Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Jumat, 30 Agustus 2019

Perpustakaan UNISA Yogyakarta Raih Juara 1 Lomba Inovasi Perpustakaan


Setelah melalui serangkaian penilaian, Perpustakaan UNISA Yogyakarta meraih Juara 1 Lomba Inovasi Perpustakaan yang diadakan oleh Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi (FPPTI) DIY. Juara 2 oleh Perpustakaan FT UGM. Penyerahan hadiah disampaikan oleh Pengurus FPPTI Pusat dalam Seminar Nasional dengan tema Serba- Serbi Perpustakaan Perguruan Tinggi di Era Dominasi Pemustaka Generasi Milenial” di FE UII, Kamis, 29 Agustus 2019. Pada waktu yang bersamaan juga dilakukan penyerahan hadiah IALA dengan juara 1 Eko Kurniawan dari Perpustakaan UMY. Juara 2 Bagus dari Perpustakaan FT UGM, dan juara 3 Arif Cahyo Bachtiar, M.IP dari Peprustakaan UII.
Selanjutnya akan dilakukan pemilihan tingkat nasional dengan memilih lima finalis untuk mempresentasikan lombanya pada tanggal 1 Oktober 2019 di Novotel Hotel Bandar Lampung. Irkhamiyati, M.IP, selaku Kepala Perpustakaan UNISA Yogya menyampaikan terima kasih atas suport dan bantuan semua pihak yang telah mendukung tercapainya prestasi ini. Harapannya, Perpustakaan UNISA Yogya terpilih sebagai finaslis dan menang di tingkat nasional nantinya. Semoga prestasi ini memotivasi Perpustakaan UNISA Yogyakarta untuk terus berkembang dan berinovasi guna mendukung tercapainya catur dharma perguruan tinggi. (Irkham-08-2019)

Prestasi Pustakawan FPPTMA

Dalam rangka meningkatkan kompetensi pustakawan, setiap tahun diadakan lomba kepustakawanan baik tingkat Provinsi maupun Nasional. Alhamdulillah, tahun ini ada beberapa Pustakawan FPPTMA yang meraih prestasi. Mereka adalah :


  1. Arda Putri Winata (UMY) Pust.Berprestasi 1 Nasional
  2. Atin Istiarni (UM Magelang) juara 1 IALA Jawa Tengah
  3. Desy (Stikes Muh.Gombong,) juara 5 IALA Jawa Tengah
  4. Eko Kurniawan (UMY) juara 1 IALA DIY 
  5. Greta P. (UAD) juara 1 LPDikt5 
  6. Perpustakaan UNISA juara 1 i FPPTI DIY
  7. Perpustakaan UMS FPPTI Jateng.


    Sinari bumi pertiwi dg berbakti dan prestasi.

