SDM dan PENGEMBANGAN PERPUSTAKAAN : Macam-macam Kedisiplinan Kerja

        

Untuk menegakkan dan meningkatkan kedisiplinan kerja staf perpustakaan (pustakawan dan tenaga teknis) perlu dipahami macam-macam kedisiplinan, Yakni kedisiplinan preventif, kedisiplinan korektif, dan kedisiplinan progresif (Hariandja, 2002)

Kedisplinan preventif adalah tindakan yang mendorong pegawai untuk mentaati peraturan, sistem kerja, maupun standar kerja yang telah ditentukan. Tindakan ini bersifat mencegah agar tidak terjadi pelanggaran. Maka perlu ditumbuhkan kedisiplinan ini sejak awal dan sering diperingatkan secara lisan maupun tertulis (berupa banner, twibbon dll),

Kedisplinan ini terbentuk pada diri masing-masing pegawai sehingga terbentuk karakter lembaga/perpustakaan. Nah dari kedisiplinan pegawai ini dapat diketahui karakter suatu lembaga/perpustakaan seperti apa.

Kedisplinan korektif adalah tindakan yang dilakukan untuk mencegah supaya pelanggaran tidak terulang lagi. Tindakan ini bertujuan untuk memperbaiki perilaku pegawai dan untuk mencegah pegawai lain agar tidak melakukan kesalahan yang sama yang pernah dilakukan seorang pegawai. Tindakan ini juga dimaksudkan untuk mempertahankan standar kerja secara konsisten.

Apabila terjadi pelanggaran seseorang lalu didiamkan saja, maka nanti akan menular pada pegawai lain. Hal ini akan mengurangi wibawa lembaga dan menurunkan wibawa pimpinan.

Kedisplinan progresif adalah tindakan yang berupa peringatan atas pelanggaran yang berat atau adanya pelanggaran yang dilakukan berulang kali. Tindakan penegakan kedisplinan progresif ini antara lain dengan pemberian kesempatan kepada pegawai untuk melakukan perbaikan kesalahan dalam jangka waktu tertentu. Sedangkan pelaksanaan penegakan kedisiplinan progresif ini dapat dilakukan antara lain  dengan:

  1. Memberikan teguran lisan
  2. Memberikan peringatan berupa surat peringatan pertama (SP 1) surat peringatan kedua (SP 2) dan surat peringatan ketiga (SP 3). Apabila dengan SP 1 sudah ada perbaikan, maka tidak perlu dikeluarkan SP 2 maupun SP 3.
  3. Memberikan skorsing dalam waktu tertentu (seminggu, sebulan, kuartal, semester, tahun)
  4. Apabila dengan tahap-tahap tersebut ternyata belum ada perbaikan, maka langkah selanjutnya dapat dilakukan pemberhentian dengan hormat atau pemberhentian dengan tidak hormat

 

Lasa Hs.


 

0 Komentar