Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

MOMEN

Selasa, 26 November 2019

PERPUSTAKAAN SEBAGAI ORGANISASI INFORMASI : Tulisan – 2



          Komunikasi merupakan interaksi dari unsur-unsur pengirim, penerima, pesan, saluran komunikasi, dan tujuan komunikasi (Lasa Hs, 2009: 186). Kemudian komunikasi organisasi dapat diartikan sebagai pengiriman dan penerimaan pesan dalam suatu organisasi (perpustakaan misalnya) yang kompak (Redding dan Sandborn dalam Arni 2001: 65).Sedangkan yang dimaksud komunikasi dalam hal ini adalah komunikasi internal (perpustakaan). Yakni hubungan antar orang, hubungan sesama level, dan elemen lain dalam organisasi. Kemudian dalam komunikasi organisasi ini meliputi sikap, tujuan, arah, dan media komunikasi. Elemen-elemen ini besar pengaruhnya dalam proses komunikasi internal perpustakaan.
a.Hubungan antar orang
          Dalam sistem perpustakaan terjadi hubungan antar orang, baik antara petugas, petugas dengan pemustaka, pemustaka dengan pemustaka, petugas dengan pialang (salesman), dan lainnya. Hubungan antar orang ini akan menimbulkan interaksi, gesekan kepentingan, dan saling memengaruhi. Untuk mengatur hubungan antar petugas dengan petugas, maka disusunlah standar operasional prosedur (SOP) dan intruksi kerja. Maka bila perpustakaan tidak punya SOP dan instruksi kerja, akan terjadi tumpang tindih pekerjaan atau bahkan saling melempar tanggung jawab karena tugas-tugas tertentu bukan menjadi tanggung jawab mereka. Kemudian untuk mengatur hubungan petugas dan pemustaka, maka disusunlah peraturan dan tata tertib pemustaka dalam peminjaman, penggunaan internet, pengunaan ruang baca, dan lainnya.
b. Hubungan antar unit kerja
        Perpustakaan sebagai organisasi memiliki unit kerja yang berfungsi sebagai subsistem organisasi yang dalam kegiatannya memerlukan komunikasi dan informasi. Komunikasi antar unit kerja (pengolahan, pelayanan, teknologi informasi misalnya) dapat berlangsung secara vertikal dan horizontal.
c. Hubungan dengan lembaga lain
          Dalam melaksanakan kegiatannya, perpustakaan memerlukan bantuan lembaga/perpustakaan lain terutama dalam pemenuhan kebutuan informasi pemustaka. Dari upaya pemenuhan kebutuhan inilah lalu menimbulkan kerjasama antarperpustakaan dan biasanya akan berlanjut dengan pembentukan jaringan informasi. Yakni sistem terpadu  dari lembaga yang bergerak di bidang pengelolaan informasi untuk memasukkan data yang relevan tanpa memerhatikan asal maupun bentuk data untuk kepentingan pemustaka (:asa Hs., 2009: 129).
          Memang dengan adanya jaringan-jaringan ini akan membentuk sinergi dan saling membantu dalam layanan informasi. Namun dalam pelaksanaannya kadang terdapat kendala antara lain: 1) beban kerja bertambah; 2) belum adanya aturan baku tentang kerjasama; 3) persoalan anggaran; 4) keterbatasan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia; dan komplelsitas kebutuhan informasi masyarakat pemustaka.
Bersambung


Lasa Hs