Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Minggu, 22 Desember 2019

Kisah Teladan di Hari Ibu



Uwais Al-Qarni merupakan salah satu pemuda yang hidup di zaman Rosulullah SAW, namun karena jarak antara tempat tinggalnya dengan Rosulullah sangatlah jauh, maka ia tak pernah sekalipun bertemu Beliau.

Di daerah ia tinggal, Uwais Al-Qarni dikenal sebagai pemuda yang ”rendahan”, dikarenakan ia mempunyai penyakit belang-belang dan bahkan cacat, sehingga banyak ornag yang tidak mau kenal dengannya. Walaupun demikian, Uwais Al-Qarni merupakan pemuda yang sangat taat kepada Ibunya. Setiap hari ia merawat ibunya yang sedang sakit dengan kasih sayangnya, setiap kemana-mana ibunya selalu ia gendong, ia suapi dan sebagainya.

Di sisi lain, ia sangat rindu sekali ingin bertemu Rosulullah SAW., bahkan setiap malam ia selalu meneteskan air mata saking pengennya bertemu dengan Rosulullah SAW. Karena merasa kasihan, maka ibunya mengijinkan ia pergi ke Makkah untuk bertemu Rosulullah SAW. Setelah beberapa lama berjalan menuju Makkah, ternyata Rosulullah sedang bepergian jauh, sehingga Uwais Al-Qarni pun tidak bisa bertemu dengan Rosulullah SAW.

Setelah beberapa hari di Makkah, Uwais Al-Qarni khawatir dengan keadaan Ibunya, sehingga ia putuskan untuk pulang, walaupun di hati Uwais Al-Qarni agak sedikit mengganjal karena belum bertemu Rosulullah SAW. Setelah Uwais Al-Qarni sampai rumah, kemudian Rosulullah baru tiba di Makkah, lalu Malaikat Jibril datang menemui Rosul dengan menyampaikan kabar bahwa “kemarin ada salah seorang pemuda dari yaman dengan ciri ciri begini begini da begini, maka ketika engkau bertemu dengannya, mintalah doa kepadanya. Karena doanya pasti dikabulkan oleh Allah SWT”.
Sampai akhir-akhir menjelang wafat, Rosul belum sepat bertemu dengan Uwais Al-Qarni, akhirnya beliau berpesan kepada para sahabat agar ketika menemui pemuda dari yaman, dengan ciri begini begini da begini, segera minta doa kepadanya karena doanya musjatab.

Lalu, setelah Rosulullah wafat, suatu ketika para sahabat mendengar berita bahwa rombongan dari Yaman akan menunaikan ibadah haji, maka dicegatlah mereka, lalu bertanya terhadap romongan tersebut “mana yang bernama Uwais Al-Qarni”. Kemudian rombongan itu menjawab bahwa tidak ada yang bernama Uwais Al-Qarni. Lalu dari belakang muncul teriakan “sayalah Uwais Al-Qarni”. Rombongan tersebut terheran-heran karena mereka tidak mengenal Uwais Al-Qarni yang hanya bekerja sebagai penunggu kuda, lantas kenapa para sahabat itu seolah mengenal pemuda yang kucel itu.

Kemudian shabat Rosul berkata yang intinya “Dulu Rosulullah berpesan kepada kami, bahwa saking cintanya ia kepada Ibunya dan Rosullnya, maka doa Uwais Al-Qarni mustajab, untuk itu doakanlah kami wahai Uwais Al-Qarni”.

Pelajaran yang bisa kita ambil :
Orang yang kelihatan hina dimata manusia, belum tentu demikian menurut Allah, bisa jadi mereka merupakan waliyullah yang sengaja Allah rahasiakan untuk menguji kita semuanya. Sehingga jangan sekali-kali merendahkan orang lain hanya karena covernya.

Ibu merupakan salah satu keramat bagi anak-anaknya, bisa jadi sebab ketaan kita terhadap ibu Allah akan memberikan kesuksesan baik di dunia maupun di akhirat kelak


