Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Senin, 30 Juli 2018

Perpustakaan UMY adakan Kajian Tematik Pengkaderan

Jumat taggal 27 Juli 2018 Perpustakaan UMY mengadakan agenda kajian tematik pengkaderan staf Perpustakaan UMY dengan tema “Muhammadiyah dan Perkembangan Politik Indonesia”, sebagai nara sumber Bapak Imam Hanafi, M.Pd (wakil sekretaris majlis kader PP Muhamadiyah). Kajian tersebut mengulas tentang perkembangan politik di Indonesia dari era pra kemerdekaan (kolonial) hingga era pasca reformasi yang dilakukan Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan, dan warga Muhammadiyah yang berperan aktif dalam politik praktis dimasanya sebagai bekal dalam menghadapi tahun politik pileg dan pilpres 2019 yang akan datang. Beliau menjelaskan bahwa sebagai warga Muhammadiyah harus melek (litered) terhadap informasi yang berkembang bebas khususnya dalam media sosial.
 Untaian sejarah panjang perjalanan Muhamadiyah dan perkembangan politik di Indonesia adalah bekal yang diulas dalam kajian tersebut, melihat lebih dekat perjuangan yang dilakukan Kyai Haji Ahmad Dahlan di era kolonialisme, Buya Hamka di era orde lama, Amien Rais di era Orde Baru dan masih banyak lagi tokoh-tokoh muhammadiyah yang diulas didalamnya.
Lahirnya Muhammadiyah di Yogyakarta pada tahun 1912 adalah salah satu pergerakan dakwah Amal Ma’ruf nahi munkar di Indonesia.  Sesuai dengan matan keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah poin pertama disebutkan bahwa Muhammadiyah adalah Gerakan Islam dan Dakwah Amar Ma'ruf Nahi Munkar, beraqidah Islam dan bersumber pada Al-Qur'an dan Sunnah, bercita-cita dan bekerja untuk terwujudnya masyarakat utama, adil, makmur yang diridhai Allah SWT, untuk malaksanakan fungsi dan misi manusia sebagai hamba dan khalifah Allah di muka bumi.
Dalam upaya mewujudkan masyarakat yang merdeka seutuhnya bahkan di era sebelum kemerdekaan Muhammadiyah telah berupaya berjuang melalui jalur pendidikan dengan mendirikan sekolah-sekolah Muhammadiyah, dibidang kesehatan dengan mendirikan PKU (Penolong Kesengsaraan Umat), yang semua itu tidak lepas dari upaya melaksanakan gerakan dakwah amal ma’ruf nahi munkar yang melekat dalam diri Muhammadiyah sebagai organisasi sosial keagamaan.
 Sejalan dengan perkembanganya roda organisasi ini juga terlibat politik yang berlangsung di Indonesia, Muhammadiyah disatu sisi bukan sebagai organisasi politik namun di sisi yang lain Muhammadiyah harus tetap peduli dengan politik beserta dinamika perkembanganya di Indonesia.  Karena Muhammadiyah lebih merupakan organisasi Islam based civil society (masyakat madani).
Besar harapan dengan adanya kajian tematik ini, keluarga besar staf Perpustakaan UMY mampu meneladani langkah dan perjuangan para pendahulu, melek politik (litered), patuh dan taat mengikuti perintah anjuran organisasi dalam upaya ikhtiyar memilih pemimpin (DPD R1  dari keterwakilan ormas Muhammadiyah) dengan mengedepankan moral dalam berpolitik praktis. Yang paling utama adalah mampu mensukseskan tahun politik tersebut dengan memilih pemimpin sesuai kreteria yang telah di contohkan baginda Rasulullah Muhammad SAW, yaitu pemimpin yang Amanah (dapat dipercaya), Fathonah (cerdas), Tabligh (menyampaikan aspirasi ummat).

