Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Selasa, 31 Maret 2020

MENJAGA KESEIMBANGAN : Tulisan – 2




Resep sehat menyangkut kualitas dan kuantitas makanan yang ditentukan oleh Rasulullah saw adalah tengah-tengah yakni tidak berlebihan, tidak terlalu kenyang. Dalam hal ini Rasulullah saw bersabda yang artinya:” Orang mukmin itu makan untuk memenuhi satu perut, sedangkan orang-orang kafir itu makan untuk memenuhi 7 (tujuh) perut” (H.R. Bukhari dan Muslim).
          Secara teologis, dari hadits ini dapat dipahami bahwa pola makan dapat diketahui tingkat keimanan seseorang. Orang kafir akan makan dengan tujuh lambung. Ini dapat diartikan bahwa makan sangat berlebihan itu menujukkan kerakusan, tamak, serakah, dan pemborosan.
          Kemudian berkaitan dengan perut ini, Rasulullah saw bersabda yang artinya:” Perut itu ibarat kolam air dalam tubuh manusia. Di sana ada pembuluh-pembuluh darah yang bersambung ke seluruh tubuh. Apabila perut itu sehat, maka kesehatan pula yang dibawa pembuluh darah itu ke seluruh tubuh (H.R. Abu Hurairah).
          Penjagaan perut ini besar pengaruhnya terhadap kesehatan dan keselamatan secara rohani dan jasmani. Dalam hal ini sampai-sampai Rasulullah Muhammad saw menyatakan yang artinya:”Ilmu dan akal tidak mungkin pada perut besar yang dipadati dengan makanan (Karim, 1938 dalam Ramali 1951). Memperkuat hadits ini, ’Umar bin Khattab r.a. menyatakan :”Kuasai dan kendalikan nafsu perut besarmu, karena perut itu dapat merusak jasad dan mendatangkan penyakit yang menyia-nyiakan shalat (Ramali, 1951).
Habis

Lasa Hs.


Minggu, 22 Maret 2020

MENJAGA KESEIMBANGAN Tulisan – 1



Kadang orang terlalu semangat dalam melakukan aktivitas. Bagi mereka, bekerja keras dan mencapai keberhasilan itu merupakan prestasi tersendiiri dalam hidup. Dalam melakukan kegiatan ini kadang orang tidak memikirkan makan minum, bahkan kurang istirahat. Saking sibuknya, lalu capai dan sakit lantaran makan minum tidak teratur.
          Islam sebenarnya mengajarkan keseimbangan hidup antara lain dengan cara tidur cukup, istirahat cukup, makan minum bergizi, disamping ibadah  kepada Allah swt, dan beramal saleh. Keteraturan tidur dan berjaga harus dipenuhi agar terjaga kesehatannya. Dari sisi lain, Islam melarang membebani badan melebihi kemampuannya, seperti begadang sepanjang malam dan membiarkan perut tak terisi makakan dan menimuan berhari-hari lamanya.
          Disamping itu perlu dipahami bahwa berlebihan dalam makan minum kadang mendatangkan kesengsaraan. Perut harus dijaga kesehatannya. Sebab sebagian besar penyakit (rohani dan jasmani) itu berasal dan berpusat pada perut dan sekitarnya. Sebagai stasiun pertama, perutlah sebagai tempat makanan dan minuman disimpan dan diproses yang kadang menimbulkan penderitaan. Oleh karena itu apabila perut itu sehat, maka insyaa Allah akan baik akibatnya pada seluruh tubuh. Sebaliknya, apabila perut itu berpenyakit, maka hal ini akan memengaruhi sistem kerja alat jasad yang lain (Ramali, 1951: 253).
          Di satu sisi, perlu dipahami bahwa saluran pencernaan seperti lambung itu memiliki sifat sensitif terhadap perubahan yang tidak wajar pada saluran ini. Ketidakteraturan makan dalam waktu dan jenis makanan dapat berpengaruh pada kondisi saluran pencernakan dan kesehatan tubuh pada umumnya. Maka ada benarnya bahwa perut itu bisa menjadi sumber segala penyakit (rohani dan jasmani).
          Makan berlebihan juga membahayakan tubuh seseorang. Menurut para ahli kesehatan, bahwa makan terlalu banyak yang melebihi kebutuhan tubuh akan membahayakan. Bahkan akan memunculkan berbagai macam penyakit. Tubuh akan merubah makanan yang berlebihan itu ke dalam lemak. Badan yang berat akan membebani jantung sehingga menghalangi peredaran darah. Hal ini akan berakibat terganggunya fungsi alat-alat tubuh sehingga dapat menimbulkan penyakit ginjal, darah tinggi, pendarahan di otak, penyakit gula, dan lainnya.
         