Rabu, 18 Desember 2019

SITI HAYYINAH ; ANGGOTA PIMPINAN KONGRES PEREMPUAN INDONESIA PERTAMA




HAYYINAH, Siti (1906 -  ) adalah putri H. Mohammad Narju seorang aktivis Muhammadiyah dan pengusaha batik. Hayinah termasuk santri sebagai kader kedua  yang dibina langsung oleh K.H.Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan.   Ia mengikuti pendidikan di Sekolah Netral (Neutraal Meisjes School), seangkatan dengan Siti Badilah, Siti Dalalah, Siti Busyro, Siti Dauchah, Siti Aisyah, dan Siti Zaenab.
            Siti Hayinah juga pernah menjadi murid  Hollland Inlandsche School (HIS) dan Fur Huischoud School di Yogyakarta. Pengetahuan agama diperoleh dari ayahnya sendiri  dan dari pengajian-pengajian yang disampaikan oleh K.H.Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan. Di usia yang belia, beliau sudah aktif di ‘Aisyiyah dan pada tahun 1925 ketika itu berusia 19 tahun, Siti Hayinah dipercaya sebagai sekretaris Hoofbestuur (HB) Muhammadiyah bahagian ‘Aisyiyah.
Dengan posisi ini, beliau sering mewakili ‘Aisyiyah dalam berbagai pertemuan Muhammadiyah ‘Aisyiyah dan pertemuan dengan organisasi lain. Termasuk beliau adalah satu diantara dua wanita ‘Aisyiyah yang menjadi anggota Pimpinan Kongres Perempuan Indonesia Pertama yang berlangsung di Yogyakarta pada tanggal 22 – 25 Desember 1928. Dalam kongres ini, beliau mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan materi dengan tema “Persatuan Manusia”.
Aktifis ‘Aisyiyah ini juga menjadi redaktur surat kabar Isteri  dan Suara ‘Aisyiyah.
Tahun 1935, Siti Hayinah menikah dengan Mohammad Mawardi Mufti asal Banjarnegara yang juga aktifis Muhammadiyah. Mawardi kecuali sebagai guru, juga sebagai Keua Majelis Pemuda pada masa kepemimpinan K.H.Mas Mansur dan sebagai Ketua Majelis Pengajaran pada masa kepemimpinan Ki Bagus Hadikusumo.  
            Perkembangan ‘Aisyiyah tidak lepas dari peran Siti Hayinah. Beliau, 5 (lima) kali dipercaya sebagai Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah. Pertama kali beliau dipercaya sebagai Ketua ‘Aisyiyah dalam Kongres Darurat Muhammadiyah tahun 1946 di Yogyakarta (masa kepemimpinan Ki Bagus Hadikusuma). Kemudian pada Muktamar Muhammadiyah ke 32 tahun 1953 di Purwokerto, ia terpilih sebagai Ketua ‘Aisyiyah. Kemudian dalam Muktamar Muhammadiyah di Palembang tahun 1956, Muktamar Muhammadiyah di Yogyakarta tahun 1959, dan Muktamar Muhammadiyah Setengah Abad tahun 1962 di Jakarta, Siti Hayinah berturut-turut mendapat amanah sebagai Ketua PP ‘Aisyiyah.
            Siti Hayinah juga aktif aktif di Badan Penasehat Perkawinan Perselisihan dan Perceraian (BP 4), Gabungan Wanita Islam Indonesia (GOWII), dan Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI).
(Lasa Hs)

Selasa, 17 Desember 2019

SITI CHAMAMAH SOERATNO; Cendekiawan dan Aktifis ‘Aisyiyah




SOERATNO, Siti Chamamah (24 Januari 1941 -                ) adalah putri dari pasangan K.H. Hanad Noor dan Hj. Juhariah Kauman Yogyakarta. Kakeknya bernama K.H. Lurah Noor adalah Ketua Kelompok Putihan Kraton Ngayogyakarta Hadiningrat. Chamamah dibesarkan dalam keluarga yang agamis, sekolah di SD Muhammadiyah Ngupasaan  yang saat itu masih bernama HIS. Kemudian ia melanjutkan ke SMP Muhammadiyah Putri, lalu ke Sekolah Menengah Atas Agama. Dari sini ia memelajari bahasa Arab dan mampu membaca kitab kuning. Seusai mengikuti pendidikan di SMA Agama tersebut kemudian ia masuk Fakultas Sastra dan Budaya (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) UGM pada jurusan  Sastra Timur lulus tahun 1967. Kemudian ia menempuh S2 di Ecole des Hautes Etides en Science Sociate (EHESS) Paris Prancis. Disini beliau menempuh Pendidikan Bahasa Prancis dan Bahasa Arab (1975 – 1977).  Disamping itu ia pernah mengikuti pendidikan bahasa Belanda di Leiden (1983 – 1984), pendidikan penelitian di Belanda (1983 – 1985, 1987 – 1989), pendidikan penelitian di Jerman (1987 – 1989) dan pendidikan Penelitian di London Inggris (1984 – 1988).
            Beliau pernah menjadi asisten Prof. Soemadi Soemowidagdo dalam matakuliah Bahasa Arab dan Islamologi di Fakultas Sastra & Budaya UGM.   Putri Kauman ini meraih gelar doktor dari Fakultas Sastra & Kebudayaan UGM pada tahun 1988. Jabatan Guru Besar diraihnya dari UGM dan pengukuhannya diselenggarakan pada tanggal 24 Januari 1994 dengan orasi ilmiah berjudul Wawasan Pragmatis; Tinjauan atas Azas relevansi di dalam Pembangunan Bangsa.
Sebagai pakar kesusasteraan Melayu, Chamamah Soeratno pernah dipercaya sebagai sekretaris jurusan Sastra Arab, ketua jurusan Sastra Prancis, dan Dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM, Kepala Pusat Studi Korea UGM, Sekretaris Majelis Wali Amanah UGM.  Wanita karir ini juga pernah mengajar di Sekolah Tinggi Ekonomi (STIE) Yayasan Keluarga Pahlawan Negara (YKPN), Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Wangsa Manggala (sekarang Universitas Mercu Buana), IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, IAIN (sekarang UIN) Walisanga Semarang, dan dosen tamu di Universitas Gunadarma Jakarta.
Aktifis ‘Aisyiyah ini juga menjadi anggota World Conference on Religion and Peace (WCRP), anggota International Conference on Religion and Peace (ICRP), anggota International Moslem Women Union (IMWU) periode 2007 – 2010. Beliau juga aktif di Dewan Pakar ICMI Yogyakarta, dan pemimpin majalah Suarah ‘Aisyiyah .
Pada usia remaja (1965)  Siti Chamamah telah menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Nasyiatul Aisyiyah, kemudian karirnya di ‘Aisyiyah menduduki posisi penting antara lain pernah menjadi bendahara, sekretaris, dan wakil ketua ‘Aisyiyah. Pada tahun 1995 – 2000 beliau duduk sebagai anggota Majelis Tarjih danTajdid PP Muhammadiyah. Pada tahun 2000 – 2005, 2005  – 2010 beliau mendapat amanah sebagai Ketua Umum Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah
Karya-kary tulis beliau antara lain; 1) Kharisma Tokoh Indonesia Lama dan Masalah-Masalahnya (1981); 2) Pengantar Teori Filologi (1085); 3) Hikayat Iskandar Zulkarnain; Analisis Resepsi (1991); 3) Variasi Sebagai Bentuk Kreatifitas Pengarang Kedua Dalam Dunia Sastra Melayu Hikayat Banjar (1994); 4) Khasanah Budaya Kraton Yogyakarta II (2001); 5) Penelitian Sastra; Tinjauan Teori dan Metode (2001); 6) Kraton Jogja; The History and Culture Heritage (2004); 7) Muhammadiyah Sebagai Gerakan Seni dan Budaya; Sebagai Warisan Intelektual yang Terlupakan (2009); 8) Perjalanan ke Akherat (karya untuk jenjang Sarjana Muda); 9) Hikayat Raja Jumjunah (karya untuk jenjang S1); 10) Une version Malaise du Roman d’Alexandre d’apres le Mnuscrit Oriental Mal. Pol. 101 de la Bibliotheque Nationae de Paris (hasil peneltian untuk jenjang S2 )
Begitu besar jasanya pada bangsa dan Persyarikatan Muhamadiyah, maka pada tahun 2014, beliau mendapatkan UMM Award dari Universitas Muhammadiyah Malang.
(Imran Nasri & Lasa Hs)

