Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Jumat, 24 Agustus 2018

KI BAGUS HADIKUSUMO; Penyelamat Pembukaan UUD 1945




Putra Kauman Yogyakarta ini telah mewariskan pemikiran dan sumbangsih bagi Islam, Muhammadiyah, dan Negara. Sebagai tokoh pemikiran Islam di Indonesia, memang beliau berpikir bercorak neo-sufistik, rasional,  dan selalu menggunakan referensi Al-Quran dan as Sunah.Santri KHA Dahlan ini pada periode awal Muhammadiyah sudah menjadi aktivis Persyarikatan antara lain pernah menjadi Ketua Majelis Tarjih pada tahun 1922, menjadi Ketua Majelis Tarjih, sebagai anggota komisi MPM Hoofdbestuur Muhammadiyah (1926), dan Ketua PP Muhammadiyah tahun 1942 – 1953.
 Ki Bagus dikenal sangat produktif dalam penulisan sehingga pada tahun 1925 telah menerbitkan 14 jilid buku. Hal ini didukung oleh kemampuan berbahasa Arab, bahasa Ingris, dan bahasa Belanda. Dengan kemampuan ini beliau mengenal dan memperdalam pemikiran-pemikiran Muhammad ‘Abduh. Rasyid Ridha,Imam Ghozali, Ibnu Taimiyah, Ibnu Rusyd dan lainnya.  Diantara karya-karyanya berupa buku adalah; 1) Poestaka Iman; 2) Poestaka Islam ; 3) Risalah Katresnan Djati; 4) Poestaka Ikhsan; 5) Islam Sebagai Dasar Negera dan Akhlak.
Dulu, para tokoh Muhammadiyah memang ada beberapa yang terjun ke politik praktis. Sebab saat itu memang suatu tuntutan dan partai politik sebagai alat perjuangan umat Islam dan pengembangan Muhammadiyah. Bukan sekedar memenuhi kebutuhan pribadi maupun kelompok.Maka Ki Bagus bersama tokoh Islam lain seperti KHA Wahid Hasyim, KH Abdul Kahar Mudzakir, dan Abikusno Tjokrosujono pernah duduk sebagai anggota DPR Pusat.
Ki Bagus pada tahun 1938 juga termasuk sebagai salah satu tokoh berdirinya Partai Islam Indonesia (PII). Bahkan pada tanggal 7 November 1945, Muhammadiyah di bawah kepemimpinan beliau menjadi teras pembentukan Partai Masyumi (Majlis Syuro Umat Islam) sebagai satu-satunya parti Umat Islam saat itu. Dalam hal ini Ki Bagus dipercaya seagai Wakil Ketua Masyumi sampai tahun 1950.
Andil beliau pada kelahiran NKRI cukup besar sehingga beliau diakui sebagai Pahlawan Nasional berdasarkan Keputusan Presiden No. 116/TK/2015 tanggal 4 Nopember 2015 oleh Presiden Joko Widodo. Peran yang dimainkan pada awal kemerdekaan RI antara lain bahwa beliau sebagai anggota PPKI (Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia0 dan bPUPKI (Badan Penyelidik Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia).
Suatu ketika di bulan Juni 1945, Bung Karno mengemukakan konsep dasar negara. Dalam konsep itu beliau mengusulkan “Ketuhanan” di bagian akhir sebagai dasar negara. Dalam hal ini Ki Bagus merasa keberatan dan menolak konsep itu. Beliau mengusulkan agar kata “Ketuhanan” diganti dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan diletakkan di bagian pertama sebagai dasar negara. Ternyata usulan ini diterima dan ini merupakan keberhasilan diplomasi tokoh Muhammadiyah.  Dengan bahasa lain dapat dipahami bahwa Muhammadiyah ikut mendirikan NKRI ini yang merupakan rumah besar bangsa Indonesia yang menurut bahasa Muhammadiyah sebagai Darul ‘Ahdi wasy Syahadah.
Beliau berulang kali terpilih sebagai Ketua Umum PP Muhammadiyah melalui berbagai muktamar, dan dua kali terpilih sebagai ketua Majelis Tarjih yakni pada tahun 1922 dan 1936.
Kemudian pada masa pendudukan Jepang, umat Islam dan Muhammadiyah mengalami tekanan terutama dalam akidah. Jepang saat itu ingin merubah ketauhidan menjadi kemusyrikan dengan cara menghadap ke timur menyembah matahari. Untuk mengatasi kondisi ini, Muhammadiyah di bawah kepemimpinan Ki Bagus membentuk mubaligh/da’i yang dikirim ke seluruh pelosok Jawa dan Madura untuk menguatkan akidah, memotivasi amal shaleh, dan menyemangati perjuangan melawan ketidak adilan dan kebatilan.
(Lasa Hs)  



