Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Selasa, 11 Desember 2018

KONSERVASI MANUSKRIP DALAM MENJAGA WARISAN NUSANTARA DI PERPUSTAKAAN WIDYAPUSTAKA PURA PAKUALAMAN YOGYAKARTA


KONSERVASI MANUSKRIP DALAM MENJAGA WARISAN NUSANTARA DI PERPUSTAKAAN WIDYAPUSTAKA  PURA PAKUALAMAN YOGYAKARTA
Muhkamad Fatori
Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Email: muhammadfatori12@gmail.com

INTISARI
Naskah nusantara atau manuskrip memiliki nilai luhur yang harus dijaga kelestariannya, karena didalamnya terdapat banyak unsur sejarah, budaya dan adat istiadat. Perpustakaan Widyapustaka Pura Pakualaman Yogyakarta memiliki banyak manuskrip yang telah berumur ratusan tahun, sehingga sebagian besar telah rusak karena faktor zaman. Demi melestarikan naskah-naskah manuskrip tersebut, Perpustakaan Widyapustaka Pura Pakualaman Yogyakarta melakukan konservasi dalam menjaga warisan nusantara tersebut. Oleh karena itu peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana proses konservasi manuskrip yang dilakukan oleh Perpustakaan Widyapustaka Pura Pakualaman Yogyakarta. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana proses konservasi untuk menjaga manuskrip, serta untuk mengetahui faktor penyebab kerusakan manuskrip yang berada di Perpustakaan Widyapustaka Pura Pakualaman Yogyakarta. Metode penelitian yang digunakan adalah menggunakan metode kualitatif melalui teknik wawancara, observasi, dan dokumentasi. Proses konservasi dan penyelamatan manuskrip yaitu melalui fumigasi, alih bahasa, komperisasi, pengaturan suhu dan kelembapan udara, dan digitalisasi. Faktor penyebab kerusakan manuskrip disebabkan oleh faktor biologi, faktor fisika, faktor Kimia, faktor manusia,  dan faktor bencana alam.
Kata Kunci: Konservasi, Warisan Nusantara, Manuskrip, Perpustakaan Khusus, Perpustakaan Widyapustaka Pura Pakualaman Yogyakarta


TIGA PUSTAKAWAN UMY MANGGUNG DI PEKAN BARU

Alhamdulullah, untuk kesekian kalinya pustakawan UMY mengukir prestasi di Pekan Baru. Kali ini Yubeidi, Yuliana, dan Fatori mempresentasikan hasil penelitian mereka. JUBAIDI menyajikan "Dampak konservasi manuskrip terhadap minat tulis kader muhammadiyah" (studi kasus muhammadiyah corner UMY) Yuliana Ramawati menyajikan "Kemas Ulang Informasi Naskah Kuno Di BPAD DIY, dan Tori menyajikan "Konservasi Manuscrip dalam Menjaga Warisan Nusantara di Perpustakaan Widyapustaka Pura Pakualaman Yogyakarta"
Tiga orang tersebut mengawali penggunaan quota CFP dari 20 kuota CFP untuk tahun anggaran 2018/2019.

Senin, 10 Desember 2018

KEMAS ULANG INFORMASI NASKAH KUNO DI BADAN PERPUSTAKAAN DAN ARSIP DAERAH DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA


KEMAS ULANG INFORMASI NASKAH KUNO DI BADAN PERPUSTAKAAN DAN ARSIP DAERAH
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA

Oleh:
Yuliana Ramawati, Fitriana Lestari
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
Email: anaolieve@yahoo.coM fitrianalestari85@gmail.com


