Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Jumat, 13 Juli 2018

KH. Farid Ma’ruf KIYAI YANG POLITIKUS


Di kalangan Muhammadiyah selalu saja ada tarik ulur antara kelompok yang menghendaki agar Muhammadiyah menjadi partai politik atau menentukan arah politiknya. Di lain pihak juga ada kelompok yang menghendaki agar Muhammadiyah tetap saja pada jalur semula. Artinya tidak usah ikut politik praktis apalagi menjadi partai politik. Tarik ulur ini memang terjadi sejak lama. Namun sejarah telah membuktikan bahwa ada beberapa tokoh Muhammadiyah secara pribadi terjun langsung ke arena politik tanpa harus membawa-bawa Muhammadiyah. Satu diantara mereka adalah K.H. Farid Ma’ruf.
                Putra Kauman Yogyakarta yang    lahir 25 Maret 1908 ini sejak  kecil memang,  suka catur dan badminton. Ia   pernah menjadi anggota Pengurus Partai Islam Indonesia/PII. Beliau terjun ke gelanggang politik bersama K.H. Mas Mansur, Ki Bagus Hadikusumo, Abdul Kahar Mudzakir, Abdul Hamid BKN, dan Mr. Ahmad Kasmat.
                Partai ini dibentuk di Sala pada tanggal 4 Desember 1938 yang anggota-anggota pimpinannya berasal dari unsur pimpinan Partai Islam Indonesia/PARII yang didirikan tahun 1932 oleh Pimpinan Muhammadiyah dan Persarikatan Pemuda Islam. Kemudian dalam perkembangannya nanti PII membubarkan diri pada awal tahun 1942 bersaman dengan pendudukan Jepang di Indonesia.
                Farid Ma’ruf yang alumni Al Azhar Kairo itu pernah melawat ke Jepang selama tiga bulan sebagai delegasi Majelis Islam A’la Indonesia/MIAI bersama Mr. Ahmad Kasmat, S.A. Alamudi, H. Abdul Kahar Mudzakir, dan H. Mahfudz. Setelah kembali ke Indonesia, beliau aktif dalam kegiatan yang diselenggarakan oleh Muhamamdiyah dan memang kehidupannya tidak dapat dilepaskan dari Muhammadiyah. Bahkan mantan guru Madrasah Mu’alimin Muhammadiyah ini pernah ditangkap Belanda pada tahun 1941 bersama pejuang lain lalu dipenjara selama tiga bulan. Penangkapan ini berdasarkan tuduhan bahwa beliau dan kawan-kawannya bekerjasama dengan Jepang akan menggulingkan Pemerintah Belanda.
                Perjuangan memang tak mengenal menyerah dan memang banyak resikonya. Itulah pejuang dulu berani menghuni tirai besi karena perjuangan dan bukan rebutan kursi. Atau masuk penjara gara-gara korupsi. Memalukan memang oknum-oknum pendhalim rakyat itu.
                Farid Ma’ruf yang juga seorang jurnalis itu pernah menjadi Wakil Ketua Partai Majelis Syuro Muslimin Indonesia/Masyumi yang didirikan pada bulan Nopember 1947 di Yogyakarta. Partai ini sebenarnya merupakan gabungan dari partai dan organisasi Islam seperti Partai Sarekat Islam Indonesia/PSII, Muhammadiyah, dan Nahdhatul Ulama/NU.  Masyumi ini merupakan ekspresi cita-cita umat Islam dalam bidang politik saat itu.
                Kiyai yang satu ini tidak lepas dari jabatan politik. Pada tahun 1945 ia ditugaskan di Yogyakarta sebagai anggota Pimpinan Revolusi dalam menghadapi Jepang untuk mempertahankan Daerah Istimewa Yogyakarta/DIY. Kemudian pada tahun 1946 beliau yang berpangkat Jendral Mayor (saat itu) ditugaskan sebagai staf  PEPOLIT di Yogyakarta. Lalu mulai tanggal 13 Mei 1946 beliau duduk sebagai Dewan Pemerintah Daerah/Kepala Jawatan Sosial DIY.
                Karir dan prestasinya di bidang pemerintahan kecuali sebagai Dewan Pemerintahan Daerah dan Kepala Jawatan Sosial DIY, juga sejak tahun 1951 sampai 1965 ia diangkat sebagai Kepala Jawatan Agama DIY. Pada tahun 1965-1966 ia diangkat sebagai Menteri Urusan Haji yang kemudian menjadi Deputi Menteri Urusan Haji dan terakhir sebagai Direktur Jendral Urusan Haji. Ia pernah menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung/DPA, anggota MPRS dan anggota Pimpinan Angkatan 1945 di Yogyakarta.