KH MAS MANSUR; Penggagas Majelis Tarjih



KH Mas Mansur putra Surabaya yang lahir 25 Juni 1896 dan wafat 25 April 1946 itu dikenal disiplin. Kiyai yang suka berpotret dan senang pakai sarung dan pecisnya itu telah menanamkan kesadaran disiplin terutama para pimpinan persyarikatan. Sebagai seorang organisator pada masanya terasa sekali adanya penyempurnaan organisasi. Beliau pula yang mencetusan dan menyusun 12 (dua belas) langkah Muhammadiyah  1930 – 1940 yakni:
1. Memperdalam Masuknya Iman
2. Memperluas Faham Agama
3. Memperbuahkan Budi Pekerti
4. Menuntun Amalan Intiqad  (self correction)
5. Menguatkan Persatuan
6. Menegakkan Keadilan
7. Melakukan Kebijaksaan
8. Menguatkan Majelis Tanwir
9. Mengadakan Konferensi Bagian
10.Memper musyawarahkan Putusan
11.Mengawaskan Gerakan Jalan
12. Mempersambungkan Gerakan Luar
Dulu, pada masa sebelum kemerdekaan pertemuan puncak Muhammadiyah disebut Kongres yang diselenggarakan setiap tahun. Pada masa kepemimpinan KH Mas Mansur nama pertemuan itu menjadi Muktamar dan diselenggarakan 3 tahun sekali. Namun pada Muktamar ke 41 di Surakarta tahun  1985 penyelenggaraan Muktamar disepakati menjadi 5 tahun sekali.
            Pada Kongres Muhammadiyah ke 16 di Pekalongan tahun 1927 disetujui adanya Majelis Tarjih yang semula hal ini diusulkan oleh KH Mas Mansur . Namun demikian pada masa KH Ahmad Dahlan lembaga ini sudah dibentuk bersamaan dengan pembentukan Bagian Pengajaran, Bagian Penolong Kesengsaraan Omoem/PKO, dan Bagian Taman Poestaka.
Perlunya Majelis Tarjih untuk mencegah timbulnya perbedaan pendapat dan perselisihan masalah agama di kalangan Muhammadiyah dan untuk mencegah penyalahgunaan hukum dan dalil-dalil agama untuk kepentingan politik atau pribadi. Majelis ini melakukan sidang pertama kali di luar Kongres Muhammadiyah di Surakarta untuk menerbitkan Kitab Iman dan Kitab Shalat.
KH Mas Mansur selalu merespon persoalan-persoalan sosial dan agama dari aspek keimanan. Saat itu beliau merasakan lemahnya iman umat Islam, kurangcerdasnya umat Islam dalam memahami Islam secara baik, syiar Islam juga kurang, dan pada da’i enggan melakukan dakwah di daerah-daerah terpencil.  
Karya dan pemikiran beliau yang dibukukan dan diterbitkan antara lain :
1.      Tauhid dan Syirk
2.      Pemuda dan Tanah Air
3.      Sebab-Sebab Kemiskinan Rakyat Islam Indonesia
4.      Qurban dan Hikmahnya
5.      Cara Mengerjakan Rukun Islam
6.      Ukuran Kebenaran Suatu Agama.
Partai politik, dulu merupakan alat perjuangan . Maka tidak sedikit tokoh-tokoh Muhammadiyah dulu terjun langsung ke dalam politik praktis. KH Mas Mansur juga pernah menjadi penasehat Pengurus Besar Syarekat Islam yang didirikan oleh HOS Cokroaminoto. Dulu organisasi ini dikenal revolusioner dan radikal. Beliau juga pernah menjadi pengurus Partai Islam Indonesia (PII). Begitu menonjol langah dan kegiatan beliau bersama tokoh nasional lain sehingga dianggap sebagai Empat Tokoh nasional yakni Ir. Soekarno, Drs. Moch. Hatta, KH Mas Mansur, dan Ki Hajar Dewantara. Beliau diangkat sebagai Pahlawan Nasional dengan SK Presiden Nomor 162  tahun 196 tanggal 26 Juni 1965.
(Lasa Hs)