M. Jubaidi




AHMAD AZHAR BASYIR (1928-1994) Ahli Fiqh Taraf Internasional


Putra Kiai Muhammad Basyir Mahfudz ini pernah ketangkap Belanda. Ketika itu sebagai pejuang, ia mendapat tugas dari Bapak Sarbini untuk mengadakan kontak dengan kota. Beliaupun masuk pasar Beringharjo Yogyakarta. Begitu masuk, nampaknya mata-mata Belanda sudah mencium adanya seorang pejuang  masuk pasar. Mata-mata Belanda itu mengintai Pak Azhar di pasar itu. Kemudian tak lama Pak Azhar digeledah dan ditangkap. Melihat kejadian itu, orang-orang pasar sama bingung dan takut,  lalu  bubar dan   tidak jadi jual beli.
Peristiwa masuk sel Belanda di Ngupasan selama 23 hari itu merupakan kenangan tersendiri bagi putra Kauman yang pernah belajar di Universitas Bagdad Irak itu.Keterlibatannya dalam perang sebenarnya suatu panggilan untuk melawan penjajah Belanda saat itu. Memang para santri saat itu menghimpunkan diri pada kesatuan lasykar Hizbullah dan Sabilillah dengan nama Angkatan Perang Sabil/APS. Di bawah kesatuan inilah, Ahmad Azhar ikut bergerilya melawan Belanda di wilayah Jawa Tengah maupun Yogyakarta.
Kondisi politik yang tidak menentu itu mengharuskan para pemuda untuk cancut taliwondo  membela tanah air. Ekonomi saat itu morat marit tidak karuan karena kekayaan negeri ini dikuras oleh  Jepang. Jepang yang mengaku saudara tua itu justru menyengsarakan bangsa kita, meskipun menjajah Indonesia dalam waktu singkat yakni 3,5 tahun. Begitu nekatnya Jepang mengeruk dan mengangkut kekayaan negeri ini karena Jepang terlibat perang dengan Sekutu. Jadi kekayaan itu untuk membeayai perang tersebut.
Kondisi politik dan ekonomi seperti itu,  juga memengaruhi proses pendidikan bangsa. Pendidikan yang kacau balau itu menimpa setiap anak-anak Indonesia termasuk pada diri Ahmad Azhar. Dulunya beliau pernah belajar di pondok pesantren Termas yang hanya berlangsung satu tahun. Sehubungan situasi dan kondisi tidak memungkinkan untuk belajar dengan tenang, maka para santri pulang ke kampung halaman masing-masing.
Sepulang dari Termas, Ahmad Azhar masuk sekolah di Madrasah Al Falah yakni tempat sekolahnya dulu. Saat itu beliau memang sudah dikenal sebagai anak yang kutu buku. Setelah tamat dari madrasah ini, beliau meneruskan sekolah di Madrasah Muballighin Muhammadiyah Yogyakarta yang ditempuhnya dalam jangka waktu 2 tahun. Setamat dari madrasah ini, beliau menerjunkan diri dalam gerakan membela negara melawan Belanda. Di bawah kesatuan Angkatan Perang Sabil/APS, Ahmad Azhar ikut bergerilya di berbagai front di Jawa Tengah maupun di dalam kota Yogyakarta.
Tahun 1946 – 1949 merupakan tahun-tahun paling sengit dalam pertempuran melawan Belanda dan bangsa sendiri. Beliau menjadi komandan Kompi pada batalyon 33 Resimen IV Brigade X TNI. Di kala itu, beliau dan kawan-kawan sering terlibat langsung kontak senjata dengan Belanda. Nah, di tengah-tengah berkecamuknya melawan Belanda, ternyata orang-orang PKI menohok dari belakang dengan mengadakan pemberontakan yang dikenal dengan Pemberontakan/Affair Madiun pada tahun 1948. Affair ini banyak membawa korban pada umat Islam. Pemberontakan ini dapat ditumpas oleh TNI dalam waktu yang singkat.
Seusai itu, maka Ahmad Azhar kembali ke Yogya lagi untuk melanjutkan studi karena kondisi telah memungkinkan untuk dilakukan proses belajar mengajar. Beliau melanjutkan sekolah di Madrasah Menengah Tinggi/MMT Kauman Yogyakarta yang kebetulan ayahnya juga menjadi pengasuh disana. Sayang hanya dua   bulan sekolah di sini. Maka Azharpun bergabung lagi dengan pasukan tempur yang pernah diikutinya. Sebab saat itu Belanda menduduki kota Yogyakarta. Setelah Belanda hengkang dari kota gudeg ini, beliaupun sekolah lagi ke MMT dan selesai pada tahun 1952.
Setamat dari sekolah ini, beliau melanjutkan ke Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri/PTAIN (sekarang menjadi Universitas Islam Negeri/UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta mengambil Jurusan Qadha. Pada waktu duduk di tingat doktoral (tahun ke empat atau kelima), beliau mendapat tawaran beasiswa untuk belajar di Universitas Bagdad Irak. Kesempatan emas ini tidak disia-siakan dan pada tahun 1956 beliau ke Bagdad memilih Jurusan Sastra Arab Fakultas Adab Universitas Bagdad di Irak. Di sini beliau belajar hanya satu tahun. Kemudian beliau ke Kairo Mesir untuk studi di Jurusan ‘Ulumul Islamiyah Fakultas Darul ‘Ulum Universitas Kairo pada tahun 1958-1965. Dari sini beliau menyelesaikan studinya dan berhasil menggondol gelar Master of Art/MA dari perguruan tinggi tersebut. Seusai studi, beliau tidak segera pulang ke tanah air. Beliau masih ingin menambah pengalaman dulu dan memperdalam pengetahuannya. Sebelum keinginan ini tercapai, beliaupun dipanggil pulang oleh ayahnya. Sebab sang ayah memang sudah sangat kangen dan sudah tua. Sebagai anak sholeh, maka  Ahmad Azhar pun memenuhi panggilan orang tuanya ini.
Sekembalinya dari Kairo, Ahmad Azhar duduk dalam jajaran pimpinan pusat Majelis Tarjih PP Muhammadiyah. Kepakarannya dalam bidang fiqh memang diakui oleh banyak pihak. Maka beliau diminta menduduki posisi penting sesuai bidangnya oleh Departemen Agama, Departeman Kehakiman, dan Majelis Ulama Indonesia. Bahkan di dunia internasional, beliau duduk sebagai anggota tetap pada al Majma’ al Fiqh al Islam/Akademi Fiqh Islam yakni sebuah lembaga pendidikan di bawah Organisasi Konferensi Islam Sedunia/OKI. Disamping itu, Pak Ahmad Azhar juga sibuk sebagai dosen di beberapa perguruan tinggi terkenal seperti IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga, UGM, UII, UMS, maupun UMM. Itupun masih sempat menulis buku-bulu sekitar 40 judul lebih dan ratusan makalah yang disampaikan dalam berbagai pertemuan ilmiah di dalam maupun luar negeri.
Kiyai yang intelektual dan santun ini dalam memangku jabatan sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah tidak sampai pada akhir masa jabatannya. Pak Ahmad Azhar dipanggil pulang ke Rahmatullah dalam usia 66 tahun. Beliau wafat tanggal 28 Juni 1994 di RSUP Dr. Sardjito setelah beberapa hari dirawat di PKU Muhammadiyah Yogyakarta. Kemudian jenazahnya dimakamkan di pemakaman umum Karangkajen Yogyakarta diantar oleh ribuan umat.  .
                                                           
                                   
Lasa Hs.
                                 
    

SOERONO WIROHARDJONO;Perintis Pers Muhammadiyah


Nama Soerono tidak bisa dipisahkan dengan terbitan Adil. Yakni koran terbitan Persyarikatan Muhammadiyah. Putra Solo ini lahir tgl. 11 Desember 1910 dari kalangan Muhammadiyah. Isterinya seorang pengurus ‘Aisyiah di Solo, dan dia sendiri semasa muda aktif sebagai anggota Pemuda Muhammadiyah, disamping juga aktif di Hizbul Wathan/HW. Saking cintanya pada HW pada saat menunaikan ibadah haji, beliau memakai seragam HW.
            Dalam menapaki karirnya memang penuh lika-liku. Semula ia sebagai guru dan pamong praja. Akan tetapi ia lebih tertarik pada bidang jurnalistik dan mengawali karirnya sebagai korektor. Dalam melaksanakan tugasnya itu ia sering ikut mencari berita untuk Adil.
            Pak Soerono ini secara formal tidak memiliki pendidikan jurnalistik. Dengan kegigihannya, beliau belajar sendiri dalam bidang ini melalui banyak membaca, pengalaman langsung, dan berguru kepada Syamsuddin, Soetan Mansur, Soediarjo Tjokrosiswoyo, dan Firdaus Harun Al Rasyid.
            Mengenai penerbitan koran Adil sebenarnya merupakan realisasi keputusan Kongres/Muktamar Muhammadiyah ke 21 pada tahun 1932 di Makasar. Salah satu keputusan itu ialah perlu diterbitkan publikasi yang bernapaskan Islam di bawah naungan Persyarikatan Muhammadiyah. Kemudian tugas ini diberikan kepada Konsul Muhammadiyah Surakarta. Saat itu Soerono sebagai korektor, H.M. Moeljadi Djojmartono (pernah  menjadi Menteri Sosial RI) sebagai Direktur, dan Syamsuddin Sutan Mansur (pernah menjadi Penerangan RI) sebagai Pimpinan redaksi, dan Soejitno sebagai Redaktur Pertama. Soejitno ini meninggal pada clash ke 2 ditembak Belanda di dekat Sraagen yang saat itu ia menjabat sebagai Kepala Jawatan Penerangan setempat.
            Adil yang terbit pertama kali pada tanggal 1 Oktober 1932 itu merupakan salah satu di antara dua pers Indonesia yang terbit sebelum Perang Dunia Kedua. Penerbitan lain adalah Panjebar Semangat yakni terbitan berbahasa Jawa yang terbit di Surabaya.Majalah berbahasa Melaju (Indonesia) dan bahasa Jawa  ini terbit pertama kali pada tanggal 2 September 1933 didirikan oleh doktor Soetomo. Majalah ini sejak terbit pertama kali dipimpin oleh Imam Soepardi, seorang mantan guru yang kemudian menjadi anggota redaksi Soera Oemoem dan beliau meninggal tahun 1963.
            Media dakwah Islam ‘Adil ini semula terbit dengan tiras 500 eksemplar sebagai harian pagi. Resiko yang dihadapi sebagai media yang terbit harianm saat itu memang berat dan akhirnya Adil tak mampu terbit sebagai harian. Dengan idealisme tinggi dan misi dakwah yang membara, terbitan ini tetap dipertahankan dalam bentuk terbitan mingguan. Bberapa terbitan Adil masih tersimpan di Muhammadiyah Corner Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.  

