Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Kamis, 21 September 2017

(Resensi) Biblioterapi untuk Pengasuhan

Biblioterapi sebenarnya juga merupakan bagian layanan perpustakaan. Yakni upaya pencegahan atau mengurangi sakit rohani seseorang melalui bacaan, media (music, lagu, suara) kisah agar penderita menemukan jati dirinya dan bangkit untuk menjadi lebih baik lagi. Biblioterapi ini merupakan langkah terapi yang menyenangkan dalam membentuk perilaku positif pada seseorang.

Dalam buku yang ditulis oleh Susanti Agustina seorang dosen Prodi Ilmu Perpustakaan UPI itu dikatakan bahwa menurut Monroe dalam Rubin (1979) bahwa biblioterapi adalah bagian dari rangkaian kesatuan layanan perpustakaan. Referensi, bimbingan membaca, dan biblioterapi semuanya memiliki kesamaan fungsi. Seluruhnya merupakan layanan bersifat informasi, instruksional, dan/atau kebutuhan bimbingan (halaman 52). 

Buku ini merupakan kumpuan pengalaman beliau yang telah 15 tahun lebih menekuni bidang biblioterapi ini. Beliaulah orang yang pertama kali mempopulerkan biblioterapi di Indonesia. Pengalaman dan pengetahuan beliau telah dibagi ke berbagai kota se Nusantara ini. Disamping juga telah ditulis dalam berbagai buku.Dalam upaya memajukan layanan perpustakaan dan meningkatkan diri pustakawan, maka buku yang langka ini layak dipahami oleh pustakawan dan pemerhati literasi informasi. 

Judul               : Biblioterapi untuk Pengasuhan
Penulis            : Susanti
Penerbit          : PT Mizan Publika Jakarta, 2017
ISBN              : 978-602-385-342
Tebal              : 345 hlm

Pengembangan Perpustakaan yang Signifikan

Perpustakaan akan berkembang secara signifikan apabila didukung oleh lembaga induk/masyarakat, dikelola dengan manajemen/kepemiminan yang efektif, sumber daya manusia yang memiliki kompeteni, dan anggaran yang memadai. Demikian disampaikan Lasa Hs selaku narasumber pada Seminar Efektifitas SDM Perpustakaan Khusus tanggal 20 September 2017 di R. Arjuna Gedung Perijinan Kota Yogyakarta. Diakatakan selanjutnya bahwa sumber daya manusia merupakan sumber utama dalam memajukan perpustakaan. Sebab sumber daya ini mamu menggerakkan sumber daya lain seperti anggaran, keleksi, sarana prasarana, dan lainnya. Sedangkan sumber daya lain, akan berdaya guna apabila digerakkan oleh sumber daya manusia.

Agar sumber daya manusia perpustakaan mampu berperan dalam pengembangan, maka perlu dilakukan langkah-langkah; perekrutan tenaga yang selektif, pendidikan lanjut, pelatihan, mutasi, magang, promoso, dan rotasi. Melalui peningkatan keahlan dan ketrampilan ini diharapkan petugas perpustakaan mampu bekerja optimal dengan kraetivitas dan motivasi kerja yang tinggi.



Seminar tersebut diikuti 79 peserta dari 116 perpustakaan khusus di DIY. Temu ilmiah yang diselenggarakan oleh Kantor Perpustakaan & Kearsipan Kota Yogyakarta ini juga menampilkan narasumber Moch, Mursyid dari Perpustakaan Ainun Najib.


Lasa Hs.

Pustakawan FPPTMA Eksis dalam CFP

September 2017 merupakan bulan call for paper, karena dalam bulan ini banyak organisasi maupun instansi yang mengadakan kegiatan tersebut. Diantaranya yaitu Prodi Ilmu Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Malang, FPPTI Pusat, FPPTI DIY, IKOM UNY, Program vokasi d3 kearsipan, kementrian pertanian, dan IPI.

Berkat kerjasama antar perpustakaan, serta bimbingan dari pengurus FPPTMA, alhamdulilah banyak pustakawan FPPTMA yang eksis menjadi peserta maupun pemakalah. Daiantararanya yaitu :


CFP Prodi Ilmu Perpustakaan Malang
  1. Maria husnun nisa dari UMS
  2. Arda putri winata dari UMY
  3. Yuliana ramawati dari UMY
  4. Eko Kurniawan dari UMY
  5. Ediansyah CA dari UMY
  6. Greta P. dari UAD
  7. Ana dari UAD
  8. Nanik Arkiyah dari UAD
  9. Nur ishma dari UM Malang
  10. Atin istiarni dar UM Mg


CFP IKOM UNY
1      Irkhamiyati dari UNISA



CFP FPPTI Pusat (semiloka kepustakawanan 2017)
  1. Ayu Wulansari dari UM Ponorogo
  2. Mufieda Nur dari UM Jember
  3. Cahya Kumbul W. dari UMS
  4. Novy Diana F, dari UMY
  5. Eko Kurniawan dari UMY
  6. M. Nur Dear dari UMY