DASRON HAMID; Berkhidmat di Muhammadiyah




Pribadi yang sederhana, jujur, profesional, ikhlas, dan rendah hati itu telah memberikan kontribusi besar kepada Persyarikatan Muhammadiyah. Kotribusi yang monumental itu antara lain; pendirian , penyelamat, dan melambungkan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, pembangunan Sportorium UMY (sebagai ajang Muktamar satu Abad) dan persepakbolaan Muhammadiyah. Karir sebagai dosen dan aktivitas Muhammadiyah telah menggoreskan tinta emas pemikiran dan langkah pendidikan Muhammadiyah.
Kasus “Banyugeni” yang menimpa UMY dan mencederai dunia perguruan tinggi itu, maka Pak Dasron Hamidlah sebagai penyelamat dunia pendidikan pada umumnya. Dengan kepiawaian manajemen dan networknya, dengan langkah pasti UMY bangkit kembali menjadi kampus yang Unggul Islami, Muda Mendunia dan menjadi PTM papan atas dan termasuk PTS yang diperhitungkan.
Dasron Hamid yang dididik dan dibesarkan dalam keluarga Muhammadiyah dan didewasakan dalam kancah perjuangan Muhammadiyah memang mewarisi beberapa sepak terjang ayahandanya Abdul Hamid yang dalam bahasa Jawa disebut :” nunggak semi”. Apabila dulu Bapak Abdul Hamid pernah menjadi bendahara PP Muhammadiyah, maka Pak Dasron pun pernah menjadi bendahara Persyarikatan. Bapaknya dulu, berulang kali menjadi ketua panitia muktamar, maka Pak Dasronpun menjadi Ketua Muktamar Muhammadiyah di Solo tahun 1985 sampai Muktamar Muhammadiyah Satu Abad di UMY Yogyakarta tahun 2010. Namun satu hal yang tidak diikuti, yakni dulu Bapak Abdul Hamid pernah aktif di Partai Masyumi sebagai bentuk keterlibatan dalam politik praktis. Sedangkan Pak Dasron tidak terjun ke dunia politik praktis. Bila ayahnya dulu pernah menjabat sebagai Ketua DPRD DIY, maka Pak Dasron pernah menjadi utusan Daerah MPR RI.
Memang Pak Dasron di kala muda sering diiming-imingi jabatan politis termasuk diajak Pak Amien Rais untuk memperkuat Partai Amanat Nasional/PAN. Namun semua kesempatan dan iming-iming jabatan politik praktis itu tidak direspon. Beliau memilih pengabdian berkhidmat di Muhammadiyah terutama dalam pendidikan tinggi. Hal ini bukan berarti bahwa generasi muda Muhammadiyah tidak berpolitik, tetapi juga harus melek politik. Namun dalam pandangannya bahwa bila ada kader Persyarikatan terjun ke dunia politik praktis hendaknya berpolitik ala Muhammadiyah. Yakni berpolitik yang santun, jujur, bahkan beradab, tidak memanfaatkan Muhammadiyah untuk kepentingan politiknya. Nanti bila telah lepas dari jabatan politik praktis, maka harus melepaskan baju politiknya bila ingin kembali ke Muhammadiyah.Bagi Pak Dasron, “pesan sakti” KH Dahlan :Hidup-hidupi Muhammadiyah, dan jangan cari penghidupan di Muhammadiyah” harus dimaknai secara cerdas.
Memamg dalam sejarah pendirian UMY, beliau bukan termasuk generasi awal. Saat itu sebagai pendiri UMY awal terdiri dari tujuh orang  sebagai Tim Tujuh yakni; Mustofa Kamal Pasha (Allahu Yarham), Muhadi SH (AllahuYarham), Humam Zainal SH (Allahu Yarham), Darwin Harsono (Allahu Yarham), Fahmi Muqoddas, Abdullah Effendi, dan Alfian Darmawan. 
Untuk mengenang itu, maka sampai kini masih ada satu mobil UMY bernomor  polisi AB 7017, yang berarti 7 (tujuh) 0 (orang) 1 (satu) 7 (tujuan).
Namun demikian keterlibatan Pak Dasron dengan UMY sangat intens, sehingga UMY identik dengan Dasron Hamid. Beliau yang mengembangkan, mempromosikan, menyelamatkan , dan melambungkan UMY dengan mencurahkan tenaga, waktu, pemikiran, dan material secara ikhlas, Keunggulan ini didukung dengan rasionalitas, kebersamaan, kesepahaman, kepemimpinan, dan “nguwongke liyan”.
Pak Dasron yang menjabat Rektor UMY dua periode  itu (2008 – 2010, 2010  2012) memang lihai dalam mempromosikan UMY antara lain selalu mengundang (ngampirke) orang penting yang ke Yogya untuk ceramah, dialog di UMY. Maka saat itu UMY sering disebut sebagai Universitas Menteri Yogyakarta. Beberapa langkah yang merupakan perjalanan mengembalikan citra dan melambungkan UMY dalam kinerja nyata antara lain; meningkatkan animo dan calon mahasiswa baru, peningkatan kualitas proses belajar mengajar, peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia, peningkatan kualitas dan kuantitas penelitian dan pengabdian pada masyarakat, peningkatan beasiswa & prestasi mahasiswa, kerjasama nasional dan internasional, peningkatan perpustakaan dan peran humas, serta akreditasi prodi

(Lasa Hs)                   



TENGKU MUHAMMAD HASBI ASH SHIDDIQY; Pelopor Fiqh Indonesia

Putra Lhokseumawe Aceh Utara kelahiran 10 Maret 1904 ini dikenal sebagai ulama yang multidisiplin. Segudang karyanya dalam Al Quran, hadis, tafsir, fikih telah menghiasi toko buku dan perpustakaan.Beliau adalah keturunan ke 37 dari Khalifah Abu Bakar Ashiddiqy. Maka nama Ashiddiqy melekat pada nama akhir putra pasangan Tengku Muhammad Husay dan Tengku Amrah.