Minggu, 15 Desember 2019

SITI BAROROH BARIED ISHOM; Profesor Pertama Kali Wanita


        

ISHOM, Siti Baroroh Baried (23 Mei 1925 – 9 Mei 1999) merupakan guru besar pertama wanita Indonesia. Nama sebenarnya adalah Siti Baroroh Tamimy, karena ayahnya bernama H. Tamim bin Dja’far yang juga kemenakan Ny. Walidah (isteri KHA Dahlan). Siti Baroroh Baried ini menapaki pendidikan mulai dari SD Muhammadiyah, MULO, HIK, Muhammadiyah, Fakultas Sastra & Kebudayaan UGM (Sarjana Muda) dan Fakultas Sastra & Kebudayaan UI (Sarjana) lulus tahun 1952. Kemudian, beliau melanjutkan pendidikan Bahasa Arab di Kairo (1953 – 1955).
            Isteri dr. Baried Ishom (seorang spesialis bedah, Direktur RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta) ini diangkat sebagai guru besar sejak 27 Oktober 1964. Kemudian beliau menyampaikan orasi ilmiah/pidato pengukuhan pada tanggal 10 Agustus 1970 dengan judul Bahasa Arab dan Perkembangan Bahasa Indonesia. Beliau sebagai dosen Fakultas Sastra & Kebudayaan UGM (sekarang Fakultas Ilmu Budaya UGM), sebagai Dekan fakultas tersebut pada periode 1965 – 1968, 1968 – 1971).
            Sebagai ilmuwan, beliau aktif di Majelis Ulama Indonesia/MUI Pusat dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI). Sebagai aktivis ‘Aisyiyah, beliau pernah menjabat sebagai Ketua Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah/PCA Gondomanan Yogyakarta. Kemudian dalam kepemimpinan ‘Aisyiyah, beliau pernah menjabat sebagai; Ketua Biro Hubungan Luar Negeri, Ketua Biro Penelitian dan Pengembangan, dan ketua Bagian Paramedis. Bahkan dalam kepemimpinan PP ‘Aisyiyah, beliau memegang rekor sebagai Ketua PP ‘Aisyiyah paling lama, yakni sampai 5 periode (1965 – 1985). Pada masa kepemimpinannya, beliau telah mensosialisasikan ‘Aisyiyah di luar negeri. Bahkan beliau berhasil melakukan kerjasama dengan World Bank, WHO, The Asian Foundation, UNESCO, UNICEF, UNDP, World Conference of Religion and Peace, dan Pathfinder Foundation. Dalam hal ini setiap tahun dikirim kader terbaik ‘Aisyiyah ke Amerika Latin, Asia, dan Afrika.
            Beliau wafat hari Ahad, 9 Mei 1999 yang saat itu beliau masih menjabat sebagai Pimpinan Umum Majalah Suara ‘Aisyiyah. Buku-buku beliau yang pernah ditulis antara lain; 1) Bahasa Aran dan Perkembangannya dalam Bahasa Indonesia (1970); 2) Kamus Istilah Filologi; 3) Memahami Karya-Karya Nuruddin ar-Raniri (1982); 4) Pengantar teori Filsafat
(Lasa Hs).


Jumat, 13 Desember 2019

Jejak Haedar Nashir Mengawal Moderasi Indonesia

Haedar Nashir, lahir pada tanggal 25 Februari 1958 di Desa Ciheulang, Ciparay, Bandung Selatan dari pasangan Haji Bahrudin dan ibu Hajah Endah binti Tahim. Haedar lahir dari keluara santri, ayahnya seorang Kyai (Ajengan), serta sejak kecil mengenyam pendidikan agama sampai mengantarkannya ke Pondok Pesantren Cintawana Tasikmalaya.
Selepas dari pesantren, Haedar melanjutkan pendidikan di SMP Muhammadiyah 3 Bandung dan SMAN 10 Bandung. Setamat dari SMA, Haedar merantau ke kota pelajar Yogyakarta, melanjutkan studi di STPMD APMD Yogyakarta.
Haedar masuk APMD karena ingin pulang ke Ciparay menjadi Camat memajukan daerahnya yang sering terisolasi secara politik dampak buruk dari DI/TII di wilayahnya Jawa Barat selatan. Tahun 1984 lulus sarjana muda, kemudian kerja tahun 1987, lalu menyelesaikan S1 di APMD tahun 1991 sebagai lulusan terbaik.  