Kamis, 29 Agustus 2019

MANAJEMEN PERUBAHAN : Tulisan - 1


      Perubahan pada hakikatnya adalah transformasi dari keadaan lalu menuju keadaan sekarang, dari keadaan sekarang menuju keadaan yang akan datang. Kalau keadaan sekarang berubah menjadi lebih baik berarti suatu keberhasilan. Apabila keadaan sekarang sama (tidak berubah) dengan keadaan yang lalu, maka berarti suatu kerugian karena stagnan. Apabila keadaan sekarang berubah menjadi lebih buruk dari keadaan yang lalu, maka berarti suatu  kecelakaan.
           Adanya perubahan sebagai tanda adanya tanda kehidupan dan perkembangan. Maka apabila tidak terjadi perubahan, maka berarti bahwa kehidupan itu mandeg dan tidak berkembang. Namun demikian pengalaman empiris menununjukkan bahwa adanya usaha perubahan sering  mampu meningkatkan kinerja lembaga lebih maju secara  pesat. Perlu juga  disadari bahwa banyak pula usaha perubahan, namun kenyataannya tidak berhasil. Hal ini kadang menimbulkan keragu-raguan pada diri orang/kelompok dan orang/kelompok  lain untuk berusaha berubah.
           Perpustakaan sebagai lembaga yang selalu berubah (library is the growing organism) harus selalu melakukan perubahan. Perubahan ini sesuai tingkat kebutuhan informasi masyarakat. Namun demikian perlu disadari bahwa untuk menuju perubahan selalu dipengaruhi oleh faktor eksternal dan internal. Faktor eksternal adalah adanya tekanan global dan semakin ketatnya kompetisi. Faktor internal berasal dari internal perpustakaan itu sendiri, dimana manajemen/kepala perpustakaan harus bisa mengendalikannya.
           Oleh karena itu dalam upaya merubah dan mengembangkan pengelolaan dan layanan perpustakaan diperlukan manajemen/kepemimpinan  yang profesional. Yakni manajemen yang memiliki pemahaman visi (the need for vision) , etika (the need for ethics) , keberagaman budaya (the need for cultural diversity), dan pelatihan (the need for training) (Stoner dan Freeman (1992: 16)  
1)   The Need for vision
Manajer/kepala perpustakaan akan membawa perubahan dan pengembangan yang signifikan apabila memiliki visi yang jelas. Oleh karena itu kepala perpustakaan harus mampu melihat jauh ke depan tentang perpustakaan yang dipimpinnya dan tujuan perpustakaan yang akan dicapai. Visi ini akan menjadi acuan utama semua staf perpustakaan itu. Tanpa adanya visi yang jelas dari kepala perpustakaan, maka sumber daya manusia perpustakaan akan melakukan tugas dan pekerjaan yang tidak terarah.
Oleh karena itu, kalau suatu  perpustakaan ingin maju, maka tidak bisa penugasan sebagai kepala perpustakaan asal tunjuk. Cara ini tidak akan membawa perubahan apa-apa. Bahkan akan menjadi masalah. Model seperti  ini perlu dihindarkan.
2)   The Need for ethics
Dalam memenej perpustakaan diperlukan pemahaman etika. Baik etika lembaga, etika profesional kepustakawanan, maupun  etika komunikasi. Tanpa pemahaman ini, perjalanan kepemimpinan perpustakaan akan terhambat oleh masalah moral. Maka tak heran kalau terjadi pemogokan kerja, protes tersembunyi, bahkan stres terselubung. Hal ini antara lain disebabkan kepala perpustakaan tidak memahami ketiga etika tersebut. Maka dalam melangkah mereka cenderung  trunyak trunyuk.
3)   The Need for cultural diversity
Orang-orang yang bekerja di perpustakaan terdiri dari berbagai macam tingkat pendidikan, suku, agama,paham, dan budaya. Faktor ini  harus dipahami oleh manajemen. Untuk itu, manajemen harus memiliki komitmen kuat untuk memberikan perlakuan yang adil tanpa memandang ras, suku, aliran politik, budaya, maupun jenis kelamin. Sebab keberagaman budaya (cultural diversity) ini merupakan kenyataan dalam kehidupan bernegara, berbangsa, dan bermasyarakat.
4)   The Need for training
Dalam memenej organisasi, lembaga, maupun perpustakaan diperlukan ketrampilan manajemen tersendiri. Oleh karena itu kepala perpustakaan perlu menyadari akan pentingnya pelatihan di dalam organisasi/perpustakaan dan di luar perpustakaan. Pelatihan manajemen ini dilakukan oleh kepala perpustakaan dan staf perpustakaan.
Pelatihan adalah keseluruhan kegiatan untuk memberi, memeroleh, meningkatkan, serta mengembangkan kompetensi kerja, produktivitas, disiplin, sikap, dan etos kerja pada tingkat ketrampilan dan keahlian tertentu sesuai dengan jenjang dan kualifikasi jabatan dan pekerjaan (Undang-Undang No. 13 Tahun 2003 dalam Lasa Hs, 2017)
          Bersambung

          Lasa Hs

Minggu, 18 Agustus 2019

DO’A NABI IBRAHIM A.S.


