Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Senin, 21 September 2020

BUAH MENEPATI JANJI : GUGAH CERAH

 


 

Pada suatu hari ada seorang Badui dari suatu dusun dijatuhi hukuman mati karena dinyatakan bersalah. Kesalahan itu ternyata dapat dibuktikan. Sebelum hari dan jam pelaksanaan hukkuman mati itu dilaksanakan, ia minta izin pada hakim untuk pulang sebentar akan  berpamitan kepada isteri dan anak-anaknya. Ia berjanji akan kembali pada hari itu sebelum matahari terbenam.

Sang hakim pun tersenyum sinis mendengar permohonan terpidana mati itu. Mana mungkin orang yang akan dihukum mati bisa dipercaya begitu saja. Demikian gumam hakim dalam hati.

Sejenak kemudian datanglah seseorang yang menawarkan diri untuk menjadi jaminan terhukum mati itu seraya mengatakan :”Sayalah sebagai jaminan orang ini apabila tidak kembali”. Mendengar perkataan itu sang hakim berpikir sejenak dan akhirnya memutuskan menerima jaminan itu. Orang Badui itupun diijinkan pulang menemui isteri dan anak-anaknya untuk pamit.

Waktu berjalan terus, detik demi detik, dari menit ke menit, dan dari jam ke jam, Menjelang matahari terbenam, ternyata si terpidana mati itu belum muncul juga.

Suasana pun menjadi panik dan tegang. Jangan-jangan si Badui itu tidak kembali sehingga penjamin itulah yang akan dijatuhi hukuman mati.

Dalam kondisi tegang tersebut, terlihat seoranng pria lari tergopoh-gopoh dan berkeringat. Nyatalah orang itu adalah seorang Badui yang dijatuhi hukuman mati. Begitu tiba, legalah sang hakim dan mengatakan:” Saya tidak berani mengorbankan orang lain untuk kebebasan dirinya”. Akhirnya si terpidana mati itu dibebaskan karena ikhlas menerima hukuman.

 

                                                                                                        Lasa Hs

GURU BANGSA

                           

Judul      : Mozaik Keteladanan Buya Syafii Maarif 

Penulis : Erik Tauvani Somae

Penerbit : Yogyakarta: Suara Muhammadiyah, 2020

ISBN     : 978-423-7992-42-5

Tebal     :156 hlm.

           

       Pii, itulah panggilan Buya Syafii Maaf di waktu kecil. Pii yang kelahiran Nagari Sumpur Kudus Sumatera Barat itu tidak/belum memiliki cita-cita, besok mau jadi apa atau akan jadi siapa. Hidupnya seolah mengikuti angin bertiup dan  air yang  mengalir. Beliau sama sekali tidak  membayangkan  kalau nanti akan menjadi publik figur yang didengar nasihatnya, ditunggu tulisannya, dan diteladani sikap dan perilakunya.

            Kadang, orang memandang keberhasilan seseorang itu setelah menjadi orang. Sisi kehidupan yang penuh duka dan derita kiranya kurang mendapatkan perhatian. Kesulitan dan  penderitaan kadang silih berganti yang mendera kehidupan calon tokoh itu tidak terungkap ke permukaan. Dalam salah satu catatan hidupnya, Buya pernah menuturkan bahwa suatu ketika di rumah tidak ada persediaan makanan sama sekali. Tiba-tiba beliau mendapat kiriman uang dari honorarium tulisan di majalah yang terbit di Solo. Uang itu cukup untuk membeli  4 kg beras saat itu. Empat kilogram beras saat itu sangat bermakna dalam kehidupannya.

            Sebagai keluarga muda, saat itu beliau dan istri (Ibu Nurkhalifah) mengalami kondisi ekonomi yang tidak menentu. Maka saat itu Ibu Lip (Panggilan Ibu Nurkhalifah) dan Salman (putra pertama) pulang ke kampung halaman di Padang. Untuk sementara mereka berpisah dimana Ibu Lip dan putra pulang ke   Padang, sementara itu Buya Syafii masih berjuang di Yogyakarta. Bapisah bukanan bacarai kata orang Minang Sesampai di Padang, Salman sakit-sakitan yang akhirnya dipanggil oleh Allah dalam usia 20 bulan. Kata Buya saat itu :”Perasaanku waktu itu sungguh remuk. Anak pertama wafat tidak di pangkuan ayahnya”(halaman: 130).

