Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Minggu, 21 Juli 2019

Penguatan Sinergi Perpustakaan UNISA Yogya dengan Perpustakaan UNIMUS


Penguatan Sinergi Perpustakaan UNISA Yogya dengan Perpustakaan UNIMUS
Oleh: Irkhamiyati, M.IP.

Dalam rangka meningkatkan kerja sama pemberdayaan perpustakaan, Kamis 18 November 2019, Perpustakaan UNIMUS (Universitas Muhammadiyah Semarang) melakukan kunjungan study banding ke Perpustakaan UNISA (universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta). Kunjungan diketuai oleh Kepala Perpustakaan UNIMUS, Bp. M. Firdaus Charis N.
Salah satu tujuan kunjungan adalah untuk sharing pengalaman antara kedua perpustakaan dalam menyiapkan dan melaksanakan akreditasi perpustakaan, akreditasi prodi, dan akreditasi institusi. Dalam kunjungan ini juga dilakukan penandatanganan MOA/Memorandum of Agreement kedua belah pihak. Hibah buku juga dilakukan sebagai bentuk kepedulian sesama anggota Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah ‘Aisyiyah/FPPTMA.
M. Firdaus Charis menyampaikan beberapa kendala yang dialami dalam pengembangan Perpustakaan UNIMUS, seperti lokasi kampus yang berada di 5 tempat, ruangan yang kurang strategis, jumlah pustakawan yang dirasakan masih kurang, dsb. Dengan kunjungan ini, diharapkan memberikan masukan untuk pengembangan perpustakaan kedua belah pihak. Irkhamiyati, M.IP, selaku Kepala Perpustakaan Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta menyambut baik kunjungan ini. Banyak manfaat yang diperoleh dari kunjungan ini, sehingga ke depannya bisa lebih bersinergi dalam pemberdayaan perpustakaan yang sama-sama di bawah Amal Usaha Muhammadiyah ‘Aisyiyah. Pengembangan perpustakaan merupakan aspek yang sangat penting, sehingga butuh komitmen semua pihak termasuk jajaran pimpinan dan stakeholder agar perpustakaan benar-benar mampu menunjang terlaksananya catur dhrama perguruan tinggi.(Irkham, Juli 2019)

Pustakawan Unisa Yogya Terpilih sebagai Presenter CFP IPI di Batam


Pustakawan Unisa Yogya Terpilih sebagai Presenter CFP IPI di Batam
Oleh: Irkhamiyati, M.IP.

Setelah melalui rangkaian proses seleksi, Irkhamiyati, M.IP, Pustakawan UNISA/Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta  terpilih sebagai 1 dari 3 peserta yang dinyatakan lolos dan layak untuk mempresentasikan papernya. Naskah paper dipresentasikan dalam CFP dan Seminar Nasional serta Rapat Kerja Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Pusat XXII di Batam. Acara berlangsung mulai 7-10 Juli 2019.
Naskah Irkhamiyati yang dipresentasikan berjudul “Gambaran Tingkat Pustakawan Perguruan Tinggi Muhammadiyah/PTMA tentang Konsep Library 4.0”.  Dua presenter lainnya yaitu Taufik Abdul Ghani dari Perpustakaan Unsyiah Banda Aceh.  Dia mempresentasikan tentang “Big Data dan Penyebarluasan Pengetahuan: Pengalaman Perpustakaan Unsyiah”. Pembicara ke tiga adalah tim yang diwakili oleh Muhammad Irsyad Alfatih dengan judul Peran Kepemimpinan Dalam Transformasi Perpustakaan Umum dari Perpustakaan Nasional RI. Materi dapat diunduh di http://ipi.web.id/berita/2019/materi-seminar-ilmiah-nasional-ipi-tahun-2019/.
Acara dilanjutkan dengan kunjungan ke Perpustakaan Daerah Kepulauan Riau dan National Libryary Singapore. Banyak manfaat yang diperoleh dari acara ini. Pustakawan dapat saling berbagai ilmu pengetahuan agar tidak tertinggal dengan revolusi industri yang terus berkembang. Pustakawan juga bisa saling berjejaring untuk meningkatkan kemajuan perpustakaannya. Acara dihadiri oleh pustakawan dari seluruh penjuru nusantara dari Aceh sampai Papua, dan dari semua jenis perpustakaan yang ada. Yang tak kalah penting banyak pejabat dari Perpustakaan Nasional yang hadir. Begitu pula panitia IPI Pusat yang berasal dari berbagai elemen. Semua memungkinkan untuk membentuk sinergi demi kemajuan layanan perpustakaan sehingga memberi kontribusi nyata bagi masyarakat Indonesia.(Irkham-07.2019)


