Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Jumat, 15 November 2019

Prof. K.H. Abdoel Kahar Mudzakir – Pahlawan Nasional


Perjuangan di Indonesia.

Setelah lulus dari Universitas Darul ‘Ulum pada tahun 1936, Kahar Mudzakir kembali ke Indonesia. Beliau aktif di Muhammadiyah, dan diangkat sebagai Direktur Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah. Disamping itu, beliau juga aktif dalam bidang politik.
            Pada mulanya, beliau diminta memberikan ceramah kepada para anggota Parindra di Yogyakarta. Maka sesuai dengan asas hidupnya, kemudian beliau ikut berperan serta dalam Partai Islam Indonesia (PII) yang berpusat di Yogyakarta. Saat itu, PII diketuai oleh Dr. H. Sukiman Wiryosanjoyo dan Wiwoho Purbohadijoyo dengan Sekretaris Jendral Mr.R.H.A. Kasmat.
            Di masa pendudukan Jepang, Kahar Mudzakir dipercaya sebagai Wakil Kepala Kantor Urusan Agama (Gunseikanbu Syumbu Zicho). Mulai saat itulah, beliau memiliki hubungan dengan pemimpin-pemimpin nasional Indonesia seperti Bung Karno, Bung Hatta, dan lainnya. Maka dalam kedudukannya sebagai tokoh Islam, beliau dipercaya duduk dalam Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) bersama dengan tokoh-tokoh lainnya. Dalam perjalanannya, beliau termasuk salah seorang penanandatangan Piagam Jakarta (Jakarta Charter) pada tanggal 22 Juni 1945. Penandatangan lain adalah; Ir. Soekarno, Drs. Mohammad Hatta, K.H.Wahid Hasyim, Abikusno Cokrosuyoso, Mr. A.Subardjo, Mr. Maramis, Mr. Mohammad Yamin, dan Kahar Mudzakir. Tim ini kemudian dikenal dengan Tim Sembilan.
            Pada detik-detik menjelang kemerdekaan, para tokoh umat Islam telah memikirkan pentingnya umat Islam memiliki perguruan tinggi Islam. Maka para tokoh Islam saat itu menyelenggarakan pertemuan yang membahas berdirinya perguruan tinggi Islam. Petemuan yang diketuai oleh Bung Hatta itu membentuk pengurus pendirian perguruan tinggi Islam dengan Mr. Suwandi sebagai Wakil Ketua, Dr. Ahmad Ramali sebagai Sekretaris, dan para anggota terdiri dari; K.H. Farid Ma’ruf, K.H. Fathurrahman Kafrawi, Kartosudarmo, dan Kahar Mudzakir. Dalam pertemuan itu disepakati untuk mendirikan Sekolah Tinggi Islam yang mulai dibuka pada tanggal 8 Juli 1945 berlokasi di Gedung Kantor Imigrasi Pusat Gondangdia Jakarta. Dalam hal ini, Kahar Mudzakir dipercaya sebagai Rektor STI, sedangkan Bung Hatta sebagai Ketua Dewan Kurator. Perguruan tinggi ini, setelah kemerdekaan pindah ke Yogyakarta.
            Dalam perkembangan selanjutnya, STI ini berubah menjadi Universitas Islam Indonesis (UII). Sedangkan Fakulas Agama diambil alih oleh Departemen Agama dijadikan Perguruan Tinggi Agama Islam (PTAIN) yang di kemudian hari ada yang berkembang menjadi Institut Agama Islam Negeri (IAIN) atau Universitas Islam Negeri.
            Jabatan Prof. Kahar Mudzakir di UII, selain sebagai Rektor, juga pernah dipercaya sebagai Dewan Kurator, Dekan Fakultas Hukum, dan Ketua Panitia pencari dana perlengkapan Universitas Islam Indonesia itu.
            Kiprahnya di Muhammadiyah, kecuali pernah menjadi Direktur Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yoyakarta, pada tahun 1958 beliau memelopori berdirinya Akademi Tabligh Muhammadiyah dan belia sebagai Deknnya. Dalam perkembangannya, akademi ini berkembang menjadi FIAD Muhammadiyah.
            Dalam perjuangan Kemerdekaan Indonesia, Kahar Mudzakir menjadi salah seorang pemimpin Angkatan Perang Sabil (APS) di Yogyakarta. Sebagaimana diketahui bahwa pasukan ini dikenal keberaniannya melawan tentara Belanda, Untuk itu, APS ini pernah mendapat peghargaan dari Panglima Besar Jendral Soedirman dan Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
            Dalam bidang politik, Kahar Mudzakir pernah menjadi anggota KNIP, dan menjadi Ketua Umum Masyumi DIY, bahkan mewakili Masyumi menjadi anggota Konstituante. Dalam kehidupan kemasyarakatan keagamaan, beliau pernah menjadi anggota Pengurus Yasma (Yayasan Asrama dan Masjid) yang mengyrusi Masjid Syuhada Yogyakarta. Juga pernah menjadi Ketua Umum Pusat Persaudaraan Jamaah Haji Indonesia DIY dan pernah menjadi Penasehat PITI DIY. Juga pernah menjadi Penasehat Panitia Pembantu Kurban Perang Pembebasan Palestina  dan Masjidil Aqsha Yogyakarta.
            Karya tulis beliau yang berupa terjemahan; 1) Pengantar Untuk Memelajari Syariah Islamiyah (terjemahan dari Al Mad khal  Li Dirasatil Fiqhil Islamy) karangan Prof. Dr.Yusuf Musa; 2) Piagam Persatuan Bangsa-Bangsa dalam Islam  (terjemahan dari Mitsaqatul Umam Wasy Syu’ub) karya Dr. Abdul Fatah Hasan , Wakil Hakim Tinggi Majelis Daulah Kairo; 3)  
Rektor UII pertama kali itu (8 Juli 1945 – 1960) itu wafat 2 Desember 1973 dalam usia 66 tahun. Beliau meninggalkan suri tauladan perjuangan dalam politik, Islam, pendidikan, dan berMuhammadiah. Presiden RI. Ir. Joko Widodo menganugerahkan Gelar Pahlawan Nasional kepada Prof. K.H. Abdoel Kahar Mudzakir pada peringatan Hari Pahlawan Nasional 10 Nopember 2019. Tokoh lain yang mendapat Gelar Pahlawan Nasional tahun ini adalah; Prof. Dr. M. Sardjito, Ruhana Kuddus, Sultan Himayatuddin Muhammad Saidi,  dan DR (HC) MR. AA.Maramis, dan K.H.Masjkur.
Selesai

(Sumber : 100 Tokoh Muhammadiyah Yang Mengispirari, 2014 dan Kedaulatan Rakyat 10-11-2019, ditulis kembali oleh Lasa  Hs).



0 komentar:

Posting Komentar