            Buku yang ditulis Erik Tauvani ini berisi catatan-catatan ringan tentang nasehat, perilaku, dan pemikiran spontan Buya yang jarang bahkan tidak muncul di media cetak secara luas. Di buku ini Erik yang calon doktor ini mengisahkan kehidupan keseharian seorang guru bangsa. Erik sangat dekat dan sering mencatat pemikiran, pengalaman, dan perilaku keseharian Buya. Semoga mas Erik bisa berlaku seperti Abu Hurairah yang banyak mencatat sabda, tindakan, dan sikap Nabi Muhammad Saw sehingga menjadi hadis yang sampai kepada kita.

            Buya memiliki perilaku keseharian yang patut menjadi pelajaran bagi kita . Beliau itu sangat mandiri, tidak mau merepotkan orang lain. Sampai-sampai beliau itu mencuci pakaiannya sendiri. Katanya :”badan itu jangan dimanjaka”n. Setua itu rajin melaksanakan shalat jama’ah di masjid meski harus diemani tongkat berkaki empat.Sedangkan sebagian kita shalat shubuhnya sering dijamak dengan shalat dhuha di waktu dhuha. Bila sering bangun jam tujuh dan suatu ketika bangun pukul 04.00 malah bilang :wah musibah”.

            Setua itu, Buya rata-rata kuat membaca selama 13 jam per hari. Kita cukup puas membaca you tube. Beliau yang sudah sepuh itupun sampai kini masih produktif menulis. Sementara kita hanya puas menulis status. Mestinya kita yang muda ini malu kepada beliau dengan semangat untuk memberikan yang terbaik kepada kehidupan ini.

            Bangsa ini merindukan guru bangsa yang sejuk nasehatnya, diitiru tindakan dan perilakunya. Kita memerlukan sosok keteladanan yang menunjukkan toleransi, kesederhanaan, tidak sarat kepentingan, konsisten antara ucapan dan tindakan, tinggi ilmu pengetahuan, luas wawasannya dan tidak gila jabatan.

Semoga Buya Syafii  diberi umur panjang, sehat selalu,dijauhkan dari berbagai penyakit, dan memberikan pencerahan kepada masayarakat yang pluraris ini. Aamin.

                                                                                                                        Lasa Hs.   

Minggu, 13 September 2020

Penerimaan Naskah/Artike di Web FPPTMA

Redaktur FPPTMA menerima naskah/artikel dari anggota Pustakawan PTMA yang nantinya akan dimuat pada website ini. Naskah atau artikel ini berupa :

  1. Gugah Cerah dimuat pada hari Senin minggu pertama
  2. Telaah pustaka berupa resensi buku, dimuat pada hari Selasa minggu ke dua
  3. Jum`at cerah berisi artikel keagamaan, dimuat pada hari Rabu minggu ke tiga
  4. Pena Pustaka berisi artikel tentang kepustakawanan, dimuat pada hari Kamis minggu ke 4
  5. Siapa Mengapa berisi artikel tentang biografi tokoh yang menginspirasi, dimuat pada hari Jum`at minggu ke lima
  6. Saintek berisi artikel tentang teknologi, dimuat pada hari Sabtu minggu ke 3

Ketentuan Naskah/Artikel minimal dua halaman A4 dengan spasi 1.5 dan margin 3,3,3,3. Pengiriman naskah melalui email : fpptma@gmail.com

PUSTAKAWAN MUDA BERBICARA

 

WEBINAR NASIONAL

PUSTAKAWAN MUDA BERBICARA :

PELUANG DAN TANTANGAN PROFESI DI ERA DISRUPSI

 