Lasa Hs


Senin, 23 Juli 2018

PERLU BELAJAR DARI PENDAHULU KITA


                                   

          Pada masa pemerintahan Bung Karno , yakni pada tahun 1960 di kalangan pucuk pimpinan Muhammadiyah pernah terjadi konflik. Hal ini memang biasa terjadi dalam suatu organisasi atau komunitas. Cuma cara penyelesaiannya inilah yang perlu menjadi pelajaran. Saat itu, Bung Karno ingin menunjuk Bapak Mulyadi Djojomartono sebagai Menteri Sosial RI. Padahal saat itu sedang terjadi ketegangan politik antara Bung Karno dan Muhammadiyah. Dimana saat itu Muhammadiyah sebagai anggota istimewa Partai Masyumi. Pada saat itu ada beberapa anggota Partai Masyumi ditahan oleh pemerintahan Bung Karno.
Menghadapi situasi yang dilematis ini, di kalangan pimpinan Muhammadiyah terjadi perbedaan pendapat. Satu pihak menghendaki agar Pak Mulyadi Djojomartono menerima jabatan itu, dan di lain pihak menentang kesempatan itu.
Melihat situasi seperti itu, Buya Hamka sebagai seorang jurnalis dan penulis lalu muncullah naluri jurnalisnya dan menulis di harian Abadi. Tulian itu berjudul Maka Pecahlah Muhammadiyah. Dalam tulisa ini Buya Hamka menyatakan bahwa Pimpinan Pusat Muhammadiyah terbelah menjadi dua. Yakni kelompok istana dan kelompok luar istana. Dalam hal ini KH Farid Ma’ruf termasuk kelompok istana, karena setuju dengan tawaran Pak Mulyadi Djoyomartono (tokoh Muhammadiyah) sebagai Menteri Sosial.
          Untuk klarifikasi dan mencari solusi perbedaan pendapat itu, lalu digelar Sidang Tanwir di Gedung Muhammadiyah. Pada kesempatan ini sidang memberikan kesempatan kepada Buya Hamka untuk menjelaskan seputar tulisannya itu. Dalam paparannya, beliau menyatakan bahwa artikel itu ditulis justru cintanya kepada Muhammadiyah. Dalam penyampaiannya yang terbata-bata itu, beliau menjelaskan bahwa sebagai seorang jurnalis dan penulis apabila menghadapi sesuatu, lalu dengan refleks memegang pena dan menulis lalu dikirim ke media (koran). Beliau jelaskan bahwa dengan tulisan itu ingin menjaga harkat dan martabat Muhammadiyah, dan bukan untuk menyinggung pihak lain. Namun kalau hal itu menyinggung perasaan pihak lain (KH Farid Ma’ruf) sebagai sahabat yang sangat dicintai, maka Buya Hamka menyesal dan minta maaf. Sebab, tidak mengira bahwa tulisannya itu bisa menimbulkan konflik internal.
Seusai itu, pimpinan sidang mempersilahkan KH Farid Ma’ruf untuk menyampaikan penjelasan mengapa beliau mendorong Pak Mulyadi Djoyomartono untuk menerima jabatan sebagai  Menteri Sosial RI. Beliau berargumentasi bahwa saat itu, Muhammadiyah yang sedang berkembang perlu dukungan Pemerintah agar gerak dan perkembangan amal usaha Muhammadiyah semakin maju. Maka diperlukan kerjasama antara Muhammadiyah dan Pemerintah. Beliau menyatakan di mimbar itu, kalau memang sikapmya itu dianggap salah, maka beliau bersedia mengundurkan diri dari kepengurusan PP Muhammadiyah.
KH Farid Ma’ruf  belum selesai pembahasannya, spontan Buya Hamka mengacungkan tangan menginterupsi pada pimpinan sidang dan dengan nada suara agak tinggi,  beliau menyatakan :” Pimpinan, Saudara Farid jangan mundur. Saudara Farid supaya tetap menjadi Pimpinan Pusat, dan saya saja yang mundur”.
Melihat sikap ini, KH Farid Ma’ruf turun dari mimbar lalu mendekati Buya Hamka. Keduanya berjabat tangan, berangkulan,  saling mengaku salah dan saling minta maaf. Keduanya menangis sesenggukan menyesali perbuatannya yang tidak mengira bahwa hal ini menjadi perbedaan pendapat yang dikhawatirkan menuju perpecahan. Melihat adegan ini, para peserta sidang Tanwir melelehkan air mata, menangis, terharu beginilah kesadaran yang tinggi pengakuan kesalahan demi keutuhan dan kemajuan Persyarikatan Muhammadiyah.
Demikianlah, cara Muhammadiyah dalam menyelesaikan perbedaan pendapat dengan saling mengakui kesalahan dan saling memaafkan, Disinilah perlunya tabayun agar akar rumput tidak goyah.
(Sumber: Kisah Inspiratif Para Pemimpin Muhammadiyah, 2017)