Sosok yang dikenal disiplin dan suka bergaul ini tidak suka melihat orang yang malas membaca, menunda pekerjaan, dan memindah buku yang dibacanya. Sosok ulama ini memang peduli pada pendidikan. Beliau pernah menjadi guru pada HIS dan Mulo milik Muhammadiyah dan mengajar di Jadam Muntasik tahun 1937. Bahkan beliau mendirikan madrasah  Darul  ‘Irfan (1440), dan masih mengajar di Ma’had Imanul Mukhlis/ Darul Mu’alimin.

Kehadiranya di Yogyakarta tahun 1951 mulai membentuk nuansa keilmuan tersendiri. Beliau pindah ke Kota Pelajar ini bersama keluarganya sekitar 8 bulan sebelum PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri) berdiri , yang nantinya menjadi IAIN (Institut Agama Islam Negeri) dan terakhir menjadi UIN (Universitas Islam Negeri) Sunan Kalijaga. Kontribusi beliau dalam dunia pendidikan antara lain ditunjukannya dengan aktivitas beliau di beberapa lembaga pendidikan seperti PHIN (Pendidkan Hakim Islam  Negeri) yang kini menjadi MAN (Madrasah ‘Aliyah Negeri) I  Yogyakarta, Madrasah Mu’allimin Muhammadyah Yogyakarta, IAIN Yogyakarta, UII Yogyakarta, UNISSULA (Universitas  Islam Sultan Agung) Semarang. Beliau pernah menjabat sebaga Dekan Fakultas Syari’ah  IAIN Sunan Kalijaga (1960 – 1972),Dekan Fakultas Syari’ah Universitas Darussalam Aceh (1960 – 1962), Dekan  Fakultas Syari’ah Universitas Islam Sultan Agung Semarang (1967 -1975) Rektor Universitas Al Irsyad dan Rektor Univrsitas Cokroaminoto Surakarta.

Tokoh  ini memiliki integritas tinggi dan visioner. Semangat keilmuannya dibuktikan dengan karya-karyanya berupa buku antara lain; 1) Beberapa Rangkaian Ayat (1952), 2) Sejarah dan Pengantar Tafsir (1954), 3)  Tafsir Al Quran Al Majid al Nur    30 juz (1956), 4) Tafsir Al Bayan (1966),5)  Mu’jizat Al Quran (1966), 6) Beberapa Rangkuman Hadis (1952),7)  Sejarah dan Pengantar Hadis (1954); 8) Mutiara Hadis, 8 jilid (1954-1980); 8) Pokok-Pokok Dirayah Hadis,2  jilid (1958); 9) Problema Hadis Sebagai Dasar Pembinaan Hukum Islam (1964); 10) Koleksi Hadis-Hadis Hukum, 11 volume (1970-1976); 11) Rijalul Hadis (1970); 12) Sejarah Perkembangan Hadis (1973); 13) Sejarah Peradilan Islam (1950); 14) Tuntunan Qurban (1950); 15) Pedoman Sholat (1953); 16)  Hukum-Hukum Fikih Islam (1953); 17) Pengantar Hukum Islam (1953) ; 18) Pedoman Zakat (1953); 19) al Ahkam (Pedoman Muslimin)(1953);20) Pedoman Puasa; 21 Kuliah Ibadah; 22) Pemindahan Darah (Blood Transfusion); Dipandang dari Sudut Hukum Islam; 23)Ikhtisar Tuntunan Zakat dan Fitrah (1958); 24) Syariat Islam Menjawab Tantangan Zaman (1961); 25) Peradilan dan Hukum Acara Islam; 26) Poligami Menurut Syariat Islam; 27) Pengantar Ilmu Fikih (1967); 28) Baitul Mal (1968); 29) Zakat Sebagai Salah Satu Unsur Pembina Masyarakat Sejahtera (1969); 30) Azas-azas Hukum Tatanegara Menurut Syariat Islam (1969); 31) Sejarah Pertumbuhan dan Perkembangan Hukum Islam (1971); 32) Hukum Antar Golongan dalam Fikih Islam; 33) Perbedaan Mathla’ Tidak Mengharuskan Kita Berlainan pada Mulai Puasa (1971); 34) Ushul Fikih; 35) Ilmu Kenegaraan dalam Hukum Islam (1971); 36) Beberapa Problematika Hukum Islam (1972); 37) Kumpulan Soal Jawab (1973); 38) Pidana Mati dalam Syariat Islam; 39) Sebab-Sebab Perbedaan Faham Para Ulama dalam Menetapkan Hukum Islam ; 40) Pokok-Pokok Pegangan Imam-imam Mazhab dalam Membina Hukum Islam; 41) Pangantar Fikih Mu’amalah; 42) Fakta-fakta Keagungan Syariat Islam (1974); 43) Falsafah Hukum Islam (1975); 44) Fikih Islam Punya Daya Elastism Lengkap, Bulat dan Tuntas (1975); 45) Pengantar Ilmu Perbandingan Mazhab (1975); 46) Ruang Lingkup Ijtihad Para Ulama dalam Membina Hukum Islam (1975); 47) Dinamika dan Elastisitas Hukum Islam (1976); 48) Pedoman Haji.  
(Lasa Hs)