ABSTRAK
Naskah kuno merupakan salah satu warisan budaya yang bernilai sejarah sangat tinggi.  Salah satu warisan budaya dalam bentuk naskah perlu dipelihara,  dilestarikan, dan dirawat secara fisik maupun non fisik  agar informasi yang terkandung didalamnya tetap terjaga bagi generasi mendatang. Berkembang pesatnya teknologi informasi saat ini menuntut perpustakaan sebagai penyedia informasi harus melakukan inovasi terutama dalam hal penyajiannya. Salahsatu alternatife yang dilakukan yaitu dengan  melakukan kemas ulang informasi naskah kuno dengan mengalih mediakan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui secara lebih dalam mengenai proses kemas ulang informasi yang dilakukan perpustakaan BPAD DIY guna melestarikan naskah-naskah kuno yang dimiliki. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini yaitu metode kualitatif dengan menggali fakta-fakta dari hasil wawancara dan obeservasi di lapangan.  Hasil penelitian ini mendeskripsikan mengenai teknik pelestarian informasi yang dilakukan BPAD DIY dengan menggunakan beberapa metode antara lain metode alih media, alih bahasa, dan alih huruf serta mengetahui kendala-kendala apa saja yang dihadapi dalam proses kemas ulang informasi.
Kata Kunci: Kemas ulang informasi, Naskah Kuno, digitalisasi, BPAD DIY



REPACKAGING INFORMATION OF ANCIENT MANUSCRIPT IN THE LIBRARY OF BADAN PERPUSTAKAAN DAN ARSIP DAERAH
DAERAH ISTIMEWA YOGYAKARTA



Oleh:
Yuliana Ramawati, Fitriana Lestari
Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

ABSTRACT

The ancient manuscript is one of the cultural heritage which have historical value. The cultural heritage in the form of  a script needs to be maintained, preserved and cared for physically and non-physically so that the information in a script can maintained for future generations. Actually the development of information technology demands all of libraries to do innovations, especially in terms of conveys. One alternative in this condition is to repack the information of ancient manuscripts by diverting it. This study aims to find out more about the information reprocessing process which did by the library of BPAD DIY to preserve the ancient manuscripts. The research method used in this study is a qualitative method by exploring the facts from the results of interviews and observations in the field. The results of this study describe the preservation of information techniques which did by BPAD DIY such as several methods including the method of media transfer, translation, and letter switching and find out the obstacles in the process of repackaging information.
Keywords: repackaging information, Ancient Manuscripts, digitalization, BPAD DIY