Haedar tidak jadi pulang kampung dan menjadi Camat karena menikah dengan Siti Noordjannah Djohantini, aktivis Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) aseli kelahiran Yogyakarta, yang membuat dirinya betah menetap di kota ini sampai sekarang. Dari pernikahan dengan Siti Noordjannah lahir Hilma Nadhifa Mujahidah dan Nuha Aulia Rahman, keduanya dokter lulusan UMY dan UGM.  

Minatnya pada ilmu pengetahuan bidang Sosial mendorong untuk melanjutkan studi hingga meraih gelar Master tahun 1998 dan gelar Doktor tahun 2006 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang juga dengan predikat cumlaude. 
Disertasi Haedar di UGM diterbitkan menjadi buku yang telah dua kali terbit, yakni Islam Syariat. buku ini sulit disanggah. Referensinya sangat kaya dan metodologinya pun sangat kuat, kata Prof.Dr Mahfud MD.  Prof. Mahfud sampai menulis kolom khusus di majalah ternama tentang disertasi Haedar itu. 


Kiprah Organisasi

Sejak usia belia Haedar adalah sosok pemuda yang gemar berorganisasi. Ikatan Pelajar Muhamamdiyah yang merupakan sayap organisasi otonom Muhammadiyah adalah organisasi pelajar yang ditekuninya semenjak dari ranting sampai pimpinan pusat.

Selain aktif di organisasi, Haedar adalah sosok yang rajin membaca dan menulis. Ketekunannya dalam dunia literasi telah mengantarkannya menjadi seorang penulisprolific. Tebaran goresan penanya, banyak menghiasai rubrik-rubrik koran baik lokal maupun nasional. 

Kepiawaian Haedar dalam menulis, sebagai buah dari kegemarannya membaca, semakin teraktualisasi ketika Haedar aktif di Majalah Suara Muhammadiyah, sebuah majalah terbitan Muhammadiyah yang dirintis oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan sejak tahun 1915, yang keberadaannya masih eksis melampaui kurun 1 abad. Karir di Suara Muhammadiyah mulai dari menjadi juru ketik, wartawan, editor dan puncaknya menjadi pemimpin redaksi sampai sekarang.

Karir akademik Haedar dimulai ketika menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta tahun 1992 pada program studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, tahun 1992.

Disamping menjadi dosen, Haedar juga seorang intellectual cum activist penggerak Muhammadiyah. Jiwa kekaderan dan kepemimpinan Haedar semakin terpupuk ketika pada tahun 1985 mulai aktif di Badan Pembina kader Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang bertugas merancang, mendesain, dan menyiapkan pengaderan pemimpin Muhammadiyah. 

Pada Muktamar ke-45 tahun 2000 di Jakarta, Haedar terpilih menjadi anggota Pimpinan Pusat dan diberi amanah menjadi Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah mendampingi Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif. Ketika menjadi sekretaris umum, Haedar yang sudah sangat terlatih, piawai mengelola laju gerak Muhammadiyah sekaligus menjadi ideolog Muhammadiyah dengan karakter inklusifisme Islam. Duet Syafii Maarif dan Haedar Nashir saling melengkapi dalam menjaga kapal besar Muhammadiyah di tengah situasi bangsa yang berubah dan penuh gejolak saat Reformasi 1998. 

Ketika Buya Prof. Dr.Syafii Ma’arif mengakhiri masa tugasnya, Haedar Nashir masih terus melanjutkan kiprahnya menjadi Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada masa kepemimpinan Prof.Dr. Din Syamsudin menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2005-2015. Pada Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar tahun 2015, Haedar diamanahi menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah sampai sekarang

Kesibukan Haedar Nashir dalam mengurus Muhammadiyah, tidak menjadikan Haedar lupa dan melupakan tanggungjawab akademiknya sebagai dosen. Haedar tetap melaksanakan tugas catur dharma perguruan tinggi, mengajar, memberi kuliah kepada mahasiswa, membimbing, menguji, melakukan riset, menulis jurnal internasional bereputasi dan pengabdian kepada masyarakat. Hal ini terasa cukup istimewa di tengah kesibukan dalam menahkodai organisasi Islam modern terbesar di dunia saat ini.

Tugas melayani masyarakat dari Sabang sampai Merauke, termasuk kunjungan ke pelosok-pelosok tanah air menyapa penggerak perubahan di grassroot, bahkan sampai ke panggung internasional ditunaikan penuh dedikasi bersamaan dengan tugas dan perannya sebagai seorang cendekiawan kampus tanpa kehilangan karakter intelektual organik.
Karya Intelektual

Sebagai akademisi, Haedar Nashir terbilang sebagai penulis yang produktif, banyak karya tulisan yang diterbitkan baik berupa artikel lepas, buku utuh dan paper hasil penelitian. Hingga pada puncaknya, pada hari ini Doktor Haedar Nashir dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Sosiologi.

Dari deretan panjang karya dan sepak terjang Haedar, tergambar dengan jelas betapa kuat perhatian, komitmennya pada Islam dan keindonesiaan, yang semuanya bermuara pada moderasi Indonesia yang autentik. Faham keislaman yang moderat, tengahan, damai dan toleran yang ditopang dengan kondisi sosial bangsa yang majemuk menjadikan Haedar mempunyai pemikiran, sikap dan tindakan yang meletakkan moderasi sebagai sebuah jalan menuju kedamaian dan kemajuan berbangsa. Moderasi politik Haedar adalah menjaga bangsa dan merawat keberagaman bersama.

Dalam konteks Moderasi, Haedar adalah sosok yang anti kekerasan, dirinya sangat sensitif jika menyaksikan kekerasan dalam bentuk apapun. 