Lasa Hs





Jumat, 13 Juli 2018

KH. Farid Ma’ruf KIYAI YANG POLITIKUS


Di kalangan Muhammadiyah selalu saja ada tarik ulur antara kelompok yang menghendaki agar Muhammadiyah menjadi partai politik atau menentukan arah politiknya. Di lain pihak juga ada kelompok yang menghendaki agar Muhammadiyah tetap saja pada jalur semula. Artinya tidak usah ikut politik praktis apalagi menjadi partai politik. Tarik ulur ini memang terjadi sejak lama. Namun sejarah telah membuktikan bahwa ada beberapa tokoh Muhammadiyah secara pribadi terjun langsung ke arena politik tanpa harus membawa-bawa Muhammadiyah. Satu diantara mereka adalah K.H. Farid Ma’ruf.
                Putra Kauman Yogyakarta yang    lahir 25 Maret 1908 ini sejak  kecil memang,  suka catur dan badminton. Ia   pernah menjadi anggota Pengurus Partai Islam Indonesia/PII. Beliau terjun ke gelanggang politik bersama K.H. Mas Mansur, Ki Bagus Hadikusumo, Abdul Kahar Mudzakir, Abdul Hamid BKN, dan Mr. Ahmad Kasmat.
                Partai ini dibentuk di Sala pada tanggal 4 Desember 1938 yang anggota-anggota pimpinannya berasal dari unsur pimpinan Partai Islam Indonesia/PARII yang didirikan tahun 1932 oleh Pimpinan Muhammadiyah dan Persarikatan Pemuda Islam. Kemudian dalam perkembangannya nanti PII membubarkan diri pada awal tahun 1942 bersaman dengan pendudukan Jepang di Indonesia.
                Farid Ma’ruf yang alumni Al Azhar Kairo itu pernah melawat ke Jepang selama tiga bulan sebagai delegasi Majelis Islam A’la Indonesia/MIAI bersama Mr. Ahmad Kasmat, S.A. Alamudi, H. Abdul Kahar Mudzakir, dan H. Mahfudz. Setelah kembali ke Indonesia, beliau aktif dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Muhamamdiyah dan memang kehidupannya tidak dapat dilepaskan dari Muhammadiyah. Bahkan mantan guru Madrasah Mu’alimin Muhammadiyah ini pernah ditangkap Belanda pada tahun 1941 bersama pejuang lain lalu dipenjara selama tiga bulan. Penangkapan ini berdasarkan tuduhan bahwa beliau dan kawan-kawannya bekerjasama dengan Jepang akan menggulingkan Pemerintah Belanda.
                Perjuangan memang tak mengenal menyerah dan memang banyak resikonya. Itulah pejuang dulu berani menghuni tirai besi karena perjuangan dan bukan rebutan kursi. Atau masuk penjara gara-gara korupsi. Memalukan memang oknum-oknum pendhalim rakyat itu.
                Farid Ma’ruf yang juga seorang jurnalis itu pernah menjadi Wakil Ketua Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia/Masyumi yang didirikan pada bulan Nopember 1947 di Yogyakarta. Partai ini sebenarnya merupakan gabungan dari partai dan organisasi Islam seperti Partai Sarekat Islam Indonesia/PSII, Muhammadiyah, dan Nahdhatul Ulama/NU.  Masyumi ini merupakan ekspresi cita-cita umat Islam dalam bidang politik saat itu.
                Kiyai yang satu ini tidak lepas dari jabatan politik. Pada tahun 1945 ia ditugaskan di Yogyakarta sebagai anggota Pimpinan Revolusi dalam menghadapi Jepang untuk mempertahankan Daerah Istimewa Yogyakarta/DIY. Kemudian pada tahun 1946 beliau yang berpangkat Jendral Mayor (saat itu) ditugaskan sebagai staf  PEPOLIT di Yogyakarta. Lalu mulai tanggal 13 Mei 1946 beliau duduk sebagai Dewan Pemerintah Daerah/Kepala Jawatan Sosial DIY.
                Karir dan prestasinya di bidang pemerintahan kecuali sebagai Dewan Pemerintahan Daerah dan Kepala Jawatan Sosial DIY, juga sejak tahun 1951 sampai 1965 ia diangkat sebagai Kepala Jawatan Agama DIY. Pada tahun 1965-1966 ia diangkat sebagai Menteri Urusan Haji yang kemudian menjadi Deputi Menteri Urusan Haji dan terakhir sebagai Direktur Jendral Urusan Haji. Ia pernah menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung/DPA, anggota MPRS dan anggota Pimpinan Angkatan 1945 di Yogyakarta.
                Disamping kesibukannya di pemerintahan dan Muhammadiyah, Farid Ma’ruf juga aktif di dunia pendidikan. Beliau pernah diangkat sebagai Guru Besar Luar Biasa di UGM, IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga, Akademi Tabligh (Fakultas Ilmu Agama dan Dakwah/FIAD) dan sejak tanggal 18 Nopember 1960 beliau dipercaya sebagai Rektor IKIP Muhammadiyah (sekarang Universitas Ahmad Dahlan).
                Sebagai tokoh Islam dan politikus, beliau sering mengadakan lawatan ke luar negeri. Pada tahun 1952 bersama Dr. Moch. Hatta(Wakil Presiden RI) beliau melawat ke Mekah, Kairo, Libanon, Siria, dan Pakistan. Kemudian bersama Dr. Roeslan Abdulgani, beliau melawat ke Italia, Vatikan, Yugoslavia, Hungaria, dan Uni Sovyet. Pada tahun 1962 ia ke Mekkah, Beirut, Bangkok, Singapura. Bahkan ketika berkunjung ke Pakistan, beliau bertemu langsung dengan Moch. Iqbal seorang pujangga dan pemikir Islam yang terkenal itu. Dalam kesempatan pertemuan yang berlangsung satu jam itu, pujangga itu menitip pesan kepada umat Islam Indonesia. Farid Ma’ruf sempat mencatat pesan itu yang aslinya dalam bahasa Inggris dan  terjemahannya kurang lebih :”Saya sangat gembira ketika bertemu tuan Muhammad Farid dari Indonesia yang sedang kembali dari Mesir ke kampung halamannya Indonesia, bahwa umat Islam Indonesia telah sadar akan desakan jaman dan tengah bersiap-siap memperjuangkan kemerdekaan bagi tanah airnya. Tuan Muhammad Farid ingin agar saya menyampaikan pesan dengan perantaraan dia kepada saudara-saudara saya di Indonesia. Maka inilah pesan saya kepada mereka (umat Islam Indonesia)  sebagimana telah saya pesankan kepada rakyat Mesir dua tahun lalu. Pada masa kegoncangan rohaniah seperti sekarang ini, tetaplah setia berpegang kepada tuntunan Rasulullah SAW dan kepada ajaran serta cita-citanya yang tercermin dalam seluruh kehidupan beliau. Janganlah dilupakan bahwa kaum muslimin se dunia memikul tugas suci yaitu untuk mempersatukan tidak hanya semua suku dan bangsa, akan tetapi juga segala macam agama yang dianut oleh umat manusia. Agama Islam tidak akan memberikan tujuan hidup lain, karena Islam itu sendiri adalah tujuan hidup”.
                Kiyai yang satu ini memang serba bisa. Sebab disamping kesibukannya di dunia politik, pendidikan, dan Muhammadiyah, beliau masih sempat menulis beberapa buku. Kebiasaan menulis inilah yang perlu  mendapat perhatian kita selaku orang-orang Muhammadiyah agar nilai-nilai Kemuhammadiyahan dapat berkembang dari genersi ke generasi. Sebab tulisan terutama buku akan bernilai abadi. Maka kiyai ini meninggalkan tulisan-tulisan dalam bentuk buku antara lain: Sejarah Siti Aisyiah, Melawat ke Jepang, Ethika, Ilmu Dakwah, Diklat Bahasa Arab, Analisa Akhlak dalam Perkembangan Muhammadiyah, Asuransi Jiwa Menurut Pandangan Islam, dan Penjelasan tentang Maksud dan Tujuan Muhammadiyah.
                Beliau pernah menjadi pimpinan Suara Muhammadiyah dan memperoleh beberapa satyalencana antara lain: Satyalencana Peristiwa Perang Kemerdekaan ke satu dan kedua, Satyalencana Karya Setia Klas II. Beliau pulang ke Rahmatullah di Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) pada tanggal 6 Agustus 1976 dan meninggalkan seorang isteri dan sembilan orang anak (4 laki-laki dan 5 perempuan). Almarhum meninggal ketika menjabat sebagai Penasehat Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Jenazahya dimakamkan di Tanah Kusir Jakarta.
                                                   