Bersambung

Lasa Hs

Selasa, 17 Maret 2020

MENJAGA POLA MAKAN MINUM : Tulisan - 1



          Sebagaimana dipahami bahwa makanan dan minuman merupakan unsur penting dalam menjaga kesehatan. Kemudian makanan dan minuman dalam Islam disyaratkan makanan dan minman yang halalan thayyiban (halal dan kualitas/baik). Hal ini sebagaimana difirmankan Allah swt dalam Q.S. Al Baqarah : 168) yang artinya:” Wahai manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi”. Pengertian makanan minuman yang halal dalam hal ini dapat dilihat dari 4 (empat) aspek, yakni: aspek zat, sifat, cara memperoleh, dan akibat yang ditimbulkannya apabila mengkonsumsinya. Kemudian pengertian thayyiban berarti makanan yang baik dan bergizi. Makanan inipun juga harus dilihat dari kebersihan, rasa, cara penyajiannya, cara memerolehnya, dan cara mengkonsumsinya.
          Islam sangat menjaga kebersihan dan kesehatan makanan dan minuman antara lain dari segi memperolehnya. Apabila cara memperolehnya dengan cara yang tidak halal seperti merampok, mencuri, berbuat bohong, korupsi, manipulasi, memalsu tanda tangan, memalsu ijazah, dan lainnya. Maka cara-cara ini tidak dibenarkan oleh Islam.
          Demikian pula keharaman makanan dan minuman dapat dilihat dari jenisnya seperti anjing, babi, ular, kalajengking, darah, minuman keras. Maka tak heran bangsa atau orang yang makan babi, ular, tikus, kalajengking , codot, sangat mudah kena penyakit, apalagi apabila binatang-binatang yang menjijikkan itu dimakan mentah dengan saos misalnya. Maka kita bisa menyaksikan sendiri akibat mengkonsumsi makanan yang diharamkan.  Oleh karena itu perlu kita renungkan peringatan Rasulullah swt dalam sabdanya :”Setiap tubuh yang tumbuh dari makanan/minuman yang haram, maka nerakalah yang layak baginya” (H.R.Turmudzi). Oleh karena itu, dalam mengkonsumsi makanan dan minuman harus berhati-hati, sesuai kebutuhan, dan tidak berlebihan. Sesuatu yang berlebih-lebihan itu akibatnya tidak baik. Firman Allah swt dalam Q.S. Al A”raf: 31 yang artinya: Makanlah dan minumlah kamu sekalian dan jangan berlebihan, sesungguhnya Allah swt itu tidak menyukai orang-orang yang berlebihan”.
Bersambung

Lasa Hs


Senin, 16 Maret 2020

K.h Abdullah : Consoel Moehammadijah Celebes Selatan 1931-1938



K.H. ABDULLAH  (1895-24  April 1944), lahir di Maros, adalah putra Abdur Rahman dan Ibu Halimah. Semula ia belajar agama Islam kepada ayahnya sendiri. Setelah remaja, Abdullah  belajar kepada Petta Kalie di Maros. Setelah dewasa, ia menunaikan ibadah haji dan menetap di Makkah selama 10 tahun untuk memperdalam agama Islam.  Di Makkah ini, beliau menikah dengan Fatimah, asal Maros yang saat itu juga  menunaikan ibadah haji

Setelah merasa cukup belajar di Makkah, lalu Abdullah pulang ke Tanah Air dan tinggal di Kampung Butung Makassar. Dari sini, beliau mengajar, bersilaturrahmi, dan berkenalan dengan orang-orang dari Jawa yang memahami  Muhammadiyah.  Melalui interaksi ini, beliau dan sahabatnya bernama Mansyur Al-Yamani menjadi anggota Muhammadiyah.

Atas inisiatif Mansyur, maka diselenggarakan pertemuan di rumah Haji Muhammad Yusuf Daeng Mattiro. Pertemuan malam tanggal 15 Ramadhan itu melahirkan  Muhammadiyah  Group Makassar, K.H. Abdullah sebagai Vorzitter. Satu tahun kemudian Muhammadiyah Group Makassar menjadi Cabang, dan Muhammadiyah semakin berkembang. K.H. Abdullah menjadi Koordinator Muhammadiyah untuk daerah-daerah Campalagian, Batu-Batu (Soppeng), Tabbaa, Lampoko Sengkang, Labbakang, Maros, dan lainnya

Sejak terbentuknya cabang pada 1927 lalu digelar Konferensi Muhammadiyah pertama pada tahun 1928 di Makassar, dan muktamar kedua tahun 1929 di Sengkang, ketiga tahun 1930 di Majene, ke empat tahun 1930 di Bantaeng, ke lima pada tahun 1931 di Labbakkang, dan ke enam pada  tahun  1932 di Palopo. Pada konferensi ke enam ini, K.H.Abdullah dipercaya sebagai Konsul Muhammadiyah Celebes  Selatan  pertama kali.

Pada masa kepemimpinan beliau  selama 11 tahun, yakni selama 4 (empat) tahun sebagai voorzitter cabang dan selama 7 (tujuh) tahun sebagai konsul, K.H. Abdullah berhasil memajukan Muhammadyah di Celebes Selatan. Beliau meninggal dunia menjelang shalat dhuhur bersamaan dengan serangan bom Belanda terhadap kapal-kapal yang sedang berlabuh di pelabuhan Makassar

Lasa Hs.




Minggu, 15 Maret 2020

Maklumat PP Muhammaditah tentang Wabah Virus Corona

Maklumat PP Muhammaditah tentang Wabah Virus Corona