Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Selasa, 30 Juni 2020

Suicide : yes or no ?


Suicide : yes or no ?
Oleh : Yunda Sara (Pustakawan UMMagelang)
            Bunuh diri, menjadi kata yang tidak asing akhir-akhir ini. Muncul kasus-kasus bunuh diri di media yang tidak hanya dilakukan oleh orang biasa namun publik figur pun ada yang melakukannya. Alasannya hampir semua sama yaitu karena “depresi”, ada yang depresi karena pekerjaan, depresi karena keuangan, depresi karena masalah hati,maupun depresi karena gagal meraih sesuatu. Seolah-olah bunuh diri dan depresi seperti dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.
            Orang yang mengalami gangguan depresi memang berkemungkinan besar bisa melakukan bunuh diri. Namun sebenarnya ada banyak pilihan yang bisa diambil selain bunuh diri. “ Orang bunuh diri sebenarnya tidak benar-benar ingin mengakhiri hidupnya, namun hanya ingin mengakhiri rasa sakitnya”.  Saya tidak ingin fokus dengan penyebab depresinya akan tetapi fokus pada pilihan-pilihan yang bisa diambil ketika mengalami depresi untuk meredam “rasa sakitnya”.
            Di dalam Islam, ada sebuah pilihan yang bisa diambil yaitu “sabar”. Seperti dalam surat Al Baqarah : 153
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اسْتَعِينُوا بِالصَّبْرِ وَالصَّلَاةِ إِنَّ اللَّهَ مَعَ الصَّابِرِينَ
Hai orang-orang yang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar. – (Q.S Al-Baqarah: 153)
Ketika Rabb kita telah memberikan petunjuk yang jelas bahwa jadikanlah salat dan sabar sebagai penolong, lantas kenapa mau mengambil pilihan lain yang Allah tidak suka? Namun masalahnya apakah kita paham dengan makna sabar itu sendiri. Jangan-jangan kita masih menganggap bahwa sabar itu adalah sama dengan pasif, menyerah. Padahal tidak seperti itu.
            Sabar itu ada tiga macam yaitu sabar dalam ketaatan, sabar dalam menjauhi maksiat dan sabar dalam menghadapi takdir . Sabar itu proaktif. Sebagai seorang muslim alangkah akan indah ketika ada takdir yang tidak sesuai dengan apa yang kita harapkan menghampiri kita, maka kita bersabar.
            Dalam sabar ketika menghadapi takdir,ada ikhtiar iman maksimal di dalamnya. Tindakan atau ikhtiar yang memakai iman dapat kita praktekkan dengan cara pertama yaitu, berkhusnudzon kepada Allah. Allah itu sesuai prasangka hambanya, jika prasangka kita baik kepada Allah maka kebaikan pula yang hadir dalam diri kita, begitu juga sebaliknya. Sesuai dengan hadist yang ada di dalam kitab Riyadhus Sholihin berikut ini :
            Dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, ia berkata bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Allah Ta’ala berfirman: Aku sesuai persangkaan hamba-Ku. Aku bersamanya ketika ia mengingat-Ku. Jika ia mengingat-Ku saat bersendirian, Aku akan mengingatnya dalam diri-Ku. Jika ia mengingat-Ku di suatu kumpulan, Aku akan mengingatnya di kumpulan yang lebih baik daripada pada itu (kumpulan malaikat).” (Muttafaqun ‘alaih) [HR. Bukhari, no. 6970 dan Muslim, no. 2675]
            Selain itu hal yang bisa kita lakukan ketika menghadapi takdir yang tidak sesuai dengan harapan kita adalah menjaga ucapan. Ucapan seorang muslim perlu dijaga bahkan ketika sedang mengalami masa-masa sulit dalam hidupnya,layaknya nabi Yunus As. Ketika nabi Yunus berada dalam 3 kegelapan sekaligus tak pernah sedikitpun terlontar dari mulutnya ucapan yang buruk justru nabi Yunus berdzikir kepada Allah dengan dzikirnya yang begitu terkenal yaitu :
“Lailaha illa Anta subhanaka inni kuntu minadhdhalimin”
Artinya:
"Tidak ada Tuhan selain Engkau. Maha Suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim."
            Sebab lantaran dzikirnya tersebut maka Allah menyelamatkan nabi Yunus dari 3 kegelapan tersebut. Allah berfirman
Dan (ingatlah kisah) Dzun Nun (Yunus), ketika ia pergi dalam keadaan marah, lalu ia menyangka bahwa Kami tidak akan mempersempitnya (menyulitkannya), maka ia menyeru dalam keadaan yang sangat gelap: “Bahwa tidak ada sesembahan yang berhak disembah selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah Termasuk orang-orang yang zalim.” Maka Kami telah memperkenankan doanya dan menyelamatkannya dari pada kedukaan dan demikianlah Kami selamatkan orang-orang yang beriman.” (QS. Al Anbiya’: 87-88)
            Ketiga, wujud rasa sabar kita adalah dengan tidak berputus asa dari rahmat Allah. Tidak putus asa bisa dilakukan dengan cara mengusahakan untuk miminta tolong kepada profesional bisa psikolog maupun psikiater untuk membantu kita melewati masa-masa sulit ini. Berolahraga dan memakan makanan bergizi pun juga disarankan untuk kita lakukan agar meningkatkan produksi hormon bahagia seperti endrofin dan serotonin.
            Jadi, sebenarnya bunuh diri bukanlah satu-satunya pilihan ketika kamu sedang mengalami depresi maupun menghadapi masa tersulit dalam hidupmu. Ada pilihan-pilihan lain yang bisa kamu ambil. Tetap semangat dan yakin bahwa Allah itu tidak akan pernah mendzalimi hambanya.
By: Yunda SS








0 komentar:

Posting Komentar