Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Jumat, 28 Februari 2020

Raih Akreditasi A, Perpustakaan UMY Jadi Ruang Publik yang Berwarna dan Nyaman

Gelap, berdebu, sunyi dan kuno adalah kesan perpustakaan bagi sebagian orang. Hal itu yang menyebabkan banyak orang terlebih lagi anak muda enggan menghabiskan waktu di tempat itu. Namun, kesan itu akan hilang ketika kita memasuki perpustakaan pusat milik Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Bersih, santai, nyaman ceria dan warna-warni adalah tampilan yang dihadirkan serta lebih tepat untuk disebut sebagai taman baca. Berkat inovasi itu, perpustakaan UMY mendapatkan Akreditasi A dari Lembaga Akreditasi Perpustakaan.
Melalui surat resmi bernomor 00135/LAP.PT/II.2020 yang dikeluarkan pada Rabu (5/2) di Jakarta. Kepala Perpustakaan UMY, Lasa HS mengatakan bahwa hasil ini didapat setelah melakukan banyak perubahan dan inovasi. Ia menjelaskan bahwa perubahan harus selalu dilakukan guna menghilangkan kesan negatif dan mampu menarik perhatian untuk ke perpustakaan.
“Kalau tidak ada perubahan fisik di sini dengan asesor dari lima tahun yang lalu dengan sekarang kok tidak ada perbedaan. Muhammadiyah itu berkemajuan, maka hari ini harus lebih baik dari kemarin. Itu menjadi konsep utama kami untuk melakukan perubahan,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (25/2) di UMY.
Saat ini perpustakaan UMY yang bertempat di Gedung K.H Mas Mansyur UMY memiliki fasilitas yang menarik selain koleksi buku yang banyak. Pada lantai pertama memiliki konsep yang ceria dan berwana. Pengunjung diberi kebabasan untuk melakukan diskusi dimana pun, menggunakan kursi warna warni atau lesehan. Selain itu terdapat juga kedai kopi yang berada di pojok ruangan. Dimana pengunjung dapat memesan minuman dan makanan kecil.
Selain mengusung konsep yang meriah, perpustakaan UMY juga menyediakan sembilan bilik kecil diperuntukan bagi mahasiswa atau dosen yang butuh ketenangan guna mengerjakan tugas. Sebelum melakukan berbagai perubahan di perpustakaan, Lasa telah mengamati tipe dan kebutuhan dari pengunjung.
“Kalau ada yang tiduran, ya silahkan dan jangan dibangunkan, kan mereka capek. Kalau ada yang pakai sandal ya silahkan. Kalau dipikir-pikir jika kita keras, orang-orang pada takut ke perpustakaan. Tetapi berpakaian yang sopan harus diutamakan, orang mau pintar kok dilarang. Mau ngobrol ya silahkan, mahasiswa kan kalau ngobrol pasti ilmiah, pokoknya macam-macam orang yang datang ke sini. Ada juga tempat bagi mereka yang butuh ketenangan,” ujarnya.
Pustakawan senior ini juga mengatakan bahwa kampus harusnya memiliki ruang terbuka publik yang nyaman dan dapat digunakan oleh siapa pun. Baginya setiap diskusi yang baik akan menghasilkan pemikiran yang baik pula. Ia juga bertekad dengan perpustakaan yang berkonsep anak muda ini dapat menjadi tempat bagi mahasiswa dan dosen untuk menghabiskan waktu.
“Sekarang mulai semakin banyak mahasiswa yang berdiskusi dan berkumpul di sini. Selain itu juga ada dosen yang melakukan bimbingan dan menerima tamu dari luar di perpustakaan. Lalu keuntungan lain bagi UMY dengan adanya hasil akreditasi, akan memudahkan bagi proses akareditasi Program Studi dan universitas. Selain itu, dengan akreditasi A yang kita miliki juga akan memberi kemudahan dan nilai tambah ketika ada prodi yang akreditasi,” pungkasnya. (ak)

sumber :umy.ac.id

MAKNA IKHLAS : Tulisan – 2



       
Perbuatan ikhlas memang berbeda dengan perbuatan yang disertai dengan kepentingan-kepentingan tertentu seperti perbuatan riya’, sum’ah, dan lainnya. Perbuatan riya’ adalah perbuatan baik yang dilakukan dengan maksud pamer dan bangga atas kebaikan yang dilakukan kepada orang lain. Apalagi kalau perbuatan itu disertai dengan katakaburan. Na’udzu billahi mindzalik.
Kemudian perbuatan sum’ah adalah perbuatan baik yang sengaja disiar-siarkan (didengar-dengarkan) berlebihan melalui berbagai media agar orang lain mengerti dan kagum terhadap perbuatan baik itu.
Tidak mudah memang untuk menegakkan keiklasan, sebab manusia itu pada dasarnya adalah makhluk yang lemah. Syetan selalu mengintai manusia. Syetan mengetahui gerak gerik manusia, sedangkan manusia tidak mengetahui gerak gerik syetan. Menyikapi kondisi seperti ini, Sofyan Ats Tsauri ulama terkena  pernah menyatakan :”Sesuatu yang paling sulit bagiku untuk aku luruskan adalah niatku, karena begitu seringnya berubah-rubah.
          Keikhlasan tidak saja dituntut dalam kegiatan ibadah mahdhah maupun beramal saleh. Dalam melakukan kegiatan keilmuan pun dituntut untuk ikhlas. Ikhlas tidaknya seseorang dalam melakukan aktivitas keilmuan tersebut besar pengaruhnya terhadap keberkahan ilmu pengetahuan itu sendiri. Artinya kalau mereka ikhlas, maka ilmu itu insyaa Allah akan memberikan keberkahan pada diri orang itu atau pada orang lain. Dalam hal ikhlas  melakukan kegiatan keilmuan ini ditegaskan oleh Nabi Muhammad saw :” Siapa yang menuntut ilmu pengetahuan hanya dengan motivasi keduniaan (pangkat, jabatan, gelar, uang, kedudukan dan lain-lain), maka besok pada hari akhir tidak akan mendapatkan bau surga”. (H.R. Abu Daud).
Tentang keikhlasan berilmu pegetahuan ini, Imam Daroquthni mengakui betapa pentingnya dalam menuntut dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Untuk itu beliau menyatakan :”Pada awalnya saya menuntut ilmu pengetahuan bukan karena Allah, ternyata selama itu ilmu pengetahuan enggan menghamapiri saya. Kemudian saya menyadari untuk ikhlas dalam menuntut ilmu dengan mengharap ridha Allah)”.

Bersambung

(Lasa Hs)