MOTTO FPPTMA 2019 – 2020

“MELALUI LITERASI MEMAJUKAN INDONESIA & MENCERAHKAN SEMESTA”     


Ibadah haji memerlukan kesehatan dan ketahanan fisik. Kecuali perjalanan jauh, sebagian besar ibadah ini dilaksanakan secara fisik. Kegiatan itu misalnya thawaf, sa’i, melempar jamarat, maupun bermalam di Mudzdalifah. Adapun jama’ah haji yang meninggal disana memang nampaknya mereka telah dikategorikan sebagai resiko tinggi/resti, seperti; jantung, paru-paru, darah tinggi, dan lainnya.
Haji Tamatu’
            Haji tamatu’ sebenarnya pelaksanaan haji dengan melakukan umrah lebih dulu, baru kemudian melaksanakan serangkaian ibadah haji. Namun kata ini di kalangan jama’ah haji kadang diartikan dengan tangi  (bangun), mangan  (makan), turu (tidur). Hal ini sebenarnya merupakan sindiran jangan sampai harta, kesehatan, kesempatan yang berharga itu tidak dimanfaatkan secara optimal. Jangan sampai kesempatan yang menguras tenaga dan beaya itu hanya diisi dengan ngobrol, bergurau, jalan-jalan, makan-makan, dan tidur.
            Kegiatan itu bernilai produktif atau tidak tergantung pada motivasi/niat. Kata orang bahwa high motivation is high performance. Artinya tingginya kinerja/penampilan itu dipengaruhi oleh motivasi. Bila motivasi/niat itu tinggi, maka akan menghasilkan kinerja yang berkualitas.
Tidak sedkit diantara jama’ah haji kita yang sangat serius melaksanakan berbagai macam ibadah seperti rajin melakukan shalat jama’ah di masjid, melaksanakan shalat sunah, mengaji, dan lainnya. Mereka itu bisa ibadah haji lantaran menabung sekian tahun. Hal ini agak berbeda  dengan mereka yang motivasinya rendah yang mungkin dana ibadah haji itu berasal dari hadiah atau mendapat sponsor.
            Makkah, Mina,Mudzdalifah, dan “Arofah merupakan pusat kegiatan ibadah haji.Demikian pula Madinah sebagai kota kehormatan karena di sana dimakamkan jasad  orang yang paling mulia dan dihormati yakni jasad Rasulullah s.a.w.. Kota-kota itu sebenarnya merupakan kota tandus, berpasir, dan berbatuan. Betapa besar kekuasaan Allah, bahwa tanah yang kering itu menyimpan rahasia alam dan religi.
            Di tanah suci itu terdapat medan magnit yang mampu menjalankan bus (dengan mesin dimatikan) dengan kecepatan 100 km/jam. Di gua Hira’ yang berlokasi di puncak gunung itulah diturunkan wahyu pertama kali. Di Gua Tsur yang terjal itu, tersimpan bukti perjuagan historis Nabi Muhammad s.a.w.dan para sahabatnya melawan kemusyrikan dan kebodohan.
Kemudian di Jabal Rahmah konon tempat bertemunya Nabi Adam a.s. dan Hawa setelah pisah sekian ratus tahun. Lalu di Mina yang di sana terdapat 3 (tiga) jamarat (tugu) yang harus dilempar kerikil oleh para jama’ah haji. Ini merupakan bukti dan meneladani kisah Nabi Ibrahim melawan nafsu syaithaniah dan bukti ketaatan seorang hamba kepada Rabbnya.
            Dengan bukti kekuasaan Allaha tersebut, maka tak heran apabila insan muslim datang ke sana dari berbagai belahan bumi untuk beribadah. Mereka berbondong-bondong ke tanah suci u

