Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Minggu, 30 September 2018

PERUBAHAN MENUJU KEMAJUAN Tulisan - 1 Makna Perubahan


Perubahan pada hakikatnya adalah transformasi dari keadaan lalu menuju keadaan sekarang, dari keadaan sekarang menuju keadaan yang akan datang. Kalau keadaan sekarang berubah menjadi lebih baik, berarti suatu kemajuan dan  keberhasilan. Apabila keadaan sekarang sama (tidak berubah) dengan keadaan yang lalu, maka berarti suatu kerugian karena stagnan.Apabila keadaan sekarang berubah menjadi lebih buruk dari keadaan yang lalu, maka berarti suatu  kecelakaan bahkan malapetaka.
              Adanya perubahan sebagai tanda adanya  kehidupan dan perkembangan.Maka apabila tidak terjadi perubahan, maka berarti bahwa kehidupan itu mandeg dan tidak berkembang. Namun demikian pengalaman empiris menunjukkan bahwa adanya usaha perubahan sering  mampu meningkatkan kinerja lembaga lebih maju secara  pesat.Perlu juga  disadari bahwa banyak pula usaha perubahan, namun kenyataannya tidak berhasil. Hal ini kadang menimbulkan keragu-raguan pada diri orang/kelompok dan orang/kelompok  lain untuk berusaha berubah.
Perubahan merupakan keniscayaan yang perlu dilakukan terus menerus dalam rangka menuju kemajuan. Maka logis bila Allah menyiratkan perlu perubahan dalam Q.S. Ar Ra’d: 11 yang artinya:” Sesungguhnya Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri”. Merubah pada hakekatnya meningkatkan kebaikan dan menjauhi kegiatan-kegiatan yang merusakkan. Oleh karena itu Rasulullah Saw menegaskan untuk merubah kemunkaran dengan kekuasaan, lisan, maupun diam (tidak melakukan kejahatan). Perintah ini ditegaskan dalam salah satu hadist yang diriwayatkan oleh Abu Sa’ad Al Khudhri yang artinya: Apabila kamu sekalian menyaksikan/mengetahui kemungkaran, hendaknya dirubah dengan tangan (kekuasaan). Apabila kamu tidak mampu, maka hendaknya dirubah dengan lisan (nasehat, tulisan). Apabila dengan lisan ternyata tidak mampu, maka rubahkan dengan hati, yang demikian itu adalah selemah-lemah iman”.  Memahami hadist ini, sebagian ulama menafsirkan bahwa yang dimaksud dengan tangan (kekuasaan) yang dilakukan oleh para pemegang kekuasaan. Kemudian yang dimaksud dengan lisan dilakukan oleh ilmuwan/ulama, sedangkan dengan hati dapat dilakukan oleh masyarakat pada umumnya. Perubahan dengan hati artinya minimal mencegah diri agar tidak melakukan tindak kejahatan.
              Perpustakaan sebagai lembaga yang selalu berubah (library is the growing organism) harus selalu melakukan perubahan. Perubahan ini sesuai tingkat kebutuhan informasi masyarakat. Namun demikian perlu disadari bahwa untuk menuju perubahan selalu dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal adalah adanya tekanan global dan semakin ketatnya kompetisi. Faktor internal berasal dari internal perpustakaan itu sendiri, dimana manajemen/kepala perpustakaan harus bisa mengendalikannya.
              Oleh karena itu dalam upaya merubah dan mengembangkan pengelolaan dan layanan perpustakaan diperlukan manajemen/kepemimpinan  yang profesional. Yakni manajemen yang memiliki pemahaman visi (the need for vision) , etika (the need for ethics) , keberagaman budaya (the need for cultural diversity), dan pelatihan (the need for training) (Stoner dan Freeman (1992: 16)
1)      The Need for vision
Manajer/kepala perpustakaan akan membawa perubahan dan pengembangan yang signifikan apabila memiliki visi yang jelas. Oleh karena itu kepala perpustakaan harus mampu melihat jauh ke depan tentang perpustakaan yang dipimpinnya dan tujuan perpustakaan yang akan dicapai. Visi ini akan menjadi acuan utama semua staf perpustakaan itu. Tanpa adanya visi yang jelas dari kepala perpustakaan, maka sumber daya manusia perpustakaan akan melakukan tugas dan pekerjaan yang tidak terarah. Sebab sang komandan tidak bisa membuat perencanaan jangka panjang dan tidak mampu memberikan pengarahan. Sebab kepala perpustakaan itu tidak memiliki ilmu tentang perpustakaan dan buta manajemen. Jadinya, perpustakaan asal jalan meskipun jalan di tempat.
Oleh karena itu, kalau suatu  perpustakaan ingin maju, maka tidak bisa penugasan sebagai kepala perpustakaan asal tunjuk. Cara ini tidak akan membawa perubahan apa-apa. Bahkan akan menjadi masalah. Model seperti  ini perlu dihindarkan.
2)      The Need for ethics
Dalam memenej perpustakaan, diperlukan pemahaman etika. Baik etika lembaga, etika profesional kepustakawanan, maupun  etika komunikasi. Tanpa pemahaman ini, perjalanan kepemimpinan perpustakaan akan terhambat oleh masalah moral. Maka tak heran kalau terjadi pemogokan kerja, protes tersembunyi, bahkan stres terselubung. Hal ini antara lain disebabkan kepala perpustakaan tidak memahami ketiga etika tersebut. Maka dalam melangkah mereka cenderung trunyak trunyuk.
3)      The Need for cultural diversity
Orang-orang yang bekerja di perpustakaan terdiri dari berbagai macam tingkat pendidikan, suku, agama,paham, dan budaya. Faktor ini  harus dipahami oleh manajemen. Untuk itu, manajemen harus memiliki komitmen kuat untuk memberikan perlakuan yang adil tanpa memandang ras, suku, aliran politik, budaya, maupun jenis kelamin. Sebab keberagaman budaya (cultural diversity) ini merupakan kenyataan dalam kehidupan bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat.
4)      The Need for training
Dalam memenej organisasi, lembaga, maupun perpustakaan diperlukan ketrampilan manajemen tersendiri. Oleh karena itu kepala perpustakaan perlu menyadari akan pentingnya pendidikan lanjut, magang,  pelatihan di dalam organisasi/perpustakaan dan di luar perpustakaan. Pelatihan manajemen ini dilakukan oleh kepala perpustakaan dan staf perpustakaan.
Pelatihan adalah keseluruhan kegiatan untuk memberi, memeroleh, meningkatkan, serta mengembangkan kompetensi kerja, produktivitas, disiplin, sikap, dan etos kerja pada tingkat ketrampilan dan keahlian tertentu sesuai dengan jenjang dan kualifikasi jabatan dan pekerjaan (Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 dalam Lasa Hs, 2017)
             