Sebagai sosok yang tekun baik dalam organisasi, Haedar juga dikenal sangat tekun dalam tradisi intelektual. Karya-karya intelektualnya sejak usia muda, sangat konsisten dengan ideologi menyuarakan “Moderasi Indonesia”. Hal ini dapat dilihat dari buku-buku yang diterbitkan, antara lain:  

Budaya Politik dan Kekuasaan, 1997;
Agama dan Krisis Kemanusiaan Modern, 1997, 1999; 
Pragmatisme Politik Kaum Elit, 1999; 
Perilaku Politik Elit Muhammadiyah, 2000; 
Dinamika Politik Muhammadiyah, 2001; 
Revitalisasi Gerakan Muhammadiyah, 2001; 
Ideologi Gerakan Muhammadiyah, 2002; 
Islam dan Perilaku Umat di Tengah Perubahan, 2002; 
Kristalisasi Ideologi dan Komitmen Bermuhammadiyah, 2007; 
Manifestasi Gerakan Tarbiyah, 2007, 2009; 
Muhammadiyah Gerakan Pembaharuan, 2010; 
Muhammadiyah Abad Kedua, 2011; 
Islam Syariat, 2007, 2013; 
Ibrah Kehidupan, 2013; 
Pendidikan Karakter dalam Perspektif Agama dan Kebudayaan, 2013; 
Memahami Ideologi Muhammadiyah, 2014; 
Gerakan Islam Pencerahan, 2015, 2017, 2019; 
Muhammadiyah a Reform Movement, 2015; 
The Understanding of the Ideology of Muhammadiyah, 2015; 
Muhammadiyah A Reform Movement, 2015; 
Dinamisasi Gerakan Muhammadiyah: Agenda Strategis Abad Kedua, 2015; 
Tragedi Neo-Holocaust, 2017; 
The Tragedy of Holocaust, 2017; 
Indonesia Hitam-Putih, 2017; 
Black and White Indonesia, 2017; 
Kuliah Kemuhammadiyahan 1, 2018; 
Kuliah Kemuhammadiyahan 2, 2018; 
Konstruksi Pemikiran Politik Ki Bagus Hadikusumo Islam, Pancasila dan Negara, 2018; 
Indonesia dan Keindonesiaan: Perspektif Sosiologis, 2019.

Selain buku, beliau juga melahirkan karya akademik-ilmiah yang berbobot, antara lain: 
Electoneering is a Religious Practice? Electoral Politics of Muhammadiyah Cadres At The Regent Elections In Yogyakarta Province, Indonesia, Jurnal Internasional, Dimuat di International Journal of Sciences and Research, Volume 73 Nomor 11 November 2017; 
Bottom Up-Sharia Formalization in Indonesia’s Nation State, Dimuat di Jurnal :Ilmu Studi Pemerintahan, Volume 8 Nomor 1 Agustus 2017; 
Re-Islamisation: the Conversion of Subculture Abangan Into Santri in Surakarta, Jurnal Internasional, Dimuat di Jurnal Internasional Islam and Muslim Societies, Vol. 8 No. 1 Tahun 2018; 
Social Capital and Disaster: How Does Social Capital Shape Post-Disaster Conditions in the Philippnes?, Jurnal Internasional, Nama Journal: Journal Of Human Behavior in The Social Environment, Volume 29 No. 1 Januari 2019; dan 
Muhammadiyah’s Moderation Stance in the 2019 General Eelection, Jurnal Internasional, Nama Jurnal: Al Jami’ah, Volume 57 No. 1 Tahun 2019, Penerbit: UIN Sunankalijaga Yogyakarta.

Dari karya-karya tersebut tercermin kemenyatuan pandangan keislaman dan keindonesian Haedar Nashir, yang merefleksikan pemikiran, sikap dan posisi sebagai seorang tokoh dan simbol dari Moderatisme Indonesia dengan bingkai Islam Berkemajuan. 

Penulis: Bachtiar Dwi Kurniawan
Editor: Azaki Khoirudin


sumber : https://ibtimes.id/jejak-haedar-nashir-mengawal-moderasi-indonesia/

Rabu, 11 Desember 2019

MODERASI INDONESIA DAN KEINDONESIAAN : Perspektif Sosiologi

Oleh Dr. H. Haedar Nashir, M.Si
*Disampaikan dalam Pidato Pengukuhan Guru Besar
Kamis, 12 Desember 2019

Indonesia dalam kurun terakhir seakan berada dalam darurat “radikal” dan “radikalisme”. Radikalisme dan khususnya terorisme menjadi isu dan agenda penanggulangan utama. Narasi waspada kaum “jihadis”, “khilafah”, “wahabi”, dan lain-lain disertai berbagai kebijakan deradikasasi meluas di ruang publik. Isu tentang masjid, kampus, BUMN, majelis taklim, dan bahkan lembaga Pendidikan Usia Dini (PAUD) terpapar radikalisme demikian kuat dan terbuka di ruang publik yang menimbulkan kontroversi nasional. 

Jika konsep radikal dikaitkan dengan apa yang oleh Taspinar (2015) disebut “violent movements” (gerakan kekerasan) seperti dalam berbagai kasus bom teror, penyerangan fisik, dan segala aksi atau tindakan kekerasan di Indonesia maka dapat dipahami sebagai pandangan dan kenyataan yang objektif. Radikalisme agama, termasuk di sebagian kecil kelompok umat Islam pun tentu merupakan fakta sosial yang nyata. Dalam posisi yang demikian baik pemerintah maupun banyak komponen bangsa berkomitmen untuk bersama menolak segala bentuk paham dan tindakan radikal atau radikalisme yang bermuara pada kekerasan, makar, dan merusak kehidupan manusia dan lingkungannya yang Tuhan sendiri melarang tegas karena masuk dalam tindakan “fasad fil-ardl” atau merusak di muka bumi (QS. Al-Baqarah [2]: 11, 12, 60; QS. Al-’A`raf [7]: 56, 74, 85; QS. Al-’Anfal [8]: 73; QS. Hud [11]: 85,116; QS. Ash-Shu`ara’ [26]: 151, 152; QS. Al-Qasas [28]: 77, 83, QS. Al-`Ankabut [29]: 36; QS. Ar-Rum [30]: 41; dll.).

