Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

MOMEN

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Jumat, 31 Januari 2020

Pustakawan UMY Diundang sebagai Narasumber Seminar ATPUSI Bantul

Sabtu, 1 Februari 2020 Asosiasi Tenaga Perpustakaan Sekolah Indonesia (ATPUSI) Kabupaten Bantul mengadakan seminar dan Musda dengan tema "SINERGI PUSTAKAWAN MEMBANGUN NEGERI". Acara tersebut dilaksanakan di Aula Widyaparwa Lantai III Perpustakaan Kab. Bantul Jl. Jend. Sudirman No.1, Bantul.
Arda Putri Winata salah seorang Pustakawan UMY ditunjuk sebagai narasumber dalam kegiatan tersebut. Arda sendiri merupakan pustakawan berprestasi naional, baik versi Perpusnas maupun versi Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia. Berikut adalah detail prestasinya :
  1. Juara 1 Pustakawan Berprestasi Kepertis Wilayah V DIY 2017
  2. Juara 1 Pustakawan Berprestasi FPPTI DIY (2018)
  3. Juara 1 IALA (Indonesian Achievement Librarian Award) 2018
  4. Juara 1 Pustakawan Berprestasi DPAD DIY 2019
  5. Juara 1 Pustakawan Berprestasi Perpusnas 2019

Kurangi Resiko Bencana, MDMC dan PTM Kerjasama KKN Tematik Kebencanaan

Wilayah geografis Indonesia merupakan daerah ring of fire, dimana hampir seluruh wilayah Indonesia dikelilingi oleh gunung berapi. Oleh karena itu tak heran jika bencana kerap terjadi pada daerah yang dikelilingi gunung berapi tersebut. Namun manusia juga seringkali terlibat dalam terjadinya bencana, untuk itu perlu adanya kesadaran diri akan pentingnya tanggap bencana dan cara mengurangi resiko jika terjadi bencana kedepannya. Melihat seriusnya persoalan tersebut, Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) menginisiasi kerjasama dengan Perguruan Tinggi Muhammadiyah di Indonesia untuk melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) tematik kebencanaan.
Sekretaris Majelis Dikti PP Muhammadiyah Muhammad Sayuti, M.Pd., M.Ed. Ph.D. menyampaikan bahwa Perguruan Tinggi Muhammadiyah semakin menjadi pilar penting persyarikatan dalam amal usaha Muhammadiyah khususnya di bidang pengabdian masyarakat. “Dengan jumlah mencapai 166 perguruan tinggi Muhammadiyah yang terdiri dari universitas, sekolah tinggi, institut, akademi, politeknik dan perguruan tinggi Aisyah menjadi perguruan tinggi dengan jumlah terbesar se-dunia. Tentu saja hal ini sangat memudahkan Muhammadiyah untuk melakukan pergerakan amal usahanya karena Muhammadiyah hampir tersebar di seluruh penjuru dunia,”tuturnya dalam sesi panel Pertemuan Ilmiah Muhammadiyah Kebencanaan pada Kamis, (30/01) di Amphiteater Gedung D kampus Muda Mendunia UMY.
Di sisi lain, menurutnya hal tersebut juga menjadi tantangan tersendiri bagi MDMC untuk menggandeng PTM dalam program kesiapsiagaan dan penanggulangan bencana yang mereka miliki. “Ini juga merupakan tantangan baru bagi Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) untuk membuat program pengabdian di luar kampus bagi mahasiswa perguruan tinggi Muhammadiyah. Terlebih dengan ditetapkannya Permendikbud baru 2020 terkait program Kampus Merdeka yang mewajibkan mahasiswa untuk melakukan kegiatan di luar pogram studi selama 3 semester. Hal ini merupakan peluang MDMC mengarahkan mahasiswa perguruan tinggi Muhammadiyah untuk melakukan pengabdian masyarakat di daerah yang masih tertinggal di Indonesia agar pertumbuhan masyarakat merata, sekaligus menjadi bentuk dari keterlibatan Muhammadiyah dalam menanggulangi bencana di Indonesia,“imbuh Sayuti.
Pada kesempatan yang sama Ketua Lembaga Penelitian, Publikasi, Penerbitan dan Pengabdian Masyarakat Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (LP3MUMY) Dr. Gatot Supangkat mengatakan bahwa membangun perilaku ramah bencana melalui pendidikan itu sangat penting karena kita tidak pernah mengetahui kapan bencana akan datang. “Bencana sudah pasti akan terjadi dan tidak bisa dihindari, namun manusia hanya bisa berusaha mengurasi risiko terjadinya bencana dengan menjaga alam dan mempersiapkan pengetahuan agar ketika terjadi bencana kita tahu apa yang harus dilakukan. Ketika kita mengelola lingkungan dengan baik, maka itulah bentuk dari mitigasi bencana,“pungkasnya.
Dalam kesempatan ini Universitas Muhammadiyah Banda Aceh yang juga menghadiri forum mendeklarasikan pembukaan program studi S1 Teknik Kebencanaan, sekaligus melakukan penandatanganan pembukaan program studi baru oleh perwakilan dari Universitas Muhammadiyah Banda Aceh. (ads)


