Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Kamis, 09 Agustus 2018

Abdurrahman ; Pejuang Muhammadiyah


          Dermawan Pekajangan ini telah menanam bibit dan menumbuhsuburkan Muhammadiyah di daerah Pekalongan dan sekitarnya. Beliau memiliki nama kecil Mutaman lahir tahun 1879 M di Pekajangan Kedungwuni Pekalongan putra H. Abdulkadir.
Pengetahuan agamanya diperoleh dengan mengaji pada kiyai-kiyai dan dari satu pondok pesantren ke pondok pesantren yang lain. Diantara para kiyai itu adalah Kiyai Amin (Ponpes Banyuurip), Kiyai H.Agus (Ponpes Kenayagan), Kiyai Abdurrahman (Ponpes Wonoyoso), dan Kiyai H. Idris (Ponpes Jamsaren Solo).
            Setelah pengetahuan agama Islam dianggap cukup, kemudian beliau menyelenggarakaan pengajian-pengajian dari satu masjid ke masjid lain, dari daerah satu ke masjid lain.  Bahkan di Pekajangan beliau mendirikan pengajian bernama ‘Ambudi agama”. Dalam pengajian ini diberi pelajaran yang saat itu dikenal dengan Ngakaid 50 dan Sifat 20 Bakal Weruh Gusti Allah”. Pengajian ini mendapat respon baik dari masyarakat dan pesertanya semakin hari semakin banyak.
            Namun dalam perjalanannya, pengajian ini tidak bisa berjalan mulus karena dilarang oleh pemerintah kolonial saat itu. Pelarangan ini katanya karena adanya undang-undang Guru Ordonansi. Menghadapi masalah ini, beliau mulai menyadari perlunya organisasi pergerakan Islam. Maka beliau mulai berpikir untuk memelajari organisasi yang bernama Muhammadiyah di Yogyakarta.
            Keinginan yang luhur itu dicegah oleh temannya yang bernama Chumasi Hadjosubroto dan teman-teman lain. Mereka mengatakan bahwa gerakan Muhammadiyah di Yogyakarta itu adalah gerakan Kristen. Namun demikian, berkat keinginan kuat dan dimotivasi oleh teman akrabnya yang lain yakni Kiyai Asmu’i, beliau pergi ke Yogyakarta ditemani oleh Kiyai Asmu’i.
            Setibanya di Yogyakarta, mereka berdua disambut baik oleh jajaran Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Sejak itu, lalu PP Muhammadiyah mengirim da’i-da’inya ke Pekajangan diantara mereka adalah H. Muchtar, H. Abdulrahman Machdum, H. Wasool Ja’far. Kehadiran mereka ke Pekajangan untuk menyiarkan Islam, mencari solusi terhadap masalah yang dihadapi, dan untuk mngembangkan Muhammadiyah. Kemudian dalam perkembangannya pada tanggal 15 November 1922 berdirilah Muhammadiyah Cabang Pekajangan.
            K.H. Abdurrahman adalah seorang pengusaha sukses dan memiliki penggilingaan padi. Beliau seorang dermawan dan selalu menyeponsori kegiatan-kegiatan Muhammadiyah seperti pengajian, rapat-rapat, pendirian sekolah, masjid dan lainnya. Kedermawanan ini tidak saja hanya kepada Muhammadiyah, bahkan kepada siapapun yang menginginkannya. Bahkan kepada pribadi-pribadi aktifis Muhammadiyah sering dipanggil dan diberi uang. Kadang-kadang diantara mereka ada yang terkejut dan menanyakan ini uang apa ?. Beliau menjawab “wis ta tompo wae, nggo tuku rokok”.
            Apabila ada orang yang kira-kira tidak setuju dengan Muhammadiyah, maka K.H. Abdurrahman tidak langsung membantahnya. Mereka itu diajak dialog dan selalu dikemukakan agar orang itu kembali memikir ulang tentang sikap dan pendapatnya itu. K.H. Abdurrahman tidak langsung membantah apalagi marah-marah. Orang itu diajak ngomong baik-baik. Orang-orang yang kurang setuju dengan Muhammadiyah itu selalu didekati dengan ramah dan mereka itu sering diberi sarung. Dengan cara pendekatan ini, maka lama kelamaan Muhammadiyah berkembang pesat di Pekajangan Pekalongan.
            Berdirinya Muhammadiyah Cabang Comal memiliki kisah tersednriri. Di Comal, banyak kiyai-kiyai yang tidak setuju dengan Muhammadiyah. Hanya beberapa orang yang menjadi anggota Muhammadiyah. Karena mereka merasatercepit, maka hal ini disampaikan kepada K.H. Abdurrahman. Kemudian beliau memerintahkan agar orang-orang Muhammadiyah Comal menyembelih kambing untuk menjamu para koyai di sana. Setelah kambing itu masak, maka diundanglah para kiyai dan tokoh masyarakat Comal. Saat itu K.H., Abdurrahim berkesempatan menjelaskan Muhammadiyah kepada mereka. Setelah mendengar p-enjelasan tentang Muhammadiyah dari K.H.Abdurrahman, maka sebagian besar menyatakan diri sebagai anggota Persyarikatan Muhammadiyah dan dibukalah Cabang Muhammadiyah Comal.
            K.H, Abdurraman wafat pada hari Kamis Legi tanggal 3 Februari 1966 pada usia 87 tahun dan isterinya wafat seminggu sebelumnya yakni wafat pada hari Kamis Wage tanggal 27 Januari 1966 dalam usia 78 tahun. Beliau telah meninggalkan aset besar bagi Muhammadiyah baik nilai-nilai Islam dan Kemuhammadiyahan, sekolah-sekolah, masjid, mushala, gedung Muhammadiyah dan gedung ‘Aisyiah, madrasah Muallimin yang berdiri megah di Pekajangan. Kitab-kitabanya yang banyak itu diserahkan ke Majleis Tabligh. Disamping itu ada beberapa nasehat yang bisa dijadikan pelajaran kita semua antara lain:
1. Kepada pemimpin organisasi (Muhammadiyah): Kalau kamu marah dirumah, jangan dibawa di rapat/sidang. Kalau kamu ribut di rapat//sidang jangan dibawa keluar sidang
2. Orang Islam dapat bersatu hanya dengan mendalami dan mengamalkan pelajaran yangdiajarkan Al Quran dan Hadits
3. Ajarlah maanusia dengan ajaran-ajaran Islam yanga aamurni dan jangan jemu, karena engkau akan ditagih/dimintai tanggung jawab oleh Allah kelak di hari akhirat
4. Jangan suka menyiar-nyiarkan ‘aib orang lain, selidikilah ;aibmu kemudian kamu perbaiki sebelum kamu terlambat
5. Bantulah sekuat tenagamu tentang pendidikan anak-anak, karena mereka penerus angkatan pembangun umat mendatang
6. Bermallah dengan hartamu dan ilmumu dan jangan jemu, karena kebanyakan orang itu fitrahnya suka meniru yang baik.
 Lasa Hs