Radikalisme agama memang terjadi dalam kehidupan, sebagaimana radikalisme lainnya di belahan bumi manapun. Stigma radikalisme Islam itu begitu kuat dan kadang bersentuhan dengan Islamophobia, yang akarnya kompleks, sebagaimana dijelaskan Esposito dan Deyra (2018): “radicalism is used interchangeably when referring to Islamist radicalism or generically to denote levels of extremity. Islamophobia and Islamist Radicalism are exclusivist ideologies which survive and thrive by blaming, defaming and despising the other and such exclusivist ideologies do not occur in a vacuum.”. Fakta sosial pun tidak terbantahkan adanya gerakan kaum radikalis-ekstirmis seperti Hizbut Tahrir, Al-Qaeda, Jamaah Islamiyah, dan berbagai kelompok Jihadis baik di tingkat global maupun nasional dan lokal yang menimbulkan banyak persoalan dan kekerasan dalam perikehidupan umat manusia di era mutakhir.

Senin, 09 Desember 2019

ELYDA DJAZMAN; Pendidik dan Aktivis ‘Aisyiah


Djazman, Elyda (11 Juli 1940 -        ) lahir di Medan. Beliau adalah putri pasangan HM Bustami Ibrahim dan Rohana yang keduanya  berasal dari Bukittinggi dan aktifis Muhammadiyah. Elyda sejak kecil dibesarkan dalam keluarga Muhammadiyah. Ia menapaki pendidikan dimulai dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, sampai Sekolah Guru Atas/SGA Muhammadiyah Medan. Kemudian beliau merantau ke Jawa, masuk Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Muhammadiyah Surakarta tahun 1960 – 1962. Ia semoat rehat setahun karena kembali ke Medan. Kemudian pada tahun 1963 – 1964, beliau menyelesaikan Sarjana Muda (BA). Setelah itu, beliau rehat lagi karena kembali ke Medan untuk mengajar di sana. Setelah itu, beliau menyelesaikan studinya program Sarjana di Surakarta pada tahun 1966 – 1967. Pendidikan nonformal diperoleh dari berbagai kursus dan pelatihan di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dan Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA).
Elyda menapaki karir dari sebagai guru Sekolah Dasar Muhammadiyah Medan pada tahun 1958 – 1960. Kemudian beliau mengajar di Pendidikan Guru Agama (PGA) ‘Aisyiyah Medan pada tahun 1962 – 1963. Setelah itu, beliau mengikuti kuliah dan lulus  Sarjana Muda (setingkat vokasi)  di IKIP Muhammadiyah (sekarang UMS) Surakarta. Kemudian beliau kembali ke Medan untuk mengajar di Sekolah Guru Taman Kanak-Kanak (SGTK) tahun 1964 – 1966 sebagai guru negeri yang diperbantukan. Pada tahun 1967, Elyda melanjutkan kuliah tingat Sarjana di Surakarta sambil mengajar di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) ‘Aisyiyah setempat sampai tahun 1984. Pada tahun 1984 – 19999, beliau mengajar di Sekolah Pendidikan Guru Muhammadiyah Yogyakarta tahun 1984 – 1999.
Keculai bergerak dalam pendidikan Muhammadiyah, isteri Djazman Al KIndi ini pernah menjadi Wakil Ketua Nasyiatul ‘Aisyiyah Cabang Medan  tahun 1960. Kemudian ketika kuliah di IKIP Muhammadiyah Surakarta, beliau menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan pada tahun 1963 – 1964 menjadi anggota Badko HMI Jawa Tengah. Mulai tahun 1964, beliau menjabat Ketua Bagian Pembinaan Kader PP Nasyiatul ‘Aisyiyah dan pada saat itu beliau juga mengajar di SGTK ;Aisyiyah Surakarta.
Pada Muktamar ‘Aisyiyah ke-40 tahun 1978, beliau dipercaya duduk dalam kepengurusan PP ‘Aisyiyah sebagai bendahara. Dalam beberapa kali Muktamar ‘Aisyiyah, beliau terpilih sebagai Ketua PP ‘Aisyiyah berturut-turut pada periode 1985 – 1990, 1990 – 1995, 1995 – 2000. Selama memimpin ‘Aisyiyah, beliau telah melakukan lawatn ke luar negeri seperti ke Saudi Arabia, Malaysia, Bangkok, Turki, Singapura, dan Belanda.
(Imran Nasri)

