Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

MOMEN

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Minggu, 25 Oktober 2020

Antara Kedai Kopi dan Perpustakaan : Tulisan – 2

 

                                                      Oleh

                                          Muhammad Jubaidi

                                             Pustakawan UMY

 

        Sebagai lembaga nonprofit, perpustakaan tidak perlu mengukur untung rugi dari suatu inovasi. Dengan inovasi baru seperti memasukkan unsur kuliner ke perpustakan merupakan langkah yang mampu menarik pemustaka. Dengan langkah ini ternyata mampu menyedot pemustaka untuk melakukan berbagai aktivitas di perpustakaan. Melalui penataan ruang perpustakaan sebagai ruang publik ternyata mampu menyedot masyarakat untuk beraktivitas di perpustakaan.

       Sekedar contoh adalah apa yang dilakukan Perpustakaan UMY. Perpustakan UMY telah melakukan  penataan ruang yang milenial banget, dengan kuliner masuk perpustakaan. Langkah ini  ternyata membuat  para mahasiswa merasa betah dan berlama-lama beraktivitas di ruang perpustakaan.  Karena memang ruangnya bersih, terang, ber AC, kursi warna warni, dan tersedia kopi. Di ruang publik ini, para dosen bisa menerima tamu, diskusi dengan mahasiswa, mahasiswa bisa ujian online, belajar di bilik mandiri, berdiskusi kelompok, belajar sambil ngopi, bahkan tidak sedikit mahasiswa yang melakukan shooting di ruang Muhammadiyah Corner.

          Dengan penataan ruang melinial ini, warga kampus merasa bangga. Tak heran bila pada saat visitasi (fisik) akreditasi prodi, asesor dibujuk-bujuk untuk bisa berkunjung ke perpustakaan.

          Dulu memang dalam akreditasi, perpustakaan seolah-olah sebagai pelengkap. Namun dengan perubahan penampilan dan layanan, kini perpustakaan menjadi kebanggaan warga kampus.  

        Dari pengalaman mengkolaborasikan kedai kopi dengan perpustakaan ini, maka dalam layanan perpustakaan perlu inovasi dengan memperhatikan dan mengakomodir keinginan masyarakat pemustakanya.

       Kedai kopi di perpustakaan merupakan daya pikat tersendiri. Konsep ini memberikan fasilitas untuk tidak sekedar minum kopi, tetapi penikmat kopi itu bisa menikmati kopi sambil belajar, diskusi, ngobrol ngalor ngidul, dan lainnya. Maka untuk lebih menarik sebaiknya di ruang itu juga disediakan fasilitas acccess free wifi  yang kenceng.

          Paradigma lama bahwa di perpustakaan tida boleh makan, tidak boleh minum, tidak boleh berisik, kumuh, pustakawan galak, dan lainnya perlu ditinjau kembali.

          Kekhawatiran sisa makanan di ruang perpustakaan untuk mendatangkan tikus tidak perlu menugaskan dokter hewan di perpustakaan. Keraguan makanan yang dibawa pemustaka di perpustakaan  bergizi atau tidak, kiranya tidak perlu menugaskan ahli gizi di perpustakaan. Kekhawatiran kehilangan buku yang mengakibatkan kerugian, kiranya tidak perlu menugaskan doktor ekonomi bertugas di perpustakaan.

          Untuk merubah paradigma perpustakaan semestinya kita berpikir realistis, profesional, dan proporsional berkemajuan.

 

                                      -------------------

Dar al ‘Ahdi wa Al Syahadah : Tulisan -1


Muhammadiyah memandang bahwa Negara Kesatuan Republik Indonesia/NKRI  yang diproklamirkan 17 Agustus 1945 adalah Negara Pancasila yang ditegakkan di atas falsafah kebangsaan yang luhur dan sejalan dengan ajaran Islam. Sila Ketuhanan Yang Maha Esa, Kemanusiaan yang adil dan beradab, Persatuan Indonesia, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan , Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia secara resmi selaras dengan nilai-nilai Islam.

            Negara Pancasila yang mengandung jiwa, pikiran, dan cita-cita luhur sebagaimana termaktub dalam Pembukaan UUD 1945 itu dapat diaktualisasikan sebagai baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur  yang berperikehidupan maju, adil, makmur, bermartabat, dan berdaulat dalam naungan ridha Allah SWT.

            Bahwa Negara Pancasila merupakan hasil konsensus nasional (dar al ‘ahdi) dan tempat pembuktian dan kesaksian (dar al syahadah) untuk menjadi negeri yang aman dan damai (dar al salam). Negara ideal yang dicita-citakan Islam adalah Negara yang diberkahi Allah, karena penduduknya beriman dan bertaqwa (Q.S. Al-A’raf: 96), beribadah dan memakmurkannya (Q.S. Al-DzARIYAT: 56); Hud; 61), menjalankan fungsi kekhalifahan (Q.S. Al-Baqarah: 11, 30), memiliki relasi hubungan dengan Allah (hablun min Allah) dan dengan sesama manusia (hablun min al-nas) yang harmonis (Q.S. Ali Imran: 112), mengembangkan pergaulan antarkomponen yang setara dan berkualitas taqwa (Q.S. Al Hujurat: 13) serta menjadi bangsa unggulan, bermartabat (khaira ummah) Q.S. Ali Imran: 110).

            Pancasila sebagai dasar Negara Republik Indonesia adalah ideologi Negara yang mengikat seluruh rakyat dan komponen bangsa. Pancasila bukan agama, tetapi substansinya mengandung dan sejalan dengan nilai-nilai ajaran Islam. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa Pancasila itu Islami, karena substansi pada setiap silanya selaras dengan nilai-nilai ajaran Islam.

            Dalam Pancasila terkandung ciri keislaman dan keindonesiaan yang memadukan nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan (humanism religious) , hubungan individu dan masyarakat, kerakyatan dan permusyawaratan, serta keadilan dan kemakmuran. Melalui proses integrasi keislaman dan keindonesiaan yang positif itu, umat  Islam Indonesia sebagai kekuatan mayoritas dapat menjadi teladan yang baik (uswah hasanah) dalam mewujudkan cita-cita nasional yang sejalan dengan idealism baldatun thoyyibatun wa rabbun ghafur.

