Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Jumat, 11 September 2020

“UMAT ISLAM MEMANG BERLAPANG DADA”

 

“UMAT ISLAM MEMANG BERLAPANG DADA”

Sepenggal sejarah perjuangan sang juru bicara Islam Ki Bagus Hadikusumo

Muhamad Jubaidi

Jubaidimuhamad25@gmail.com

 

Dikutip dari buku “ Perjuangan yang dilupakan”

Karya Lizki Lesus, yang diterbitkan oleh Pro-U Media, Yogyakarta 2017

 

                Atas berkat rahmat Allah Yang Maha Kuasa dan dengan didorongngkan oleh keinginan luhur, supaya berkehidupan kebangsaan yang bebas, maka rakyat Indonesia menyatakan dengan ini kemerdekaanya,  bunyi alenia ke-3 pembukaan UUD 1945 adalah konseptual yang menjadi dasar  secara de jure syah secara konstitusional sebagai negara yang merdeka dan berdaulat. 

                Rasanya bersyukur dan haru setiap mendengar kalimat tersebut sewaktu mengikuti upaca bendera kala itu, sungguh hebat dan bersahajanya para pendahulu kita, meletakan kata rahmat Allah sebagai dasar kesepakatan bersama dalam merumuskan dasar negara ini.  Republik ini sangat luas kawan, ribuan pulau menjulang dari Sabang hingga Merauke, 1.340 suku bangsa dan 6 keyakinan beragama yang diakui. 

                Sudah tentu tidaklah mudah untuk mempersatukan tekat dalam satu  kata merdeka dari persamaan rasa sebagai bangsa yang terjajah ditengah keberagaman yang melekat didalamnya, jikalau para pendahulu kita tidak memiliki rasa khitmad dan keyakinan akan hadirnya Rahmad Allah Yang Maha Kuasa dengan jalan perjuangan jihat fi sabilillah dimedan perang dan juga deplomasi waktu itu.

                Maka Dalam tulisan ini penulis mencoba merefleksikan kembali, menghadirkan jiwa semangat Mujahid yang telah mendahului kita dalam merebut kemerdekaan hingga menyatukan dalam satu ikatan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang kita cintai ini.  Dari sepenggal kisah perjuangan Ki Bagus Hadikusumo sebagai wakil Islam dalam merumuskan dasar negara Republik Indonesia , dalam buku yang berjudul “Perjuangan yang dilupakan” Karya Lizki Lesus.

                Penulis mencoba menarasikan kembali peristiwa yang terjadi dalam sidang dewan konstituante hasil pemilu tahun 1955 di gedung merdeka Bandung. Menjadi menarik untuk di jadikan pembahasan karena yang di perdebatkan kala itu adalah sebuah rancangan Undang-undang Negara Indonesia.  Kembalinya Indonesia sebagai negara kesatuan,  menjadi pertanyaan besar atas dasar apa NKRI ini?, merujuk rangkaian peristiwa yang sudah terjadi waktu itu,  Mr. Kasman Singodimejo sebagai  mantan Daidancho (Komandan Daidan/ Batalion) PETA, cikal bakal TNI itu, yang saat itu di daulat sebagai wakil dari fraksi Masyumi sedang menyampaikan pandangan Fraksinya di atas podium, tepatnya pada tanggal 2 Desember 1957 hadir membersamainya diantaranya Isa Anshary, Saifuddin Zuhri, Prawoto, Abdul Kahar Muzakir dan ratusan peci lainya yang waktu itu menahan penat penuh haru mendengarkan pandangan yang disampaikan oleh Mr. Kasman Singodimejo sang singa podium.  Sepenggal isi pidato yang terucap oleh Mr. Kasman Singodimejo, yang mampu menggerakan mata batin kita untuk sekedar memaknai jalan terjal perjuangan itu benar adanya.

