Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

MOMEN

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Kamis, 15 April 2021

RAMADHAN KARIIM : KEUTAMAAN BULAN RAMADHAN ( 1 )


 

Terdapat beberapa keutamaan bulan Ramadhan antara lain:

 

1.Diturunkan Al Quran

 

      Firman Allah Swt yang artinya :”(beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan yang batil) (Q.S. Al Baqarah : 185).

      Mengomentari ayat tersebut, Buya Hamka dalam Tafsir Al Azhar juz 1,2,3: 345-346) menyatakan bahwa mula turunnya Al Quran yang mengandung 114 surah terdiri atas 6.236 ayat itu ialah dalam bulan Ramadhan. Mengenai tanggal dan harinya memang ada perbedaan pendapat, namun tidak ada perbedaan pendapat tentang permulaan turunnya Al Quran di bulan Ramadhan.

      Kemudian dalam kitab Al Mizan fi Tafsir Al Quran juz 2 : 13 dijelaskan bahwa turunnya al Quran yang dimaksud adalah turun ke langit dunia lalu diturunkan kepada Rasulullah Muhammad Saw.

       Pendapat ini dikuatkan oleh Sayyid Qutub dalam Tafsir Fi Dhilalil Quran juz 1: 81. Beliau menyatakan bahwa permulaan Al Quran itu diturunkan pada bulan Ramadhan, bahkan sebagian besar turunnya Al Quran di bulan Ramadhan. Yakni kitab yang berupa petunjuk bagi manusia dan mengeluarkan manusia dari dunia kegelapan ke dunia terang benderang.  

                                                                     Lasa Hs

Jumat, 09 April 2021

TELINGA YANG BAIK

               Alhamdulillah, kita ini dijadikan sebagai manusia. Yakni makhluk yang sempurna (ahsanu taqwim). Kesempurnaan ciptaan manusia antara lain diberikan perangkat lunak berupa hati, nafsu, dan akal. Hidup manusia juga diberi perangkat keras seperti mulut (untuk bicara), mata (untuk memandang, melihat), dan telinga (untuk mendengar).

          Telinga perlu difungsikan secara proporsional. Namun demikian, dalam praktiknya, ada telinga yang baik (udzunun wa’iyyah) dan ada telinga yang tidak berfungsi optimal. Telinga yang baik adalah telinga yang mampu menerima, menyimpan, dan memelihara kebaikan. Yakni telinga yang mampu menyimpan dan memelihara ayat-ayat Allah dan Sunah Nabi Saw.

          Adapun telinga yang tidak berfungsi adalah telinga yang tidak digunakan untuk menyimpan dan memelihara ayat-ayat Allah dan RasulNya. Jangankan memelihara, mendengar saja tidak mau. Mereka punya telinga tetapi tidak untuk mendengarkan. “Dan sungguh, akan Kami isi Neraka Jahanam banyak dari kalangan jin dan manusia. Mereka memiliki hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka memiliki mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah) dan mereka memiliki telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengarkan (ayat-ayat Allah). Mereka seperti hewan ternak, bahkan lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lengah” (Q.S. Al A’raf: 179).

 

                                                                                                          Lasa Hs.

IBARAT MAKAN BANGKAI

 

Menceritakan kebaikan orang lain merupakan penyebaran kebaikan. Dengan membaca atau mendengar kisah baik seseorang, diharapkan dapat memotivasi orang lain untuk meniru kebaikan dan melanjutkan perjuangan mereka. Tentunya mengisahkan kebaikan ini bukan sekedar cari muka dan bukan bermaksud kultus individu. Maka disinilah perlunya penulisan biografi tokoh tertentu agar diteladani perilakunya dan agar tumbuh semagat juang. Maka penulis biografi itu bisa berfungsi sebagai penyebar kebaikan.

