKA DISABILITAS DI PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI


HAK AKSES INFORMASI PEMUSTAKA DISABILITAS DI PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI

Nur Hasyim Latif
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta


Abstrak
Perpustakaan perguruan tinggi sebagai pusat informasi civitas akademika mampu memberikan layanan bagi semua elemen yang ada di perguruan tinggi, termasuk bagi pemustaka yang berkebutuhan khusus. Semua elemen perguruan tinggi harus saling mendukung agar sistem pendidikan dapat dinikmati secara merata dan adil bagi pemustaka disabilitas.
Teknologi yang semakin berkembang di perpustakaan tidak serta merta memberikan hak akses informasi secara penuh bagi pemustaka disabilitas. Penulis mencoba menjabarkan beberapa hal yang perlu dilakukan oleh perpustakaan perguruan tinggi dalam memberikan layanan prima kepada pemustaka disabilitas. Karena akses informasi merupakan salah satu sarana memperoleh pendidikan dan hak setiap individu dalam belajar dan mengajar sepanjang hayat tanpa membedakan status ekonomi dan fisik.
Kata Kunci: Hak Akses Informasi, Pemustaka Disabilitas, Layanan Prima


PENDAHULUAN
Pendidikan merupakan aspek kebutuhan individu dalam sehari-hari. Termasuk ketika seseorang ingin melanjutkan jenjang pendidikannya ke perguruan tinggi. Salah satu permasalahan pendidikan perguruan tinggi adalah masih terbatasnya akses bagi masyarakat indonesia yang memiliki penyandang disabilitas. Sehingga setiap perguruan tinggi diharapkan menerapkan pendidikan inklusi. Pendidikan inklusi di perguruan tinggi begitu penting bagi mahasiswa yang termasuk dalam kategori Anak Berkebutuhan Khusus (ABK). Belum semua perguruan tinggi di indonesia memiliki pusat layanan disabilitas. Pendidikan inklusi bukanlah semata-mata memasukkan ABK ke perguruan tinggi saja, namun justru orientasinya pada layanan pendidikan yang semestinya mereka dapatkan sesuai dengan kebutuhan setiap anak.
Satuan pendidikan di perguruan tinggi bukan hanya tempat berkumpulnya sivitas akademika ,namun merupakan suatu tataran sistem yang saling berkaitan termasuk perpustakaan perguruan tinggi sendiri. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2009 Tentang Pendidikan Inklusif Bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa pasal 2 disebutkan bahwa “pendidikan inklusif mewujudkan penyelenggaraan pendidikan yang menghargai keanekaragaman, dan tidak diskriminatif bagi semua peserta didik”. Selain itu pernyataan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2011 Tentang Pengesahan Convention On The Rights Of Persons With Disabilities (Konvensi Mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas) juga memperkuat dalam memenuhi hak-hak penyandang disabilitas termasuk dalam bidang pendidikan.
Mengenai hak akses informasi dapat dijelaskan melalui peraturan hukum internasional dalam Deklarasi Universal atas Hak Asasi Manusia (Universal Declartion Human Right/UDHR) pada pasal 19 dijelaskan bahwa setiap orang memiliki hak untuk bebas berpendapat dan berekspresi. Hak yang dimaksud tersebut termasuk hak memilki pendapat tanpa gangguan, dan untuk mencari, menerima, serta menyampaikan informasi dan ide melalui media apa saja tanpa memandang batas-batas tertentu. Batas-batas inilah yang sekiranya bisa menjadi salah satu faktor pembeda yang besar ketika seorang pemustaka disabilitas berusaha mendapatkan haknya di perpustakaan perguruan tinggi.
Perpustakaan perguruan tinggi sebagai pusat informasi sivitas akademika yang merupakan salah satu elemen penunjang pendidikan di perguruan tinggi juga harus mampu memberikan layanan kepada sivitas akademika secara adil dan merata. Menurut Undang-Undang Perpustakaan no 43 tahun 2007, pada pasal 5 ayat 1 poin a masyarakat mempunyai hak yang sama untuk memperoleh layanan serta memanfaatkan dan mendayagunakan fasilitas perpustakaan. Hak akses informasi yang dimiliki setiap pemustaka harus bisa dinikmati secara menyeluruh. Layanan prima yang selama ini didengungkan harus bisa dicapai oleh para pemustaka termasuk pemustaka penyandang disabilitas.
Penyebutan disabilitas bisa jadi merupakan awal sebuah proses tidak terpenuhinya hak-hak yang dimiliki. Diperlukan paradigma baru yang menyatakan bahwa pemustaka disabilitas merupakan subjek yang memilki hak dan mampu mengambil keputusan bagi mereka sendiri sebagai salah satu elemen perguruan tinggi yang bertujuan untuk belajar bersama dengan elemen perguruan tinggi lainnya
Beranjak dari uraian tersebut, penulis bermaksud untuk menuangkan gagasan atau ide yang berjudul “Hak Akses Informasi Pemustaka Disabilitas di Perpustakaan Perguruan Tinggi”.Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan, maka dapat dirumuskan permasalahannya yaitu “bagaimana pemenuhan hak akses informasi pemustaka disabilitas di perpustakaan perguruan tinggi?”. Pada pembahasan ini penulis bertujuan ingin menjabarkan beberapa hak akses informasi bagi pemustaka difabel melalui layanan yang diberikan oleh perpustakaan perguruan tinggi.

