Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Jumat, 29 Maret 2019

DUBES RI TERMUDA ITU, TERNYATA ALUMNI UMY




Milad UMY yang ke 38 ini memang istimewa. Kali ini UMY berhasil menghadirkan Duta Besar RI Berkuasa Penuh di Turki dalam pidato ilmiah Milad UMY. Dr. Muhammad Iqbal yang alumni HI UMY itu, dilantik sebagai duta besar Januari 2019 lalu.
Dubes termuda itu, mengawali sambutannya dengan menyampaikan salam hormat kepada pimpinan dan para dosen UMY yang telah membesarkannya. Dulu tidak mengira kalau UMY bisa sebesar ini dan telah menjadi Perguruan Tiinggi Terbaik DIY dan Jawa Tengah, dan menduduki posisi ketiga besar tertinggi tingkat nasional untuk perguruan tinggi di bawah 50 tahun. Memang UMY baru 38 tahun dengan segudang prestasi dan mampu menyalib perguruan tinggi swasta yang lebih tua.
Dalam akhir pidatonya beliau mengharapkan pada adik-adiknya untuk memiliki integritas tinggi. Sebab integritas adalah currency yang paling tinggi nilainya dalam dunia profesional. Pada UMY, beliau berharap agar UMY mampu menjadi universitas yang diperhitungkan dan berdiri sejajar dengan universitas ternama lain, setidaknya di tingkat Asia Tenggara. (Lasa Hs)


Selasa, 26 Maret 2019

SENTUHAN MUHAMMADIYAH, MEMAJUKAN BANGSA



Judul               : Percik Pemikiran Tokoh Muhammadiyah untuk Indonesia Berkemajuan
Penulis             : Tim Penulis MPI PP Muhammadiyah
Penerbit           : Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, 2018
Tebal               : 294 halaman
Telah satu abad lebih Muhammadiyah menyinari bumi pertiwi dengan kemajuan berbagai bidang. Selama itu  pula Muhammadiyah telah melahirkan tokoh-tokoh berbagai bidang. Mereka telah meninggalkan jejak dan pemikiran untuk mencerahkan bangsa sesuai bidang masing-masing.
Sejak awal, Muhammadiyah telah berkomitmen dan bertsnggung jawab yang tinggi untuk memajukan bangsa dan negara. Sejak kepemimpinan KHA Dahlan dan Ny. Walidah dan kepemimpinan sesudahnya sampai kini, Muhammadiyah telah mengambil peran akif dalam usaha kebangkitan bangsa, meraih dan mengisi  kemerdekaan.
Dengan manajemen profesional, Muhammadiyah telah mampu menyentuh tanah menjadi sekolah bermutu, perguruan tinggi berbobot, rumah sakit, masjid, panti asuhan dan lainnya. Bermodal uang sedikit, Muhammadiyah melalui Lazismu ternyata mampu menghimpun milyaran rupiah untuk kesejahteraan umat, dan mampu menyentuh ranah kemanusiaan nasional/internasional dengan tidak membedakan suku, agama, ras, maupun paham.
Buku ini merupakan pengembangan pemikiran dari buku yang diterbitkan sebelumnya, yakni 100 Tokoh Muhammadiyah yang Mengispirasi. Buku ini membahas perjalanan hidup para tokoh. Sedangkan buku Percikan Pemikiran pembahasannya pada hasil pemikiran tokoh dan langkah mereka yang terekam dalam berbagai media seperti dalam bentuk artikel, makalah, sambutan yang terekam, buku , maupun rekaman lain. Semula buku ini direncanakan akan menyajikan percikan pemikiran sekitar 200 orang, namun karena berbagai pertimbangan dan keadaan, baru 60 tokoh yang pemikirannya disajikan dalam  buku ini. Selebihnya akan ditulis pada tahun – tahun mendatang.
Muhammadiyah memiliki etos kerja progresif dalam berbagai bidang untuk kemajuan bangsa dan tegaknya bernegara.  Secara garis besar etos kerja berkemajuan itu dapat dibagi menjadi:
Pertama, etos berkemajuan di bidang ibadah. Yakni mendayagunakan sumber daya untuk membentuk kesalehan individu dan mengaktualisasikan umat untuk membangkitkan kesalehan sosial.
Kedua, etos berkemajuan di bidang ekonomi dan sosial.
Ketiga, etos berkemajuan di bidang pendidikan dan kebudayaan
Keempat, etos berkemajuan di bidang politik dan pemerintahan
Kelima, etos berkemajuan di bidang informasi.
            Pembahasan dalam buku ini dibagi menjadi 3 bagian. Bagian pertama membahasa etos berkemajuan Muhammadiyah dan peran Muhammadiyah dalam mengawal perjalanan bangsa. Pada bagian kedua menampilkan pemikiran tokoh-tokoh Muhammadiyah seperti KHA Dahlan, Buya Syafi’i, Dadang Kahmad. Hajriyanto Y.Thohari, Said Tuhuleley, dan Rahmawati Husien yang menyoroti tentang percik-percik pemikiran untuk Indonesia Berkemajuan. Kemudian pada bagian keempat menyajikan pemikiran tokoh-tokoh Muhammadiyah dalam berbagai bidang untuk Indonesia Berkemajuan. Pemikiran-pemikiran itu antara lain disampaikan oleh Kiyai Badawi, Pak AR, AM Fatwa, Abdul Hadi WM, Ki Bagus Hadikusumo, Kasman Singodimedjo, M. Busyro Muqoddas, Amin Abdullah, M. Rasjidi, Baroroh Baried, Soekarno, dan lainnya. Penerbitan buku ini akan disusul penerbitan buku berikutnya, karena masih banyak pemikiran tokoh Muhammadiyah dalam berbagai bidang yang ternyata belum terangkum disini.

