Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

MOMEN

Minggu, 25 Oktober 2020

Antara Kedai Kopi dan Perpustakaan : Tulisan – 2

 

                                                      Oleh

                                          Muhammad Jubaidi

                                             Pustakawan UMY

 

        Sebagai lembaga nonprofit, perpustakaan tidak perlu mengukur untung rugi dari suatu inovasi. Dengan inovasi baru seperti memasukkan unsur kuliner ke perpustakan merupakan langkah yang mampu menarik pemustaka. Dengan langkah ini ternyata mampu menyedot pemustaka untuk melakukan berbagai aktivitas di perpustakaan. Melalui penataan ruang perpustakaan sebagai ruang publik ternyata mampu menyedot masyarakat untuk beraktivitas di perpustakaan.

       Sekedar contoh adalah apa yang dilakukan Perpustakaan UMY. Perpustakan UMY telah melakukan  penataan ruang yang milenial banget, dengan kuliner masuk perpustakaan. Langkah ini  ternyata membuat  para mahasiswa merasa betah dan berlama-lama beraktivitas di ruang perpustakaan.  Karena memang ruangnya bersih, terang, ber AC, kursi warna warni, dan tersedia kopi. Di ruang publik ini, para dosen bisa menerima tamu, diskusi dengan mahasiswa, mahasiswa bisa ujian online, belajar di bilik mandiri, berdiskusi kelompok, belajar sambil ngopi, bahkan tidak sedikit mahasiswa yang melakukan shooting di ruang Muhammadiyah Corner.

          Dengan penataan ruang melinial ini, warga kampus merasa bangga. Tak heran bila pada saat visitasi (fisik) akreditasi prodi, asesor dibujuk-bujuk untuk bisa berkunjung ke perpustakaan.

          Dulu memang dalam akreditasi, perpustakaan seolah-olah sebagai pelengkap. Namun dengan perubahan penampilan dan layanan, kini perpustakaan menjadi kebanggaan warga kampus.  

        Dari pengalaman mengkolaborasikan kedai kopi dengan perpustakaan ini, maka dalam layanan perpustakaan perlu inovasi dengan memperhatikan dan mengakomodir keinginan masyarakat pemustakanya.

       Kedai kopi di perpustakaan merupakan daya pikat tersendiri. Konsep ini memberikan fasilitas untuk tidak sekedar minum kopi, tetapi penikmat kopi itu bisa menikmati kopi sambil belajar, diskusi, ngobrol ngalor ngidul, dan lainnya. Maka untuk lebih menarik sebaiknya di ruang itu juga disediakan fasilitas acccess free wifi  yang kenceng.

          Paradigma lama bahwa di perpustakaan tida boleh makan, tidak boleh minum, tidak boleh berisik, kumuh, pustakawan galak, dan lainnya perlu ditinjau kembali.

          Kekhawatiran sisa makanan di ruang perpustakaan untuk mendatangkan tikus tidak perlu menugaskan dokter hewan di perpustakaan. Keraguan makanan yang dibawa pemustaka di perpustakaan  bergizi atau tidak, kiranya tidak perlu menugaskan ahli gizi di perpustakaan. Kekhawatiran kehilangan buku yang mengakibatkan kerugian, kiranya tidak perlu menugaskan doktor ekonomi bertugas di perpustakaan.

          Untuk merubah paradigma perpustakaan semestinya kita berpikir realistis, profesional, dan proporsional berkemajuan.

 

                                      -------------------