PEMBAHASAN
1.      Definisi Penyandang Disabilitas
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas pasal 1, disebutkan bahwasanya:
“Penyandang Disabilitas adalah setiap orang yang mengalami keterbatasan fisik, intelektual, mental, dan/atau sensorik dalam jangka waktu lama yang dalam berinteraksi dengan lingkungan dapat mengalami hambatan dan kesulitan untuk berpartisipasi secara penuh dan efektif dengan warga negara lainnya berdasarkan kesamaan hak.

Lebih lanjut dalam pasal 3 Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2009 Tentang Pendidikan Inklusif Bagi Peserta Didik yang Memiliki Kelainan dan Memiliki Potensi Kecerdasan dan/atau Bakat Istimewa, dinyatakan bahwa yang dimaksud masyarakat disabilitas adalah:
a.       tunanetra;
b.      tunarungu;
c.       tunawicara;
d.      tunagrahita;
e.       tunadaksa;
f.       tunalaras;
g.      berkesulitan belajar;
h.      lamban belajar;
i.        autis;
j.        memiliki gangguan motorik;
k.      menjadi korban penyalahgunaan narkoba, obat terlarang, dan zat adiktif lainnya;
l.        memiliki kelainan lainnya;
m.    tunaganda
International Classification of Functioning Health and Disability (ICF) sebagaimana disebutkan oleh Syafi’ie dalam Hasyim (2016) menyebutkan bahwa beberapa klasifikasi penyandang disabilitas, sebagai berikut :
  1. Kategori intelektual: Retardasi Mental (Tuna Grahita); dan Lamban Belajar (slow learner).
  2. Kategori Mobilitas: Gangguan Anggota Tubuh (kaki, tangan, dll);
  3. Kategori Komunikasi: Gangguan Wicara; Gangguan Pendengaran; Autis; dan Tuna Grahita Berat.
  4. Kategori Sensori: Gangguan Pendengaran; Gangguan Penglihatan; dan Kusta.
  5. Kategori Psikososial: Autism; Gangguan Perilaku dan Hiperaktivitas (ADHD); Kleptomani; Bipolar; dan Gangguan Kesehatan Jiwa.
Indonesia sebagai negara hukum memiliki kewajiban dalam melindungi masyarakatnya, khususnya kepada warga negara penyandang disabilitas. Salah satu bentuk perlindungan tersebut adalah melindungi hak-hak yang dimiliki oleh penyandang disabilitas. Keberpihakan sebuah negara terhadap penyandang disabilitas merupakan suatu bentuk kewajiban negara dalam melindungan hak asasi manusia.
2.      Hak Penyandang disabilitas
Perguruan tinggi yang selama ini disebut-sebut sebagai sekolah tinggi yang dapat menjamin setiap masyarakat indonesia untuk mendapatkan pendidikan yang layak, belum sepenuhnya memperhatikan masyarakat disabilitas. Hal ini terbukti dengan minimya masyarakat kelompok ini melanjutkan pendidikannya yang lebih tinggi karena ada batas-batas tertentu yang tidak bisa bisa dicapai. Lebih lanjut lagi masih banyak perguruan tinggi di indonesia khususnya di Yogyakarta yang terkenal dengan nama kota pelajarnya belum sepenuhnya mampu untuk memberikan sarana dan prasarana bagi pemustaka penyandang disabilitas.
Berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas beerapa hak penyandang disabilitas adalah:
a.                             Hak hidup (pasal 6)
b.    Hak bebas dari stigma (pasal 7), mencakup hak bebas dari pelecehan, penghinaan, dan pelabelan negatif terkait kondisi disabilitasnya.
c.    Hak privasi (pasal 8)
d.   Hak keadilan dan perlindungan hukum (pasal 9)
e.    Hak pendidikan (pasal 10)
f.     Hak pekerjaan, kewirausahaan, dan koperasi (pasal 11)
g.    Hak kesehatan (pasal 12)
h.    Hak politik (pasal 13)
i.      Hak keagamaan (pasal 14)
j.      Hak keolahragaan (pasal 15)
k.    Hak kebudayaan dan pariwisata (pasal 16)
l.      Hak kesejateraan sosial (pasal 17)
m.  Hak aksesibiltas (pasal 18), meliputi hak mendapatkan aksesibilitas untuk memanfaatkan fasilitas publik dan mendapatkan akomodasi yang layak sebagai bentuk aksesibilitas bagi individu.