            Lasa Hs
            (Bersambung)

Jumat, 28 September 2018

PEMBELAJARAN BAHASA ARAB



Judul        : Bahasa Arab di Mata Santri ABG
Penulis     : Sri Lestari Linawati
Penerbit   : Yogyakarta: Titah Surga, 2018
Tebal        : 190 hlm
Bahasa Arab merupakan bahasa istimewa yang memiliki kelebihan dari bahasa-bahasa lain. Diantara kelebihan itu adalah bahwa bahasa Arab sebagai bahasa Al Quran, bahasa ibadah (shalat), bahasa ilmu pengetahuan umat Islam, memiliki grammar lengkap, dan rasa (dzauq) bahasa yang tinggi.
Kami menyambut baik penerbitan buku yang membahas kedudukan bahasa Arab dalam Islam, kedudukan bahasa Arab dalam pengembangan ilmu pengetahuan, dan kedudukan bahasa Arab dalam percaturan dunia. Buku ini memang semula sebagai tesis dan agar pemikiran ini dipahami masyarakat, maka diterbitkan dalam bentuk buku. Hal ini merupakan suatu keberanian dan kesadaran berbagi. Apalah artinya tesis dan disertasi yang mungkin bernilai suma cumlaude, kalau toh hanya berfungsi sebagai dokumen yang disimpan di lemari besi. Apabila khawatir dijiplak, kini sudah ada program deteksi plagiasi. Ketakutan dishare itu justru jangan-jangan tesis atau disertasi itu hasil jiplakan.
Penulisan buku semestinya menjadi kesadaran para intelektual dan bukan sekedar keterpaksaan. Penulisan artikel maupun buku kadang sekedar mengejar bonus terindeks Scopus, kenaikan jabatan, proyek, penelitian, dan lainnya. Maka tak heran bila penulisan buku di negeri ini masih rendah bila dibanding dengan penulisan buku di negera lain.
Buku pertama karya Sri Lestari Linawati ini semoga diikuti penerbitan buku berikutnya. Semoga yang senior malu pada yang yunior. Kiranya perlu disadari bahwa penulisan merupakan pelestarian ilmu dan nilai. Ilmu dan nama yang “tidak ditulis” akan dilupakan sejarah. Mungkin generasi mendatang tidak kenal kita bahwa kita pernah hidup di dunia ini. Hal ini gara-gara tidak meninggalkan jejak, rekaman, tulisan yang baik. Jangan sampai ilmu dan pengalaman kita terkubur bersama jasad kita.

Lasa Hs.

Rabu, 26 September 2018

DAUZAN FAROUK: PAHLAWAN LITERASI DI ATAS PUTARAN RODA SEPEDA

Kalau dulu saya menjadi pejuang mengangkat senjata untuk membela negeri tercinta ini, maka sekarang saya ‘mengangkat’ buku dan majalah bekas yang sudah tidak dipakai orang-orang. Saya minta, saya sampuli rapi-rapi dan saya edarkan bergilir, keliling dari satu rumah ke rumah lainnya, dari satu asrama ke asrama lainnya, dari satu kantor ke kantor lainnya dengan sepeda tua sahabat saya itu, sepanjang ada yang mau membaca. Mudah-mudahan ini menjadi amal jariyah saya sekaligus bentuk ‘mengangkat senjata’ yang bisa Mbah lakukan. Mencerdaskan orang Yogya, melalui aktivitas membaca.” -Mbah Dauzan Farouk-

Bergaul adalah berbahasa. Berbahasa tanpa ada kemampuan memahami dan memahamkan tidak akan menciptakan pergaulan yang bermakna, pergaulan yang gagal berkomunikasi. Dalam berkomunikasi selain menuntut penguasaan bahasa, juga menuntut adanya kemampuan yang lain. Kemampuan itu menyimak, berbicara, membaca serta menulis, berbicara, berhitung, dan paling penting adalah memecahkan permasalahan keseharian menggunakan keahlian tertentu. Kemampuan itu sekarang disebut dengan istilah literasi.

Literasi tidak hanya berkait dengan kegiatan membaca menulis saja, tetapi telah berkembang ke cakupan pengetahuan seseorang berkomunikasi di dalam masyarakat. Di era kebangkitan teknologi saat ini, perangkat komunikasi mengalami lompatan cukup jauh, mampu menimbulkan kesenjangan antara kemampuan menggunakan perangkat dan keahlian berkomunikasi itu sendiri. Dampak negative yang terjadi tidak hanya berhenti pada kegagalan komunikasi, lebih jauh bahkan tidak jarang tercipta konflik yang berujung pada kasus hokum. Tidak tanggung-tanggung, bahkan pemerintah sampai mengundangkannya menjadi Undang-Undang IT.

Kondisi yang sama sebenarnya terus terjadi pada situasi dan kondisi jaman yang terus berubah. Saat ini kendalanya bukan lagi ketidakmampuan membaca dan menulis, tetapi lebih jauh dari itu yaitu kendala kemampuan menggunakan teknologi dan keterbatasan atau ketidaktahuan keahlian dalam berkomunikasi.

Kondisi yang dapat dikatakan memiliki kemiripan dengan situasi ini juga terpapar pada masa KHA Dahlan. Hanya kendalanya adalah masih rendahnya kebiasaan membaca disebabkan oleh berbagai kondisi. Dapat disebabkan memang tidak atau belum mampu membaca, keterbatasan akses bahan bacaan, atau memang tidak tersedianya bahan bacaan itu sendiri. Akibatnya adalah kesenjangan dan ketidaksiapan masyarakat menghadapi perkembangan jaman. KHA Dahlan bahu membahu dengan istrinya, Siti Walidah, menggerakkan masyarakat laki-laki dan perempuan, anak-anak, muda-mudi sampai yang sudah tua, menggerakkan literasi masyarakat menghadapi situasi jamannya. Gerakan itu dimulai dari Kauman, satu Kampung kecil yang melahirkan banyak tokoh bahkan Pahlawan Nasional. Kampung kecil yang menjadi pelopor gerakan literasi lebih dari seabad yang lalu menginspirasi hingga saat ini. Salah satu dari deretan tokoh-tokoh literasi itu adalah Mbah Dauzan Farouk.