Minggu, 26 Januari 2020

MASUK ABAD KEDUA




Judul             : Muhammadiyah Abad Kedua
Penulis        : Haedar Nashir
Penerbit      : Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2011
ISBN          : 978979370873-7
Tebal          : 300 halaman

Muktamar merupakan peristiwa penting dalam suatu gerakan. Melalui muktmar dapat diketahui kemajuan maupun hal-hal yang kurang akan langkah-langkah organisasi. Melalui muktamar pula dicanangkan langkah – langkah besar untuk lebih memajukan gerakan.
Pada tanggal 3 sampai 8 JUli 2010 Miladiyah yang bertepatan tanggal 22 – 27 Rajab 1431 Hijriyah, Muhammadiyah telah menyelenggarakan Muktamar ke 46 di Sportorium UMY Yogyakarta. Insyaa Allah awal Juli 2020, Muhammadiyah akan menggelar Muktamar ke 48 di Universitas Muhammadiyah Surakarta. Bila Muktamar ke 46 bertema Gerak Melintasi Zaman, Dakwah dan Tajdid Menuju Peradaban Utama”, maka pada Muktamar ke 48 mengambil tema “Memajukan Indonesia Mencerahkan Semesta”.
Buku yang ditulis Ketua Umum PP Muhammadiyah ini menyajikan refleksi keberhasilan gerak pencerahan Muhammadiyah satu abad yang lalu dalam berbagai bidang. Keberhasilan ini antara lain diukur dari kemampuan melampaui batas fase satu abad, yang sementara itu organisasi Islam lain (Syarikat Islam misalnya) semakin surut. Ukuran kedua adalah bahwa Muhammadiyah telah menghadirkan alam pikiran Islam yang berkemajuan dalam berbagai bidang.
Dalam menghadapi pergantian abad menuju fase baru, Muhammadiyah dituntut untuk merumuskan ulang orientasi dakwah dan tajdid sebagai focus gerakan.
Buku ini dihadirkan kepada pembaca untuk menggugah kesadaran dan komitmen baru terutama bagi warga, kader, dan pimpinan Muhammadiyah. Segenap warga Muhammadiyah diharapkan merencanakan dan menyelenggarakan langkah-langkah cerdas dan unggul guna menjawab tantangan-tantangn besar di abad kedua ini.

(Lasa Hs)

GERAKAN ISLAM PENCERAHAN



Judul           : Gerakan Islam Pencerahan
Penulis        : Haedar Nashir
Penerbit      : Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2011
ISBN          : 978-602-9417-45-6
Tebal          : 139 halaman

Sejak semula, Muhammadiyah mencanangkan diri sebagai gerakan pencerahan. Gerak langkah ini dapat disimak dari tema dari Muktamar ke Muktmar. Pada Muktamar di Malang tahun 2005, tema Muktamar adalah Gerakan Tajdid Menuju Pencerahan Peradaban.Pada Muktamar ke 46 Tahun 2010 di UMY Yogyakarta mengambil tema Gerak Melintasi Zaman: Dakwah dan Tajdid Menuju Peradaban Utama”.  Kemudian pada Muktamar ke 48 di UMS nanti mengambil tema : Memajukan Indonesia dan Mencerahkan Semesta”.
Dalam buku yang ditulis Ketum PP Muhammadiyah ini dijelaskan bahwa Islam sebenarnya merupakan agama mencerahkan. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam Q.S. Al Baqarah: 257 yang artinya: Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-[pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka dari pada cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya”.
Seperti sinar matahari, kehadiran Islam mampu menerangi seluruh bumi dan alam sekitarnya. Cahaya yang terang benderang adalah cahaya dari Allah, yakni hidayah dan ajaran Ilahi untuk menyinari manusia.
Gerakan pencerahan (tanwir) yang dicanangkan Muhammadyah merupakan praksis Islam yang berkemajuan untuk membebaskan, memberdayakan , dan memajukan kehidupan. Gerakan pencerahan menampilkan Islam untuk menjawab masalah kegelapan akidah, kekeringan rohani, korupsi, terorisme, konflik, kerusakan lingkungan, arogansi, dan lainnya.

(Lasa Hs)

SYEKH AHMAD KHATIB MINANGKABAWI (1860 – 1916 M) ;


SYEKH AHMAD KHATIB MINANGKABAWI (1860 – 1916 M) ;
                               Guru Tokoh Islam Indonesia
         