Senin, 20 Agustus 2018

Tatacara Penyembelihan dan Pendistribusian Daging Qurban

Qurban merupakan salah satu ibadah yang disunnahkan kepada Umat Islam. Ibadah ini biasanya dilakukan pada setiap tahun, yakni tanggal 10 - 13 Dzulhijjah. Meskipun dilakukan rutin setiap tahun, kadangkala masih ada satu dua hal yang perlu diperbaiki, baik dalam proses penyembelihan, maupun proses pendistribusian daging qurbannya.

Berikut beberapa gambar yang diambil dari Kementrian Pertanian, semoga bisa bermanfaat





Pamitan Mahasiswa PKL dari Perpustakaan Unisa Yogyakarta

Pada bulan Juli 2018, Perpustakaan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta (UNISA) menerima 2 orang mahasiswa dari Universitas Negeri Islam (UIN) Raden Fatah Palembang untuk melakukan kegiatan Praktik kerja lapangan (PKL). Dua mahasiswa tersebut adalah Najmi dan Berti dari Jurusan Ilmu Perpustakaan. Kegiatan PKL dilakukan kurang lebih selama 1 bulan dari tanggal 18 Juli 2018 sampai dengan tanggal 15 agustus 2018.
PKL menjadi ajang yang saling menguntungkan. Bagi mahasiswa, PKL menjadi ajang untuk menambah ilmu pengetahuan dan menerapkan teori yang diperoleh di bangku kuliah. Bagi Perpustakaan Unisa Yogyakarta, adanya PKL mahasiswa sebagai salah satu solusi dalam membantu menyelesaikan target-target kegiatan perpustakaan. Kegiatan PKL juga sangat membantu perpustakaan dalam menyiapkan akreditasi Program Studi yang ada di UNISA. Rabu, 15 Juli 2018 telah dilakukan pamitan oleh Mahasiswa PKL untuk kembali ke kampus asalnya. Pamitan diakhiri dengan saling bertukar cendera mata, antara mereka dengan Perpustakaan UNISA Yogyakarta, yang diwakili oleh Irkhamiyati, M.IP., selaku Kepala Perpustakaan Unisa Yogyakarta.