Abdul Kahar Mudzakkir – Anggota Perumus Dasar Negara


      
Putra asli Kotagede Yogyakarta ini lahir pada tahun 1907. Ia adalah putra H.Mudzakkir seorang pedagang dan tokoh Muhammadiyah di Kotagede. Kahar Mudzakkir yang pernah menjadi Rektor Universitas Islam Indonesia/UII  Yogyakarta itu juga pernah menjadi Direktur Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta. Yakni sekolah pengkaderan Muhammadiyah yang sampai kini tetap eksis. Beliau juga pernah menjadi pengurus Majelis Pemuda  dan Majelis PKU Muhammadiyah.
            Dalam dunia politik, beliau pernah duduk dalam Panitia Sembilan bersama Soekarno, Muhammad Hatta, Muhammad Yamin, A.A.Maramis, Wahid Hasyim , Achmad Soebardjo, Abikusno Tjokrosujoso, dan Agus Salim. Mereka itu bertugas merumuskan dasar Negara dalam rangka persiapan kemerdekaan Indonesia.
            Saat itu disusunlah pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 yang dalam satu pasalnya terdapat kata-kata “Ketuhanan dengan mewajibkan syariat Islam bagi pemeluk-pemeluknya”. Saat itu Kahar Mudzakakir (Muhammadiyah) dan Wahid Hasyim (Nahdhatul Ulama) mempertahankan pernyataan  tersebut. Namun demikian memang harus diakui dan itu suatu realita, bahwa bangsa kita terdiri dari berbagai suku, bahasa, dan agama. Maka sebagian warga negara dari bagian Timur merasa keberatan atas kalimat tersebut. Lalu Bung Hatta sebagai Wakil Presiden saat itu melobi para tokoh Islam, dan akhirnya mereka memahami masalah tersebut. Akhirnya butir pertama menjadi Ketuhanan Yang Maha Esa
Lasa Hs