                                  
Lasa Hs.



Oei Tjen Hien (1905-1998) TIONGHOA YANG MUHAMMADIYAH


Oei Tjen Hien dikenal dengan nama Haji Abdulkarim. Ia seorang tokoh Muhammadiyah dan mantan anggota Parleman RI. Ia pendiri organisasi etnis Tionghoa Islam dengan nama Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Pada tahun 1967 – 1974, ia menjadi anggota Pimpinan Harian Masjid Istiqlal Jakarta yang diangkat oleh Presiden RI, menjadi anggota Dewan Penyantun BAKOM PKAB, dan anggota Pengurus Majelis Ulama Indonesia/MUI  Pusat.
                Ia lahir tahun 1905 di Padang Panjang dengan nama Oei Tjen Hien. Setelah lulus sekolah dasar, ia mengikuti berbagai kursus dan bekerja sebagai pedagang hasil bumi. Di samping itu, ia juga seorang pande emas yang pindah ke Bengkulu. Mula-mula ia memelajari berbagai agama melalui buku dan majalah, dan bergaul dengan orang-orang Islam. Setelah mendapatkan pengetahuan dan keyakinan yang mantap, akhirnya ia yakin benar dan penuh kesadaran pada umur 20 tahun masuk Islam. Ia aktif di Muhammadiyah sampai dengan tahun 1932. Pada  era inilah dia kemudian berkenalan dengan Prof. Dr. Hamka. Pergaulannya semakin luas dan pengalamannya pun semakin tambah lalu pada tahun 1961 ia membentuk organisasi Islam bernama Persatuan Islam Tionghoa Indonesia/PITI. Organisasi ini sebenarnya merupakan gabungan dari dua organisasi yang sejenis sebelumnya, yakni Persatuan Islam Tionghoa dan Persatuan Tionghoa Islam. Dalam perkembangannya nanti, nama PITI berubah menjadi Pembina Iman Tauhid Islam.
                Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai seorang yang ulet dan memegang berbagai jabatan penting antara lain; Komisaris Utama BCA, Direktur Utama Asuransi Central Asia, Direktur PT Mega, Direktur Utama Pabrik Kaos Aseli 777, dan Direktur Utama Sumber Bangawan Mas. Sebagai seorang muslim yang taat, ia selalu menghitung jumlah kekayaannya dengan teliti untuk diekluarkan zakatnya. Oei dikenal pula sebagai Baba (atau Babadek menurut orang Bengkulu) yang juga akrab dengan Bung Karno. Suatu ketika, di Bengkulu, Pak Oei akan melakukan kunjungan ke cabang-cabang Muhammadiyah dengan mobil yang dikemudikan oleh seorang sopir. Mobil itu berjalan pelan-pelan karena di belakang ada Bung Karno yang sedang bersepeda sambil berbincang-bincang dengan Oei. Sesampai di batas kota, kedua sahabat karib itu berpisah, dan Bung Karno bersepeda kembali ke kota dan Pak Oei melanjutkan perjalanan ke daerah-daerah.
                Haji Abdulkarim Oei adalah salah seorang pionir keturunan Tionghoa yang aktif dalam upaya pembauran. Hal ini dibuktikannya dengan kesadarannya menjadi warga negara Indonesia yang otomatis harus keluar dari hidup di lingkungan etniknya. Keislamannya otomatis membawa Oei ke pola hidup baru ini. Keakrabannya dengan sejumlah tokoh seperti Buya Hamka lebih memotivasi Pak Oei dalam menggerakkan Muhammadiyah dan memperkuat upaya pembauran. Buya Hamka sendiri pernah menyatakan tentang Oei ini dalam brosur “Dakwah dan Asimilasi” tahun 1979.”Dalam tahun 1929 mulailah saya berkenalan dekat dengan seorang muslim yang membaurkan dirinya ke dalam gerakan Muhammadiyah dan langsung diangkat oleh masyarakat Muhammadiyah di tempat tinggalnya, yaitu Bengkulu. Ia menjadi Konsul Muhammadiyah Daerah tersebut sekarang namanya lebih dikenal dengan sebutan Bapak Haji Abdulkarim Oei. Telah 50 tahun kami berkenalan, sama paham, sama pendirian, dan sama-sama bersahabat karib dengan Bung Karno. Persahabatan Saudara Haji Abdulkarim Oei itu sebenarnya menguntungkan dirinya. Disamping sebagai seorang muslim yang taat, ia pun dipupuk, diasuh, dan akhirnya menjadi Nasionalis Indonesia sejati. Semasa pendudukan Jepang, H. Abdulkarim diangkat sebagai Dewan Penasehat Jepang (Chuo Sangi Kai). Pada masa kemerdekaan, ia diangkat sebagai Komite Nasional Indonesia/KNI Bengkulu dan sebagai anggota DPR mewakili golongan minoritas. Dalam kepartaian, ia memilih Partai Muslimin Indonesia/Parmusi sebagai wadah perjuangannya.
                Seluruh catatan perjalanan hidupnya kemudian tersusun dalam buku Mengabdi Agama, Nusa, dan Bangsa. Namun, pada tahun 1982, buku yang diterbitkan PT Gunung Agung Jakarta itu ditarik dari peredaran karena dinilai merugikan pihak-pihak tertentu. Bersama dengan Yunus Yahya, Oei melakukan pembinaan agama Islam kepada warga keturunan. Yunus Yahya nama aslinya adalah Lauw Chuan Tho termasuk tokoh pembaruan dari kalangan Cina muslim di Indonesia dan pernah sekolah di Sekolah Tinggi Ekonomi Rotterdam Belanda. Ia masuk Islam pada tahun 1979 dan diangkat sebagai Pengurus Majelis Ulama Indonesia tingkat nasional pada periode 1980-1985.
                Haji Abdulkarim Oei Tjen Hien meninggal dunia pada hari Jum’at dini hari, tanggal 14 Oktober 1988 dalam usia 83 tahun karena sakit tua dengan beberapa komplikasi. Jenazahnya dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir Jakarta, di dekat makam isterinya Maimunah Mukhtar yang meninggal tahun 1984 dengan meninggalkan lima putra-putri dan beberapa cucu.
                                                                                                                                 