A.      PENDAHULUAN
Infromasi merupakan sebuah kebutuhan pokok bagi masyarakat, setiap orang pasti membutuhkan informasi. Ledakan informasi di era teknologi juga berdampak terhadap sulitnya mendapatkan informasi yang relevan sesuai dengan kebutuhan pengguna. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi perpustakaan yang berfungsi sebagai center of knowledge untuk mampu menyebarluaskan informasi, bertugas melakukan pelestarian warisan budaya. Warisan budaya dalam hal ini khususnya naskah kuno yang perlu dilestarikan, dirawat dan dijaga secara fisik dan nonfisik untuk menjaga informasi yang terkandung di dalamnya karena memiliki nilai sejarah tinggi untuk keberlangsungan masyarakat saat ini dan akan datang. Serta menyajikan informasi yang mempermudah pengguna dalam temu kembali informasi.
Pelestarian adalah upaya yang dilakukan guna melakukan perlindungan terhadap benda budaya melalui sebuah tahapan kegiatan  serta meminimalisir kerusakan terhadap benda fisik maupun kimia  yang dimaksudkan agar terhindar dari terjadinya kehilangan isi atau kandungan informasi (Fatmawati, 2009). Salah satu upaya yang dilakukan perpustakaan guna melestarikan budaya secara fisik dengan cara perawatan, pemeliharaan, serta penyimpanan koleksi sesuai dengan prosedur yang telah ditentukan. Selain itu dari segi informasi perpustakaan harus mampu memberikan informasi yang tepat guna bagi pengguna dalam bentuk penyajian yaitu dengan melakukan kemas ulang informasi secara cepat, tepat, dan dapat dimanfaatkan secara langsung oleh penggunanya. Artikel ini membahas mengenai kemas ulang informasi yang dilakukan oleh perpustakan BPAD DIY dalam upaya pelestarian informasi naskah kuno yang dilakukan dengan berbagai metode diantaranya dengan mengalih mediakan, mengalih bahasakan, dan mengalih hurufkan.
B.       LANDASAAN TEORI
1.         Naskah Kuno dan Perkembangannya
Pengertian nakah kuno yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 43 Tahun 2007 dijelaskan bahwa:
“Naskah kuno adalah semua dokumen tertulis yang tidak dicetak atau tidak diperbanyak dengan cara lain, baik yang berada di dalam negeri maupun di luar negeri yang berumur sekurang-kurangnya 50 (lima puluh) tahun, dan yang mempunyai nilai penting bagi kebudayaan nasional, sejarah, dan ilmu pengetahuan”(Indonesia, 2007).
Naskah kuno dapat diartikan sebagai suatu peradaban manusia yang terangkum dari sebuah budaya masyarakat pada masa lalu yang mengandung nilai-nilai kehidupan masyarakat menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat sebagai gambaran kehidupan manusia pada masa silam serta kebudayaannya.  Nilai-nilai ini merupakan informasi bagi generasi sekarang  dan generasi yang akan datang tentang bagaimana mereka hidup, pekerjaan sehari-hari, apa yang dirasakan dan bagaimana sikap hidup mereka. Naskah yang dimaksud adalah naskah yang mengandung nilai- nilai yang menyentuh berbagai aspek kehidupan masyarakat sebagai gambaran kehidupan manusia pada masa silam serta kebudayaannya (Primadesi, 2012).
Tujuan dari pelestarian naskah kuno sendiri yaitu untuk menyelamatkan fisik dari bahan pustaka dan menyelamatkan nilai informasi yang terkandung dalam bahan pustaka, mempromosikan sejarah, budaya, pengetahuan dan untuk mempromosikan instansi atau lembaga yang memiliki naskah kuno tersebut (Hartinah, 2009).
2.         Kemas ulang informasi
Kemas ulang informasi (Information Repackaging) adalah informasi yang dikemas ulang atau merubah informasi dari suatu bentuk ke bentuk yang lain. Perubahan bentuk informasinya dapat berupa perubahan media satu ke media lainnya misalnya dari bentuk kertas menjadi bentuk digital, DVD, mikrofis dan lain sebagainya. Sedangkan, perubaha lain yaitu perubahan huruf dari huruf sat uke huruf yang lainnya serta perubahan bahasa yang digunakan dari bahasa satu diterjemahkan ke dalam bahasa yang lain dapat juga berupa perubahan fungsi analisis, ringkasasn, anotasi, dan revisi singkatan (Sari, 2016). Kegiatan ini menjadi aktivitas dari pengelolaan suatu informasi yang dimulai dari penyeleksian sumber informasi yang berbeda-beda, mendata kembali informasi yang telah diperoleh dan dianggap relevan, analisis informasi, menggabungkan gagasan yang terpisah (mensintesa) dan menyajikan informasi berdasarkan kepada kebutuhan setiap penggunanya (Kardi, 2009).
3.        Tujuan dan Fungsi Kemas Ulang Informasi
Fungsi kegiatan kemas ulang infromasi antara lain yaitu (Dongardive, 2013) berfungsi sebagai penerjemah , berguna sebagai media untuk penyimpanan informasi, berguna sebagai salah satu sarana untuk mempromosikan penyampaian informasi yang relevan bagi pengguna, berfungsi sebagai aplikasi praktis untuk hasil penelitian,  berfungsi sebagai filter informasi yang sistematis dan selektif, berfungsi sebagai salah satu sarana untuk menyebarluaskan informasi.
            Adapun tujuan utama dari kemas ulang informasi adalah untuk menyajikan informasi ke dalam bentuk kemasn agar informasinya dapat lebih muda dapat diterima dan dimanfaatkan oleh penggunanya (Fatmawati, 2009). Sementara menurut pendapat lain  kemas ulang informasi bertujuan untuk menemukan kembali, menempatkan, mengevaluasi, menginterpretasikan dan mengemas informasi mengenai subjek untuk keefektifan dan efisiensi waktu, tenaga maupun biaya yang ditujukan bagi pengguna (Agada, 1995). Dari penejelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa tujuan dari kemas ulang informasi ini adalah merubah bentuk informasi ke dalam bentuk yang lebih mudah diterima oleh penggunanya dalam memahami suatu informasi seperti halnya mensitesa, mereview dokumen agar lebih efektif dan efisien.
C.      METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang dilakukan penulis dalam melakukan penelitian ini yaitu dengan metode kualitatif untuk mendapatkan informasi mengenai kemas ulang informasi naskah kuno di BPAD DIY. Metode pengumpulan data dilakukan dengan menggali fakta-fakta yang bersumber dari kegiatan wawancara kepada berbagai informan yang berkaitan langsung dengan kegiatan kemas ulang informasi, selain itu penulis juga melalakukan observasi langsung dengan mengamati kegiatan yang ada di lapangan.
D.      HASIL DAN PEMBAHASAN