Pria yang dilahirkan pada tahun 1925 di kampung Kauman ini, tentunya mengalami sendiri peperangan fisik bangsa Indonesia dalam merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan. Di masa mudanya, dengan gagah berani ikut memanggul senjata, berperang mengusir para penjajah dari bumi pertiwi. Rela berkorban demi agama, bangsa dan negara, menegakkan kedaulatan, mengangkat harkat, mensejajarkan martabat di tengah bangsa-bangsa yang merdeka.

Semangat dan keikhlasan itu melekat pada diri veteran perang ini di masa kemerdekaan. Kemerdekaan dan usia pensiun tidak dipakainya untuk bersantai apalagi berpangku tangan. Semangat dan inspirasi masa kecilnya ketika membantu ayahnya, H. Muhammad Bajuri dalam mengelola Taman Pustaka Muhammadiyah, pada tahun 1989 mendirikan MABULIR singkatan dari Majalah dan Buku Keliling Bergilir.

Uang pensiun sebagai veteran ditambah tabungan hajinya dihabiskan untuk membeli buku-buku, majalah dan mengelola perpustakaan bergilir yang didirikannya. Bukan Dauzan Farouk jika hanya duduk menunggu pembaca datang membuka buku koleksinya. Dengan sepeda onthel kesayangannya, dihantarkan buku-bukunya berkeliling mengunjungi para pembacanya.

MABULIR didirikannya dengan semangat untuk ikut mencerdaskan masyarakatnya, mengajak membaca, membentuk sikap literal bangsanya. Dipilihnya buku-buku yang bernas dan bermanfaat dengan membacanya terlebih dahulu sebelum dipinjamkannya dari satu tangan ke tangan yang lainnya (secara bergiliran).

Buku-buku yang disiapkannya setiap sehabis Subuh, diperbaikinya yang rusak, dipilihnya yang sesuai dengan sasaran yang akan dikunjunginya. Siang menjelang sore hari, dengan sepeda atau naik bis kota, dibawanya bahan bacaan itu dipinjamkan. Pembacanya mulai dari anak-anak, siswa-siswa di sekolah, remaja masjid, karang taruna, dan orang dewasa. Didatanginya pedagang-pedagang pasar, pangkalan-pangkalan becak, sampai kelompok-kelompok pengajian. MABULIR semakin dikenal, ditunggu, dan memberikan manfaatnya meminjamkan majalah dan buku bacaan.

Perjuangan Dauzan Farouk melalui MABULIR ini mendapatkan perhatian dari banyak pihak. Berragam bantuan dan simpati juga penghargaan diberikan kepada beliau, walaupun bukan itu yang diharapkannya. Tahun 2005 Perpustakaan Nasional memberikan anugerah Nugra Jasadarma Pustaloka, disusul apresiasi Paramadina Award pada tahun yang sama. Tidak hanya lembaga dalam negeri, dari lembaga luar negeri pun ikut memberikan apresiasinya yaitu lembaga sosial dari Massachussetts, Cambridge yaitu Lifetime Achievement Award dari Sabre Foundation pada tahun 2007.

Bukan penghargaan yang beliau harapkan, bukan pujian yang beliau asakan. Semangat mencerdaskan lingkungannya, kesabaran berkeliling tanpa pamrih duniawi, berkorban tidak hanya harta tetapi juga fisik tuanya. Inspirasi untuk mengajak masyarakat menjadi cerdas, mendidik lingkungan berkehidupan yang bermartabat melalui literasi. Hidup Bapak Dauzan Farouk, pahlawan literasi. (ries)

Selasa, 25 September 2018

Kala Soekarno Bertemu Kiai Dahlan

suaramuhammadiyah.com  |  Tanda bangunan cagar budaya dari Pemkot Surabaya berupa plakat berwarna kuning keemasan dipasang di dinding bagian depan rumah. Plakat cagar budaya tersebut juga bertuliskan “Kediaman Pahlawan Nasional Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto sebagai pimpinan Sarekat Islam (SI). Di tempat ini para kader pejuang bangsa digembleng, antara lain Bung Karno  yang pernah kos di tempat ini, Jalan Peneleh VII/29-31 Surabaya”. Bung Karno  (Soekarno) sendiri lahir 6 Juni 1901 di Surabaya.

Di tempat ini pula, pertama kali Soekarno mendapat pencerahan tentang agama dari Sang Pencerah KH Ahmad Dahlan. “Dalam suasana yang remang-remang itu datanglah Kiai Ahmad Dahlan di Surabaya dan memberi tabligh mengenai Islam. Bagi saya (pidato) itu berisi regeneration dan rejuvenation daripada Islam. Sebab, maklum, ibu meskipun beragama Islam (tapi) berasal dari agama lain, (beliau) orang Bali. Bapak meskipun agama Islam, beliau adalah beragama teosofi. Jadi (orangtua) tidak memberi pengajaran kepada saya tentang agama Islam.” Kata Soekarno di depan Muktamirin Muktamar Setengah Abad 1962 di Jakarta.

Lebih lanjut Soekarno menyatakan, “Nah, suasana yang demikian itulah, saudara-saudara, meliputi jiwa saya tatkala saya buat pertama kali bertemu dengan Kiai Haji Ahmad Dahlan. Datang Kiai Haji Ahmad Dahlan yang sebagai tadi saya katakan memberi pengertian yang lain tentang agama Islam. Malahan ia mengatakan, sebagai tadi dikatakan oleh salah seorang pembicara: ”Benar, umat Islam di Indonesia tertutup sama sekali oleh jumud, tertutup sama sekali oleh khurafat, tertutup sekali oleh bid’ah, tertutup sekali oleh takhayul-takhayul. Dikatakan oleh Kiai Dahlan, sebagai tadi dikatakan pula, padahal agama Islam itu agama yang sederhana, yang gampang, yang bersih, yang dapat dilakukan oleh semua manusia, agama yang tidak pentalitan, tanpa pentalit-pentalit, satu agama yang mudah sama sekali.”