Lasa Hs




Minggu, 24 Maret 2019

SOLUSI KONFLIK ALA MUHAMMADIYAH



                                                            Tulisan 2
                                                       Oleh : Lasa Hs
            Setelah Masyumi bubar tahun 1960an, maka hubungan Muhammadiyah dengan Pemerintah (Bung Karno) kurang harmonis, bahkan ketegangan terselubung. Di satu sisi, Bung Karno ingin mendudukkan salah seorang putra terbaik Muhammadiyah dalam kabinetnya. Yakni beliau ingin memberikan Jabatan Menteri Sosial kepada Muljadi Djojomartono (tokoh Muhamadiyah dan Masyumi).
Mendengar informasi itu, maka naluri sebagai penulis muncul pada diri Buya Hamka anggota PP Muhammadiyah. Beliaupun spontan pegang pena lalu menulis masalah itu. Tulisan itu lalu muncul di harian Abadi dengan judul: Maka Pecahlah Muhammadiyah. Dalam tulisan di harian Jakarta ini, beliau menyatakan bahwa Pimpinan Pusat Muhammadiyah terbelah menjadi dua. Yakni pimpinan istana dan pimpinan di luar istana. Dalam kelompok istana disebutkan ada nama Farid Makruf. Farid Makruf merupakan salah satu pimpinan Muhammadiyah yang mendukung Muljadi Djojomartono menjadi Menteri Sosial sebagaimana yang diinginkan Bung Karno.
Agar perbedaan pendapat ini tidak berlarut-larut, lalu diselenggarakan sidang Tanwir PP Muhammadiyah dengan acara evaluasi program. Pada sidang Tanwir ini, Buya Hamka dipersilahkan melakukan klarifikasi tentang tulisannya di harian Abadi yang berjudul Maka Pecahlah Muhammadiyah.  Beliaupun dengan tenang menuju mimbar dengan menahan genangan  air mata. Sesampai di mimbar beliau diam sejenak, berat rasanya untuk memulai, dan suaranya agak lama tak bisa keluar. Sejenak kemudian mulailah berbicara meskipun dengan menahan perasaan haru. Di sini beliau menyatakan bahwa sebagai seorang penulis begitu memeroleh informasi lalu dengan refleksnya menulisnya  apa yang saat itu terlintas dalam pikirannya. Sebab kalau tidak segera ditulis ide itu bisa hilang. Beliau menyatakan bahwa dengan tulisannya itu sebenarnya dimaksudkan untuk menjaga harkat dan martabat Muhammadiyah dan cintanya kepada Muhammadiyah. Selanjutnya beliau dengan terbata-bata  menyatakan, bahwa apabila tulisan itu menyinggung perasaan KH Farid Makruf yang juga sebagai sahabat yang dicintainya, beliau menyesal dan mohon maaf.  
            Seusai itu, Buya Hamka turun dari mimbar . Maka  pimpinanh sidang kemudian mempersilahkan KH Farid Makruf untuk tampil ke mimbar. KH Farid Makruf diberi kesempatan untuk menyampaikan pemikiran dan pertimbangan mengapa beliau mendukung kebijakan Bung Karno untuk mengangkat Pak Muljadi Djojomartono sebagai Menteri Sosial saat itu. Di mimbar itu, beliaupun diam sejenak berat untuk memulai. Suasana menjadi hening sejenak. Padahal beliau diam-diam telah menyiapkan setumpuk berkas untuk pembelaannya. Namun dalam pikiran KH Farid Makruf ternyata berubah, dan tidak mengira kalau Buya Hamka tidak menyerangnya, bahkan menyatakan penyesalan dan minta maaf. Namun bagaimanapun juga masalah perbedaan pendapat itu harus dicari solusinya agar tidak mengganggu stabilitas persyarikatan. Dengan gayanya yang khas dan tenang, beliau menjelaskan bahwa pertimbangan beliau menyetujui kebijakan bahwa  Pak Muljadi Djojomatono dicalonkan sebagai Menteri Sosial karena cntanya kepada Muhammadiyah. Menurut pertimbangannya, bahwa Muhammadiyah masih perlu dukungan dan bantuan dari pihak lain termasuk dari Pemerintah. Namun beliau juga menyadari apabila ternyata persetujuan itu tidak dikehendaki para pimpinan Muhammadiyah, maka saat itu beliau siap mundur dari Muhammadiyah.
            Pak Farid Makruf belum selesai bicara, maka berdirilah Buya Hamka dengan mengacungkan tangan dan interupsi dan berteriak” Pimpinan, saudara Farid jangan mundur, dari PP Muhammadiyah, tetapi saya saja yang mundur”.  Mendengar interupsi ini, lalu Pak Farid diam sejenak dan tertegun. Suasan sidang menjadi tegang namun diam. Lalu Pak Farid turun dari mimbar menghampiri Buya Hamka. Buya Hamkapun berdiri dan melangkah menyambut Pak Farid. Kemudian keduanya saling merangkul saling minta maaf dan memaafkan atas kesalah pahaman itu.Semua itu demi cintanya kepada Muhammadiyah. Adegan yang mengharukan ini membuat peserta sidang trenyuh, begitu tulus ikhlas para tokoh dalam membela dan memperjuangkan pergerakan Muhammadiyah. Saat itu banyak anggota sidang yang menitikkan air mata menyaksikan kesadaran bersama dan sikap saling menghargai perbedaan pendapat.
Konflik memang tidak bisa dihindari dalam kehidupan berorganisasi, bermasyarakat, dan bernegara. Namun yang penting bagaimana menyikapinya agar konflik itu tidak menjadi perpecahan, dan perlu saling menghormati perbedaan pendapat dan pilihan.

Habis.

Kiprah Kepustakawanan



           “NGOJEK” ALA PERPUSTAKAAN UMY

Sabtu pagi 23-3-2019 ada suasana yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Pagi itu sekelompok mahasiswa bincang-bincang seputar pemikiran tokoh Muhammadiyah. Mereka duduk lesehan,  cerita-cerita tentang para tokoh sejak KHA Dahlan, Pak AR, sampai Pak Dasron Hamid di ruang Muhammadiyah Corner Perpustakaan UMY. Dari diskusi kecil itu muncullah usulan nama  kegiatan itu dan disetujui menjadi NGOJEK (Ngobrol Jejak Kehidupan). Kegiatan ini akan berlangsung setiap Sabtu dengan membedah pemikiran tokoh-tokoh Muhammadiyah yang lain. Cara ini untuk menghidupkan layanan Muhammadiyah Corner. Yuk kita ciptakan layanan yang inovatif berkemajuan

Jumat, 22 Maret 2019

Berkhidmat Mengelola Muhammadiyah




Jum`at Cerah : Muhasabah

Jum`at, 22 Maret 2019 Khatib yang ada di Masjid KH. Ahmad Dahlan UMY mengutip dari Kitabnya Al-Ghazali, bahwa suatu ketika ada salah seorang tabi'in yang mau menjual kain tenunnya ke pasar. Kain tersebut ia tenun selama berbulan - bulan. Ketia  tiba di pasar, ia mengutarakan maksutnya kepada seorang pedagang, "Bapak, saya ingin menjual kain tenun saya" kata tabi`in tadi. 

Lalu pedagang itu bilang "Setelah aku cek, kainmu ini bagus, namun ternyata ada cacatnya, jadi aku nggak mau beli". Mendengar jawaban pedagang itu, maka tabi`in ini menangis. Kemudian pedagang tanya "kenapa kamu menangis, akun kan sudah bilang jujur.. Ya sudah, karena aku kasihan,,,, aku beli kainmu ini tapi dengan harga yang sesuai dengan kondisinya. akun nggak bisa beli dengan harga yang tinggi". Kemudian tabi`in tersbeut menjawab "akun menangis bukan karena kain tenunku ini yang cacat, namun aku ingat dengan ibadahku. Aku takut selama ini aku beribadah kepada Allah, ternyata ada cacatya sehingga Allah nggak mau menerima ibadahku". 
Lantas pedagang itu terdiam....

Kemudian sang khatib menegaska, dari cerita itu dapat kita ambil kesimpulan bahwa,tidak ada satupun yang tahu ibadah kita diterima oleh Allah atau tidak, sehingga yang harus kita lakukan adalah merasa takut akan hal itu dan dibarengi dengan raja` . Raja`  yaiu benar-benar berharap kepada Allah agar Allah mau menerima Ibadah kita, karena perasaan takut dan raja` sendiri sudah termasuk ibadah kepadanya.

Kisah yang sama juga pernah dijelaskan oleh Rasulullah. Pada suatu hari Rosulullah becerita kepada para sahabatnya, "suatu saat nanti akan ada orang yang bangkrut", kemudian sahabat bertanya "siapa itu wahai Rosulullah". Lalu Rosul menjawab yang intinya "yaitu mereka yang banyak ibadahnya, namun pahala ibadahnya itu hilang karena dosa - dosa yang ia perbuat"

Eko Kurniawan

Kamis, 21 Maret 2019

KIPRAH KEPUSTAKAWANAN


20 Februari 2019
Perpustakaan UMY bekerjasama dengan FPPTI DIY menyelenggarakan Workshop Antisipasi Plagiasi yang berlangsung di Lt.4 Gedung Perpustakaan UMY. Pemateri Sasriyati dari IGroup. Acara ini diikuti oleh kepala perpustakaan maupun petugas perpustakaan PTN/PTS DIY.