          Lain halnya dengan penyebaran kejelekan orang lain. Hal ini bisa menimbulkan fitnah, adu domba, dan sakit hati orang/kelompok tertentu. Mereka yang menyebarkan fitnah itu pada hakekatnya mereka itu menyebarkan kebusukan. Saking buruknya penyebaran kejelekan orang lain itu dapat diibaratkan seperti makan bangkai. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam firman Allah Swt :”Wahai orang-orang yang beriman. Jauhilah sejauh-jauhnya akan  buruk sangka, sesungguhnya sebagian buruk sangka itu dosa, dan janganlah ada diantara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah kamu sekalian senang bila makan daging saudaranya yang sudah mati (bangkai)?. Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sungguh Allah Maha Penerima taubat, Maha Penyayang (Q.S. Al Hujurat: 12).

                                                                                                                                     

 

                                                                                                                                      Lasa Hs.

Senin, 29 Maret 2021

RAMADHAN YANG KITA RINDUKAN

 

RAMADHAN YANG KITA RINDUKAN



 

Judul : Fatwa Ramadan; Jawaban atas Sejumlah Masalah Seputar Puasa di Bulan Suci

Penulis: Prof. Dr, H. Syamsul Anwar, MA

Editor :Niki Alma Febriana Fauzi

Penerbit : Yogyakarta: IB Pustaka PT Literas Cahaya Bangsa, Maret 2021

Tebal      :  170 hlm

ISBN : 978 623 9553 53 1

 

            Ramadhan merupakan bulan yang mengesankan, mengasyikkan, dan selalu dirindukan dari tahun ke tahun. Tahun lalu seolah-olah kita kehilangan Ramadhan sebagai akibat pandemi covid 19. Semoga kerinduan ini dapat diobati tahun ini, sehingga kita bisa pengajian dan takjil bersama, malakukan tarawih berjama’ah, dan indahnya makan sahur. Kita rindu suasana jalan dan gang dilewati laki-laki berbaju koko dan wanita bermukena seirama menuju ke dan pulang dari masjid/mushala.

            Semangat iktikaf di akhir Ramadhan merupakan kegiatan religi yang sangat membekas pada kehidupan rohani seorang muslim. Menjelang akhir Ramadhan, orang berharap ber Iedul Fitri bersama sanak saudara, tetangga, dan anak cucu. Namun dengan adanya larangan mudik kiranya kita cukup memendam rindu pada semua itu.

            Apabila dicermati, memang Ramadhan memiliki keistimewaan tersendiri seperti bulan diturunkan Al Quran (Q.S. Al Baqarah: 185), pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup dan syetan dibelenggu (H.R. Abu Hurairah), malaikat beristighfar untuk mereka yang puasa hingga berbuka (H.R. Abu Hurairah), Allah sendiri yang akan memberikan pahala orang puasa dengan berlipat ganda (H.R.Muslim). dan turun lailatul qadar (Q.S. Al Qadar: 1-5)

            Buku yang ditulis oleh Ketua Majelis Tarjih dan Tajdid PP. Muhammadiyah (2000 – sekarang) ini membahas berbagai hal seputar puasa yang disajikan dalam 6 (enam) bab. Pada bab pertama, Guru Besar UIN Sunan Kalijaga ini membahas seputar rukhshah, fidyah, dan qada puasa Ramadhan. Disini juga dijelaskan tentang bagaimana sopir berpuasa, puasa orang tua yang kena stroke, hukum memuasakan orang lain, fidyah dengan uang dan lainnya. Masalah-masalah ini memang sering muncul dalam masyarakat kita.

        Kemudian pada bab 2, Prof.Syamsul menjelaskan seputar amalan-amalan di bulan Ramadhan dan masalah terkait, misalnya bolehkah shalat tarawih munfarid, orang puasa tetapi tidak shalat, seputar iktikaf, maupun tanda-tanda turunnya lailatul qadar.

            Tidak kalah menariknya pada bab 3. Disini disajikan masalah puasa dengan hal-hal yang kontemporer seperti penggunaan obat tetes, suntikan (vaksinasi), penggunaan cairan penyegar mulut, cuci darah, gosok gigi di siang hari, dan mimpi basah di siang hari bulan Ramadhan.  