            Pustakawan Muda Berbicara : Peluang dan Tantangan Profesi di Tengah era Disrupsi merupakan tema webinar nasional yang diangkat oleh tim Perpustakaan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi K.H Ahmad Dahlan Lamongan serta disupport oleh Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah. Webinar Nasional ini diadakan pada tanggal 8 September 2020 dengan tujuan untuk memperingati Hari Literasi Dunia atau Hari Aksara Internasional. Kegiatan yang ternyata diikuti oleh lebih dari 1500 peserta dari pustakawan dan  berbagai lini profesi ini telah sukses dilaksanakan melalui Aplikasi berbasis daring yakni Zoom Cloud Meeting dan Youtube STIEKHAD TV pada pukul 09.00 WIB hingga selesai acara pada pukul 12.30. WIB.

 Sebagai pengantar acara, webinar dimulai dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya dan Sang Surya yang diikuti oleh para peserta webinar, kemudian dibuka Oleh Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi K.H Ahmad Dahlan Lamongan Dr. Hj. Mu'ah, MM., M.Pd beserta dua Key Note Speaker yakni Drh. Emil Elestianto Dardak M.Sc., Selaku Wakil Gubernur jawa Timur dan Drs. Lasa Harsana., M.Si sebagai Ketua Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah.

Dalam pengantarnya, Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi K.H Ahmad Dahlan Lamongan Dr. Hj. Mu'ah, MM., M.Pd menyampaikan bahwa dalam situasi Pandemi Covid-19 ini, perpustakaan diharapkan menjadi pusat dan center informasi masyarakat agar bisa mengikuti perkembangan informasi terkini.

Adapun berikutnya, dalam sambutannya Drh. Emil Elestianto Dardak M.Sc., selaku wakil Gubernur Jawa Timur menegaskan bahwa pustakawan muda atau pustakawan Milenial harus bisa membawa warna baru didalam pengelolaan kepustakaan, diperlukan suatu upaya untuk memperbaiki tingkat literasi agar selaras dengan tingkat gemar membaca. Menurutnya, hal tersebut bertujuan agar masyarakat bisa naik ke satu level yang lebih tinggi dari literate kemudian mahir untuk ber-literasi informasi.

Dilanjutkan dengan pengantar berikutnya oleh Ketua Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah Drs. Lasa Harsana., M.Si yang menekankan bahwa perpustakaan saat ini mau tidak mau wajib untuk berubah demi mesiasati era digitalisasi. Perlu adanya keseimbangan dengan teologi, khususnya nilai-nilai ke-Islaman dan ke-Muhammadiyahan agar memberikan warna-warni pada Kehidupan Perpustakaan.

 

Setelah pembukaan selesai, dilanjutkan dengan materi-materi yang terbagi dalam dua sesi. Disesi pertama pemaparan dilakukan oleh Meri Susanti dan Arda Putri Winata. Disesi Pertama, Meri Susanti menekankan bahwa seorang pustakawan harus mampu bertransformasi, berkolaborasi hingga mampu menjadi trigger dalam menghadapi problem solving. Pustakawan Berprestasi dari Provinsi Bengkulu ini juga menambahkan perlunya pola fikir baru untuk merubah stigma profesi bahwa stereotip pustakawan sudah tidak bisa kesampingkan lagi, sehingga perlu ditanamkan dalam diri masing-masing untuk berniat melakukan perubahan serta selalu ikhlas dalam bekerja.

Sedangkan Arda Putri Winata di materi berikutnya, manyampaikan bahwa pustakawan diharapkan tidak menutup diri dan dilarang takut untuk berkembang, artinya pustakawan harus berani mengembangkan diri, salah satunya dengan memperkaya skill bahasa asing. Perempuan yang pernah meraih gelar Pustakawan berprestasi Nasional ini juga menambahkan pentingnya pustakawan melakukan kolaborasi dengan berbagai pihak untuk meningkatkan wawasan guna pengembangan aspek multidisiplin ilmu. Hal ini menurutnya agar pustakawan dapat terus berkembang sebagai guardian of information.