Kamis, 27 Februari 2020

MENJAGA KESEHATAN : Tulisan – 2


        
Agar orang tetap sehat, beberapa pakar kesehatan menganjurkan untuk menkonsumsi gizi yang cukup, olah raga yang cukup, jiwa yang tenang, dan menjauhkan diri dari berbagai pengaruh yang menjadikannya kena penyakit (rohani & jasmani). Badan Kesehatan Dunia World Health Organization/WHO memberi batasan tentang sehat adalah sesuatu keadaan jasmaniah, rohaniah, dan sosial yang baik, tidak hanya tidak berpenyakit atau cacat. Definisi ini pada tahun 1984 ditambah dengan agama (religion). Dengan demikian sehat itu meliputi bio-psiko-sosio-spiritual. Oleh karena itu seseorang dapat dikatakan sehat yang sesungguhnya apabila tubuh/jasmaninya tidak berpenyakit, mentalnya yang baik,kehidupan sosial yang baik, dan pelaksanaan agamanya juga baik.
Dalam menjaga kesehatan ini, Ibnul Qayyim al-Jauziyyah (wafat 1350M) salah seorang ulama terenal, dalam bukunya yang berjudul Al Thibb al-Nabawi  membagi cara pencegahan menurut Nabi Muhammad saw menjadi 3 (tiga) kategori yakni obat alami, obat Ilahy, dan gabungan diantara keduanya (Departemen Agama RI, 2003: 24). Sedangkan al-Dzahabi dalam bukunya yang berjudul al-Thibb al Nabawi  menyatakan bahwa inti ilmu pengetahuan Nabi Muhammad saw adalah perpaduan kesehatan pada diri seseorang yang meliputi aspek spiritual, psikologis, fisik, dan moral.
Berkaitan dengan penjagaan kesehatan ini, Rasulullah saw menegaskan bahwa pada dasarnya obat itu ada dua dalam sabdanya yang artinya:” Berobatlah kamu sekalian dengan 2 (dua) macam penyembuhan yakni madu dan Al-Quran (H.R. Ibnu Majah).
          Dari sisi akurasi pernyataan Nabi Muhammad saw ini, para ahli kesehatan sepakat tentang khasiat madu bagi kesehatan  fisik saja, sedangkan Al-Quran menurut Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjadi obat berbagai jenis penyakit jasmani dan rohani, duniawi dan ukhrawi dengan mengamalkan tuntunan-tuntunannya (Departemen Agama RI, 2003: 25).
          Rasulullah Muhammad saw adalah  orang yang patut menjadi teladan dalam menjaga kesehatan. Dari berbagai sumber dapat dirumuskan tentang cara-cara Nabi Muhammad saw dalam menjaga kesehatan antara lain dengan menjaga pola makan minum, menjalankan puasa, menjaga keseimbangan, minum madu, menggunakan air bersih, minum air susu murni, makan buah kurma, pengobatan, dan olah raga.

Bersambung

(Lasa Hs)    

Rabu, 26 Februari 2020

MENJAGA KESEHATAN : Tulisan - 1


                   
          Setiap orang pada umumnya kepingin sehat terus. Mereka tidak ingin sakit meskipun sakit ringan misalnya. Sakit dianggap sesuatu yang menyedihkan dan merupakan penderitaan tersendiri.
Orang yang sehat, Insyaa Allah dapat melakukan banyak kegiatan.   Sehat dalam hal ini adalah sehat dalam segala aspek baik fisik, sosial, maupun akidah. Mereka yang sehat adalah  orang yang kuat.Untuk itu perlu dipahami prinsip utama dalam kesehatan. Yakni segala upaya secara teratur dan optimal agar seseorang menjadi kuat. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda yang artinya :”Seorang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah ” (H.R. Muslim dari Abu Hurairah).
Dari hadits tersebut dapat dipahami bahwa Islam sangat memerhatikan kesehatan fisik, jiwa, akal, dan akidah. Penjagaan kesehatan jasmani memang bermacam-macam cara. Oleh karena itu menjaga kesehatan di saat sehat lebih baik daripada berobat setelah sakit. Pepatah Arab mengatakan alman’u ashalu min arraf’i (mencegah itu lebih mudah dari pada menghilangkannya).
Sehat rohani dan jasmani merupakan dambaan dan kebahagiaan tersendiri bagi seseorang dalam hidup ini. Rasulullah saw selalu berdo’a pagi dan sore agar diberikan kesehatan. Dalam hadist yang diriwayatkan ’Abdullah bin ’Umar r.a., ia berkata bahwa Rasulullah saw selalu berdo’a pagi dan sore :”Allahumma innii as alukal ’afwa wal’afiah  fii diinii wa dunyaa wa ahlii wa maalii (Ya Allah aku mohon kepada-Mu kesehatan di dunia dan akhirat nanti.Ya Allah aku memohon kepada-Mu ampunan dan kesehaan agamaku, duniaku, keluargaku, dan hartaku” (H.R. Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu Majah).
Bersambung

(Lasa Hs)


Selasa, 25 Februari 2020

SOEKARNO MENDAPAT PENCERAHAN DARI SANG PENCERAH TULISAN - 2


GORESAN PENA LIMA TAHUN LALU
 SOEKARNO MENDAPAT PENCERAHAN
 DARI SANG PENCERAH
TULISAN - 2        

Karena ketertarikannya dengan ajaran KH Ahmad Dahlan, tidak dilewatkannya untuk mendengarkan tabligh dari Sang Pencrah :”Nah dengan demikian, makin kuatlah, saudara-saudara, keyakinan saya bahwa ada hubungannya erat antara pembangunan agama dan pembangunan tanah air, bangsa, negara, dan masyarakat. Maka oleh karena itu , saudara-saudara, kok makin lama makin saya cinta kepada Muhammadiyah. Tatkala umur 15 tahun, saya simpati kepada Kiai Ahmad Dahlan sehibga mengintil kepadanya.”
                Namun ia menjadi anggota dan sekaligus pengurus Muhammadiyah baru 22 tahun kemudian setelah ia pertemuannya pertama dengan KH Ahmad Dahlan. Saat itu, ia sedang dibuang oleh Belanda ke Bengkulu. Soekarno resmi masuk menjadi anggota Muhammadiyah pada tahun 1938. Bersama Hasan Din, di Bengkulen Soekarno berpartisipasi aktif dalam kegiatan dakwah Muhammadiyah. Yang kemudian menjadi mertua beliau karena ayah dari Fatmawati, seorang perempuan yang dinikahi Soekarno.
        Tahun 1946 beliau meminta jangan dipecat dari Muhammadiyah.Ini karena perbedaan paham politik. Orang Muhammadiyah umumya berafiliasi kepada Masyumi sedangkan Soekarno adalah pendiri Partai Nasional Indonesia/PNI. Baginya sekali Muhammadiyah (dalam paham agama ) tetap Muhammadiyah.
  Kata-katanya mengenai kecintannya pada Muhammadiyah patut kita simak :”Nah, dengan demikian makin kuatlah, saudara-saudara, keyakinan saya bahwa ada hubungan erat antara pembangunan agama dan pembangunan tanah air, bangsa, negara, dan masyarakat. Maka oleh karena itu, saudara-saudara, kok makin lama makin saya cinta kepada Muhammadiyah. Tatkala umur 15 tahun, saya simpati Kiai Ahmad Dahlan, sehingga mengintil kepadanya, tahun 1938 saya resmi menjadi anggota Muhammadiyah, tahun 1946 saya minta jangan dicoret menjadi anggota Muhammadiyah, tahun 1962 ini saya berkata :”moga-moga saya diberi umur panjang oleh Allah swt dan jikalau saya meninggal, supaya dikubur dengan membawa nama Muhammadiyah atas kain kafan saya”.
Habis
(Sumber Suara Muhammadiyah, 1-15 Agustus 1915 edisi khusus Muktamar ke 47 di Makasar 2015: 46)
               

Pesan untuk Pengurus Masjid



Pesan pertama..
(Menutup tetapi tidak mengunci pintu mesjid)
 agar engkau tidak malu di hadapan Allah yang membukakan pintu rizki dan ampunan-Nya untuk kita semua setiap waktu.’

Barangkali ada saudara kita yang ingin beri’tikaf malam atau bertahajjud dan pintu masjid yg dijaga oleh ta’mir tetap terbuka..

Pesan ke 2
jangan pernah engkau tulis..
 ‘Dilarang Tidur di Masjid‘

Anda tidak tahu ada beberapa musafir yg sama sekali tidak punya uang untuk menginap di hotel /penginapan. Akibatnya di lantai depan masjid-lah mereka mengistirahatkan kepenatannya..

Setidaknya, sediakan karpet di teras masjid...

Pesan ke 3..
jangan pernah engkau tulis..
‘Selain jamaah masjid dilarang menggunakan toilet" atau
"Toilet Bukan Untuk Mandi‘

Mengapa begitu perhitungannya kita dgn musafir, hanya menumpang buang air kecil pun atau unt membersihkan diri harus dicegah?
Padahal ceramah Khatib mengatakan “kebersihan sebagian dari iman”.