 

Bersambung

 

 

 

PRESTASI PUSTAKAWAN PTMA 2020

 PRESTASI PUSTAKAWAN PTMA 2020

Tahun 2020 kepustakawanan PTMA meraih prestasi dalam ajang Pemilihan Pustakawan Berprestasi Nasional yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional RI dengan kategori sebagai berikut:

  1. Atin Istiarni Pustakawan Universitas Muhammadiyah Magelang Juara II
  2. Meri Susanti Pustakawan Universitas Muhammadiyah Bengkulu Juara Harapan I
  3. Dwi Cahyo Prasetyo Pustakawan Universitas Muhammadiyah Pontianak Nominasi Pustakawan Terinspirasi.

Sabtu, 17 Oktober 2020

Oh Corona

 



 

Judul                  :  Menghadang Corona; Advokasi Publik di Masa Pandemik

Penulis               : Saleh Partaonan Daulay

Editor                  : M. Fathra Nazrul Islam

Penerbit              : Yogyakarta: Litera, Juni 2020

ISBN                   : 978 623 7864 06 – 6

Tebal                   :  182 hlm

 

Kehadiran Corona menggusarkan banyak pihak dan tidak diketahui kapan berakhir. Pemerintah dan elemen masyarakat telah berusaha melakukan serangkaian usaha untuk mencegah penyakit  yang datang tak diundang itu.

            Virus jenis baru ini muncul pertama kali di Wuhan RRT bulan Desember 2019. Penyakit ini kemudian cepat menyebar ke lebih dari 160 negara dunia hanya dalam waktu yang kurang dari 3 bulan. Penyebaran virus ini seolah-olah tak terbendung lagi. Dari hari ke hari angka persebaran Corona semakin naik. Sementara itu suhu politik semakin naik dan isu hoaks pun  mulai merebak.

             Buku ini merupakan kumpulan pemikiran dari penulisnya yang juga anggta DPR RI sebagai kontribusinya kepada Pemerintah dan masyarakat. Kerjasama antara pemerintah dan masyarakat sangat diperlukan untuk menciptakan keselamatan , ketenangan, dan kesehatan bangsa.

             Kumpulam esai ini menyajikan berbagai ulasan sejak munculnya Corona di Cina, menteri yang positif Corona, pengurangan anggaran pemerintah dan lembaga untuk mengatasi Corona, polemik  data pasien, tumpang tindihnya regulasi, pengusiran perawat, kacamata Najwa Shihab, Pak Mahfud  kurang bijak,  gelombang PHK, sampai New Normal. .

Untuk menanggulangi virus yang mengglobal itu tersebar berita bahwa Pemerintah akan memproduksi vaksin melalui kerjasama lembaga kesehatan luar negeri. Menanggapi penyediaan virus ini, penulis yang juga Wakil Ketua Mahkamah Kehormatan Dewan dan aktivis Muhammadiyah  itu menyatakan bahwa kita perlu hati-hati. Sebab vaksin adalah benda luar yang disuntikkan ke dalam tubuh. Jika ada unsur yang berbahaya di dalamnya, bisa saja itu akan membawa dampak yang tidak ringan. Mungkin tidak langsung dirasakan, tetapi beberapa tahun atau setelah puluhan tahun berikutnya (hlm: 158).  

            Buku ini merupakan pemikiran kritis dan menyampaikan solusi afirmatif yang bisa membantu pengambil kebijakan Pemerintah dalam mengatasi pandemic  global ini.

Buku ini memang tidak disusun sebagai layaknya buku teks. Buku ini merupakan kumpulan pemikiran yang ditulis dalam bentuk esai lepas yang berupa opini. Dengan demikian tidak disebutkan teori maupun literatur sebagai acuannya.

 

Lasa Hs. 

Kamis, 15 Oktober 2020

5 Pustakawan PTMA Maju ke Tingkat Nasional

 5 Pustakawan PTMA Maju ke Tingkat Nasional

 

Alhamdulilah, tahun 2020 ini kepustakawanan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah/PTMA mencatat sejarah baru. Tahun ini, insyaa Allah ada 5 (lima) pustakawan PTMA mengikuti Pemilihan Pustakawan Berprestasi yang diselenggarakan Perpustakaan Nasional RI/PNRI. Mereka itu telah lolos seleksi di masing-masing provinsi, sehingga dalam hal ini mereka merupakan pustakawan terbaik  masing-masing provinsi. Pustakawan PTMA yang mewakili provinsi masing-masing adalah:

  1. Atin Istiarni, M.IP (UM Magelang/UNIMMA) mewakili Provinsi Jawa Tengah
  2. Dwi Cahyo Prasetyo, M.A (UM Pontianak/UMP) mewakili Provinsi Kalimantan Barat
  3. Meri Susanti, S.I.Pust., M.M. (UM Bengkulu/UMB) mewakili Provinsi Bengkulu
  4. Isva A. Khairi, S.Sos (UM Sumatera Utara/UMSU) mewakili Provinsi Sumatera Utara
  5. Ratih H/ Sa’adah, S.Sos (UM Metero) mewakili Provinsi Lampung

Mereka akan mengikuti serangkaian pemilihan Pustakawan Berprestasi secara daring mulai tanggal 18 Oktober s/d 24 Oktober 2020.

Semoga membawa kemajuan kepustakawanan PTMA dan memotivasi yang lain.

 

Lasa Hs.

Rabu, 14 Oktober 2020

MUSIBAH KADANG MEMBAWA HIKMAH

 

 

Judul               : New Normal Innovations; Adaptasi Perpustakaan PTMA

Editor              : Lasa Hs., Nuryatman; Arda Putri Winata

Penerbit           : Yogyakarta: Gramasurya & MPI PP.Muhammadiyah, Oktober 2020

Tebal               : 183 hlm

ISBN               : 978 623 7993 15 – 5

 

Kehadiran musibah kadang membuat resah. Namun di balik itu, musibah kadang mengandung hikmah. Hal ini tergantung bagaimana kita menyikapinya. Dalam hal ini. Covid-19 telah merubah berbagai aspek kehidupan manusia , menunda perencanaan, dan bisa menumbuhkan inovasi baru.