                Disamping kesibukannya di pemerintahan dan Muhammadiyah, Farid Ma’ruf juga aktif di dunia pendidikan. Beliau pernah diangkat sebagai Guru Besar Luar Biasa di UGM, IAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga, Akademi Tabligh (Fakultas Ilmu Agama dan Dakwah/FIAD) dan sejak tanggal 18 Nopember 1960 beliau dipercaya sebagai Rektor IKIP Muhammadiyah (sekarang Universitas Ahmad Dahlan).
                Sebagai tokoh Islam dan politikus, beliau sering mengadakan lawatan ke luar negeri. Pada tahun 1952 bersama Dr. Moch. Hatta(Wakil Presiden RI) beliau melawat ke Mekah, Kairo, Libanon, Siria, dan Pakistan. Kemudian bersama Dr. Roeslan Abdulgani, beliau melawat ke Italia, Vatikan, Yugoslavia, Hungaria, dan Uni Sovyet. Pada tahun 1962 ia ke Mekkah, Beirut, Bangkok, Singapura. Bahkan ketika berkunjung ke Pakistan, beliau bertemu langsung dengan Moch. Iqbal seorang pujangga dan pemikir Islam yang terkenal itu. Dalam kesempatan pertemuan yang berlangsung satu jam itu, pujangga itu menitip pesan kepada umat Islam Indonesia. Farid Ma’ruf sempat mencatat pesan itu yang aslinya dalam bahasa Inggris dan  terjemahannya kurang lebih :”Saya sangat gembira ketika bertemu tuan Muhammad Farid dari Indonesia yang sedang kembali dari Mesir ke kampung halamannya Indonesia, bahwa umat Islam Indonesia telah sadar akan desakan jaman dan tengah bersiap-siap memperjuangkan kemerdekaan bagi tanah airnya. Tuan Muhammad Farid ingin agar saya menyampaikan pesan dengan perantaraan dia kepada saudara-saudara saya di Indonesia. Maka inilah pesan saya kepada mereka (umat Islam Indonesia)  sebagimana telah saya pesankan kepada rakyat Mesir dua tahun lalu. Pada masa kegoncangan rohaniah seperti sekarang ini, tetaplah setia berpegang kepada tuntunan Rasulullah SAW dan kepada ajaran serta cita-citanya yang tercermin dalam seluruh kehidupan beliau. Janganlah dilupakan bahwa kaum muslimin se dunia memikul tugas suci yaitu untuk mempersatukan tidak hanya semua suku dan bangsa, akan tetapi juga segala macam agama yang dianut oleh umat manusia. Agama Islam tidak akan memberikan tujuan hidup lain, karena Islam itu sendiri adalah tujuan hidup”.
                Kiyai yang satu ini memang serba bisa. Sebab disamping kesibukannya di dunia politik, pendidikan, dan Muhammadiyah, beliau masih sempat menulis beberapa buku. Kebiasaan menulis inilah yang perlu  mendapat perhatian kita selaku orang-orang Muhammadiyah agar nilai-nilai Kemuhammadiyahan dapat berkembang dari genersi ke generasi. Sebab tulisan terutama buku akan bernilai abadi. Maka kiyai ini meninggalkan tulisan-tulisan dalam bentuk buku antara lain: Sejarah Siti Aisyiah, Melawat ke Jepang, Ethika, Ilmu Dakwah, Diklat Bahasa Arab, Analisa Akhlak dalam Perkembangan Muhammadiyah, Asuransi Jiwa Menurut Pandangan Islam, dan Penjelasan tentang Maksud dan Tujuan Muhammadiyah.
                Beliau pernah menjadi pimpinan Suara Muhammadiyah dan memperoleh beberapa satyalencana antara lain: Satyalencana Peristiwa Perang Kemerdekaan ke satu dan kedua, Satyalencana Karya Setia Klas II. Beliau pulang ke Rahmatullah di Rumah Sakit Islam Jakarta (RSIJ) pada tanggal 6 Agustus 1976 dan meninggalkan seorang isteri dan sembilan orang anak (4 laki-laki dan 5 perempuan). Almarhum meninggal ketika menjabat sebagai Penasehat Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Jenazahya dimakamkan di Tanah Kusir Jakarta.
                                                   