Pesan ke 4..
 jangan pernah engkau tulis..
"Jangan membawa anak kecil"
atau berkata..
“Huss... jangan brisik!”

Ketahuilah anak² kecil itulah yang akan menjadi penerus kita nanti sebagai pemakmur masjid,
baik selagi kita masih hidup maupun setelah kita wafat..
Biasakanlah anak-anak kita dengan masjid..

Pesan ke 5..
‘Bangunlah masjidmu senyaman mungkin, karena masjid bukan hanya sekedar tempat bersujud‘
tetapi bisa digunakan untuk bermusyawarah,
mengurusi masalah umat,
menimba ilmu serta menenangkan hati dan mengistirahatkan dzahir dan batin kita..

Pesan ke 6..
‘Jangan bangga dengan jumlah infak yg ratusan juta tetapi tidak digunakan untuk kemakmuran masjid’.

Ingatlah! Orang berinfak ke masjid itu berharap pahala jariyah..
Bagaimana mereka akan mendapatkan pahala amal jariyah dan Anda mendapatkan pahala menjaga amanahnya,
sedangkan uang infak mereka tidak kamu gunakan?
Sebaliknya Anda justru menyimpan uang kas masjid di bank yang boleh jadi dinikmati oleh para kapitalis kafir..

Apakah Anda tahu,
boleh jadi di sekitar masjid ada warga yang terjerat rentenir demi memulai usaha mikro atau usaha kecil?

Permudahlah setiap orang yang mampir ke masjid..

Barangkali karena amal kecil itu bisa menjadi sebab dirimu masuk ke surgaNya Allah...

Bagaimana mungkin Anda menyebut masjid itu “Rumah Allah”
sedangkan Anda atur buka dan tutupnya laksana gudang..!

Semoga Bermanfaat...🇮🇩🇮🇩🇮🇩✊

Minggu, 23 Februari 2020

SOEKARNO MENDAPAT PENCERAHAN DARI SANG PENCERAH :Tulisan – 1




Tanda bangunan budaya dari Pemkot Surabaya berupa plakat berwarna kuning keemasan dipasang di dinding bagian depan rumah. Plakat cagar budaya tersebut bertuliskan :”Kediaman Pahlawan Nasional Haji Oemar Said (HOS) Tjokroaminoto sebagai pimpinan Sarekat Islam. Di tempat para kader pejuang bangsa digembleng, antara lain Bung Karno yang pernah kost di tempat ini, Jalan Peneleh VII/29-31 Surabaya”. Bung Karno (Soekarno) sendiri lahir  6 Juni 1901  di Surabaya.
          Di tempat ini pula, pertama kali Soekarno mendapat pencerahan tentang agama dari Sang Pencerah KH. Ahmad Dahlan. Dalam suasana remang-remang itu datanglah Kiai Ahmad Dahlan di Surabaya dan memberi tabligh mengenai Islam. Bagi saya (pidato) itu berisi regeneration dan rejuvenation daripada Islam. Sebab, maklum, ibu meskipun beragama Islam (tapi) berasal dari agama lain. (Beliau) orang Bali. Bapak meskipun agama Islam, beliau adalah beragama teosofi. Jadi (orang tua) tidak memberi pelajaran kepada saya tentang agama Islam”: Kata Soekarno di depan Muktamirin Mu’tamar Muhammadiyah Setengah Abad tahun 1962 di Jakarta.
          Lebih lanjut Soekarno menyatakan “Nah, suasana yang demikian itulah, saudara-saudara, meliputi jiwa saya tatkala saya buat pertama kali bertemu dengan Kiai Haji Ahmad Dahlan. Datang Kiai Ahmad Dahlan yang sebagai tadi saya katakan memberi pengertian yang lain tentang agama Islam. Malahan ia mengatakan, sebagai tadi dikatakan salah seorang pembicara:”Benar umat Islam tertutup sama sekali oleh jumud, tertutup sama sekali oleh khurafat, tertutup sekali oleh bid’ah, tertutup sekali oleh takhayul-takhayul. Dikatakan oleh Kiai Dalan, sebagai tadi dikatakan pula, padahal agama Islam itu agama yang sederhana, yang gampang, yang bersih, yang dapat dilakukan oleh semua manusia, agama yang tidak pentalitan, tanpa pentalit-pentalit, satu agama yang mudah sama sekali”.

Bersambung

(Sumber Suara Muhammadiyah (1-15 Agustus 2015), edisi Khusus Muktamar ke 47 di Makasar: 46


Dunia Ekstrem Indonesia




Musuh terbesar Pancasila ialah agama! Indonesia pun menjadi gaduh. Jika pernyataan kontroversial itu lahir dari fakta kelompok kecil umat yang memandang Pancasila thaghut. Kesimpulan tersebut jelas salah secara logika maupun substansi.

Jika anda melihat kucing hitam hatta jumlahnya banyak maka jangan simpulkan semua kucing berbulu hitam. Ini pelajaran mantiq paling elementer. Ketika kesalahan logika dasar itu dibssenarkan dan diulangi, boleh jadi ada masalah lain yang lebih problematik di ranah personal dan institusional.

Kesalahan subtansi menjadi lebih parah. Agama manapun tidak bertentangan dan memusuhi Pancasila. Para pendiri bangsa dari semua golongan telah bersepakat menjadikan Pancasila ideologi negara. Di dalam Pancasila terkandung jiwa dan nilai ajaran agama yang luhur. Bung Karno bahkan berkata, dengan sila Ketuhanan maka bukan hanya manusianya, tetapi Negara Indonesia itu bertuhan.

Indonesia sebenarnya tak perlu gaduh, jika siapapun yang salah berjiwa kesatria. Bila kearifan itu lahir tanpa kepongahan, reaksi publik tentu positif. Klarifikasi pun tidak diperlukan jika sekadar apologia “post factum”, mencari pembenaran di kemudian hari dengan merakit argumen baru yang esensinya bermasalah. Apalagi setelah ini meluncur pernyataan serupa yang kian riuh!

Paradigma Ekstrem

Menyatakan agama musuh terbesar Pancasila sama bermasalah dengan memandang Pancasila thaghut modern. Setali mata uang dengan pemikiran jika Indonesia ingin maju tirulah Singapura yang menjauhkan agama dari negara. Berbanding lurus dengan pandangan bila negeri ini ingin keluar dari masalah harus menjadi negara khilafah.

Sejumlah kegaduhan di negeri ini terjadi tidak secara kebetulan. Di ibalik kontroversi soal agama versus Pancasila serta pandangan sejenis lainnya terdapat gunung es kesalahan paradigma dalam memposisikan agama dan kebangsaan. Di dalamnya bersemi paradigma ekstrem (ghuluw, taṭarruf) dalam memandang agama, Pancasila, keindonesiaan, dan dimensi kehidupan lainnya.

Pikiran ekstrem dalam hal apapun akan melahirkan pandangan dan tindakan yang berlebihan. Karena sudah lama dicekoki oleh pemikiran bahwa sumber radikalisme-esktremisme dalam kehidupan berbangsa ialah agama dan umat beragama, maka lahirlah pandangan dan orientasi yang serba ekstrem tentang agama dan kebangsaan. Agama seolah racun negara dan Pancasila.

Apalagi ada realitas induksi ketika sebagian kecil umat beragama mengembangkan paham ekstrem dalam menyikapi dunia dan negara. Kelompok ini dikenal beraliran takfiri dengan memandang pihak lain salah, sesat, dan kafir. Negara-bangsa atau bentuk negara lainnya dipandang sebagai thaghut. Pancasila, demokrasi, dan hak asasi manusia produk dari sistem thaghut itu yang harus dilawan.