Irkhamiyati, M.IP






Kamis, 09 Agustus 2018

Abdurrahman ; Pejuang Muhammadiyah


          Dermawan Pekajangan ini telah menanam bibit dan menumbuhsuburkan Muhammadiyah di daerah Pekalongan dan sekitarnya. Beliau memiliki nama kecil Mutaman lahir tahun 1879 M di Pekajangan Kedungwuni Pekalongan putra H. Abdulkadir.
Pengetahuan agamanya diperoleh dengan mengaji pada kiyai-kiyai dan dari satu pondok pesantren ke pondok pesantren yang lain. Diantara para kiyai itu adalah Kiyai Amin (Ponpes Banyuurip), Kiyai H.Agus (Ponpes Kenayagan), Kiyai Abdurrahman (Ponpes Wonoyoso), dan Kiyai H. Idris (Ponpes Jamsaren Solo).
            Setelah pengetahuan agama Islam dianggap cukup, kemudian beliau menyelenggarakaan pengajian-pengajian dari satu masjid ke masjid lain, dari daerah satu ke masjid lain.  Bahkan di Pekajangan beliau mendirikan pengajian bernama ‘Ambudi agama”. Dalam pengajian ini diberi pelajaran yang saat itu dikenal dengan Ngakaid 50 dan Sifat 20 Bakal Weruh Gusti Allah”. Pengajian ini mendapat respon baik dari masyarakat dan pesertanya semakin hari semakin banyak.
            Namun dalam perjalanannya, pengajian ini tidak bisa berjalan mulus karena dilarang oleh pemerintah kolonial saat itu. Pelarangan ini katanya karena adanya undang-undang Guru Ordonansi. Menghadapi masalah ini, beliau mulai menyadari perlunya organisasi pergerakan Islam. Maka beliau mulai berpikir untuk memelajari organisasi yang bernama Muhammadiyah di Yogyakarta.
            Keinginan yang luhur itu dicegah oleh temannya yang bernama Chumasi Hadjosubroto dan teman-teman lain. Mereka mengatakan bahwa gerakan Muhammadiyah di Yogyakarta itu adalah gerakan Kristen. Namun demikian, berkat keinginan kuat dan dimotivasi oleh teman akrabnya yang lain yakni Kiyai Asmu’i, beliau pergi ke Yogyakarta ditemani oleh Kiyai Asmu’i.
            Setibanya di Yogyakarta, mereka berdua disambut baik oleh jajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sejak itu, lalu PP Muhammadiyah mengirim da’i-da’inya ke Pekajangan diantara mereka adalah H. Muchtar, H. Abdulrahman Machdum, H. Wasool Ja’far. Kehadiran mereka ke Pekajangan untuk menyiarkan Islam, mencari solusi terhadap masalah yang dihadapi, dan untuk mngembangkan Muhammadiyah. Kemudian dalam perkembangannya pada tanggal 15 November 1922 berdirilah Muhammadiyah Cabang Pekajangan.
            K.H. Abdurrahman adalah seorang pengusaha sukses dan memiliki penggilingaan padi. Beliau seorang dermawan dan selalu menyeponsori kegiatan-kegiatan Muhammadiyah seperti pengajian, rapat-rapat, pendirian sekolah, masjid dan lainnya. Kedermawanan ini tidak saja hanya kepada Muhammadiyah, bahkan kepada siapapun yang menginginkannya. Bahkan kepada pribadi-pribadi aktifis Muhammadiyah sering dipanggil dan diberi uang. Kadang-kadang diantara mereka ada yang terkejut dan menanyakan ini uang apa ?. Beliau menjawab “wis ta tompo wae, nggo tuku rokok”.
            Apabila ada orang yang kira-kira tidak setuju dengan Muhammadiyah, maka K.H. Abdurrahman tidak langsung membantahnya. Mereka itu diajak dialog dan selalu dikemukakan agar orang itu kembali memikir ulang tentang sikap dan pendapatnya itu. K.H. Abdurrahman tidak langsung membantah apalagi marah-marah. Orang itu diajak ngomong baik-baik. Orang-orang yang kurang setuju dengan Muhammadiyah itu selalu didekati dengan ramah dan mereka itu sering diberi sarung. Dengan cara pendekatan ini, maka lama kelamaan Muhammadiyah berkembang pesat di Pekajangan Pekalongan.
            Berdirinya Muhammadiyah Cabang Comal memiliki kisah tersednriri. Di Comal, banyak kiyai-kiyai yang tidak setuju dengan Muhammadiyah. Hanya beberapa orang yang menjadi anggota Muhammadiyah. Karena mereka merasatercepit, maka hal ini disampaikan kepada K.H. Abdurrahman. Kemudian beliau memerintahkan agar orang-orang Muhammadiyah Comal menyembelih kambing untuk menjamu para koyai di sana. Setelah kambing itu masak, maka diundanglah para kiyai dan tokoh masyarakat Comal. Saat itu K.H., Abdurrahim berkesempatan menjelaskan Muhammadiyah kepada mereka. Setelah mendengar p-enjelasan tentang Muhammadiyah dari K.H.Abdurrahman, maka sebagian besar menyatakan diri sebagai anggota Persyarikatan Muhammadiyah dan dibukalah Cabang Muhammadiyah Comal.
            K.H, Abdurraman wafat pada hari Kamis Legi tanggal 3 Februari 1966 pada usia 87 tahun dan isterinya wafat seminggu sebelumnya yakni wafat pada hari Kamis Wage tanggal 27 Januari 1966 dalam usia 78 tahun. Beliau telah meninggalkan aset besar bagi Muhammadiyah baik nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan, sekolah-sekolah, masjid, mushala, gedung Muhammadiyah dan gedung ‘Aisyiah, madrasah Muallimin yang berdiri megah di Pekajangan. Kitab-kitabanya yang banyak itu diserahkan ke Majleis Tabligh. Disamping itu ada beberapa nasehat yang bisa dijadikan pelajaran kita semua antara lain:
1. Kepada pemimpin organisasi (Muhammadiyah): Kalau kamu marah dirumah, jangan dibawa di rapat/sidang. Kalau kamu ribut di rapat//sidang jangan dibawa keluar sidang
2. Orang Islam dapat bersatu hanya dengan mendalami dan mengamalkan pelajaran yangdiajarkan Al Quran dan Hadits
3. Ajarlah maanusia dengan ajaran-ajaran Islam yanga aamurni dan jangan jemu, karena engkau akan ditagih/dimintai tanggung jawab oleh Allah kelak di hari akhirat
4. Jangan suka menyiar-nyiarkan ‘aib orang lain, selidikilah ;aibmu kemudian kamu perbaiki sebelum kamu terlambat
5. Bantulah sekuat tenagamu tentang pendidikan anak-anak, karena mereka penerus angkatan pembangun umat mendatang
6. Bermallah dengan hartamu dan ilmumu dan jangan jemu, karena kebanyakan orang itu fitrahnya suka meniru yang baik.
 Lasa Hs

