Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Minggu, 24 Maret 2019

SOLUSI KONFLIK ALA MUHAMMADIYAH



                                                            Tulisan 2
                                                       Oleh : Lasa Hs
            Setelah Masyumi bubar tahun 1960an, maka hubungan Muhammadiyah dengan Pemerintah (Bung Karno) kurang harmonis, bahkan ketegangan terselubung. Di satu sisi, Bung Karno ingin mendudukkan salah seorang putra terbaik Muhammadiyah dalam kabinetnya. Yakni beliau ingin memberikan Jabatan Menteri Sosial kepada Muljadi Djojomartono (tokoh Muhamadiyah dan Masyumi).
Mendengar informasi itu, maka naluri sebagai penulis muncul pada diri Buya Hamka anggota PP Muhammadiyah. Beliaupun spontan pegang pena lalu menulis masalah itu. Tulisan itu lalu muncul di harian Abadi dengan judul: Maka Pecahlah Muhammadiyah. Dalam tulisan di harian Jakarta ini, beliau menyatakan bahwa Pimpinan Pusat Muhammadiyah terbelah menjadi dua. Yakni pimpinan istana dan pimpinan di luar istana. Dalam kelompok istana disebutkan ada nama Farid Makruf. Farid Makruf merupakan salah satu pimpinan Muhammadiyah yang mendukung Muljadi Djojomartono menjadi Menteri Sosial sebagaimana yang diinginkan Bung Karno.
Agar perbedaan pendapat ini tidak berlarut-larut, lalu diselenggarakan sidang Tanwir PP Muhammadiyah dengan acara evaluasi program. Pada sidang Tanwir ini, Buya Hamka dipersilahkan melakukan klarifikasi tentang tulisannya di harian Abadi yang berjudul Maka Pecahlah Muhammadiyah.  Beliaupun dengan tenang menuju mimbar dengan menahan genangan  air mata. Sesampai di mimbar beliau diam sejenak, berat rasanya untuk memulai, dan suaranya agak lama tak bisa keluar. Sejenak kemudian mulailah berbicara meskipun dengan menahan perasaan haru. Di sini beliau menyatakan bahwa sebagai seorang penulis begitu memeroleh informasi lalu dengan refleksnya menulisnya  apa yang saat itu terlintas dalam pikirannya. Sebab kalau tidak segera ditulis ide itu bisa hilang. Beliau menyatakan bahwa dengan tulisannya itu sebenarnya dimaksudkan untuk menjaga harkat dan martabat Muhammadiyah dan cintanya kepada Muhammadiyah. Selanjutnya beliau dengan terbata-bata  menyatakan, bahwa apabila tulisan itu menyinggung perasaan KH Farid Makruf yang juga sebagai sahabat yang dicintainya, beliau menyesal dan mohon maaf.  
            Seusai itu, Buya Hamka turun dari mimbar . Maka  pimpinanh sidang kemudian mempersilahkan KH Farid Makruf untuk tampil ke mimbar. KH Farid Makruf diberi kesempatan untuk menyampaikan pemikiran dan pertimbangan mengapa beliau mendukung kebijakan Bung Karno untuk mengangkat Pak Muljadi Djojomartono sebagai Menteri Sosial saat itu. Di mimbar itu, beliaupun diam sejenak berat untuk memulai. Suasana menjadi hening sejenak. Padahal beliau diam-diam telah menyiapkan setumpuk berkas untuk pembelaannya. Namun dalam pikiran KH Farid Makruf ternyata berubah, dan tidak mengira kalau Buya Hamka tidak menyerangnya, bahkan menyatakan penyesalan dan minta maaf. Namun bagaimanapun juga masalah perbedaan pendapat itu harus dicari solusinya agar tidak mengganggu stabilitas persyarikatan. Dengan gayanya yang khas dan tenang, beliau menjelaskan bahwa pertimbangan beliau menyetujui kebijakan bahwa  Pak Muljadi Djojomatono dicalonkan sebagai Menteri Sosial karena cntanya kepada Muhammadiyah. Menurut pertimbangannya, bahwa Muhammadiyah masih perlu dukungan dan bantuan dari pihak lain termasuk dari Pemerintah. Namun beliau juga menyadari apabila ternyata persetujuan itu tidak dikehendaki para pimpinan Muhammadiyah, maka saat itu beliau siap mundur dari Muhammadiyah.
            Pak Farid Makruf belum selesai bicara, maka berdirilah Buya Hamka dengan mengacungkan tangan dan interupsi dan berteriak” Pimpinan, saudara Farid jangan mundur, dari PP Muhammadiyah, tetapi saya saja yang mundur”.  Mendengar interupsi ini, lalu Pak Farid diam sejenak dan tertegun. Suasan sidang menjadi tegang namun diam. Lalu Pak Farid turun dari mimbar menghampiri Buya Hamka. Buya Hamkapun berdiri dan melangkah menyambut Pak Farid. Kemudian keduanya saling merangkul saling minta maaf dan memaafkan atas kesalah pahaman itu.Semua itu demi cintanya kepada Muhammadiyah. Adegan yang mengharukan ini membuat peserta sidang trenyuh, begitu tulus ikhlas para tokoh dalam membela dan memperjuangkan pergerakan Muhammadiyah. Saat itu banyak anggota sidang yang menitikkan air mata menyaksikan kesadaran bersama dan sikap saling menghargai perbedaan pendapat.
Konflik memang tidak bisa dihindari dalam kehidupan berorganisasi, bermasyarakat, dan bernegara. Namun yang penting bagaimana menyikapinya agar konflik itu tidak menjadi perpecahan, dan perlu saling menghormati perbedaan pendapat dan pilihan.

