Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Senin, 15 Juni 2020

DI BALIK PENANTIAN



       Orang-orang yang kurang yakin adanya akhirat berpendapat bahwa hidup di dunia ini adalah segalanya. Mereka tidak percaya bahwa di balik kehidupan dunia ini, nanti ada kehidupan lain. Sukses tidaknya kehidupan seseorang kadang diukur dalam kehidupan yang sesaat ini. Keberhasilan mereka kadang diukur dengan pencapaian sesuatu yang dapat dilihat dengan mata seperti banyaknya harta, tingginya kedudukan, pangkat, jabatan (struktural atau fungsional), pendidikan anak-anak, dan lainnya. Dengan pengejaran keberhasilan seperti ini, tidak sedikit orang yang menempuh jalan pintas. Mereka tak segan-segan melanggar norma, etika, dan peraturan yang berlaku. Mereka tidak malu lagi untuk melakukan penipuan, manipulasi, korupsi, plagiasi, pemalsuan ijazah, dan kebohongan publik. Bahkan melakukan perbuatan tidak senonoh merupakan kebanggaan. Dengan perilaku ini berarti mereka tidak lagi meyakini adanya pengadilan akhirat. Seolah-olah semua masalah itu cukup selesai di dunia ini.
          Dalam hidup ini, mereka lupa bahwa apa yang mereka kejar-kejar itu hanya bernilai sementara. Apa yang dimakan akan menjadi tanah,  apa yang dipakai akan rusak, kedudukan seseorang pada saatnya nanti  akan diganti oleh orang lain, aset trilyunan rupiah mungkin akan menjadi rebutan bahkan fitnah.
Dalam pengejaran  ini kadang terdorong oleh hawa nafsu dan terjerumus pada pemikiran sesaat serta perilaku yang memalukan. Saat-saat yang singkat di dunia ini akhirnya dihabiskan untuk menebus akibat penurutan hawa nafsu. Kadang mereka menghabiskan sisa umur itu justru di penjara.
Pada hidup yang sekarang ini, manusia hanya menanti kedatangan petugas yang akan menjemput manusia untuk pulang. Di dunia ini hanya sementara. Kampung halaman manusia yang sebenarnya bukan di sini. Di sini manusia hanya mampir sejenak. Manusia akan diberi kehidupan yang lebih abadi. Kehidupan yang jauh dari anak isteri, tetangga, kenalan, dan jauh dari orang tua. Cuma kapan waktunya, manusia tidak diberitahu. Maka perlu direnungkan nasehat nenek moyang kita :”Wong sing ciloko iku yen lali mulih. Sangune dudu rojo brono, ananging manembah mring kang  Kuwoso lan laku utomo”. (orang yang celaka adalah mereka yang tidak menghiraukan lagi bahwa dirinya akan pulang (mati). Bekalnya adalah ibadah kepada Allah dan amal shaleh).
Dengan renungan ini dapat dipahami bahwa manusia hidup ini sebenarnya dalam masa penantian atau menunggu kedatangan sesuatu yang penuh misteri. Dalam penantian saat menegangkan itu, manusia bisa mengalami keadaan yang menyenangkan, tetapi juga bisa mengalami keadaan yang mengerikan. Kematian pasti menjemput manusia, meskipun mereka lari ke puncak gunung.  Mati itu hanya satu, namun ribuan cara manusia mati.
          Sebelum kematian menghampiri manusia, perlu dipahami gambaran saat-saat sakaratul maut, sejenak setelah roh pisah dengan jasad, dan adanya pertanyaan kubur. Perlu dipahami pula setelah roh pisah dengan jasad, lalu jasad itu diapakan oleh sanak famili atau tetangga. Sebab sosok manusia itu nanti dibagi menjadi 3 (tiga) yang semuanya akan kembali., Roh manusia akan kembali pulang ke hadirat Allah,  hasil kegiatan manusia efeknya akan kembali pada manusia itu sendiri (baik buruk), dan jasad manusia akan kembali ke bumi yang akan menjadi santapan belatung.        

Lasa Hs.

0 komentar:

Posting Komentar