n.    Hak pelayanan publik (pasal 19)
o.    Hak perlindungan dari bencana (pasal 20)
p.    Hak habilitasi dan rehabilitasi (pasal 21)
q.    Hak pendataan (pasal 22)
r.     Hak hidup secara mandiri dan dilibatkan dalam masyarakat (pasal 23)
s.     Hak berekspresi, berkomunikasi dan memperoleh informasi (pasal 24)
t.     Hak kewarganegaraan (pasal 25)
u.    Hak bebas dari diskriminasi, penelantaran, penyiksaan, dan eksploitasi (pasal 26)
Beberapa hak penyandang disabilitas berdasarkan Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas pasal 5 disebutkan bahwa salah satu hak penyandang disabilitas adalah mendapatkan pendidikan yang layak. Pada pasal 10 yang lebih lanjut, dinyatakan kembali hak pendidikan tersebut meliputi:
a.       mendapatkan pendidikan yang bermutu pada satuan pendidikan di semua jenis, jalur, dan jenjang pendidikan secara inklusif dan khusus;
b.      mempunyai kesamaan kesempatan untuk menjadi pendidik atau tenaga kependidikan pada satuan pendidikan di semua jenis, jalur, dan jenjang pendidikan;
c.       mempunyai kesamaan kesempatan sebagai penyelenggara pendidikan yang bermutu pada satuan pendidikan di semua jenis, jalur, dan jenjang pendidikan; dan
d.      mendapatkan akomodasi yang layak sebagai peserta didik.
Berdasarkan hal tersebut kedudukan antara mahasiswa normal dan mahasiswa penyandang disabilitas dalam hal mendapatkan pendidikan memiliki hak yang sama. Artinya semua elemen pendidikan yang ada di perguruan tinggi harus dapat diakses secara mudah oleh mahasiswa disabilitas.
3.      Hak Akses Informasi Pemustaka Disabilitas
Masih minimnya fasilitas, sarana dan prasarana yang bisa di akses oleh sivitas akademika disabilitas menambah terbatasnya akses informasi yang mereka dapatkan. Masalah ini adalah masalah secara umum yang miliki setiap perguruan tinggi kecuali yang memang sudah memiliki pusat layanan disabilitas. Perpustakaan perguruan tinggi sebagai pusat layanan informasi yang tidak terbatas dalam memberikan hak akses informasi terhadap pemustaka disabilitas bisa semaksimal mungkn apabila dapat ditunjang oleh beberapa hal.
a.      Teknologi Layanan Prima
Menurut IFLA dalam Aziz (Aziz,2014) beberapa fasilitas, sarana dan prasarana yang seharusnya diperhatikan oleh perpustakaan yang berkaitan dengan pemustaka disabilitas mencakup beberapa hal; 1) Area parker, lingkungan, dan seluruh area perpustakaan harus dapat diakses bagi pemustaka disabilitas, 2) pintu masuk otomatis, 3) ruang perpustakaan yang aksesibilitas dan memiliki tanda-tanda tertentu khusus pemustaka disabilitas, 4) kamar kecil khusus disabilitas, 5) meja sirkulasi yang mudah digunakan, 6) children department, pemustaka disabilitas anak-anak memiliki ruang layanan informasi khusus.
Layanan prima yang selama ini menjadi slogan andalan setiap perpustakaan perguruan harus segera diwujudkan. Apapun itu, terhadap pemustaka biasa maupun pemustaka khusus seperti disabilitas. Hal yang paling mendasar dalam memberikan layanan kepada pemustaka disabilitas adalah adanya aksesibilitas fisik secara memadai. Selanjutnya yang tidak kalah penting adalah layanan unggulan perpustakaan seperti Difabel Corner.
            Salah satu Difabel Corner Perpustakaan Perguruan Tinggi adalah Difabel Corner UIN Sunan Kalijaga. Difabel Corner memiliki arti penting sebagai teknologi alat bantu pemustaka disabilitas dalam memperoleh kemudahan akses informasi di perpustakaan. Sehingga pemustaka disabilitas dapat mengakses informasi secara mandiri.Beberapa layanan yang dimiliki Difabel Corner (Isrowiyanti,2013) adalah Digital talking book player (DTB), Scanner dan software optical character recognition (OCR), Closed circuit television (CCTV), buku braille, buku audio, buku digital, Software pembaca layar (job access with speech/JAWS), Katalog online, dan E-book.