Pola pandang ekstrem beragama ala takfiri ini melahirkan pengikut (follower) fanatik buta. Sebaliknya melahirkan reaksi balik yang sama ekstrem. Tumbuh pula kelompok ekstrem liberal-sekular, yang tampil dalam kekenesan baru. Dalam situasi paradoks ini negara seolah ikut andil dalam memproduksi ekstremitas melalui program deradikalisme, sehingga kian menambah rumit persilangan dunia ekstrem di Republik ini. Plus berbagai persoalan bangsa yang dibiarkan akut dan menjengkelkan.

Dunia serbaekstrem inilah yang melahirkan konflik antar pemikiran yang sama-sama keras. Agama versus Pancasila. NKRI versus Khilafah. Ekstrem kanan lawan ekstrem kiri. Radikal dilawan radikal, melahirkan radikal-ekstrem baru. Tariq Ali menyebutnya sebagai The Clash of Fundamentalism, sementaraMichael Adas mencandranya sebagai fenomena sosiologis “the sectarian respons”. Konflik kebangsaan ini akan terus berlangsung jika tidak ada peninjauan ulang terhadap paradigma keindonesiaan yang ekstrem dalam hegemoni nalar positivistik, kuasa monolitik, dan mono-perspektif di Republik ini.

Jalan Terjal Moderasi

Indonesia menghadapi jalan terjal dunia ekstrem. Dua kecenderungan antagonistik dalam relasi agama dan negara mengemuka di negeri ini. Pertama, ekstremitas atau kesekstreman dalam memandang radikalisme hanya tertuju pada radikalisme agama khususnya Islam. Akibatnya, negara dan kalangan tertentu terjebak pada kesalahan pandangan dalam menentukan posisi agama dan negara. Pancasila dan Indonesia pun dikonstruksi dengan paradigma liberal-sekular.

Kedua, pola pikir keagamaan yang ekstrem, yang memandang kehidupan bernegara serbasalah, thaghut, dan sesat. Pandangan ini beriringan dengan kebangkitan agama era abad tengah yang teosentrisme, millenari, dan hitam-putih. Paham ekstrem keagaamaan ini sering didukung diam-diam oleh mereka yang kecewa terhadap keadaan —dalam istilah Taspinar ekstrem karena deprivasi relatif— sehingga lahir revitalisasi paham ekstrem keagamaan.

Bagaimana solusinya? Kembangkan moderasi atau wasathiyyah, baik dalam kehidupan keagamaan maupun kebangsaan. Masalah moderasi telah dipilih banyak pihak untuk melawan masalah mendesak saat ini, yaitu ekstremisme (Haslina, 2018). Jika ingin terbangun kehidupan beragama, berbangsa, dan bersemesta yang moderat maka jalan utamanya niscaya moderasi, bukan deradikalisasi.

Paradigma deradikalisme menimbulkan benturan karena ekstrem dilawan ekstrem dalam oposisi biner yang sama-sama monolitik. Membenturkan agama versus Pancasila maupun ide mengganti salam agama dengan salam Pancasila secara sadar atau tidak merupakan buah dari alam pikiran deradikalisme yang esktrem. Jika paradigma ini terus dipertahankan maka akan muncul lagi kontroversi serupa yang menghadap-hadapkan secara diametral agama dan kebangsaan, yang sejatinya terintegrasi.

Mayoritas umat beragama di negeri ini sejatinya moderat, termasuk umat Islam sebagai mayoritas. Masyarakat Indonesia pun dalam keragaman suku, keturunan, dan kedaerahan sama moderat. Hidup di negeri kepulauan dengan angin tropis dan keindahan alamnya membuat masyarakat Indonesia berkepribadian ramah, lembut, toleran, dan saling berinteraksi dengan cair sehingga lahir bhineka tunggal ika. Pancasila dan negara-bangsa telah diterima sebagai kesepakatan nasional yang dalam paradigma Muhammdiyah disebut Darul Ahdi Wasyahadah.

Pancasila sejatinya mengandung nilai-nilai dasar dan ideologi moderat. Sekali Pancasila dan Indonesia dibawa ke paradigma ekstrem, maka berlawanan dengan hakikat Pancasila dan Keindonesiaan yang diletakkan oleh para pendiri negara. Siapapun yang membenturkan Pancasila dengan agama dan elemen penting keindonesiaan lainnya pasti ahistoris dan melawan ideologi dasar dan nilai fundamental yang hidup di bumi Indonesia. Jika ingin Indonesia moderat maka jangan biarkan kehidupan keagamaan dan kebangsaan disandera oleh sangkar-besi paradigma dunia ekstrem!

by : Prof Dr Haedar Nashir - KETUA UMUM PP MUHAMMADIYAH

Tulisan ini telah dimuat di halaman Republika pada Sabtu (22/2)

Kamis, 20 Februari 2020

MAKNA IKHLAS : Tulisan – 1





Kata ikhlas  berasal dari bahasa Arab khalasha bentuk akar katanya adalah khulushon atau khalashon  yang berarti jernih dan bersih dari pencemaran. Misalnya ada kata khalashus saminu berarti samin yang murni. Kata khalasha bisa juga diartikan dengan selesai, misalnya kata khalashtu berarti aku telah selesai (mengerjakan sesuatu). Maka kata ikhlash menunjukkan pengertian bersih, jernih, dan suci dari campuran dan pencemaran. Sesuatu yang murni itu berarti bersih tanpa campuran, baik bersifat materi maupun non materi. Hal ini berarti bahwa perbuatan ikhlas itu adalah perbuatan yang betul-betul mengharap ridha Allah dan bersih dari berbagai kepentingan.Semua kegiatan itu bukan sekedar kepuasan hawa nafsu, tetapi dilakukan semata-mata demi Allah. “Katakanlah, sesunguhnya shalatku, ibadahku, hidup dan matiku hanya untuk Allah semata, yakni Tuhan Semesta Alam”.(Q.S. Al An’am: 162).
Kata ikhlas memang mudah diucapkan tetapi sulit dilaksanakan. Namun demikian bukan berarti bahwa yang sulit itu tidak bisa dilaksanakan. Sebab sering terjadi bahwa apa yang sulit bagi orang lain, maka belum tentu sulit bagi kita. Sebaliknya, ada sesuatu yang sulit bagi kita, tetapi ternyata sangat mudah bagi orang lain.
Jiwa yang ikhlas sebenarnya merupakan implementasi dari buah iman yang kokoh. Adanya iman yang kokoh akan mendorong seseorang untuk melakukan kegiatan yang manfaat pada dirinya dan pada pihak lain. Perbuatan yang ikhlas merupakan perbuatan yang digerakkan oleh hati sanubari yang bersih dan tidak dicampuri oleh nafsu yang buruk (sayyiah).
          Niat berbuat ikhlas ini memang tersembunyi sebagaimana tersembunyi perbuatan buruk pada diri seseorang. Sebab memang sebagian besar manusia itu suka menutupi kekurangan diri. Maka menutupi atau tidak menampakkan amal baik inilah termasuk tanda-tanda ikhlas. Dalam hal ini Yahya bin Mu’adz menyatakan bahwa ikhlas itu memisahkan amal saleh dengan aib sebagaimana perbedaan susu dan darah (Ihya’ Ulumuddin jaz 4: 366).
Dengan demikian, maka pribadi yang ikhlas itu dapat diumpamakan orang yang membersihkan beras dari kerikil-kerikil kecil. Beras yang telah dibersihkan dari kerikil-kerikil itu apabila dimasak tentunya rasanya enak. Demikian halnya dengan perbuatan ikhlas, tentunya akibat perbuatan itu akan dirasakan enak oleh orang lain dan yang berbuat. Sebab apa yang diperbuat itu dilakukan dengan lilo legowo.
Bersambung

