Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Rabu, 18 Desember 2019

SITI HAYYINAH ; ANGGOTA PIMPINAN KONGRES PEREMPUAN INDONESIA PERTAMA




HAYYINAH, Siti (1906 -  ) adalah putri H. Mohammad Narju seorang aktivis Muhammadiyah dan pengusaha batik. Hayinah termasuk santri sebagai kader kedua  yang dibina langsung oleh K.H.Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan.   Ia mengikuti pendidikan di Sekolah Netral (Neutraal Meisjes School), seangkatan dengan Siti Badilah, Siti Dalalah, Siti Busyro, Siti Dauchah, Siti Aisyah, dan Siti Zaenab.
            Siti Hayinah juga pernah menjadi murid  Hollland Inlandsche School (HIS) dan Fur Huischoud School di Yogyakarta. Pengetahuan agama diperoleh dari ayahnya sendiri  dan dari pengajian-pengajian yang disampaikan oleh K.H.Ahmad Dahlan dan Nyai Ahmad Dahlan. Di usia yang belia, beliau sudah aktif di ‘Aisyiyah dan pada tahun 1925 ketika itu berusia 19 tahun, Siti Hayinah dipercaya sebagai sekretaris Hoofbestuur (HB) Muhammadiyah bahagian ‘Aisyiyah.
Dengan posisi ini, beliau sering mewakili ‘Aisyiyah dalam berbagai pertemuan Muhammadiyah ‘Aisyiyah dan pertemuan dengan organisasi lain. Termasuk beliau adalah satu diantara dua wanita ‘Aisyiyah yang menjadi anggota Pimpinan Kongres Perempuan Indonesia Pertama yang berlangsung di Yogyakarta pada tanggal 22 – 25 Desember 1928. Dalam kongres ini, beliau mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan materi dengan tema “Persatuan Manusia”.
Aktifis ‘Aisyiyah ini juga menjadi redaktur surat kabar Isteri  dan Suara ‘Aisyiyah.
Tahun 1935, Siti Hayinah menikah dengan Mohammad Mawardi Mufti asal Banjarnegara yang juga aktifis Muhammadiyah. Mawardi kecuali sebagai guru, juga sebagai Keua Majelis Pemuda pada masa kepemimpinan K.H.Mas Mansur dan sebagai Ketua Majelis Pengajaran pada masa kepemimpinan Ki Bagus Hadikusumo.  
            Perkembangan ‘Aisyiyah tidak lepas dari peran Siti Hayinah. Beliau, 5 (lima) kali dipercaya sebagai Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah. Pertama kali beliau dipercaya sebagai Ketua ‘Aisyiyah dalam Kongres Darurat Muhammadiyah tahun 1946 di Yogyakarta (masa kepemimpinan Ki Bagus Hadikusuma). Kemudian pada Muktamar Muhammadiyah ke 32 tahun 1953 di Purwokerto, ia terpilih sebagai Ketua ‘Aisyiyah. Kemudian dalam Muktamar Muhammadiyah di Palembang tahun 1956, Muktamar Muhammadiyah di Yogyakarta tahun 1959, dan Muktamar Muhammadiyah Setengah Abad tahun 1962 di Jakarta, Siti Hayinah berturut-turut mendapat amanah sebagai Ketua PP ‘Aisyiyah.
            Siti Hayinah juga aktif aktif di Badan Penasehat Perkawinan Perselisihan dan Perceraian (BP 4), Gabungan Wanita Islam Indonesia (GOWII), dan Badan Musyawarah Organisasi Islam Wanita Indonesia (BMOIWI).
(Lasa Hs)

0 komentar:

Posting Komentar