b.      Sumber Daya Manusia (SDM) Pustakawan yang Profesional
Pustakawan merupakan makhluk sosial, yang selalu berhubungan dan berinteraksi dengan para pemustaka. Oleh karena itu pustakawan harus memiliki sikap profesionalisme. Artinya tanggung jawabnya sebagai pustakawan harus sampai kepada pemustaka termasuk pemustaka disabilitas. Pustakawan tidak boleh membeda-bedakan secara fisik setiap pemustaka. Untuk menjadi staf yang profesional, seorang pustakawan perlu memiliki kompetensi, kepribadian, dan kecakapan (Anawati, 2015). Profesional memiliki arti bahwasanya pustakawan harus memiliki rasa empati kepada pemustaka disabilitas, maka kemampuan intrapersonal dan interpersonal pustakawan harus selalu di tingkatkan serta melayaninya dengan ilmu. Perkembangan teknologi perpustakaan khususnya bagi disabilitas, pustakawan dituntut selalu siap dengan keadaan apapun. Memperluas wawasan dan ilmu serta memiliki rasa tanggung jawab yang besar akan memudahkan bagi pustakawan untuk membangun hubungan yang baik dengan pemustaka disabilitas. Selain itu pustawakan harus memiliki daya kritis terhadap permasalahan perpustakaan dan mampu memberikan sesuatu yang produktif, bermanfaat bagi civitas akademik, serta solutif (Fatmawati, 2016). Dengan kemampuan inilah pustakawan bisa mengintegrasikan diri dengan keadaan apapun ketika pada saat itu diperlukan.
Penulis memiliki sebuah ide untuk lebih mendekatkan antara pemustaka disabilitas dengan perpustakaan yakni adanya perekrutan pustakawan disabilitas. Apabila perekrutan pustakawan disabilitas tidak memungkinkan setidaknya ada perekrutan pemustaka disabilitas yang magang sebagai tenaga bantu di Difabel Corner. Hal ini dirasa penting, karena akan membangun rasa kesetaraan pada pemustaka disabilitas. Komunikasi antara pustakawan disabilitas dan pemustaka disabilitas akan lebih efektif lagi karena pustakawan disabilitas akan lebih memahami karakter sesama. Namun hal ini menjadi perhatian khusus, karena perekrutan pemustaka disabilitas akan membutuhkan banyak pertimbangan, terutama pelatihan khusus pustakawan disabilitas.
c.       Layanan Khusus
1)      Story telling
Kondisi psikis seorang pemustaka disabilitas pasti berbeda dengan pemustaka pada umumnya. Kadangkala kondisi inilah yang dapat menyebabkan seorang pemustaka disabilitas merasa minder untuk bergaul lebih lanjut dengan pemustaka lainnya. Oleh karena itu, diperlukan suntikan normal supaya pemustaka disabilitas ini dapat membangun dirinya sendiri.
Pustakawan, selain melayani bahan pustaka harus memiliki social soft skill. Kemampuan ini sangat berguna di jaman berteknologi sekarang ini. Salah satu social soft skill pustakawan adalah story telling. Layanan story telling bagi pemustaka disabilitas tentu akan membangun rasa sosial, karena manusia adalah makhluk sosial. Story telling bukan hanya untuk anak-anak saja, namun setiap orang berhak mendapatkan pembelajaran sepanjang hayat.
2)      Literasi Informasi
Literasi informasi bagi pemustaka disabilitas tentu sangat berbeda dengan pemustaka normal. Menurut Aziz (2015) kegiatan literasi informasi bagi pemustaka disabilitas ini dapat semaksimal mungkin memanfatkan perpustakan sebagai sumber informasi dan diharapkan antara pendidik dan pustakawan dapat bekerja sama untuk mengidentifikasi bakat dan minat peserta didik untuk dibimbing secara sistematis dengan memberikan sarana kebutuhan informasi termasuk keahlian dalam menelusurinya.
Literasi informasi sendiri merupakan sarana bagi pustakawan sebagai motivator, mediator, fasilitator, serta evaluator dalam memberikan hak akses kepada pemustaka penyandang disabilitas