Lasa Hs


Selasa, 10 Juli 2018

IKHLAS, MELURUSKAN NIAT Bagian 3


  1. Manusia bukan pemilik surga dan neraka
Apabila  orang menyadari bahwa orang-rang yang dijadikan tujuan amalnya (baik karena ingin ujian atau balasan dari mereka) akan sama-sama dihisab oleh Allah Swt.Mereka sama-sama besok akan berada di Padang Mahsyar untuk menerima hasil/nilai amal dan perbuatan mereka.
Mereka itu tidak bisa saling mendorong untuk memasukkan seseorang  ke surga. Mereka pun tidak isa secara kelompok mencegah seseorang dari siksa api neraka. Dalam hal ini Ibnu Rajab dalam kitabnya Jamiul Ulum wal Hikam menyatakan “ Barang sapa yang berpuasa, shalat, berdzikir kepada Allah dan dia maksudkan amalan-amalan itu untuk mendapatkan dunia, maka tidak ada kebaikan dalam amalan-amalan tersebut  sama sekali Amalan-amalan tersebut tidak manfaat baginya, bahkan hanya akan menyebabkan dosa”..   
  1. Ingin dicintai Allah dan manusia
Apabila seseorang beramal semata-mata denan  niat lurus mencari ridha Allah, maka akan dicinati Allah dan manusia. Dalam hal ini Allah Swt tegaskan dalam  Q.S Maryam:  96 yang artnya: Sungguh, orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak (Allah) Yang Maha Pengasih akan menanamkan  rasa kasih sayang (dalam hati mereka)”.
Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa Allah akan menanamkan kasih sayang kepada hati-hati orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Yakni amalan-aman yang diniatkan ikhlas demi Allah semata.
  1. Takut amalnya tidak diterima
Saking hati-hatinya, seorang yang beramal ikhlas itu khawatir jangan-jagan amalnya itu tidak diterima oleh Allah Swt. Dalam hal ini Allah Swt  berfirman dalam Q. S. Al Mu’minun: 60  yang artinya: “ Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka”.
Pada ayat tersebut, Allah menjelaskan bahwa diantara sifat-sifat orang mukmin adalah mereka yang memberikan suatu pemberian, namun mereka takut tidak diterima amal perbuatan mereka itu. 
            Lasa Hs
            (Habis)

HINDARI RIYA’


   
Riya’ merupakan perilaku memperlihatkan kebaikannya agar dipuji dan disanjung. Mereka tinggi hati bila dipuji, dan putus asa bila tidak dipuja. Dengan pujian ini mereka merasa memiliki nilai lebih dari yang lain. Mereka merasa paling unggul dari yang lain.
Memang tiap orang memiliki kelebihan sekaligus kekurangan dari orang lain. Mungkin dalam kedudukan, harta, keturunan, kepandaian, bakat, dan lainnya. Namun bila kelebihan itu ditonjol-tonjolkan, bisa membuat orang lain tidak simpatik. Dengan selalu mengunggulkan kelebihan maka  bisa sombong, merasa paling benar, dan tidak mau menerima kebenaran meskipun disajikan data dan fakta. Sebab diantara tanda orang takabur adalah merendahkan orang lain dan menolak kebenaran. Perilaku seperti ini diingatkan Allah Swt dalam Q.S.An Najm: 32 yang artinya:Dan janganlah kamu sekalian mengatakan dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang orang-orang yang taqwa:.
            Menunjukkan kehebatan diri dan selalu menyalahkan pihak laih kadang dipandang sebagai hak individu. Dengan cara ini dikira mampu menaikan gengsi dan martabat.Namun perlu disadari bahwa prilaku ini dapat menurunkan wibawa seseorang, bahkan dibulli orang banyak.
            Riya’ dan semacamnya dapat dikatakan sebagai perbuatan syirik meskipun syirik kecil. Dalam hal ini Rasulullah Saw menyatakan: “ Aku sangat mengkhawatirkan pada kamu sekalian dari perbuatan syirik kecil. Kemudian pada sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud syirik kecil itu Ya Raslullah “. Beliau menjawab, yakni riya’. (HR. Ahmad, Thabrani, dan Baihaqi).
            Riya’ tidak mesti dalam bentuk omongan, tetapi bisa dalam bentuk perilaku. Misalnya seseorang berulang kali menggerak-gerakkan lengannya ketika berbicara di depan publik. Gerakan ini sengaja dilakukan untuk menunjukkan/pamer gelangnya atau jam tangannya bermerek.
Untuk memahami perilaku riya’, Imam  Ghazali memberikan beberapa perilaku yang dapat dikategorikan sebagai gejala riya’ yakni:
  1. Semakin meningkat ibadah dan amalannya bila dipuji/disanjung
Kadang kita ini berperilaku seperti anak kecil. Begitu bangga bila dipuja, hati setinggi gunung bila disanjung. Demikian pula ketika melaksanakan ibadah. Kadang kita ini tertipu oleh sikap dan ketakaburan perasaan diri sendiri.
Begitu nampak khusyu’ shalatnya bila dilihat orang. Sumbangannya ditambah-tambah, lantaran sumbangan pertama dimuat surat kabar atau ditayangkan oleh televise misalnya. Perilaku demikian dikira mampu meningkatkan eksistensi diri dan kroninya di mata publik
  1. Putus asa dan kurang semangat bila dicela
Tidak sedikit  diantara kita yang patah arang bila dicela. Orang begitu mudah sakit hati bila dicaci maki. Hal ini bisa terjadi lantaran perbuatan mereka tidak didasarkan pada keikhlasan. Mungkin motivasi kebaikan itu untuk memeroleh dukungan suara, memperbesar nama dan kroninya.
  1. Malas melakukan ibadah bila sendirian
Kita ini sering kena penyakit malas bila melakukan kegiatan sendirian. Mungkin berat shalat malam meskipun hanya dua rekaat. Namun bila nonton pertandingan sepak bola, justru berjam-jam kuat dan tidak mengantuk.
  1. Menunjukkan kedermawanannya bila diketahui khalayak
Memang, orang berbuat baik itu motvasinya berbeda satu dengan yang lain. Ada yang nampak dermawan lantaran mendapatkan suara dan nama diri. Apabila tidak dilihat banyak orang,justru nampak kikirnya.

