Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

MOMEN

Minggu, 09 Februari 2020

MANDUL TULISAN



                  
Orang mandul sering dikonotasikan sebagai orang yang tidak mempunyai keturunan atau anak meskipun sekian lama berumah tangga. Kemandulan dalam pengertian ini sebenarnya terlau sempit. Kemandulan lebih bermakna substantif, yakni ketidakmampuan seseorang maupun kelompok  untuk memanfaatkan potensi yang ada pada mereka. Mereka yang dianugerahi anak ternyata ada yang tidak dapat mengambil manfaat dan tidak bisa mengembangkan potensi anak. Orang yang berilmu kadang bangga dengan deretan gelar dan tidak mampu menghasilkan tulisan.
          Produktifitas ilmuwan yang berupa pengetahuan itu seharusnya untuk mewujudkan kesejahteraan manusia. Namun ketinggian ilmu yang mereka miliki kadang hanya untuk kepentingan diri sendiri bahkan kadang untuk mengakali pihak lain dengan plagiarisme dan pemalsuan ijasah misalnya.
Kemandulan tidak saja berkaitan dengan masalah keturunan, kekayaan, dan ilmu pengetahuan. Kekuasaanpun dapat mengalami kemandulan bila selama kekuasaan di tangan ternyata tidak mampu membuat kebijakan untuk mensejahterakan masyarakat, bahkan nyaris tidak ada perubahan. Kekuasaan yang diamanatkan justru digunakan untuk kepentingan diri, keluarga, dan kelompoknya, partainya. Rasulullah saw menyatakan tentang hakikat kemandulan:” Tahukah kamu sekalian apa yang dimaksud dengan orang mandul ?. Kami (para sahabat) menjawab.’ialah mereka yang tidak mempunyai keturunan atau anak. Kemudian Rasulullah saw bersabda:”Yang dimaksud mandul ialah orang yang memiliki anak kemudian ia mati tanpa memperoleh suatu kebaikan dari mereka (anak-anaknya). Kemudian beliau bertanya lagi :”Tahukan kamu siapa yang disebut miskin ?. Mereka (para sahabat) menjawab :”orang miskin adalah orang yang tidak memiliki harta”. Kemudian Nabi Muhammad saw bersabda:” Orang yang miskin ialah setiap orang yang punya harta kemudian mereka mati tanpa memeroleh suatu kebaikan dari hartanya itu”. (H.R. Ahmad ).
          Ilmu pengetahuan akan lebih bermakna jika disampaikan melalui lisan atau tulisan (rekaman) kepada orang lain. Karya berupa tulisan yang menyebar meluas akan lebih bermakna daripada hanya disimpan di lemari kaca. Rasulullah saw bersabda :”Siapa yang mencari ilmu pengetahuan yang seharusnya ditujukan atas ridha Allah, namun kemudian mereka memelajari ilmu pengetahuan hanya untuk meraih kebanggan dan kekayaan dunia, maka orang itu besok pada hari kiamat tidak akan mendapat aromanya surga (H.R. Abu Daud dan Abu Hurairah).

(Lasa Hs).