Abdul Kahar Mudzakkir – Anggota Perumus Dasar Negara


      
Putra asli Kotagede Yogyakarta ini lahir pada tahun 1907. Ia adalah putra H.Mudzakkir seorang pedagang dan tokoh Muhammadiyah di Kotagede. Kahar Mudzakkir yang pernah menjadi Rektor Universitas Islam Indonesia/UII  Yogyakarta itu juga pernah menjadi Direktur Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Yakni sekolah pengkaderan Muhammadiyah yang sampai kini tetap eksis. Beliau juga pernah menjadi pengurus Majelis Pemuda  dan Majelis PKU Muhammadiyah.
            Dalam dunia politik, beliau pernah duduk dalam Panitia Sembilan bersama Soekarno, Muhammad Hatta, Muhammad Yamin, A.A.Maramis, Wahid Hasyim , Achmad Soebardjo, Abikusno Tjokrosujoso, dan Agus Salim. Mereka itu bertugas merumuskan dasar Negara dalam rangka persiapan kemerdekaan Indonesia.
            Saat itu disusunlah pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang dalam satu pasalnya terdapat kata-kata “Ketuhanan dengan mewajibkan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Saat itu Kahar Mudzakakir (Muhammadiyah) dan Wahid Hasyim (Nahdhatul Ulama) mempertahankan pernyataan  tersebut. Namun demikian memang harus diakui dan itu suatu realita, bahwa bangsa kita terdiri dari berbagai suku, bahasa, dan agama. Maka sebagian warga negara dari bagian Timur merasa keberatan atas kalimat tersebut. Lalu Bung Hatta sebagai Wakil Presiden saat itu melobi para tokoh Islam, dan akhirnya mereka memahami masalah tersebut. Akhirnya butir pertama menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa
Lasa Hs


Rabu, 08 Agustus 2018

GELIAT PERPUSTAKAAN PTMA


-         Perpustakaan UM Sukabumi
Awal Agustus 2018 ini Perpustakaan UM Sukabumi menyelengarakan pertemuan yang diikuti oleh perpustakaan Korwil FPPTMA Jawa Barat.
Pertemuan ini membahas langkah-langkah bersama untuk memajukan perpustakaan PTMA.Dalam sambuan tertulis, Lasa Hs selaku Ketua FPPTMA mengharapkan agar pada tahun  2017 – 2021 kegiatan Korwil diarahkan pada    peningkatan repositori dan pengembangan jaringan antarperpustakaan PTMA. Hal ini dimaksudkan agar pemikiran sivitas akademika PTMA  dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas melalui pengelolaan dan sosalisasi repositori. Penguatan jaringan  antara lain dengan pemilikan web mandiri (tidak gabung dengan lembaga induk). Jaringan ini dapat meningkatkan nilai akreditasi (AIPT,prodi dan akreditasi perpustakaan). Pertemuan ini hendaknya ditindaklanjuti dengan penyelenggaraan diklat pembuatan web dan diklat pengelolaan repositori dengan Eprint.
-         Perpustakaan UM Magelang
Perpustakaan UM Magelang bekerjasama dengan Prodi PDMI  FAI UM Magelang menyelengarakan seminar “Library Management to Better Education” tg. 4 Agustus 2018. Pertemuan ilmiah ini diikuti 40 peserta dari mahasiswa Prodi PDMI FAI UM Magelang, kepala perpustakaan MI Muhammadiyah Kab Magelang. Materi yang dsampaikan antaralain Manajemen Perpustakaan  MI (Lasa Hs, UMY,( Perpustakaan  Masa Kini (Jamzanah, UMM), Pengoahan Bahan Pustaka & Pengenalan SLIMS (Sulistya, UMM), Praktek penyusunan visi, misi, tujuan, program kerja (Atin,UMM). Pertemuan itu akan ditidaklanjuti dengan penyelenggaraan diklat pengolahan dan penggunaan SLIMS .Kemudian seusai seminar dibentuk pengurus Forum Perpustakaan Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Kabupaten Magelang dengan 9 orang anggota pengurus.
Semoga langkah ini diikuti perpustakaan PTMA lain dalam rangka memajukan perpustakaan sekolah Muhammadiyah sebagai adik kandung PTMA>
-         Perpustakaan UM Yogyakarta
Dalam rangka peningkatan kemampuan pustakawan PTMA, Perpustakaan UMY menyelenggarakn workshop terbatas tentang kiat jitu presentasi. Kegiatan yang berlangsung tanggal  6Agustus 2018 itu diikuti pustakawan UMY, UNISA, UAD,UMS, UM Purwokerto, UM Purworejo, dan STIKES Muhammadiyah Gombong. Pada saat itu juga dilakukan paktek langsung presentasi berbahasa Inggris oleh pustakawan UMY yang akan presentasi di Thailand dan Kuala Lumpur
-         Perpustakaan UM Sumatera Utara
Dalam rangka akrediasi Perpustakaan UM Sumatra  Utara Medan, dalam waktu dua hari (8 – 9 Agstus 2018) Lasa Hs diundang ke UMSU untuk membimbing dan sekaligus simulasi akreditasi Perpustakaan UMSU.
Akreditasi akan dilaksanakan tanggal 13 Agstus 2018.
-         Perpustakaan UM Surakarta
Perpustakaan UM Surakarta juga menunjukkan kemajuannya dalam membina perpustakaan sekolah Muhammadiyah di wilayah SoloRaya. Kegiatan ini antara lain dalam bentuk penyelenggaraan Diklat PerpustakaanSekolah Muhammadiyah Solo Raya yang dikuti 45peserta dari berbagai sekolah Muhammadiyah. Materi yang disampaikan antara lain ; Manajemen Perpustakaan Sekolah, Pengolahan, dan Pengenalan SLIM (Staf Perpustakaan UM Surakarta).

