Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Minggu, 21 Juli 2019

HATI-HATI DENGAN KEHIDUPAN INI


Allah swt berfirman yang artinya:” Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megahan antara kamu sekalian, dan berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, ibarat hujan yang bisa menumbuhkan tanaman-tanaman yang mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu sekalian bisa melihat bahwa tanaman itu warnanya kuning, lalu hancur. Dan (ingat) bahwa di akhirat (nanti) ada azab yang hebat dan ada juga ampunan dari Allah serta RidhaNya. Ingat pula bahwa kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan yang sering menjerumuskan”. (Q.S. Al Hadid: 20)
          Kehidupan dunia memang mengasyikkan dan menyenangkan. Apalagi apabila seseorang mampu menduduki posisi yang menyenangkan. Dikiranya bahwa namanya hidup ini hanya sekarang ini. Nanti tidak ada kehidupan lagi pikir mereka. Maka semua kesenangan dihabis-habiskan di dunia ini. Soal kubur dan akhirat itu hanya khayalan kata mereka. Orang mati ya sudah selesai, tak ada urusan lagi menurut  anggapan mereka.
            Mereka tidak menyadari bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sandiwara atau permainan. Masing-masing kita sedang memainkan peran atau lakon dalam sandiwara. Kita ini sebenarnya sedang berakting di atas panggung. Diantara kita ada yang berperan sebagai pemimpin yang sedang berakting. Sedangkan yang lain sebagai penonton. Nanti pada saatnya akan turun sesuai aturan sutradara. Namun tidak sedikit yang harus turun sebelum saatnya karena tidak mampu berakting dengan baik. Bahkan ada yang diteriaki penonton untuk turun panggung lantaran permainan mereka mengecewakan penonton. Kemudian nanti peran itu akan digantikan orang lain. Sementara itu mantan pimpinan itu bergantian menjadi penonton.
            Kehidupan dunia tidak lebih dari permainan sepak bola, bulu tangkis, maupun pingpong apabila tidak mampu menyikapinya dengan bijaksana. Namun bila mampu menyikapinya dengan baik, maka kehidupan ini merupakan aset jangka panjang (mazra’atul akhirah) berabad lamanya.
Berangkat dari pemikiran inilah, kita perlu hati-hati dan syukur bila  memiliki sikap zuhud terhadap kehidupan dunia ini. Zuhud arti dasarnya adalah tidak suka terhadap sesuatu, rela terhadap sesuatu yang sedikit, dan lebih mencintai kehidupan akhirat. Sikap zuhud tidak terlalu gembira apabila kehidupan dunia (harta, anak, jabatan, kekuasaan) ada di tangannya dan tidak terlalu sedih apabila lepas dari tangannya. Sebab mereka menyadari bahwa apa yang nempel itu ibarat pakaian yang nanti akan usang.
Mengenai zuhud ini, Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa yang namanya zuhud adalah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat untuk kepentingan akhirat. Kemudian yang disebut wara’ adalah meninggalkan apa-apa yang mendatangkan madharat untuk kepentingan akhirat.
            Zuhud merupakan sikap menahan diri/hati-hati terhadap hal-hal yang haram dan yang halal. Namun demikian ada ulama yang mengatakan bahwa zuhud itu berarti menahan diri dari hal-hal yang haram saja. Hal ini mengingat bahwa yang halal itu jelas dibolehkan. Maka dalam hal yang halal ini, manusia diberi hak untuk memanfaatkannya.
Zuhud terhadap dunia bukan berarti harus meninggalkan kesenangan kehidupan dunia ini sama sekali. Demikian pula dengan menghindari harta benda itu bukan berarti menolak hak milik. Bukankah Nabi Sulaiman a.s. dan Nabi Daud a.s. juga diberikan kekayaan, kekuasaan, dan beberapa kelebihan. Namun demikian, mereka tidak larut dalam kekayaan, tidak mabuk kekuasaan, dan tidak terlena oleh kemewahan.   
 Bersambung

Lasa Hs.


0 komentar:

Posting Komentar