Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Rabu, 14 November 2018

Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia 11

Konferensi Perpustakaan Digital Indonesia (KPDI)11 dilaksakan di Medan pada tanggal 6-9 November 2018. Acara tersebut dihadiri kurang lebih 400 peserta, baik yang berasal dari Perpustakaan Instansi Pemerintah, Perguruan Tinggi Negeri, dan juga Perguruan Tinggi Swasta.

Ada salah satu materi menarik, yang disampaikan oleh salah satu peserta CFP, yaitu Najmi Fuady . Ia menjelaskan bahwa diera digital seperti saat ini, penyebaran informasi hoax sangatlah mudah, sehingga kita sebagai pustakawan harus jeli terhadap informasi yang disebarkan.

Ia menjelaskan ada beberapa indikator yang bisa digunakan untuk mengevaluasi kualitas informasi di dalam internet, yaitu :

Autoritatif 

Dalam autoritatif yang perlu diperhatikan adalah: 
  • URL (Uniform Resource Locator) dari sumber informasi tersebut. Cek dokumen URL, apakah dari sebuah institusi atau organisasi atau komersial? dan di mana diterbitkan.  
  • Penulis. Apakah penulis memiliki kompetensi atau kemampuan dalam menulis dibidang tersebut. 
  • Sponsor. Perhatikan secara mendalam isi sebuah informasi, karena bisa saja lebih bersifat subyektif, semua tergantung sponsor yang mendanai tulisan di dalam informasi tersebut. 
  • Kutipan dalam tulisan. Tulisan yang baik adalah tulisan yang menyertakan sumber. Maka, cek lah sumber tulisan yang dibagikan dengan melihat ada tidaknya kutipan dalam tulisan tersebut


Akurasi 

Akurasi suatu informasi selalu dikaitkan dengan orang yang menulis informasi tersebut (Cooke, 2001). Penjelasan mengenai akurasi di halaman web sendiri tercantum dalam about us, profile atau contact us. Penilaian ke akurasi-an mencakup: 
  • Segi informasinya itu sendiri. Siapa yang menulis di page tersebut? adakah nomor kontak atau email dari penulis? Apakah dia berkompeten di dalam menulis bidang ini? 
  • Adakah yang memverifikasi informasi tersebut atau dalam kata lain editornya? Dalam jurnal-jurnal ilmiah biasanya selalu tertera tulisan peer review. Artinya bahwa tulisan yang ada di jurnal tersebut telah diedit atau direview oleh ahlinya. 


Objektivitas 

Objektivitas di sini lebih melihat tujuan daripada pembuatan situs. Karena situs yang baik tentu akan menjabarkan untuk siapa, membahas apa dan dibuat untuk apa. Menurut Cooke (2001), ada 3 pertanyaan yang dapat digunakan untuk mengidentifikasikan tujuan sebuah sumber informasi, yaitu : 
  • Pernyataan yang menunjukkan tujuan dari situs itu sendiri. Biasanya situs akan menuliskan langsung bahwa jurnal atau sumber informasi yang ditampilkan  ditujukan untuk kalangan tertentu. 
  • Pembaca yang dituju oleh informasi tersebut. Merupakan kelanjutan dari poin yang di atas, karena dibuat untuk tujuan tertentu maka audiennya pun untuk kalangan tertentu pula. 
  • Bagaimana detail dari isi informasi tersebut?

Currently (kekinian) 

Hal yang perlu diperhatikan dalam currently, meliputi ; 
  • Informasi mengenai kapan dibuat? tanggal, bulan dan tahun dari sumber informasi tersebut. Dalam setiap essay media pnline atau jurnal ilmiah data-data tanggal seperti ini tercantum dengan jelas sehingga kita bisa mengetahui kapan informasi tersebut di upload. 
  • Kapan terakhir di update? Apakah ada dead link-nya? Hal ini untuk mengindentifikasikan apakah informasi di dalamnya diperbaharui secara berkala atau tidak, berapa lama pembaharuan konten dilakukan. Kekinian menjadi pertimbangan yang perlu diperhatikan sebab informasi yang lama akan menjadi tidak berguna lagi, tidak relevan dan cenderung menyesatkan (Cooke, 2001). 


Coverage (cakupan) 

Coverage di sini lebih melihat ke cara mengulas atau cakupan sebuah informasi, di antaranya 
  • Topik. Cakupan topik dijabarkan secara obyektif karena didukung data-data yang akurat dan reliable, tidak bias. 
  • Adakah link yang terhubung dengan situs-situs lain yang dapat dipercaya untuk mendukung informasi tersebut. Ada beberapa sumber informasi yang menyertakan link ke situs-situs yang berhubungan dengan kontennya, hal ini digunakan untuk memperkuat argumentasi dari apa yang diulas tersebut, disisi lain bisa dikatakan sebagai indikator penelitian sekarang merupakan kelanjutan dari penelitian sebelumnya. 
  • Kedalaman dalam menganalisis topik yang disajikan

