Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Senin, 27 Mei 2019

SYUKUR ITU SUBUR, KUFUR ITU HANCUR


Dalam berbagai kesempatan kita sering diingatkan untuk bersyukur kepada Allah swt atas segala nikmat yang telah kita terima. Sebab manusia kadang tidak menyadari bahwa hanya kemurahan Allahlah mereka mendapat fasilitas dan kenikmatan hidup. Oleh karena itu tidak sedikit diantara manusia yang kurang mensyukuri kenikmatan itu, bahkan sering menyalahgunakan nikmat. Betapa banyak orang yang menyalahgunakan kekuasaan, harta benda, pangkat, tenaga, dan nikmat ilmu pengetahuan untuk ambisi pribadi atau kelompoknya.
Bersyukur kepada Allah pada hakekatnya adalah mempergunakan segala kenikmatan dengan cara yang sebaik-baiknya sesuai ketentuan Allah. Orang diberi mata, seharusnya digunakan untuk melihat sesuatu yang dibolehkan atau diperintahkan oleh Allah untuk memandangnya. Demikian pula dengan anggota-anggota badan yang lain seperti tangan, kaki, telinga, mulut hendaknya digunakan untuk hal-hal yang diperintahkan atau dibolehkan oleh Allah.
Apabila direnungkan dengan seksama ternyata dalam berbagai urusan kita terdapat hal-hal yang bermanfaat di dunia dan akhirat seperti ilmu pengetahuan dan akhlakul karimah. Tetapi ada pula hal-hal yang merugikan kehidupan dunia dan akhirat seperti kikir, dengki, jahil, perangai buruk, maupun kebodohan. Ada pula hal-hal yang hanya menyenangkan (untuk sementara) kehidupan di dunia seperti kepuasan hawa nafsu pada harta, pangkat, jabatan, kekuasaan, dan lainnya. Disamping itu juga terdapat hal-hal yang untuk sementara agak memberatkan di dunia, tetapi menguntungkan kehidupan akhiran seperti pengendalian hawa nafsu, beramal sholeh, berderma, dan lainnya.
Dengan adanya karakteristik tersebut, manusia diharapkan mampu memanfaatkannya secara baik. Memang, sesuatu yang manfaat di dunia dan akhirat itulah yang disebut dengan kenikmatan hakiki. Sedangkan hal-hal yang merugikan kehidupan dunia dan akhirat itu bernama bencana. Oleh karena itu manusia perlu memahami apa saja yang membawa kenikmatan dunia dan akhirat. Disamping juga harus memahami apa yang nikmat di dunia tetapi menyengsarakan di akhirat. Hal inilah yang sering diibaratkan bagai madu yang mengandung racun.. Nah hal-hal yang mengandung racun  tentunya harus hati-hati menyikapinya.
Di samping itu ada pula hal-hal yang menguntungkan di akhirat, tetapi pahit di dunia. Hal ini kadang juga dipandang sebagai nikmat bagi mereka yang berpandangan futuristik dan mendalam. Sebab masalah ini dianggap sebagai pil pahit yang justru menyembuhkan dan menyegarkan badan.
Kenikmatan adalah sesuatu yang mendatangkan kesenangan, kelezatan, dan sedap yang dirasakan oleh akal maupun perasaan. Ilmu pengetahuan adalah suatu kenikmatan yang dirasakan oleh akal. Makan minum adalah kenikmatan yang dirasakan oleh perasaan. Maka ketika badan sakit, maka makan minum terasa tidak terasa nikmat. Oleh karena itu perlu bersyukur betapapun kecilnya suatu nikmat. Apabila yang kecil tidak disyukuri, maka diberi yang besar/banyakpun tidak akan bersyukur.
Tahap-tahap bersyukur
Wajar apabila seseorang yang menerima nikmat itu bergembira. Tetapi ada juga yang merasa menyesal, mengapa yang diterima cuma sedikit. Sikap seperti ini kurang menghargai yang memberi dan kurang bersyukur. Kesediaan bersyukur menunjukkan akhlak yang mulia. Sedangkan orang kufur nikmat akan hancur sendiri.
            Adapun tahap-tahap syukur nikmat antara lain:
  1. Merasa gembira atas nikmat yang diterima meskipun sedikit/kecil;
  2. Menyatakan kegembiraan itu dengan ucapan dan perbuatan. Ketika menerima kenikmatan, minimal mengucapkan Alhamdulillah atau bersujud syukur. Allah swt berfirman yang artinya: “Adapun nikmat Tuhanmu hendaklah engkau beritahukan”. (Q.S. Adh Dhuha : 11)
  3. Memelihara kenikmatan itu sebaik-baiknya dan menggunakannya menurut cara yang dituntunkan agama Islam. Pemeliharaan harta benda misalnya dengan sebagian diinfakkan untuk anak yatim, fakir miskin, dhu’afa, danlainnya. Bukan untuk foya-foya menuruti nafsu. Kemudian pemeliharaan ilmu dengan dikembangkan melalui lisan maupun tulisan.
  4. Membalas pemberian dan pertolongan yang sepadan atau lebih baik.
Mereka yang memberi memang tidak ingin dibalas kecuali untuk kepentingan tertentu seperti pemilihan kepala daerah, pemilihan legilatif, dan lainnya. Namun bila memungkinkan kebaikan orang itu sebaiknya juga dibalas sepadan dan syukur lebih baik. Allah swt berfirman :”Dan berbuatlah kebaikan kepada sesama sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Lagi pula janganlah engkau mempergunakan kesempatan yang ada padamum untuk berbuat kerusakan di muka bumi, sebab Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan”. (Q.S. Al Qashash: 77).
