Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Minggu, 22 September 2019

ANIS, Muhammad Yunus (3 Mei 1903 – 14 April 1979)


ANIS, Muhammad Yunus (3 Mei 1903 – 14 April 1979)  adalah putra Haji Muhammad Anis dan ibu Siti Saudah binti H.Syu’aib. Haji Muhammad Anis adalah seorang Abdi Dalem Kraton Ngayogyokarto dan masih keturunan dari raja Brawijaya V.  Sejak kecil beliau telah mendapatkan pendidikan Alquran dan akhlak dari orang tua dan datuknya sendiri 
Putra Kauman Yogyakarta ini memeroleh pendidikan dari Sekolah Rakyat Muhammadiyah Yogyakarta, lalu Sekolah Al Atas, dan Sekolah Al Irsyad di Jakarta di bawah asuhan Syekh Ahmad Syurkati.
Muhammad Yunus Anis masuk persyarikatan Muhammadiyah tahun 1925. Ketika  belajar di Batavia (Jakarta) beliau telah menjadi Pengurus Cabang Muhammadiyah Batavia (1924 – 1926) dan merangkap Ketua Bagian Pustaka (sekarang Majelis Pustaka & Informasi).
Setelah itu,  beliau bertugas sebagai anak panah  Muhammadiyah ke berbagai daerah dan pernah tinggal di Kudus dan Bondowoso.
Ketika beliau menjadi Sekretaris Pengurus Besar Muhammadiyah sering keliling ke cabang dan ranting di Jawa dan luar Jawa. Pada saat  bertugas sebagai guru Muhammadiyah di Alabio Kalimantan Selatan, beliau sempat mendirikan sekolah yang diteruskan oleh Bakri Sujak. 
Kemudian  ketika  beliau melaksanakan tugas-tugas persyarikatan di Sumatera bersamaan itu pecah Perang Dunia II pada tahun 1939 – 1945. Hal ini juga memengaruhi pelaksanaan program persyarikatan.  
Beliau dikenal sebagai da’i yang komunikatif, humoris, dan menguasai  materi. HM Yunus Anis telah ikut membesarkan Muhammadiyah dengan perannya sebagai pengurus Cabang Muhammadiyah Cabang Jakarta (Batavia). Selama beberapa kali kepengurusan Pimpinan Pusat Muhammadiyah, beliau dipercaya duduk dalam berbagai posisi kepemimpinan. Pada masa kepemimpinan Ki Bagus Hadikusumo (1942 – 1953) , Yunus Anis dipercaya sebagai Sekretaris. Ketika A.R. St. Mansur sebagai Ketua PP Muhammadiyah (1953 – 1959), Yunus Anis menjabat sebagai Sekretaris Jendral. Kemudian pada periode 1959 – 1962, beliau dipercaya sebagai Ketua dan K.H. Badawi sebagai Wakil Ketua I . Pada kepemimpinan H.Ahmad Badawi sebagai Ketua (1962 – 1968) maka Yunus Anis dipercaya sebagai Penasehat bersama H. Muchtar dan Sutan Mansur.  
Yunus Anis memiliki andil besar dalam kelahiran Kepribadian Muhammadiyah. Dalam pidato iftitah Muktamar Muhammadiyah ke 35 di Jakarta tahun 1962, beliau menjelaskan tentang kedudukan dan sifat Muhammadiyah antara lain:
  1. Muhammadiyah adalah persyarikatan gerakan agama Islam yang memiliki bidang kemasyarakatan;
  2. Muhammadiyah yang selalu amar ma’ruf nahi munkar untuk kebaikan masyarakat seluruhnya;
  3. Muhammadiyah menghargai dan dapat bekerjasama dengan segala pihak, organisasi dan partai apa saja namanya, yang menghargai dan memaklumi cita-cita Muhammadiyah.
 Semasa kepemimpinannya , beliau telah mengorbitkan  sejumlah nama wanita untuk duduk dalam kepengurusan Muhammadiyah yakni; Prof. Baroroh Baried Ishom, Siti Aminah Dahlan, Siti Zainab Damiri, Siti Badilah Zuber, dan Siti Aisyah Hilal.
            Di tengah-tengah kesibukannya sebagai tokoh Muhammadiyah dan Imam Tentara, beliau meluangkan waktu untuk menulis buku. Diantara buku-buku yang ditulisnya adalah: 1) Kitab Shiyam; 2) Kitab Takbir (tulisan Arab); 3) Risalah Siti ‘Aisyah (berbahasa Jawa berhuruf Arab/Pegon); 4) Risalah Shalat Ied di Tanah Lapang; 5) Sejarah Maulid Nabi Muhammad s.a.w.6) Pelajaran Propaganda; 7) Pelajaran Administrasi Muhammadiyah; 8) Manasik Haji; 9) Riwayat Hidup H. Ahmad Badawi; 10) Riwayat Hidup H. Fakhruddin; 11) Wanita Berbicara dengan bahasa Alquran; 12) Riwayat Hidup Nyai Dahlan; 13) Bahasa Arab Sehari-hari
(Lasa Hs)