1)        Kemas Ulang Informasi di BPAD DIY
Potensi pembangunan daerah salah satunya adalah dari perpustakaan dan arsip. Perpustakaan berfungsi sebagai penyedia informasi, tempat untuk pemberdayaan masyarakat daerah, sebagai ruang publik serta tempat pelestarian warisan khasanah budaya guna keberlangsungan masyarakat yang akan datang.
Berbagai upaya dilakukan oleh perpustakaan BPAD DIY dalam melestarikan warisan budaya yang mengandung informasi yang perlu diselamatkan karena didalamnya terdapat nilai muatan kultur budaya, infromasi oragnisasi, local content, serta mengandung nilai sejarah yang tinggi. Hal ini, erat kaitannya dengan pelestarian warisan budaya berupa naskah kuno, koleksi langka.Terdapat dua unsur teknik pelestarian naskah kuno yang dilakukan yaitu pelestarian informasi dan pelestraian secara fisik. Pada penulisan ini pelestarian yang akan digali lebih dalam yaitu mengenai pelestarian informasinya.
Hal-hal yang melatarbelakangi dilakukannya kegiatan ini adalah (1) untuk mengatasi keterbatasan ruang. Perpustakaan tentu akan melakukan pengadaan koleksi hal ini harus diimbangi dengan perluasan ruang perpustakaan karena melihat tersebut maka perlu ada solusi untuk mengatasinya salah satunya dengan alih media dari bentuk cetak ke bentuk digital. (2) mencegah kerusakan fisik bahan pustaka, sebagian besar naskah kuno yang ada di BPAD DIY merupakan koleksi yang tercetak yang berbahan dasar kertas sehingga secra fisik rentan sekali terjadi kerusakan mengingat naskah kuno ini tentunya koleksi yang berumur lebih dari 50 tahun. Oleh karena itu, untuk menyelamatkan informasi yang ada di dalamnya maka perlu dilakukan alih media. (3) Kelangkaan koleksi. Naskah kuno memiliki nilai historis dan langka maka perlu dilestarikan dari segi fisik dan dari segi informasinya. (4) Perkembangan teknologi informasi. Perubahan zaman dan teknologi yang menuntut peningkatan layanan di perpustakaan bagi pemustaka. Perpustakaan sebagai tempat pelestarian khazanah budaya perlu melakukan inovasi dan mengikuti perkembangan zaman dengan melek informasi yang bertujuan peningkatan pelayanan bagi penggunanya.