28 Februari 2019
Dalam rangka meningkatkan peran perpustakaan, Perpustakaan UM Mataram NTB menyelenggarakan bimbingan akreditasi yang dibimbing oleh Lasa Hs. Dalam kesempatan itu, para pustakawan langsung praktek mengisi borang. Dari penilaian sementara saat itu bahwa nilai  Perpustakaan UM Mataram sudah mendekati nilai baik.Diharapkan adanya pembenahan terutama sarana prasarana, lay out, anggaran, dan lainnya agar  mencapai hasil terbaik.

1 Maret 2019
Pustakawan diharapkan menguasai kompetensi dalam era revolusi industri 4.0. Perubahan ini harus diikuti dan tidak bisa dihindari apalagi ditolak. Hal ini disampaikan Lasa Hs, dalam kuliah umum di depan mahasiswa D3 Ilmu Perpustakaan Unversitas Muhammadiyah Mataram NTB.

5 Maret 2019
FPPTMA bekerjasama dengan Perpustakaan UAD menyelenggarakan Workshop Sertifikasi untuk pustakawan PTMA. Kegiatan yang berlangsung di kampus IV UAD ini diikuti oleh 30 orang pustakawan PTMA. Sebagai pemateri/pendamping antara lain Maria Unun (UMS), Purwati (UM Purwokerto), Uminurida Suciati (UGM) dan lainnya.

12 – 14 Maret 2019
Sebanyak 9 staf Perpustakaan UMY mengadakan silaturrrahmi ke Perpustakaan UI dan Binus Jakarta. Sementara itu Lasa Hs selaku Ketua FPPTMA menyelenggarakan konsolidasi dan sosialisasi Standar Mutu Perpustakaan PTMA di kampus Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB AD) Jakarta.

19 Maret 2019
Perpustakaan UMY menyelenggarakan Workshop Sosialisasi Jaws yang diselengarakan di Lantai Dasar Gedung Perpustakaan UMY. Kegiatan ini diikuti oleh 30 orang siswa dan pendamping dari Yaketunis dan SLB Bantul. Bapak Puji Widodo sebagai pemateri.

23 Maret 2019
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UMY akan menyelenggarakan dikusi tentang pemikiran Tokoh Muhammadiyah di Ruang Muhammadiyah Corner Perpustakaan UMY. Kali ini akan dibahas pemikiran Ir. Dasron Hamid, MADE (Allahu Yarham). Acara membedah pemikiran tokoh Muhamamadiyah ini akan diseenggarakan secara rutin. Siapapun bisa hadir.


25 Maret 2019
Korwil FPPTMA Jawa Barat akan menyelenggarakan workshop Literasi Informasi di Perpustakaan Universitas Muhammadyah Tasikmalaya. Sebagai Pemateri adalah Novi Diana Fauzi (Pustakawan UMY). Kemudian dilanjutkan dengan Rakor FPPTMA Jawa Barat yang akan diikuti oleh sekitar  20 kepala perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah se Jawa Barat.

18 April 2019
Perpustakaan UMY akan menyelenggarakan workshop/pendampingan Akreditasi Perpustakaan Sekolah Muhammadiyah dan lainnya. Kegiatan ini boleh diikuti oleh perpustakaan sekolah lain dengan kontribusi Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah). CP Aidilla Qurotianti (087722259069), No rekening Bank Syari’ah No. 0479768841 (Aidilla Quratianti), paling lambat 15 April 2019.

23 April 2019
Perpustakaan UMS akan menyelenggarakan Workshop Akreditasi Perpustakaan di kampus UMS Pabelan. Sebagai narasumber dari BPAD Jawa Tengah,Perpustakaan Nasional RI, dan dari FPPTMA.

24 – 25 April 2019
Perpustakaan UMY akan menyelenggarakan TOT Literasi Informasi, SKKNI, akreditasi, pengelolaan repositori di Perpustakaan UMY Gedung D Tamantirto. Kegiatan ini bisa diikuti oleh perpustakaan perguruan tinggi negeri maupun swasta.

2 Mei 2019
Perpustakaan UMY akan menyelenggarakan workshop/pendampingan Akreditasi Perpustakaan Sekolah yang dapat diikuti oleh sekolah Muhammadiyah, sekolah negeri,maupun sekolah lainnya. Adapun kontribusi workshop Rp. 100.000,-. CP Aidilla Qurotianti (087722259069) Rek. Bank Syari’ah (Aidilla Qurotianti).  Paling lambat 15 April 2019.  


Selasa, 19 Maret 2019

Daftar Jurnal Terakreditasi DIKTI

Salah satu syarat akreditasi prodi yaitu tersedianya beberapa jurnal di perpustakaan, sehubungan dengan hal tersebut anda bisa mengunjungi link https://www.fpptma.or.id/p/daftar-jurnal-terakreditasi-dikti.html. untuk mendapatkan artikel jurnalnya.

*Daftar jurnal akan selalu diupdate

Sosialisasi Pemanfaatan Aplikasi JAWS bagi Penyandang Tunanetra

Selasa, 19 Maret 2019 Perpustakaan UMY  menyelenggarakan sosialisasi aplikasi JAWS. JAWS merupakan sebuah aplikasi yang dapat membacakan teks yang ada di komputer, sehingga penyandang tunanetra mudah dalam mengoperasikan komputer

Acara tersebut diikuti oleh 30 orang tunanetra dan pendamping, yakni dari Yaketunis dan SLB Bantul. Program ini diselenggarakan untuk meningkatkan layanan perpustakaan terutama untuk pemustaka berkebutuhan khusus.

Materi disampaikan oleh Bapak Puji Widodo, beliau menjelaskan bahwa tuna netra itu terdiri dari 3 jenis, yaitu total blind, low vision, dan MDVI.

  • Total blind merupakan tunanetra total, sehingga ia sama sekali tidak bisa melihat
  • Low vision merupakan jenis tunanetra namun belum total, sehingga ia dapat melihat tulisan dengan font 12 ke atas, namun kelihatan remang - remang
  • MDVI yaitu tunanetra yang disertai dengan kebutuhan khusus lainnya. Misalnya tunanetra dan tunarungu, dsb.


Selain itu, beliau juga menjelaskan bahwa dengan adanya pelatihan ini, membuktikan bahwa UMY mempunyai perhatian terhadap mereka, UMY dapat dijadikan sebagai salah satu rujukan perkulihaan bagi mereka yang berkebutuhan khusus.

Dalam kesempatan itu, beliau juga memberikan motivasi kepada peserta, karena dibalik ujian yang diberikan oleh Allah, pasti Allah berikan kelebihan yang luar biasa. Terbukti ada beberapa siswa yang jago dalam berbagai hal, misalnya bernyayi. Berikut penampilan siswa tersebut.