MANAJEMEN STRATEGIS



                                        Tulisan - 2

Apabila diperhatikan secara seksama, fungsi dan kegiatan berbagai macam manajemen itu hampir sama.  Dalam manajemen strategis ini fungsi manajemen dibuat sederhana yakni ; perencanaan strategis, implementasi, dan evaluasi. Tentunya dalam pelaksanaan ketiga fungsi ini memerlukan kepemimpinan, penganggaran, pelaporan, koordinasi, dan lainnya.
a.Perencanaan strategis
Untuk mencapai tujuan jangka panjang, jangka menengah, dan jangka pendek diperlukan perencanaan strategis. Perencanaan strategis merupakan pemilihan sekumpulan kegiatan dan pemutusan selanjutnya apa yang harus dilakukan, kapan, bagaimana, dan oleh siapa (Handoko, 1993: 78 dalam Lasa Hs, 2001: 18)
Perencanaan merupakan tindakan awal untuk mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal untuk dikelola sedemikian rupa sebagai dasar pembuatan keputusan yang strategis.
Perencanaan strategis ini penting untuk dibuat. Sebab perencanaan ini merupakan langkah yang mendasari dan mendahului fungsi-fungsi manajemen yang lain. Perencanaan yang baik akan memberikan arah kegiatan, menjadi standar kerja, memberikan kerangka pemersatu, dan membantu memperkirakan peluang.
b.Implementasi
Implementasi merupakan realisasi dan pelaksanaan keputusan dan kebijaksanaan yang telah diputuskan bersama yang dalam pelaksanaannya banyak kendala. Oleh karena itu sebelum pelaksanaan kegiatan perlu dipersiapkan sumber daya manusia, anggaran yang memadai, sistem yang akan digunakan, dan media/peralatan yang diperlukan, serta perlu diantisipasi faktor-faktor nonteknis.
Keberhasilan implementasi keputusan strategis sangat dipengaruhi oleh banyak faktor antara lain; kemampuan organisasi/perpustakaan, alokasi sumber daya , komitmen terhadap strategi, dukungan administrasi dan kepemimpinan.Di samping itu perlu disadari bahwa keberhasilan perpustakaan juga dipengaruhi sejauh mana kemampuan perpustakaan untuk mengembangkan kompetensi perpustakaan.



c.Evaluasi 
Implementasi dan evaluasi strategis merupakan dua komponen penting dalam manajemen strategis. Proses implementasi dan evaluasi ini akan efektif apabila ditunjang oleh tujuan dan standar perpustakaan yang jelas. Dalam hal ini Baseman (1989) menyatakan bahwa seluruh fungsi manajemen yang meliputi perencanaan, pengawasan, pengorganisasian, komunikasi dan inovasi dapat diterapkan pada proses implemenasi dan evaluasi
Selesai

Lasa Hs











Selasa, 17 September 2019

AMRULLAH, Abdul Karim (Haji Rasul) (10 Februari 1879 – 2 Juni 1945)


Ulama besar Sumatera Barat ini adalah putra Syekh Muhammad Amrullah dan ibu Andung Tarawas. Waktu kecil bernama Muhammad Rasul, dan setelah menunaikan ibadah  haji bernama Haji Abdul Karim Amrullah. Muhammad Rasul  mula-mula belajar bahasa Arab kepada ayahnya sendiri, belajar fikih dan tafsir kepada Sultan Muhammad Yusuf. Kemudian pada umur 16 tahun , ia belajar ke Makkah selama 7 (tujuh) tahun belajar kepada Syekh Ahmad Khatib al Minangkabawi yang saat itu beliau menjadi imam Masjidil Haram. Kebetulan saat itu ada dua putra Minang yang belajar kepada Syekh Khatib yakni Muhammad Jamil Jambek dan Thaher Jalaluddin.
Kecuali belajar kepada Syekh Khatib, Muhammad  Rasul juga berguru kepada ulama-ulama terkenal saat itu antara lain Syekh Abdullah Jamidin, Syekh Usman Serawak, Syekh Umar Bajened, Syekh Saleh Bafadal, Syekh Hamid Jeddan, dan Syekh Sa’id Yaman. Beliau pulang ke tanah air tahun 1901.
Beliau terpengaruh pemikiran Muhammad Abduh, Muhammad Rasyid Ridha, maupun Syekh Jamaluddin Al Afghani yang merupakan ulama-ulama pembaharuan. Maka setiba di tanah air, Haji Rasul diminta menjadi perwakilan majalah al Imam di Sumaatera. Majalah ini sebenarnya merupakan perpanjangan tangan majalah al ‘Urwatul Wustha. Majalah al Imam ini terbit di Singapura pimpinan Syekh Thaher Jalaluddin.  
            Di samping itu, bersama dengan Syekh Haji Abdullah Ahmad menerbitkan majalah al Munir yang terbit pertama kali tahun 1911.Pendiri lembaga pendidikan Sumatera Thawalib ini pada tahun 1919 , bersama Syekh H. Abdullah Ahmad, dan Syekh Muhammad Jamil Jambek  mendirikan Persatuan Guru Agama Islam (PGAI). Organisasi ini disahkan sebagai suatu badan hukum oleh Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1921.
            Ketika beliau mengadakan lawatan ke Jawa tahun 1925, beliau bertemu dengan HOS Tjokroaminoto dan KH. Ahmad Dahlan. Dari keduanya, beliau berkesimpulan bahwa pengembangan Islam perlu diorganisir secara baik. Maka perkumpulan Sendi Aman Tiang Selamat  yang pernah dibentuknya itu lalu diganti menjadi Muhammadiyah cabang Sungai  Batang, kampungnya sendiri. Kemudian sejak 1912 beliau pindah dari Sungai Batang ke Padang Panjang. Pada tahun itulah secara resmi berdiri persyarikatan Muhammadiyah pertama kali di Sumatera Barat, dan dari sinilah Muhammadiyah dikembangkan oleh murid-murid beliau ke seluruh Sumatera.  
            Kegiatannya semakin nyata dalam pengembangan Muhammadiyah di Sumatera Barat.  Sebagian besar keluarganya menjadi aktifis dan tokoh Muhammadiyah, seperti Yusuf  Amrullah (adiknya) menjadi Ketua Muhammadiyah di Maninjau, Hamka (putranya) menjadi Konsul Muhammadiyah di Medan.A.R. Sutan Mansur (murid dan menantunya) menjadi Konsul Muhammadiyah di Minangkabau dan Ketua PP Muhammadiyah periode 1950 – 1953.
Pada tahun 1926, beliau mendapat anugerah Doktor Honoris Causa dari Kongres Islam Se Dunia di Kairo. Penganugerahan ini bermula ketika beliau menyampaikan pemikirannya dalam suatu seminar di Kairo yang membahas penghapusan Kekhalifahan Islamiyah di Turki oleh Mustofa Kamal itu.
 Namun di satu sisi dengan majunya dunia pendidikan yang dikembangkannya pemerintah Belanda nampaknya tidak senang terhadap perkembangan pendidikan ini. Maka oleh Belanda, beliau diasingkan ke Sukabumi Jawa Barat pada tahun 1941 M selama satu tahun. Lalu pada masa pendudukan Jepang 1942, beliau dipindahkan ke Jakarta sampai akhir hayatnya dalam usia 66 tahun dan dimakamkan di Pemakaman Umum Karet Jakarta.
Sebagai ulama besar, Haji Rasul meninggalkan karya-karya; 1) ‘Amdah al Anam fi ‘ilm al Kalam (1908); 2) Sullam al Ushul (tentang Ushul Fiqh, 1914); 3) al ifshah (1919); 4) al Burhan (1922); 5) an Nida’ (1929); 6) al Faraid (1932); 7) al Kawakib ad Durriyah (1940; 8) Pedoman Guru (1930); 9) al Bashair (1938); 10) Kitabur Rahmah (1922).
(Lasa Hs).

