Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Kamis, 12 September 2019

MANAJEMEN PERUBAHAN : Tulisan- 5


               
a)   Budaya organisasi (corporate culture)
Budaya organisasi adalah seperangkat simbol-simbol yang ada dalam organisasi, profesi, industri, atau komunitas tertentu yang merupakan ciri khas, keunggulan, dan kebanggaan tersendiri. Karakteristik ini bisa dalam bentuk kedisiplinan tinggi, cara berpikir, dan perilaku yang merupakan ikatan kuat dalam komunitas. Budaya organisasi ini perlu dijaga dan dikembangkan terus menerus. Sebab kekhasan ini menjadi salah satu modal kompetisi dengan organisasi, lembaga, industri lain.
Banyak cara penumbuhan dan pengembangan budaya organisasi ini antara lain dengan; penanaman budaya kerja yang profesional, penanaman loyalitas, penumbuhan  motivasi, penanaman tanggung jawab pada korps, dan penanaman komitmen.
(1) Penanaman budaya kerja profesional
Keberhasilan seseorang, lembaga, organisasi, maupun profesi tertentu dapat dicapai berkat kerja keras secara profesional. Budaya kerja keras ini akan melahirkan produk (barang dan jasa) yang berkualitas. Produk ini merupakan keunggulan tersendiri. Keunggulan ini harus dicapai apabila profesi pustakawan tidak ingin tergusur dan terpinggirkan.
Sayang sebagia besar pustakawan kita takut kompetisi dengan indikator antara lain betapa sedikitnya peserta kompetisi pustakawan berprestasi yang diselenggarakan oleh Perpustakaan Daerah/Nasional, FPPTI Daerah, maupun Lembaga Layanan Pendidikan Wilayah/Kemenristekdikti maupun kompetisi lainnya. Begitu juga media sosial kepustakaanan akan ramai bila ada yang ulang tahun.Tetapi apabila informasi tentang kejuaraan/kompetisi, mereka sakit gigi dan media sosial sepi tidak ada komentar. Cara dan perilaku ini kurang menunjukkan budaya kerja yang profesioal.
Alangkah indahnya bila pada diri pustakawan dan pegiat literasi ditanamkan jiwa berbakti dan berprestasi untuk memajukan negeri ini. Bukannya banyak ngrumpi tanpa prestasi.
(2) Penanaman loyalitas dan kebanggaan korps
Penanaman loyalitas ini penting bagi suatu profesi. Dengan adanya loyalitas tinggi, mereka yang tergabung dalam suatu profesi akan mencapai keunggulan dalam profesinya.
Dengan adanya kompetisi yang sehat akan dicapai keunggulan profesi pustakawan. Dalam mencapai keunggulan ini perlu ditanamkan sikap maju bersama dan tidak menjatuhkan satu pada yang lain. Sebab keberhasilan yang sesungguhnya itu pada hakekatnya terletak pada kebersamaan. Maju sendirian itu sebenarnya sebuah kegagalan, karena tidak adanya kerjasama. 
Mereka akan memupuk hubungan kerjasama yang baik dengan sesama rekan seprofesi, menjaga nama baik dan martabat rekan, serta memiliki kesetiaan dan penghargaan terhadap korps.
Sesama pustakawan perlu saling menjaga nama baik. Hendaknya dihindarkan pengungkapan kekurangan yang lain. Dalam hal ini Rasulullah Saw bersabda yang artinya:” Jika engkau akan mengungkapkan cela orang lain, maka lebih dulu ingatlah cela dirimu sendiri”. (H.R. Ar Rafiy). Bahkan dalam syair Arab dikatakan :”Apabila seseorang itu tidak tercoreng namanya/kehormatannya, atau harga dirinya, maka selendang apa pun yang dipakainya tetap kelihatan indah”.
(3) Penumbuhan motivasi