Eko Kurniawan



Senin, 18 Maret 2019

SOLUSI KONFLIK ALA MUHAMMADIYAH



                                
Tulisan  1
                                   Oleh : Lasa Hs
Dalam catatan sejarah, memang Muhammadiyah secara kelembagaan maupun individu pernah aktif dalam partai politik praktis dan perjuangan kemerdekaan RI. Muhammadiyah pernah menjadi anggota istimewa Masyumi (Majelis Syuro Muslimin Indonesia) selama 15 tahun (1945 – 1960). Muhammadiyah telah menyalurkan aspirasinya melalui partai ini, dan mendampinginya sampai Masyumi bubar pada tahun 1960.
Memang hubungan Muhammadiyah dengan Masyumi kadang mengalami pasang surut. Untuk itu,Syaifullah dalam bukunya Gerak Politik Muhammadiyah dalam Masyumi (2019)  memetakan menjadi tiga tahap. Yakni tahap hubungan mesra pada tahun 1945 – 1955, hubungan renggang pada tahun 1955 – 1959. Kemudian terjadi fase penyelamatan pada tahun 1959. Yakni penyelamatan eksistensi anggota istimewa, dalam hal ini termasuk Muhammadiyah.
Disamping itu, dalam perjalanan sejarah, tidak sedikit diantara para tokoh Muhammadiyah yang telah dan sedang aktif dalam partai politik, perjuangan kemerdekaan, dan pemerintahan. Beberapa contoh antara lain Mas Mansur pernah masuk Syarikat Islam yang dipimpin oleh HOS Tjokroaminoto. Ki Bagus Hadikusumo pernah aktif di Partai Islam Indonesia (PII), Majelis Islam A’la Indonesia (MIAI) dan Masyumi. Pengalaman dan peran aktif beliau dalam partai politik inilah yang mengantar beliau sebagai tokoh Muhammadiyah yang ikut berperan dalam penyusunan Pembukaan UUD 1945.
Tokoh Muhammadiyah lain adalah Ahmad Rasyid Sutan Mansur pada pendudukan Jepang, beliau diangkat sebagai anggota Tsuo Sangi Kai dan Tsuo In (seperti DPR dan DPRD). Pada tahun 1952, beliau juga dipercaya sebagai Wakil Ketua Syuro Masyumi Pusat. Kemudian pada tahun 1955 (Pemilu pertama) beliau terpilih menjadi anggota Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) dan anggota Konstituante dari Masyumi.
          Adalah Faqih Usman yang putra Gresik itu juga pernah menjadi Menteri Agama RI, dan pernah menjadi bendahara MIAI pada tahun 1938. Bersama Hasan Basri (Ketua MUI) dan Anwar Haryono, beliau pernah mengirim nota Politik yang kemudian dikenal dengan Nota Faqih Usman kepada pemerintah Orde Baru. Isi nota politik itu adalah minta pada Pemerintah Orde Baru agar partai Masyumi direhabilitir.
Kiranya masih sekian deret nama yang terjun dan aktif dalam partai politik, perjuangan kemerdekaan, dan pemerintahan. Mereka itu antara lain Buya Hamka, Ahmad Azhar Basyir (Angkatan Perang Sabil), Djarnawi Hadikusumo (Parmusi), Amien Rais (PAN), dan lainnya.
Pada prinsipnya, Muhamamadiyah berpolitik dengan mengedepankan nilai keluhuran, etika, dalam beramar ma’ruf nahi munkar. Politik Muhammadiyah berkeadaban dan mencerahkan. Bukan politik asal bunyi, produsen hoak, pencipta fitnah, pesimistis, merendahkan yang lain,  maupun penyulut kebencian. Cara-cara seperti ini akan basi. Sebab masyarakat kita semakin cerdas.
Itulah garis besar perjuangan Muhammadiyah yang berusaha mencerahkan dan memajukan bangsa melalui amar ma’ruf nahi munkar untuk kebaikan umat. Maka tak perlu menarik-narik Muhammadiyah sebagai persyarikatan ke ranah pilitik praktis. Tak perlu didorong-dorong ke kanan maupun ke kiri. 
“Para politikus suka mengatakan bahwa kalau Muhammadiyah tetap bersikukuh tidak berpolitik (praktis), tentu akan dimakan politik. Jawaban kita: Silahkan makan kalau memang doyan. Tapi awas, kalau nanti keleleden. Ditelan tidak masuk, dilepeh  tidak keluar”. Ini penggalan kalimat yang diucapkan Muhammad Junus Anis (Ketua PP Muhammadiyah 1959 – 1962) dalam Pidato Iftitah Muktamar ke 35 dan sekaligus Setengah Abad Muhammadiyah (Suara Muhammadiyah, 16 – 31 Maret 2019: 7)

Bersambung


SELAMAT MILAD KE 38 UMY




PAK  AR  dan  UMY

          Pada tahun 1980an, kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta/UMY masih berlokasi di Jl.HOS  Cokroaminoto Wirobrajan, yakni di lapangan ASRI (sekarang untuk Asri Medical Centre/AMC). Saat itu, Ir. Dasron Hamid selaku Rektor UMY ditawari tanah 25 ha oleh Bupati Bantul. Harga per meter berapa, tidak diketahui. Namun Pak Dasron saat itu menawar Rp. 2.500-/per meter persegi, dengan catatan bahwa ongkos administrasi ditanggung UMY. Akhirnya terjadilah kesepakatan harga per meter Rp. 5.000,- (lima ribu rupiah) saat itu.
          Ketika itu, UMY memang belum memiliki dana yang cukup. Akhirnya lapor ke PP Muhammadiyah dan minta dicarikan pinjaman dana sebesar Rp. 750.000.000,- (tujuh ratus lima puluh juta rupiah). Kemudian pimpinan Muhammadiyah mengadakan rapat dan memutuskan untuk berusaha mencari bantuan dana. Usaha itu antara lain mencari bantuan dana pinjaman kepada Pak Harto (Presiden RI). Lalu Pak AR ditugasi untuk melaksanakan keputusan rapat itu. Pak AR lalu menulis surat berbahasa Jawa ditulis tangan yang kira-kira kalimatnya sebagai berikut:
Pak Harto, niki Rektor UMY kewanen, mboten gadah arto ngawis siti dateng Pak Bupati Bantul 25 hektar; per meter persegi reginipun Rp. 5.000,- kaliyan biaya administrasinipun. Dening Pak Bupati dipun parengaken. Gandeng UMY lan Muhammadiyah mboten gadah arto, menawi kepareng Muhammadiyah bade nyuwun ngampil arto Rp. 750.000.000,- (pitung atus seket yuta), kangge mbayari siti punika. Insyaa Allah mangke bade kita angsur saben tahun”.
 (Pak Harto, ini Rektor UMY nekat, terlalu berani. Tidak punya uang tetapi berani menawar tanah (untuk membangun  kampus baru UMY) kepada Pak Bupati Bantul seluas 25 ha, per meter persegi seharga Rp. 5.000,- termasuk biaya admnistrasinya. Karena UMY dan Muhammadiyah tidak punya uang, maka jika diperkenankan Muhammadiyah mau pinjam uang kepada Bapak untuk membayar tanah itu. Insya Allah akan diangsur setiap tahun.
          Alhamdulillah, seminggu setelah surat itu dikirim, Pak AR ditilpon Bapak Ali Afandi (Bendahara Yayasan yang dikelola Pak Harto) bahwa Pak Harto tidak bisa meminjmi uang sebanyak itu, tetapi malah membantu Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta rupiah).
Mendengar pemberitahuan dari Pak Ali Afandi tersebut, lalu Pak AR menjawab:” Nggih pun dos pundi malih, kepekso purun”.  Kemudian beliau menilpon Pak Dasron Hamid supaya sujud syukur. Setelah selesai sujud syukur, barulah diberitahu bahwa Pak Harto tidak bisa meminjami, tetapi malah membantu Rp.500.000.000,- untuk beli tanah di kawasan Tamantirto sebagai lokasi UMY saat ini. Subhanallah.
 Untuk pendahulu kita, sebaiknya yang baik-baik yang disampaikan. Itulah namanya mikul duwur mendem jero.