Lasa Hs


Kamis, 05 Juli 2018

Preservation of Manuscript with Tradition of Local Culture in KHP Widya Budaya Library of Keraton Yogyakarta, Indonesia


Aidilla Qurotianti 1, Helen Dian Fridayani2
1 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Kasihan, Bantul, Indonesia
 aidila_qurotianti@yahoo.co.id
2 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Kasihan, Bantul, Indonesia
helendianf9@gmail.com



ABSTRACT
The manuscripts that used to hundreds of years mades risk to vulnerable to mold and other parasites. Therefore, it takes the efforts to preserve and keep the original manuscript. One of the libraries preserving while maintaining the local cultural traditions is KHP Widya Budaya Library of Keraton Yogyakarta. On process of preservation of the manuscript, Abdi Dalem Keraton performs a small ceremony to honor the authors and the contents in the manuscript. Because of the reasons, the researcher interested to know how the process of preservation of the manuscripts that still maintain the cultural tradition of the Keraton who conducted by Abdi Dalem in KHP Widya Budaya Library of Keraton Yogyakarta. The purpose of this research is to analyze how the activities of preservation of manuscripts with the tradition of local culture in the KHP Widya Budaya Library of Keraton Yogyakarta, and to determine the factors causing damage the manuscripts located in the KHP Widya Budaya Library of Keraton Yogyakarta. The research method used is qualitative method. Data collection techniques through the interview, observation, and documentation. Research results show that before implement the preservation, Abdi Dalem performed the rituals of caos dahar which aimed to ask permission to “the guard” who keep the manuscripts. They believe that when they perform the ritual before preservation, the preservation process will be running smoothly. To overcome the damage factor, KHP Widya Budaya Library of Keraton Yogyakarta conducting preservation activities who conducted by Abdi Dalem. Preservation of library materials concerning efforts that are preventive and curative. Preventif action such as digitalization, alphabet translation, camperization, stored at the special cupboard, set the air humadity. While currative action such as removal of acid content, fumigation and binding and patching.

Keyword: Preservation, Manuscripts, Ritual, Cultural Tradition of Keraton




STRATEGI PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA DALAM MENERAPKAN PELAYANAN PRIMA DI PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI (STUDI KASUS DI PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA)


Aidilla Qurotianti
(Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)

*Korespondensi: aidila_qurotianti@yahoo.co.id


ABSTRAK
Dalam meningkatkan nilai integritas suatu instansi atau perusahaan, diperlukan sumber daya manusia yang memadai dan berkualitas agar dapat memajukan dan mengembangkan instansi dan perusahaan tersebut, termasuk perpustakaan.  Sumber daya manusia perpustakaan dituntut untuk memberikan pelayanan yang prima kepada para pemustaka guna memenuhi kebutuhan dan keinginan pemustaka tersebut. Namun sayangnya masih ada beberapa pustakawan yang belum memahami penerapan pelayanan prima di perpustakaan, sehingga diperlukan adanya pengembangan sumber daya manusia perpustakaan yang dilaksanakan oleh sebuah instansi. Salah satu perpustakaan yang menerapkan pengembangan sumber daya manusia yaitu perpustakaan perguruan tinggi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Perpustakaan UMY selalu berusaha untuk mengembangkan kemampuan dari para pustakawan maupun staf tenaga perpustakaan agar dapat memajukan perpustakaan UMY menjadi perpustakaan perguruan tinggi yang unggul. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui strategi pengembangan sumber daya manusia perpustakaan dalam menerapkan pelayanan prima di Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah menggunakan metode pendekatan kualitatif dengan teknik pengumpulan data menggunakan wawancara dan observasi. Hasil penelitian ini menunjukkan  bahwa strategi pengembangan sumber daya manusia (SDM) yang diterapkan di perpustakan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yaitu meliputi studi lanjut pendidikan formal maupun non formal, pelatihan, rotasi, dan penyertaan pada kegiatan kepustakawanan seperti pertemuan ilmiah, seminar, workshop, lomba kepustakawanan, dan call for paper.

Keywords: Human Resources; Library; Librarian; Service Excellence; Education.



OPTIMALISASI PEMANFAATAN AKSES DIGITAL REPOSITORY DALAM MENUNJANG TRI DHARMA PERGURUAN TINGGI (STUDI KASUS DI PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA)


Aidilla Qurotianti1*, Fifin Rokhimatun2*
1Perpustakaan UMY / e-mail: aidila_qurotianti@yahoo.co.id
2Perpustakaan UMY / e-mail: fifinrokhimatun@gmail.com


ABSTRAK

Kemajuan era digital membuat masyarakat khususnya mahasiswa mengandalkan pencarian sumber referensi melalui internet yang dinilai praktis dan efisien. Tingkat mobilitas di kalangan mahasiswa yang cukup tinggi membuat mereka dimudahkan dalam mencari informasi menggunkan internet. Dunia Perpustakaan harus mengikuti arus zaman sehingga Perpustakaan UMY hadir dalam memberikan fasilitas digital repository yang dapat diakses dengan mudah, tepat dan efisien.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui optimalisasi pemanfaatan akses digital repository dalam menunjang Tri Dharma Perguruan Tinggi di Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Hasil penelitian ini menunjukkan  bahwa optimalisasi pemanfaatan akses digital repository dalam menunjang Tri Dharma Perguruan tinggi di Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta dilakukan berbagai cara, antara lain melalui: 1) Leaflet dan X-Banner, 2) Sosialisasi, 3) Media Sosial, dan 4) Literasi informasi. Usaha dalam mengoptimalkan digital repository akan sangat membantu dalam pencapaian Tri Dharma Perguruan Tinggi di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta.
Kata kunci : Digital repository, tri dharma perguruan tinggi, pendidikan, sumber daya manusia

PERSEPSI PEMUSTAKA TERHADAP KOMUNIKASI NONVERBAL PUSTAKAWAN DI UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Arda Putri Winata
Universitas Muhammadiyah yogyakarta

ABSTRAK


Pustakawan menjadi jembatan penghubung pemustaka dengan kebutuhan mereka. Komunikasi akan sangat mempengaruhi hal tersebut. komunikasi yang efektif yakni ketika komunikasi verbal selaras dengan komunikasi nonverbal. Melihat pentingnya komunikasi, maka perlu dilakukan kajian untuk meilah persepsi pemustaka terhadap komunikasi nonverbal pustakawan di Universitas Muhamamdiyah Yogyakrta. Berdasarkan kuisioner yang disebarkan pada 50 mahasiswi baru tahun ajaran 2017-2018 didapatkan hasil bahwa: persepsi mahasiswa 46% setuju dengan komunikasi nonverbal pustakawan UMY, 46% mahasiswi bahkan sangat setuju dengan hal tersebut. namun sebanyak 8% mahasiswa tidak setuju dengan beberapa komunikasi nonverbal pustakawan UMY.
Kata kunci: Komunikasi nonverbal, pustakawan, persepsi, perpustakaan.