Koleksi naskah-naskah kuno yang terdapat di BPAD diperoleh dari berbagai sumber diantaranya dari pembelian, hibah maupun hadiah.
2)         Teknik dan Metode kemas ulang infromasi naskah kuno di BPAD DIY
Informasi dapat dikatakan baik apabila informasi yang disampaikan dan dapat diterima oleh penggunanya. Informasi dikemas melalui berbagai cara kemudian dikomunikasikan kepada masyarakat umum. Salah satu cara menyampaikan informasi adalah melalui media cetak dan elektronik. Metode kemas ulang informasi di BPAD Yogyakarta menggunakan beberapa metode  diantaranya yaitu:
A.       Alih huruf/alih aksara
Naskah kuno meruapakan hasil karya yang menyimpan banyak informasi yang sangat berharga diltinjau dari sisi sejarah. Hendaknya hasil karya tersebut dalam penyambutannya mampu ditafsirkan, dihayati, serta mampu disampaikan sesuai dengan kebutuhan penggunannya. Pada umumnya tulisan yang terdapat di dalam naskah kuno ditulis dalam huruf/aksara daerah seperti naskah kuno jawa yang menggunakan aksara jawa. Oleh sebab itu, perlu dilakukan transkipsi teks. Hal ini bertujuan untuk mempermudah dalam memahami isi teks, bagi pengguna yang tidak mengerti terhadap huruf yang digunakan.
Alih huruf/aksara merupakan pengalihan suatu jenis huruf kedalam jenis huruf lainnya. Perpustakaan BPAD DIY sejak tahun 2004-sekarang telah mengalih aksarakan sekitar 69 judul buku, 30.459 lembar diantaranya adalah babad tanah jawi, langendriyo, panji laras, prabangkara, serat wedodoto, Jolodoro Rabi, Serat Rama, Kider Spelen, Kitab Bahusasra, Serat-serat Anggitanipun, dll.
Perpustakaan BPAD DIY sebagai perpustakaan yang berkarakter dan berbudaya memiliki fasilitas layanan koleksi langka. Koleksi-koleksi yang telah dialihaksarakan tersebut dapat dimanfaatkan oleh penggunanya yang ingin meneliti dan mengkaji lebih dalam mengenai naskah kuno. Layanan koleksi naskah kuno ini dilayankan secara close access, koleksinya berada disuatu ruangan dan petugas yang akan mengambilkannya sesuai dengan kebutuhan pengguna mengingat koleksi tersebut merupakan koleksi yang sangat penting. Koleksi aslinya disimpan dan tidak dilayankan, beberapa di letakkan dalam lemari kaca karena kondisi naskah yang sangat rapuh.
B.       Alih bahasa
Alih bahasa merupakan kegiatan pengalihan bahasa tertentu ke dalam  bahasa lain. Hal ini, dilakukan untuk mentransfer informasi dari suatu bahasa ke bahasa yang hendak digunakan. Di BPAD DIY alih bahasa dilakukan melalui beberapa proses tahapan salah satunya dimulai dari alih aksara terlebih dahulu seperti yang telah di paparkan diatas yaitu mengalihkan tulisan yang beraksara jawa kemudian di alih hurufkan ke dalam bahasa jawa. Selanjutnya, barulah tahapan alih bahasa dari Jawa ke bahasa Indonesia. Kegiatan ini bertujuan untuk membantu para pemustaka yang kesulitan dalam memahami bahasa jawa dan dapat dipahami oleh masyarakat pada umumnya bukan hanya dari kalangan masyarakat jawa saja.
Dimulai pada tahun 2006 hingga saat ini koleksi yang dialih bahasakan dari Jawa-Indonesia sekitar 40 judul buku diantaranya meliputi: Babad Tanah Jawi Jl 1-30, Babad Giyanti, Babad Mataram, Babad Lokapala, Serat Panji Angraeni, Babad Pesisir, Srikandhi Merong, Serat Rama, Babad Mangkubumi, Serat Pakem Wayang vanhellen, Babad Ngayogyokarto, Serat-serat Anggitan dalem Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Ariya Mangkunegara IV,  Marganing gesang, Serat Dewa Ruci, dan masih banyak lagi yang lainnya.
Selain alih bahasa Jawa-Indonesia dilakukan juga alih bahasa Belanda-Indonesia. Tahun 2016 BPAD DIY menemukan naskah kuno berupa kumpulan surat dari Herman Willeam Deandels dan Hamengkubuwono II yang berlangsung sekitar tahun 1881.  naskah kuno Amangku Buwana II. Semua tulisan surat ini berbahasa belanda yang berisi mengenai korespondensi Daendeles sebagai Gubernur Jendral Hindia Belanda yang pada saat itu Hamengkubuwuno II menjabat sebagai raja. Naskah tersebut dialih bahasakan ke dalam bahasa Indonesia.Alih bahasa jawa dan bahasa asing ini dilakukan oleh tenaga ahli bahasa dengan bekerjasama dengan pihak lain serta dilakukan oleh pustakawan BPAD sendiri.
