Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Senin, 05 Agustus 2019

PERGILAH SELAGI MAMPU


Ibadah haji merupakan dambaan hampir setiap muslim. Kecuali untuk memenuhi kewajiban sebagai seorang muslim, ibadah ini juga memiliki nilai rohaniah yang tak ditemukan pada ibadah lain.
            Ibadah yang diwajibkan seumur hidup sekali itu, memang cukup berat. Oleh karena itu diperlukan kemampuan iman, ilmu agama Islam, fisik, dan harta. Dalam hal ini Allah swt berfirman yang artinya :”Mengerjakan haji itu merupakan kewajiban manusia kepada Allah swt, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan menuju Baitullah. Siapa yang menginkari (kewajiban haji), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak membutuhkan sesuatu) dari semesta alam “(Q.S. Ali Imran : 97).
            Kemampuan iman sangat diperlukan karena iman merupakan fondasi segala aktivitas seorang muslim. Tanpa iman yang kokoh, maka bisa merusak tujuan haji itu sendiri dan yang bersangkutan tidak mendapat apa-apa. Betapa banyak saudara-saudara kita yang sepulang haji pakai topi putih, bersorban, dan berpakaian ala orang Arab. Dikira itulah tanda-anda sudah haji.Namun bila tak dipanggil Pak Haji atau Bu Hajah malah marah-marah.
Ada pula diantara jama’ah haji yang mengusap-usapkan surbannya sambil menangis di pintu gerbang masjid Ali bin Abi Thalib. Ada pula yang membawa pulang pasir gua Hira’ untuk obat katanya. Bahkan ada yang membawa pulang krikil sisa untuk melempar jumrah.Biar kaya katanya. 
            Seorang yang akan beribadah haji semestinya mereka itu memelajari ilmu-ilmu agama yang memadai. Sebab ibadah haji merupakan ibadah mahdhah yang ukuran, cara, waktu, dan jumlahnya telah ditentukan. Karena kurang pengetahuan ilmu-ilmu agama, ada jama’ah berlama-lama di bawah talang mas, bahkan menggunting kain kiswah Ka’bah.
            Ibadah haji memerlukan ketahanan fisik. Kecuali perjalanan jauh, dalam melaksanakan serangkaian ibadah ini memerlukan fisik yang prima seperti melaksanakan thowaf, berjama’ah di Masjidil Haram, melempar jamarat, sa’i, maupun mabit. Dalam hal ini perlu disyukuri bahwa Pemerintah kita telah memerhatikan kesehatan para jama’ah haji, sejak persiapan di tanah air, selama di Saudi Arabia, dan sampai pulang ke tanah air.
            Perjalanan haji memerlukan bekal yang cukup. Untuk memeroleh bekal ini, ada yang  menjual sawah/kebun, menambung dari hasil pertanian, atau biaya dari sponsor/lembaga tertentu. Dengan niat yang kuat, usaha, dan do’a ternyata Allah swt memberikan jalan keluar dan kemudahan untuk memeroleh bekal itu. 
Bersambung

Lasa Hs.

0 komentar:

Posting Komentar