Kamis, 05 Desember 2019

SITI BADILAH ; Berulang kali Menjadi Ketua A’isyiyah




Kelahiran Yogyakarta ini merupakan salah satu dari 6 murid perempuan yang dididik langsung oleh K.H.Ahmad Dahlan dan Ny. Ahmad Dahlan. Di pagi hari, Siti Badilah sekolah di Sekolah Netral, dan sore hari digembleng pengatahuan agama Islam oleh K.H.Ahmad Dahlan sendiri. Kursus Alquran ini kemudian menjadi Sapa Tresna  Disamping itu, beliau juga mendapat didikan dari MULO. Setelah tamat dari MULO, oleh K.H. Dahlan, beliau ditugasi untuk bertabligh di kalangan pelajar yakni di Kweekshool Yogyakarta dan luar Yogyakarta. 
            Pada tahun 1917, saat itu Hoofdbestuur (HB)  Muhammadiyah membentuk bahagian ‘Aisyiyah, Siti Badilah dipercaya sebagai sekretaris/penulis dan ketuanya adalah Siti Bariyah. Kemudian ketika HB Muhammadiyah bahagian ‘Aisyiyah akan menerbitkan majalah Soeara ‘Aisjijah  , maka Siti Badilah dipercaya sebagai staf redaksi bersama dengan Siti Juhainah (pimpinan redaksi), Siti Aisjah, dan Siti Jalalah.
Siti Badilah berulang kali terpilih untuk menduduki jabatan Ketua ‘Aisyiyah, bahkan sejak kepemimpinan Siti Bariyah (1917 – 1920) beliau telah aktif dalam jajaran HB Muhammadiyah bahagian ‘Aisyiyah. Kemudian dalam kongres Muhammadiyah ke 29 yang berlangsung di Yogyakarta, Siti Badilah mendapat amanah sebagai ketua Majelis ‘Aisyiyah untuk periode 1941 – 1943.
Kemudian pada Muktamar Muhammadiyah ke 31  di Yogyakarta tahun 1951, Siti Badilah dipercaya sebagai Ketua ‘Aisyiyah untuk periode 1951 – 1953. Juga pada Muktamar Muhammadiyah di Purwokerto tahun 1953 beliau terpilih lagi sebagai Ketua ‘Aisyiyah
(Lasa Hs)


Senin, 02 Desember 2019

FATMAWATI; Putri seorang Tokoh Muhammadiyah




FATMAWATI (5 Februari 1923 – 14 Mei 1980) adalah putri dari pasangan Hasan Din dan  Siti Chadijah. Ia   lahir di kampong Pasar Malabero Bengkulu. Beliau dibesarkan dalam lingkungan yang taat beragama. Hasan Din adalah seorang Konsul Muhammadiyah Bengkulu. Beliau juga seorang pegawai perusahaan milik Belanda di Bengkulu (Borneo Sumatera Maatschappij). Perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan terbesar milik Belanda di Indonesia saat itu.Sedangkan Ibu Siti Chadijah adalah aktifis ‘Aisyiyah Cabang Bengkulu.
Sejak kecil, Fatmawati telah belajar agama Islam antara lain membaca dan menulis Alquran pada sore hari kepada datuknya dan kepada seorang guru agama Islam. Sejak kecil sudah kelihatan bakat seninya terutama seni membaca Alquran dan sangat supel dalam bergaul. Kepintarannya membaca Alquran pernah ditunjukkan pada pembukaan Kongres Muhammadiyah di Palembang tahun 1936.
            Ketika beliau berumur 6 (enam) tahun , ia masuk Sekolah Gedang (sekolah rakyat), namun kemudian pindah ke HIS (Hollandsche Inlance School), sekolah berbahasa Belanda (1930). Ketika duduk di kelas 3 (tiga), Fatmawati dipindahkan lagi oleh ayahnya ke HIS Muhammadiyah. Fatmawati sejak remaja sudah aktif di Muhammadiyah melalui Nasyi’atul Aisyiah/NA  
Bertemu Bung Karno
            Fatmawati bertemu dengan Bung Karno dimulai tahun 1938. Saat itu, Bung Karno dipindahkan oleh Kolonial Belanda dari Pengasingan di Ende (Flores) ke Bengkulu. Bersamaan itu, keluarga Hasan Din pindah ke Bengkulu setelah 3 (tiga) tahun tinggal di Curup. Kepindahan ini karena hasrat Hasan Din untuk mengenal lebih dekat pada Bung Karno yang sangat dikaguminya itu.
            Bung Karno ketika di Bengkulu aktif di Persyarikatan Muhammadiyah, bahkan pernah menjabat sebagai Ketua Bagian Pengajaran. Dalam melaksanakan kegiatannya di Muhammadiyah inilah maka persahabatan keluarga Hasan Din dan Bung Karno semakin akrab. Mereka saling berkunjung dan Fatmawati sering diajak ayahnya untuk bersilaturrahmi dengan Bung Karno. Pada masa itu, Bung Karno ditemani isterinya bernama Inggit Garnasih, wanita berasal dari Bandung dan anak angkatnya bernama Ratna Juami.
Dari saling silaturrahmi yang semakin akrab inilah, lama kelamaan Bung Karno tertarik pada Fatmawati. Dari sini Bung Karno ingin memperistri Fatmawati. Namun Fatmawati berkeberatan karena Bung Karno telah beristri Inggit Garnasih. Sedangkan Inggit Garnasih yang telah menikah 18 tahun belum ada tanda-tanda hamil.
Dalam perkembangannya dengan berbagai pertimbangan, Fatmawati menerima lamaran Bung Karno dengan syarat tidak mau dimadu. Maka secara baik-baik, Inggit diceraikan dan diserahkan kepada orang tuanya di Bandung. Akhirnya Fatmawati menikah dengan Bung Karno di Bengkulu tanggal 1 Juni 1943.
Sebagai isteri seorang pejuang, Fatmawati mendampingi Bung Karno yang sedang memperjuangkan kemerdekaan bangsanya. Ketika Proklamasi Kemerdekaan dikumandangkan Bung Karno dan Bung Hatta tanggal 17 Agustus 1945, Fatmawati telah dikaruniai putra pertama yang diberi nama Guntur yang kemudian dikenal dengan Guntur Sukarno Putra. Para petinggi Jepang saat itu menyambut gembira atas kelahiran putra pertama itu. Bahkan Jendral Yamamoto menyebut Guntur dengan nama Osamu.
            Saat itu, Fatmawati menyaksikan bendera Merah Putih berkibar pertama kali  di bumi pertiwi. Bendera itu dijahit sendiri oleh Fatmawati. Ketika secara resmi Bung Karno diangkat sebagai Presiden RI yang pertama, maka otomatis Fatmawati menjadi Ibu Negara yang harus mendampingi Bung Karno dalam berbagai kegiatan resmi kenegaraan. Seusai pembacaan naskah Proklamasi, situasi Jakarta semakin gawat, sehingga pada tanggal 19 September 1945 Bung Karno berpidato di lapangan Ikada Jakarta yang dihadiri oleh ribuan rakyat.
(Lasa Hs)