MANAJEMEN STRATEGIS


MANAJEMEN STRATEGIS
                                                Tulisan - 1         

          Istilah strategis ini sering digunakan oleh kalangan militer. Kata ini berasal dari bahasa Yunani yang berarti berpikir (to think). Maka strategi dalam militer berarti cara menggunakan akal untuk memeroleh kemenangan dalam peperangan atau dalam mengatasi konflik. Maka proses manajemen strategis mempunyai 3 dimensi, yakni perencanaan strategis, implementasi, dan evaluasi. Dalam penyusunan perencanaan strategis ini harus didasarkan pada visi dan misi organisasi/perpustakaan, filosofi, kebijakan, tujuan, dan metode pencapaian tujuan. Sedangkan implementasi dan evaluasi strategis mencakup variasi keputusan manajerial, struktur organisasi, gaya kepemimpinan, sistem informasi manajemen dan sistem evaluasi.
          Lambannya pengembangan perpustakaan di negeri ini banyak faktor penyebabnya. Salah satu faktor penghambat adalah sistem manajerial. Fakta lapangan menunjukkan bahwa beberapa perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan sekolah, dan perpustakaan daerah, kabupaten/kota dikendalikan oleh orang yang tidak memiliki pengetahuan yang memadai tentang perpustakaan dan tidak menguasai manajerial. Maka tidak heran sebagian besar perpustakaan kita asal jalan. Perpustakaan tidak tutup saja sudah untung. Masih ada nafas katanya. Ini berarti masih ada tanda-tanda kehidupan. Lumayan masih hidup,meskipun hidup segan mati tak mau.
          Manajemen strategis sebenarnya menawarkan perubahan mendasar dan menyeluruh dengan tetap memerhatikan faktor internal dan eksternal. Manajemen perpustakaan selama ini kurang memerhatikan faktor sosial, ekonomi, kultur, ekonomi, perkembangan teknologi informasi, maupun pengembangan sumber daya manusia.
            Apabila dicermati, maka manajemen strategis ini memiliki karakteristik tersendiri bila dibanding dengan manajemen yang lain. Karakteristik manajemen strategis ini antara lain bahwa manajemen ini merupakan proses, memenej kompetensi, meningkatkan efisiensi dan efektifitas, dan berorientasi pada tujuan jangka panjang (Lasa Hs, 2001:16)
a.Suatu proses
Dalam konteks ini, pimpinan perpustakaan harus mampu mengidentifikasi, memilih, dan mengimplementasikan strategi yang paling cocok untuk perpustakaan yang dipimpinnya. Oleh karena itu kepala perpustakaan harus memahami kondisi internal dan eksternal perpustakaan tersebut. Dari ciri ini, kiranya sulit bagi orang-orang yang tidak mengerti perpustakaan untuk memimpin perpustakaan dengan baik apalagi dengan manajemen strategis ini. Demikian pula kepala perpustakaan yang berasal dari luar kultur kepustakawanan , kiranya akan mengalami kesulitan dalam mengembangkan perpustakaannya apabila tidak memahami kondisi internal maupun kondisi eksternal.
b.Memenej kompetensi
Suatu strategi dapat dikatakan efektif apabila kepala perpustakaan mampu mengoptimalkan pemberdayaan sumber daya manusia dan sumber daya lain yang dimiliki perpustakaannya. Kelihaian pemberdayaan sumber-sumber inilah yang menjadi tolok ukur keberhasilan kepala perpustakaan. Kiranya belum bisa menjadi parameter dengan sederetan gelar dan tingginya pangkat jabatan akan mampu memenej perpustakaan dengan baik. Sebab sangat mungkin mereka tidak bisa mengidentifikasi, dan tidak mampu mengiplementasikan sumber daya-sumber daya yang dimiliki. Kiranya juga mustahil mampu melakukan evaluasi kinerja bawahan, karena kepala tidak memiliki kompetensi kepustakawanan dan tidak tau manajemen perpustakaan. 
c.Meningkatkan efisiensi dan efektivitas
Dalam upaya mengembangkan perpustakaan harus selalu dilihat dari aspek efisiensi dan efektivitas. Efisiensi dalam hal ini berarti melakukan pekerjaan dengan benar (doing thing right) yang dalam implementasinya berkaitan  dengan aktifitas perpustakaan .Sedangkan efektivitas dalam hal ini berarti melakukan pekerjaan yang benar (doing the right things). Impementasi efektivitas ini berkaitan dengan kinerja perpustakaan. Di samping itu juga dapat dilihat keterkaitan perpustakaan dengan lingkungan eksternal secara global.    
d.Berorientasi pada tujuan jangka panjang
Untuk memberikan arah perpustakaan dalam mencapai tujuan jangka panjang diperlukan kepala perpustakaan yang visioner. Oleh karena itu kepala perpustakaan harus mampu menangkap fenomena-fenomena saat ini lalu diprediksi sedemikian rupa dalam mengantisipasi masa depan. Perubahan politik, perkembangan ekonomi, dan kemajuan teknologi informasi sangat  besar pengaruhnya terhadap kinerja perpustakaan.
Bersambung
Lasa Hs