Rabu, 08 Agustus 2018

GELIAT PERPUSTAKAAN PTMA


-         Perpustakaan UM Sukabumi
Awal Agustus 2018 ini Perpustakaan UM Sukabumi menyelengarakan pertemuan yang diikuti oleh perpustakaan Korwil FPPTMA Jawa Barat.
Pertemuan ini membahas langkah-langkah bersama untuk memajukan perpustakaan PTMA.Dalam sambuan tertulis, Lasa Hs selaku Ketua FPPTMA mengharapkan agar pada tahun  2017 – 2021 kegiatan Korwil diarahkan pada    peningkatan repositori dan pengembangan jaringan antarperpustakaan PTMA. Hal ini dimaksudkan agar pemikiran sivitas akademika PTMA  dapat dimanfaatkan oleh masyarakat luas melalui pengelolaan dan sosalisasi repositori. Penguatan jaringan  antara lain dengan pemilikan web mandiri (tidak gabung dengan lembaga induk). Jaringan ini dapat meningkatkan nilai akreditasi (AIPT,prodi dan akreditasi perpustakaan). Pertemuan ini hendaknya ditindaklanjuti dengan penyelenggaraan diklat pembuatan web dan diklat pengelolaan repositori dengan Eprint.
-         Perpustakaan UM Magelang
Perpustakaan UM Magelang bekerjasama dengan Prodi PDMI  FAI UM Magelang menyelengarakan seminar “Library Management to Better Education” tg. 4 Agustus 2018. Pertemuan ilmiah ini diikuti 40 peserta dari mahasiswa Prodi PDMI FAI UM Magelang, kepala perpustakaan MI Muhammadiyah Kab Magelang. Materi yang dsampaikan antaralain Manajemen Perpustakaan  MI (Lasa Hs, UMY,( Perpustakaan  Masa Kini (Jamzanah, UMM), Pengoahan Bahan Pustaka & Pengenalan SLIMS (Sulistya, UMM), Praktek penyusunan visi, misi, tujuan, program kerja (Atin,UMM). Pertemuan itu akan ditidaklanjuti dengan penyelenggaraan diklat pengolahan dan penggunaan SLIMS .Kemudian seusai seminar dibentuk pengurus Forum Perpustakaan Madrasah Ibtidaiyah Muhammadiyah Kabupaten Magelang dengan 9 orang anggota pengurus.
Semoga langkah ini diikuti perpustakaan PTMA lain dalam rangka memajukan perpustakaan sekolah Muhammadiyah sebagai adik kandung PTMA>
-         Perpustakaan UM Yogyakarta
Dalam rangka peningkatan kemampuan pustakawan PTMA, Perpustakaan UMY menyelenggarakn workshop terbatas tentang kiat jitu presentasi. Kegiatan yang berlangsung tanggal  6Agustus 2018 itu diikuti pustakawan UMY, UNISA, UAD,UMS, UM Purwokerto, UM Purworejo, dan STIKES Muhammadiyah Gombong. Pada saat itu juga dilakukan paktek langsung presentasi berbahasa Inggris oleh pustakawan UMY yang akan presentasi di Thailand dan Kuala Lumpur
-         Perpustakaan UM Sumatera Utara
Dalam rangka akrediasi Perpustakaan UM Sumatra  Utara Medan, dalam waktu dua hari (8 – 9 Agstus 2018) Lasa Hs diundang ke UMSU untuk membimbing dan sekaligus simulasi akreditasi Perpustakaan UMSU.
Akreditasi akan dilaksanakan tanggal 13 Agstus 2018.
-         Perpustakaan UM Surakarta
Perpustakaan UM Surakarta juga menunjukkan kemajuannya dalam membina perpustakaan sekolah Muhammadiyah di wilayah SoloRaya. Kegiatan ini antara lain dalam bentuk penyelenggaraan Diklat PerpustakaanSekolah Muhammadiyah Solo Raya yang dikuti 45peserta dari berbagai sekolah Muhammadiyah. Materi yang disampaikan antara lain ; Manajemen Perpustakaan Sekolah, Pengolahan, dan Pengenalan SLIM (Staf Perpustakaan UM Surakarta).