                                  
Lasa Hs.



Oei Tjen Hien (1905-1998) TIONGHOA YANG MUHAMMADIYAH


Oei Tjen Hien dikenal dengan nama Haji Abdulkarim. Ia seorang tokoh Muhammadiyah dan mantan anggota Parleman RI. Ia pendiri organisasi etnis Tionghoa Islam dengan nama Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (PITI). Pada tahun 1967 – 1974, ia menjadi anggota Pimpinan Harian Masjid Istiqlal Jakarta yang diangkat oleh Presiden RI, menjadi anggota Dewan Penyantun BAKOM PKAB, dan anggota Pengurus Majelis Ulama Indonesia/MUI  Pusat.
                Ia lahir tahun 1905 di Padang Panjang dengan nama Oei Tjen Hien. Setelah lulus sekolah dasar, ia mengikuti berbagai kursus dan bekerja sebagai pedagang hasil bumi. Di samping itu, ia juga seorang pande emas yang pindah ke Bengkulu. Mula-mula ia memelajari berbagai agama melalui buku dan majalah, dan bergaul dengan orang-orang Islam. Setelah mendapatkan pengetahuan dan keyakinan yang mantap, akhirnya ia yakin benar dan penuh kesadaran pada umur 20 tahun masuk Islam. Ia aktif di Muhammadiyah sampai dengan tahun 1932. Pada  era inilah dia kemudian berkenalan dengan Prof. Dr. Hamka. Pergaulannya semakin luas dan pengalamannya pun semakin tambah lalu pada tahun 1961 ia membentuk organisasi Islam bernama Persatuan Islam Tionghoa Indonesia/PITI. Organisasi ini sebenarnya merupakan gabungan dari dua organisasi yang sejenis sebelumnya, yakni Persatuan Islam Tionghoa dan Persatuan Tionghoa Islam. Dalam perkembangannya nanti, nama PITI berubah menjadi Pembina Iman Tauhid Islam.
                Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai seorang yang ulet dan memegang berbagai jabatan penting antara lain; Komisaris Utama BCA, Direktur Utama Asuransi Central Asia, Direktur PT Mega, Direktur Utama Pabrik Kaos Aseli 777, dan Direktur Utama Sumber Bangawan Mas. Sebagai seorang muslim yang taat, ia selalu menghitung jumlah kekayaannya dengan teliti untuk diekluarkan zakatnya. Oei dikenal pula sebagai Baba (atau Babadek menurut orang Bengkulu) yang juga akrab dengan Bung Karno. Suatu ketika, di Bengkulu, Pak Oei akan melakukan kunjungan ke cabang-cabang Muhammadiyah dengan mobil yang dikemudikan oleh seorang sopir. Mobil itu berjalan pelan-pelan karena di belakang ada Bung Karno yang sedang bersepeda sambil berbincang-bincang dengan Oei. Sesampai di batas kota, kedua sahabat karib itu berpisah, dan Bung Karno bersepeda kembali ke kota dan Pak Oei melanjutkan perjalanan ke daerah-daerah.
                Haji Abdulkarim Oei adalah salah seorang pionir keturunan Tionghoa yang aktif dalam upaya pembauran. Hal ini dibuktikannya dengan kesadarannya menjadi warga negara Indonesia yang otomatis harus keluar dari hidup di lingkungan etniknya. Keislamannya otomatis membawa Oei ke pola hidup baru ini. Keakrabannya dengan sejumlah tokoh seperti Buya Hamka lebih memotivasi Pak Oei dalam menggerakkan Muhammadiyah dan memperkuat upaya pembauran. Buya Hamka sendiri pernah menyatakan tentang Oei ini dalam brosur “Dakwah dan Asimilasi” tahun 1979.”Dalam tahun 1929 mulailah saya berkenalan dekat dengan seorang muslim yang membaurkan dirinya ke dalam gerakan Muhammadiyah dan langsung diangkat oleh masyarakat Muhammadiyah di tempat tinggalnya, yaitu Bengkulu. Ia menjadi Konsul Muhammadiyah Daerah tersebut sekarang namanya lebih dikenal dengan sebutan Bapak Haji Abdulkarim Oei. Telah 50 tahun kami berkenalan, sama paham, sama pendirian, dan sama-sama bersahabat karib dengan Bung Karno. Persahabatan Saudara Haji Abdulkarim Oei itu sebenarnya menguntungkan dirinya. Disamping sebagai seorang muslim yang taat, ia pun dipupuk, diasuh, dan akhirnya menjadi Nasionalis Indonesia sejati. Semasa pendudukan Jepang, H. Abdulkarim diangkat sebagai Dewan Penasehat Jepang (Chuo Sangi Kai). Pada masa kemerdekaan, ia diangkat sebagai Komite Nasional Indonesia/KNI Bengkulu dan sebagai anggota DPR mewakili golongan minoritas. Dalam kepartaian, ia memilih Partai Muslimin Indonesia/Parmusi sebagai wadah perjuangannya.
                Seluruh catatan perjalanan hidupnya kemudian tersusun dalam buku Mengabdi Agama, Nusa, dan Bangsa. Namun, pada tahun 1982, buku yang diterbitkan PT Gunung Agung Jakarta itu ditarik dari peredaran karena dinilai merugikan pihak-pihak tertentu. Bersama dengan Yunus Yahya, Oei melakukan pembinaan agama Islam kepada warga keturunan. Yunus Yahya nama aslinya adalah Lauw Chuan Tho termasuk tokoh pembaruan dari kalangan Cina muslim di Indonesia dan pernah sekolah di Sekolah Tinggi Ekonomi Rotterdam Belanda. Ia masuk Islam pada tahun 1979 dan diangkat sebagai Pengurus Majelis Ulama Indonesia tingkat nasional pada periode 1980-1985.
                Haji Abdulkarim Oei Tjen Hien meninggal dunia pada hari Jum’at dini hari, tanggal 14 Oktober 1988 dalam usia 83 tahun karena sakit tua dengan beberapa komplikasi. Jenazahnya dimakamkan di Taman Pemakaman Umum Tanah Kusir Jakarta, di dekat makam isterinya Maimunah Mukhtar yang meninggal tahun 1984 dengan meninggalkan lima putra-putri dan beberapa cucu.
                                                                                                                                 