(Kisah Inspiratif Para Pemimpin Muhammadiyah, 2015: 100 – 101)

Lasa Hs

Jumat, 15 Maret 2019

ETIKA PROFESI PUSTAKAWAN DALAM KECERDASAN SPIRITUAL


    
                                    Oleh: Enny Anggraeny
                        Pustakawan Universitas Diponegoro Semarang

Abstrak
            Profesionalisme pustakawan dalam memberikan layanan prima tidak lepas dari etika pustakawan.Dengan kecerdasan spiritual dalam pelaksanaan tugas kepustakawanan, akan  memberikan dasar bahwa bekerja itu ibadah yang dilandasi keikhlasan.  Penerapan prinsip zakat misalnya, merupakan bentuk integritas pustakawan.  Zakat merupakan salah satu bentuk ekspresi potensi spiritual manusia dan penanaman konsep pemeliharaan lingkungan sosial.Hal ini merupakan bentuk saling membantu dan memperkuat sinergi kemanusiaan.
Melalui potensi spiritual zakat yang disana terdapat nilai kemanusiaan, saling menyayangi, saling membantu, sikap sopan, sikap saling menghargai merupakan nilai spiritual bagi pustakawan dalam melaksanakaan tugas-tugas kepustakawanan.
Dengan dasar-dasar tersebut, manusia akan memeroleh etika yang sebenarnya. Yakni etika yang baik dan benar menurut Allah dan menurut manusia.


(Sumber: Layanan Perpustakaan Berbasis Humanisme,2013: 271)


PERAN KERJASAMA LAYANAN LIBRARY CAFÉ DENGAN KREATIFITAS MAHASISWA di PERPUSTAKAAN PERGURUAN TINGGI




          Oleh : M. Firdaus Charis N.
            Pustakawan Universitas Muhammad          iyah Semarang
                       
                                           Abstrak
Tujuan penelitian ini untuk memberikan wacana bahwa perpustakaan merupakan sumber informasi dan media refreshing  pemustaka dalam kegiatan keilmuan. Para pecinta ilmu pengetahuan dapat melakukan interaksi, berekspresi,  akses informasi, dan saling berbagi melaui media yang disediakan perpustakaan.
Tulisan ini mengedepankan konsep library café  yang mencakup; eksistensi perpustakaan perguruan tinggi, layanan kafe, dan kreativitas. Untuk merealisir layanan library café  ini diperlukan sumber daya manusia yang kompeten.
Hasil analisis dapat disimpulkan bahwa terjadi pergeseran fungsi perpustakaan Perguruan Tinggi. Hal ini disebabkan adanya perubahan pemanfatan perpustakaan PT yang dulu sekedar tempat membaca, dan kini telah berubah menjadi media pengembangan kreativitas sivitas akademika.

(Sumber: Layanan Perpustakaan Berbasis Humanisme,2013: 78)

Selasa, 12 Maret 2019

Dampingi Orang Tua dalam Bersosmed

Di era teknologi informasi seperti saat ini, dengan mudahnya seseorang dapat mendapatkan informasi dari berbagai media, baik media cetak, maupun media digital. Semenjak munculnya internet, informasi dalam bentuk digital berkembang sangat pesat, bahkan dalam watu 1 hari saja bisa jadi muncul ribuan sampai jutaan informasi baru. 

Selain itu, dengan adanya teknologi internet tersebut muncul aplikasi sosial media yang bisa digunakan untuk berkomunikasi di dunia maya, diantaranya aplikasi sosial media yaitu facebook, instagram, whatsapp, line, bbm, dan sebagainya.  Selain digunakan untuk berkomunikasi, melalui sosial merdia juga kita bisa share informasi kepada yg lain.

Seperti yang kita tau, sosial media ini merupakan aplikasi bebas, sehingga semua orang bebas menuliskan apa saja yang ia mau. Sehingga informasi yang ada di sosial media tidak dapat dipertanggung jawabkan kebenarannya.

Dari kebebasan itulah, ada beberapa orang yang memang sengaja menyebarkan berita hoax di sosial media. Penyebaran berita itu dilatar belakangi beberapa motif, diantaranya yaitu :
1.     Motif Ekonomi
Contoh penyebaran berita hoax dengan motif ekonomi yaitu, ketika seseorang membuat website yang disitu terdapat iklannya. Lalu ia membuat judul berita yang bombastis, kontroversial, dan hoax. Kemudian judul berita itu ia share ke sosial media. Secara otomatis ketika orang membaca judul berita yang bombastis, dan kontroversial, maka akan banyak orang yang mengeklik/membuka judul berita itu. Semakin banyak orang yang membuka berita itu maka semakin banyak pula pendapatan orang yang punya website tersebut.

2.     Motif Politik
Contohnya, diitahun politik ini, ada sebagian orang membuat kampanye hitam di sosial media, Kampanye tersebut berupa informasi hoax yang dibumbuhi dengan editan gambar dan informasi yang bombastis. Penyebaran berita itu biasanya bertujuan agar elektabilitas salah satu paslon menurun

Bagi orang tua yang baru kenal dengan sosial media,  ada sebagian mereka yang langsung percaya bergitu saja terhadap gambar - gambar atau informasi yang di share  tersebut. Tida berhentu disitu, bahkan kadang kala mereka juga meneruskannya kepada yang lain. Sehingga informasi hoax tersebut bisa tersebar ke mana - mana dan viral

Sebagai generasi milenial, kita wajib mendampingi orang tua kita masing-masing, memberikan pengertian bahwa informasi yang ada di sosial media tersebut tida semuanya benar. Tentu dengan pendampingan yang tida terkesan menggurui. 