Beliau lahir tahun 1860 di Bukittinggi Sumatera Barat, putra Abdul Latif dan Limbah Urai. Amad Khatib dari silsilah ayahnya masih sepupu dengan K.H. Agus Salim. Sedangkan Ibu Limbah Urai adalah anak Tuanku Nan Ranceh seorang ulama Paderi terkemuka saat itu. Jadi dilihat dari silsilah ayah dan ibu, Ahmad Khatib merupakan keturunan keluarga terpandang di Minangkabau.
Beliau menempuh pendidikan dasar dan sampai sekolah raja di Bukittingi/ Pada tahun 1871, beliau belajar di Makkah Mukaramah mendalami agama. Beliau adalah seorang yang tekun dan cerdas. Beliau merupakan murid kesayangan Syekh Saleh Kurdi seorang hartawan keturunan Kurdi. Ahmad Khatib diangkat sebagai Imam Besar Masjidil Haram dalam madzhab Sayfi’I dan menetap di Makkah sebagai guru.
Ahli fikih dan ilmu Falak ini adalah guru pada tokoh Islam dan ulama Indonesia. Diantaranya adalah Syekh Muhammad Nur (mufti kerajaan Langkat), Syekh Muhammad Jamil Jambek, Dr. H. Abdul Karim Amrullah (ayah Hamka), Syekh Mustafa Husain dari Purba (Mandailing), K.H. Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), dan K.H.Hasyim Asy’ari (Pendiri Ponpes Tebuireng dan Pendidi Nahdlatul Ulama).    

(Lasa Hs)

LAYANAN IFORMASI DIFABEL


                    

Kaum difabel memiliki hak yang sama dengan orang lain dalam akses informasi. Kebutuhan akses informasi dan layanan ini kadang belum mendapat respon maupun perlakuan yang baik dari perpustakaan. Hak-hak mereka kadang diabaikan dan dianggap kurang produktif bahkan merepotkan.
Suatu ketika Abdullah bin Ummi Maktum seorang sahabat Nabi Muhammad saw yang tunanetra itu mohon  kepada Nabi untuk membacakan beberapa ayat dari Al-Quran. Pada saat itu,Rasulullah saw sedang serius dialog dengan para tokoh Quraisy (Utbah bin Rabi’ah, Abu Jahal, dan Abbas bin Abdul Muthalib) yang sedang bertamu. Maka beliau kurang memperhatikan Abdullah bin Ummi Maktum. Sedangkan Abdullah bin Ummi Maktum kurang menyadari bahwa Nabi saw sedang menerima tamu dan lalu  sekali lagi beliau meminta Nabi saw untuk membacakan ayat-ayat Al-Quran. Nampaknya Rasulullah saw kurang berkenan dengan sikap Abdullah bin Ummi Maktum ini dan memalingkannya. Sejenak setelah tamu itu pulang, lalu turunlah S. ‘Abbasa (bermuka masam) yang artinya; 1) Dia bermuka masam dan berpaling; 2) Lantaran datang kepadanya orang buta itu; 3) Padahal adakah yang engkau tahu, boleh jadi dia ingin menyucikan dirinya (dari dosa); 4) atau dia akan ingat, lalu memberi manfaat kepadanya dengan ingatan itu; 5) adapun (terhadap) orang yang merasa diri cukup; 6) maka engkau menghadapkan (perhatian) kepadanya”.
Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar 9 Juz 28, 29, 30, : 497 menyatakan bahwa Ibnu Ummi Maktum adalah seorang sahabat Nabi Muhammad saw yang terkenal. Satu-satunya tuna netra yanag turut hijrah bersama pada sahabat ke Madinah adalah Abdullah bin Ummi Maktum ini. Satu-satunyaa seorang tunanetra yang dipercaya Nabi saw untuk menjadi wakil beliau mengimami shalat di Madinah ketika beliau ke luar kota dalam waktu lama. Ibu dari Abdullah bin Ummi Maktum ini adalah saudara kandung dari Ibu yang melahirkan Siti Khadijah (isteri Rasulullah) . Setelah di Madinah, beliau dipercaya sebagai muadzin disamping Bilal.
Para tunanetra dan penyandang berkebutuhan khusus memiliki hak untuk mendapatkan layanan publik sama dengan yang lain. Mereka memiliki hak pada:
1.Pendidikan pada semua satuan. jalur, jenis, dan jenjang pendidikan;
2. Pekerjaan dan penghidupan yang layak  sesuai dengan jenis dan derajat kecacatan, pendidikan, dan kemampuannya;
3.Perlakuan yang sama untuk berperan dalam pembangunan dan menikmati hasil-hasilnya;
4. Aksesibilitas dalam rangka kemandiriannya;
5. Rekabilitasi, bantuan sosial dan pemeliharaan taraf kesejahteraan sosial, dan:
6. Hak yang sama untuk menumbuhkembangkan bakat, kemampuan dan kehidupan sosialnya, terutama bagi penyandang cacat dalam lingkungan keluarga dan masyarakat.
(Undang-Undang No. 4 Tahun 1997 Pasal 6)

(Lasa Hs)  