          Di buku ini juga dijelaskan pula tentang puasa di negera-negara yang memiliki perbedaan waktu dengan Indonesia, dimana waktu siangnya lebih lama seperti di Eropa. Menjawab persoalan ini, beliau mengemukakan beberapa dalil dan pada akhirnya berfatwa :” Penanya dapat berpuasa di Eropa sesuai lama berpuasa di Madinah tahun ini dan berbuka tidak menunggu terbenamnya matahari. Kalau memandang diri sebagai musafir karena tinggal di Eropa tidak lama, boleh mengganti puasanya setelah kembali ke Indonesia. Tapi berpuasa pada bulan Ramadhan lebih baik karena pada bulan ini ada satu malam yang nilai ibadah pada satu malam itu melebihi nilai ibadah  seribu bulan lainnya (halaman _109).   

            Antara puasa dan makanan, dibahas pada bab 5. Di sini beliau memberikan jawaban tentang hukum mencicipi makanan, mencium aroma makanan, melihat gambar porno, buka warung di siang hari Ramadhan.

            Kemudian ilmuwan yang tawadhu’ ini menutup buku ini dengan menjelaskan zakat fihrah, bagaimana kalau hari raya pas hari Jum’at, dan beberapa adab menyambut Iedul Fitri.

           Buku ini memang menarik karena membahas masalah-masalah kontemporer dan disajikan dengan sederhana dan bahasa yang mudah dipahami. Istilah-istilah khusus seperti istilah kedokteran, istilah fikih, ushul fikih diberikan penjelasan seperlunya. Dengan demikian pembaca mampu memahaminya dengan jelas. Untuk memudahkan temu kembali topik-topik menarik, buku ini dilengkapi indeks pada halaman akhir buku.

            Kalau kita pelajari buku-buku tentang Ramadhan, sebenarnya satu buku itu saling melengkapi pada buku lain. Disamping memang masing-masing penulis itu memliki latar belakang dan tujuan penulisan sendiri-sendiri.

Apabila buku ini disandingkan dengan buku Majelis Bulan Ramadhan (judul asli Majaalis Syahri Ramadhan) oleh Syaikh Muhammad bin Salih al ‘Istaimin, maka buku Prof. Syamsul Anwar ini cenderung membahas puasa yang terkait dengan kekinian dan cenderung menjawab pertanyaan dan persoalan yang terjadi dalam masyarakat.

Sebagai contoh adalah bagaimana kewajiban puasa bagi pekerja berat seperti kuli bangunan, pekerja tambang, driver kendaraan berat, dan lainnya. Dalam menjelaskan masalah ini, lebih dahulu dikemukakan nash-nash Al Quran (Q.S. Al Baqarah: 184) dalil ushul fikih dan hadis, maka penulis buku ini menyatakan:”orang-orang yang berat menjalankannya dalam ayat ini meliputu orang tua yang sudah tidak kuat lagi berpuasa, orang sakit menahun, orang yang masyaqqahnya (kesukarannya) berulang-ulang seperti wanita muda yang hamil dan menyusui kemudian hamil dan menyusui lagi, serta pekerja berat seperti kuli-kuli pekerja berat di pelabuhan atau lain-lain. Mereka ini boleh tidak berpuasa dan menggantinya dengan membayar fidyah, yakni memberi makan satu orang miskin untuk satu hari tidak berpuasa (hlm: 4)

Vaksinasi dan  suntik

            Vaksinasi yang kini sedang digalakkan Pemerintah, Guru Besar yang pernah menjabat BPH UMY ini menjelaskan bahwa suntikan non  nutrisi disepakati tidak membatalkan puasa karena suntikan ini tidak memasukkan makanan ke dalam tubuh (Al Khalil: 70), termasuk suntikan vaksinasi yang tidak memasukan zat makanan pada tubuh. Oleh karena itu pelaksanaan vaksinasi dengan cara suntikan intramaskular (melalui otot) di siang Ramadhan bagi orang yang berpuasa tidak membatalkan puasa (hlm: 75). Oleh karena itu kiranya tidak perlu ragu mengikuti vaksinasi di siang hari pada bulan Ramadhan nanti.   