Gaya Penulisan 

Menurut Azwar (2011) gaya penulisan termasuk salah satu indikator yang diperlukan untuk mengevaluasi sebuah web. Seorang penulis yang tidak akurat dalam menuliskan ejaan, penggunaan tanda baca maupun kaidah bahasa umumnya kurang memiliki kredibilitas dalam menyampaikan informasi. Hal ini sejalan dengan pendapat Doyle (2006) bahwa kecerobohan dalam memilih bahasa dan gaya penulisan bisa menjadikan sebuah situs tidak bisa diandalkan



Materi KPDI 11 bisa diunduh melalui link ini


Minggu, 11 November 2018

Kunjungan Stikes Jayapura ke Perpustakaan Unisa Yogya


Senin, 5 November 2018 bertempat di Perpustakaan Unisa Yogyakarta, hadir seorang purna tugas dari Dinkes Papua yang sekarang aktif di Stikes Jayapura. Beliau adalah Ibu Dionesia Pri Utami, SKM, M.Kes. Kehadirannya dari Jakarta pasca mengikuti Kongres  Ikatan Bidan Indonesia (IBI) untuk study banding ke Unisa Yogyakarta. Salah satu bahannya adalah tentang pengelolaan perpustakaan, untuk pengembangan Stikes Jayapura yang berada di bawah Yayasan Pengembangan Masyarakat Papua.
Kunjungan study banding diterima oleh Kepala Perpustakaan UNISA Yogya, Irkhamiyati, SIP., M.IP. Banyak hal menarik menjadi topik perbincangan dalam studi banding kali ini, mulai dari akreditasi perpustakaan oleh Perpiusnas RI sampai akreditasi prodi oleh BAN PT. Di akhir sesi beliau ingin menjalin kerja sama dengan Perpustakaan Unisa Yogyakarta demi kemajuan Perpustakaan bersama. (Irkhamiyati-2018).

PENINGKATAN KOMPETENSI PUSTAKAWAN BERBASIS MANAJEMEN PENGETAHUAN


                                       Nurhayati
                     Perpustakaan UM Sidoarjo
                                      Abstrak

Pustakawan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiah perlu memiliki kompetensi dalam melaksanakan kegiatan kepustakawanan. Kompetensi ini meliputi kompetensi profesi, kompetensi pribadi, dan kompetensi kepemimpinan. Kompetensi profesi mencakup pengetahuan bidang perpustakaan, informasi, psikologi, dan manajemen. Kompetensi pribadi merupakan kemampuan yang berhubungan dengan perilaku, sikap, dan nilai diri. Kompetensi kepemimpinan adalah kemampuan dalam merencanakan, mengkoordinir, melaksanakan, dan melakukan pengawasan dalam pemberdayaan sumber informasi, pengembangan SDM, pemanfaatan teknologi informasi, maupun mengarahkan kegiatan kepustakawanan.
Penguasaan kompetensi ini semakin meningkat, apabila pustakawan mau    mengembangkan diri dengan pendidikan dan belajar sepanjang hayat.


Jumat, 09 November 2018

PEMBELAJARAN SEPANJANG HAYAT UNTUK PENGEMBANGAN SUMBER DAYA MANUSIA PERPUSTAKAAN PTMA


Dwi Sundari
Perpustakaan STIKES Muhammadiyah Gombong
 Abstrak
                Perpustakaan dan pustakawan merupakan 2 (dua)  komponen yang tak terpisahkan, bagaikan dua sisi mata uang. Pustakawan memiliki tugas mengelola bahan pustaka,  memberikan layanan informasi, dan mengembangkan profesi pustakawan. Namun dalam pelaksanaan kegiatan itu, di beberapa lembaga belum mendapat apresiasi terutama oleh stakeholder.
                Oleh karena itu, pustakawan harus menyadari perlunya  meningkatkan kinerja dan selalu belajar, dan menunjukkan kemampuannya dalam ikut serta dalam usaha mencerdaskan kehidupan bangsa. Pustakawan perlu mengembangkan karir dengan menunjukkan prestasi, kreativitas, talenta, dan produk intelektual. Misalnya aktif  di organisasi kepustakawanan, berperan serta dalam seminar, mengikuti  call for paper, mengikuti kompetisi, pelatihan, magang, dan lainnya. Mereka perlu belajar sepanjang hayat untuk meningkatkan kualitas diri dan meningkatkan kinerja pustakawan.

Selasa, 06 November 2018

MENINGKATKAN KECERDASAN EMOSIONAl UNTUK MEWUJUDKAN PUSTAKAWAN BERPRESTASI


        Yunda Sara Sekar Arum
          Perpustakaan UM Magelang
     Abstrak
            Banyak yang berpandangan bahwa hal yang menentukan prestasi adalah kecerdasan intelektual (IQ). Akan tetapi pada kenyataannya, kecerdasan intelektual hanya menyumbang  20 persen dalam faktor yang memengaruhi prestasi. Sedangkan sisanya 80 persen ditentukan oleh kecerdasan emosional. Maka, kini kecerdasan emosional dijadikan tolok ukur baru dalam penilaian kinerja.
Pustakawan dalam melaksanakan kegiatannya perlu menggunakan kecerdasarn emosionalnya terutama dalam memberikan layanan. Melalui kecedasan emosional, pustakawan akan mampu meraih prestasi tinggi.