Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Senin, 18 September 2017

Istiqamah

 Secara etimologis, istiqamah berasal dari kata istiqama-yastaqimu, yang berarti tegak lurus. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istiqamah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen. Dalam terminologi Akhlaq, istiqamah adalah sikap teguh dalam mempertahankan keimanan dan keislaman sekalipun menghadapi berbagai macam tantangan dan godaan. Seorang yang istiqamah adalah laksana batu karang ditengah-tengah lautan yang tidak bergeser sedikitpun walaupun dipikul oleh gelombang yang bergulung-gulung.
            Perintah supaya beristiqamah dinyatakan dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Allah berfirman:
“Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka istiqamahlah menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang bersekutukan-Nya.” (QS. Fushshilat 41:6)
“ Katakanlah: Saya beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah!” (HR. Muslim)
            Iman yang sempurna adalah iman yang mencakup 3 dimensi: hati, lisan, dan amal perbuatan. Seorang yang beriman haruslah istiqamah dalam tiga dimensi tersebut. Dia akan selalu menjaga kesucian hatinya, kebenaran perkataannya dan kesesuaian perbuatannya dengan ajaran Islam. Ibarat orang yang berjalan, seorang yang istiqamah akan selalu mengikuti jalan yang lurus, jalan yang paling cepat mengantarkannya ketujuan.
            Setiap orang yang mengaku beriman pasti akan menghadapi ujian, didalam Al-Qur’an Allah berfirman:
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-Ankabut 29:4)
Ujian keimanan itu tidak selamanya dalam bentuk yang tidak menyenangkan, tapi juga dalam bentuk yang menyenangkan. Keberhasilan bisnis juga ujian seperti kebangkrutannya. Pujian juga ujian seperti celaan. Seorang mukmin yang istiqamah tentu akan tetap teguh dengan keimanannya menghadapi dua macam ujian tersebut. Dia tidak mundur oleh ancaman, siksaan dan segala macam hambatan lainnya. Tidak terbujuk oleh harta, pangkat, kemegahan, pujian dan segala macam kesenangan semu lainnya. Itulah yang dipesan oleh Rasulullah saw. Beriman dan beristiqamah.
            Rasulullah saw adalah contoh teladan utama dalam istiqamah. Baik dengan siksaan, ancaman dan celaan, maupun dengan bujukan, beliau tidak bergeser sedikitpun dari jalan Allah. Ingatlah betapa tegasnya jawaban Nabi terhadap bujukan pemuka Quraisy: “Paman demi Allah, kalaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, dengan maksud supaya aku meninggalkan tugas dakwah ini, sungguh tidak akan aku tinggalkan. Biar nanti Allah yang akan membuktikan kemenangan itu di tanganku, atau aku binasa karenanya”.
            Keteguhan hati itu pulalah yang diperlihatkan oleh Bilal ibn Rabbah tatkala disiksa oleh majikannya. Tidak sedikitpun imannya goyah:”Ahad, ahad”, bisiknya dengan penuh keyakinan. Yasser dan Sumayyah, sepasang suami istri syuhada’ awal islam rela mengorbankan nyawanya demi mempertahankan keimanannya. 
            Beberapa buah yang dapat dipetik oleh orang yang beristiqamah, baik didunia maupun diakhirat. Seperti firman Allah :
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Jangan kamu merasa takut dan janganlah kamu mearasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan memperoleh sorga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan didunia dan diakhirat; didalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh pula didalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Fushshilat 41: 30-32)
            Dalam empat ayat di atas dijelaskan bahwa orang yang istiqamah dijauhkan oleh Allah dari rasa takut dan sedih yang negatif. Dia tidak takut menghadapi masa depan dan tidak sedih dengan apa yang telah terjadi pada masa lalu. Dia dapat menguasai rasa sedih karena musibah yang menimpanya sehingga tidak hanyut dibawa arus kesedihan. Dan tidak pula dia gentar dan was-was menghadapi kehidupan masa yang akan datang sekalipun dia pernah mengalami kegagalan pada masa yang lalu.
            Orang yang beristiqamah akan mendapatkan kesuksesanya dalam kehidupannya di dunia, karena dia dilindungi oleh Allah SWT. Begitu juga di akhirat dia akan berbahagia menikmati karunia Allah didalam sorga.
            Dalam empat ayat diatas dijelaskan bahwa orang yang istiqamah dijauhkan oleh Allah dari rasa takut dan sedih.   Tentu rasa takut dan sedih ayat diatas dalah rasa takut dan sedih yang tidak pada tempatnya, atau takut dan sedih yng negatif. Miasalnya takut menyampaikan kebenaran, takut menghadapi masa depan, takut mengalami kegagalan. Ketakutan seperti itu akan menghambat kemajuan dan bahkan menyebabkan kemunduran. Seorang tidak akan berbuat apa-apa apabila dipenuhi rasa takut.
            Demikianlah juga rasa sedih. Yang dimaksud di sini bukanlah rasa sedih yang manusiawi, misalnya rasa sedih tatkalaorang tua, anak atau oranr-orang yang dikasihi meninggal dunia. Atau tatkala mengalami kegagalan dalam usaha. Tetapi rasa sedih yang mesti dihindari adalah rasa sedih yang berlarut-larut yang menyebabkan rasa kehilangan semangat dan selalu diliputi penyesalan. Setiap orang yang mengalami musibah atau kegagalan tentu akan sedih. Tapi ada yang dapat segera menguasai kesedihannya dan ada yang kemudian larut dengan kesedihan ini. Ibarat orang hanyut, yang pertama segera berenang ke pinggir untuk mencari pegangan, sedang yang kedua hanyut dibawa arus. Orang yang istiqamah tidak akan hanyut dengan kesedihan.
            Dalam ayat di atas juga dijanjikan oleh Allah SWT perlindungan-Nya bagi orang-orang yang beristiqamah. Lindungan Allah itu berarti jaminan untuk medapatkan kesuksesan dalam hidup dan perjuangan di dunia. Sahabat-sahabat yang berjuang dalam Perang Badar, sekalipu jumlahnya hanya kurang dari sepertiga musuh, tapi mereka tidak gentar dan tidak mundur. Mereka maju terus ke medan perang dengan gagah berani sehingga akhirnya Allah memberi kemenangan(Baca QS. Al-Anfal 8: 45) . Dan di akhirat nanti Allah SWT juga berjani akan melindungi orang-orang yang beristiqamah, dan itu berarti mereka akan dibalasi dengan sorga tempat segala kenikmatan dan kebahagiaan.
            Demikianlah, sikap istiqamah memang sangat diperlukan dalam kehidupan ini. Karena tanpa sikap seperti itu seseorang akan cepat lupa diri, dan mudah terombang ambing oleh berbagai macam arus. Orang yang tidak beristiqamah ibarat baling-baling diatas bukit yang berputar menuruni arah angin yang berhembus.  

Penulis : Saifudin Z. ,  Sumber : Kuliah Akhlaq (Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc., MA.)

0 komentar:

Posting Komentar