Eko Kurniawan

Minggu, 10 Maret 2019

DEMI IMAN : THALHAH SERAHKAN TANAHNYA, ZAID SERAHKAN KUDANYA


Firman Allah yang artinya: “Kamu sekalian tidak akan memperoleh kebajikan, sebelum kamu menginfakkan sebagian harta yang kamu cintai. Dan apapun yang kamu infakkan, tentang hal itu sungguh, Allah Maha Mengetahui ” (Q.S Ali Imran: 92)
Menyebut iman itu mudah, namun mencapai hasil iman itu yang sulit. Seseorang belum akan mencapai kebaikan (birr) atau pribadi yang baik kalau dia belum menginfakkan/menyumbangkan sesuatu yang dicintainya.
Setelah ayat ini turun, maka sangat besar pengaruhnya bagi para sahabat Nabi Muhammad saw. Mereka sangat ingin menjadi pribadi yang baik dengan memperhatikan orang banyak dan tidak individualis.
Adalah Abu Thalhah seorang sahabat Rasulullah saw dari kaum Anshar. Pak Thalhah memiliki kebun/tanah luas yang subur di Bairuhaa’ . Tanah ini tidak terlalu jauh dari Masjid Nabawi Madinah. Kebun ini dipelihara secara baik, dipupuk tanamannya, dijaga kebersihannya. Dibayarnya pekerjanya sebelum keringat kering. Upah mereka tidak dikemplang. Pengemplangan (tidak bayar upah, hutang) menyengsarakan banyak orang. Lingkungan dan sanitasinya dijaga betul. Maka tak heran bila  Rasulullah saw beberapa kali singgahdi kebun ini untuk minum airnya yang sangat bersih. Dengan pemilikan kebun yang subur dan sering dikunjungi Nabi saw ini, maka nama Thalhah menjadi viral saat itu. Thalhah tidak terlalu bangga dengan luasnya tanah yang dimilikinya itu.  Iman yang kuat, mendorongnya untuk menghibahkan tanah itu demi kamaslahatan umat. Beliau pun menemui Nabi Muhammad saw dan menyatakan:”Aku ingin mengamalkan wahyi Ilahi itu, Ya Rasulullah. Kekayaan yang paling aku cintai adalah kebun/tanah di Bairuhaa. Terimalah  ya Rasulullah. Itu sebagai sedekahku. Aku memberikan kuasa kepada Rasulullah untuk menyerahkannya kepada siapapun yang pantas menerimanya.
          Dengan amat gembira, Rasulullah saw menerima penyerahan tanah untuk kemaslahatan umat itu. Beliaupun menghargai Thalhah yang dengan ketulusan hati yang telah menyerahkan tanah itu, meskipun tidak sampai ratusan ribu hektar.
          Dengan kebijakan Rasulullah saw, beliau menguasakan kembali kepada Pak Thalhah untuk membagi tanah itu kepada siapapun yang dikehendakinya. Menurut riwayat hadits Muslim, harta itu diberikan kepada Zaid bin Tsabit dan Ubay bin Ka’ab.
Demikian pula dengan Zaid bin Haritsah mantan putra angkat Nabi Muhammad saw. Zaid ini sowan kepada Nabi saw dengan menunggang kudanya yang sangat disayanginya. Kuda ini diberi nama Subul. Beliaupun matur kepada Rasulullah saw:”Ya Rasulullah, inilah kuda    tungganganku yang engkau tahu adalah yang paling aku sukai. Terimalah dia sebagai sedekahku dan sudilah Rasulullan memberikannya kepada yang lebih pantas menerimanya, semoga hal ini diterima Allah”.
          Kuda yang tangkas itu diterima Rasulullah saw sampai beliau melihat wajah Zaid membayangkan kesedihan Zaid berpisah dengan kuda yang disayanginya. Akan tetapi kepemimpinan Rasulullah saw adalah kememimpinan yang sangat mulia dan bijaksana. Kemudian beliau menyuruh sahabat lain untuk menjemput Usamah putra Zaid. Usamah sangat dicintai Rasulullah saw seperti cinta Rasul kepada Zaid bin Haritsah. Setelah Usamah tiba, maka bersabdalah Rasulullah saw:” Kuda tunggangan yang cantik ini telah diserahkan Zaid kepadaku, dan aku  telah menerimanya dan aku berhak memberikannya kepada siapapun yang aku kehendaki.Sekarang kuda ini aku serahkan kepada Usamah”. Demikianlah keagungan kepemimpinan beliau. Tanah yang amat dicintai Abu Thalhah disedekahkannya dan menguasakan kepada  Nabi untuk memberikanmya kepada siapapun yang dkehendakinya. Lalu Rasulullah saw menguasakan kembali kepada Pak Talhah. Kemudian Pak Thalhah menghadiahkan kebuh/tanah itu kepada Zaid bin Tsabit dan Ubay bin Ka’ab.
Demikian pula dengan kuda Subul yang sangat dicintai oleh Zaid bin Haritsah. Setelah kuda itu diterima Nabi saw, maka langsung diserahkan  kepada Usamah yang juga putra Zaid bin Haritsah. Dengan demikian barang yag berharga dan sangat dicintainya itu diterima oleh orang-orang yang tidak jauh dari yang memberikannya.
(Sumber:  Tafsir Al Azhar Juz 4,5,6, , 2015 : 6 – 7)


Lasas Hs.

Jumat, 08 Maret 2019

PESIMIS ITU MATI SEBELUM PERANG


Pesimis adalah sikap takut, putus asa, bahkan merasa kalah sebelum menghadapi masalah. Mereka merasa tidak mampu mengatasi kesulitan masa depan yang menghadang. Mereka menyerah kalah sebelum maju perang. Mereka takut melangkah begitu melihat masa depannya gelap gulita. Bahkan mereka bunuh diri akibat penderitaan dan kesusahan yang mendera hidup dan kehidupan mereka. Baik kehidupan ekonomi, kehidupan rumah tangga, maupun kekuasaan.
Mereka menggantung diri karena kesulitan ekonomi. Tidak sedikit seorang ayah atau ibu tega meninggalkan anak-anak mereka dengan bunuh diri lantaran keretakan rumah tangga. Bahkan bisa terjadi seseorang menenggak racun lantaran gagal menggapai kekuasaan/jabatan tertentu.
          Kondisi semacam itu bisa terjadi lantaran tipisnya iman, sempit memandang kehidupan, kuatnya tekanan, dan lingkungan.
Tipis iman
Orang-orang yang memiliki iman kuat, akan berkeyakinan bahwa hidup ini ada yang mengatur. Mereka akan baik sangka/khusnudz dzan terhadap apa yang akan terjadi, termasuk penderitaan yang sedang dialami. Kehidupan yang menyenangkan dan menyusahkan diterimanya sebagai anugerah. Bila senang, mereka bersyukur, bila sedih mereka sabar. Ketika ditimpa kesedihan, mereka yakin bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosanya dan akan diangkat derajatnya. Mereka yakin kebenaran apa yang disabdakan Rasulullah saw:” Tidaklah seorang muslim tertimpa suatu musibah dan keletihan, kekhawatiran, kesedihan, dan tidak juga gangguan dan kesusahan bahkan duri yang melukainya melainkan Allah swt akan mengampuni dosanya”.(H.R.Abu Hurairah, hadis hasan).
Orang yang imannya kuat akan menyadari bahwa kekuasaan itu ada yang mengatur. Meskipun tidak bermodal besar (ekonomi) dalam meraih kekuasaan,namun bila Allah menghendaki, maka kekuasaan akan berpihak padanya. Sebaliknya bisa saja terjadi ada orang yang syahwat kekuasaannya tinggi. Dengan menebar janji, hutang sana hutang sini,  sikut sana sikat sini dan kebetulan tidak jadi. Bisa saja dia akan mengantung diri dengan tali di pohon pinggir kali. Saking gemuknya,   putuslah tali, dan tercebur ke sungai. Padahal belum mati. Dari kejauhan nampak seperti  babi mati terapung di sungai. Hal ini lantaran tipisnya iman. Tidak kuat menanggung malu, lantaran ditagih hutang kanan kiri. Malu pada masyarakat lantaran tingginya janji.  
Seharusnya disadari bahwa bagaimanapun usaha manusia, namun Allah yang menentukan. Pepatah Arab mengatakan :al insanu bit tafkiri wallahu bittadbiri (manusia berpikir/merecanakan, Allahlah yang menentukan).
Dalam hal  kekuasaan sebaiknya direnungkan peringatan Allah dalam Q.S. Ali Imran: 26 yang artinya: katakanlah (Muhammad) “Wahai Tuhan Pemilik kekuasaan, Engkau berikan kekuasaan kepada siapapun yang Engkau kehendaki, Engkau cabut kekuasaan dari siapapun yang Engkau kehendaki.Engkau muliakan siapapun yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan siapapun yang Engkau kehendaki. Di tangan/kekuasaan Engkaulah segala kebajikan. Sungguh, Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu”.
Karena keroposnya fondasi iman, mereka yang pesimis beranggapan bahwa penderitaan itu merupakan siksaan. Mereka beranggapan apalah artinya hidup kalau menderita terus menerus. Mereka menanggung malu dan lainnya.

(bersambung)

Lasa Hs

Kisah Uwais Al-Qarni



Uwais Al-Qarni merupakan salah satu pemuda yang hidup di zaman Rosulullah SAW, namun karena jarak antara tempat tinggalnya dengan Rosulullah sangatlah jauh, maka ia tak pernah sekalipun bertemu Beliau.

Di daerah ia tinggal, Uwais Al-Qarni dikenal sebagai pemuda yang ”rendahan”, dikarenakan ia mempunyai penyakit belang-belang dan bahkan cacat, sehingga banyak ornag yang tidak mau kenal dengannya. Walaupun demikian, Uwais Al-Qarni merupakan pemuda yang sangat taat kepada Ibunya. Setiap hari ia merawat ibunya yang sedang sakit dengan kasih sayangnya, setiap kemana-mana ibunya selalu ia gendong, ia suapi dan sebagainya.

Di sisi lain, ia sangat rindu sekali ingin bertemu Rosulullah SAW., bahkan setiap malam ia selalu meneteskan air mata saking pengennya bertemu dengan Rosulullah SAW. Karena merasa kasihan, maka ibunya mengijinkan ia pergi ke Makkah untuk bertemu Rosulullah SAW. Setelah beberapa lama berjalan menuju Makkah, ternyata Rosulullah sedang bepergian jauh, sehingga Uwais Al-Qarni pun tidak bisa bertemu dengan Rosulullah SAW.

Setelah beberapa hari di Makkah, Uwais Al-Qarni khawatir dengan keadaan Ibunya, sehingga ia putuskan untuk pulang, walaupun di hati Uwais Al-Qarni agak sedikit mengganjal karena belum bertemu Rosulullah SAW. Setelah Uwais Al-Qarni sampai rumah, kemudian Rosulullah baru tiba di Makkah, lalu Malaikat Jibril datang menemui Rosul dengan menyampaikan kabar bahwa “kemarin ada salah seorang pemuda dari yaman dengan ciri ciri begini begini da begini, maka ketika engkau bertemu dengannya, mintalah doa kepadanya. Karena doanya pasti dikabulkan oleh Allah SWT”.
Sampai akhir-akhir menjelang wafat, Rosul belum sepat bertemu dengan Uwais Al-Qarni, akhirnya beliau berpesan kepada para sahabat agar ketika menemui pemuda dari yaman, dengan ciri begini begini da begini, segera minta doa kepadanya karena doanya musjatab.

Lalu, setelah Rosulullah wafat, suatu ketika para sahabat mendengar berita bahwa rombongan dari Yaman akan menunaikan ibadah haji, maka dicegatlah mereka, lalu bertanya terhadap romongan tersebut “mana yang bernama Uwais Al-Qarni”. Kemudian rombongan itu menjawab bahwa tidak ada yang bernama Uwais Al-Qarni. Lalu dari belakang muncul teriakan “sayalah Uwais Al-Qarni”. Rombongan tersebut terheran-heran karena mereka tidak mengenal Uwais Al-Qarni yang hanya bekerja sebagai penunggu kuda, lantas kenapa para sahabat itu seolah mengenal pemuda yang kucel itu.

Kemudian shabat Rosul berkata yang intinya “Dulu Rosulullah berpesan kepada kami, bahwa saking cintanya ia kepada Ibunya dan Rosullnya, maka doa Uwais Al-Qarni mustajab, untuk itu doakanlah kami wahai Uwais Al-Qarni”.

Pelajaran yang bisa kita ambil :
Orang yang kelihatan hina dimata manusia, belum tentu demikian menurut Allah, bisa jadi mereka merupakan waliyullah yang sengaja Allah rahasiakan untuk menguji kita semuanya. Sehingga jangan sekali-kali merendahkan orang lain hanya karena covernya.

Eko Kurniawan

Kamis, 07 Maret 2019

MENJAMU TAMU


Meskipun KHA Dahlan seorang pedagang, mamun juga kadang mengalami paceklik. Suatu sore, KHA Dahlan kedatangan tamu dari jauh. Setelah berbincang-bincang sekedarnya, lalu terdengar suara adzan shalat maghrib. Tamu itu diajak oleh sang Kiyai untuk shalat jama’ah di masjid.
Sebelum pergi ke masjid, KHA Dahlan pesan kepada isterinya agar disediakan makan untuk tamu tadi. Ny. Walidah (isteri KHA Dahlan) matur bahwa porsi makan saat itu tinggal satu piring dengan lauk yang sederhana. Sedianya nasi itu untuk KHA Dahlan. Kiyai Dahlan menjawab
dengan tersenyum; “Kalau begitu, nasi itu disiapkan saja di meja makan dan disiapkan piring kosong dengan sendok dan garpunya. Juga siapkan air putih.Nanti piring yang ada nasinya ditaruh sebelah sana, dan piring kosong ditaruh sebelah sini.
Seusai shalat maghrib, Kiyai Dahlan meminta tamunya menunggu waktu shalat Isya’ sekalian di masjid. Setelah selesai melaksanakan shalat Isya’ berjamaah, beliau dan tamunnya menuju rumah kiyai dan langsung menuju ruang makan. Saat itu lampu ruang makan sengaja tidak dinyalakan.
Sesuai skenario, Kiyai Dahlan duduk di meja yang piringnya kosong. Sedang tamunya duduk di meja yang ada piringnya berisi nasi. Kiyai pun minta maaf kepada tamu, :”maaf ini kamarnya gelap dan lampunya dipakai di ruang lain”. Mari kita makan lanjutnya. Kiyai Dahlan berpura-pura makan dengan sedikit menggerak-gerakkan sendok di atas piring seolah-olah sedang makan. Sesekali beliau minum air putih itu. Sementara itu, tamunya makan nasi yang disajikan itu sampai habis. Tamu tidak tahu bahwa kiyai tidak makan sama sekali karena gelap.

(sumber: Kisah Inspiratif Para Pemimpin Muhammadiyah, 2017)

 Lasa Hs.


Kunjungan Mahasiswa Spanyol ke Perpustakaan UMY

Rabu, 05 Maret 2019 Perpustakaan UMY kedatangan beberapa mahasiswa yang berasal dari Universitas Spanyol, tidak hanya itu saja bahkan ada beberapa mahasiswa yang juga berasal dari Universitas di Jepang dan Thailand. 
Kunjungan tersebut merupakan rangkaian kegiatan "International Tropical Farming Summer School" yang diadakan oleh Fakultas Pertanian UMY dengan beberapa kampus tersebut. Di Perpustakaan UMY, mereka diajak keliling Perpustakaan, dikenalkan beberapa fasilitas dan layanan yang ada di Perpustakaan. Harapannya mereka bisa mengambil hal positif dan bisa diceritakan di tempat asal mereka.

Selasa, 05 Maret 2019

AL QUR’AN ITU BUKAN FIKSI:



                                Apa Kata Buya Hamka

Al Qur’an memberitakan apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi. Berita tentang apa yang akan terjadi yang disampaikan Al Qur’an pasti terjadi. Beda dengan karya fiksi. Meski fiksi meramalkan sesuatu yang akan terjadi, maka belum tentu terjadi. Sebab fiksi hanya khayalan manusia saja. Maka makna kata “akan dan kata “telah itu jauh berbeda. Kalau telah berarti sudah ada bukti, sedangkan akan hanyalah sekedar mimpi.
Kebenaran Al Qur’an diakui banyak pihak, termasuk orang-orang Arab. Dalam hal ini buya Hamka menjelaskan :”Kalau orang Arab yang empunya bahasa itu sendiri telah mengaku bahwa tidak ada kesanggupan manusia menandinginya, usahkan mengatasinya, betapa lagi bangsa yang lain, yang memakai bahasa lain?.
          Sejarah dan perkembangan penilaian terhadap Al Qur’an itu telah memberikan tiga kesimpulan tentang i’jaz. Yang pertama ialah keistimewaan yang telah dicapai oleh bangsa Arab. Yang kedua ialah makna atau ma’ani-nya, yang hakiki, yang telah terbukti bahwa puncak tertinggi yang manapun dari pikiran mereka tidaklah akan sampai ke martabat makna Al Qur’an. Ketiga ialah ajaran akhlaknya.
Sebab itu, i’jaz ini telah menjadi salah satu ilmu yang wajib diperhatikan juga ketika menafsirkan Al Qur’an.
Dan, i’jaz Al Qur’an ini adalah berharap seluruh manusia. Kalau bangsa Arab dengan bahasa Arab adalah bahasa yang tidak mati, malahan bertambah berkembang dan berpengaruh di dalam abad kedua puluh ini, dan orang-orang Arab sendiri, terutama sarjana-sarjana bahasanya, telah mengakui kelemahan mereka, apatah lagi seluruh manusia. Dan memang Muhammad saw . diutus kepada seluruh manusia di muka bumi ini (Q.S. Saba’: 28).
Dengan secara ringkas dan pokok saja, kami hendak  memcoba mengemukakan empat i’jaz Al Qur’an:
Pertama;  fashahah dan balaghah, amat tinggi derajat kata dan maknanya, yang memesona pendengarnya, yang dimulai oleh orang Arab yang empunya bahasa itu sendiri, yang lebih tahu apa susun, irama, gaya, dan pengaruh ungkapan kata yang dapat menarik dan mempesona.
Susunan Al Qur’am bukanlah susunan syair, dengan susun rangkai kata menurut suku kata bilangan tertentu, dan bukan ia puisi, dan bukan ia prosa, dan bukan pula ia sajak, tetapi ia berdiri sendiri melebihi syair, nashar, dan nazham, yang belum pernah sebeumnya turun, orang Arab belum pernah mengenal seperti itu. Demikianlah terpesona mereka itu, lebih terpesona pemuka-pemuka mereka sendiri, sebgimana Abu Jahal, Abu Sofyan, al Walid bin al Mughirah, dan lain-lain.
Kedua; Al Qur’an banyak  menceritakan berita tentang masa-masa telah lalu; seperi berita tentang kaum ‘Ad, kaum Tsamud, kaum Luth, kaun Nuh, kaum Ibrahim, kaum Musa, negeri Madyan, cerita tentang kesucian Maryan dan kelahiran Isa Al Masih. Segala berita yang dibawanya itu benar dan semuanya bertepatan dengan kenyataan yang benar dan banyak persesuaian dengan cerita Ahlul Kitab.
 Ketiga; di dalam AlQur’an pernah diberitakan pula hal-hal yang akan terjadi. Hal ini dapat disimak pada awal Q.S. Ar Rum yang menyatakan bahwa pada mulanya orang Rum kalah perang dengan orang Persia. Tetapi sesudah beberapa tahun kemudian, ternyata orang Rum menang kembali.
Ketika orang Rum kalah pada awalnya, maka para musyrikin Quraisy bergembira ria. Sebab orang Persa (penyembah berhala) dapat mengalahkan orang Rum (pemeluk Nasrani yang pada pokoknya bertauhid, dekat dengan Islam). Namun turunnya ayat ini memberikan kepastian kepada kaum Muslimin bahwa Rum akan menang kembali beberapa tahun kemudian (bidh’I sinina, yakni bilangan antara tujuh sampai sembilan tahun). Saat itu, saking yakinnya atas kebenaran berita dalam S.Ar Rum ini, Abu Bakar bertaruh dengan orang Quraisy beberapa ekor unta. Beliau yakin bahwa orang Rum akan menang kembali. Maka benar bahwa beberapa tahun kemudian orang Rum mampu mengalahkan orang Persia (ketika itu zaman Mekah, belum ada larangan bertaruh). Maka diterimalah kemenangan taruhan itu.
Ke-empat; Dalam Al Qur’an terdapat beberapa pokok ilmiah tentang alam. Sebagai contoh adalah disebutkan dalam S. al Anbiyaa’: 30 (dan apakah orang-orang kafir tidak mengetahui bahwa langit dan bumi keduanya dahulu menyatu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya; dan Kami jadikan segala sesuatu yang hidup berasal dari air, maka mengapa mereka tidak beriman ?).
Dibicarakan pula dalam Al Qur’an tentang asal usul manusia sejak dari tanah, lalu menjadi sperma (nutthfah), ‘alaqah, mudhghah, lalu berbentuk tulang yang kemudian tulang itu diselimuti (dibungkus) dengan daging lalu menjadi manusia yang bernyawa. (Q.S. AL Mu’minun 12 -1 4).
Soal-soal alam yang dibicarakan ini sangat mengagumkan karena bertambah dalam penyelidikan manusia dalam berbagai macam ilmu pengetahuan alam, bertambah jelas maksud ayat-ayat Al Qur’am itu. Padahal Nabi Muhammad saw buanlah seorang ahli ilmu alam.
Dalam Al Qur’an juga dibicarakan tentang ombak, laut, kapal berlayar, yang sangat menarik para pelaut. Sehingga Mr.Brown seorang nakhoda kapal Inggris yang bolak balik berlayar antara Inggris dan India selalu membaca terjemahan Al Qur’an. Beliau sangat kagum apabila membaca  ayat-ayat yang membicarakan tentang laut, kapal, dan bahtera. Beliau pernah bertanya kepada orang-orang Islam di India, pernahkah Nabi Muhammad saw berlayar ?. Merekapun menjelaskan bahwa Nabi Muhammad saw belum pernah berlayar selam hidupnya. Mendengar cerita ini dan ditambah pendalamannya tentang riwayat hidup Rasulullah saw, dan yakin bahwa Al Qur’an itu  wahyu yang mengandung kebenaran,   maka nakhoda Inggris itu masuk Islam.

(Sumber Tafsir Al Alzhar I; juz 1,2,3,)

Baca juga Q.S. As Shaf: 8 :”Mereka akan memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut-mulut (ucapan, cuitan, istagram, pernyataan) mereka, tetapi Allah tetap menyempurnakan cahayaNya meskipun orang-orang kafir itu membencinya”.

Lasa Hs.