Motivasi sangat diperlukan dalam kehidupan manusia sebagai individu maupun sebagai kelompok. Dengan motivasi tinggi, orang bergairah dalam hidup dan kehidupannya. Sebaliknya, mereka yang memiliki motivasi rendah  akan memandang hidup dan profesinya tidak menggairahkan. Hal ini bisa terjadi karena tidak ada dorongan pada diri untuk hidup dan berkehidupan profesi lebih baik.
Orang-orang yang memiliki motivasi tinggi ingin selalu berprestasi. Mereka akan memacu dirinya untuk berkompetisi, berusaha untuk menjadi yang terdepan. Orang ini  selalu  berusaha menjadi orang yang pertama dalam bidang, lembaga, atau komunitasnya. Upaya ini disebut dengan achievement motivation atau needs for achievement.
(4) Penanaman tanggung jawab pada profesi
Etika profesi pustakawan yang dituangkan dalam Kode Etik Pustakawan Indonesia itu merupakan bentuk tanggung jawab seorang pustakawan terhadap profesinya. Dalam hal ini seorang pustakawan dituntut untuk bekerja sesuai standar dan mencapai prestasi setinggi-tingginya. Hal ini dimaksudkan untuk memajukan profesi, perpustakaan, dan ilmu perpustakaaan.
Ilmu pengetahuan, pengalaman, dan informasi yang dimiliki pustakawan hendaknya dimanfaatkan untuk kepentingan profesi, ilmu perpustakaan, organisasi kepustakawanan, perpustakaan, dan masyarakat pada umumnya. Firman Allah Swt dalam Q.S. Al Isra’ ayat 36 menyatakan yang artinya: “Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabnya”.
          Demikian pula dalam hadis Nabi Muhammad Saw, bahwa beliau bersabda yang artinya: “ Tiada habisnya (berdiri) kedua telapak kaki seorang hamba (kelak) di hari kiamat sehingga selesai ditanya tentang umurnya untuk apa ia habiskan, ditanya tentang pengetahuannya untuk apa telah dilakukan dengan (ilmunya) itu, kemudian ditanya perihal hartanya dari mana diperoleh dan kemana dibelanjakan, dan ditanya dari jasmaninya untuk apa dihabiskan tenaganya” (H.R. Turmudzi)
          Dari ayat Al Quran dan hadis tersebut dapat dipahami bahwa apa yang diperbuat oleh manusia harus dipertanggungjawabkan. Ilmu pengetahuan dan keahlian pustakawan dimanfaatkan untuk apa. Apakah kegiatan kepustakawanan itu sekedar bernilai angka kredit, untuk kenaikan jabatan/pangkat/golongan, atau benar-benar ikhlas dan profesional.
(5) Penanaman komitmen
Komitmen adalah sikap menyesuaikan diri dengan manap pada sasaran yang akan dicapai seseorang atau komunitas Orang-orang yang komitmen tinggi akan memiliki inisiatif. Mereka yang memiliki inisiatif tinggi biasanya mampu membaca peluang, mampu memanfaatkan peluang, mampu mengembangkan peluang, bahkan mampu menciptakan peluang.
          Orang-orang yang memiliki inisiatif tinggi biasanya memiliki karakteristik :
(a)  Siap memanfaatkan peluang;
(b)  Mampu melampaui batas, persyaratan, atau standar yang ditetakan. Dengan kata lain, orang yang inisiatif akan melebihi rata-rata orang lain;
(c)  Dalam kondisi tertentu berani melawa arus dan sudah diperhitungkan tidak akan terbawa arus;
(d)  Berani melakukan petualangan dan besedia berkorban untuk orang lain;
(e)  Mengajak orang lain untuk memperbaiki langkah-langkah yang selama ini dianggap lemah,kurang, atau salah;
(f)   Siap menghadapi celoteh, gosip, isu, atau suara-suara miringatau suara sinis;
(g)  Sabar menghadapi sikap dengki dan iri atas keberhasilannya
Orang-orang yang memiliki inisiatif biasanya bersikap berani menanggung resiko. Orang-orang seperti ini akan memperoleh keberhasilan tersendiri. Sementara itu, mereka yang tidak punya inisiatif cenderung mudah menyerah, pasrah, dan kalah dalam bersaing. 