Lasa Hs<

MENJAGA TITIPAN

                    

Apabila dititipi barang, pesan, harta, salam, bahkan anak oleh pihak lain, maka titipan itu harus dijaga sebaik-baiknya. Apabila sewaktu-waktu titipan itu diambil oleh yang menitipkannya, maka titipan itu harus dikembalikan secara ikhlas.
Dalam suatu kisah disebutkan bahwa pada masa Rasulullah saw terdapat suami isteri yang saling asih, asuh, dan asah. Suami itu bernama Abu Thalhah dan isterinya bernama Ummu Salim.
          Pada suatu hari, Abu Thalhah baru pulang dari berniaga. Beberapa saat sebelum kedatangannya di rumah, anaknya meninggal dunia. Begitu Abu Thalhah tiba di rumah, Ummu Salim tidak segera memberitahu atas kematian anaknya. Hal ini disebabkan Pak Thalhah masih capai dan pikirannya belum tenang. Setelah duduk sejenak, lalu dihidangkannya minuman dan makanan ala kadarnya. Lalu Abu Thalhah menanyakan keadaan putranya yang ketika ia pergi kebetulan anaknya itu sedang sakit. Maka Ummu Salim mengatakan :”Wahai suamiku, anak kita kali ini lebih tenang dari sebelumnya. Dikatakan selanjutnya :”Wahai suamiku apabila seseorang menitipkan sesuatu kepada orang lain dalam jangka waktu tertentu, lalu pada suatu saat yang telah disepakati untuk diambil oleh orang yang titip. Lalu kira-kira bagaimana sikap orang yang dititipi itu ?”. Mendengar itu, lalu Abu Thalhahpun menjawab :Tentunya orang yang dititipi itu harus rela atas titipan itu untuk diambil yang punya”.  Lalu Ummu Salim  mengatakan bahwa putra kita telah meninggal dunia dan kini terbaring dengan tenang di kamar. Lalu Abu Thalhah menghampiri putranya yang sudah meninggal beberapa saat ,lalu mengucapkan innaalillaahi wainnaa ilaihi raaji’un. Lalu berdo’a mendo’akan putranya semoga Allah mengampuni dosa-dosanya, menerima amalnya, dan ditempatkan di sisiNya sesuai amal saleh dan ibadahnya.
Keesokan harinya. Abu Thalhah menghadap Rasulullah saw dan menceritakan apa yang dikatakan Ummu Salim (isterinya) kepadanya. Rasulullah saw menyatakan :”Demi Allah yang telah mengutusku dengan kebenaran. Allah telah menitipkan  seorang anak laki-laki ke Rahim Ummu Salim  atas kesabarannya”.
          Sungguh mengagumkan kesabaran Ummu Salim sebagai seorang isteri yang menyadari bahwa semua itu hanya titipan. Beliau memang pandai menjaga perasaan suami yang baru saja pulang bepergian jauh melaksanakan kewajiban sebagai seorang suami. Yakni beliau berniaga untuk mencukupi kebutuhan hidup.
(Lasa Hs)

Minggu, 16 Februari 2020

FIQH IBADAH


Judul             : Kuliah Fiqh Ibadah
Penulis         : Syakjir Jamaluddin
Penerbit       : Yogyakarta, LPPI UMY, 2019
ISBN             :  978 979 3708 17 1
Tebal            :  318 hlm
Agar umat Islam mampu melaksanakan ibadah (terutama ibadah mahdhah) dan amal saleh, diperlukan tuntunan yang jelas dan bersumber dari sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Dalam kaidah ibadah mahdhah  para fuqaha’ sepakat bahwa segala sesuatu dalam ibadah hukumnya terlarang, kecuali apabila ada dalil yang memerintahkannya. Sedangkan dalam mu’amalah disepakati bahwa segala sesuatu itu dibolehkan, kecuali apabila ada dalil yang melarangnya.
Buku yang ditulis dosen FAI UMY ini merupakan bahan ajar utama pada Mata Kuliah  Agama Islam 2 pada Perguruan Tinggi Muhammadiyah. Maka buku ini menyajikan pengantar ushul fiqh, ibadah mahdhah (thaharah, shalat, zakat, puasa, dan haji).
Dalam buku ini dijelaskan tentang pengertian fiqh dan syari’ah yang kadang-kadang kurang dipahami umum. Maka pengertian fiqh dalam buku ini adalah ilmu tentang hukum-hukum syar’I yang praktis yang diambil dari dalil-dalilnya yang terperinci. Sedangkan pengertian syari’ah adalah titah Allah yang berhubungan dengan perbuatan para mukallaf, baik berupa tuntutan (untuk melaksanakan atau meninggalkan), pilihan, maupun berupa wadh’I (syarat, sebab, halangan, sah, batal, dan rukhshah.
Buku ini merupakan edisi revisi (Nopember 2019) dari cetakan-cetakan sebelumnya (2010, 2011, 2013, 2014, 2015). Revisi atau tambahan itu antara lain tentang  niat haji/umrah, shalat sunat ihram, do’a sa’i, dan dalil-dalil pendukungnya.
Prof. Dr. H. Ynahar Ilyas, Lc., M.Ag (Allahu yarham) memberikan komentar dalam buku ini bahwa penulis buku ini menyajikan bahasan yang agak detail kontroversi di bidang fiqh, khususnya fiqh shalat dengan pendekatan kritik hadits. Sebuah pendekatan yang tidak banyak dilakukan oleh penulis buku lainnya.

(Lasa Hs)

Jumat, 14 Februari 2020

BIMBINGAN AKREDITASI PERPUSTAKAAN UNIMUS


Kebersamaan menjadi ciri khas perpustakaan PTMA dan di Muhammadiyah pada umumnya. Untuk lebih meningkatkan kebersamaan ditanamkan bahwa yang merasa kuat harus membantu yang lemah, dan yang merasa lemah tidak perlu sungkan-sungkan minta bantuan yang kuat. Toh kita ini sudara kandung. Demikian dikatakan Lasa Hs selaku ketua FPPTMA dalam mengawali bimbingan akreditasi di Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Semarang/UNIMUS tanggal 11 Februari 2020.
Perpustakaan UNIMUS akan mengajukan akreditasi perpustakaan PT insya Allah akhir Maret 2020 menggunakan anggaran APBN. Dengan adanya bimbingan, diharapkan perpustakaan mampu menyajikan data kegiatan dan data sarana prasarana untuk mencapai standar yang ditetapkan. Semoga Perpustakaan PTMA yang lain juga menyiapkan diri untuk mengajukan akreditasi.
(Lasa Hs)