Minggu, 01 Desember 2019

Asta etika pustakawan Indonesia

(1) Melaksanakan tugas sesuai dengan harapan pemustaka
 (2)Meningkatkan keunggulan kompetensi setinggi-tingginya
(3) Membedakan antara pandangan pribadi dan tugas profesi
 (4) Menjamin tindakan dan keputusannya berdasarkan profesionalisme
(5) Menjunjung tinggi hak perorangan atas informasidan menyediakan akses tak terbatas
 (6) Melindungi hak pemustaka dan tidak bertanggungjawab atas penggunaan informasi
(7) Mengakui dan menghormati hak kekayaanintelektual
(8) Menjalin kerjasama dan saling menghargai teman sejawat.

Manajemen dan Standardisasi Perpustakaan Sekolah/Madrasah Muhammadiyah

Buku ini disusun untuk memberikan arah pengembangan perpustakaan menuju standar nasional. Yakni standar perpustakaan sekolah/madrasah yang telah ditetapkanoleh Perpustakaan Nasional RI selaku lembaga pembinaperpustakaan se Indonesia. Dengan demikian apabila perpustakaan sekolah/madrasah Muhammadiyah dan sekolah lain mampu memenuhi standar ini, maka InsyaAllah akan bisa memenuhi standar akreditasi perpustakaan sekolah. Akreditasi merupakan salah satu tolok ukur kualitas dan kinerja suatu perpustakaan.

Dalam buku ini diberikan penjelasanpengembangan perpustakaan sekolah/madrasah sesuaistandar akreditasi yang meliputi komponen koleksi, sarana prasarana, pelayanan perpustakaan, tenagaperpustakaan, penyelenggaraan dan pengelolaan, dan komponen penguat.

Pemesanan Buku ini dapat menghubungi Bp. Lasa Hs. Hargga per buku sebesar Rp. 75.000. Harga tersebut sudah termasuk ongkir. Untuk wilayah DIY dapat memperoleh harga sebesar Rp. 50.000 namun buku diambil sendiri di Perpustakaan UMY

ABDULLAH, TOKOH MUHAMMADIYAH SULAWESI SELATAN


        

            ABDULLAH , ( 1895 – 24 April 1944), l  adalah putra Abdur Rahman dan Ibu Halimah. Putra kelahiran Maros ini semula  belajar agama Islam kepada ayahnya sendiri dan setelah remaja, lalu  belajar ke Petta Kalie di Maros. Setelah dewasa , ia menunaikan ibadah haji dan menetap di Makkah selama 10 tahun untuk memperdalam agama Islam. Di Makkah ini, beliau menikah dengan Fatimah yang juga berasal dari Maros yang saat itu menunaikan ibadah haji.
Setelah merasa cukup belajar di Makkah, lalu Abdullah pulang ke Tanah Air dan tinggal di Kampung Butung Makassar dekat masjid. Dari sini, beliau mengajar, bersilaturrahmi dan berkenalan dengan orang-orang dari Jawa yang kebetulan memahami Muhammadiyah. Melalui interaksi ini, beliau dan sahabatnya bernama Mansyur Al-Yamani menjadi anggota Muhammadiyah. Atas inisiatif Mansyur , maka diselenggarakan pertemuan di rumah Haji Muhammad Yusuf Daeng Mattiro . Pertemuan malam tanggal 15 Ramadhan itu melahirkan Muhammadiyah Group Makassar yang K.H. Abdullah sebagai Vais Vorzitter . Satu tahun kemudian Muhammadiyah Group Makassar menjadi Cabang, dan Muhammadiyah semakin berkembang. Kemudian K.H. Abdullah menjadi Koordinator Muhammadiyah untuk daerah-daerah Campalagian, Batu-Batu (Soppeng), Tabbaa, Lampoko Sengkang, Labbakang, Maros. dan lainnya.
            Sejak terbentuknya cabang pada tahun 1927 lalu digelar Konferensi Muhammadiyah pertama pada tahun 1928 di Makassar, dan muktamar  kedua tahun 1929 di Sengkang, ketiga pada tahun 1930 di Majene, ke empat tahun 1930 di Bantaeng, dan ke lima pada tahun 1931 di Labbakkang, dan ke enam pada tahun 1932 di Palopo. Pada konferensi Muhammadiyah ke enam ini, K.H.Abdullah dipercaya sebagai Konsul Muhammadiyah Celebes Selatan pertama kali.
            Pada masa kepemimpinan beliau selama 11 tahun, yakni selama 4 (empat) tahun sebagai voorzitter cabang dan selama  7 (tujuh) tahun sebagai konsul , K.H. Abdullah berhasil memajukan Muhammadyah di Celebes Selatan.
            Beliau meninggal dunia menjelang shalat dhuhur bersamaan dengan serangan bom Belanda terhadap kapal-kapal yang sedang berlabuh di pelabuhan Makassar.
(Lasa Hs).