Lasa Hs


Selasa, 10 Juli 2018

IKHLAS, MELURUSKAN NIAT Bagian 3


  1. Manusia bukan pemilik surga dan neraka
Apabila  orang menyadari bahwa orang-rang yang dijadikan tujuan amalnya (baik karena ingin ujian atau balasan dari mereka) akan sama-sama dihisab oleh Allah Swt.Mereka sama-sama besok akan berada di Padang Mahsyar untuk menerima hasil/nilai amal dan perbuatan mereka.
Mereka itu tidak bisa saling mendorong untuk memasukkan seseorang  ke surga. Mereka pun tidak isa secara kelompok mencegah seseorang dari siksa api neraka. Dalam hal ini Ibnu Rajab dalam kitabnya Jamiul Ulum wal Hikam menyatakan “ Barang sapa yang berpuasa, shalat, berdzikir kepada Allah dan dia maksudkan amalan-amalan itu untuk mendapatkan dunia, maka tidak ada kebaikan dalam amalan-amalan tersebut  sama sekali Amalan-amalan tersebut tidak manfaat baginya, bahkan hanya akan menyebabkan dosa”..   
  1. Ingin dicintai Allah dan manusia
Apabila seseorang beramal semata-mata denan  niat lurus mencari ridha Allah, maka akan dicinati Allah dan manusia. Dalam hal ini Allah Swt tegaskan dalam  Q.S Maryam:  96 yang artnya: Sungguh, orang-orang yang beriman dan beramal saleh, kelak (Allah) Yang Maha Pengasih akan menanamkan  rasa kasih sayang (dalam hati mereka)”.
Dalam ayat tersebut Allah menjelaskan bahwa Allah akan menanamkan kasih sayang kepada hati-hati orang-orang yang beriman dan beramal saleh. Yakni amalan-aman yang diniatkan ikhlas demi Allah semata.
  1. Takut amalnya tidak diterima
Saking hati-hatinya, seorang yang beramal ikhlas itu khawatir jangan-jagan amalnya itu tidak diterima oleh Allah Swt. Dalam hal ini Allah Swt  berfirman dalam Q. S. Al Mu’minun: 60  yang artinya: “ Dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan, dengan hati yang takut (karena mereka tahu bahwa) sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka”.
Pada ayat tersebut, Allah menjelaskan bahwa diantara sifat-sifat orang mukmin adalah mereka yang memberikan suatu pemberian, namun mereka takut tidak diterima amal perbuatan mereka itu. 
            Lasa Hs
            (Habis)

HINDARI RIYA’


   
Riya’ merupakan perilaku memperlihatkan kebaikannya agar dipuji dan disanjung. Mereka tinggi hati bila dipuji, dan putus asa bila tidak dipuja. Dengan pujian ini mereka merasa memiliki nilai lebih dari yang lain. Mereka merasa paling unggul dari yang lain.
Memang tiap orang memiliki kelebihan sekaligus kekurangan dari orang lain. Mungkin dalam kedudukan, harta, keturunan, kepandaian, bakat, dan lainnya. Namun bila kelebihan itu ditonjol-tonjolkan, bisa membuat orang lain tidak simpatik. Dengan selalu mengunggulkan kelebihan maka  bisa sombong, merasa paling benar, dan tidak mau menerima kebenaran meskipun disajikan data dan fakta. Sebab diantara tanda orang takabur adalah merendahkan orang lain dan menolak kebenaran. Perilaku seperti ini diingatkan Allah Swt dalam Q.S.An Najm: 32 yang artinya:Dan janganlah kamu sekalian mengatakan dirimu suci. Dia-lah yang paling mengetahui tentang orang-orang yang taqwa:.
