Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Jumat, 08 Mei 2020

TALANG PLASTIK



         
Ketika itu, Pak AR sudah menjadi Ketua PP Muhammadiyah. Kalau ke Jakarta atau ke kota lain sering ketemu orang dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk pejabat atau pengusaha. Di antara pejabat atau pengusaha itu sering mengaku sebagai warga Muhammadiyah. Ada yang karena neneknya atau kakeknya sebagai orang Muhammadiyah. Ada yang mengaku bahwa beliau pernah sekolah di sekolah Muhammadiyah, mekipun hanya Taman Kanak-Kanak atau Sekolah Rakyat/Sekolah Dasar.
          Diantara para pejabat atau pengusaha itu yang memberi uang kepada Pak AR. antara lain; Ir. H.M. Sanusi (Allahu Yarham), H. Mintardja, S.H., Jenderal Sarbini, Mayjen Maryadi (mantan Dirut PN Sandang), Drs. H. Sonhadji, H. Djunaidi. Mereka memberi uang ada yang 2 juta, 3 juta rupiah, 5 juta rupiah , bahkan ada yang memberi 10 juta rupiah. Uang itu lumayan banyak saat itu.
          Biasanya, sehabis pulang dari dakwah dan mendapat uang, lalu saya (Sukriyanto, penulis buku ini) yang diutus untuk mengantarkan uang itu kepada Bapak H. Zubeir Kohari (Allahu Yarham) atau Bapak   Djindar Tamimy. Melihat hal itu Fauzi (putera Pak AR yang lain dan kini dokter) nyeletuk bilang ”Talang kok ora teles”(Talang kok tidak basah). Kata Pak AR  :” Ini talang plastik, jadi tidak basah”.
          Pak AR memberi penjelasan kepada anak-anaknya, bahwa kalau beliau tidak menjadi Ketua PP Muhammadiyah tentu tidak mungkin ada orang yang memberi uang sebanyak itu. Oleh karena itu, jangan sampai ada pemikiran untuk memperoleh bagian dari titipan itu.      Mereka member[ uang itu untuk Muhammadiyah, karena mereka memiliki kepercayaan dan komitmen dengan perjuangan Muhammadiyah dan saya (Pak AR) sebagai Ketua PP Muhammadiyah” kata Pak AR.
         Ini adalah contoh pemimpin yang amanah , tidak memanfaatkan jabatan untuk memperkaya diri.

(Sumber: Anekdot dan Kenangan Lepas Tentang Pak AR – oleh Sukriyanto,  2013).

0 komentar:

Posting Komentar