Habis.

Kiprah Kepustakawanan



           “NGOJEK” ALA PERPUSTAKAAN UMY

Sabtu pagi 23-3-2019 ada suasana yang berbeda dari hari-hari sebelumnya. Pagi itu sekelompok mahasiswa bincang-bincang seputar pemikiran tokoh Muhammadiyah. Mereka duduk lesehan,  cerita-cerita tentang para tokoh sejak KHA Dahlan, Pak AR, sampai Pak Dasron Hamid di ruang Muhammadiyah Corner Perpustakaan UMY. Dari diskusi kecil itu muncullah usulan nama  kegiatan itu dan disetujui menjadi NGOJEK (Ngobrol Jejak Kehidupan). Kegiatan ini akan berlangsung setiap Sabtu dengan membedah pemikiran tokoh-tokoh Muhammadiyah yang lain. Cara ini untuk menghidupkan layanan Muhammadiyah Corner. Yuk kita ciptakan layanan yang inovatif berkemajuan

Jumat, 22 Maret 2019

Berkhidmat Mengelola Muhammadiyah




Jum`at Cerah : Muhasabah

Jum`at, 22 Maret 2019 Khatib yang ada di Masjid KH. Ahmad Dahlan UMY mengutip dari Kitabnya Al-Ghazali, bahwa suatu ketika ada salah seorang tabi'in yang mau menjual kain tenunnya ke pasar. Kain tersebut ia tenun selama berbulan - bulan. Ketia  tiba di pasar, ia mengutarakan maksutnya kepada seorang pedagang, "Bapak, saya ingin menjual kain tenun saya" kata tabi`in tadi. 

Lalu pedagang itu bilang "Setelah aku cek, kainmu ini bagus, namun ternyata ada cacatnya, jadi aku nggak mau beli". Mendengar jawaban pedagang itu, maka tabi`in ini menangis. Kemudian pedagang tanya "kenapa kamu menangis, akun kan sudah bilang jujur.. Ya sudah, karena aku kasihan,,,, aku beli kainmu ini tapi dengan harga yang sesuai dengan kondisinya. akun nggak bisa beli dengan harga yang tinggi". Kemudian tabi`in tersbeut menjawab "akun menangis bukan karena kain tenunku ini yang cacat, namun aku ingat dengan ibadahku. Aku takut selama ini aku beribadah kepada Allah, ternyata ada cacatya sehingga Allah nggak mau menerima ibadahku". 
Lantas pedagang itu terdiam....

Kemudian sang khatib menegaska, dari cerita itu dapat kita ambil kesimpulan bahwa,tidak ada satupun yang tahu ibadah kita diterima oleh Allah atau tidak, sehingga yang harus kita lakukan adalah merasa takut akan hal itu dan dibarengi dengan raja` . Raja`  yaiu benar-benar berharap kepada Allah agar Allah mau menerima Ibadah kita, karena perasaan takut dan raja` sendiri sudah termasuk ibadah kepadanya.

Kisah yang sama juga pernah dijelaskan oleh Rasulullah. Pada suatu hari Rosulullah becerita kepada para sahabatnya, "suatu saat nanti akan ada orang yang bangkrut", kemudian sahabat bertanya "siapa itu wahai Rosulullah". Lalu Rosul menjawab yang intinya "yaitu mereka yang banyak ibadahnya, namun pahala ibadahnya itu hilang karena dosa - dosa yang ia perbuat"

Eko Kurniawan

Kamis, 21 Maret 2019

KIPRAH KEPUSTAKAWANAN


20 Februari 2019
Perpustakaan UMY bekerjasama dengan FPPTI DIY menyelenggarakan Workshop Antisipasi Plagiasi yang berlangsung di Lt.4 Gedung Perpustakaan UMY. Pemateri Sasriyati dari IGroup. Acara ini diikuti oleh kepala perpustakaan maupun petugas perpustakaan PTN/PTS DIY.