Karena ketertarikannya dengan ajaran KHA Dahlan, tidak dilewatkannya kesempatan untuk mendengarkan tabligh dari Sang Pencerah. “Nah, dengan demikianlah makin kuatlah, saudara-saudara, keyakinan saya bahwa ada hubungannya erat antara pembangunan agama dan pembangunan tanah air, bangsa, negara, dan masyarakat. Maka oleh karena itu, saudara-saudara, kok makin lama makin saya cinta kepada Muhammadiyah. Tatkala umur 15 tahun, saya simpati kepada Kiyai Ahmad Dahlan, sehingga mengintil kepadanya.”

Namun ia menjadi anggota dan sekaligus pengurus Muhammadiyah baru 22 tahun kemudian setelah pertemuannya pertama dengan KHA Dahlan. Saat itu, ia sedang dibuang oleh Belanda  ke Bengkulu. Soekarno resmi masuk menjadi anggota Muhammadiyah pada tahun 1938. Bersama Hasan Din, di Bengkulen Soekarno berpartisipasi aktif dalam kegiatan dakwah Muhammadiyah. Yang kemudian menjadi mertua beliau karena ayah dari Fatmawati, seorang perempuan yang dinikahi Soekarno.

Tahun 1946 meminta jangan dipecat dari Muhammadiyah. Ini karena perbedaan paham politik, orang Muhammadiyah umumnya berafiliasi kepada Masyumi sedangkan Soekarno adalah pendiri PNI (Partai Nasional Indonesia). Baginya sekali Muhammadiyah (dalam paham agama), tetap Muhammadiyah.

Kata-katanya mengenai kecintaannya pada Muhammadiyah patut kita simak: “Nah, dengan demikianlah makin kuatlah, saudara-saudara, keyakinan saya bahwa ada hubungannya erat antara pembangunan agama dan pembangunan tanah air, bangsa, negara dan masyarakat. Maka oleh karena itu, saudara-saudara, kok makin lama makin saya cinta kepada Muhammadiyah. Tatkala umur 15 tahun, saya simpati kepada Kiai Ahmad Dahlan, sehingga mengintil kepadanya, tahun ’38 saya resmi menjadi anggota Muhammadiyah, tahun ’46 saya minta jangan dicoret nama saya dari Muhammadiyah: tahun ’62 ini saya berkata, ”moga-moga saya diberi umur panjang oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala, dan jikalau saya meninggal, supaya saya dikubur dengan membawa nama Muhammadiyah atas kain kafan saja.”• (eff)

Kamis, 20 September 2018

MENGEMBANGKAN POTENSI PENULISAN KEPUSTAKAWANAN (Tulisan – 6)


Karya unggulan
            Orang selalu ingin unggul dari yang lain dalam beberapa hal. Lembaga bahkan perguruan tinggi dalam mencanangkan visinya adalah memiliki keunggulan dari lembaga/perguruan tinggi yang lain. Nilai-nilai keunggulan itu akan selalu diklaim masing-masing lembaga yang kadang diukur dengan ukurannya sendiri.
            Terlepas dari pemikiran ini, dalam kajian ini nilai keunggulan itu dapat dilihat dari unsur kebaharuan, keunikan, kemanfaatan, dan perubahan.  
  1. Kebaharuan
Sesuatu itu akan menarik dan mungin diacu, dicari, dipelajari orang lain kalau dalam kegiatan, proses, sistem, teori yang dikemukakan itu ada unsur kebaharuan. Artinya sesuatu itu memang betul-betul baru pertama kali, belum pernah terjadi, atau unsur inovatif kreatif. Maka untuk melahirkan kebaharuan perlu keberanian melangkah, beda dari yang lain, kecerdasan membaca peluang, berani membuat  terobosan dan pemikiran baru.
            Mereka yang memiliki keberanian dan inovasi tinggi akan menggapai keunggulan dalam profesi maupun dalam masyarakat. Untuk itu perlu kerja keras untuk menciptakan sesuatu yang baru.
  1. Keunikan
Sesuatu yang unik, nyleneh,aneh apabila dikelola, dikembangkan secara serius nanti akan menjadi keunggulan bahkan kemenangan tersendiri. Persoalannya adalah bagaimana kita bisa mengelola yang unik, nyleneh, dan aneh ini. Banyak contoh yang nyleneh ini menjadi dikenal seperti Gudeg Pawon, Sate mBah Galak (Solo) , Bakmi Lethek, dan lainnya. 
  1. Kemanfaatan
Sesuatu dapat menjadi unggulan apabila ternyata banyak memberikan manfaat, mudah diakses, fleksibel. Untuk menciptakan sesuatu yang banyak manfaat inipun perlu pemikiran, keberanian, kecerdasan tersendiri. Sekedar contoh adalah software SLIMs yang ternyata banyak digunakan oleh sebagian perpustakaan kita. Karena perangkat lunak ini mudah diakses, sederhana, murah, dan ternyata memberikan kemanfaatan maka memiliki nilai keunggulan dari yang lain.
  1. Perubahan
Dalam kehidupan profesi, keilmuan, dan masyarakat tidak ada yang abadi, dan yang abadi itu adalah perubahan. Artinya dalam kehidupan ini herus ada perubahan dan itu berarti adanya kemajuan. Tanpa adanya perubahan berarti tidak ada kemajuan. Nah, nilai kemajuan itulah sebenarnya letak keunggulan suatu keadaan. Orang, kegiatan, gerakan, teori, maupun komunitas yang mampu melakukan perubahan dan itulah yang memiliki keunggulan.
Penutup
            Di era kompetitif ini, orang harus berani bersaing. Sebab hidup pada hakekatnya adalah kompetisi. Untuk itu perlu memahami potensi diri dan berusaha mengembangkannya.
            Kemampuan menulis merupakan salah satu potensi untuk berkompetisi. Sedangkan untuk bisa menulis cukup diperlukan motivasi tinggi, percaya diri, kemauan, keberanian, kesabaran, tak mudah menyerah, dan berlatih. Tanpa mau mencoba, sulit diharapkan bisa menulis apalagi menjadi penulis. Takut gagal berarti itu indikator sulit maju. Kegagalan adalah umpan balik untuk menuju keberhasilan.
            Untuk mencapai keunggulan harus memiliki keberanian dan kreativitas yang tinggi. Sedangkan indikator keunggulan itu terletak pada kebaharuan, keunikan, kemanfaatan, dan ada perubahan.
 