BIODATA Drs.Lasa Hs, M.Si




Lasa Hs,
Tempat, tanggal lahir   : Boyolali, 1 Januari 1947
Alamat                                    : Nologaten No. 33 RT 1 RW 4 Caturtunggal
                                                   Depok Sleman Yogyakarta, HP 08179401967
            Alamat kantor             : Perpustakaan UMY
                                                   Jl. Brawijaya Geblakan Tamantirto Kasihan Bantul
                                                    Yogyakarta
            Isteri                            : Hj. Siti Jaryati
            Anak-anak                   :
1.      Retno Nurul ‘Aini Apth
2.      drh.Nur Hidayatullah
3.      Tsulutsi Nurul Qoimah Ahli Gizi
4.      drh.Iqbal Nur Rahmatullah
Menantu-menantu:
1.      Devi Tofiqurrahman, STP
2.      drh.Noor Asy-Syifa
3.       Irfan Apriyanto, ST
Cucu-cucu:
            1.Akbar Nasrullah Tofiqurrahaman
            2. Hakim Aziz Tofiqurrahman
            3. Firna
            4. Elja  Widayadana Al Fawwaz
            5. Hamiz
            6. Fariha Luthfiana ‘Izzatun Nisa’
            7. Faiq
Pendidikan                   :
1.Sekolah Rakyat Islam  Nogosari Boyolali
            2. Madrasah Tsanawiyah Al Islam Boyolali
            3. Madrasah ‘Aliyah Al Islam Surakarta
            4. Fakuttas Sastra & Kebudayaan (Sekarang
    (FIB) UGM
 5.Manajamen Perpustakaan Pascasarjana UGM
 6. Diklat Perpustakaan BPAD DIY, UGM, Kopertis V, ITB, UI
Pengalaman :
1.      Kepala Perpustakaan Fak.Teknlogi Pertanian UGM
(1972 – 2006)
2.      Kepala Perpustakaan Institut Pertanian (INTAN)
Yogyakarta (1986 – 2005)
3.       Kepala Perpustakaan Akademi Arsitektur YKPN
(1975 – 1985)
4.      Kepala Perpustakaan Institut Pertanian (INTAN) Yogyakarta
(1983 – 2005)
5.      Kepala Bidang Layanan Perpustakaan UGM
(Nopember 2006 – 31 Januari 2012)