Suatu ketika Rasululla saw. berkumpul dengan para sahabat. Beliau berkisah tentang tiga orang yang masuk masjid untuk melaksanakan salat berjama’ah. Ketiga orang itu kebetulan datang terlambat dan masjid sudah penuh jama’ah. Melihat masjid sudah penuh, orang pertama segera pulang ke rumah untuk salat sendirian (munfarid). Orang kedua langsung masuk ke masjid untuk ikut salat jama’ah meskipun di serambi masjid. Sementara itu, orang ketiga memiliki inisiatif untuk menerobos saf-saf itu sambil mengamati barangkali ada saf yang masih kosong. Berkat inisiatif, keberanian, dan kemampuan membaca peluang serta memanfaatkany, maka orang ketiga ini mendapat tempat salat di saf depan. Kemudian Rasulullah saw. memberikan komentar bahwa orang pertama adalah gambaran orang yang putus asa.Orang kedua adalah tipe orang yang malu-mau karena tidak berani. Kemudian orang ketiga adalah tipe orang yang berinisiatif, penuh harapan, bersemangat, dan pantang menyerah.Maka orang ketiga inilah yang memeroleh apa yang diinginkan.   
c).Manajerial/perilaku manajerial
          Perubahan signifikan suatu perpustakaan dipengaruhi oleh model kepemimpinan perpustakaan. Kepemimpinan yang berhasil merupakan perkalian antara kredibilitas dan kemampuan (Dave Ulrich dalam Rohimah, 2017:5).Kredibilitas itu terkait dengan ciri-ciri yang ada pada seorang pemimpin (kepala perpustakaan) seperti kompetensi, sifat, nilai, kebiasaan , dan kepercayaan oleh kolega dan bawahannya. Kemudian yang dimaksud kemampuan disini adalah kemampuan kepala perpustakaan dalam menata dan melaksanakan visi, misi dan strategi pengembangan sumber daya manusia dan sumber daya lain dalam memajukan perpustakaan.
          Kepemimpinan transformatif membutuhkan pengarahan yang jelas dan keteladanan. Bukannya kepemimpinan yang bingung (tidak bisa mengarahkan) dan sekedar  DDP (datang duduk perintah). Kemampuan pengarahan dan keteladanan kadang lebih dahsyat dari sekedar banyak bicara.  Ketidakmampuan memberikan pengarahan akan membuat kebingungan anak buah. Ketiadaan keteladanan, akan mengurangi kewibawaan
          Dalam pandangan Islam, kepemimpinan yang baik adalah pemimpin (kepala perpustakaan) yang memiliki ciri-ciri; (1) jujur/shiddiq, atau dapat dipercaya. Yakni kepemimpinan yang bisa dipercaya oleh atasan maupun anak buah/masyarakat karena memiliki pengetahuan perpustakaan yang memadai; (2) komunikatif/tabligh, yakni mampu melakukan komunikasi, pendekatan ke atas maupun ke bawah, dan pihak lain. Kelancaran komunikasi ke segala arah ini akan memperlancar program-program perpustakaan.  (3) bertanggung jawab/amanah, yakni kepemimpinan yang mampu melaksanakan tugas kepemimpinan perpustakaan secara penuh. Bukan kepemimpinan sampingan dan sekedar bersinggah, asal beres. Kepemimpinan yang ala kadarnya ini bukan kepemimpinan yang bertanggung jawab.Kepemimpinan model ini tidak akan membawa kemajuan.  (4) cerdas/fathanah, yakni kepemimpinan yang mampu menggerakkan perpustakaan dengan inovasi-inovasi.  
Kepemimpinan/kepala perpustakaan yang memiliki sifat-sifat seperti inilah yang diharapkan mampu mengembangkan dan merubah kinerja perpustakaan. Perubahan itu terutama dalam layanan perpustakaan
Selesai

Lasa Hs



0 komentar:

Posting Komentar