MEMAJUKAN INDONESIA dan MELITERASIKAN NUSANTARA


Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama merupakan dua sayap kemajuan nusantara. Kedua organisasi Islam ini lahir sebelum NKRI lahir. Untuk itu perlu bergandeng tangan dan memperkecil perbedaan diantara keduanya. Demikian dikatakan Lasa Hs dalam pengarahannya pada komunitas literasi/kepustakawanan Nahdlatul Ulama beberapa waktu lalu di Kampus UNU Lowanu Yogyakarta. Dikatakan selanjutnya oleh Ketua FPPTMA itu bahwa kita perlu bergandeng tangan Memajukan Indonesia dan Meliterasikan Nusantara ini, agar bangsa ini semakin cerdas dan menjadi bangsa besar.
Dalam pertemuan  yang diikuti para pegiat literasi NU se Jawa itu, beliau berbagi pengalaman dan pengetahuan (sharing knowledge) tentang latar belakang, sejarah, dan kemajuan yang telah dicapai FPPTMA seperti sekarang ini. Hal ini dimaksudkan agar apa yang telah dilakukan dan dialami FPPTMA menjadi pelajaran pegiat literasi NU itu
Pertemuan yang diinisiasi dan dipimpin Dra. Labibah Zein (Presiden Special Library Association) itu menghasilkan kepengurusan Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Nahdlatul Ulama (FPPTNU) dengan ketua Yenni Fitria Nurahman, S.Sos       (UNU Surabaya) dan sekretaris Abdillah Badruzzaman (UNU Yogyakarta). Semoga organisasi ini berkembang se Nusantara seperti halnya FPPTMA yang kini telah memiliki korwil se Indonesia.

(Lasa Hs)    

Selasa, 07 Januari 2020

Seminar Nasional Perpustakaan, Rakornas dan Pelantikan FPPTMA


Seminar Nasional Perpustakaan, Rakornas dan Pelantikan FPPTMA : Peran Perpustakaan dalam Mencerdaskan Bangsa dan Mencerahkan Semesta dilaksanakan di Lampung, pada tanggal 4-6 Februari 2020. Adapun informasi detailnya dapat dilihat melalui poster di atas

Jumat, 03 Januari 2020

Biografi Prof. Dr. H. Yunahar Ilyas, Lc., M.Ag.

Putra Bukittinggi kelahiran 22 September 1956 ini menjadi anggota Muhammadiyah sejak tahun 1986. Menamatkan pendidikan dasar di Padang, dua gelar S1 diperoleh di Fak. Usluhuddin Universitas Ibnu Riyadh (1983) dan Fak. Tarbuyah IAIN Imam Bonjol tahun 1984. S2 dan S3 diselesaikan di Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga pada tahun 1996 dan 2004. Selama bermuhammadiyah, pernah menjabat sebagai Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus PP Muhammadiyah periode 2000-2005 dan pada periode 2005-2010 menjabat sebagai Ketua PP Muhammadiyah. Diluar muhammadiyah, tercatat sebagai salah satu unsur ketua di Majelis Ulama Indonesia Pusat. Sehari-hari, bekerja sebagai Dosen/Guru Besar di Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta sejak 1987.

Nama Lengkap : Yunahar Ilyas, Prof. Dr. Lc. MA. H.
Tempat dan Tanggal Lahir : Bukittinggi, 22 September 1956
Alamat Rumah : Jalan Lawu 45 Banteng III, Yogyakarta 55581 Indonesia
Alamat Kantor:
  1. Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Kampus Terpadu, Jalan Lingkar Selatan, Taman Tirto, Bantul,Yogyakarta.Telp: 0274-387656
  2. PP Muhammadiyah Yogyakarta, Jalan Cik Ditiro 23 Yogyakarta Tlp. 0274-553132