28 Februari 2019
Dalam rangka meningkatkan peran perpustakaan, Perpustakaan UM Mataram NTB menyelenggarakan bimbingan akreditasi yang dibimbing oleh Lasa Hs. Dalam kesempatan itu, para pustakawan langsung praktek mengisi borang. Dari penilaian sementara saat itu bahwa nilai  Perpustakaan UM Mataram sudah mendekati nilai baik.Diharapkan adanya pembenahan terutama sarana prasarana, lay out, anggaran, dan lainnya agar  mencapai hasil terbaik.

1 Maret 2019
Pustakawan diharapkan menguasai kompetensi dalam era revolusi industri 4.0. Perubahan ini harus diikuti dan tidak bisa dihindari apalagi ditolak. Hal ini disampaikan Lasa Hs, dalam kuliah umum di depan mahasiswa D3 Ilmu Perpustakaan Unversitas Muhammadiyah Mataram NTB.

5 Maret 2019
FPPTMA bekerjasama dengan Perpustakaan UAD menyelenggarakan Workshop Sertifikasi untuk pustakawan PTMA. Kegiatan yang berlangsung di kampus IV UAD ini diikuti oleh 30 orang pustakawan PTMA. Sebagai pemateri/pendamping antara lain Maria Unun (UMS), Purwati (UM Purwokerto), Uminurida Suciati (UGM) dan lainnya.

12 – 14 Maret 2019
Sebanyak 9 staf Perpustakaan UMY mengadakan silaturrrahmi ke Perpustakaan UI dan Binus Jakarta. Sementara itu Lasa Hs selaku Ketua FPPTMA menyelenggarakan konsolidasi dan sosialisasi Standar Mutu Perpustakaan PTMA di kampus Institut Teknologi dan Bisnis Ahmad Dahlan (ITB AD) Jakarta.

19 Maret 2019
Perpustakaan UMY menyelenggarakan Workshop Sosialisasi Jaws yang diselengarakan di Lantai Dasar Gedung Perpustakaan UMY. Kegiatan ini diikuti oleh 30 orang siswa dan pendamping dari Yaketunis dan SLB Bantul. Bapak Puji Widodo sebagai pemateri.

23 Maret 2019
Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah UMY akan menyelenggarakan dikusi tentang pemikiran Tokoh Muhammadiyah di Ruang Muhammadiyah Corner Perpustakaan UMY. Kali ini akan dibahas pemikiran Ir. Dasron Hamid, MADE (Allahu Yarham). Acara membedah pemikiran tokoh Muhamamadiyah ini akan diseenggarakan secara rutin. Siapapun bisa hadir.


25 Maret 2019
Korwil FPPTMA Jawa Barat akan menyelenggarakan workshop Literasi Informasi di Perpustakaan Universitas Muhammadyah Tasikmalaya. Sebagai Pemateri adalah Novi Diana Fauzi (Pustakawan UMY). Kemudian dilanjutkan dengan Rakor FPPTMA Jawa Barat yang akan diikuti oleh sekitar  20 kepala perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah se Jawa Barat.

18 April 2019
Perpustakaan UMY akan menyelenggarakan workshop/pendampingan Akreditasi Perpustakaan Sekolah Muhammadiyah dan lainnya. Kegiatan ini boleh diikuti oleh perpustakaan sekolah lain dengan kontribusi Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah). CP Aidilla Qurotianti (087722259069), No rekening Bank Syari’ah No. 0479768841 (Aidilla Quratianti), paling lambat 15 April 2019.

23 April 2019
Perpustakaan UMS akan menyelenggarakan Workshop Akreditasi Perpustakaan di kampus UMS Pabelan. Sebagai narasumber dari BPAD Jawa Tengah,Perpustakaan Nasional RI, dan dari FPPTMA.

24 – 25 April 2019
Perpustakaan UMY akan menyelenggarakan TOT Literasi Informasi, SKKNI, akreditasi, pengelolaan repositori di Perpustakaan UMY Gedung D Tamantirto. Kegiatan ini bisa diikuti oleh perpustakaan perguruan tinggi negeri maupun swasta.

2 Mei 2019
Perpustakaan UMY akan menyelenggarakan workshop/pendampingan Akreditasi Perpustakaan Sekolah yang dapat diikuti oleh sekolah Muhammadiyah, sekolah negeri,maupun sekolah lainnya. Adapun kontribusi workshop Rp. 100.000,-. CP Aidilla Qurotianti (087722259069) Rek. Bank Syari’ah (Aidilla Qurotianti).  Paling lambat 15 April 2019.