MOTIVASI dan PRESTASI : Tulisan - 2



Pada masa pemerintahan ’Umar bin Khathab r.a. terjadi peperangan antara umat Islam melawan orang kafir Persia. Pada saat itu khalifah ’Umar bin Khathab berhasil mengumpulkan 14.000 pasukan sabilillah. Peristiwa yang terjadi pada tahun ke 14 Hijriyah itu juga diikuti oleh Khansa’ bin Amran dan keempat anak-anaknya yang semuanya laki-laki. Khansa’ adalah seorang janda dan penyair terkenal sehingga kata hariannya bernada syair dan berisi fatwa berharga.
Sebelum maju perang, Khansa’ memberikan motivasi dan semangat kepada keempat putra-putranya itu. Kata-kata itu artinya:”Wahai putra-putraku, kamu sekalian telah memilih Islam dengan ridha dan penuh kesadaran. Demi Allah yang tiada Tuhan selain Allah, sesungguhnya kamu sekalian adalah putra-putra dari seorang laki-laki dan wanita. Aku tidak pernah mengkhianati ayahmu. Aku tidak pernah menjelek-jelekkan saudaramu yang lain. Aku juga tiak pernah mengubah persahabatan kamu. Kamu sekalian telah mengerti pahala yang disediakan oleh Allah untuk kaum muslimin yang memerangi orang-orang kafir. Ketahuilah wahai putra-putraku bahwa kampung yang kekal itu lebih baik daripada kampung yang fana”. Kemudian Khansa’ menyitir ayat Al Quran yang artinya :”Wahai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertaqwalah kepada Allah supaya kamu beruntng”. (Q.S. Ali ImranL 200)
          Sejenak, Khansa’ terdiam lalu melanjutkan nasehatnya.:” Kalau kalian bangun esok pagi dalam keadaan selamat, maka keluarlah untuk berperang melawan musuh-musuh Allah. Gunakan semua pengalamanmu dan mohonlah pertolongan kepada Allah. Apabila kalian melihat api peperangan semakin berkobar, maka masuklah ke tengah-tengah kobaran perang itu. Raihlah puncak kobaran perang itu, semoga kalian mendapatkan kejayaan dan balasan yang terbaik di kampung yang abadi kelak”.
Mendengar nasihat ibunya yang bijak itu, keempat anak itu melangkahkan kaki dengan mantap maju ke medan perang. Di tengah-tengah kecamuknya peperangan itu, keempat bersaudara itu saling memotivasi dalam memperjuangkan kalimat-kalimat Allah. Mereka bertambah semangat ketika melihat pedang mengkilat. Tekad merekapun semakin kuat ketika melihat darah muncrat. Merekapun menggebu-gebu ketika melihat mayat-mayat terkapar beku membisu.
Setelah perang usai, orang-orang kafir Persia menderita kekalahan dan umat Islam mendapat kemenangan yang gemilang. Kemudian dilakukan pendataan para syuhada’ yang gugur di medan perang itu. Dari pendataan ini diketahui bahwa keempat putra Khansa’ gugur di medan perang sabilillah itu. Begitu mendengar kabar tentang putra-putranya gugur di medan perang itu, Khansa’ tetap tenang. Beliau berdo’a :”Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku dengan mensyahidkan putra-putraku. Aku berharap dari Tuhanku agar Dia mengumpulkan aku dan mereka di tempat tinggal yang abadi dengan rahmatNYa”. Dari peristiwa ini kemudian penyair ini lebih dikenal dengan sebutan Khansa’ binti Amru Ummu Syahid.
Orang-orang yang bermotivasi tinggi adan maju selangkah bahkan beberapa langkah dari orang lain. Mereka biasanya memiliki ciri khas seperti ambisius, kerja keras, kreatif, berani bersaing, tekun dalam peningkatan kedudukan sosial, dan menghargai produktivitas. Mereka adalah pemberani. Pemberani selalu siap menghadapi kegagalan dan siap menang.
Orang-orang yang berprestasi selalu berusaha untuk mencari keunggulan meskipun keunggulan itu diri sendiri. Mereka yang memiliki dorongan berprestasi ini biasanya memiliki kecakapan-kecakapan :
a.     Berorientasi pada produk dan bukan sekedar mengejar status;
b.    Menyukai tantangan danberani mengambil resiko;
c.     Memanfaatkan informasi dalam pengambilan keputusan
d.     Terus berusaha untuk meningkatkan kinerja.
Sebaliknya, orang-orang yang achievement  motivasinya rendah, maka orang semacam inibiasanya kurang menghargai produktivitas, kurang kreatif, apatis, lesu darah, dan tidak punya tujuan yang jelas. Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa penakut itu mati seribu kali, tetapi pemberani hanya mati sekali. Penakut, sebelum mati beneran, pada hakikatnya sudah mati nyalinya karena tidak berani berbuat sesuatu. Akhirnya ide dan pikirannya terkubur bersama ketakutannya. Dengan demikian dapat diibaratkan bahwa penakut itu mati (kalah) sebelum perang. Padahal hal mati (kalah) setelah berperang (berlomba, bersaing, kompetisi) lebih terhormat daripada mati sebelum berkompetisi. Penakut adalah orang yang gagal dan selalu menerima menjadi orang yang kalah pasrah sebagai warga yang terpinggirkan.
(Habis)

Lasa Hs.


MOTIVASI dan PRESTASI : Tulisan – 1




Motivasi sangat diperlukan dalam kehidupan manusia. Dengan motivasi tinggi, orang akan bergairah dalam hidup dan kehidupan mereka. Sebaliknya, orang yang motivasinya rendah, maka seolah-olah hidup ini kurang menggairahkan.    
Orang-orang yang memiliki motivasi tinggi ingin selalu berprestasi. Mereka memacu dirinya sendiri untuk berkompetisi, berusaha menjadi yang terdepan, menjadi yang pertama dalam bidang tertentu. Upaya pencapaian ini disebut dengan achievement motivation atau need for achievement.
          Motif berprestasi ini merupakan dorongan untuk menyelesaikan kesukaran dan berusaha untuk melebihi prestasi orang lain. Oleh karena itu motif beprestasi ini dapat dipahami sebagai motif yang mendorong individu untuk mencapai kesuksesan. Kesuksesan tidak harus diukur dengan prestasi orang lain, tetapi bisa juga diukur dengan prestasi sendiri sebagai ukuran keunggulan (standard of excelence).
          Disamping itu, dengan motivasi tinggi orang akan terdorong untuk memiliki keberanian meskipun tadinya takut. Sekedar contoh adalah pada masa Nabi Muhammad saw terjadi Perang Badr. Pada saat itu umat Islam mendapat kemenangan melawan orang kafir. Padahal saat itu jumlah pasukan muslim hanya sekitar 300 orang. Sedangkan pasukan kafir terdiri dari sekitar 1.000 orang. Berkat pertolongan Allah dan motivasi perang tinggi (membela agama Allah) perang tersebut dimenangkan umat Islam.
Sebaliknya dalam perang Uhud, umat Islam menderita kekalahan. Hal ini disebabkan karena sebagian kelompok orang Islam tidak mengindahkan perintah Rasulullah saw dan motivasi mereka berperang karena mencari materi, bukan untuk Allah.  Dalam perang Uhud ini gugurlah Hamzah (paman Rasulullah saw) dan beberapa sahabat dan dimakamkan di Gunung (Jabal) Uhud.Makam ini disebut makam Syuhada’ Uhud. Makam dan medan Uhud sampai kini menjadi tempat ziarah para jama’ah haji dan umrah.
Bersambung

Lasa Hs

Kamis, 13 Februari 2020

KITA INI SEDANG ”PENTAS”



                 
Firman Allah swt yang artinya :” Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan, sesuatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megahan antara kamu sekalian, dan berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, ibarat hujan yang bisa menumbuhkan tanaman-tanaman yang mengagumkan para petani. Kemudian tanaman itu menjadi kering lalu hancur. Dan (ingat) bahwa di akhirat (nanti) ada azab yang hebat dan ada juga ampunan dari Allah serta ridhaNYa, Ingat pula bahwa kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan yang sering mmenjerumuskan”. (Q.S. Al Hadid: 20).
          Kehidupan dunia memang mengasyikkan dan menyenangkan . Apalagi apabila seseorang mampu menduduki posisi yang menyenangkan. Dikira hidup ini hanya di dunia ini saja.Soal akhirat hanya dongeng belaka bagi mereka. Maka waktu dan kesenangannya dihabis-habiskan di dunia ini.
Mereka tidak menyadari bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sandiwara/permainnan. Masing-masing kita memainkan peran  suatu lakon dalam sandiwara di suatu pentas.  Kita ini sebenarnya sedang ”pentas”. Yakni pentas di panggung dunia sesuai peran masing-masing saat ini. Ada yang berperan sebagai gubenrur, bupatai, dosen, peneliti, penyanyi, petani, dan lainnya.
          Untuk itu perlu disadari bahwa berakting itu ada durasinya, ada waktunya. Apabila permainan selesai, maka kita harus turun panggung dan tidak pentas lagi. Kini diantara kita ada yang sedang berperan sebagai  pemimpin yang sedang main dan ada penontonnya, Nanti pada saatnya harus turun lantaran habis masa jabatannya, pensiun, atau bahkan bisa diturunkan oleh pengikutnya (rakyat, bawahan, kelompok). Kemudian peran itu digantikan oleh pemain lain. Kemudian mantan atau pemain itu gantian menjadi penonton. Pergantian peran ini bisa saja berlangsung lebih cepat dari durasi yang ditentukan. Sebab  sang pemainn tidak bisa berakting sesuai peran yang ditentukan oleh sutradara.
Kehidupan dunia tidak lebih dari permainan sepak bola, pingpong, bulu tangkis apabila tidak bisa meyikapinya. Akan tetapi apabila benar dalam menyikapinya, maka kehidupan dunia ini menjadi investasi di akhirat (mazra’atul akhirah) berabad lamanya.
Berangkat dari keadaan inilah, maka kita perlu hati-hatu dan syukur memiliki sikap zuhud terhadap kehidupan dunia ini.