Era adaptasi kebiasan baru (new normal ) telah menumbuhkan kreativitas dan inovasi baru. Maka merebaklah webinar pembahasan kepustakawaan akhir-akhir ini. Mungkin sekali hasil webinar itu tidak terdokumentasikan sehingga begitu selesai webinar, lenyaplah sudah  informasi itu.

Pustakawan yang tergabung dalam Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah- ‘Aisyiyah /FPPTMA berinisiatif dan kompak menuliskan pengalaman dan pemikiran mereka tentang pengelolaan dan pelayanan perpustakaan di era Pandemi ini. Langkah ini merupakan kemajuan dalam pengelolaan perpustakaan PTMA. Perpustakaan merupakan pilar teramat penting bagi eksistensi dan kemajuan perguruan tinggi kata Prof. H. Lincolin Arsyad, M.Sc., Ph.D selaku Ketua Majelis Diktilitbang PP Muhammadiyah dalam kata pengantarnya. Dikatakannya bahwa kualitas perpustakaan PTMA yang berjumlah 163 (per September 2020) ini mungkin masih jauh dari perpustakaan kelas dunia. Namun kita tidak boleh berhenti berusaha karena konteks Indonesia juga masih jauh tertinggal dari Pendidikan Tinggi di luar negeri yang memang usianya sudah ratusan tahun.

       Namun demikian, diakui oleh Prof. Dr.H. Abdul Mu’ti,M.Ed selaku Sekretaris Umum PP. Muhammadiyah bahwa  kini telah ada beberapa Perpustakaan PTMA yang mulai menggeliat dan bergiat melakukan inovasi untuk menjadikan perpustakaan sebagai pusat keunggulan. Buku ini menjelaskan bagaimana semangat dan geliat itu.

Sementara itu Dr. Ir. Sukamta, MT., IPM selaku Wakil Rektor Bidang Akademi UMY dan sekaligus sebagai Ketua Satgas Covid-19 UMY menjelaskan bahwa layanan Perpustakaan UMY telah diselenggarakan sesuai Protokol Kesehatan/PROKES yang telah ditentukan. Pelayanan perpustakaan sesuai PROKES tersebut untuk memberikan kenyamanan, jaminan kesehatan dan keamanan bersama.

       Semoga buku yang ditulis oleh 15 (lima belas) pustakawan PTMA ini mampu memberikan wawasan , pengalaman, dan motivasi   kepada pengelola perpustakaan lain di era Pandemi ini.

Mudah-mudahan buku ini disusul dengan penerbitan buku berikutnya dengan tema yang inspiratif.

 

Lasa Hs.

 

Selasa, 13 Oktober 2020

Mengenal Ortonom Muhammadiyah

Organisasi otonom Muhammadiyah adalah organisasi yang di bawah naungan dan arahan Persyarikatan Muhammadiyah yang diberi hak, kewajiban, dan wewenang untuk mengatur rumah tangga sendiri. Organisasi ini bertugas untuk membina anggota Persyarikatan tertentu dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah. Beberapa contoh organisasi otonom (ortom) ini adalah; ’Aisyiyah, Pemuda Muhammadiyah, Nasyiyatul ’Aisyiyah/NA, Ikatan Pelajar Muhammadiyah/IPM, Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah/IMM, Tapak Suci Putra Muhammadiyah, dan Hizbul Wathan. 

1.’Aisyiyah

        ’Aisyiyah merupakan salah satu organisasi otonom wanita yang didirikan tanggal 19 Mei 1917 di Yogyakarta  dengan ketua pertama kali Ny. Walidah (Ny. Ahmad Dahlan). Saat ini,’Aisyiyah telah memiliki 33 Pimpinan Wilayah ’Aisyiyah (setingkat provinsi) , 370 Pimpinan Daerah  ’Aisyiyah (setingkat kebupaten), 2.332 Pimpinan Cabang ’Aisyiyah (setingkat kecamatan), dan 6.924 Pimpinan Ranting ’Aisyiyah (setingkat kelurahan). Selain itu, ’Aisyiyah juga mengembangkan amal usaha yang bergerak di berbagai bidang seperti; pendidikan, kesehatan, kesejahteraan sosial, ekonomi dan pemberdayaan masyarakat. Lembaga ini juga berkontribusi dalam literasi antara lain dengan penerbitan Suara ’Aisyiyah. Yakni majalah bulanan yang telah  terbit sejak tahun 1926 sampai kini. Majalah ini merupakan majalah wanita tertua  di Indonesia yang terbit sampai sekarang. Majalah ini berfungsi sebagai alat organisasi yang mensosialisasikan program-program ’Aisyiyah, menambah pengetahuan, dan penyadaran warga ’Aisyiyah akan peran perempuan dalam dunia domestik dan publik. 

2. Pemuda Muhammadiyah

    Berdirinya organisasi Pemuda Muhammadiyah ini berawal dari keberadaan Siswo Proyo Priyo  (SPP). Yakni suatu gerakan yang sejak awal oleh K.H.Ahmad Dahlan diharapkan dapat melakukan pembinaan para remaja/pemuda Islam. Perkembangan Siswo Proyo Priyo semakin pesat. Maka pada Kongres Muhammadiyah ke 21 di Makassar tahun 1932 diputuskan untuk mendirikan Muhammadiyah Bagian Pemuda. Organisasi ini merupakan bagian dari organisasi dalam Muhammadiyah yang secara khusus mendidik dan mengasuh para remaja dan pemuda keluarga Muhammadiyah. 

3. Nasyiatul ’Aisyiyah 

Nasyiatul ’Aisyiyah adalah organisasi remaja putri Muhammadiyah yang didirikan tanggal 16 Mei 1931 di Yogyakarta. Prinsip gerakan Nasyiatul ’Aisyiyah ini adalah bergerak dalam bidang keagamaan, kemasyarakatan, dan keputrian. Lebih jauh, organisasi ini bertujuan untuk membentuk pribadi putri Islam yang berguna bagi agama, keluarga, dan bangsa menuju terwujudnya masyarakat utama, adil, dan makmur yang diridhai Allah Swt. Adapun susunan organisasi Nasyiatul ’Aisyiyah dibuat secara berjenjang dari tingkat Pimpinan Pusat hingga tingkat Ranting. Kini organisasi Nasyiatul ’Aisyiyah telah berkembang menjangkau remaja putri di seluruh wilayah Indonesia.