Senin, 06 Agustus 2018

Himbauan Sumbangan Gempa Lombok

PERPUSTAKAN & HMJ PGMI UMMAGELANG ADAKAN SEMINAR & PELATIHAN REGIONAL PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN MADRASAH IBTIDAIYAH


Perpustakaan selalu diidentikkan dengan buku dan penjaga perpustakaan yang  tidak ramah. Stereotype seperti itu sampai saat ini masih tertanam di benak masyarakat luas. Di pusat pendidikan seperti Sekolah dan Perguruan Tinggi, perpustakaan memiliki peran yang cukup penting dalam mendukung proses pembelajaran sivitas akademika. Namun, di beberapa sekolah terutama sekolah dasar maupun Madrasah Ibtidaiyah, keberadaan perpustakaan masih dianggap sebagai  pelengkap saja. Sehingga, perpustakaan masih terbengkalai dan tidak dikelola sebagaimana mestinya. Ketidakpahaman pengelola perpustakaan yang kebanyakan adalah guru mungkin menjadi faktor terbengkalainya perpustakaan sekolah.
Oleh sebab itu, HMJ Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah UMMagelang menyelenggarakan Seminar dan Pelatihan Pengelolaan Perpustakaan Madrasah Ibtidaiyah dengan tema “Library Management for Better Education”. Peserta dalam kegiatan tersebut merupakan guru maupun pengelola perpustakaan Madrasah Ibtidaiyah yang ada di Kabupaten Magelang. Acara dibuka oleh Wakil Dekan Fakultas Agama Islam,  Drs. Kanthi Pamungkas Sari, M.Pd.
Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber yaitu Lasa HS yang merupakan Kepala Perpustakaan UMY sekaligus Ketua Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (FPPTMA). Beliau menyampaikan materi tentang manajemen perpustakaan Madrasah Ibtidaiyah mulai dari perencanaan sampai pada evaluasi program kerja. Pengetahuan tentang akreditasi perpustakaan sekolah juga beliau sampaikan agar para kepala sekolah maupun pengelola perpustakaan paham pentingnya perpustakaan dalam menunjang kemajuan sebuah sekolah. Pada kesempatan tersebut, tiga pustakawan Perpustakaan UMMagelang yaitu Jamzanah Wahyu Widayati, S.I.Pust, Sulistyo Nur Ginanjar, dan Atin Istiarni, SIP juga menjadi pemateri untuk pengelolaan teknis bahan pustaka.
Seminar & Pelatihan diikuti oleh 60 pengelola perpustakaan madrasah ibtidaiyah serta 20 mahasiswa PGMI UMMagelang.  Acara dimulai pada pukul 09.00 dan berakhir pada pukul 15.30 WIB. Pada kesempatan tersebut juga telah terbentuk Forum Komunikasi Pengelola Perpustakaan MI Kabupaten Magelang sekaligus struktur pengurus dengan Kepala Perpustakaan UMMagelang sebagai pembinanya. Melalui forum tersebut diharapakan dapat memajukan perpustakaan madrasah ibtidaiyah khususnya di Kabupaten Magelang.