Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Selasa, 18 September 2018

MENGEMBANGKAN POTENSI PENULISAN KEPUSTAKAWANAN (Tulisan – 4)


Nilai penulisan
            Menulis itu memang menyenangkan dan mengasyikkan. Sebab dengan menulis dapat keluar dari kesumpekan dan merasa puas karena ada sesuatu yang dapat diberikan kepada orang lain. Di samping itu terdapat manfaat dan nilai penulisan antara lain:
1.      Memenuhi kebutuhan:
a.       Religi, ibadah
b.      Sosial kemasyarakatan
c.       Ekspresi diri
d.      Penghargaan
e.       Materi
2.      Pengembangan nilai, ajaran, dan ilmu pengetahuan
3.      Keabadian
4.      Kepuasan
Peluang
            Di era keterbukaan ini terbuka kesempatan tiap orang untuk mengemukakan ide melalui lisan, penerbitan, atau media elektronik yang harus disertai tanggung jawab. Kemudian untuk menulis buku terdapat beberapa faktor yang memberikan kesempatan untuk penulisan antara lain:
  1. Penerbit buku
Penulis itu mitra penerbit yang saling membantu. Ide dan pemikiran penulis bisa menyebar ke masyarakat luas berkat jerih payah penerbit. Penerbitlah yang menyeleksi naskah, mengedit, lay out, menentukan huruf, dan mendistribusikan ke masyarakat luas. Penerbit sangat memerlukan kontribusi naskah dari para ilmuwan, profesional, akademisi, seniman, budayawan, dan lainnya.
  1. Penerbit media cetak; surat kabar, majalah, jurnal
Redaksi media cetak juga menungu sumbangan naskah terutama artikel dari penulis, di samping mereka juga menerima naskah dari reporter/wartawan masing-masing. Peluang ini jarang dimanfaatkan oleh ilmuwan untuk mensosialisasikan bidang atau profesi mereka. Hal ini mungkin karena ketidak mampuan mereka dalam menulis  dengan bahasa populer. Sebab rata-rata para akademisi menggunakan bahasa ilmiah dalam komunikasi tulis. 
  1. Media elektronik
Bagi penulis pemula dapat berlatih menulis melalui media elektronik seperti pembuatan blog. Dari sini mereka bisa menulis apapun dan tak perlu ada seleksi. Apabila tulisan-tulisan itu berkualitas dan marketable, maka akan diakses orang. Oleh karena itu dalam membuat blog ini harus bertanggung jawab. 
  1. Buku dan media tulis memiliki kelebihan
Media cetak terutama buku merupakan media perekam, penyimpan, dan penyampai ilmu pengetahuan yang memiliki kelebihan bila dibanding dengan media lain. Buku dan artikel memiliki beberapa kelebihan antara lain:
    1. lebih luwes/flexibility
    2. lebih nyaman/convenience
    3. dapat dinikmati/enjoyable
    4. mudah dibaca/readibility   
  1. Angka kredit untuk jabatan fungsional tertentu 
Karya tulis ilmiah memiliki nilai angka kredit tinggi bagi jabatan fungsional tertentu terutama jabatan dosen. Buku karya dosen yang terbit nasional bernilai 40 AK. Sementara itu penulisan buku hanya bernilai 12,5 bagi jabatan fungsional dokter dan pustakawan.
Penulisan karya ilmiah merupakan tuntutan tersendiri bagi pemangku jabatan fungsional terutama untuk kegiatan pengembangan profesi. Hal ini untuk mendorong para pelaku fungsional untuk mengambangkan ilmu,bidang, atau profesi mereka. 
Menulis sebagai pengembangan potensi diri.
            Setiap orang memiliki potensi yang perlu dikenali dan selanjutnya dikembangkan. Menulis merupakan salah satu potensi yang dapat dikembangkan dan memberikan manfaat pada diri dan masyarakat. Untuk itu perlu ditanamkan:
  1. Memotivasi diri