            Pada buku Majelis Bulan Ramadhan (2007)  dibahas dan dijelaskan tentang keutamaan bulan Ramadhan, membaca Al Quran, adab berpuasa, hal-hal yang membatalkan puasa, zakat, penghuni surga dan neraka serta sekitar taubat. Penyajian buku ini disertai dalil – dalil Al Quran dan Sunah, pemahaman salafus shalih, dan mengutamakan dalil-dalil yang shahih.

            Pada bagian tengah buku (halaman 269)  dijelaskan tentang keutamaan sepertiga akhir bulan Ramadhan. Pada malam-malam itu Rasulullah mengencangkan sarungnya, menghidupkan malamnya, dan membangunkan keluarganya (H.R. ‘Aisyah r.a.). Beliau menghidupkan malam dengan shalat malam, membaca Al Quran, berdzikir baik dengan lisan maupun dengan hati. Pada sepuluh hari terakhir bulan  Ramadhan itu Rasulullah melakukan i’tikaf sampai beliau wafat dan kemudian para isteri beliau melakukan i’tikaf sepeninggal beliau (H.R. ‘Aisyah r.a.).

 

 

                                                                                                                                    Lasa Hs.

 

Kamis, 25 Maret 2021

NASIHAT PENDAHULU KITA

 


                                        Tulisan - 11

                                       Ojo sok nyatur alaning liyan

                            (jangan suka menyebarkan kejelekan orang lain)

 

            Para pendahulu kita dalam memberikan nasihat biasanya menggunakan bahasa halus, perlambang, dan perumpamaan. Untuk memahaminya perlu perenungan dan ketajaman matahati. Dengan demikian, kita baru bisa menangkap dan memahami apa yang tersirat.

            Kalimat ojo sok nyatur alaning liyan mengandung makna yang luas. Artinya untuk menjaga ketenteraman dan kedamaian dalam hidup ini, perlu dihindarkan adanya fitnah, menjelekkan pihak lain, merasa paling hebat, dan pihak lain serba salah. Siapapun RT nya selalu dimusuhi. Kalau begitu waktu dan umurnya habis untuk mencari dan menyiarkan kekurangan dan kejelekan pihak lain.Sementara itu tidak sempat mengetahui kejelekan diri sendiri.

Dalam membicarakan kejelekan orang lain ini kadang dibungkus dengan bingkai-bingkai yang menghalalkan tindakan itu. Dicarilah dalil yang membenarkan tindakan  yang tak terpuji itu.  

            Di media sosial yang marak ini, orang sangat mudah membuat fitnah, menyebarkan berita bohong, menjelek-jelekkan pihak lain. Kalau dulu ada kalimat mulutmu harimaumu. Kini jarimu adalah harimaumu. Hanya dengan satu jari saja seseorang dapat menyebarkan fitnah kemana-mana secara cepat.

            Membicarakan kejelekan orang lain dalam bahasa agama kita adalah ghibah. Pengertian ghibah dijelaskan oleh Rasulullah Saw.  Suatu ketika beliau memberikan pertanyaan kepada para sahabat :” Tahukah kamu sekalian tentang ghibah?. Para sahabat menjawab : Allahu wa rasuluhu a’lam (Allah dan RasulNya lebih mengetahui). Nabi Saw lalu bersabda : yakni membicarakan sesuatu tentang saudaramu yang hal itu tidak dikehendaki (dibencinya). Para sahabat bertanya lagi :Bagaimana kalau hal itu sesuai kenyataan (benar terjadi). Rasul Saw pun menjawab: Jika benar perkataanmu maka engkau telah ghibah, akan tetapi apabila hal itu tidak benar, maka itu perbuatan dosa besar” (H.R. Mslim dan Abu Daud).