“ Saudara Ketua, saya masih ingat bagaimana ngototnya almarhum Ki Bagus Hadikusumo, ketua Umum Pusat Pimpinan Muhammadiyah yang  pada waktu itu sebagai anggota Panitia Persiapan Kemerdekaan Indoensia mempertahankan agama Islam dimasukan ke dalam Mukaddimah dan Undang-Undang Dasar 1945. Begitu ngotot saudara ketua, sehingga Bung Karno dan Bung Hatta pun tidak dapat mengatasinya, sampai-sampai beliau menyuruh Mr. T.M Hasan sebagai putera Aceh untuk membujuk menenteramkan Ki Bagus Hadikusumo. Hanya dengan kepastian dan jaminan bahwa 6 bulan lagi sesudah Agustus 1945 itu akan dibentuk sebuah Majelis Permusyawaratan Rakyat dan Majelis Pembuat Undang-Undang Dasar Negara guna memasukkan materi Islam ke dalam Undang-Undang Dasar yang tetap, maka bersabarlah Ki Bagus itu untuk menanti,  Saudara ketua ketua, kini juru bicara Islam, Ki Bagus Hadikusumo, itu telah meninggalkan kita untuk selama-lamanya,karena telah berpulang ke rahmatullah.  Beliau telah menanti dengan sabarnya, bukan 6 bulan seperti yang telah dijanjikan kepadanya.  Beliau menanti sampai dengan wafatnya!”.  “Saudara Ketua, apabilapada waktu itu (tanggal 18 Agustus 1945) pemimpin-pemimpin Islam tidak berkepala batu, tetapi bahkan menerima baik untuk menunda mengenai materi-materi Islam itu, mengingat susana waktu itu.  Saudara Ketua, maka hal menjadi bukti untuk kesekian kalinya bahwa umat Islam memang berlapang dada.  Semoga pada waktu sekarang ini Dewan Konstituante sini dada itu telah maksimal.  Paling banyak dada itu tinggal meledak! Allahu Akbar, Allahu Akbar! Allahu Akbar”.

 

                Kutipan Isi pidato yang disampaikan dengan lantang oleh Mr. Kasman Singodimejo, bergeliat melahirkan pertanyaan besar, sebenarnya apa yang telah terjadi 75 tahun silam kala itu?, sebagaimana tampak guratan wajah Ki Bagus Hadikusumo sebagai tokoh Islam  berjuang dengan sekuat tenaga memasukan materi-materi Islam dalam dasar negara, pria teguh dengan busana blangkon, sarung dan kacamata hitam khasnya, dan kini beliau telah kembali menghadap sang khaliq, akankan janji itu tertunaikan?

                Lantas bagaimana dengan keadaan saat ini?, Wajah Ki Bagus mulai kembali terbayang tatkala sebagian orang mencoba merorong Pancasila sebagai dasar negara yang dihasilkan melalui kesepakatan dan kelapangan dada golongan Islam waktu, akan kah tetap menjadi Pancasila atau berubah menjadi Tri Sila-Eka Sila atau kembali menjadi bola liar di tangan para pemangku suara rakyat saat ini.

                Semoga sepenggal kisah tentang heroiknya para pendahulu dalam merumuskan dasar negara ini, dapat menjadikan kita sejenak melihat kejadian massa lalu, bagaimana memaknai kesungguhan, ketulusan serta keihklasan dalam berjuang, berdakwah mewujudkan cita-cita kebangsaan yang benar-benar merdeka dari penjajahan bangsa asing . selanjutnya bagi generasi penerus bangsa marilah kita isi bersama kemerdekaan ini dengan pembangunan fisik dan mental sehingga negara ini disegani sebagai negara yang berdaulat adil dan makmur, baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur.

 

“Perjuanganku Lebih Mudah karena melawan penjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri”

(Quote Ir. Soekarno Presiden RI Pertama)

 

 

 

 

 

0 komentar:

Posting Komentar