Daftar pustaka
-          Abbas, Ersis Warmansyah. 2008. Menulis Mudah; dari Babu Sampai Pak Dosen. Yogyakarta: Gama Media
-          Adhim, M. Fauzil. 2004. Dunia Kata. Bandung: Mizan Bunaya Kreativa
-          Camus, Albert dkk. 2003. Menulis itu Indah. Yogyakkarta: Jendela
-          Forum Kajian Budaya & Agama. 2001. Melejitkan Potensi Diri EI & QL. Yogyakarta: FKBA
-          Lasa Hs. 2005. Gairah Menulis; Panduan Menerbitkan Buku untuk Penulis Pemula. Yogyakarta: Alinea
-          -----------. 2006. Menulis itu Segampang Ngomong. Yogyakarta: Pinus
-          Prama, Fede. 2004. Inovasi atau Mati. Jakarta:PT Elex Media Komputindo
-          Romli, Asep Syamsul M. 2003. Lincah Menulis, Pandai Berbicara. Bandung: Nuansa Cendekia
-          Satiadarma, Monty P.; Fidelis E. Waruwu. 2003. Mendidik Kecerdasan.Jakarta: Pustaka  Obor
-          The Liang Gie. 1992. Pengantar Dunia Karang Mengarang. Yogyakarta: Liberty.
Selesai


Lasa Hs


Rabu, 19 September 2018

MENGEMBANGKAN POTENSI PENULISAN KEPUSTAKAWANAN (Tulisan – 5)


Menulis sebagai pengembangan kreativitas.
            Menulis memerlukan kreativitas, menciptakan hal baru, ide baru, pemikiran  baru, atau cara baru. Oleh karena itu penulis harus selalu berpikir untuk menciptakan sesuatu yang baru/belum pernah ada.  
Ciri-ciri orang kreatif
  1. Terdorong untuk berprestasi
Mereka yang memiliki motivasi tinggi ingin selalu berprestasi. Mereka memacu dirinya untuk berkompetisi (meskipun dengan dirinya sendiri), berusaha menjadi terdepan/pertama dalam bidangh-bidang tertentu. Upaya pencapaian prestasi ini disebut dengan achievmenet motivation atau needs for achivement.
Motif berprestasi ini merupakan dorongan untuk menyelesaikan kesukaran, mengatasi kesulitan, dan berusah untuk melebihi prestasi orang lain. Oleh karena itu motif berprestasi ini dapat dipahami sebagai motif yang mendorong individu untuk mencapai kesuksesan. Kesuksesan tidak harus diukur dengan materi, kedudukan, jabatan, maupun pangkat. Kesuksean dapat juga diukur dengan ukuran keberhasilan kompetisi itu sendiri antara lain dapat diukur degan prestasinya sendiri sebagai ukuran keunggulan/standard of excelence. 
  1. Optimis berhasil
Kata Teddy Rooselvelt (mantan Presiden Amerika Serikat) “Seluruh sumber daya yang anda perlukan itu sebenarnya telah ada pada diri anda.Anda telah memiliki segala yang diperlukan untuk menjadi pemenang”. Pesan ini mendorong orang untuk selalu optimis dalam menghadapi berbagai persoalah hidup.  Sebab dalam diri orang telah disediakan alat penangkal kegagalan.
Optimis adalah kegigihan memperjuangkan sasaran. Orang yang optimis tidak gentar menghadapi kegagalan dan tantangan. Sebab dalam pikirannya telah tertanam keyakinan bahwa dalam setiap kegiatan hanya ada dua pilihan yakni gagal atau berhasil. Bila gagal, dia siap menerima kegagalan dan berusaha untuk bangkit lagi. Kemudian bila usaha itu berhasil, maka inilah yang diharapkan dan akan berusaha mempertahankan keberhasilan tertentu. Kemudian orang yang memiliki optimisme tinggi biasanya memiliki kecakapan:
a.Tekun dalam mencapai tujuan meskipun ditemukan hambatan dan kesulitan;
b.Bekerja dan berusaha dengan harapan sukses
      c.Berpandangan bahwa segala sesuatu itu pasti ada solusinya.
Dengana optimisme yang tinggi, orang bisa mencapai keberhasilan meskipun tadinya biasa-biasa saja.
  1. Mandiri
Sikap mandiri merupakan kemampuan seseorang untuk tidak tergantung pada orang lain serta bertanggung jawab atas apa yang dilakukaknnya. Orang yang kemandiriannya kuat akan memiliki inisiatif, mampu mengatasi kesulitan, percaya  diri, dapat melakukan kegiatan sendirian tanpa bantuan orang lain. Dalam mengatasi kesulitan ini, Michael Jordan mengingatkan “Obstackles don’t have to stop you. If you run into a wall, don’t turn around and give up. Figure out how to climb it/Adanya tantangan janganlah menghentikan langkah anda. Apabila anda menghadapi tembok (kesulitan, hambatan, duka, penderitaan dll.) jangnlah berputar dan menyerah. Cobalah temukan jalan keluar bagaimana anda bisa memanjatnya.
            Kemandirian seseorang dapat dilihat dari aspek emosi, aspek ekonomi, aspek intelektual, dan aspek sosial (T. Havighurst, 1972). Dari aspek emosi, orang dikatakan mandiri apabila telah mampu mengontrol emosi diri dan tidak terpancing oleh emosi maupun kemarahan orang lain. Dia tidak cepat gembira apabila mendapatkan kegembiraan. Orang ini juga tidak cepat sedih apabila menerima penderitaan. Semua itu disikapi dengan wajar-wajart saja. Dari segi ekonomi, orang dapat dikatakan mandiri apabila tidak lagi menggantungkan kebutuhan ekonominya kepada orang lain. Orang ini betul-betul ingin berdiri di atas kekuatan sendiri. Dia tidak ingin merepotkan orang lain apalagi menjadi benalu orang lain. Orang dikatakan mandiri secara intelektual apabila memang betul-betul mampu mengatasi masalah yang dihadapinya. Dia yakin bahwa setiap persoalan pasti ada jalan keluar dan setiap masalah pasti ada solusinya. Secara sosial, orang dikatakan mandiri apabila orang itu mampu mengadakan interaksi dengan orang lain tanpa menunggu aksi dari orang lain. Orang yang mandiri akan percaya diri dan mudah bergaul dalam bermasyrakat. Dengan modal ini orang akan dikenal masyarakat secara luas. Dari sinilah dia bisa mengekspresikan diri dan mengembangkan diri dan berani bersaing secar aterbuka. 
4.Berinisiatif
            Orang yang berinisiatif adalah orang yang mampu menangkap bahkan mampu menciptakan peluang dan sekaligus mampu memanfaatkan peluanag itu. Adapun cirri-ciri orang yang berinisiatif antara lain:
a.       Siap memanfaatkan peluang
b.      Mengejar sasaran lebih dari yang diharapkan
c.       Berani melanggar batas-batas yang tidak prinsip agar tugas dapat dilaksanakan
d.      Mengajak orang lain untuk melakukan sesuatu yang tidak lazim dan bernuansa petualangan
  1. Berani menghadapi kegagalan
Seperti yang pernah dikatakan oleh Abraham Lincoln bahwa yang penting bukan kegagalan itu yang ditangisi, tetapi bagaimana orang itu bangakit dan bangkit setelah mengalami kegagalan. Kata-kata ini dilontarkan oleh anak manusia yang berkali-kali mengalami kegagalan. Lincoln pada umur 7 tahun dan keluarganya diusir dari rumahnya. Pada umur 22 tahun ia bekerja dan tak lama dipecat. Pada usianya yang ke 31 tahun ia mencalonkan diri sebagai angota legislatif tapi gagal.Kemudian pada usianya yang ke 34 dan 39 mencalonkan diri sebagai anggota Kongres tetapi juga gagal. Saat itu juga ditinggal mati ketiga anak-anaknya.
      Semangat yang membara tetap menyala meskipun berulang kali mengalami kegagalan. Di usianya yang ke 45 tahun ia mencalonkan diri sebagai anggota Senat Amerika Serikat. Ia kemudian  mencalonkan diri sebagai Presiden AS pada umur ke 47, dan berhasil menjadi Presiden AS di usianya yag ke 51.
  1. Komitmen
Komitmen adalah usaha menyelaras diri dengan sasaran kelompok. Orang yang amemiliki komitmen adalah mereka yang:
  1. Siap berkorban untuk pemenuhan kepentingan kelompok
  2. Menggunakan nilai-nilai kelompok dalam pengambilan keputusan
  3. Aktif mencari peluang untuk memenuhi misi kelompok
Bersambung
Salam Iqra’