Orang Tua:
  • Bapak: H. Ilyas (w. 1995)
  • Ibu: Hj. Syamsidar (w. 1988)
Nikah:
24 September 1987
Mertua:
  • H. Syahrial (w. 1997)
  • Hj. Asmah (w. 2006)
Isteri: Hj. Liswarni Syahrial
Anak-anak:
  1. Syamila Azhariya Nahar
  2. Faiza Husnayeni Nahar
  3. Muhammad Hasnan Nahar
  4. Ihda Rufaida Nahar
Jabatan di Muhammadiyah:
  • Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus PP Muhammadiyah 2000-2005
  • Ketua PP Muhammadiyah 2005 - 2010
  • Ketua PP Muhammadiyah 2010 - 2015
  •  Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2015-2020
Jabatan di Luar Muhammadiyah:
  • Ketua MUI Pusat 2005 - 2010
  • Ketua MUI Pusat 2010 - 2015
  • Wakil Ketua Umum MUI Pusat 2015 - 2020
Pendidikan:
  • Sekolah Dasar Negeri Taluk I di Bukittinggi, lulus tahun 1968.
  • Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) 4 tahun di Bukittinggi, lulus tahun 1972.
  • Pendidikan Guru Agama Negeri (PGAN) 6 tahun di Padang, lulus tahun 1974.
  • Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang, Jurusan Bahasa Arab, Fakultas Tarbiyah, lulus Sarjana Muda (Bachelor of Art) tahun 1978.
  • Universitas Islam Imam Muhammad Ibnu Su’ud Riyadh Saudi Arabia, Fakultas Ushuluddin, lulus Lisance (Lc) tahun 1983.
  • Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Imam Bonjol Padang, Jurusan Bahasa Arab, Fakultas Tarbiyah, lulus Sarjana Lengkap (Doktorandus) tahun 1984.
  • Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Program Pascasarjana, lulus Strata Dua (Magister Agama Islam) Aqidah dan Filsafat tahun 1996.
  • Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Program Pascasarjana, lulus Strata Tiga (Program Doktor) Ilmu Agama Islam tahun 2004.
Pekerjaan:
  • Guru Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta (1984-1990)
  • Staf Pengajar Tetap Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (1987-sekarang)
  • Staf Pengajar Pascasarjana (S2) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (2000-sekarang) dan dan Pascasarjana (S2) Universitas Muhammadiyah Surakarta (2006-sekarang)
  • Pengasuh Pondok Pesantren Budi Mulia Yayasan Shalahuddin Yogyakarta (1990-sekarang)
  • Sekretaris Lembaga Pengakajian dan Pengamalan Islam (LPPI) UMY (1987-1994) dan Wakil Kepala LPPI (1996-1999).
  • Dekan Fakultas Agama Islam Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (2003-2007).
Skripsi, Tesis dan Disertasi:
  • ‘Irâb al-Jumal fî Sûrah as-Sajdah, Skripsi Sarjana Muda Jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang, 1978.
  • Manzilah al-Istisyhâd bi Al-Qur’an Al-Karîm baina al-Istisyhâdât an-Nahwiyah, Skripsi Sarjana Lengkap Jurusan Bahasa Arab Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang, 1984.
  • Isu-isu Feminisme dalam Tinjauan Tafsir Al-Qur’an, Studi Kritis terhadap Pemikiran Para Mufassir dan Feminis Muslim tentang Perempuan, Tesis Magister Agama Islam, Program Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 1996.
  • Konstruksi Gender dalam Pemikiran Mufasir Indonesia Modern (Hamka dan M. Hasbi ash-Shiddiqy), Disertasi Doktor Ilmu Agama Islam, Program Pascasarjana IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, 2004.
Penerbitan Buku:
  • Kuliah Aqidah Islam, Yogyakarta: LPPI Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 1992.
  • Feminisme dalam Kajian Tafsir Al-Qur’an Klasik dan Kontemporer, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 1997.
  • Kuliah Akhlaq, Yogyakarta: LPPI Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, 1999.
  • Akhlaq Masyarakat Islam, Yogyakarta: MTDK PP Muhammadiyah, 2002.
  • Tafsir Tematis Cakrawala Al-Qur’an, Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2003.
  • Konstruksi Pemikiran Gender dalam Pemikiran Mufasir, Jakarta: Dirjen Bimas Islam dan Penyelenggaraan Haji Departemen Agama RI, 2005.
  • Kisah Para Rasul, Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2006.
  • Kesetaraan Gender dalam Al-Qur’an, Studi Pemikiran Para Mufasir, Yogyakarta: Labda Press, 2006.
  • Tipologi Manusia dalam Al-Qur’an, Yogyakarta: Labda Press, 2007.
Pengalaman Organisasi:
  • Ketua Umum Senat Mahasiswa Fakultas Tarbiyah IAIN Imam Bonjol Padang 1977-1979
  • Ketua Umum DPC IMM Kota Padang 1977-1979
  • Wakil Ketua DPD IMM Sumbar 1978-1979
  • Ketua Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Riyadh Saudi Arabia tahun 1982-1983.
  • Wakil Ketua Divisi Pembinaan Umat ICMI Orwil DIY 1991-1995
  • Wakil Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyah 1995-2000.
  • Ketua Majelis Tabligh dan Dakwah Khusus Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2000-2005
  • Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2005-2010
  • Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2010-2015
  • Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah 2015-2020
  • Ketua Majelis Ulama Indonesia Pusat 2005-2010.
  • Ketua Majelis Ulama Indonesia Pusat 2010-2015
  • Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia Pusat 2015-2020
Pengalaman Dakwah:
  • Memberikan ceramah agama Islam di masjid-masjid, kampus-kampus dan kantor-kantor di Yogyakarta, Solo, Semarang, Cilacap, Jakarta, Bandung, Surabaya, Balik Papan, Bontang, Martapura, Palangkaraya, Makassar, Palu, Denpasar, Mataram, Padang, Bukittinggi, Padang Panjang, Batusangkar, Payakumbuh, Sawah Lunto, Pakanbaru, Batam, Palembang dan beberapa kota lainnya.
  • Memberikan ceramah agama Islam dan Talk Show di TVRI Yogyakarta dalam acara Gema Ramadhan, Malioboro-Malioboro, Visi Baru dan Resonansi.
  • Memberikan ceramah agama Islam selama bulan Ramadhan (1402 H) untuk mahasiswa di Berlin atas undangan PPME (Persatuan Pelajar Muslim se-Eropa) Wilayah Jerman Barat.
  • Mengikuti Pelatihan Imam dan Da’i Internasional di Universitas Al-Azhar Cairo selama 2 ½ bulan tahun 1988.
  • Memberikan ceramah agama Islam dalam acara LKII VI (Latihan Kajian Islam Intensif) untuk mahasiswa dan masyarakat Islam Indonesia di 10 negara bagian Amerika Serikat selama 45 hari, September-Oktober 1999.
  • Memberikan pengajian Ramadhan dan Khutbah ‘Iedul Fitri 1420 H untuk masyarakat Islam Indonesia Los Angeles Amerika Serikat, 1-15 Januari 2000.
  • Memberikan ceramah agama Islam pada acara Spring Gathering 2000 di Manchester (atas undangan KIBAR-Keluarga Islam Britania Raya dan Sekitarnya) untuk masyarakat Islam Indonesia Britania Raya dan ceramah agama Islam di 7 kota lainnya di Kerajaan Inggeris, April-Mei 2000 (21 hari)
  • Memberikan ceramah agama Islam pada mahasiswa dan masyarakat Islam Indonesia di 7 kota Jerman atas undangan PPME Wilayah Jerman, Mei 2000 (15 hari)
  • Memberikan ceramah agama Islam pada Keluarga Muslim Indonesia di Jepang, Ramadhan 1427 H.
  • Memberikan ceramah agama Islam pada Muktamar IMSA (Indonesian Moslem Society in America), Desember 2007.
  • Memberikan ceramah agama Islam pada masyarakat muslim Indonesia di Taipei, Mei 2007.
  • Memberikan ceramah agama Islam dalam acara LKII-ICMI North America 2008 untuk mahasiswa dan masyarakat Islam Indonesia di 9 negara bagian Amerika Serikat selama 32 hari, Mei-Juni 2008.
sumber : http://www.muhammadiyah.or.id/id/content-210-det-prof-dr-h-yunahar-ilyas-lc-mag.html