             Selanjutnya Disesi Kedua, materi diisi oleh Atin Istiarni dan Fikri Fitrananda. Dalam materinya, Astin mengungkapkan bahwa di tengah era Disrupsi ini pustakawan muda harus lebih terbuka, energik dan aktif baik secara psikis maupun fisik. Menurutnya, hal ini penting untuk sebagai pengembangan mental pustakawan muda. Perempuan asal Kota Magelang ini juga memberikan pandangan bahwa sebagai pustakawan muda penting untuk menjajaki afiliasi profesi pustakawan para senior-senior terdahulu dari berbagai bidang pekerjaan agar dapat menambah wawasan dan sudut pandang baru.

            Berbeda dengan Fikri, di materi terakhir pria yang sedang konsen sebagai pegiat literasi Jawa Timur ini juga telah menyampaikan berbagai sudut pandang dengan cakupan teoritis dan filsafat. Menurutnya, Sebagai pustakawan tidak seharusnya mensimplifikasi persoalan dengan hanya melihat hasil temuan berdasar angka-angka, namun pustakawan juga harus benar-benar mencermati kondisi literasi di tataran grassroot. Sehingga diperlukan upaya dalam memainkan peran knowledge management untuk melakukan filterisasi informasi dan knowledge transfer. Pria yang juga berprofesi sebagai Pustakawan SMP Negeri 2 Glagah Banyuwangi ini juga menegaskan bahwa hal itu penting untuk dilakukan karena perpustakaan sekarang tidak seharusnya terpaku pada ruangan atau jenis-jenis standarisasi yang bersifat legal formal, justru harus lebih berani untuk menerapkan cara dengan instrumen-instrumen yang lebih segar dan diterima oleh kalangan society 5.0, seperti pemanfaatan Youtube, Podcast dan virtual Reality untuk menyentuh masyarakat secara langsung.

            Sampai di akhir acara, kegiatan webinar ini kemudian diakhiri dengan sedikit kesimpulan dari moderator serta ditutup do’a oleh Master Of Ceremony. Setelah acara selesai, Siti Musyarofah S.E, selaku kepala Perpustakaan STIE K.H Ahmad Dahlan mengucapkan terima kasih kepada Para Peserta dan para Pustakawan khususnya, semoga rutin untuk diadakan.



 

Jumat, 11 September 2020

ULAMA DAN GERAKAN KAUM INTELEKTUAL SEBELUM KEMERDEKAAN MENENGOK SEPENGGAL PERJALANAN JIHAD KYAI IBRAHIM

 

 

ULAMA DAN GERAKAN KAUM INTELEKTUAL SEBELUM KEMERDEKAAN

MENENGOK SEPENGGAL PERJALANAN JIHAD KYAI IBRAHIM

 

Oleh

Muhamad Jubaidi

jubaidi@umy.ac.id

 

 

            Sosok kyai ibrahim adalah seorang ulama yang memiliki pembawaan  sangat sederhana, hal ini tersurat ketika beliau mendengar pesan wasiat yang disampaikan oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan sebelum wafat, untuk supaya mau dan bersedia melanjutkan tongkat kepemimpinan Muhammadiyah.  kerendahan dan ketawaduan sebagai ulama yang berilmu, hal itu tidaklah langsung diterima dan disanggupi oleh Kyai Ibrahim untuk menanggung amanah tersebut, karena melihat begitu besar desakan dari para sahabat dan juga amanat langsung dari Kyai Ahmad Dahlan untuk kelangsungan eksistensi Muhammadiyah dan mimpi besar menjadi negara merdeka terbebas dari belenggu penjajahan Belanda, akhirnya amanat tersebut diterimanya untuk menahkodai Muhammadiyah setelah pereode pertama yang di ketuai langsung oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan.