            Mengajar/tutor
1.      Dosen tidak tetap D3 Agroindustri Fakultas Teknologi
Pertanian UGM
2.      Dosen tidak tetap Fakultas Non Gelar FT UGM
3.      Dosen tidak tetap D3 Manajemen Informasi dan
Perpustakaan FISIPOL UGM
4.      Dosen tidak tetap Akademi Perdagangan Yogyakarta
5.      Dosen tidak tetap S1 Institut Pertanian YPWT Yogyakarta
6.      Dosen tidak tetap D3, S1, S2 Fakultas Adab UIN Sunan Kalijaga
7.      Dosen/penulis modul Ilmu Perpustakaan UT Jakarta
8.      Tutor Ilmu Perpustakaan UT DIY
9.      Tutor Ilmu Perpustakaan UT Surakarta
10.  Tutor Diklat Papustakgama
11.  Penatar Diklat Perpustaan BPAD DIY, UGM, IPI DIY,Pengelola Perpustakaan MTs dan ‘Aliyah (Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, NTB, Lampung, Kalimantan Selatan)
Tim Penilai
            1.Anggota Tim Penilai Jabatan Fungsional Pustakawan UGM
            2.Anggota Tim Penilai Jabatan Fungsional Pustakawan UII
            3.Anggota Tim Penilai Jabatan Fungsional Pustakawan UPN
               Yogyakarta
6.      Asesor Prodi Ilmu Perpustakaan BAN PT Dikti (2012 -2015)
7.      Anggota Tim Penilai/Juri berbagai lomba kepustakawanan DIY
Pengalaman organisasi
1.      Ketua Pelajar Islam Indonesia/PII Ranting Nogosari Boyolali
2.      Anggota HMI Korkom Fak.Sastra & Kebudayaan UGM
3.      Wakil Ketua Muhammadiyah Ranting Caturtunggal Timur
Depok Sleman Yogyakarta
4.      Ketua Pemuda Muhammadiyah Cabang Depok Sleman
Yogyakarta
5.      Pengurus Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Indonesia
(FPPTI) DIY
6.      Pengurus Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) DIY
7.      Pengurus Forum Kerjasama Perpustakaan Perguruan Tinggi 
Negeri DIY
8.      Pendiri Himpunan  Perpustakaan Sekolah Muhammadiyah
(Himpusma) Yogyakarta
            Redaksional
1.      Redaksi Majalah Al Fikr Al Islam Surakarta
2.      Redaksi Buletin Al Fata Yogyakarta
3.      Redaksi Agritech FTP UGM
4.      Redaksi Gema Mahasiswa INTAN
5.      Reviewer Buletin Ilmu Perpustakaan & Informas
6.      Reviewer Unilib UII

Makalah
Makalah seminar, bedah buku, workshop disampaikan di beberapa perpustakaan antara lain; UGM, UII, UIN Sunan Kalijaga, UAD, UNISA, UPN Veteran, UNY, Institut Pertanian (INTAN) Yogyakarta, UMY, UAJY, BPAD, Perpustakaan Kota Yogyakarta, BKKBN DIY, PDM DIY, PP Muhammadiyah,  BPAD Jateng, BKKBN Jateng, UNIKA Soegijopranoto Semarang, IAIN Walisongo Semarang, IKIP PGRI Semarang, UMS, UNS, Univ.Slamet Riyadi, IAIN Palangkaraya, BPAD Kalimantan Selatan,  IAIN Surakarta.
Artikel-artikelnya dimuat di media cetak yang terbit di Yogyakarta, Surakarta, Semarang, Jakarta. 
Buku & Naskah Buku
  1. Kamus Istilah Perpustakaan (Kanisius, 1990, revisi, 1994)
  2. Kamus Istilah Perpustakaan (revisi, Gadjah Mada University Press,1998)
  3. Kamus Kepustakawanan Indonesia (revisi, Ombak, 2009)
  4. Kamus Kepustakawanan Indonesia (revisi, Ghraha Ilmu, 2017)
  5. Pedoman Katalogisasi Perpustakaan Amal Usaha Muhammadiyah (MPI, PP Muhammadiyah, 1997)
  6. Pedoman Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah (MPI PP Muhammadiyah, 198)
  7. Keterkaitan Antara Sejarah, Agama, Informasi (karya bersama, MPI PP Muhammadiyah, 1998)
  8. Ensiklopedi Muhammadiyah (karya bersama, Rajagrafindo)
  9. 100 (Seratus) Tokoh Muhammadiyah Yang Menginspirasi (karya bersama, MPI PP Muhammadiyah, 2015)
  10. Amal Usaha Muhammadiyah (karya bersama, MPI PP Muhammadiyah, 2015)
  11. Manajeman dan Standardisasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah (MPI PP Muhammadiyah, 2017)
  12. Manajemen Perpustakaan Sekolah/Madrasah Muhammadiyah (MPI PDM Kota Yogyakarta, 2015)
  13. Pengelolaan Terbitan Berkala (Kanisius, 1998)
  14. Jenis-Jenis Layanan Perpustakaan (Gadjah Mada University Press,1998)
  15. Petunjuk Praktis Pengelolaan Perpustakaan Masjid (Gadjah Mada University Press, 1998)
  16. Membina Perpustakaan Sekolah/Madrasah Islam (Adicita Nusantara, 2005)
  17. Manajemen Perpustakaan (Gama Media, 2005, 2009)
  18. Pedoman Perpustakaan Madrasah (kemenag RI, 1999)
  19. Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Sekolah/Madrasah (karya bersama, FKBA, 2000)
  20. Perpustakaan dan Kebangkitan Bangsa (karya bersama, LPPI, 2008)
  21. Perpustakaan Menjawab Tantangan Jaman (karya bersama, Unika Soegijopranoto Semarang, 1997)
  22. Perpustakaan dalam Dinamika Pndidikan dan Kemasyarakatan (karya bersama, Unika Soegijopranata, 1998)
  23.  Menuju Masyarakat Antikorupsi ( karya besama, Kmenterian Komunikasi & Informasi, 2005)
  24. Manajemen Perpustakaan Sekolah (Pinus, 2007)
  25. Menaklukan Redaktur (Pinus, 2006)
  26. Menulis itu Segampang Ngomong (Pinus, 2006)
  27. Muslim yang Dicintai Allah (Pinus, 2007)
  28.  Menuju Mahigai Rumah Tangga(Pinus,2002)
  29. Panduan Pepustakaan Sekolah/Madrasah Muhammadiyah; Kata Pengantar Prof. Dr. Yahya  Muhaimn (MPI PP Muhammadiyah, 2008)
  30. Surga Ikhlas  (Galang Press, 2009)
  31. Menulis Artikel dan Literatur Sekunder (Universitas Terbuka, 2013, 2018)
  32. Manajemen Perpustakaan Sekolah (Ombak, 2014, 2017)
  33. Manajemen Sumber Daya Manusia Perpustakaan (Ombak, 2017)
  34. Dasar-Dasar Ilmu Perpustakaan (Karya bersama,Fak. Adab  Budaya , 1998)
  35. Profesi Pustakawan; Tantangan dan Harapan. Pidato Pengukuhan sebagai Pustakawan Utama UGM, tanggal 6 September 2007)
  36. Menuju  Keluarga Bahagia (Pinus, 2011)
  37. Catatan Sebuah Langkah;Pidato Pelepasaan Purna Tugas di Perpustakaan UGM tanggal 31 Januari 2012)
  38. Pegaruh Kepemimpinan dan Manajerial Pustakawan dan Nonpustakawan Terhadap Kinerja Perpustakaan PTN DIY, Tesis S2 Manajemen Perpustakaan Pascasarjana UGM 2002.
  39.  Kalam dan Hikmah (karya bersama, Suara Aisyiyah,2015)
  40. Penyelenggaraan Perpustakaan Desa (naskah, unpublish, 1995)
  41. Penyelenggaraan Seminar (naskah, unpublish, 1996)
  42. Di Balik Penantian (naskah, unpublish, 2010)
  43. Sukses Tidak Harus Ber NEM tinggi (naskah, unpublish, 2010)
  44. Tehnik Penulisan Laporan Kerja Praktek Bidang Perpustakaan (naskah,unpublish,2003)
  45. Pengantar Dokumentasi (naskah buku, unpublish, 2003)
  46. Bimbingan Pemakai Perpustakaan (naskah buku, unpulish, 2002)
  47. Fenomena Kepustakawanan Indonesia (naska buku, unpublish, 2016)
  48. Menyikapi Duka dan Derita (nasah buku, unpublish,2006)
  49. Manajemen dan Aneka Layanan Perpustakaan(naskah buku, unpublish, 2018)
  50. Percik Pemikiran Tokoh Muhammadiyah (karya bersama,MPI PP Muhammadiyah, 2018)
  51. Pustakawan yang Komunikatif (tulisan bersama Roh Wahyu , unpublish, 2018)