4. Ikatan Pelajar Muhammadiyah

Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) berdiri 18 Juli 1961.  Organisasi ini berdiri sebagai konsekuensi banyaknya  sekoah/madrasah Muhammadiyah sebagai wadah pembinaan kader  Muhammadiyah. Adapun semboyan IPM sejak tahun 1990 adalah  Tri Tertib, yakni Terbit Ibadah, Tertib Belajar dan  Tertib Berorganisasi. Semboyan ini merupakan ruh gerakan dan  merupakan cita-cita serta karakter khas pribadi anggota IPM.


Bersambung  

Raisa Fadelina 
Pustakawan UMY

Senin, 12 Oktober 2020

Hati dan Macamnya : Tulisan – 1


Pendahuluan

Alhamdulillah, manusia dalam melaksanakan tugas sebagai khalifah di muka bumi ini dilengkapi hati nurani, nafsu, dan akal. Ketiga komponen hidup ini harus difungsikan secara proporsional.Memfungsikan ketiga komponen itu secara tumpang tindih akan membuat kekacauan. 

          Akal untuk menciptan kreativitas, inovasi, kemajuan dan mencari solusi. Maka hidup dengan akal sehat itu harus solutif. Nafsu untuk mendorong melaksanakan kegiatan yang seharusnya dibimbing dan diarahkan oleh hati nurani. Apabilla nafsu ini menguasai akal dan nurani, maka tindakan orang itu akan mengarah pada hal-hal yang merugikan diri sendiri dan orang lain. Penurutan hawa nafsu bisa menyengsarakan diri, menciptakan perbuatan anarkhis, bahkan kesadisan dengan menghilangkan rasa kemanusiaan. Nafsu seperti ini cenderung menimbulkan kerusakan dan kesengsaraan. 

       Hati sangat besar pengaruhnya terhadap kinerja tubuh dan tindakan seseorang. Hatilah yang seharusnya yang menentukan arah tindakan dan perilaku manusia.Hati ini yang akan membawa manusia untuk bahagia atau sengsara.

       Hati dalam pembicaraan ini dapat dipahami dengan dua arti. Secara anatomis, hati diartikan dengan segumpal darah dalam isi perut manusia yang berwarna merah kehitam-hitaman yang terletak di sebelah kanan perut besar manusia. Hati dalam pengertian ini berfungsi untuk mengambil sari makanan di dalam darah dan menghasilkan empedu. Hati dalam pengertian ini didapat pada setiap diri manusia maupun hewan. 

      Dalam pengertian lain, hati adalah nurani yang dalam ayat-ayat Al-Quran disebut dengan qalbun salim atau hati yang jernih dan sehat. Hati inilah yang menjadi sumber dan penentu perilaku manusia, apakah akan mendatangkan kenikmatan atau malah menyengsarakan. Hati seperti inilah yang mampu menggerakkan akal pikiran seseorang untuk merencanakan suatu tindakan. Kemudian akal akan memerintahkan mata untuk melihat, memerintahkan telinga untuk mendengar, dan memerintahkan tangan dan kaki untuk bertindak. Oleh karena itu kita perlu menjaga hati dengan sebaik-baiknya antara lain dengan cara berdzikir  atau selalu ingat pada Allah , dan mengingat perintah-perintahNya dan waspada atas larangan-laranganNya. Dalam hal ini Allah Swt mengingatkan pada kita sebagaimana termaktub dalam Q.S. ar-Ra’d: 28 yang artinya:”:Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat (dzikr) Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat (dzikr) kepada Allah Swt hati akan menjadi tenteram”. 

Bersambung


Lasa Hs. 



Senin, 05 Oktober 2020

ANTARA KEDAI KOPI DAN PERPUSTAKAAN


Muhamad Jubaidi

Pustakawan UMY

Jubaidimuhamad25@gmail.com


Tulisan ke-1


Perpustakaan dan buku merupakan satu rangkaian kata yang saling terkait dan melengkapi,

keterkaitan ini bagaikan kedai dan kopi. Kedai merupakan kata yang dimaknai sebagai tempat untuk

berjualan dan kopi adalah menu utama yang disajikanya. Kolaborasi keduanya tidak cukup hanya

menempatkan kopi di dalam kedai tanpa ada kemasan sebagai pemikat. Agar kedai dan kopi memiliki

daya tarik, maka kedai mencoba berbenah dan menjadikan singgasana bagi penikmat kopi, aroma pekat

menusuk kedalam sanubari sejenak membuat orang memperhatikan keelokan keduanya hingga

membuatnya jatuh cinta.

Berbicara masalah selera sudah tentu sangat obyektif. Setiap orang akan menaruh hati sesuai

apa yang dirasakan. Artinya kebutuhan akan selera konsumen adalah prioritas dalam sebuah pelayanan.

Pelanggan akan datang tanpa mempertimbangkan soal harga. Bagi mereka yang penting dapat

menikmati kopi di sebuah kedai yang nyaman, jikalau harga secangkir kopi yang harus dibayarkan lima

kali lipat lebih mahal dibanding dengan secangkir kopi yang disajikan di warung kaki lima, hal tersebut

bukan menjadi masalah untuk sebuah nilai kepuasan dari kenyamanan fasilitas yang didapatkan.

Kopi sebagai menu utama yang disajikan tidak lepas dengan inovasi yang disesuaikan pada

selera konsumen. Bukan hanya identik dengan sebuah cangkir, dan baluran bubuk kopi hitam nan

pekat. Kemasan yang mampu dikembangkan adalah dengan menghadirkan varian rasa tambahan dari

khas rasa pahit kopi dalam berbagai macam varian. Rasa kopi hendaknya disesuaikan dengan trend

masa kini yang mampu membangkitkan selera penikmatnya.

Kedai kopi menjadi menarik untuk dibahas jika disandingkan dengan perpustakaan. Keduanya

memiliki persamaan dalam suatu konsep layanan, kiranya perlu pengembangan inovasi untuk

memadukan kopi dan buku.

Perpustakaan akan menarik jika ruangan didesain dengan mempertimbangkan selera pemustaka

pada umumnya, tanpa meningggalkan esensi nilai ergonomi suatu perpustakaan dan fasilitas yang

disajikan, kesan kumuh, pekat, gelap, dan apek mungkin masih tersirat pada generasi jadul di era tahun


90an. Mereka melihat dengan kasat mata hingga menganggap perpustakaan merupakan gudang buku,

dibiarkan begitu saja tanpa ada perhatian untuk dikelola dengan baik.