(Lasa Hs)                


Kunjungan Pustakawan UM Magelang ke Perpustakaan UMY

Salah satu indikator kualitas sebuah perpustakaan dapat dilihat dari akreditasinya. Akreditasi tersebut dinilai dari enam komponen, yaitu :
  1. Koleksi
  2. Sarana dan Prasarana
  3. Pelayanan Perpustakaan
  4. Tenaga Perpustakaan
  5. Penyelenggaraan dan Pengelolaan
  6. Komponen Penguat
Kaitannya dengan hal tersebut, mulai tahun 2015 Perpustakaan UMY sudah terakreditasi A, kemudian di tahun 2020 telah mengajukan reakeditasi yang alhamdulillah hasilnya juga A. Lasa Hs. selaku kepala Perpustakaan UMY menekankan kepada masing-masing penanggung jawab borang akreditasi untuk bisa membimbing pustakawan-pustakawan lain yang akan mengajukan akreditasi perpustakaan. Harapannya Perpustakaan mereka juga bisa memperoleh akreditasi A.
Salah satu perpustakaan yang akan mengajukan akreditasi perpustakaan yaitu Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Magelang. Hari ini, 13 Februari 2020 Kepala perpustakaan dan Pustakawan UM Magelang hadir di Perpustakaan UMY untuk belajar bareng terkait bagaimana menyusun broang akreditasi. Borang yang dipelajari hari ini yaitu komponen Sarada dan Prasarana, tenaga perpustakaan, dan penyelenggaraan dan pengelolaan.

Rabu, 12 Februari 2020

OJO LALI MULIH (Jangan Lupa untuk Pulang)




Orang – orang yang kurang yakin adanya akhirat kadang berpendapat bahwa hidup di dunia ini adalah segalanya. Mereka tak percaya bahwa di balik kehidupan dunia ini nanti masih ada kehidupan lagi. Sukses tidaknya kehidupan seseorang kadang diukur dalam kehidupan yang sesaat ini. Keberhasilan seseorang sering diukur dengan pencapaian sesuatu yang dapat dilihat dengan mata kepala seperti banyak hartanya, tingginya kedudukan/jabatan/pangkat, gelar akademik, pendidikan anak-anak dan lainnya. Dengan pengejaran kesuksesan seperti ini, tidak sedikit orang yang menempuh jalan pintas. Mereka tak segan-segan dan tidak malu melanggar norma, etika, dan peraturan pemerintah, bahkan larangan agama. Mereka tidak malu melakukan  korupsi, plagiasi, kebohongan publik. Bahkan sudah pakai seragam tahanan saja masih merasa bangga.  Dengan perilaku ini berarti mereka seolah-olah tidak meyakini adanya pengadilan akhirat. Seolah-olah semua itu berakhir di dunia ini.
Dalam hidup ini, banyak orang yang lalai bahwa apa yang mereka kejar siang malam itu hanya bernilai sementara. Dalam pengejaran ini kadang mereka terdorong oleh hawa nafsu dan terjerumus pada pemikiran sesaat dan perilaku yang memalukan. Saat-saat yang singkat di dunia ini akhirnya dihabiskan untuk menebus akibat penurutan hawa nafsu. Kadang mereka menghabiskan sisa umurnya hidup di penjara.
Hidup sekarang ini, manusia hanya menanti kedatangan petugs yang akan menjemput manusia untuk pulang. Kampung halaman manusia yang sebenarnya bukan di dunia ini. Disini hanya terminal dan mampir saja. Manusia akan diberi kehidupan yang lebih abadi, jauh dari anak, isteri, dan  tetangga. Cuma kapan datangnya jemputan itu, manusia tidak tau. Maka perlu kita renungkan nasihat nenek moyang kita dalam bahasa Jawa :”Wong sing ciloko iku yen lali mulih. Sangune dudu rojo brono, ananging manembah mring kang Kuwoso lan laku utomo. (orang yang celaka adalah mereka yang tidak menghiraukan lagi bahwa dirinya akan pulang ke Ramhatullah. Bekalnya adalah ibadah kepada Allah swt dan amal saleh).
Hidup memang sebuah pilihan. Di dunia yang fatamorganis ini orang bebas menentukan untuk menjadi apa, menjadi siapa, dan bagaimana langkah-langkah yang akan dilakukan. Cuma apa yang dikerjakan selama ini di panggung dunia ini harus dipertanggungjawabkan terutama setelah kehidupan yang sementara ini.                 

(Lasa Hs)

Fikih Kebinekaan

Judul Buku : Fikih Kebinekaan
Pengarang : Ahamad Syafii Ma`arif,dkk. 
Penerbit : Maarif Institut dan Mizan


Fikih Kebinekaan adalah sebuah rumusan fikih yang berpijak pada fenomena keragaman di masyarakat. Tujuannya adalah untuk memberikan panduan filosofis, teoretis-metodologis, dan praktis kalangan umat Islam Indonesia dalam mendorong hubungan sosial yang harmonis, menghilangkan diskriminasi, memperkuat demokratisasi, dan memberikan landasan normatif-religius bagi negara dalam memenuhi hak-hak warga masyarakat secara berkeadilan.

Pembahasan Fikih Kebinekaan dilandaskan pada aspek metodologis, yaitu merekonstruksi model pembacaan terhadap doktrin-doktrin kunci agama yang termaktub dalam kitab suci. Fikih Kebinekaan mensyaratkan proses pembacaan secara kritis-kontekstual-historis terhadap literatur keagamaan dengan mempertimbangkan konteks sosial yang senantiasa berkembang secara dinamis. Model pembacaan tersebut dilakukan dengan menekankan pada makna yang sesuai dengan tujuan hukum Islam (maqâshid al-syar'ah) untuk mencapai kemaslahatan umum (al maslahah al-'ammah).

Buku ini membahas tiga topik utama yang menjadi isu penting dalam kajian fikih mu'âmalah (hubungan sosial) dan fikih siyâsah (polit Kontemporer, yaitu konsep umat yang lebih terbuka dan egalitik hubungan sosial antar umat beragama dalam relasi setara tandiskriminasi, dan kepemimpinan non-muslim dalam masyarakat yang majemuk.