Lasa Hs

Selasa, 18 September 2018

MENGEMBANGKAN POTENSI PENULISAN KEPUSTAKAWANAN (Tulisan – 4)


Nilai penulisan
            Menulis itu memang menyenangkan dan mengasyikkan. Sebab dengan menulis dapat keluar dari kesumpekan dan merasa puas karena ada sesuatu yang dapat diberikan kepada orang lain. Di samping itu terdapat manfaat dan nilai penulisan antara lain:
1.      Memenuhi kebutuhan:
a.       Religi, ibadah
b.      Sosial kemasyarakatan
c.       Ekspresi diri
d.      Penghargaan
e.       Materi
2.      Pengembangan nilai, ajaran, dan ilmu pengetahuan
3.      Keabadian
4.      Kepuasan
Peluang
            Di era keterbukaan ini terbuka kesempatan tiap orang untuk mengemukakan ide melalui lisan, penerbitan, atau media elektronik yang harus disertai tanggung jawab. Kemudian untuk menulis buku terdapat beberapa faktor yang memberikan kesempatan untuk penulisan antara lain:
  1. Penerbit buku
Penulis itu mitra penerbit yang saling membantu. Ide dan pemikiran penulis bisa menyebar ke masyarakat luas berkat jerih payah penerbit. Penerbitlah yang menyeleksi naskah, mengedit, lay out, menentukan huruf, dan mendistribusikan ke masyarakat luas. Penerbit sangat memerlukan kontribusi naskah dari para ilmuwan, profesional, akademisi, seniman, budayawan, dan lainnya.
  1. Penerbit media cetak; surat kabar, majalah, jurnal
Redaksi media cetak juga menungu sumbangan naskah terutama artikel dari penulis, di samping mereka juga menerima naskah dari reporter/wartawan masing-masing. Peluang ini jarang dimanfaatkan oleh ilmuwan untuk mensosialisasikan bidang atau profesi mereka. Hal ini mungkin karena ketidak mampuan mereka dalam menulis  dengan bahasa populer. Sebab rata-rata para akademisi menggunakan bahasa ilmiah dalam komunikasi tulis. 
  1. Media elektronik
Bagi penulis pemula dapat berlatih menulis melalui media elektronik seperti pembuatan blog. Dari sini mereka bisa menulis apapun dan tak perlu ada seleksi. Apabila tulisan-tulisan itu berkualitas dan marketable, maka akan diakses orang. Oleh karena itu dalam membuat blog ini harus bertanggung jawab. 
  1. Buku dan media tulis memiliki kelebihan
Media cetak terutama buku merupakan media perekam, penyimpan, dan penyampai ilmu pengetahuan yang memiliki kelebihan bila dibanding dengan media lain. Buku dan artikel memiliki beberapa kelebihan antara lain:
    1. lebih luwes/flexibility
    2. lebih nyaman/convenience
    3. dapat dinikmati/enjoyable
    4. mudah dibaca/readibility   
  1. Angka kredit untuk jabatan fungsional tertentu 
Karya tulis ilmiah memiliki nilai angka kredit tinggi bagi jabatan fungsional tertentu terutama jabatan dosen. Buku karya dosen yang terbit nasional bernilai 40 AK. Sementara itu penulisan buku hanya bernilai 12,5 bagi jabatan fungsional dokter dan pustakawan.
Penulisan karya ilmiah merupakan tuntutan tersendiri bagi pemangku jabatan fungsional terutama untuk kegiatan pengembangan profesi. Hal ini untuk mendorong para pelaku fungsional untuk mengambangkan ilmu,bidang, atau profesi mereka. 
Menulis sebagai pengembangan potensi diri.
            Setiap orang memiliki potensi yang perlu dikenali dan selanjutnya dikembangkan. Menulis merupakan salah satu potensi yang dapat dikembangkan dan memberikan manfaat pada diri dan masyarakat. Untuk itu perlu ditanamkan:
  1. Memotivasi diri
Motivasi merupakan upaya penggunaan hasrat yang paling dalam untuk mencapai sasaran, membantu inisiatif, bertindak efektif, dan bertahan dalam menghadapi kegagalan. Orang yang memiliki motivasi tinggi akan berusaha keras dan penuh kreativitas dalam mencapai sasaran. Dalam diri mereka timbul inisiatif untuk mencari jalan keluar yang berupa tindakan untuk mencapai sasaran dengan efektif dan efisien. Mereka yang memiliki motivasi tinggi tidak mudah goyah karena angin yang berembus sepoi-sepoi.