Tanpa kita sadari, hadirnya berbagai macam kedai kopi yang didesain sangat menarik. Kedai

kopi ini ternyata mampu menyajikan berbagai macam sarana kebutuhan yang dibutuhkan konsumen.

Sajian sarana itu seperti layaknya layanan wifi gratis, jam buka yang lebih panjang, tata ruang alami,

kondisi ini merupakan sebuah tempat pilihan dari sebagian anak muda saat ini dibanding harus ke

perpustakaan dengan berbagai macam syarat dan ketentuan yang harus di penuhi.

Dari persamaan yang ada antara perpustakaan dan kedai kopi mengerucut tiga kata, yaitu

fasilitas, menu dan layanan. Penulis mencoba menganalisa kelebihan kedai kopi yang saat ini menjadi

daya magnet anak muda untuk sekedar datang dan mencobanya. Maka tak heran bila mereka menjadi

ketergantungan, untuk datang dan pasti kembali. Maka perpustakaan dapat menduplikat sebagai

inovasi dan dapat dikembangkan sebagai sesuatu yang unik juga menarik.

Pemahaman paling dasar yang harus difahami dan diperhatikan dalam hal ini adalah konsep

dasar dari perpustakan itu sendiri sebagai penyedia layanan jasa non profit, bukan layanan jasa profit

seperti halnya kedai kopi. Sedangkan untuk melihat keuntungan atau hasil yang diharapkan sudah tentu

berbeda.

Keuntungan itu tidak lagi berbentuk uang melainkan kelayakan dan kenyamanan dari

pengunjung itu sendiri, pengembangan perpustakaan dengan berbagai inovasi sudah tentu dibutuhkan

biaya yang tidak sedikit. Dengan berbagai macam pembenahan perpustakaan diharapkan nantinya

mampu memberikan kenyamanan baik fasilitas, layanan, koleksi, dan keramahan petugas.

Inovasi dapat merubah pandangan orang tentang perpustakaan. Pustakawan layaknya tenaga

ahli harus mampu memberikan semua layanan yang dibutuhkan pemustaka, mereka tidak hanya

bertugas sebatas melihat antara ruangan dan buku. Seperti barista dengan segala keahlian meracik kopi

yang mampu menyesuaikan selera konsumenya, mampu memikat dan memberikan rasa nyaman adalah

sepenggal nikmat kepuasan pelanggan baik di perpustakaan maupun di kedai kopi.


Bersambung.........

BERAPA GAJI SEORANG PIMPINAN MUHAMMADIYAH ?

 


Seorang pengurus yayasan bertanya: “Berapa gaji pengurus Muhammadiyah yang tertinggi dan terendah?”

 

“Pimpinan tidak ada yang digaji, hanya karyawan yang digaji” jawab saya.

 

“Apa benar? Kalau begitu dari mana sumber ekonomi mereka?”

 

”Semua pimpinan Muhammadiyah punya pekerjaan, tidak menganggur”.

 

” Bagaimana kalau tugas Muhammadiyah bersamaan dengan tugas pekerjaan?”

 

” Jika waktu berbenturan, tugas pekerjaan didahulukan, baru Muhammadiyah.”

 

”Kalau begitu tidak profesional karena menomorduakan Muhammadiyah”.

 

”Mungkin menurut orang lain tidak profesional. Tetapi itu lebih baik karena semua pimpinan Muhammadiyah tidak ada yang berfikir mengurusi Muhammaidyah sebagai profesi. Semua berniat sebagai pengabdian. Yang penting dilakukan penuh kesungguhan dan sepenuh kemampuan”.

 

Saya teringat Alm. Pak Lukman Harun. Beliau pernah punya gagasan memberi gaji kepada pimpinan Muhammadiyah supaya waktu dan perhatiannya bisa penuh ke persyarikatan. Tanggapan Pak AR ketika ditanya: ”Itu niat yang baik, tapi ketua PP mau digaji berapa? Ketua ranting berapa? Apalagi kalau dihitung masa kerja, semua pimpinan rata-rata sudah aktif sejak masa muda. Lalu siapa yang mau membayar gaji itu?” kata Pak AR tersenyum.

 

Karena begitu banyaknya amal usaha yang dimiliki muhammadiyah, membuat banyak peneliti luar berfokus dan menulis tentang muhammadiyah, Salah satunya kita kenal dengan Prof. Dr. Mitsuo Nakamura dan James L. Peacock. Mitsuo nakamura peneliti jepang yang selalu hadir tiap muktamar muhammadiyah itu suatu ketika penasaran dan berkunjung ke kantor pimpinan pusat muhammadiyah jakarta tutur Prof. Dr. Munir Mulkhan, S.U. Ditemui Prof. Syafi’i Ma’arif, Ph.D. ia terheran-heran karena muhammadiyah yang ia tahu besar dan kaya, kok kantor presidennya kecil dan sederhana. Lalu ia bertanya “berapa gaji ketua / presiden muhammadiyah ? Syafi’i Ma’arif tersenyum dan menjawab “saya tidak digaji”. Nakamura sontak berkata “gila….”.

 

Pengurus tidak digaji, itulah kekuatan Muhammadiyah, bukan kelemahan.

Seorang dosen perguruan swasta bukan orang Muhammadiyah bertanya ”Apakah benar semua amal usaha menjadi milik pimpinan pusat?” ”Benar!” jawab saya.

 

”Berapa bantuan dari pusat sampai bisa menguasai semua aset itu?”

 

”Sama sekali tidak membantu. Hanya meresmikan, itupun kalau ada waktu. Pimpinan Pusat tidak menguasai, walaupun secara hukum semua atas nama pusat”.

 

”Tidak menguasai tapi memiliki, itu sama saja. Kalau tidak dibantu, lalu dari mana sumber dana membangun amal usaha yang demikian banyak?”

”Dari anggota dan simpatisan. Anggota ranting di desa misalnya, mereka urunan membangun madrasah, SD, mesjid dan sebagainya. Demikian juga aset lain seperti rumah sakit sampai universitas. Mereka paham kalau diberi nama Muhammadiyah itu artinya diberikan kepada Muhammadiyah”.