Tingkat Keusangan Literatur Pada Tesis Prodi Magister Manajemen Rumah Sakit Universitas Muhammadiyah Yogyakarta


Arda Putri Winata
Yuliana Ramawati
Pustakawan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Paper ini membahas menngenai tingkat keusangan rujukan yang digunakan dalam tesis program studi Magister Manajemen Rumah Sakit (MMR). Populasi pada penelitian ini adalah seluruh tesis Prodi MMR tahun 2017 yang berjumlah 48 buah. Data diperoleh dengan mencatat tahun terbit dari masing-masing sumber yang dirujuk kemudia mengurutkan tahun terbit tertua sampai tahun terbit termuda (terbaru). Kemudian menghitung jumlah paro hidup dengan menggunakan rumus. Data ditampilkan dalam table dengan deskripsi. . Diperoleh hasil Md = 2009.  Maka, sitiran di bawah tahun 2009 dengan jumlah 857 (43,5%)  sitiran dinyatakan usang, sedangkan sitiran di atas tahun 2009 dengan jumlah 1112 (56,5%)  dinyatakan valid.

PENERAPAN PRESERVASI DIGITAL KARYA TULIS ILMIAH DI PERPUSTAKAAN UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH YOGYAKARTA

Nur Hasyim Latif, SIP
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
nhasyimlatif03@gmail.com 
ABSTRAK


Perkembangan teknologi di bidang perpustakaan menjadi aspek yang sangat menentukan keberlangsungan perpustakaan itu sendiri, termasuk teknologi dalam preservasi digital. Dapat dikatakan, preservasi digital koleksi karya tulis ilmiah harus dilakukan secara terencana dan terkelola dengan baik agar koleksi digital dapat dimanfaatkan dan diakses oleh masyarakat selama mungkin. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan tentang metode preservasi digital dan faktor-faktor yang menjadi kendala yang dihadapi dalam kegiatan preservasi digital yang dilakukan di Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Pendekatan yang peneliti lakukan yaitu kualitatif deskriptif. Pengumpulan data diperoleh melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa preservasi digital yang diterapkan di Perpustakaan UMY cukup baik. Metode yang diterapkan dimulai dengan tahapan alih media koleksi (digitalisasi) dalam bentuk digital dengan jumlah koleksi sampai akhir tahun 2017 kurang lebih sebanyak 17.720, dan tahapan preservasi digital berupa preservasi teknologi, refreshing, dan migrasi. Akan tetapi, metode tersebut belum sepenuhnya bisa menjaga dan melestarikan koleksi digital yang ada. Preservasi digital ini juga memiliki beberapa kendala seperti SDM, infrastruktur, dan biaya. Oleh karena itu diperlukan beberapa metode lain yang mampu dengan baik seperti emulasi, arkeologi digital, dan peralihan data digital ke data analog.
Keyword: Preservasi Digital, Repository, Koleksi Digital

Selasa, 03 Juli 2018

IKHLAS, MELURUSKAN NIAT (Tulisan II)


  1. Banyak berdo’a.
Diantara hal yang menolong untuk ikhlas adalah banyak berdo’a.
Diantara do’a yang sering dipanjatkan Nabi Muhammad Saw agar bisa ikhlas adalah:
“Ya Allah, aku memohon perlindungan kepada-Mu dari perbuatan menyekutukan-Mu sementara aku mengetahuinya , dan akupun memohon ampun terhadap perbuatan syirik yang tidak aku ketahui” (HR. Ahmad).
Nabi sering memanjatkan do’a tersebut agar terhindar dari kesyirikan. Padahal kita tahu bahwa beliau adalah orang yang paling jauh dari kesyirikan.
Sementara itu, Umar bin Khattab yang dikenal adil dan wira’i itu juga sering berdo’a “Ya Allah jadikanlah seluruh amalku amal yang saleh, jadikanlah seluruh amalanku amal yang saleh.jadikanlah seluruh amalanku hanya karena ikhlas mengharap wajahMu, dan jangan jadikan sedikitpun dari amalanku tersebut karena orang lain”.
  1. Meyembunyikan amal kebaikan
Kebaikan yang dilakukan tanpa diketahui orang lain itu bisa membawa keikhlasan. Amal, jasa, kebaikan yang ditonjol-tonjolkan bisa mengurangi nilai amal itu, mengarah pada ‘ujub, dan bisa menimbulkan riya’ dan takabur.. Semakin ‘ujub seseorang terhadap amal kebaikan yang ia lakukan, maka semakin kecil dan rusak keikhlasan itu. Dalam hal ini baiklah kita perhatikan Sabda Nabi Muhammad Saw:” Tujuh golongan yang Allah akan naungi pada hari di mana tidak ada naunagan selain dari naunganNya, yaitu: pemimpin yang adil; pemuda yang tumbuh di atas ketaatan kepada Allah; laki-laki yang hatinya senantiasa terikat dengan masjid; dua orang yang saling mencintai karena Allah, bertemu dan berpisah karena Allah pula; seorang laki-laki yang diajak mesum/berzina oleh seorang wanita yang cantik dan memiliki kedudukan, namun dia mengatakan :”sesungguhnya aku takut kepada Allah; seseorang yang bersedekah dan menyembunyikan sedekahnya itu sehingga tangan kirinya tidak mengetahui apa yang diinfakkan oleh tangan kanannya; dan seseorang yang mengingat Allah di waktu sendirian hingga meneteslah air matanya.” (HR Bukhari Muslim) 
  1. Tidak terpengaruh kata orang
Pujian dan perkataan orang lain terhadap seseorang merupakan suatu hal yang pada umumnya disenangi manusia. Bahkan Rasulullah Saw pernah menyatakan ketika ditanya tentang seseorang yang beramal kebaikan kemudian dipuji oleh manusia karenanya, beliau menjawab,:Itu adalah kabar gembira yang disegerakan bagi seorang mukmin” (HR Muslim).
            Begitu pula sebaliknya, celaan dari orang lain merupakan suatu hal yang pada umumnya tidak disukai manusia. Namun, sebaiknya semua pujian dan celaan orang lain itu jangan sampai  mengurangi nilai amal saleh. Sebab seorang mukmin yang ikhlas adalah  seorang yang tidak terpengaruh oleh pujian maupun celaan orang lain. Ketika mengetahui bahwa dirinya dipuji karena amal saleh atau kebaikannya, maka justru akan semakin tawadhu’ (rendah diri) kepada Allah. Ia pun menyadari bahwa pujian dan kelebihan itu merupakan ujian bagi dirinya.
                                   


            Lasa Hs