KI BAGUS HADIKUSUMO (24 Nopember 1890 – 4 Nopember 1954) “dari ‘Ketuhanan” menjadi “Ketuhanan Yang Maha Esa”

 

Putra Kauman Yogyakarta ini berulang kali dipercaya sebagai Ketua Umum PP. Muhammadiyah melalui berbagai muktamar. Beliau juga terpilih sebagai Ketua Majlis Tarjih dua kali, yakni pada tahun 1922 dan tahun 1930.

Pada masa pendudukan Jepang, umat Islam dan Muhammadiyah mengalami tekanan berat terutama dalam akidah. Jepang saat itu ingin merubah ketauhidan menjadi kemusyrikan dengan cara agar umat Islam menyembah matahari ketika terbit dari timur. Menghadapi situasi seperti ini, Ki Bagus Hadikusumo membentuk korps mubaligh/da’i. Mereka akan ditugaskan ke seluruh pelosok Jawa dan Madura untuk menguatkan akidah umat Islam, memotivasi amal saleh, memberikan semangat untuk berjuang melawan ketidakadilan, dan memberantas kebatilan.

        Ki Bagus pada tahun 1938 termasuk salah seorang yang ikut mendirikan Partai Islam Indonesia (PII).Malah pada tanggal 7 Nopember 1945, Muhammadiyah di bawah kepemimpinannya ikut dalam proses pembentukan Partai Masyumi. Bahkan beliau menjadi Wakil Ketua sampai tahun 1950.

        Suatu ketika di bulan Juni 1945, Bung Karno mengemukakan konsep dasar negara. Dalam konsep ini, beliau mengusulkan “Ketuhanan” di bagian akhir sebagai dasar negara. Dalam hal ini Ki Bagus merasa keberatan dan menolak konsep kalau “Ketuhanan” di bagian akhir dasar negara. Beliau menghendaki dan mengusulkan agar kata “Ketuhanan” diganti dengan “Ketuhanan Yang Maha Esa” dan diletakkan di bagian pertama dasar negara. Pemikiran dan usulan ini ternyata diterima. Hal ini menunjukkan bahwa Muhammadiyah telah ikut berperanserta aktif dalam proses berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia/NKRI,Pancasila, UUD 1945. Maka dalam bahasa Muhammadiyah dinyatakan bahwa NKRI sebagai Dar Al ‘Ahdi wa Asyahadah.

          Beliau pernah terpilih sebagai anggota BPUPKI sebagai utusan umat Islam bersama Abdul Halim, K.H. Ahmad Sanusi, K.H.Mas Mansur, K.H. Abdul Kahar Mudzakir, K.H. Wahid Hasyim, K.H.Masykur, Sukiman Wirjosandjojo, Abikusno Tjokrosujoso, dan H.Agus Salim.

Dalam sidang-sidang BPUPKI, beliau menyoroti masalah-masalah persatuan, ketahanan nasional, pendidikan, ekonomi, sosial dan keadilan berdasarkan Al Qur’an. Begitu besar andil beliau terhadap perjuangan kemerdekaan dan proses berdirinya NKRI. Beliau mendapat kehormatan diangkat sebagai Pahlawan Nasional RI berdasarkan Surat Keputusan Presiden Nomor: 116/TK/2015 tanggal 4 Nopember 2015 oleh Presiden Joko Widodo.

Lasa Hs.

 

0 Komentar