Pustakawan UMY Berhasil Meraih Juara 1 Pustakawan Berprestasi Terbaik Nasional

Dikutip dari laman pustakawan.perpusnas.go.id bahwa Pemilihan pustakawan berprestasi merupakan ajang lomba bagi para pustakawan baik negeri maupun swasta untuk memperebutkan juara 1 s.d harapan 3 pustakawan berprestasi tingkat nasional. Kegiatan ini diikuti oleh seluruh pustakawan dari 34 provinsi di Indonesia dari berbagai jenis perpustakaan. Secara berjenjang mereka diseleksi di tingkat instansinya, kemudian di tingkat propinsi baru kemudian diutus untuk mewakili propinsinya di tingkat pusat. Kegiatan ini bertujuan untuk: (1) Memberi penghargaan kepada para Pustakawan yang berprestasi terbaik. (2) Mengembangkan profesionalisme Pustakawan Indonesia. (3) Meningkatkan motivasi, inovasi dan etos kerja Pustakawan. (4) Menambah dan berbagi pengetahuan, keterampilan dan wawasan di antara para peserta. (5) Mendorong terjalinnya jaringan kerjasama jasa informasi perpustakaan yang kuat di antara para peserta. (6) Mewujudkan citra Pustakawan sebagai profesi yang dapat dibanggakan.

16 Agustus 2019 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dikejutkan dengan kabar yang menggemberikan, bahkan tidak hanya UMY saja, melainkan seluruh Warga DIY pada umunya. Kabar tersebut adalah wakil DIY berhasil meraih juara 1 dalam kompetisi Pemilihan Pustkawan Berprestasi Terbaik Tingkat Nasional Tahun 2019. Wakil DIY tersebut yaitu Arda Putri Winata yang tidak lain merupakan seorang Pustakawan yang bertugas di UMY.

Tidak mudah untuk meraih prestasi tersebut. Karena untuk bisa maju di tingkat nasional, ia harus mengikuti serangkaian ujian pada tingkat daerah yang dalam hal ini adalah DIY. Di DIY ia berhaisl meraih juara 1, maka kemudian ia dikirim untuk maju di tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Nasional RI.

Tiga hari ia mengikuti serangkain ujian yang diselenggarakan di Jakarta, yaitu mulai tanggal 13 sampai 15 Agustus 2019. Ada beberapa kriteria yang dinilai, diantaranya :

  1. Portofolio
  2. Tes Kognitif
  3. Wawancara
  4. Presentasi

Dari berbagai ujian tersebut, ia berhasil unggul dari rekan – rekannya dengan memperoleh nilai sebesar 1.812,86. Dengan demikian ia dinobatkan sebagai Pustakawan Berprestasi Terbaik Nasional tahun 2019

Sabtu, 17 Agustus 2019

DIRGAHAYU REPUBLIK INDONESIA


Selasa, 13 Agustus 2019

PUSTAKAWAN UMY IKUTI SELEKSI PUSTAKAWAN BERPRESTASI NASIONAL VERSI PERPUSNAS

2 Bulan lalu Arda Putri Winata, Pustakawan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengikuti seleksi Pustakawan Berprestasi tingkat DIY yang diadakan oleh BPAD. Melalui kompetisi tersebut, ia berhasil meraih juara 1. Dari hasil itu, maka Arda berhak untuk mengikuti seleksi tahap berikutnya, yaitu seleksi nasional yang diadakan oleh Perpustakaan Nasional.

Sebelumnya, Arda Putri Winata juga telah mengikuti berbagai kompetisi pustakawan Berprestasi, baik yang diadakan oleh kopertis, maupun yang di FPPTI (Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia). Dari berbagai kompetisi tersebut ia selalu mendapatkan juara. 

Minggu, 11 Agustus 2019

PERGILAN SELAGI MAMPU : Tulisan 3



Ibadah haji ini merupakan rukun Islam yang terakhir. Sebab untuk melaksanakan ibadah yang satu ini diperlukan iman, kemampuan ilmu, kemampuan mental, kemampuan tenaga, dan kemampuan harta.
Di tanah suci  seharusnya waktunya  untuk betul-betul ibadah dan memurnikan akidah. Namun tidak sedikit diantara para jama’ah haji   justru melakukan kegiatan yang tidak dicontohkan Rasulullah saw , misalnya berlama-lama di bawah pancuran emas, mengambil pasir di Gua Hira’, memberi makan burung dara.