Sekarang
1.      Kepala Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta
2.      Ketua Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah/FPPTMA
3.      Reviewer Berkala Ilmu Perpustakaan & Informasi Perpustakaan UGM
4.      Reviewer UNILIB Direktorat Perpustakaan UII
5.      Anggota Pengurus MPI PP Muhammadiyah



Academic Cyber Crime


Perkembangan teknologi informasi berbasis komputer dan jaringan internet sangat pesat di tengah masyarakat. Perkembangan ini terjadi hampir di seluruh belahan dunia yang berdampak pada mengglobalnya dunia bisnis. Seiring dengan pesatnya perkembangan bidang teknologi informatika dengan jaringan internet, menghadirkan dunia kedua yakni cyber space. Oknum yang tidak bertanggung jawab menggunakan hal ini untuk mencari keuntungan. Mereka tidak segan-segan melakukan kejahatan dunia maya dalam bidang akademik untuk mengeruk keuntungan. Beberapa Kasus kejahatan akademik yang ditemukan di Indonesia antara lain plagiat, penerbit predator, konferensi palsu. Hal ini tentu sangat melukai dunia pendidikan. Paper ini membahas mengenai bentuk-bentuk cyber crime atau kejahatan dunia maya dalam dunia pendidikan serta membahas peran pustakawan dalam menghadapi hal tersebut.  Bentuk akademik Cyber Crime yang ditemukan di Indoensia antara lain: Plagiat, Penerbitan Predator, dan Konferensi Palsu. Pustakawan dapat melakukan tindakan pencegahan agar hal tersebut tidak terjadi.

Kata kunci:  Cyber crime, Pustakawan, Penerbitan Predator, Konferensi Palsu, Plagiat


Arda Putri W.

Kamis, 12 September 2019

MANAJEMEN PERUBAHAN : Tulisan- 5


               
a)   Budaya organisasi (corporate culture)
Budaya organisasi adalah seperangkat simbol-simbol yang ada dalam organisasi, profesi, industri, atau komunitas tertentu yang merupakan ciri khas, keunggulan, dan kebanggaan tersendiri. Karakteristik ini bisa dalam bentuk kedisiplinan tinggi, cara berpikir, dan perilaku yang merupakan ikatan kuat dalam komunitas. Budaya organisasi ini perlu dijaga dan dikembangkan terus menerus. Sebab kekhasan ini menjadi salah satu modal kompetisi dengan organisasi, lembaga, industri lain.
Banyak cara penumbuhan dan pengembangan budaya organisasi ini antara lain dengan; penanaman budaya kerja yang profesional, penanaman loyalitas, penumbuhan  motivasi, penanaman tanggung jawab pada korps, dan penanaman komitmen.
(1) Penanaman budaya kerja profesional
Keberhasilan seseorang, lembaga, organisasi, maupun profesi tertentu dapat dicapai berkat kerja keras secara profesional. Budaya kerja keras ini akan melahirkan produk (barang dan jasa) yang berkualitas. Produk ini merupakan keunggulan tersendiri. Keunggulan ini harus dicapai apabila profesi pustakawan tidak ingin tergusur dan terpinggirkan.
Sayang sebagia besar pustakawan kita takut kompetisi dengan indikator antara lain betapa sedikitnya peserta kompetisi pustakawan berprestasi yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Daerah/Nasional, FPPTI Daerah, maupun Lembaga Layanan Pendidikan Wilayah/Kemenristekdikti maupun kompetisi lainnya. Begitu juga media sosial kepustakaanan akan ramai bila ada yang ulang tahun.Tetapi apabila informasi tentang kejuaraan/kompetisi, mereka sakit gigi dan media sosial sepi tidak ada komentar. Cara dan perilaku ini kurang menunjukkan budaya kerja yang profesioal.
Alangkah indahnya bila pada diri pustakawan dan pegiat literasi ditanamkan jiwa berbakti dan berprestasi untuk memajukan negeri ini. Bukannya banyak ngrumpi tanpa prestasi.
(2) Penanaman loyalitas dan kebanggaan korps
Penanaman loyalitas ini penting bagi suatu profesi. Dengan adanya loyalitas tinggi, mereka yang tergabung dalam suatu profesi akan mencapai keunggulan dalam profesinya.
Dengan adanya kompetisi yang sehat akan dicapai keunggulan profesi pustakawan. Dalam mencapai keunggulan ini perlu ditanamkan sikap maju bersama dan tidak menjatuhkan satu pada yang lain. Sebab keberhasilan yang sesungguhnya itu pada hakekatnya terletak pada kebersamaan. Maju sendirian itu sebenarnya sebuah kegagalan, karena tidak adanya kerjasama. 
Mereka akan memupuk hubungan kerjasama yang baik dengan sesama rekan seprofesi, menjaga nama baik dan martabat rekan, serta memiliki kesetiaan dan penghargaan terhadap korps.
Sesama pustakawan perlu saling menjaga nama baik. Hendaknya dihindarkan pengungkapan kekurangan yang lain. Dalam hal ini Rasulullah Saw bersabda yang artinya:” Jika engkau akan mengungkapkan cela orang lain, maka lebih dulu ingatlah cela dirimu sendiri”. (H.R. Ar Rafiy). Bahkan dalam syair Arab dikatakan :”Apabila seseorang itu tidak tercoreng namanya/kehormatannya, atau harga dirinya, maka selendang apa pun yang dipakainya tetap kelihatan indah”.
(3) Penumbuhan motivasi
Motivasi sangat diperlukan dalam kehidupan manusia sebagai individu maupun sebagai kelompok. Dengan motivasi tinggi, orang bergairah dalam hidup dan kehidupannya. Sebaliknya, mereka yang memiliki motivasi rendah  akan memandang hidup dan profesinya tidak menggairahkan. Hal ini bisa terjadi karena tidak ada dorongan pada diri untuk hidup dan berkehidupan profesi lebih baik.
Orang-orang yang memiliki motivasi tinggi ingin selalu berprestasi. Mereka akan memacu dirinya untuk berkompetisi, berusaha untuk menjadi yang terdepan. Orang ini  selalu  berusaha menjadi orang yang pertama dalam bidang, lembaga, atau komunitasnya. Upaya ini disebut dengan achievement motivation atau needs for achievement.
(4) Penanaman tanggung jawab pada profesi
Etika profesi pustakawan yang dituangkan dalam Kode Etik Pustakawan Indonesia itu merupakan bentuk tanggung jawab seorang pustakawan terhadap profesinya. Dalam hal ini seorang pustakawan dituntut untuk bekerja sesuai standar dan mencapai prestasi setinggi-tingginya. Hal ini dimaksudkan untuk memajukan profesi, perpustakaan, dan ilmu perpustakaaan.
Ilmu pengetahuan, pengalaman, dan informasi yang dimiliki pustakawan hendaknya dimanfaatkan untuk kepentingan profesi, ilmu perpustakaan, organisasi kepustakawanan, perpustakaan, dan masyarakat pada umumnya. Firman Allah Swt dalam Q.S. Al Isra’ ayat 36 menyatakan yang artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabnya”.
          Demikian pula dalam hadis Nabi Muhammad Saw, bahwa beliau bersabda yang artinya: “ Tiada habisnya (berdiri) kedua telapak kaki seorang hamba (kelak) di hari kiamat sehingga selesai ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, ditanya tentang pengetahuannya untuk apa telah dilakukan dengan (ilmunya) itu, kemudian ditanya perihal hartanya dari mana diperoleh dan kemana dibelanjakan, dan ditanya dari jasmaninya untuk apa dihabiskan tenaganya” (H.R. Turmudzi)
          Dari ayat Al Quran dan hadis tersebut dapat dipahami bahwa apa yang diperbuat oleh manusia harus dipertanggungjawabkan. Ilmu pengetahuan dan keahlian pustakawan dimanfaatkan untuk apa. Apakah kegiatan kepustakawanan itu sekedar bernilai angka kredit, untuk kenaikan jabatan/pangkat/golongan, atau benar-benar ikhlas dan profesional.
(5) Penanaman komitmen
Komitmen adalah sikap menyesuaikan diri dengan manap pada sasaran yang akan dicapai seseorang atau komunitas Orang-orang yang komitmen tinggi akan memiliki inisiatif. Mereka yang memiliki inisiatif tinggi biasanya mampu membaca peluang, mampu memanfaatkan peluang, mampu mengembangkan peluang, bahkan mampu menciptakan peluang.
          Orang-orang yang memiliki inisiatif tinggi biasanya memiliki karakteristik :
(a)  Siap memanfaatkan peluang;
(b)  Mampu melampaui batas, persyaratan, atau standar yang ditetakan. Dengan kata lain, orang yang inisiatif akan melebihi rata-rata orang lain;
(c)  Dalam kondisi tertentu berani melawa arus dan sudah diperhitungkan tidak akan terbawa arus;
(d)  Berani melakukan petualangan dan besedia berkorban untuk orang lain;
(e)  Mengajak orang lain untuk memperbaiki langkah-langkah yang selama ini dianggap lemah,kurang, atau salah;
(f)   Siap menghadapi celoteh, gosip, isu, atau suara-suara miringatau suara sinis;
(g)  Sabar menghadapi sikap dengki dan iri atas keberhasilannya
Orang-orang yang memiliki inisiatif biasanya bersikap berani menanggung resiko. Orang-orang seperti ini akan memperoleh keberhasilan tersendiri. Sementara itu, mereka yang tidak punya inisiatif cenderung mudah menyerah, pasrah, dan kalah dalam bersaing. 
Suatu ketika Rasululla saw. berkumpul dengan para sahabat. Beliau berkisah tentang tiga orang yang masuk masjid untuk melaksanakan salat berjama’ah. Ketiga orang itu kebetulan datang terlambat dan masjid sudah penuh jama’ah. Melihat masjid sudah penuh, orang pertama segera pulang ke rumah untuk salat sendirian (munfarid). Orang kedua langsung masuk ke masjid untuk ikut salat jama’ah meskipun di serambi masjid. Sementara itu, orang ketiga memiliki inisiatif untuk menerobos saf-saf itu sambil mengamati barangkali ada saf yang masih kosong. Berkat inisiatif, keberanian, dan kemampuan membaca peluang serta memanfaatkany, maka orang ketiga ini mendapat tempat salat di saf depan. Kemudian Rasulullah saw. memberikan komentar bahwa orang pertama adalah gambaran orang yang putus asa.Orang kedua adalah tipe orang yang malu-mau karena tidak berani. Kemudian orang ketiga adalah tipe orang yang berinisiatif, penuh harapan, bersemangat, dan pantang menyerah.Maka orang ketiga inilah yang memeroleh apa yang diinginkan.   
c).Manajerial/perilaku manajerial
          Perubahan signifikan suatu perpustakaan dipengaruhi oleh model kepemimpinan perpustakaan. Kepemimpinan yang berhasil merupakan perkalian antara kredibilitas dan kemampuan (Dave Ulrich dalam Rohimah, 2017:5).Kredibilitas itu terkait dengan ciri-ciri yang ada pada seorang pemimpin (kepala perpustakaan) seperti kompetensi, sifat, nilai, kebiasaan , dan kepercayaan oleh kolega dan bawahannya. Kemudian yang dimaksud kemampuan disini adalah kemampuan kepala perpustakaan dalam menata dan melaksanakan visi, misi dan strategi pengembangan sumber daya manusia dan sumber daya lain dalam memajukan perpustakaan.
          Kepemimpinan transformatif membutuhkan pengarahan yang jelas dan keteladanan. Bukannya kepemimpinan yang bingung (tidak bisa mengarahkan) dan sekedar  DDP (datang duduk perintah). Kemampuan pengarahan dan keteladanan kadang lebih dahsyat dari sekedar banyak bicara.  Ketidakmampuan memberikan pengarahan akan membuat kebingungan anak buah. Ketiadaan keteladanan, akan mengurangi kewibawaan
          Dalam pandangan Islam, kepemimpinan yang baik adalah pemimpin (kepala perpustakaan) yang memiliki ciri-ciri; (1) jujur/shiddiq, atau dapat dipercaya. Yakni kepemimpinan yang bisa dipercaya oleh atasan maupun anak buah/masyarakat karena memiliki pengetahuan perpustakaan yang memadai; (2) komunikatif/tabligh, yakni mampu melakukan komunikasi, pendekatan ke atas maupun ke bawah, dan pihak lain. Kelancaran komunikasi ke segala arah ini akan memperlancar program-program perpustakaan.  (3) bertanggung jawab/amanah, yakni kepemimpinan yang mampu melaksanakan tugas kepemimpinan perpustakaan secara penuh. Bukan kepemimpinan sampingan dan sekedar bersinggah, asal beres. Kepemimpinan yang ala kadarnya ini bukan kepemimpinan yang bertanggung jawab.Kepemimpinan model ini tidak akan membawa kemajuan.  (4) cerdas/fathanah, yakni kepemimpinan yang mampu menggerakkan perpustakaan dengan inovasi-inovasi.  
Kepemimpinan/kepala perpustakaan yang memiliki sifat-sifat seperti inilah yang diharapkan mampu mengembangkan dan merubah kinerja perpustakaan. Perubahan itu terutama dalam layanan perpustakaan
Selesai

Lasa Hs