 

”Rela ya, apa kuncinya kerelaan memberi itu?”

 

Saya katakan bahwa Muhammadiyah itu organisasi kerja, bukan organisasi papan nama. Sebuah ranting berdiri bukan karena banyaknya orang tetapi karena ada kegiatan. Syarat berdirinya sebuah ranting harus punya amal usaha misalnya punya sekolah, atau mesjid atau punya aktivitas seperti pengajian.

Berikutnya, Orang Muhammadiyah itu melakukan kegiatan karena dorongan iman, dorongan keyakinan, bukan karena mencari untung. Karena itu sering dalam kegiatan mereka bukan saja tidak dapat honor, malah sering mengeluarkan uang dari kantongnya. Lain dengan kepanitiaan di instansi. Asal namanya tercantum berhak dapat honor walaupun tidak bekerja. Karena itu sering rebutan agar namanya bisa dicantumkan dalam panitia kegiatan.

 

Muhammadiyah tidak demikian. Mereka bekerja karena didorong iman bukan keuntungan, itulah juga kekuatan dalam Muhammadiyah.

Bahkan tidak sedikit guru yang mengajar di sekolah-sekolah muhammadiyah gajinya tidak diambil, namun diserahkan kembali pada muhammadiyah untuk kepentingan gerak dakwah muhammadiyah. Ada juga sekolah-sekolah muhammadiyah yg mungkin belum maju, belum mentereng… guru yg jiwanya tercelup sibghoh muhammadiyah sering tidak menerima gaji, atau mendapat gaji rapelan (3 atau 5 bulan sekali meskipun nominalnya tidak banyak). Jika saat menerima wajah mereka amat ceria meski sedikit. Jika pas tidak ada mereka tidak gajian wajahnya tetap ceria dan semangat kerjanya konstan. Mengapa ? Mereka tersenyum dan menjawab “alhamdulilah waktunya puasa” hal yang sangat lumrah dan biasa.

Dr. Sa’ad Ibrahim, M.A. (ketua umum PWM JATIM) pernah meneteskan air mata saat menceritakan salah satu kepala sekolah muhammadiyah yang digaji Rp. 300 ribu / bulan dan selalu datang paling awal dan pulang paling akhir, di hadapan peserta RAKERPIM muhammadiyah se-JATIM yang ditempatkan di gedung Ahmad Zainuri UM Jember.

 

Pertanyaannya… hari ini masih adakah guru atau dosen yang bekerja di amal usaha muhammadiyah yang seperti itu ?

 

Lantas bagaimana kehidupan mereka ? Cukupkah untuk nafkah dan kebutuhan sehari-hari ? Dari muhammadiyah boleh jadi ia hanya mendapat nominal sedikit, tapi dari usaha lain atau pekerjaan lain yg mereka tekuni justru rizkinya tak terhitung banyaknya. Mungkin itulah berkah yang melimpah dari mengurusi muhammadiyah. “Siapa yg menolong agama Allah, maka Allah yang menolong dan mencukupkan semua mereka”. Bahkan Prof. Dr. Thobroni menyatakan “orang-orang yang istiqomah mengurusi muhammadiyah secara materi kehidupannya lebih berkelimpahan dari pada yg hanya sekedar mengejar duniawi. Mereka rata-rata di masyarakat secara ekonomi masuk kategori kelas menengah ke atas”.

 

Kekuatan berikutnya, orang Muhammadiyah itu relatif terdidik dan rasional. Jadi mudah faham dengan aturan.

 

”Orang rasional yang irrasional”, katanya sambil tertawa, karena bersusah payah membuat sekolah dan rumah sakit, lalu diberikan sukarela ke pusat tanpa kompensasi.

 

Seorang walikota yang bukan orang Muhammadiyah tertarik dengan istilah ”amal usaha” yang digunakan dalam lembaga Muhammadiyah. ”Ini mengandung makna yang mulia” katanya. Menurut walikota, orang bekerja di rumah sakit, sekolah dan di semua amal usaha Muhammadiyah harus dimulai dengan nawaitu amal, baru usaha atau nawaitu cari nafkah. Jangan dibalik, yang menonjol cari nafkahnya atau usaha, nanti bisa lupa amalnya. Karena itu dinamakan amal usaha. Artinya, niat beramal di depan, baru usaha cari nafkah”, katanya.

 

Kita tidak tahu apakah para karyawan di amal usaha Muhammadiyah sudah menghayati dengan baik makna amal usaha seperti yang diuraikan walikota itu. Atau bersemangat sebaliknya. Bekerja murni mencari nafkah tanpa ada semangat mengabdi.

Setelah Muhammadiyah berkembang besar, setelah jumlah amal usaha terus bertambah, boleh jadi nawaitu orang masuk Muhammadiyah bermacam-macam. Ada yang ingin mengabdi untuk agama tetapi ada pula untuk kepentingan lain. Selama pimpinan persyarikatan dan pimpinan amal usaha tetap istiqamah pada tujuan memberi sesuatu, bukan meminta sesuatu kepada Muhammadiyah, kita percaya daya saring pada orang-orang yang masuk Muhammadiyah tetap akan berjalan baik.

 

Namun berikut ini mungkin kejadian kecil yang penting untuk direnungkan.

 

Seorang pengurus Aisyiyah bercerita, suatu hari ibu penjual nasi goreng dekat sebuah pasar tradisional agak tergopoh-gopoh mendatanginya. ”Apakah betul Bu Haji orang Muhammadiyah?” tanya penjual nasi goreng itu.

 

”Betul! kenapa?”

 

”Tidak ada apa-apa, Ooh, ternyata orang Muhammadiyah ada juga yang baik, ya”, kata penjual itu dengan suara rendah seperti kepada dirinya sendiri.

 

Ibu Aisyiyah tertegun dan merasa nelongso mendengar ucapan kawannya itu. Kalimat ”ternyata orang Muhammadiyah ada juga yang baik” terngiang terus.