  1. Tiap orang pada dasarnya penutur dan penulis
Proses komunikasi yang dikuasai anak manusia berawal dari kemampuan bicara dan kemudian menulis. Kedua kemampuan itu terus berkembang dan dapat dikembanagkan sesuai kemauan dan kecenderungan seseorang. Betapa banyak orang ayang pandai bicara, tetapi tak bisa menulis. Ada pula yang pinter menulis, tetapi tak pandai bicara. Ada pula yang menguasasi kedua-duanya.
  1. Menumbuhkan “mimpi” menjadi penulis
Untuk mencapai keinginan perlu “diimpikan”. Dengan adanya impian ini orang akan berusaha keras, tekun, sabar, dan telaten untuk mewujudkan impian itu.
Pada tahun 1975 , tumbuh ”impian” kapan nama saya muncul di Toko Gramedia, Gunung Agung (dulu), dan toku buku Sari Ilmu. Dengan kesungguhan hati dan kerja keras, alhamdulillah impian itu terwujud pada tahun 1990 sampai sekarang.
  1. Menulis mampu memenuhi berbagai kebutuhan/needs
Menulis merupakan bentuk ekspresi diri yang mampu memenuhi kebutuhan materi, penghargaan, religi, dan sosial. Dari hasil tulisan seseorang mampu memenuhi kebutuhan materi seperti buku Lasykar Pelangi yang dicetak 750.000 eks itu kiranya dapat dihitung berapa rupiah untuk penulis. J.K.Rowling menjadi wanita terkaya di Inggris dari bukunya berjudul Harry Potter. Dari tulisan, orang mendapatkan penghargaan karena jasanya telah menyebarkan ajaran, nilai, panduan, dan bimbingan. Dari segi religi, penulis mendapatkan nilai/pahala karena ilmunya dimanfaatkan masyarakat banyak dan bernilai abadi. Ilmu yang ditulis itu bermanfaat pada masyarakat bawah dan ini berarti penulis telah memberikan manfaat. Kata orang bijak bahwa sebaik-baik orang itu adalah orang yang mampu memberikan manfaat kepada sebanyak-banyak orang.
  1. Menulis merupakan pengembangan kecerdasan emosi
Menulis tidak saja memerlukan kecerdasan intelektual, tetapi juga memerlukan kecerdasan emosi. Sebab dengan kecerdasan emosi ini orang akan mencapai keberhasilan. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh para ahli jiwa bahwa kecerdasan intelektual itu hanya menyumbang 20 % keberhasilan orang, sedangkan 80 % keberhasilan seseorang didukung dari faktor lain antara lain berupa kecerdasan emosi. Kecerdasan ini bekerja secara sinergis dengan ketrampilan kognitif. Orang-orang yang berprestasi biasanya mampu mensinergikan kecerdasan emosi dengan ketrampilan kognitif.  Orang-orang seperti ini biasanya memiliki kesadaran diri yang tinggi, mampu mengatur diri, memiliki motivasi kuat, empati, dan memiliki ketrampilan sosial yang baik.
  1. Memupuk sikap juara/menjadi yang pertama
Orang-orang yang berprestasi selalu berusaha untuk mencapai yang terbaik, yang pertama, atau juara. Mereka berprinsip hidup adalah kompetisi dan manusia lahir kedua sebenarnya telah menang dalam kompetisi.
Sikap seperti inilah antara lain yang mampu mendorong seseorang untuk menulis. Kejuaraan bukan harus dinilai oleh tim, tetapi bisa dinilai oleh masyarakat dalam bentuk pengakuan, dibutuhkan, dicari, diundang, dan lainnya.
  1. Kegagalan itu umpan balik yang akan membawa keberhasilan
Kalau orang mau memelajari kegagalan diri/orang lain, insya Allah akan mampu menemukan jalan keberhasilan. Untuk itu diperlukan kecerdasan dalam menganalisis kegagalan dan kemampuan mengatasi kegagalan itu. Di sinilah sebenarnya makna kegagalan itu umpan baik keberhasilan.


  1. Penakut itu mati seribu kali dan pemberani hanya mati sekali
Penakut itu sudah mati sebelum melangkah. Maka penakut selamanya tidak akan pernah maju dan tak mungakin menjadi yang pertama dalam arti positif. Sebaliknya, pemberani itu sebenarnya telah memenangkan diri karena telah mengalahkan sekian ribu orang yang takut melangkah.
      Bersambung
      Salam Iqra’

      Lasa Hs

Senin, 17 September 2018

MENGEMBANGKAN POTENSI PENULISAN KEPUSTAKAWANAN (Tulisan – 3 )