H.M. RASYIDI; MENTERI AGAMA RI PERTAMA KALI


RASYIDI  (20 Mei 1915 – 30 Januari 2001) , lahir dengan nama Saridi sebagai putra Atmosugito Kotagede Yogyakarta. Beliau menempuh pendidikan di Sekolah Muhammadiyah Yogyakarta. Kemudian ia melanjutkan sekolah di Perguruan Al Irsyad al Islamiyah Malang di bawah asuhan Syekh Ahmad Syurkati. Saridi dikenal cerdas dan dicintai guru-gurunya karena pandai bahasa Arab. Pada usia 15 tahun ia telah hafal Alfiah Ibnu Malik dan mampu menghafal Matan as Sullam buku logika Aristoteles. Dengan kelebihan ini, beliau dipercaya untuk menjadi asisten pengajar bidang gramatika bahasa Arab (nahwu, qawa’id).
Ketika belajar di Perguruan Al Irsyad al Islamiyah Malang, beliau juga dibimbing guru-guru dari Makkah, Mesir, dan Sudan. Dari sini, Muhammad Rasyidi tertarik untuk belajar ke Timur Tengah. Kemudian beliau melanjutkan studi ke Darul Ulum (setingkat sekolah menengah atas)  yang kemudian melanjutkan ke Jurusan Filsafat dan Agama Universitas Al Azhar Kairo. Dari perguruan tinggi ternama ini, beliau mendapat Licence setelah menempuh pendidikan selama 4 (empat) tahun. Kehausan terhadap ilmu pengetahuan ini tidak berhenti sampai disini. Beliau belajar lagi di Fakultas Sastra Universitas Sorbone Prancis. Beliau berhasil menyabet gelar doctor tanggal 23 Maret 1956 setelah mempertahankan disertasinya berjudul Evolution de I’Islam en Indonesie ou Consideration Critique du Livre Centini (Evolusi Islam di Indonesia atau Tinjauan Kritik terhadap Serat Centhini). Dengan kecerdasannya ini, beliau berhasil menempati peringkat pertama dan mampu mengungguli mahasiswa dari Mesir, Albania, dan Sudan.  
Selama  belajar di luar negeri, H.M. Rasyidi berhasil menggalang dukungan Kemerdekaan RI dari negara-negara Timur Tengah.Pada tahun 1947, beliau turut dalam pertemuan dengan Sekjen Liga Arab Azzam Pasha di Mesir. Hadir pula utusan dari Indonesia antara lain K.H.Agus Salim, A.R. Baswedan (ayah Anies Baswedan) dan Mr. Nazir Pamuntjak. Pertemuan ini diinisiasi oleh Abdul Mu’in sebagai Konsul Jendral Mesir dan sekaligus tamu Negara pertama setelah Indonesia Merdeka.  
            Muhammad Rasyidi sebagai akademisi juga pernah menjadi dosen Sekolah Tinggi Islam Yogyakarta (sekarang Universitas Islam Indonesia/UII Yogyakarta), menjadi Guru Besar Fakultas Hukum Universitas Indonesia, Guru Besar IAIN (kini UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta. Pada tahun 1958 – 1963 beliau pernah menjadi Assocaite Professor di McGill University Montreal Kanada.
            Jabatan dalam pemerintahan yang pernah dipangkunya adalah pernah menjadi Menteri Negara pada masa Kabinet Sjahrir I yang mengurusi peribadatan. Beliau menjadi Menteri Agama 3 Januari 1946 – 3 Oktober 1946. Kemudian pada masa Menteri Agama dipegang Fathurrahman Kafrawi, beliau dipercaya sebagai Sekretaris Jenderal Departemen Agama. Ia pernah menjadi Duta Besar Mesir dan Saudi Arabia (1950 – 1952), Iran dan Afganistan (1952 – 1953), Kepala Direktorat Penerangan Departemen Luar Negeri (1953 – 1955), dan Duta Besar Pakistan (1956 – 1958).
            Kesibukannya masih ditambah dengan kegiatan dalam dakwah Islamiyah antara lain beliau bersama Mohammad Natsir mendirikan Dewan Dakwah Islamiyah (DDI), menjadi Penasehat PP Muhammadiyah, dan pernah menjadi Anggota Dewan Pertimbangan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat.
            Putra Kotagede Yogyakarta ini ternyata juga seorang penulis yang produktif. Beberapa buku yang dihasilkannya antara lain: 1) Islam Menentang Komunisme; 2) Islam dan Indonesia di Zaman Modern; 3) Islam dan Kebatinan; 4) Islam dan Sosialisme; 5) Mengapa Aku Tetap Memeluk Agama Islam; 6) Agama dan Etik; 7) Empat Kuliah Agama Islam pada Perguruan Tinggi; 8) Strategi Kebudayaan dan Pembaharuan Pendidikan Nasional; 9) Hendak Dibawa Kemana Umat Ini: 10) Koreksi Terhadap Drs. Nurcholis Madjid tentang Sekulerisasi; 11) Koreksi Terhadap Dr. Harun Nasution tentang Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya; 12) Filsafat Agama, Bibel Quran dan Sains Modern (diterjemahkan dari karya Maurice Bucaille); 13) Humanisme dalam Islam (  diterjemahkan dari karya Marcel A. Boisard); 14) Janji-Janji Islam dan Persoalan-persoalan Filsafat (diterjemahkan dari karya Harold A. Titus).
            Intelektual muslim ini berpulang ke Rahmatullah dalam usia 86 tahun, setelah dirawat du Rumah Sakit Islam Jakarta Cempaka Putih pada tanggal 30 Januari 2001, dan dimakamkan di tanah kelahiranya Kotagede Yogyakarta
(Eko Triyanto)