Syukur itu Subur
            Banyak kejadian membuktikan manfaat syukur nikmat yang ternyata membawa rahmat. Dalam  hal ini bersyukur pada hakekatnya bukan sekedar membaca Alhamdulillah, tetapi juga memanfaatkan nikmat itu sesuai tuntunan agama. Menginfakkan sebagian harta juga termasuk salah satu bentuk syukur nikmat.
            Mensyukuri nikmat harta dicontohkan sebuah kisah seorang budak penjaga kebun kurma. Di suatu hari yang sangat panas, datanglah seekor anjing dengan menjukur-julirkan lidahnya karena haus dan lapar. Anjing itu mendekati budak itu sambil menggoyang-goyangkan ekornya seakan-akan minta dikasihani. Kebetulan budak itu diberi 3 (tiga) potong roti untuk makan hari itu. Lalu anjing itu diberi sepotong roti dan dimaknnya. Dasar anjing, setelah makan roti itu lalu mendaki budak minta roti lagi. Budak itupun tidak sampai hati, diberikan roti sepotong lagi. Roti itu dimakan oleh anjing sampai habis. Di tangan budak masih ada sepotong roti yang rencananya untuk makan nanti sore. Namun anjing itu terus mendekatinya untuk minta roti yang tinggal sepotong itu. Budak itupun mengikhlaskan roti yang tinggal satu itu. Roti itupun dimakan anjing itu sampai habis. Setelah merasa kenyang, maka anjing itupun pergi.
            Kejadian itu dilihat oleh Abdullah bin Ja’far yang terkenal dermawan. Beliau adalah putra Ja’far bin Abu Thalib salah seorang pahlawan yang gugur pada perang Mut’ah. Melihat kejadian itu Abdullah bin Ja’far menghampiri budak itu seraya bertanya berapa banyak roti yang dibawanya. Budak itu menjawab :”Hanya tiga potong dan  habis saya berikan kepada anjing tadi. Saya kasihan pada anjing yang kehausan dan kelaparan itu. Nampaknya anjing itu dari jauh”. Beliau kembali bertanya :”Apa yang akan kau makan hari ini ?. “saya akan mengencangkan ikat pinggang saya agar tidak sakit karena menahan lapar” jawab anak itu. Mendengar jawaban yang polos ini, Abdullah bin Ja’far merenung dan berkata pada dirinya sendiri “sampai dimanakah kedermawanku dan rasa syukurku bila dibanding dengan budak ini?.
            Kemudian budak itu diminta oleh Abdullah bin Ja’far untuk menunjukkan alamat pemilik kebun kurma itu. Kemudian beliau mencari dan menemukan rumah pemilik kebun kurma itu. Abdullah bin Ja’far ketemu tuan dari budak itu, lalu menawar harga kebun dan sekaligus harg abudak itu. Beliau ingin membeli kebun dan membeli budak itu untuk dimerdekakannya.
            Setelah selesai transaksi dan proses administrasinya, maka Abdullah minta diri lalu mampir ke pasar untuk membeli alat-alat perkebunan. Dia tidak pulang ke rumah, tetapi mampir ke kebun yang ditunggu budak tadi. Sesampai di sana dan ditemuinya budak itu lalu berkata :”Nak, kebun ini sudah kami beli dan engkau telah kubeli dan ini surat-suratnya. Jadi mulai hari ini engkau telah merdeka”. Kemduian lanjutnya :”Mulai hari ini engkau kumerdekakan dan kebun kurma beserta alat-alatnya aku serahkan kepadamu. Untuk itu, hiduplah dengan bahagia dengan cara mengelola kebun kurma ini:.
Kufur itu Hancur
            Betapa banyak contoh memberikan pelajaran kepada kita bahwa kufur nikmat ternyata membawa kehancuran. Kufur atas nikmat kekuasaan telah menghancurkan Fir’aun yang takabur dengan menganggap dirinya sebagai Tuhan. Kufur harta telah membenamkan Qarun dan harta bendanya.
            Qarun dulunya melarat yang dalam perkembangan hidupnya menjadi kaya dan konon pernah menjadi gubernur yang diangkat Fir’aun. Kekayaannya melimpah ruah dan tidak mau bersyukur. Bahkandia smbong dan tidak mau membayar zakat seperti yang diajarkan oleh Nabi Musa a.s.Dia beranggapan bahwa hartanya itu diperoleh berkat kerja keras dengan banting tulang dan bukan dari Allah. Hal ini seperti dnyatakan dalam Q.S. Al Qashash : 78 yang artinya:” Aku diberi harta ini karena ilmu atau keahlian yang ada padaku”. Memang suatu ketika memang Qarun memerkan kekayaannya di uka umum dengan berkendaraan kuda dan keledai sekitar 4.000 ekor yang dihiasi dengan berbagai perhiasan.
            Karena kekufuran dan kesombongannya itu, Qarun dan hartanya hancur ditelah tanah. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Q.S. Al Qashash: 81 :”Lalu kami (Allah ) benamkan Qarun bersama rumahnya ke dalam tanah. Maka tiadak satu golongan pun yang mampu menolongnya selain Allah. Bahkan dia sendiri tidak mampu menolong dirinya”.
Apalah artinya bangga dengan kekuasaan, harta, keturunan, ilmu pengetahuan kalau toh semua itu hanya titipan sementara. Untuk itu perlu disyukuri, jangan sampai kufur nikmat. (Lasa Hs)   



0 komentar:

Posting Komentar