Talang emas
Memang Hajar Aswad dan talang emas memiliki sejarah yang unik. Keunikan ini tentunya tidak harus disembah-sembah atau dimintai berkah. Hajar Aswad adalah batu yang tertanam di pojok selatan Ka’bah pada ketinggian sekitar 1,10 meter dari tanah, panjang 25 cm dan lebar 17 cm. Dulu, batu ini merupakan satu bongkah, tetapi sekarang menjadi berkeping-keping karena pernah pecah. Batu ini pecah di jaman Qaramithah yakni sekte Syi’ah Islailliyah al-Bathiniyyah dari pengikut Abu Thahir Al Qaramithah yang mencabut Hajar Aswad dan dibawa ke Isha’ pada tahun 319 H. Kemudian pada tahun 339  H Hajar Aswad itu dikembalikan lagi. Gugusan yang terbesar berukuran sebuah kurma dan tertanam di batu besar lain yang dikelilingi oleh ikatan perak. Batu inilah yang disunatkan untuk dicium dan bukan untuk disembah, dikeramatkan, atau dimintai berkah.    
Adapun talang emas yang terletak di atas Ka’bah itu bertepatan di atas Hijir Ismail. Talang ini sebenarnya dibuat untuk memperlancar peredaran air ketika ada pencucian Ka’bah atau pada musim hujan. Orang Quraisylah yang pertama kali membuatnya bersamaan dibangunnya atas Ka’bah. Talang ini dibuat mengitari atap menempel pada pangkal dinding pagar. Pada tahun 1278 H., talang ini diperbaharui oleh Sultan Abdul Majid Khan Al Ustmani. Kemudian pada tahun 1417 M diperbaharui lagi oleh Raja Fahd bin Abdul Aziz dengan ukuran yang sama seperti sebelumnya. Sementara itu di bagian atasnya ditanam paku-paku kecil agar tidak dihinggapi burung. Sebab di sekitar Masjid Nabawi  Madinah dan Masjidil Haram  Makkah terdapat banyak burung dara.
Talang ini memang dilapisi emas yang rata-rata orang Indonesia menyebutnya talang emas.
Dalam melaksanakan ibadah haji harus betul-betul memurnikan akidah agar tidak campur dengan kemusyrikan maupun katakaburan. Kita berdo’a hanya kepada Allah, bukan kepada yang lain.

Mengambil Pasir di Gua Hira’
            Di gua ini Rasulullah Muhamad saw menerima ayat Al Quran pertama kali yakni awal S. Al ‘Alaq.  Gua ini terletak di lereng Jabal Nur (Gunung Cahaya) di ketnggian 200 meter, terletak sekitar 11 km dari Makkah dan dulu sering dikunjungi Nabi Muhammad saw untuk berkahlwat. Gua ini hanya cukup 3 orang untuk ukuran orang Indonesia, dan di sekitarnya masih terdapat kera dan kambing gunung.
Mulut gua ini menghadap ke utara yang bisa dicapai dengan melewati celah yang terdapat di antara dua batu yang lebarnya 60 cm dan panjangnya 3 meter. Di  muka gua itu terdapat pintu alami . Luas gua itu cukup untuk shalat dua orang, yang stau berdiri di belakang yang lain. Di sebelah kanan terdapat ruangan yang luasnya cukup untuk seorang shalat sambil duduk.
            Diantara para jama’ah haji ada yang mengambil pasirnya dibawa pulang. Katanya untuk obat dan biar tercapai cita-citanya. Perilaku seperti inilah yang per dihindarkan agar ibadah kita tidak tercampur dengan hal-hal yang mengotori niat ibadah haji.  