            Kyai Ibrahim adalah putra dari K.H. Fadlil Rachma­ningrat, dan merupakan adik kandung Nyai Ahmad Dahlan, Kyai Ibrahim lahir di kampung Kauman Yogyakarta, pada tanggal 7 Mei 1874, pada usia 49 tahun tepatnya pada bulan maret 1923 dalam rapat Tahunan Anggota Muhammadiyah sebagai Voorzitter Hoofdbestuur Moehammadiyah Hindia Timur atau ketua perkumpulan Muhammadiyah pada waktu itu.  Kyai ibrahim kecil belajar mengkaji ilmu Al-Quran sejak usia 5 tahun, yang kemudian atas bimbingan kakak tertuanya yaitu KH. M. Nur, beliau menunaikan Ibadah Haji di usia 17 tahun serta dilanjutkan memperdalam ilmu agama Islam di mekah selama 7-8 tahun.

            Beliau termasuk seorang ulama besar yang cerdas, luas wawasannya, sangat dalam ilmunya dan disegani. Ia hafal (hafidh) Al-Quran dan ahli qira’ah (seni baca Al-Quran), serta mahir berbahasa Arab. Sebagai seorang Jawa, ia sangat dikagumi oleh banyak orang karena keahlian dan kefasihannya dalam penghafalan Al-Qur’an dan bahasa Arab. Pernah orang begitu kagum dan takjub, ketika dalam pidato pembukaan (khutbah al-’arsy atau sekarang disebut khutbah iftitah) Kongres Muhammadiyah ke-19 di Bukittinggi Sumatera Barat pada tahun 1939, ia menyampaikan dalam bahasa Arab yang fasih.(Kyai Haji Ibrahim (Ketua 1923 - 1933) | Muhammadiyah 2020)

            Kyai Ibrahim menikah dengan Siti Moechidah binti Abdulrahman alias Djojotaruno pada tahun 1904. Pernikahannya dengan Siti Moechidah ini tidak berlangsung lama, karena istrinya segera dipanggil menghadap Allah. Selang beberapa waktu kemudian Ibrahim menikah dengan ibu Moesinah, putri ragil dari K.H. Abdulrahman (adik kandung dari ibu Moechidah).  Ibu Moesinah (Nyai Ibrahim yang ke-2) dikaruniai usia yang cukup panjang yaitu sampai 108 tahun, dan baru meninggal pada 9 September 1998. Menurut penilaian para sahabat dan saudaranya, Ibu Moesinah Ibrahim merupakan potret wanita zuhud, penyabar, gemar sholat malam dan gemar silaturahmi. Karena kepribadiannya itulah maka Hj. Moesinah sering dikatakan sebagai ibu teladan.(Suara ’Aisyiyah 1999).

            Sebagai ulama yang dilahirkan di akhir abad-18 dan berkiprah diawal abad ke-19 tentu memiliki dinamika yang sangat luar biasa, Lahir sebagai kaum intelektual terdidik dikalangan keluarga yang berilmu merupakan sudut pandang ilmiah yang tidak bisa dipisahkan ketika beliau besar menjadi seorang ulama yang berkemajuan di zamanya. 

            Pergolakan batin yang disertai akal budi keilmuan sebagai seorang yang alim, Kyai Ibrahim dalam sudut pandang sebagai kaum intelektual pada zaman kolonial Belanda mampu merumuskan beberapa agenda besar sebagai gerakan moral pemersatu bangsa,  sebagaimana hal tersebut dalam analisis Max Weber kaum intelektual dapat dimaknai sebagai seseorang yang memiliki kekhasan mempunyai akses khusus terhadap pencapaian tertentu yang dianggap sebagai nilai budaya, sehingga mampu mencerminkan “kepemimpinan”dari komunitas budaya.”(John L. Esposito dan John O. Voll 2002).