PENUTUP
            Untuk menghadirkan layanan prima kepada pemustaka penyandang disabilitas, kemajuan teknologi di bidang perpustakaan dan kemampuan pustakawan yang inovatif serta terbentuknya suatu tatanan pendidikan inklusif yang baik, maka kebutuhan akses informasi pemustaka penyandang disabilitas dapat terpenuhi. Adanya dukungan semua elemen pendidikan di perguruan tinggi dapat meningkatkan kualitas diri pemustaka disabilitas dalam mengakses layanan kampus serta untuk mewujudkan rasa kemanusiaan dalam rangka mewujudkan cita-cita penyandang disabilitas.



DAFTAR PUSTAKA

Anawati, Sri. 2015. Profesionalisme Pustakawan Dalam Layanan Informasi. Jurnal Pustaka Ilmiah. Diakses melalui http://journal.library.uns.ac.id/index.php/jpi/article/download/12/10

Aziz, Safrudin.2014. Perpustakaan Ramah Difabel.Yogyakarta. Ar-Ruzz Media
Deklarasi Universal Hak-Hak Asasi Manusia. Diakses melalui http://Bit.Ly/2fdm2po
Fatmawati, Endang . 2016. Merajut Inovasi Pustakawan Perguruan Tinggi Untuk Mewujudkan SDM Perpustakaan Berkualitas. Jurnal Pustakaloka Vol 8 No.2. Diakses melalui http://Jurnal.Stainponorogo.Ac.Id/Index.Php/Pustakaloka/Article/View/686

Hasyim, H. D. (2016, September). Persepsi Dan Pemenuhan Hak Penyandang Disabilitas Dalam Undang-Undang No 4 Tahun 1997, Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2011, Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2016, Dan Kuhperdata. In Prosiding Seminar Nasional (Vol. 1, No. 1, pp. 498-514). Diakses melalui http://journal.uniba.ac.id/index.php/Semnas/article/viewFile/196/181

Isrowiyanti. Mewujudkan Perpustakaan Perguruan Tinggi Yang Ramah Difabel. Diakses melalui http://Id.Portalgaruda.Org/?Ref=Browse&Mod=Viewarticle&Article=167897

Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 70 Tahun 2009 Tentang Pendidikan Inklusif Bagi Peserta Didik Yang Memiliki Kelainan Dan Memiliki Potensi Kecerdasan Dan/Atau Bakat Istimewa Diakses melalui http://Bit.Ly/2k90ze3

Undang-Undang Republik Indonesia  Nomor 8 Tahun 2016 Tentang Penyandang Disabilitas Diakses melalui http://Bit.Ly/2xpna4a

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 19 Tahun 2011 Tentang Pengesahan Convention On The Rights Of Persons With Disabilities (Konvensi Mengenai Hak-Hak Penyandang Disabilitas) Diakses melalui http://Bit.Ly/2wocgzd

Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan