Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Minggu, 21 April 2019

AKUR DALAM PERBEDAAN


Manusia sebagai makhluk sosial memiliki kecenderungan untuk bergaul dengan pihak lain dalam rangka pemenuhan kebutuhan hidup dan sosial kemasyarakatan. Dalam pergaulan ini terdapat berbagai macam paham, agama, suku, bahasa, dan kepentingan politik. Dari berbagai keragaman ini kadang menimbulkan gesekan, konflik yang kadang berlanjut menjadi keresahan bahkan kerusuhan. Siapapun orangnya yang mau berpikir jernih tentunya tidak ingin hal ini terjadi.
Kalau orang mau menggunakan hati nurani dan akal sehat, tidak ambisius, maka sebenarnya keragaman itu merupakan dinamika kehidupan. Sebab bagaimanapun kita ini saudara se tanah air, dan ada yang saudara se iman. Dari pergaulan ini tentunya ada hak dan  kewajiban.
Diantara hak dan kewajiban ukhuwah Islamiyah, ukhuwah basyariah, maupun ukhuwah wathaniyah adalah saling menghormati kedaulatan, hak, dan wewenang orang lain. Sesama kita tidak pantas saling merendahkan, memperolok, merasa lebih kuasa, dan lain sebagainya. Sangat mungkin diri orang atau kelompok yang dihina, direndahkan, difitnah itu justru lebih baik dan lebih terhormat. Allah memperingatkan kita dalam firmannya dalam Q.S. Al Hujurat ayat 11  yang artinya: Hai orang-orang yang beriman, janganlah kaum laki-laki menghina kaum laki-laki, karena boleh jadi mereka yang dihina itu justru lebih baik/lebih terhormat daripada yang menghina, jangan pula wanita itu menghina wanita lain, sebab sangat mungkin wanita yang dihina itu lebih baik/lebih terhormat dari wanita yang menghina. Janganlah kamu saling mencela dan jangan pula panggil-panggil dengan nama (yang kurang baik seperti kampret, cebong dll). Sebab seburuk-buruk nama ialah fasik sesudah keimanan. Barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang yang aniaya”.
            Kecenderungan untuk menghina pribadi/pihak lain itu sebenarnya menunjukkan kekerdilan jiwa dan sempitnya wawasan mereka dalam bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Upaya mencari kelemahan orang/pihak lain itu pada hakekatnya adalah menutupi kelemahan dan kekurangan diri.
            Di samping itu untuk lebih menjaga ketenangan dan ketenteraman perlu dijauhi adanya buruk sangka (su’udzan), saling menuduh satu pada yang lain.Sebab suatu tuduhan apalagi tidak terbukti akan menimbulkan fitnah. Sebagai orang yang beragama tentunya akan mentaati perintah agamanya secara baik dan menyadari kesalahan diri/kelompoknya. Firman Allah swt yang artinya:” Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kamu sekalian sejauh-jauhnya akan buruk sangka, sebab sebagian besar buruk sangka itu berdosa, dan janganlah kamu mencari-cari aib orang lain dan jangan pula kamu mengumpat sebagian kepada yang lain. Sukakah kamu sekalian memakan daging saudaranya yang telah mati (bangkai) ?, tentunya kamu sekalian tidak menyukainya. Maka taqwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Penerima taubat dan Maha Penyayang” (Q.S.AL Hujurat: 12).
Menghina, nyinyir, menuduh, maupun mengumpat pihak lain pada dasarnya juga menyangkiti diri sendiri. Maka perbuatan itu diibaratkan makan bangkai saudaranya sendiri. Jadi tidak terasa bahwa  para pelaku nyinyir, pemfitnah, buruk sangka  itu  selama ini ibarat makan bangkai.
Oleh karena itu dalam pergaulan, bermasyarakat, berkelompok perlu hati-hati dalam memilih teman dan kawan. Lingkungan sangat besar pengaruhnya pada perilaku seseorang.
Dalam hal ini Rasulullah saw menegaskan dalam suatu hadist bahwa Abu Musa Asy’ari meriwayatkan tentang pergaulan yang dapat diambil manfaatnya dari teman-teman yang baik dan orang-orang yang buruk perangai. Beliau menjelaskan “Seorang yang bergaul dengan orang saleh (jujur, sopan, tawadhu’, sabar, taat beragama, dll) seperti orang yang membawa minyak wangi. Apabila digunakannya, maka dia mendapat faedah (bau wangi) dan apabila menjualnya maka dapat keuntungan. Kemudian apabila disimpan, akan mendapat bau wangi. Demikian pula bila bergaul dengan orang jahat, seperti meniup arang berapi di tungku. Mereka memeroleh bunga api yang memerciki pakaian dan badan mereka., Asap yang keluar dari tungku itupun akan memusingkan kepala dan meyesakkan nafas. Oleh karena itu manusia hendaknya berhati-hati, carilah sahabat yang dapat kau jadikan obat, memilih teman bergaul dengan orang yang baik”. (HR/Bukhari-Muslim).
Di satu sisi, dalam pergaulan perlu dijauhi hal-hal yang sekiranya dapat menimbulkan buruk sangka. Dalam hal ini Rasulullah saw memberikan contoh sebagai tauladan. Suatu ketika Shafiyah isteri beliau menjumpai beliau di masjid. Ketika tiba waktunya untuk pulang, hari telah malam. Rasulullah saw mengantarkan pulang. Dalam perjalanan pulang, beliau berjumpa dengan 2 (dua) orang sahabat. Padahal Rasulullah saw adalah orang yang halus perasaannya. Untuk menghindari buruk sangka, maka beliau menghentikan kedua orang itu. Sambil mengangkat kerudung isterinya, beliau bersabda:” Lihatlah ini adalah isteriku Shafiyah”. Kemudian dua orang itu serta merta serta  kepada Rasulullah saw, mengapa Paduka menyangka kami akan bersangka buruk kepada Paduka. Rasulullah saw lalu menjawab :”Syetan sering menjalar melalui darah orang, saya khawatir kalau-kalau keyakinanmu itu dihinggapi oleh syetan”. (H.R. Bukhari).
Sikap ingin menang sendiri dan  tak hiraukan peraturan dan perundangan akan merusak kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. KIranya perlu dirawat kehidupan yang salaing menghormati di semua tingkat agar tidak timbul dugaan-dugaan yang akan membawa akibat yang tidak kita inginkan. Perlu kita renungkan kembali :”agree in disagreement”.

Lasa Hs






0 komentar:

Posting Komentar