C.           Alih Media Naskah Kuno
Sebagian besar perpustakaan yang ada di Indonesia saat ini koleksinya berupa bahan tercetak dengan bahan baku kertas. Apabila tidak dilakukan pemeliharaan/ pelestarian dengan baik maka akan berakibat kerusakan fisik maupun nilai informasi dari koleksi tersebut. Kemajuan IPTEK khususnya teknologi informasi dan komunikasi sekarang ini mendorong perpustakaan untuk dapat berbenah diri memberikan layanan prima dalam penyediaan informasi yang cepat tepat kepada pengguna dengan mendigitalisasai koleksi.
Alih media (digitalisasi ) naskah kuno merupakan salah satu bagian dari kegiatan kemas ulang informasi yang dilakukan oleh BPAD DIY dari bentuk cetak kedalam bentuk digital guna melestarikan isi dan kandungan  informasi pada naskah kuno dan mencegah kerusakan yang ditimbulkan akibat lingkungan dan faktor usia. Kegiatan alih media ini dilakukan sejak tahun 2009 hingga saat ini. Koleksi yang telah dialih mediakan mencapai 962 judul koleksi 268.900 lembar. Koleksi yang telah dialihmediakan antara lain kolesi koran lama, koleksi langka, dan naskah kuno. Perputakaan BPAD DIY dalam hal alih media juga melakukan kerjasama dengan pihak lain contohnya dengan museum tamansari kirtigriya. 
Koleksi yang telah dialih mediakan ini dilayankan secara digital offline yaitu menggunakan aplikasi yang berbasis web dalam hal manajemen pengelolaannya berupa e-book, news paper, Layanan berupa local content sehingga hanya bisa diakses di layanan koleksi digital saja. Tujuan dibangunnya aplikasi ini untuk memermudah akses terhadap koleksi naskah kuno dan koleksi langka hasil alih media . Sebelum dilayankan koleksi nasakh kuno memerlukan beberapa tahapan proses. Adapun tahapan proses alih media dilakukan sebagai berikut:
1.         Seleksi  dan pengumpulan naskah
Koleksi naskah kuno yang akan diproses alih media diperoleh dari koleksi perpustakaan dan melalui kerjasama dengan berbagai instansi pemerintah maupun non pemerintah dan dilakukan seleksi oleh petugas.
2.         Pengecekan fisik koleksi
Sebelum naskah dialihmediakan perlu dilakukan pengecekan fisik. Pengecekan kondisi naskah, apabila naskah dalam  kondisi baik maka masuk pada tahapan proses selanjutnya. Namun, apabila kondisi naskah rusak maka dilakukan konservasi terlebih dahulu sebelum dialih mediakan. Contohnya di buatkan box pelindung, merestorasi, melaminasi, dll.
3.      Scanning / capturing file
Proses pengambilan gambar dengan menggunakan scanner ataupun camera penggunaan alat ini disesuaikan dengan kondisi naskah yang akan dialih mediakan. Apabila memungkinkan untuk discan maka dilakukan dengan menggunakan scanner. Apabila kondisi rusak maka pengambilan gambar dilakukan menggunakan camera karena untuk menjaga fisik dokumen.
4.      Editing & compiling
Proses edit dokumen ini mencakup pembuatan file-file turunan dalam format JPEG/JPG yang menggnakan resolusi 300dpi. Aplikasi yang digunakan dalam proses editing ini menggunkan aplikasi Binalah- ACDSee Pro 8 yang dirasa lebih mudah dan terdapat fasilitas-fasilitas menu yang dibutuhkan. Contohnya pada aplikasi ini tersedia menu rotate, flip, crop, prespective correction,repair tool, dan lain sebagainya sehingga hasilnya akan lebih maksimal.
5.      Pengemasan akhir
Setelah selesai proses editing maka dilanjutkan dengan proses penyatuan file-file yang sebelumnya terpisah pada saat pengeditan. Proses compilling ini biasanya disatukan ke dalam format PDF dan dijadikan bentuk flipping book. Hasil proses flipping menyerupai seperti bentuk buku aslinya. Proses flipping menggunakan aplikasi  yaitu Flip PDF Professional untuk naskah Kuno / buku-buku langka dalam bentuk EXE. Sedangkan untk koran lama dalam bentuk HTML.
6.      Burning
Dokumen-dokumen yang telah selesai dialih media digital selanjutnya dibackup dan dimasukan ke dalam CD/DVD. File tersebut dibackup sebanyak 3copy selanjutnya akan distribusikan untuk dilayankan dan diarsipkan.