Motivasi merupakan upaya penggunaan hasrat yang paling dalam untuk mencapai sasaran, membantu inisiatif, bertindak efektif, dan bertahan dalam menghadapi kegagalan. Orang yang memiliki motivasi tinggi akan berusaha keras dan penuh kreativitas dalam mencapai sasaran. Dalam diri mereka timbul inisiatif untuk mencari jalan keluar yang berupa tindakan untuk mencapai sasaran dengan efektif dan efisien. Mereka yang memiliki motivasi tinggi tidak mudah goyah karena angin yang berembus sepoi-sepoi.
  1. Tiap orang pada dasarnya penutur dan penulis
Proses komunikasi yang dikuasai anak manusia berawal dari kemampuan bicara dan kemudian menulis. Kedua kemampuan itu terus berkembang dan dapat dikembanagkan sesuai kemauan dan kecenderungan seseorang. Betapa banyak orang ayang pandai bicara, tetapi tak bisa menulis. Ada pula yang pinter menulis, tetapi tak pandai bicara. Ada pula yang menguasasi kedua-duanya.
  1. Menumbuhkan “mimpi” menjadi penulis
Untuk mencapai keinginan perlu “diimpikan”. Dengan adanya impian ini orang akan berusaha keras, tekun, sabar, dan telaten untuk mewujudkan impian itu.
Pada tahun 1975 , tumbuh ”impian” kapan nama saya muncul di Toko Gramedia, Gunung Agung (dulu), dan toku buku Sari Ilmu. Dengan kesungguhan hati dan kerja keras, alhamdulillah impian itu terwujud pada tahun 1990 sampai sekarang.
  1. Menulis mampu memenuhi berbagai kebutuhan/needs
Menulis merupakan bentuk ekspresi diri yang mampu memenuhi kebutuhan materi, penghargaan, religi, dan sosial. Dari hasil tulisan seseorang mampu memenuhi kebutuhan materi seperti buku Lasykar Pelangi yang dicetak 750.000 eks itu kiranya dapat dihitung berapa rupiah untuk penulis. J.K.Rowling menjadi wanita terkaya di Inggris dari bukunya berjudul Harry Potter. Dari tulisan, orang mendapatkan penghargaan karena jasanya telah menyebarkan ajaran, nilai, panduan, dan bimbingan. Dari segi religi, penulis mendapatkan nilai/pahala karena ilmunya dimanfaatkan masyarakat banyak dan bernilai abadi. Ilmu yang ditulis itu bermanfaat pada masyarakat bawah dan ini berarti penulis telah memberikan manfaat. Kata orang bijak bahwa sebaik-baik orang itu adalah orang yang mampu memberikan manfaat kepada sebanyak-banyak orang.
  1. Menulis merupakan pengembangan kecerdasan emosi
Menulis tidak saja memerlukan kecerdasan intelektual, tetapi juga memerlukan kecerdasan emosi. Sebab dengan kecerdasan emosi ini orang akan mencapai keberhasilan. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh para ahli jiwa bahwa kecerdasan intelektual itu hanya menyumbang 20 % keberhasilan orang, sedangkan 80 % keberhasilan seseorang didukung dari faktor lain antara lain berupa kecerdasan emosi. Kecerdasan ini bekerja secara sinergis dengan ketrampilan kognitif. Orang-orang yang berprestasi biasanya mampu mensinergikan kecerdasan emosi dengan ketrampilan kognitif.  Orang-orang seperti ini biasanya memiliki kesadaran diri yang tinggi, mampu mengatur diri, memiliki motivasi kuat, empati, dan memiliki ketrampilan sosial yang baik.
  1. Memupuk sikap juara/menjadi yang pertama
Orang-orang yang berprestasi selalu berusaha untuk mencapai yang terbaik, yang pertama, atau juara. Mereka berprinsip hidup adalah kompetisi dan manusia lahir kedua sebenarnya telah menang dalam kompetisi.
Sikap seperti inilah antara lain yang mampu mendorong seseorang untuk menulis. Kejuaraan bukan harus dinilai oleh tim, tetapi bisa dinilai oleh masyarakat dalam bentuk pengakuan, dibutuhkan, dicari, diundang, dan lainnya.
  1. Kegagalan itu umpan balik yang akan membawa keberhasilan
Kalau orang mau memelajari kegagalan diri/orang lain, insya Allah akan mampu menemukan jalan keberhasilan. Untuk itu diperlukan kecerdasan dalam menganalisis kegagalan dan kemampuan mengatasi kegagalan itu. Di sinilah sebenarnya makna kegagalan itu umpan baik keberhasilan.