Kamis, 02 Januari 2020

10 Karakter Orang Muhammadiyah

*"10 Karakter Orang Muhammadiyah"*
*Buya Prof. Dr. KH. Yunahar Ilyas, M.Ag (Ketua PP Muhammadiyah / Waketum MUI Pusat)*

Sepuluh karakter yang harus dimiliki ialah; *(1) al-Fahmu, (2) al-Ikhlas (3) al-Amal, (4) al-Jihad, (5) at-Tadhiah, (6) al-Jama’ah, (7) ath-Tho’ah, (8) al-Ukhuwwah, (9) ats-Tsabat, dan (10) at-Tajarrud.*

*Pertama, yaitu Al-Fahmu* yang bermakna paham atau memahami. Yakni paham tentang Islam secara kaffah. Kader Muhammadiyah tidak boleh mempunyai paham Islam yang setengah-setengah.

“Yang harus Kita pahami pertama kali yaitu Islam, karena Muhammadiyah adalah gerakan Islam, jangan salah paham apalagi gagal paham” ujar Yunahar diiringi gelak tawa para hadirin.

Menurutnya, paham Islam yang dianut oleh Muhammadiyah ialah paham Manhaji bukan paham Mazhabi karena Muhammadiyah tidaklah bermazhab. Pemahaman tentang Islam adalah pondasi dasar kader Muhammadiyah untuk memahami lebih jauh Muhammadiyah.

“Paham tentang agama Islam itu sangat penting, di setiap materi Baitul Arqom itu pasti ada materi tentang Al-Islam. Kalau sudah paham Islam dengan baik, maka otomatis paham Muhammadiyah. Jadi sudah memiliki paham Muhammadiyah, tidak perlu mendaftarkan diri jadi anggota Muhammadiyah pun dengan sendirinya sudah menjadi Muhammadiyah” imbuhnya.

*Poin kedua yaitu al-Ikhlash (keikhlasan).* Yunahar bersyukur karena keikhlasan sudah menjadi sifat mainstream yang dimiliki oleh mayoritas warga Muhammadiyah. Lantas, Yunahar memaparkan tiga indikator suksesnya seorang kader dalam kehidupan. Pertama yaitu Ikhlasunniyyah (niat yang ikhlas). Kader harus memiliki rasa ikhlas berkorban membantu menghidupi persyarikatan, tidak pamrih dan tidak pelit. Kedua yaitu itqonul ‘amal (profesional dalam bekerja) kader Muhammadiyah harus memiliki rasa tanggung jawab yang besar. Jika kader Muhammadiyah bekerja maka dia harus bekerja dengan ikhlas, cerdas, dan tuntas. Sering datang rapat, kata Yunahar, juga termasuk perwujudan dari itqonul amal. 

*Yang ketiga itu jaudatul ada’* atau memberikan hasil yang terbaik/maksimal. Setiap periode kepemimpinan haruslah lebih baik dari kepemimpinan  sebelumnya. Jika diberi amanah, harus berusaha memberikan hasil yang memuaskan.

*Karakteristik kader yang ketiga yaitu al-Amal.* Yakni ulet dan rajin bekerja. Senantiasa mengamalkan Islam untuk pribadi, agama, dan Negara supaya terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya (MIYS).