            Yang dimaksud budaya dalam hal ini adalah representasi Muhammadiyah sebagai hasil produk komunitas dari komunikasi orang-orang terpelajar, terorganisir, modern sebagai gerakan moral kaum intelektual muslim diawal abad-19 dikawasan Asia Tenggara.  Melalui Muhammadiyah Kyai Ibrahim, mampu mempunyai peran ganda, disatu sisi menolak segala intervensi kolonial penjajahan Belanda, disisi yang lain dapat menyatu  sesuai  peran dan kedudukanya sebagai organisasi yang hidup bersanding dengan bangsa penjajah, melalui berbagai macam inovasi Kyai Ibrahim mampu merefleksikan pesan Kyai Ahmad Dahlan “Hidup-hidupilah Muhammadiyah dan Jangan Mencari Hidup di Muhammadiyah”, hal tersebut dilaksanakan secara ikhlas semata-mata untuk perjuangan Muhammadiyah sebagai organisasi modern yang mencerahkan serta berdampak lebih luas sebagai tonggak kebangkitan kaum intelektual di Indonesia waktu itu di tengah-tengah cengkeraman penjajahan kolonial Belanda.  Adapun capaian yang mampu di torehkan oleh Kyai Ibrahim diantaranya:

1.      Pada Tahun 1924 mampu mendirikan Fonds Dachlan (atau donatur biasiswa bagi anak-anak miskin yang ingin melanjutkan sekolah baik di sekolah Muhammadiyah maupun sekolahan milik Belanda yang ada di Indonesia)

2.      Pada Tahun 1925 mengadakan khitanan massal, dan juga perbaikan perkawinan untuk menjodohkan putera-puteri keluarga Muhammadiyah sebagai penguatan dakwah kultural dilingkungan Muhammadiyah.

3.      Di masa kepemimpinan Kyai Ibrahim, telah melaksanakan sebanyak sepuluh kali rapat tahunan Muhammadiyah, yang terus menerus memilihnya sebagai Pengurus Besar Muhammadiyah. dan pada tahun 1926, istilah rapat tahunan Muhamadiyah diganti menjadi kongres Muhammadiyah, bertempat di Surabaya sebagai kongres Muhammadiyah ke-5.

4.      Pada tahun 1928 Muhammadiyah mampu mengirimkan anak panah Muhammadiyah sebagai Mubaligh Hijrah ke seluruh penjuru tanah air dari putera-puteri alumni sekolah kader Muhammadiyah Muallimin, Mu’allimat, Tabligh School dan Normaal School.

5.      Pada tahun 1929 bertepatan dalam kongres Muhammadiyah di Solo, Kyai Ibrahim mampu mendirikan badan usaha penerbit buku-buku sekolah Muhammadiyah (Uigeefster My), yang bernaung dibawah majlis Taman Pustaka.

6.      Pada Tahun 1929 terjadi penurunan atau meniadakan gambar Kyai Ahmad Dahlan di lingkungan Muhammadiyah, karena terjadi gejala pengkultusan.

7.      Pada Tahun 1932 dalam Muktamar Muhammadiyah ke-21 di Makasar, Muhammadiyah menerbitkan surat kabar yang pertama  (dagblaad), kemudian diserahkan kepada Pengurus Muhammadiyah Cabang Solo, yang kemudian dinamakan surat kabar Adil.

8.        Kyai Ibrahim selalu terpilih dalam sepuluh kali kongres Muhammadiyah selama pereode kepemimpinanya.  Dalam capaianya Kyai Ibrahim mampu merangkul angkatan Muda Muhammadiyah waktu itu, dengan meningkatkan kualitas takmirul masjid, serta berhasil dalam mendirikan Koperasi Adz-Dzakirat, juga perkembangan ‘Aisyiyah sebagai gerakan pelopor gerakan dakwah perempuan Muslim pertama yang terorganisir, tertip dan kuat.