3)        Anggaran Kemas Ulang Informasi
Anggaaran merupakan sumber daya yang sangat dibutuhkan  dalam kegiatan pelestarian informasi.  Kegiatan kemas ulang informasi membutuhkan biaya yang tidak sedikit. Alokasi dana terdiri 3 sumber diantaranya:
a)      Anggaran pendapatan dan Belanja Nasional
b)      Dana Keistimewaan DIY
c)      Anggaran Pendatan dan Belanja Daerah
Dana yang dianggarkan untuk alih media setiap tahunnya yaitu untuk sejumlah 30.000 lembar. Sedangkan untuk alih bahasa dianggarkan untuk 1.500 lembar, dan  alih aksara yang dilakukan satu kali dalam 2 tahun dengan anggaran untuk 1.500 lembar. Terdapat juga anggaran Rp 400.000.000 yang digunakan untuk pelestarian koleksi dari segi fisik yaitu proses konservasi dan restorasi yang meliputi kegiatan fumigasi bahan pustaka, perbaikan buku rusak, pembuatan kotak pelindung biku, dan termite control.

4)        Hambatan yang dihadapi dalam upaya kemas ulang informasi
Beberapa faktor hambatan yang mempengaruhi upaya kemas ulang informasi yang dilakukan di perpustakaan BPAD DIYantara lain yaitu:
a)      Hambatan yang dihadapi kegiatan kemas ulang informasi yaitu sampai dengan saat ini perpustakaan BPAD DIY belum mempunyai ahli Filologi, Dimana ahli filologi ini merupakan tenaga yang mampu memahami kualitas naskah kuno atau ahli menentukan sebuah naskah dapat dikatakan sebagai naskah kuno.
b)      Keterbatasan Aparatur Sipil Negara dan tidak adanya penerimaan CPNS sehingga kurang tenaga dalam proses kemas ulang informasi dan perlu jasa pengolahan dengan mengrekrut tenaga outsourching terutama untuk kegiatan alih media dan harus melakukan kerjasama dengan pihak lain dalam hal alih bahasa, karena belum memiliki staf khusus dalam bidang alih bahasa dan alih aksara.
c)      Tidak semua staf perpustkaan antusias dengan perubahan yang ada apalagi harus beradaptasi dengan teknologi yang baru karena mereka telah terbiasa dengan pekerjaan yang lama. Hal ini membuat mereka merasa posisinya disingkirkan. Peran pemimpin sangatlah penting dalam hal ini untuk memberikan motivasi dan dorongan kepada pegawai lama untuk mampu melek teknologi, untuk terus belajar mengembangkan diri demi kemajuan bersama.
d)     Kurangnya komitmen dan konsistensi dari pimpinan dalam mencapai tujuan, yang berimbas ebijakan selanjutnya dan akan mempengaruhi bawahan atau staf. Seperti halnya menunda, mengabaikan, menghindari dalam pelaksanaan kegiatan kemas ulang informasi.
e)      Anggaran merupakan salah satu faktor terpenting dalam kelangsungan berbagai kegiatan. Perpustakaan harus mampu menggunakan skala prioritas dalam penggunaan alokasi dana yang dimiliki. Terutama untuk menyiapkan infrastruktur yang akan digunakan. Contohnya pembelian komputer dan perangkat lain yang mendukung , scanner, jaringan listrik, pelatihan staf dan sebagainya.
f)       Waktu pengerjaan yang lama untuk mencapai tujuan yang maksimal sesuai dengan harapan yang diinginkan.