Anggapan tentang penulisan
            Dalam masyarakat kita terdapat beberapa anggapan bahwa menulis itu menakutkan, bakat, seni, mengoplos ide, dan dapat dipelajari
  1. Menakutkan
Orang enggan menulis mungkin lantaran berbagai ketakutan. Mereka takut kalau tulisannya itu ditolak penerbit, padahal sudah punya nama beken. Mereka juga was-was kalau tulisannya itu terdapat kesalahan dan kekurangan, sehingga takut dikritik, dicemooh, atau diserang orang lain melalui rensensi atau dalam bentuk buku. Bahkan banyak yang  khawatir jangan-jangan bukunya nanti dibajak. Padahal buku itupun belum tentu laku. Sebab buku yang dibajak itu adalah buku-buku yang best sellers. Sedangkan buku mutu belum tentu laku karena kurang marketable.
Dunia penulisan sebenarnya bukan dunia lain yang menakutkan. Para pelaku ilmu pengetahuan dan moral yang takut menulis buku ibarat burung bersayap satu yang hanya mampu meloncat dari dahan/pohon satu ke dahan/pohon lain. Mereka juga bisa dimisalkan seorang yang berani menceburkan diri ke sungai tetapi idak bisa berrenang. Lama kelamaan akan mati tenggelam. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa ilmuwan itu akan tamat riwayatnya setelah pensiun yang itu merupakan kematian apabila tidak memiliki kemauan dan keamampuan menulis buku/lain. Maka  penakut itu akan mati seribu kali dan pemberani hanya mati sekali. Sebab penakut itu telah mati sebelum melangkah. 
  1. Bakat
Memang ada beberapa penulis itu benar-benar bakat. Mereka mendasarkan penulisan pada ide dan inspirasi yang kuat. Bagi mereka, menulis itu tidak akan memerlukan waktu khusus. Ia hanya menantikan ide sampai datangnya perasaan untuk menulis. Setelah itu biasanya mereka menuangkan ide ke dalam bentuk tulisan. Dalam hal ini mereka menggerakkan tangannya untuk menulis karena adanya sentuhan magis/magic touch yang datang tiba-tiba.
  1. Seni
Tulisan merupakan hasil ekspresi ide atau perasaan sebagaimana lukisan yang merupakan curahan perasaan seorang pelukis. Pengungkapan ini lantaran munculnya gerak batin secara tiba-tiba seperti orang yang mendadak menyanyi atau bersiul karena kegembiraan. Dalam hal ini Claude Levi-Strauss (antropolog Perancis) menyatakan bahwa tulisan merupakan ciptaan ajaib yang pengembangannya membawa manusia pada suatu kesadaran yang lebih besar untuk mengatur masa sekarang dan masa depan (the Liang Gie, 1992: 9)
            Proses penulisan memerlukan kreativitas dan harus memiliki naluri bahasa yang kuat, lincah, dan efektif. Kemahiran memilih kata memerlukan instuisi yang tinggi di samping adanya inspirasi yang muncul.
  1. Cuma mengoplos ide orang lain
Dalam penulisan karya ilmiah memang terjadi saling mengutip pendapat atau tulisan orang lain. Pengutipan ini bukan berarti sekedar mengoplos. Sebab menulis itu merupakan bentuk ekspresi diri secara total yang dalam prosesnya memerlukan ilmu pengetahuan, pelatihan, renungan, dan menuntut berbagai kecerdasan antara lain kecerdasan kata/word smart.
            Pengutipan atau penyitiran dalam penulisan karya ilmiah itu dibolehkan asal menyebutkan data bibliografi secara lengkap. Pola sitiran ini menggambarkan adanya hubungan antara sebagian atau seluruh artikel yang disitir dengan artikel yang menyitir. Adanya pengutipan ini akan memberikan nilai yang obyektif dan manfaat antara lain:
a.       adanya pengakuan atas prestasi orang lain
b.      menjunjung etika keilmuan
c.       membantu pembaca dalam penemuan kembali

  1. Dapat dipelajari, berlatih, dan mencoba
Menulis (buku, artikel, resensi, berita, dll.) itu sebenarnya dapat dipelajari asal ada kemauan, keberanian, sabar, ulet, telaten, dan tak mudah putus asa. Membaca buku-buku teori penulisan kiranya kurang berkembang apabila takut mencoba. Sebab dengan ketakutan mencoba ini, maka selamanya tidak pernah bisa menulis. Membaca teori itu baru sekedar belajar tentang menulis dan belum belajar menulis. Dalam hal ini, Abdul Hadi WM (2002) menjelaskan bahwa bakat menulis itu hanya 5 % lalu keberuntungan 5 %, sedangkan sisanya sebanyak 90 % tergantung pada kesungguhan dan kerja keras.
Belajar, berlatih, dan berani mencoba merupakan salah satu cara untuk maju. Albert Einstein menyatakan “Learn from yesterday, hope for tumorrow. The important things is not stop questioning:. Artinya belajarlah dari hari kemarin, lakukanlah untuk hari ini, dan berharaplah untuk hari esok. Yang penting jangan pernah berhenti bertanya.
Barbara Sher seorang penulis ulung juga menasehatkan bahwa untuk bisa menulis harus banyak berlatih dan tidak mudah putus asa. Dalam hal ini beliau menyatakan “You can learn new things at any time in your life if you’re willing to be beginner. If you actually learn to like a beginner, the whole worlds opens up to you”. Artinya anda bisa memelajari sesuatu yang baru kapan saja asalkan berpikir sebagai pemula. Jika anda benar-benar mau belajar seperti pemula, maka dunia akan terbuka bagi anda. 
Hambatan
            Suatu keinginan itu pasti ada hambatan baik dari dalam diri orang atau dari  luar diri sendiri. Dalam hal ini bukan takut hambatan itu, tetapi bagaimana mengenal hambatan itu dan berusaha untuk mengatasinya. Adapun beberapa hambatan calon penulis atau penulis pemula antara lain:
  1. Hanya ingin dan belum/tidak punya kemauan
  2. Mudah putus asa
  3. Kurang ulet
  4. Malas berlatih
  5. Malas bertanya dan berguru
  6. Terlalu ideal, gengsi
  7. Kurang percaya diri
  8. Berbagai ketakutan.
Calon penulis termasuk para akademisi bisa mengalami ketakutan yang berlebihan antara lain takut :
    1. ditolak penerbit
    2. dikritik
    3. disepelekan
    4. ketahuan kapasitas keilmuannya
    5. dibajak
    6. difotokopi
    7. dibohongi penerbit
    8. tak dibayar royali
Saran/solusi
            Sekecil apapun hambatan, perlu adanya upaya mengatasinya. Sebab kebakaran itu berasal dari percikan api. Beberapa saran solusi bagi penulis pemula antara lain:
  1. ada kemauan yang kuat
  2. putus asa sama dengan “mati gantung diri” sebelum perang
  3. sabar, ulet, dan telaten
  4. malu bertanya sesat ke kuburan
  5. orang bisa renang karena berlatih, bukan hanya membaca buku tentang renang
  6. percaya diri itu potensi terpendam
  7. Hantu itu hanya ada pada diri kita
  8. Berlatih menulis
Belajar teori saja tidak menjamin seseorang akan menjadi penulis. Berani mencoba dan berlatih terus merupakan modal untuk bisa menulis. Balajar menulis tidak harus melalui sekolah menulis. Belajar di manapun selau ada gunanya. Sekolah baru disebut berhasil apabila mampu menggugah orang untuk senantiasa belajar dan mencari. (Prama, 2004:7)
     Bersambung
     Salam Iqra’

     Lasa Hs