Minggu, 09 Februari 2020

Update Data Website, Katalog Online, Repository, dan Jurnal PTMA

Sampai dengan saat ini Muhammadiyah telah mempunyai lebih dari 160 Perguruan Tinggi, namun sejauh ini hanya sekitar 50% website Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah `Aisyiyah yang tergabung dalam jaringan onesearch.fpptma.or.id. Untuk menambah jaringan tersebut, dimohon masing - masing perpustakaan untuk mengisi form di bawah ini


MENULIS ITU MERUBAH


     

Menulis merupakan kegiatan yang memiliki nilai luar biasa dalam kehidupan mausia. Sebab tulisan itu mampu mendokumentasikan dan menyebarkan ide, gagasan, renungan, dan penemuan seseorang dalam berabad lamanya. Kekuasaan sebuah buku sering melampaui umur penulisnya itu sendiri.
Tulisan mampu memengaruhi dan merubah sikap masyarakat meskipun perlu waktu. Rasulullah saw mampu melakukan perubahan terhadap tatanan kehidupan manusia berabad-abad lamanya karena ajaran-ajaran Ilahiyah yang termaktub dalam Al-Quran dan Hadist. Karl Mark mampu mengubah Rusia melalui Das Capital, dan Sun Yat Sen mampu menggerakkan Revolusi Cina berkat buku San Min Chu I. Iman al-Ghzali (lahir di Thus Iran pada tahun 1058 M) mampu menggugah kesadaran umat Islam untuk beribadah dan berilmu melalui bukunya Ihya’ Ulumuddin (Menghidupkan Ilmu-ILmu Agama), Minhajul ‘Abidin (Jalan Bagi Para Ahli Ibadah), Maqashidul Falasifah (Maksud Ahli-Ahli Filsafat), dan Tahafutul Falasifah (Kekacauan Ahli-ahli Filsafat). Demikian pula dengan Muhammad Rasyid Ridha yang mampu membuka mata hati umat Islam terhadap kebekuan berpikir berkat tulisan-tulisan beliau yang dimuat berkesinambungan dalam majalah Al Manar.  
            Buku berjudul The Diary of a Young Girl  karya Annelies Marie Frank (lahir 12 Juni 1929) mampu membuka mata dunia tentang kekejaman Nazi. Buku  ini semula berisi catatan harian seorang gadis biasa. Catatan harian ini ditulis sejak tanggal 20 Juni 1942 sampai 1 Agustus 1944. Anne Frank dan keluarga akan ditangkap tentara Jerman yang menduduki Belanda Juli 1942. Keluarga ini bersembunyi di sebuah tempat yang pintunya ditutup dengan rak buku. Di masa persembunyiannya inilah Annelies Marie Frak menulis buku tersebut.  
Pada 4 Agustus 1944, tempat persembunyian itu diserbu pasukan Nazi. Keluarga AnneliesFrank ditangkap dan dipenjara sebagai tahanan politik. Pada tahun 1945 , Anne Frank meninggal di kamp konsentrasi karena penyakit dan beban kerja yang berat.
Beberapa hari kemudian, catatan harian Anne ini ditemukan Mien Gies seseorang yang membantu keluarga Anne. Catatan ini berceceran di tempat persembunyian lalu dihimpun, disusun menjadi buku yang kini telah diterjemahkan ke 70 bahasa dunia. 
            Galileo (1564 – 1642) ilmuwan yang tulisannya pernah menggemparkan masyarakat Eropa dikenal sebagai penulis metode eksperimental. Lulusan Fakultas Kedokteran Universitas Pisa ini sempat mengamati ayunan lampu gantung yang terdapat di sebuah katedral. Ia menghitung waktu ayunan lampu tersebut dengan denyut nadinya.Ilmuwan ini berani mengadakan pembaharuan melalui buku-bukunya antara lain: Dialog tentang Dua Sistem Besar Dunia Menurut Ptollomeus dan Corpenicus (1529 – 1632). Terbitnya buku ini ternyata mendapat sambutan luar biasa dari masyarakat Eropa. Buku ini dianggap sebagai mahakarya dalam bidang kesusasteraan dan filsafat. Di satu pihak, buku ini mendapat tentangan keras karena Galileo dianggap menghimpun dan mengadakan pembelaan terhadap ajaran Copernicus. Gara-gara buku tersebut, beliau diganjar hukuman sampai meninggal pada tahun 1642 M. Meskipun saat itu ia berstatus tahanan rumah, namun Galileo sempat menyelesaikan penulisan buku-bukunya. Pengamatan terakhir yang dilakukannya pada tahun 1637 M (beberapa bulan sebelum buta) adalah pengamatan terhadap benda-benda angkasa melalui teleskop tentang waktu, kemunculan bulan setiap hari, dan pergeseran letaknya setiap bulan.
            Jaman selalu berubah dan berkembang seirama dengan perubahan dan kebutuhan manusia. Gereja Katolik pada tahun 1980 (kepemimpinan Paus  Yohannes   Paulus II) secara resmi mengakui bahwa tindakan gereja itu salah (Ensikopedi Nasional Indonesia, 1992, jilid 6).
(Lasa Hs)


PENULIS ITU PENGONTROL


                                 

Penulis adalah sosok manusia yang memiliki kepekaan dan sikap kritis terhadap fenomena sosial, ekonomi, ilmu pengetahuan, budaya, politik, dan pendidikan. Mereka peka dan bersikap kritis terhadap “teks kehidupan” baik yang tersurat maupun yang tersirat. Dengan nuraninya, penulis cepat bereaksi untuk menilai dan mengontrol fenomena tersebut. Mereka bicara melalui tulisan yang seolah-olah gelisah dan resah melihat fenomena itu. Karya-karya mereka dapat dijadikan sebagai media control terhadap fenomena yang terjadi saat itu.
          Dalam bidang budaya dapat dibaca buku Slilit Kiyai (Emha ‘Ainun Najib), Robohnya Surau Kami (A.A.Navis), Siti Nurbaya  (Marah Rusli) dan lainnya. Di bidang politik dapat disimak buku-buku Siapa Manabur Angin Menuai Badai, Politik Dasamuka, Indonesia Menggugat, Sarinah, Melangkah Dipaksa Sejarah dan lainnya. Tidak sedikit diantara penulis-penulis itu mampu melahirkan karya besar dari hasil renungan, kepekaan, dan penghayatan yang dalam. Bahkan penulis itu sering terlibat langsung dalam fenomena penderitaan budaya, ekonomi, sosial, dan politik.
Karl Marx menulis buku Das Capital ketika ia hidup miskin, menderita, dan kaum buruh dieksploitasi kaum borjuis. Tan Malaka menulis buku Mandilog  ketika ia dihimpit kemiskinan dan sakit parah. Shiyali Ramamrita Ranganathan, seorang pustakawan India yang menemukan Lima Hukum Ilmu Perpustakaan (Five Laws of Librar Sciences) itu menulis karya kepustakawanan dalam keadaan sakit lumpuh.
Demikian halnya dengan Prof. Dr. HAMKA, ulama besar, budayawan terkenal itu menyelesaikan penulisan Tafsir Al Azhar (30 juz) ketika beliau berada dalam tahanan pemerintahan Bung Karno. Tahanan penjara itu dengan tuduhan, bahwa Buya Hamka akan melakukan kegiatan subversi terhadap pemerintahan. Ternyata tuduhan itu tidak dapat dibuktikan. Hidup di penjara selama dua setengah tahun itu ternyata memberikan hikmah mampu menulis buku. Tetapi yang di luar penjara atau tidak dipenjara ternyata  tidak mampu/mau  menulis buku.
Tentang tafsir ini, Prof. Dr. James Rush (guru besar sejarah Universitas Yale) berkomentar :”Studi dari tulisan Hamka tentang kepercayaan dan pengetahuannya yang mendalam tercermin secara dramatis dalam keberhasilannya meyusun tafsir yang lengkap. Untuk masyarakat Indonesia yang sedang berkembang, ia merupakan tiang penyangga. Ia mengharapkan masyarakat Indonesia menjadi masyarakat Islam, masyarakat yang aman, damai, dan modern sebagaimana diungkapkan dalam bukunya Di Bawah Lindungan Ka’bah.
(Lasa Hs)