HATI-HATI DENGAN KEHIDUPAN INI


Allah swt berfirman yang artinya:” Ketahuilah bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan, perhiasan, bermegah-megahan antara kamu sekalian, dan berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, ibarat hujan yang bisa menumbuhkan tanaman-tanaman yang mengagumkan para petani, kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu sekalian bisa melihat bahwa tanaman itu warnanya kuning, lalu hancur. Dan (ingat) bahwa di akhirat (nanti) ada azab yang hebat dan ada juga ampunan dari Allah serta RidhaNya. Ingat pula bahwa kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan yang sering menjerumuskan”. (Q.S. Al Hadid: 20)
          Kehidupan dunia memang mengasyikkan dan menyenangkan. Apalagi apabila seseorang mampu menduduki posisi yang menyenangkan. Dikiranya bahwa namanya hidup ini hanya sekarang ini. Nanti tidak ada kehidupan lagi pikir mereka. Maka semua kesenangan dihabis-habiskan di dunia ini. Soal kubur dan akhirat itu hanya khayalan kata mereka. Orang mati ya sudah selesai, tak ada urusan lagi menurut  anggapan mereka.
            Mereka tidak menyadari bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sandiwara atau permainan. Masing-masing kita sedang memainkan peran atau lakon dalam sandiwara. Kita ini sebenarnya sedang berakting di atas panggung. Diantara kita ada yang berperan sebagai pemimpin yang sedang berakting. Sedangkan yang lain sebagai penonton. Nanti pada saatnya akan turun sesuai aturan sutradara. Namun tidak sedikit yang harus turun sebelum saatnya karena tidak mampu berakting dengan baik. Bahkan ada yang diteriaki penonton untuk turun panggung lantaran permainan mereka mengecewakan penonton. Kemudian nanti peran itu akan digantikan orang lain. Sementara itu mantan pimpinan itu bergantian menjadi penonton.
            Kehidupan dunia tidak lebih dari permainan sepak bola, bulu tangkis, maupun pingpong apabila tidak mampu menyikapinya dengan bijaksana. Namun bila mampu menyikapinya dengan baik, maka kehidupan ini merupakan aset jangka panjang (mazra’atul akhirah) berabad lamanya.
Berangkat dari pemikiran inilah, kita perlu hati-hati dan syukur bila  memiliki sikap zuhud terhadap kehidupan dunia ini. Zuhud arti dasarnya adalah tidak suka terhadap sesuatu, rela terhadap sesuatu yang sedikit, dan lebih mencintai kehidupan akhirat. Sikap zuhud tidak terlalu gembira apabila kehidupan dunia (harta, anak, jabatan, kekuasaan) ada di tangannya dan tidak terlalu sedih apabila lepas dari tangannya. Sebab mereka menyadari bahwa apa yang nempel itu ibarat pakaian yang nanti akan usang.
Mengenai zuhud ini, Ibnu Taimiyah menyatakan bahwa yang namanya zuhud adalah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat untuk kepentingan akhirat. Kemudian yang disebut wara’ adalah meninggalkan apa-apa yang mendatangkan madharat untuk kepentingan akhirat.
            Zuhud merupakan sikap menahan diri/hati-hati terhadap hal-hal yang haram dan yang halal. Namun demikian ada ulama yang mengatakan bahwa zuhud itu berarti menahan diri dari hal-hal yang haram saja. Hal ini mengingat bahwa yang halal itu jelas dibolehkan. Maka dalam hal yang halal ini, manusia diberi hak untuk memanfaatkannya.
Zuhud terhadap dunia bukan berarti harus meninggalkan kesenangan kehidupan dunia ini sama sekali. Demikian pula dengan menghindari harta benda itu bukan berarti menolak hak milik. Bukankah Nabi Sulaiman a.s. dan Nabi Daud a.s. juga diberikan kekayaan, kekuasaan, dan beberapa kelebihan. Namun demikian, mereka tidak larut dalam kekayaan, tidak mabuk kekuasaan, dan tidak terlena oleh kemewahan.   
 Bersambung

Lasa Hs.