Selesai

Lasa Hs

Jumat, 09 Agustus 2019

Kontribusi Perpustakaan UMY terhadap Universitas dilihat dari Indeks Google

Taufiq A. Ghani (Kepala Perpustakaan UNSYIAH) menjelaskan bahwa trend user dalam mencari referensi di internet kebanyakan menggunakan search engine Google. Sehingga Perpustakaan dapat menghitung jumlah indeks Google yang nantinya dibandingan dengan indeks google website universitas. Hal tesebut dapat digunakan untuk mengukur berapa persen kontribusi Perpustakaan terhadap Universitas.



 Berikut adalah kontribusi perpustakaan UMY terhadap Universitas

MENULIS ITU MENGABADIKAN

Tidak sedikit orang yang kepingin menulis, bahkan ingin menjadi penulis terkenal. Namun lantaran tidak ada kemauan kuat, maka menulis hanya khayalan belaka. Berbagai seminar penulisan dihadiri, puluhan sertifikat penulis disimpan di almari. Semua itu tak berarti bila tak pernah mau menulis. Menulis adalah kemauan. Tanpa kemauan, menulis hanya mimpi di siang hari bolong.

Menulis itu tidak sulit, namun yang sulit itu menata mental. Demikian dinyakatan oleh Rika Fatimah P.L.M.Sc., Ph.D dalam seminar di DPAD DIY 17 Juli 2019. Diingatkan olehnya bahwa orang yang pintar ngomong tidak akan dicatat sejarah. Tetapi orang yang pintar menulis tidak akan dilupakan sejarah. Sebab penulis itu mengabadikan ilmu, nilai, dan norma. Kegiatan ini merupakan amal jariyah yang manfaatnya turun temurun.

Ismiyati

KREATIVITAS LAYANAN PERPUSTAKAAN

Dalam pengelolaan dan layanan perpustakaan perlu adanya kreativitas terutama dalam pemanfaatan teknologi informasi. Beberapa ide kreatif yang mungkin bisa diaplikasikan dalam pengelolan dan layanan perpustakaan antara lain:

1.Gobook, yakni layanan peminjaman dan pengembalian buku melalui aplikasi seperti Gojek
2.Cinebrary, yakni layanan perpustakaan seperti layanan bioskop. Dalam hal ini perpustakaan
   dapat menyusun jadwal kegiatan (diskusi, pemutaran film, seminar dll) dalam berbagai bidang.                                
   Informasi ini dapat disampaikan melalui media masa maupun media sosial agar diketahui
   masyarakat luas.
3.United Nation of Library, yakni perpustakaan yang beroperasi selayaknya komplek kedutaan, dimana berbagai perpustakaan dunia memiliki representasi akses didalam lokasi aksklusif.
4. Libcourt, yakni suatu perpustakaan yang beroperasi selayaknya food court, dimana di dalamnya terdiri dari sekumpulan penerbit terkemuka yang menyediakan berbagai macam/jenis koleksi.
Mengantisipasi perkembangan revolusi industry 4.0, perpustakaan perlu mengantisipasi dengan langkah-langkah:
1.Menyelenggarakan layanan mandiri;
2.E-payment
3.Mobile application
4.Integrasi dengan sistem manajemen lain seperti akadamik, kepegawaian, kemahasiswaan, penelitian, dan lainnya
5.Library as makerspace.

(Rangkuman isi Seminar Revitalisasi Peran Perpustakaan di Era Disrupsi Teknologi di Jembar 22 – 23 Juli 2019)

Laela Niswatin & Sunarti (Perpustakaan UMY)     