 

Kasus kedua dialami oleh kami sendiri (penyadur dan penulis ulang tulisan ini ) : setiap sedekah maupun zakat kami kita alokasikan ke tetangga sekitar dalam bentuk sembako maupun uang secara rutin. Ada tetangga yang bercerita “sebelumnya tidak ada yang menebar pemberian, baru kali ini ada bagi-bagi dari orang muhammadiyah”. Sementara tetangga satunya isterinya bercerita ke isteri penulis ” suami saya bilang, semua tetangga kita tidak pernah peduli dg kita, bahkan seringkali kita tidak masak juga tidak ada yang tahu. Saat ada orang muhammadiyah yg pindah dan bertetangga dengan kita, kita jadi sering dibantu dan diberi. Ternyata orang muhammadiyah itu lebih baik ya bu. Sang istri yang sudah rutin “ngaji” di tempat kami menjawab “kok baru sadar panjenengan mas”.

 

Sementara isteri lain bercerita sambil menangis jika disuruh berhenti ngaji di tempat kami karena ada “omongan” bahwa kami muhammadiyah, bahkan diancam dicerai jika tetap “ngaji”. Akhirnya berhenti, namun justru anaknya datang sendiri belajar di tempat kami dan mulai menyadarkan bapaknya. Suatu ketika keluarga tersebut, terlilit hutang… sang isteri yang pernah “ngaji” datang menceritakan dan menyatakan maksudnya. Kami beri pinjaman untuk melunasi hutangnya yang jatuh tempo dan diceritakan pada suaminya bahwa yang menghutangi tetangga muhammadiyah nya tempat ia “ngaji”. Ia terdiam dan tertegun.

 

Kisah ke-3, Prof. Dr. Thobroni bercerita saat workshop dosen AIK di kantor PDM Jember… “di suatu tempat ada makam yg terkenal dengan ki ageng gribik (asalnya bernama syeh akbar al-maghribi), namun masyarakat menyebut dan mengenalnya dengan ki ageng gribik. Banyak orang yang menziarahi makamnya. Saat berkesempatan memberi materi di daerah tersebut, saya mengunjungi makam tersebut dan melihat-lihat dan berdialog dg juru kuncinya. Juru kunci bercerita “sebenarnya ada makam yang tidak kalah keramat dan hebatnya, karena saya tahu persis kebaikan-kebaikan penghuni makam tersebut selama hidupnya”. Saya penasaran ” yang mana?” Ia menunjukkan makam sebelah ki ageng gribik yang sepi, tidak ada yang menziarahi. Saya heran dan bertanya “kok tidak ada yang berziarah ke makam itu ?” Juru kunci menjawab “karena dulunya orang itu muhammadiyah”

 

Apa orang Muhammdiyah itu demikian buruk sehingga dianggap aneh kalau berbuat baik?

 

Ibu Aisyiah itu memang sering menolong penjual nasi goreng itu, meminjami uang (tanpa bunga), memberi nasehat, mencari solusi masalah keluarga, menjadi tempat curhat dan konsultasi gratis. Aneh, Bu Haji ternyata orang Muhammadiyah.

 

Muhammadiyah memang sudah berusia satu abad. Tetapi ternyata masih banyak masyarakat mengenal Muhammadiyah baru sebatas kulitnya. Belum dalamnya. Pengurus yayasan yang bertanya berapa gaji pimpinan Muhammadiyah, dia belum kenal Muhammadiyah dengan baik. Juga dosen perguruan swasta itu. Apalagi penjual nasi goreng itu.

 

Sudah banyak yang kita lakukan, tetapi ternyata lebih banyak lagi yang belum sempat kita kerjakan. Memasuki usia abad ke dua, kita harus membuktikan bahwa Muhammadiyah kebalikan dari sangkaan penjual nasi goreng itu. Jika orang mengatakan ”dia orang Muhammadiyah”, maka dalam kata itu harus terkandung jaminan sebagai orang baik, amanah, jujur, menepati janji, keja keras, pecinta damai, tidak mbulet dan tidak aji mumpung.

 

Ternyata banyak orang yang belum kenal betul pada Muhamamdiyah.

 

(Sumber Anonim Viral di WAG)

Dikutip dari tulisan Pak Nurcholis Huda (Waket PWM Jatim), ada di buku Anekdot Tokoh-tokoh Muhammadiyah, terbitan Hikmah Press

MENGASAH KEPERCAYAAN DIRI

 

Orang yang ikhlas menerima keadaan yang dialami merupakan perbuatan mulia. Ia akan tulus ikhlas (lila legawa) menerima keadaan seburuk apapun. Dengan ketulusan hati akan tumbuh rasa percaya diri karena adanya kesadaran bahwa semua itu harus dijalani dan yakin bahwa di balik semua itu pasti ada hikmahnya.

Rasa percaya diri yang tinggi akan memacu seseorang untuk mencapai keberhasilan. Dengan kekuatan tersebut, seseorang akan memiliki keberanian untuk melangkah. Tentunya langkah tersebut harus diikuti dengan keuletan, kerja keras, kejujuran, disiplin dan mau belajar dari pengalaman dan belajar dari orang lain.

Betapa banyak orang mampu mencapai keberhasilan lantaran memiliki sikap ikhlas dan sabar dalam menerima penderitaan dan kegagalan. Dengan berusaha keras mengatasi kekurangan diri dan mencari peluang untuk mengasah diri dengan segala kemampuan, akhirnya mereka menjadi orang yang berhasil dalam mengarungi kerasnya kehidupan ini.

Keberhasilan seseorang selain harus memiliki rasa percaya diri, juga perlu adanya courage atau keberanian. Yakni keberanian bertindak dan siap menerima resiko apapun yang akan terjadi. Secara sederhana orang yang berani bertindak mengubah keadaan, berarti telah mendapat nilai plus.

Berani berbuat menunjukkan adanya keinginan mengubah menjadi lebih baik. Berbeda halnya dengan orang yang bersikap diam menunggu perubahan. Diam itu tidak akan merubah. Orang yang membeo tidak akan pernah bertindak dan selalu takut berbeda pendapat dengan orang lain.