            Menunjukkan kehebatan diri dan selalu menyalahkan pihak laih kadang dipandang sebagai hak individu. Dengan cara ini dikira mampu menaikan gengsi dan martabat.Namun perlu disadari bahwa prilaku ini dapat menurunkan wibawa seseorang, bahkan dibulli orang banyak.
            Riya’ dan semacamnya dapat dikatakan sebagai perbuatan syirik meskipun syirik kecil. Dalam hal ini Rasulullah Saw menyatakan: “ Aku sangat mengkhawatirkan pada kamu sekalian dari perbuatan syirik kecil. Kemudian pada sahabat bertanya, “Apa yang dimaksud syirik kecil itu Ya Raslullah “. Beliau menjawab, yakni riya’. (HR. Ahmad, Thabrani, dan Baihaqi).
            Riya’ tidak mesti dalam bentuk omongan, tetapi bisa dalam bentuk perilaku. Misalnya seseorang berulang kali menggerak-gerakkan lengannya ketika berbicara di depan publik. Gerakan ini sengaja dilakukan untuk menunjukkan/pamer gelangnya atau jam tangannya bermerek.
Untuk memahami perilaku riya’, Imam  Ghazali memberikan beberapa perilaku yang dapat dikategorikan sebagai gejala riya’ yakni:
  1. Semakin meningkat ibadah dan amalannya bila dipuji/disanjung
Kadang kita ini berperilaku seperti anak kecil. Begitu bangga bila dipuja, hati setinggi gunung bila disanjung. Demikian pula ketika melaksanakan ibadah. Kadang kita ini tertipu oleh sikap dan ketakaburan perasaan diri sendiri.
Begitu nampak khusyu’ shalatnya bila dilihat orang. Sumbangannya ditambah-tambah, lantaran sumbangan pertama dimuat surat kabar atau ditayangkan oleh televise misalnya. Perilaku demikian dikira mampu meningkatkan eksistensi diri dan kroninya di mata publik
  1. Putus asa dan kurang semangat bila dicela
Tidak sedikit  diantara kita yang patah arang bila dicela. Orang begitu mudah sakit hati bila dicaci maki. Hal ini bisa terjadi lantaran perbuatan mereka tidak didasarkan pada keikhlasan. Mungkin motivasi kebaikan itu untuk memeroleh dukungan suara, memperbesar nama dan kroninya.
  1. Malas melakukan ibadah bila sendirian
Kita ini sering kena penyakit malas bila melakukan kegiatan sendirian. Mungkin berat shalat malam meskipun hanya dua rekaat. Namun bila nonton pertandingan sepak bola, justru berjam-jam kuat dan tidak mengantuk.
  1. Menunjukkan kedermawanannya bila diketahui khalayak
Memang, orang berbuat baik itu motvasinya berbeda satu dengan yang lain. Ada yang nampak dermawan lantaran mendapatkan suara dan nama diri. Apabila tidak dilihat banyak orang,justru nampak kikirnya.