PERGILAH SELAGI MAMPU Tulisan – 2 : Persiapan Haji


Pada dasarnya kewajiban melaksanakan ibadah haji hanya sekali seumur hidup dan boleh juga dilakukan lebih dari sekali. Hal ini berdasarkan hadist Nabi Muhammad saw yang artinya:”Kewajiban haji itu hanya sekali, siapa yang menambah (lebih dari sekali) maka hal itu merupakan tathawwu’  (amalan sunah). Dalam kesempatan lain, Rasulullah saw juga menyatakan bahwa umrah satu ke umrah berikutnya akan menutup kesalahan-kesalahan yang terjadi antara keduanya, dan haji yang mambrur itu imbalannya adalah surga (Dari Abu Hurairah, H.R. Bukhari dan Muslim)
Mengingat ibadah haji itu merupakan ibadah yang mahal, maka perlu dipersiapkan sematang mungkin antara lain dengan:
1.      Bertaubat
Bertaubat pada hakikatnya adalah upaya total untuk melepaskan diri dari perbuatan dosa, menyesali dosa, dan tidak akan mengulang kembali berbuat dosa.
2.      Memahami ajaran-ajaran Islam
Selayaknya, bagi mereka yang akan menunaikan ibadah haji untuk memahami ajaran Islam secara baik. Ketentuan-ketentuan dalam agama perlu dipahami dasarnya. Bukan sekedar ikut-ikutan yang tak jelas sumbernya. Jangan sampai anut grubyuk ora ngerti rembuk. Allah swt berfirman yang artinya:” Janganlah kamu mengikuti sesuatu yang tidak kamu ketahui. Karena pendengaran, penglihatan, dan hati nurani, semua itu akan diminta pertanggungjawabannya”. (Q.S. Al Isra’: 36)
3.      Memahami manasik haji
Ibadah yang seumur hidup sekali ini sangat sayang kalau salah. Oleh karena itu perlu memelajari secara benar tentang syarat, rukun, dan wajib haji yang sebenarnya sangat sederhana.
Karena kurang pengetahuan tentang manasik haji, beberapa jama’ah haji sampai di Mekkah hanya ikut-ikutan orang lain. Misalnya melempar Ka’bah  dengan surban, sajadah, bahkan sandal. Katanya dengan cara ini untuk ngalap berkah.
Memang ada hadist Nabi Muhammad saw yang menyatakan untuk mencium Ka’bah. Namun semua itu harus semata-mata mengikuti Sunah Rasul saw. Dalam hal ini ‘Umar bin Khattab pernah mendekati Hajar Aswad dan menciumnya, lalu berkata :”Sungguh aku tahu bahwa engkau adalah batu yang tidak dapat mendatangkan manfaat dan tidak bisa menghilangkan madharat. Andaikata saja saya tidak menyaksikan sendiri bahwa Rasulullah saw mencimmu, maka aku pasti tidak akan menciummu” (H.R. Bukhari dan Muslim
Dalam usaha mencium Hajar Aswad ini memang ada yang menjual jasa. Tetapi cara ini kadang justru mendhalimi jama’ah lain. Sebab penjual jasa itu mendorong-dorong jama’ah di depannya sehingga jatuh. Hal ini sebenarnya dilarang oleh Pemerintah Saudi Arabia yang seyogyanya patut diperhatikan.
4.      Mencari rizki yang halal
Rizki yang diperoleh seseorang akan memengaruhi perkembangan rohani seseorang secara psikologis, sosial, psikis, bahkan do’anya tidak diperhatikan Allah. Sebab Allah Maha Suci dan hanya menerima yang suci.
Orang yang bertekad untuk melaksanakan ibadah haji, seyogyanya tidak tamak pada harta dan jabatan  apalagi menyerobot hak orang lain. Dalam hal ini Rasulullah saw menyatakan yang artinya :”Siapa yang menahan dirinya (tidak meminta-minta harta, pangkat, jabatan), maka Allah akan menjaga harga dirinya. Siapa yang merasa cukup (dengan harta, pangkat, jabatan yang dimilikinya), maka allahpun akan mencukupkannya”. Oleh karena itu mereka yang berniat ibadah haji hendaknya selalu mencari ridha Allah dan selalu mndekatkan diri pada Allah. Ibadah haji bukan sekedar agar dipanggil Pak Haji atau Bu Hajah.Itu semua hanyalah urusan duaniawi. Kalau tidak hati-hati, kita akan terjebak oleh nilai-nilai fatamorganis. Utuk itu perlu kita renungkan dan sadari firman Allah swt yang artinya :” Siapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, Kami akan memberikan balasan penuh atas kegiatan/amal perbuatan mereka dan mereka tidak akan dirugikan di dunia. Namun mereka itu di akhirat akan memeroleh neraka, maka sia-sialah apa yang mereka usahakan/lakukan di dunia dan musnahlah apa yang telah mereka laksanakan (Q.S. Hud : 15 – 16)
5.      Ikhlas
Semua ibadah pada dasarnya harus dilaksanakan dengan ikhlas. Oleh karena itu dalam melaksanakan ibadah haji nanti harus dilakukan serba antri, menghadapi bermacam-macam watak dan prilaku manusia. Maka tidak perlu banyak mengeluh, banyak tuntutan, rewel, dan lainnya. Semua itu harus diterima dengan ikhlas.
6.      Sabar
Dalam perjalanan yang jauh, berpindah-pindah, bergaul dengan bangsa lain kiranya perlu kesabaran tinggi. Sejak keberangkatan dari rumah, kabupaten, bandara, dan sampai Tanah Suci harus rela untuk bersabar.
Bersambung