E.        KESIMPULAN
Naskah kuno sebagai aset khasanah budaya yang perlu dilestarikan secara fisik dan perlu diselamatkan kandungan informasi yang terdapat didalamnya. Naskah kuno memiliki nilai informasi yang tentu sangat berharga baik ditinjau dari sejarah naskah itu sendiri maupun informasi yang tertulis di naskah tersebut. Perpustakaan BPAD DIY sebagai lembaga yang bertugas untuk melesarikan khasanah budaya perlu melakukan berbagai upaya. Selain itu, untuk meningkatkan layanan prima bagi penggunanya dalam memberikan informasi yang tepat guna sebagai usaha dalam mewujudkan visi BPAD DIY.
Upaya-upaya yang dilakukan perpustakaan BPAD DIY diantaranya dengan melakukan kemas ulang informasi naskah-naskah kuno dengan menggunakan beberapa metode diantaranya (1) alih huruf/aksara, (2) alih bahasa dan (3) alih media. Kemas informasi ini di lakukan untuk melindungi informasi, untuk memenuhi kebutuhan pengguna perpustakaan dan memudahkan pengguna dalam mengkaji informasi-informasi yang terkandung di dalam naskah kuno. Selain itu mampu memberikan layanan kepuasan bagi penggunanya.
Kegiatan kemas ulang informasi ini bukan tanpa kendala berarti namun dalam pelaksanaannya terjadi  beberapa kendala yang menjadi faktor penghambat proses tercapainya visi lembaga. Faktor-faktor penghambat diantaranya yaitu anggaran, SDM, dan waktu. Selain itu, untuk lebih memaksimalkan kegiatan kemas ulang informasi teknologi informasiyang mendukung tentu saja menjadi aspek penting dalam proses pencapaian penyelenggaraan modernisasi layanan harus dilakukan sebagai usaha perpustakaan untuk mengikuti trend generasi digital saat ini.



DAFTAR PUSTAKA
Agada, J. (1995). Analysis of information repackaging (IR) processes using the Instructional System Design (ISD) Model. Journal Of Instructional Science And Technology, October, 1(1), 61–71.

Dongardive, P. (2013). Information Repackaging in Library Services, 2(11), 6.

Fatmawati, E. (2009). Kemas Ulang Informasi: Suatu Tantangan Bagi Pustakawan. Majalah Media Pustakawan, 16(1).

Hartinah, S. (2009). Pemanfaatan Alih Media Untuk Pengembangan Perpustakaan Digital. Visi Pustaka, 11, 6.

Indonesia, P. N. R. (2007). Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 43 Tahun 2007 Tentang Perpustakaan.

Kardi, K. (2009). Knowledge Management dan Kemas Ulang Informasi di Perpustakaan Perguruan Tinggi: Hambatan dan Peluang Perpustakaan Masa Depan. Pustakaloka, 1(1), 13–25.

Primadesi, Y. (2012). Peran Masyarakat Lokal dalam Usaha Pelestarian Naskah-Naskah Kuno Paseban. Komposisi: Jurnal Pendidikan Bahasa, Sastra, Dan Seni, 11(2). Retrieved from http://ejournal.unp.ac.id/index.php/komposisi/article/view/88

Sari, K. (2016). Urgensi Kepemimpinan Transformatif Bagi Perpustakaan Perguruan Tinggi. Pustakaloka, 7(1), 55–78.