Senin, 06 Agustus 2018

Himbauan Sumbangan Gempa Lombok

PERPUSTAKAN & HMJ PGMI UMMAGELANG ADAKAN SEMINAR & PELATIHAN REGIONAL PENGELOLAAN PERPUSTAKAAN MADRASAH IBTIDAIYAH


Perpustakaan selalu diidentikkan dengan buku dan penjaga perpustakaan yang  tidak ramah. Stereotype seperti itu sampai saat ini masih tertanam di benak masyarakat luas. Di pusat pendidikan seperti Sekolah dan Perguruan Tinggi, perpustakaan memiliki peran yang cukup penting dalam mendukung proses pembelajaran sivitas akademika. Namun, di beberapa sekolah terutama sekolah dasar maupun Madrasah Ibtidaiyah, keberadaan perpustakaan masih dianggap sebagai  pelengkap saja. Sehingga, perpustakaan masih terbengkalai dan tidak dikelola sebagaimana mestinya. Ketidakpahaman pengelola perpustakaan yang kebanyakan adalah guru mungkin menjadi faktor terbengkalainya perpustakaan sekolah.
Oleh sebab itu, HMJ Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah UMMagelang menyelenggarakan Seminar dan Pelatihan Pengelolaan Perpustakaan Madrasah Ibtidaiyah dengan tema “Library Management for Better Education”. Peserta dalam kegiatan tersebut merupakan guru maupun pengelola perpustakaan Madrasah Ibtidaiyah yang ada di Kabupaten Magelang. Acara dibuka oleh Wakil Dekan Fakultas Agama Islam,  Drs. Kanthi Pamungkas Sari, M.Pd.
Kegiatan tersebut menghadirkan narasumber yaitu Lasa HS yang merupakan Kepala Perpustakaan UMY sekaligus Ketua Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah (FPPTMA). Beliau menyampaikan materi tentang manajemen perpustakaan Madrasah Ibtidaiyah mulai dari perencanaan sampai pada evaluasi program kerja. Pengetahuan tentang akreditasi perpustakaan sekolah juga beliau sampaikan agar para kepala sekolah maupun pengelola perpustakaan paham pentingnya perpustakaan dalam menunjang kemajuan sebuah sekolah. Pada kesempatan tersebut, tiga pustakawan Perpustakaan UMMagelang yaitu Jamzanah Wahyu Widayati, S.I.Pust, Sulistyo Nur Ginanjar, dan Atin Istiarni, SIP juga menjadi pemateri untuk pengelolaan teknis bahan pustaka.
Seminar & Pelatihan diikuti oleh 60 pengelola perpustakaan madrasah ibtidaiyah serta 20 mahasiswa PGMI UMMagelang.  Acara dimulai pada pukul 09.00 dan berakhir pada pukul 15.30 WIB. Pada kesempatan tersebut juga telah terbentuk Forum Komunikasi Pengelola Perpustakaan MI Kabupaten Magelang sekaligus struktur pengurus dengan Kepala Perpustakaan UMMagelang sebagai pembinanya. Melalui forum tersebut diharapakan dapat memajukan perpustakaan madrasah ibtidaiyah khususnya di Kabupaten Magelang.