“Alhamdulillah, Muhammadiyah dalam gerakan amalnya sudah cukup menonjol” kata Yunahar diiringi tepuk tangan para hadirin.

Amal Usaha Muhammadiyah itu dimiliki secara resmi oleh organisasi bukan perorangan, oleh karena itu sistem pengelolaannya bisa tertata rapi. Yunahar memisalkan amal usaha Muhammadiyah itu layaknya korporasi, sementara amal usaha yang dimiliki oleh NU layaknya koperasi, karena dimiliki oleh perorangan.

*Keempat yaitu Al-Jihad.* Kader Muhammadiyah harus mengerahkan segenap kompetensi yang dimiliki untuk melakukan kebaikan. Dalam masalah infaq, misalnya. Kader Muhammadiyah harus mengeluarkan infaq sebaik-baiknya, meniru apa yang sudah dilakukan oleh Khalifah kedua, Abu Bakar Ash-Shiddieq.

*Kelima yaitu at-Tadhiah, yang bermakna rela berkorban.* Korban waktu, korban harta, serta korban perasaanpun harus dicurahkan oleh kader Muhammadiyah.

“tidak ada ceritanya Pimpinan Pusat Muhammadiyah memberi uang, yang ada malah PP yang menggalang bantuan dari tingkat bawahnya. Seluruh PTM itu wajib menyumbang 1% untuk Muhammadiyah, tidak ada PP itu bagi-bagi” tandas Yunahar.

*Keenam yaitu al-Jama’ah (semangat berjama’ah).* Merupakan suatu kensicayaan bahwa Muhammadiyah sebagai jam’iyyah (persyarikatan) harus memiliki sinergitas dan kekompakan dalam berorganisasi. Mulai dari tingkat ranting hingga pusat.

*Karakteristik yang ketujuh itu at-Tho’ah (loyalitas/kepatuhan).* Warga Muhammadiyah harus patuh dan loyak kepada pimpinan di tingkatnya masing-masing, dari ranting hingga pusat. Namun, pesan Yunahar, Kader Muhammadiyah janganlah terlampau patuh.

“Warga Muhammadiyah harus patuh tapi jangan terlalu patuh”.

“Kalau terlalu patuh biasanya apa-apa ditanyakan, permasalahan kecil-kecil pun akan ditanyakan ke majelis tarjih bagaimana fatwanya, kalau sekiranya sudah jelas atau bisa diputuskan sendiri, ya gak perlu minta  fatwa tarjih, lah” tambah Yunahar.

Tapi, ada juga warga Muhammadiyah yang tidak patuh dan pura-pura bertanya.

Yunahar kemudian menceritakan pengalamannya, “Dulu ada yang tanya kepada saya, “pak, apa warga Muhammadiyah harus patuh putusan tarjih?” lalu saya jawab, “pak, pertanyaan Anda salah, harusnya kenapa Anda tidak ikut putusan tarjih dan alasan apa yang Anda gunakan untuk tidak patuh putusan tarjih?, tarjih memang tidak memaksa untuk dipatuhi tapi jangan sampai tidak mengikuti putusan tarjih tanpa alasan”.

Meskipun patuh terhadap pemimpin tapi semangatnya masih sahabat (egaliter)

*Poin kedelapan yaitu al-Ukhuwwah (persaudaraan).* Menurut Yunahar, iklim persaudaraan di Muhammadiyah sudah cukup bagus. Meskipun Muhammadiyah itu struktural, namun hubungan sehari-hari antar warganya masih bersifat kultural dan egaliter. Dulu, ketika pak AR Fachruddin antri mau makan, warga NU yang melihatnya menganggap hal itu kurang ajar, padahal hal tersebut sudah sangat biasa di Muhammadiyah. Muhammadiyah sangat egaliter tapi semangatnya itu semangat ukhuwwah, ta’awun dan takaful (saling memberi jaminan).

*Kesembilan yaitu ats-Tsabat (konsisten/istiqomah).*  Istiqomah mencerminkan suatu sikap teguh pendirian, tidak gampang terbujuk dan tidak takut dari ancaman. Diancam tidak takut, dirayu tidak terbujuk.

“Watak Muhammadiyah sejak zaman penjajahan itu teguh dan fleksibel, tidak berpolitik dan mengambil jalur kultural. Agus salim pernah mengajak Muhammadiyah jadi parpol, tapi ditolak Ahmad Dahlan” ulas Yunahar.

Jika sudah menjadi gerakan Islam (seperti Muhammadiyah yang fokus pada ranah kultural) berarti mencakup seluruh aspek, tinggal strategi kita saja bagaimana mengaturnya tidak harus menempuh jalur politik.

*Poin terakhir yaitu at-Tajarrud. Ke manapun dan dimana pun harus bangga bermuhammadiyah dan berdakwah.*

*“Kalau saya ceramah di orang yang tidak suka Muhammadiyah, maka ya bikin mereka suka, jangan sembunyikan identitas kita. Di mana pun berdakwah perkenalkan diri sebagai warga Muhammadiyah”.*