9.        Dalam bidang pendayagunaan ekonomi kerakyatan dan pemerataan pendidikan untuk kaum pribumi, Kyai Ibrahim bergabung dengan Politieke Economische Bond (PEB), sebuah organisasi yang dibentuk oleh persatuan pabrik gula yang dimiliki Belanda. Tujun PEB ialah untuk mengatur koordinasi dan kerja sama antar-pabrik gula di Jawa Tengah dan Jawa Timur dalam produksi, pemasaran, dan juga dalam aspek sosial-budaya yang ada hubungannya dengan politik-ekonomi pabrik gula. PEB mendirikan perkumpulan dengan nama Jam'iyatul Hasanah yang bertujuan untuk menghimpun guru-guru agama dan membiayai mereka untuk mengajarkan agama Islam kepada buruh-buruh di pabrik gula. Meskipun dari sebagian orang menganggap Muhammadiyah yang telah bekerjasama dengan pemerintah kolonial Belanda waktu itu menyebutnya sebagai antek Belanda, Namun fitnahan tersebut bisa diatasi dengan keterbukaan dalam kepemimpinan KH. Ibrahim dengan mengundang para utusan dari cabang-cabang Muhammadiyah untuk memeriksa keuangan dan notulensi rapat di Pengurus Besar Muhammadiyah di Yogyakarta, dan terbukti bahwa fitnahan tersebut tidak benar. Kepiawaian Kyai Ibrahim dalam memainkan irama Muhammadiyah waktu itu memang jauh melampau batas pemikiran masyarakat kita pada umumnya sehingga peran strategis yang dilaksanakan Muhammadiyah dianggapnya sebagai bentuk penghianatan kepada bangsa sendiri untuk mencapai tujuan bersama yaitu kemerdekaan. (AR Fachruddin 1991).

            Banyak hikmah yang dapat diambil dari sepenggal kisah perjalanan dakwah Kyai Ibrahim sebagai seorang ulama sekaligus ketua organisasi keagamaan Muhammadiyah, Gerak melintas zaman, kreatif,  inovatif dengan berbagai macam terobosan yang mampu beliau torehkan sebelum kemerdekaan memiliki makna tersendiri bagi kami anak-anak muda Muhammadiyah sebagai tamparan keras untuk dapat melihat lebih jauh dan memaknai nilai ke ikhlasan di setiap jalan perjuangan dakwah Muhammadiyah itu sendiri.

            Kyai Ibrahim mampu menginspirasi, membuka pandangan tabu akan pola kekerabatan masyarakat feodal dengan berbagai macam tipologi budaya sehingga terselip peluang dalam berdakwah dan membangun komunikasi antar golongan sebagai awal mula gerakan kebangkitan masyarakat indonesia untuk mencapai tujuan bersama yaitu mewujudkan negara yang berdaulat merdeka dari penjajahan.   

            Menurut, (Edward Shils 1976), beliau berpandangan,

“kerja intelektual bersumber dari keasyikan religius, melalui pengalaman tertinggi atau paling tidak terkandung dalam pengalaman nyata saat ini, karya intelektual cenderung berpikir dengan simbol-simbol keagaamaan, tradisi penghormatan, perjuangan yang sungguh-sungguh untuk berhubungan dengan yang suci mungkin adalah tradisi kaum intelektual yang paling awal, paling luas dan yang paling penting”.

            Penulis sepakat dengan pendapat diatas, bahwasanya untuk mencapai pada tingkatan kerja intelektual, tidak cukup hanya bermodal dengan pendidikan dan kecakapan dalam memainkan peran, namun harus di penuhi nilai riligiulitas yang kuat sebagai pijakan dalam menjalankan tekat maupun usaha, sebagaimana peran tersebut di awal abad ke-19 Kyai Ibrahim telah mencontohkan beliau secara titah dilahirkan sebagai intelektual muslim pada eranya untuk mampu berbuat sesuatu demi keberlangsungan kehidupan yang lebih bermartabat melalui ilmu dan iman.

 

 


 

Daftar pustaka

 

AR Fachruddin. 1991. Catatan AR Fachruddin.

Edward Shils. 1976. The intellectualls and the powers “in rieff, on intellectuals.” Sage.

John L. Esposito, dan John O. Voll. 2002. Tokoh kunci gerakan Islam Kontemporer. Raja Grafindo Persada, Jakarta.

“Kyai Haji Ibrahim (Ketua 1923 - 1933) | Muhammadiyah.” 2020. Kyai Haji Ibrahim (Ketua 1923 - 1933) | Muhammadiyah. http://m.muhammadiyah.or.id/id/content-157-det-kyai-haji-ibrahim.html (September 6, 2020).

Suara ’Aisyiyah. 1999. “Ibu Teladan.” : 1.