Lasa Hs


Kamis, 05 Juli 2018

Preservation of Manuscript with Tradition of Local Culture in KHP Widya Budaya Library of Keraton Yogyakarta, Indonesia


Aidilla Qurotianti 1, Helen Dian Fridayani2
1 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Kasihan, Bantul, Indonesia
 aidila_qurotianti@yahoo.co.id
2 Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Kasihan, Bantul, Indonesia
helendianf9@gmail.com



ABSTRACT
The manuscripts that used to hundreds of years mades risk to vulnerable to mold and other parasites. Therefore, it takes the efforts to preserve and keep the original manuscript. One of the libraries preserving while maintaining the local cultural traditions is KHP Widya Budaya Library of Keraton Yogyakarta. On process of preservation of the manuscript, Abdi Dalem Keraton performs a small ceremony to honor the authors and the contents in the manuscript. Because of the reasons, the researcher interested to know how the process of preservation of the manuscripts that still maintain the cultural tradition of the Keraton who conducted by Abdi Dalem in KHP Widya Budaya Library of Keraton Yogyakarta. The purpose of this research is to analyze how the activities of preservation of manuscripts with the tradition of local culture in the KHP Widya Budaya Library of Keraton Yogyakarta, and to determine the factors causing damage the manuscripts located in the KHP Widya Budaya Library of Keraton Yogyakarta. The research method used is qualitative method. Data collection techniques through the interview, observation, and documentation. Research results show that before implement the preservation, Abdi Dalem performed the rituals of caos dahar which aimed to ask permission to “the guard” who keep the manuscripts. They believe that when they perform the ritual before preservation, the preservation process will be running smoothly. To overcome the damage factor, KHP Widya Budaya Library of Keraton Yogyakarta conducting preservation activities who conducted by Abdi Dalem. Preservation of library materials concerning efforts that are preventive and curative. Preventif action such as digitalization, alphabet translation, camperization, stored at the special cupboard, set the air humadity. While currative action such as removal of acid content, fumigation and binding and patching.

Keyword: Preservation, Manuscripts, Ritual, Cultural Tradition of Keraton