Lasa Hs

Senin, 05 Agustus 2019

PERGILAH SELAGI MAMPU


Ibadah haji merupakan dambaan hampir setiap muslim. Kecuali untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang muslim, ibadah ini juga memiliki nilai rohaniah yang tak ditemukan pada ibadah lain.
            Ibadah yang diwajibkan seumur hidup sekali itu, memang cukup berat. Oleh karena itu diperlukan kemampuan iman, ilmu agama Islam, fisik, dan harta. Dalam hal ini Allah swt berfirman yang artinya :”Mengerjakan haji itu merupakan kewajiban manusia kepada Allah swt, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan menuju Baitullah. Siapa yang menginkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak membutuhkan sesuatu) dari semesta alam “(Q.S. Ali Imran : 97).
            Kemampuan iman sangat diperlukan karena iman merupakan fondasi segala aktivitas seorang muslim. Tanpa iman yang kokoh, maka bisa merusak tujuan haji itu sendiri dan yang bersangkutan tidak mendapat apa-apa. Betapa banyak saudara-saudara kita yang sepulang haji pakai topi putih, bersorban, dan berpakaian ala orang Arab. Dikira itulah tanda-anda sudah haji.Namun bila tak dipanggil Pak Haji atau Bu Hajah malah marah-marah.
Ada pula diantara jama’ah haji yang mengusap-usapkan surbannya sambil menangis di pintu gerbang masjid Ali bin Abi Thalib. Ada pula yang membawa pulang pasir gua Hira’ untuk obat katanya. Bahkan ada yang membawa pulang krikil sisa untuk melempar jumrah.Biar kaya katanya. 
            Seorang yang akan beribadah haji semestinya mereka itu memelajari ilmu-ilmu agama yang memadai. Sebab ibadah haji merupakan ibadah mahdhah yang ukuran, cara, waktu, dan jumlahnya telah ditentukan. Karena kurang pengetahuan ilmu-ilmu agama, ada jama’ah berlama-lama di bawah talang mas, bahkan menggunting kain kiswah Ka’bah.
            Ibadah haji memerlukan ketahanan fisik. Kecuali perjalanan jauh, dalam melaksanakan serangkaian ibadah ini memerlukan fisik yang prima seperti melaksanakan thowaf, berjama’ah di Masjidil Haram, melempar jamarat, sa’i, maupun mabit. Dalam hal ini perlu disyukuri bahwa Pemerintah kita telah memerhatikan kesehatan para jama’ah haji, sejak persiapan di tanah air, selama di Saudi Arabia, dan sampai pulang ke tanah air.
            Perjalanan haji memerlukan bekal yang cukup. Untuk memeroleh bekal ini, ada yang  menjual sawah/kebun, menambung dari hasil pertanian, atau biaya dari sponsor/lembaga tertentu. Dengan niat yang kuat, usaha, dan do’a ternyata Allah swt memberikan jalan keluar dan kemudahan untuk memeroleh bekal itu. 
Bersambung

Lasa Hs.