 

                                                                                                Lasa Hs

Kamis, 01 Oktober 2020

Said Tuhuleley; Tokoh Kemanusiaan

 

Said Tuhuleley; Tokoh Kemanusiaan

Raisa F

Pak Said Tuhuleley merupakan seorang aktivis islam dan berperan besar dalam pengembangan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Beliau lahir di Saparua, Maluku dan meninggal di Yogyakarta pada 9 Juni 2015. Pak Said adalah alumni Himpunan Mahasiswa Indonesia (HMI) dan berkhidmat di Persyarikatan Muhammadiyah.  Pada tahun 1984, Ustadz Said Tuhuleley dan temannya Zulkifli Halim yang merupakan kader-kader HMI menjadi yang diperhitungkan setelah bergabung dengan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Beliau bertugas di Lembaga Penelitian, Publikasi dan Pengabdian Masyarakat (LP3M) UMY. Beliau merintis penelitian jurnal, yakni  Media Inovasi yang mendapatkan pengakuan masyarakat di tingkat nasional.

Ketika di LP3M UMY, Pak Said membuat terobosan dengan melakukan seminar-seminar nasional. Tema-tema dalam seminar yang diselenggarakan LP3M pada waktu itu juga progresif, aktual, dan konstekstual. Melalui Media Inovasi dan topik-topik yang dibahasnya, LP3M dan UMY dianggap responsif oleh publik terhadap persoalan sosial, keagamaan, kebangsaan dan kemanusiaan. Beberapa topik yang pernah menjadi tema besar di awal tahun 2000-an adalah krisis kemanusiaan, krisis lingkungan, pemanasan global, demokrasi, multikulturalisme, dan masyarakat sipil. Dengan topik-topik ini, Pak Said pandai memanfaatkan para tokoh dan akademisi dari Jakarta yang datang ke Yogyakarta untuk menjadi narasumber. Karena seminar nasional banyak dimuat di media massa, nama UMY pun ikut terdongkrak. Pak Dasron Hamid, selaku Rektor UMY sangat mendukung gagasan dan langkahnya, sehingga Pak Said berkarya lebih leluasa.

Sisi yang menonjol lainnya dari diri Pak Said adalah semangat kerja kerasnya. Pak Said adalah dosen tetap Fakultas Agama Islam (FAI) UMY, Pembina Pesantren Budi Mulia, dan ketua (Majelis Pemberdayaan Masyarakat) MPM PP Muhammadiyah. Semua amanat itu dijalankan Pak Said dengan tekun dan serius alias dengan kerja keras. Di FAI UMY, menurut Pak Mahli Zainudin Tago, Pak Said selalu disiplin dan serius mengajar. Dia selalu cermat dalam menyiapkan bahan-bahan kuliah, antara lain dalam bentuk modul untuk tiap mata kuliah yang diampunya. Dia juga dikenal sebagai dosen yang mencermati para peserta didik. Dalam hal ini, dia tidak menoleransi mahasiswa yang ngobrol sendiri-sendiri saat kuliah berlangsung. Baginya, mahasiswa yang fokus saja masih sulit memahami materi kuliahnya apalagi mahasiswa yang suka ngobrol dalam perkuliahan. Pak Said juga dikenal sebagai dosen yang paling tertib mengumpulkan nilai-nilai mata kuliah yang menjadi hak mahasiswa. Tentu hal ini menjadi luar biasa mengingat kesibukannya yang luar biasa pula. Terkait hal ini, Pak Said pernah marah kepada seorang dosen muda yang tidak disiplin mengumpulkan nilai mahasiswa hanya dengan alasan sang dosen sibuk mengurus persyarikatan. Selain bidang akademik, beliau juga sebagai ketua Majelis Pemberdayaan Masyarakat MPM.  Pak Said dikenal sebagai satu-satunya ketua majlis yang berkantor hampir setiap hari. Oleh karena itu, program-program MPM dapat berjalan dengan baik dan beliau dipercaya untuk memimpin majelis ini untuk dua periode (2005-2010, 2010-2015). Belum lagi aktivitas di Pesantren Budi Mulia tempat tinggal beliau sehari-hari.

Saat musim penerimaan mahasiswa baru UMY tiba, Pak Said sering pergi ke sekolah-sekolah membawa brosur dengan mobil tua UMY. Mobil kijang tua itu dia sebut mobil “antipeluru” karena bebas untuk dibawa kemana saja dan tahan gores karena memang sudah jelek. Beliau cukup lama mengoordinasi KKN (Kuliah Kerja Nyata) mahasiswa UMY ketika masih di bawah LP3M. Selama itu, beliau menikmati aktivitas turun dari satu desa ke desa yang lain di wilayah DIY. Bersamaan dengan itu, Pak Said Tuhuleley memanfaatkan pula kesempatan untuk berdakwah yang merupakan kegemarannya. Saat itu, beliau merangkap sebagai anggota Majelis Tabligh PP Muhammadiyah yang ketuanya juga Pak Amien Rais.

Di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, kenang Pak Masyhudi Muqarrabin, Pak Said Tuhuleley pernah menjabat sebagai Pembantu Rektor (PR) III yang sebelumnya dijabat oleh Bapak Musthafa Kamal Pasya. Pak Said meneruskannya melalui pengembangan kemahasiswaan yang lebih dinamis, bukan saja di bidang akademik, melainkan juga di bidang-bidang lainnya. Tercatat pula berdirinya Drum Corps UMY pada tanggal yang sama dengan berdirinya beberapa UKM, seperti Muhammadiyah MultiMedia Kine Club, Senirupa, dan Kelompok Penelitian Mahasiswa, yaitu pada 17 Agustus 1997.

Dalam beberapa tahun terakhir sisa hidupnya, kenang Pak Masyhudi, beliau dapat dikatakan sering masuk rumah sakit akibat kondisi fisik dan kesehatan yang menurun. Beliau tidak pernah merasa lelah dalam memperjuangkan perbaikan nasib rakyat kecil. Beliau menghembuskan nafas terakhir tanggal 9 Juni 2015 di RS Sardjito Yogyakarta. Jenazah almarhum Said Tuhuleley dimakamkan di pemakaman Karangkajen Yogyakarta pada Rabu siang tanggal 10 Juni 2015. Kata-kata khas dan semboyan almarhum akan dikenang dan menjadi sumber inspirasi serta militansi dalam melanjutkan perjuangan memberdayakan masyarakat kecil oleh siapa pun dan di mana pun, yaitu: “Selama rakyat menderita, tidak ada kata istirahat.

 

Sumber; Prihantoro, Agung. 2015. Jejak Langkah Said Tuhuleley. Yogyakarta:Yayasan Shalahuddin Laboratorium Dakwah