Ketika seseorang menyebut kejelekan orang lain itu namanya ghibah. Apakah yang digunjingkan itu benar atau tidak benar.

Agar ghibah itu tidak menyebar kemana-maka, maka kita perlu mencegahknya. Pencegahan itu antara lain kita tak perlu membuat berita bohong dan  tidak menyebarkan berita bohong. Penyebaran kejelekan orang lain bisa berakibat fitnah, keresahan, dan adu domba.

 

Lasa Hs.  

 

Rabu, 17 Maret 2021

Memorandum Akhir Jabatan Gerak Langkah FPPTMA

Jumat, 05 Maret 2021

SUKSES AKREDITASI PERPUSTAKAAN SEKOLAH/MADRASAH

Assalamu ‘alaikum Wr. Wb.

 

Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, berkat hidayah dari Allah SWT buku Sukses Akreditasi Perpustakaan Sekolah/Madrasah ini dapat terwujud. Buku ini diharapkan menjadi pedoman untuk menyelenggarakan perpustakaan di sekolah dan madrasah  sesuai standar Akreditasi Perpustakaan Sekolah. Akreditasi ini merupakan standar mutu yang harus dipenuhi oleh  perpustakaan sekolah/marasah .

 

Penilaian dengan standar akreditasi ini tidak hanya mencakup megahnya gedung dan banyaknya anggaran. Standar yang harus dipenuhi perpustakaan sekolah/madrasah  mencakup komponen pengembangan koleksi, sarana prasarana, pelayanan, sumber daya manusia, pengelolaan dan pengolahan, dan komponen penguat.

Apabila perpustakaan sekolah mampu memenuhi syarat minimal yang dijabarkan dalam buku ini beserta kelengkapannya, maka Insyaa Allah telah memenuhi standar mutu secara nasional.

Atas selesainya buku ini disampaikan terima kasih kepada:

 

 

1.      Bapak Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta yang telah memberikan amanah kepada saya sebagai Kepala Perpustakaan UMY 2012 – 2017, dan 2017 - 2021

2.      Para rektor Universitas Gadjah Mada, Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga, Universitas Islam Indonesia/UII, Universitas Terbuka, Institut Pertanian (INTAN) YPWT Yogyakarta, Direktur Akademi Arsitektur YKPN, dan Direktur Akademi Perdagangan,  Rektor Universita Terbuka , dan Dirjen Dikti  yang telah memberikan kesempatan pengabdian (sebagai pustakawan, dosen, tim penilai, redaksi, penulis modul, dan asesor) lembaga pendidikan yang mereka pimpin.

3.      15 Penerbit DIY, Semarang  dan Jakarta yang telah menerbitan buku-buku saya;

 

 

4.      Beberapa redaksi jurnal/majalah yang telah berkenan memuat tulisan-tulisan saya selama ini

5.      Para Rektor UM Ahmad Dahlan, UNISA Yogyakarta, UM Surakarta, UM Ponorogo, UM Malang, UM Jember, UM Sidoarjo, UM Semarang, UM Kudus, UM Magelang, UM Sukabumi, UM Prof, Hamka, Ketua Stikes Muhammadiyah Gombong, UM Palembang, UM Bengkulu, UM Aceh, UM Sumatera Utara, UM Mataram, dan lainnya yang telah memberikan Kepercayaan pada saya untuk membing akreditasi Perpustakaan PTMA Yang mereka pimpinan.

6.      Para mahasiswa, guru, dosen, pustakawan, peserta pelatihan, dan peminat   bidang perpustakaan yang telah memanfaatkan tulisan-tulisan saya

 

 

Buku ini masih perlu penyempurnaan, untuk itu diharapkan saran dan kritikan dari semua pihak. Untuk itu disampaikan terima kasih.

 

Wabillahit taufieq wal hidayah

 

Wassalamu ‘alaikum wr. Wb.

 

Yogyakarta, 1 Januari  2021

Lasa Hs