Sabtu, 20 Juli 2019

PUSTAKAWAN DAN PENELITIAN KEPUSTAKAWANAN

Oleh: Nur Hasyim Latif
Pustakawan UMY
Penelitian merupakan proses menemukan kebenaran ilmu pengetahuan melalui prosedur ilmiah. Hasil akhir suatu penlitian  akan memunculkan 4 (empat) hal, yakni pendiskripsian, pembuktian, pengembangan, dan penemuan.
Penelitian bertujuan untuk mengubah hal yang pada mulanya tidak diketahui menjadi  pengetahuan yang dapat  dipahami dan dimanfaatkan. Pengetahuan dan ilmu pengetahuan memiliki arti yang berbeda. Pengetahuan belum bersifat ilmiah, namun ilmu pengetahuan sudah bersifat ilmiah.
                Di era revolusi industri 4.0 ini pengembangan ilmu pengetahuan kepustakawanan akan memiliki cakupan yang lebih luas. Untuk itu, pustakawan sebaiknya memiliki minat subjek yang spesialis. Hal ini akan mendukung lahirnya berbagai  hasil kajian, konsep, teori, dan  penelitian.
            Pustakawan sebagai tenaga profesional dan ilmuwan perlu melakukan penelitian dan kajian untuk memberikan kontribusi orisinal  keilmuan yang memiliki nilai positif dan kemanfaatan dalam kehidupan manusia. Untuk itu, pustakawan harus memahalmi prosedur penelitian yang meliputi metode penelitian kuantitatif, metode penelitian kualitatif, metode kombinsasi (mixed methods), tujuan penelitian, topik penelitian, masalah penelitian, instrumen penelitian, analisis data, dan prosedur-prosedur penelitian yang lain.
            Ruang lingkup dan ragam penelitian kepustakawanan memiliki kaitan yang erat dengan bidang lain. Sebab ilmu perpustakaan lebih dominan pada ilmu sosial. Penelitian kepustakawanan akan bermanfaat bagi pustakawan itu sendiri dalam rangka  mengembangkan profesionalisme kepusakawanan. Hal ini penting terutama dalam menghadapi pengembangan informasi dan profesi di era revolusi industri 4.0 ini. Sebab untuk pengembangan ilmu pengetahuan keputakawanan diperlukan penemuan, kajian, dan penelitian yang signifkan. Tanpa adanya pengembangan pemikiran, kajian, dan tanpa adanya penelitian, maka pengembangan ilmu perpustakaan akan mengalami stagnan dan mandul.

Kamis, 18 Juli 2019

Pustakawan Unisa Yogya Terpilih sebagai Presenter CFP IPI di Batam Oleh: Irkhamiyati, M.IP.



Setelah melalui rangkaian proses seleksi, Irkhamiyati, M.IP, Pustakawan UNISA/Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta  terpilih sebagai 1 dari 3 peserta yang dinyatakan lolos dan layak untuk mempresentasikan papernya. Naskah paper dipresentasikan dalam CFP dan Seminar Nasional serta Rapat Kerja Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) Pusat XXII di Batam. Acara berlangsung mulai 7-10 Juli 2019.
Naskah Irkhamiyati yang dipresentasikan berjudul “Gambaran Tingkat Pustakawan Perguruan Tinggi Muhammadiyah/PTMA tentang Konsep Library 4.0”.  Dua presenter lainnya yaitu Taufik Abdul Ghani dari Perpustakaan Unsyiah Banda Aceh.  Dia mempresentasikan tentang “Big Data dan Penyebarluasan Pengetahuan: Pengalaman Perpustakaan Unsyiah”. Pembicara ke tiga adalah tim yang diwakili oleh Muhammad Irsyad Alfatih dengan judul Peran Kepemimpinan Dalam Transformasi Perpustakaan Umum dari Perpustakaan Nasional RI. Materi dapat diunduh di http://ipi.web.id/berita/2019/materi-seminar-ilmiah-nasional-ipi-tahun-2019/.
Acara dilanjutkan dengan kunjungan ke Perpustakaan Daerah Kepulauan Riau dan National Libryary Singapore. Banyak manfaat yang diperoleh dari acara ini. Pustakawan dapat saling berbagai ilmu pengetahuan agar tidak tertinggal dengan revolusi industri yang terus berkembang. Pustakawan juga bisa saling berjejaring untuk meningkatkan kemajuan perpustakaannya. Acara dihadiri oleh pustakawan dari seluruh penjuru nusantara dari Aceh sampai Papua, dan dari semua jenis perpustakaan yang ada. Yang tak kalah penting banyak pejabat dari Perpustakaan Nasional yang hadir. Begitu pula panitia IPI Pusat yang berasal dari berbagai elemen. Semua memungkinkan untuk membentuk sinergi demi kemajuan layanan perpustakaan sehingga memberi kontribusi nyata bagi masyarakat Indonesia.(Irkham-07.2019)