Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Minggu, 11 Agustus 2019

PERGILAN SELAGI MAMPU : Tulisan 3



Ibadah haji ini merupakan rukun Islam yang terakhir. Sebab untuk melaksanakan ibadah yang satu ini diperlukan iman, kemampuan ilmu, kemampuan mental, kemampuan tenaga, dan kemampuan harta.
Di tanah suci  seharusnya waktunya  untuk betul-betul ibadah dan memurnikan akidah. Namun tidak sedikit diantara para jama’ah haji   justru melakukan kegiatan yang tidak dicontohkan Rasulullah saw , misalnya berlama-lama di bawah pancuran emas, mengambil pasir di Gua Hira’, memberi makan burung dara.

Talang emas
Memang Hajar Aswad dan talang emas memiliki sejarah yang unik. Keunikan ini tentunya tidak harus disembah-sembah atau dimintai berkah. Hajar Aswad adalah batu yang tertanam di pojok selatan Ka’bah pada ketinggian sekitar 1,10 meter dari tanah, panjang 25 cm dan lebar 17 cm. Dulu, batu ini merupakan satu bongkah, tetapi sekarang menjadi berkeping-keping karena pernah pecah. Batu ini pecah di jaman Qaramithah yakni sekte Syi’ah Islailliyah al-Bathiniyyah dari pengikut Abu Thahir Al Qaramithah yang mencabut Hajar Aswad dan dibawa ke Isha’ pada tahun 319 H. Kemudian pada tahun 339  H Hajar Aswad itu dikembalikan lagi. Gugusan yang terbesar berukuran sebuah kurma dan tertanam di batu besar lain yang dikelilingi oleh ikatan perak. Batu inilah yang disunatkan untuk dicium dan bukan untuk disembah, dikeramatkan, atau dimintai berkah.    
Adapun talang emas yang terletak di atas Ka’bah itu bertepatan di atas Hijir Ismail. Talang ini sebenarnya dibuat untuk memperlancar peredaran air ketika ada pencucian Ka’bah atau pada musim hujan. Orang Quraisylah yang pertama kali membuatnya bersamaan dibangunnya atas Ka’bah. Talang ini dibuat mengitari atap menempel pada pangkal dinding pagar. Pada tahun 1278 H., talang ini diperbaharui oleh Sultan Abdul Majid Khan Al Ustmani. Kemudian pada tahun 1417 M diperbaharui lagi oleh Raja Fahd bin Abdul Aziz dengan ukuran yang sama seperti sebelumnya. Sementara itu di bagian atasnya ditanam paku-paku kecil agar tidak dihinggapi burung. Sebab di sekitar Masjid Nabawi  Madinah dan Masjidil Haram  Makkah terdapat banyak burung dara.
Talang ini memang dilapisi emas yang rata-rata orang Indonesia menyebutnya talang emas.
Dalam melaksanakan ibadah haji harus betul-betul memurnikan akidah agar tidak campur dengan kemusyrikan maupun katakaburan. Kita berdo’a hanya kepada Allah, bukan kepada yang lain.

Mengambil Pasir di Gua Hira’
            Di gua ini Rasulullah Muhamad saw menerima ayat Al Quran pertama kali yakni awal S. Al ‘Alaq.  Gua ini terletak di lereng Jabal Nur (Gunung Cahaya) di ketnggian 200 meter, terletak sekitar 11 km dari Makkah dan dulu sering dikunjungi Nabi Muhammad saw untuk berkahlwat. Gua ini hanya cukup 3 orang untuk ukuran orang Indonesia, dan di sekitarnya masih terdapat kera dan kambing gunung.
Mulut gua ini menghadap ke utara yang bisa dicapai dengan melewati celah yang terdapat di antara dua batu yang lebarnya 60 cm dan panjangnya 3 meter. Di  muka gua itu terdapat pintu alami . Luas gua itu cukup untuk shalat dua orang, yang stau berdiri di belakang yang lain. Di sebelah kanan terdapat ruangan yang luasnya cukup untuk seorang shalat sambil duduk.
            Diantara para jama’ah haji ada yang mengambil pasirnya dibawa pulang. Katanya untuk obat dan biar tercapai cita-citanya. Perilaku seperti inilah yang per dihindarkan agar ibadah kita tidak tercampur dengan hal-hal yang mengotori niat ibadah haji.  

Selesai

Lasa Hs

0 komentar:

Posting Komentar