CFP Program vokasi d3 kearsipan
  1. Arda Putri W. dari UMY
  2. Yuliana Ramawati dari UMY


CFP IPI
  1. Aidila Qurotianti dari UMY


CFP Kementrian Pertanian
  1. Gretha P. dari UAD
  2. Cahya Kumbul W. dari UNS
  3. Esti dari UMS
  4. Eko Kurniawan dari UMY


*mohon maaf apabila terdapat kesalahan dalam penulisan nama


Senin, 18 September 2017

Istiqamah

 Secara etimologis, istiqamah berasal dari kata istiqama-yastaqimu, yang berarti tegak lurus. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, istiqamah diartikan sebagai sikap teguh pendirian dan selalu konsekuen. Dalam terminologi Akhlaq, istiqamah adalah sikap teguh dalam mempertahankan keimanan dan keislaman sekalipun menghadapi berbagai macam tantangan dan godaan. Seorang yang istiqamah adalah laksana batu karang ditengah-tengah lautan yang tidak bergeser sedikitpun walaupun dipikul oleh gelombang yang bergulung-gulung.
            Perintah supaya beristiqamah dinyatakan dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Allah berfirman:
“Katakanlah: “Bahwasanya aku hanyalah seorang manusia seperti kamu, diwahyukan kepadaku bahwasanya Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa, maka istiqamahlah menuju kepada-Nya dan mohonlah ampun kepada-Nya. Dan kecelakaan yang besarlah bagi orang-orang yang bersekutukan-Nya.” (QS. Fushshilat 41:6)
“ Katakanlah: Saya beriman kepada Allah, kemudian istiqamahlah!” (HR. Muslim)
            Iman yang sempurna adalah iman yang mencakup 3 dimensi: hati, lisan, dan amal perbuatan. Seorang yang beriman haruslah istiqamah dalam tiga dimensi tersebut. Dia akan selalu menjaga kesucian hatinya, kebenaran perkataannya dan kesesuaian perbuatannya dengan ajaran Islam. Ibarat orang yang berjalan, seorang yang istiqamah akan selalu mengikuti jalan yang lurus, jalan yang paling cepat mengantarkannya ketujuan.
            Setiap orang yang mengaku beriman pasti akan menghadapi ujian, didalam Al-Qur’an Allah berfirman:
“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan saja mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (QS. Al-Ankabut 29:4)
Ujian keimanan itu tidak selamanya dalam bentuk yang tidak menyenangkan, tapi juga dalam bentuk yang menyenangkan. Keberhasilan bisnis juga ujian seperti kebangkrutannya. Pujian juga ujian seperti celaan. Seorang mukmin yang istiqamah tentu akan tetap teguh dengan keimanannya menghadapi dua macam ujian tersebut. Dia tidak mundur oleh ancaman, siksaan dan segala macam hambatan lainnya. Tidak terbujuk oleh harta, pangkat, kemegahan, pujian dan segala macam kesenangan semu lainnya. Itulah yang dipesan oleh Rasulullah saw. Beriman dan beristiqamah.
            Rasulullah saw adalah contoh teladan utama dalam istiqamah. Baik dengan siksaan, ancaman dan celaan, maupun dengan bujukan, beliau tidak bergeser sedikitpun dari jalan Allah. Ingatlah betapa tegasnya jawaban Nabi terhadap bujukan pemuka Quraisy: “Paman demi Allah, kalaupun mereka meletakkan matahari di tangan kananku, dan bulan di tangan kiriku, dengan maksud supaya aku meninggalkan tugas dakwah ini, sungguh tidak akan aku tinggalkan. Biar nanti Allah yang akan membuktikan kemenangan itu di tanganku, atau aku binasa karenanya”.
            Keteguhan hati itu pulalah yang diperlihatkan oleh Bilal ibn Rabbah tatkala disiksa oleh majikannya. Tidak sedikitpun imannya goyah:”Ahad, ahad”, bisiknya dengan penuh keyakinan. Yasser dan Sumayyah, sepasang suami istri syuhada’ awal islam rela mengorbankan nyawanya demi mempertahankan keimanannya. 
            Beberapa buah yang dapat dipetik oleh orang yang beristiqamah, baik didunia maupun diakhirat. Seperti firman Allah :
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka istiqamah, maka malaikat akan turun kepada mereka (dengan mengatakan): “Jangan kamu merasa takut dan janganlah kamu mearasa sedih; dan bergembiralah kamu dengan memperoleh sorga yang telah dijanjikan Allah kepadamu. Kamilah Pelindung-pelindungmu dalam kehidupan didunia dan diakhirat; didalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh pula didalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”(QS. Fushshilat 41: 30-32)
            Dalam empat ayat di atas dijelaskan bahwa orang yang istiqamah dijauhkan oleh Allah dari rasa takut dan sedih yang negatif. Dia tidak takut menghadapi masa depan dan tidak sedih dengan apa yang telah terjadi pada masa lalu. Dia dapat menguasai rasa sedih karena musibah yang menimpanya sehingga tidak hanyut dibawa arus kesedihan. Dan tidak pula dia gentar dan was-was menghadapi kehidupan masa yang akan datang sekalipun dia pernah mengalami kegagalan pada masa yang lalu.
            Orang yang beristiqamah akan mendapatkan kesuksesanya dalam kehidupannya di dunia, karena dia dilindungi oleh Allah SWT. Begitu juga di akhirat dia akan berbahagia menikmati karunia Allah didalam sorga.
            Dalam empat ayat diatas dijelaskan bahwa orang yang istiqamah dijauhkan oleh Allah dari rasa takut dan sedih.   Tentu rasa takut dan sedih ayat diatas dalah rasa takut dan sedih yang tidak pada tempatnya, atau takut dan sedih yng negatif. Miasalnya takut menyampaikan kebenaran, takut menghadapi masa depan, takut mengalami kegagalan. Ketakutan seperti itu akan menghambat kemajuan dan bahkan menyebabkan kemunduran. Seorang tidak akan berbuat apa-apa apabila dipenuhi rasa takut.
            Demikianlah juga rasa sedih. Yang dimaksud di sini bukanlah rasa sedih yang manusiawi, misalnya rasa sedih tatkalaorang tua, anak atau oranr-orang yang dikasihi meninggal dunia. Atau tatkala mengalami kegagalan dalam usaha. Tetapi rasa sedih yang mesti dihindari adalah rasa sedih yang berlarut-larut yang menyebabkan rasa kehilangan semangat dan selalu diliputi penyesalan. Setiap orang yang mengalami musibah atau kegagalan tentu akan sedih. Tapi ada yang dapat segera menguasai kesedihannya dan ada yang kemudian larut dengan kesedihan ini. Ibarat orang hanyut, yang pertama segera berenang ke pinggir untuk mencari pegangan, sedang yang kedua hanyut dibawa arus. Orang yang istiqamah tidak akan hanyut dengan kesedihan.
            Dalam ayat di atas juga dijanjikan oleh Allah SWT perlindungan-Nya bagi orang-orang yang beristiqamah. Lindungan Allah itu berarti jaminan untuk medapatkan kesuksesan dalam hidup dan perjuangan di dunia. Sahabat-sahabat yang berjuang dalam Perang Badar, sekalipu jumlahnya hanya kurang dari sepertiga musuh, tapi mereka tidak gentar dan tidak mundur. Mereka maju terus ke medan perang dengan gagah berani sehingga akhirnya Allah memberi kemenangan(Baca QS. Al-Anfal 8: 45) . Dan di akhirat nanti Allah SWT juga berjani akan melindungi orang-orang yang beristiqamah, dan itu berarti mereka akan dibalasi dengan sorga tempat segala kenikmatan dan kebahagiaan.
            Demikianlah, sikap istiqamah memang sangat diperlukan dalam kehidupan ini. Karena tanpa sikap seperti itu seseorang akan cepat lupa diri, dan mudah terombang ambing oleh berbagai macam arus. Orang yang tidak beristiqamah ibarat baling-baling diatas bukit yang berputar menuruni arah angin yang berhembus.  

