Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Senin, 01 April 2019

PESIMIS ITU MATI SEBELUM PERANG


Tulisan 2  Sempit memandang hidup    
        
ebagai orang yang beragama tentunya meyakini bahwa hidup ini mengalami perubahan dan merupakan pergantian dari fase kehidupan  ke fase kehidupan  berikutnya. Dulu, manusia pernah hidup di alam roh. Kemudian pindah ke alam rahim sekian bulan. Lalu manusia lahir ke dunia. Di sini, manusia tidak tau diberi  jatah berapa tahun. Lalu kapan-kapan akan pindah ke alam lain yakni ke alam kubur. Selanjutnya roh manusia akan melanjutkan perjalanannya  ke alam lain yang lebih jauh.
Namun tidak sedikit orang yang berpandangan bahwa hidup ini hanya di dunia ini. Disadari atau tidak dapat dipelajari dari perilaku mereka. Mereka memandang hidup dengan pandangan yang sempit. Mereka tidak menunjukkan keyakinan bahwa perbuatannya (baik atau buruk) akan dipertanggung jawabkan. Apapun yang diperbuat di dunia ini sebenarnya  terekam semua dan akan dirasakan akibatnya nanti. mungkin di dunia ini atau di alam berikutnya. Maka kebencian pada orang/kelompok  lain, bisa berakibat buruk pada pembenci itu sendiri. Ini kalau orang punya iman yang kuat dan mau memandang hidup ini dengan pandangan yang luas.
Namun lantaran sempit memandang hidup, maka tak segan-segan mereka mengikuti hawa nafsu duniawiyah, mengumbar syahwat kekuasaan, membuat fitnah demi kepentingan diri/kelompok. korupsi, dan melanggar etika dan agama.
Mungkin mereka berprinsip hidup ini untuk berfoya-foya, makan minum, dan  boleh melakukan apa saja. Hidup ini hanya untuk memenuhi syahwat (makan dll). Mereka itu pada hakekatnya  tidak percaya adanya hari kebangkitan. Firman Allah swt yang artinya :” Orang-orang kafir mengira,bahwa mereka tidak akan dibangkitkan. Katakanlah (Muhammad)”Tidak, demikian, demi Tuhanku, kamu pasti dibangkitkan, kemudian diberitakan semua yang telah kamu kerjakan”. Dan yang demikian itu mudah bagi Allah”. (Q.S. At Taghabun: 7)
Paham hidup yang sempit ini melahirkan perilaku bersenang-senang, makan minum berlebihan,foya-foya.Dikiranya hidup ini sekedar senang-senang. Namun  orang yang berakal akan berprilaku bahwa  makan untuk hidup. Pepatah Arab mengatakan al’aqilu ya’kulu liya’isya, wal jahilu ya’isyu liya’kula (orang berakal (berpandangan luas) berprinsip bahwa makan untuk hidup, sedangkan orang bodoh hidup hanya untuk makan (bersenang-senang).
Dengan pandangan hidup yang sempit dan kurang meyakini bahwa nanti ada alam pertanggung jawaban, maka tak segan-segan untuk menyebarkan kedengkian, menciptakan fitnah,menebarkan kebohongan,  merendahkan yang lain, korupsi, dan lainnya. Mungkin mereka berpaham bahwa segala bentuk kejahatan yang mereka lakukan didunia ini akan dibela dengan macam-macam alibi dan argumen. Kalau perlu besok akan disampaikan pasal-pasal dalam berbagai peraturan perundangan secara lisan. Padahal besok itu lisan tidak bisa ngomong. Justru tangan dan kaki akan memberikan bukti otentik atas fitnah, nyinyir, kebencian, dan arogansi  yang pernah dilakuan di dunia ini.Dalam hal ini Allah berfirman yang artinya:” Pada hari ini Kami tutup mulut mereka ; tangan mereka akan berkata kepada Kami dan kaki mereka akan memberi kesaksian terhadap apa yang dahulu mereka kerjakan”.(Q.S.Yasin: 65)  
          Mereka yang memandangg sempit bisa kejangkitan penyakit dengki, mudah menciptakan dan menyebarkan fitnah, dan menebar kebohongan.   
Dengki adalah penyakit SMS (sedih melihat  yang  lain senang, dan senang melihat yang   lain sedih). Dengki sangat mudah menjangkiti manusia. Dengki dalam hati, mungkin sebatas tidak suka orang lain mendapatkan kesuksesan. Ada pula dengki dengan berusaha agar orang lain tidak senang. Ada pula dengki itu berusaha mengalihkan/merebut kenikmatan orang lain agar pindah kepada dirinya. Padahal dengki itu ibarat bara api yang menghanguskan kebaikan. Sabda Rasulullah saw yang artinya:” Dengki itu bisa memusnahkan kebaikan bagaikan api membakar kayu kering. Sedangkan sadaqah itu dapat melenyapkan kesalahan seperti api dipadamkan oleh air”. (hadist Muttafaq ‘alaih).  
          Fitnah bisa menyakitkan hati orang/pihak lain, bahkan bisa menyulut perpecahan. Fitnah sangat disenangi syetan. Syetan telah menjerumuskan Nabi Adam a.s. dan Ibu Hawa, sehingga mereka turun ke dunia, berpisah, mengembara bertahun-tahun. Dalam pengembaraan ratusan tahun itu keduanya menyesali perbuatannya dan mengadu kepada Allah atas kesalahan itu dan ingin bertaubat. Akhirnya keduanya diperemukan Allah di Jabal Rahmat (Gunung Rahmat). Konon tempat pertemuan itu kini diberi tanda tugu warna putih.
          Fitnah pernah juga diciptakan oleh Abdullah bin Ubaiy dan kelompoknya. Mereka menyebar hoaks bahwa ‘Aisyiyah isteri Rasulullah saw berbuat serong dengan seorang sahabat. Berita bohong ini  meresahkan umat Islam. Hampir-hampir saja, Rasulullah saw mempercayainya. Lalu turunlah ayat yang artinya:’ Wahai orang-orang yang beriman, jika seseorang yang fasik datang kepadamu membawa suatu berita, maka telitilah kebenarannya, agar kamu tidak mencelakakan suatu kaum karena kebodohan (kecerobohan), yang akhirnya kamu menyesali perbuatanmu itu”. (Q.S. Al-Hujurat: 6).

Lasa Hs.

 Bersambung


0 komentar:

Posting Komentar