Penulis : Saifudin Z. ,  Sumber : Kuliah Akhlaq (Prof. Dr. Yunahar Ilyas, Lc., MA.)

Minggu, 17 September 2017

(live report) Semiloka Kepustakawanan Indonesia 2017

Kamis 18 September 2017, FPPTI bekerja sama dengan ISIPII dan IPC Corporate University mengadakan kegiatan Semiloka Nasional kepustakawanan Indonesia 2017 dan Musyawarah Nasional FPPTI. Kegiatan ini diikuti sekitar 100 peserta, yang meliputi pustakawan, arsiparis, mahasiswa, dosen, kepala perpustakaan, serta pemerharti perpustakaan.

Imam Budi selaku kepala FPPTI menjelaskan bahwa FPPTI lahir pada tanggal 12 Oktober 2000 di Ciawi, sehingga sampai dengan saat ini FPPTI sudah berumur 17 tahun. Ia berharap bahwa dengan hadirnya FPPTI dapat menjadi motor penggerak kemajuan di masing masing perguruan tinggi.

Pada hari kedua, acara semiloka juga diisi dengan kegiatan presentasi cfp. Ada 20 peserta yang diterima papernya. 15 paper berhak dipresentasikan, dan 5 paper lagi berhak dipresentasikan dan terbit di Jodis, salah satunya yaitu pustakawan FPPTMA.


Tidak hanya itu saja,  pada acara ini juga akan dipilih satu juara dalam seleksi INDONESIAN ACADEMIC LIBRARIAN AWARD (IALA) 2017. Salah satu pustakawan yang masuk seleksi tsb adalah Mufiedah Nur dari Perpustakan Um Jember.


Bersambung....