  1. Penakut itu mati seribu kali dan pemberani hanya mati sekali
Penakut itu sudah mati sebelum melangkah. Maka penakut selamanya tidak akan pernah maju dan tak mungakin menjadi yang pertama dalam arti positif. Sebaliknya, pemberani itu sebenarnya telah memenangkan diri karena telah mengalahkan sekian ribu orang yang takut melangkah.
      Bersambung
      Salam Iqra’

      Lasa Hs

Senin, 17 September 2018

MENGEMBANGKAN POTENSI PENULISAN KEPUSTAKAWANAN (Tulisan – 3 )


Anggapan tentang penulisan
            Dalam masyarakat kita terdapat beberapa anggapan bahwa menulis itu menakutkan, bakat, seni, mengoplos ide, dan dapat dipelajari
  1. Menakutkan
Orang enggan menulis mungkin lantaran berbagai ketakutan. Mereka takut kalau tulisannya itu ditolak penerbit, padahal sudah punya nama beken. Mereka juga was-was kalau tulisannya itu terdapat kesalahan dan kekurangan, sehingga takut dikritik, dicemooh, atau diserang orang lain melalui rensensi atau dalam bentuk buku. Bahkan banyak yang  khawatir jangan-jangan bukunya nanti dibajak. Padahal buku itupun belum tentu laku. Sebab buku yang dibajak itu adalah buku-buku yang best sellers. Sedangkan buku mutu belum tentu laku karena kurang marketable.
Dunia penulisan sebenarnya bukan dunia lain yang menakutkan. Para pelaku ilmu pengetahuan dan moral yang takut menulis buku ibarat burung bersayap satu yang hanya mampu meloncat dari dahan/pohon satu ke dahan/pohon lain. Mereka juga bisa dimisalkan seorang yang berani menceburkan diri ke sungai tetapi idak bisa berrenang. Lama kelamaan akan mati tenggelam. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa ilmuwan itu akan tamat riwayatnya setelah pensiun yang itu merupakan kematian apabila tidak memiliki kemauan dan keamampuan menulis buku/lain. Maka  penakut itu akan mati seribu kali dan pemberani hanya mati sekali. Sebab penakut itu telah mati sebelum melangkah. 
  1. Bakat
Memang ada beberapa penulis itu benar-benar bakat. Mereka mendasarkan penulisan pada ide dan inspirasi yang kuat. Bagi mereka, menulis itu tidak akan memerlukan waktu khusus. Ia hanya menantikan ide sampai datangnya perasaan untuk menulis. Setelah itu biasanya mereka menuangkan ide ke dalam bentuk tulisan. Dalam hal ini mereka menggerakkan tangannya untuk menulis karena adanya sentuhan magis/magic touch yang datang tiba-tiba.
  1. Seni
Tulisan merupakan hasil ekspresi ide atau perasaan sebagaimana lukisan yang merupakan curahan perasaan seorang pelukis. Pengungkapan ini lantaran munculnya gerak batin secara tiba-tiba seperti orang yang mendadak menyanyi atau bersiul karena kegembiraan. Dalam hal ini Claude Levi-Strauss (antropolog Perancis) menyatakan bahwa tulisan merupakan ciptaan ajaib yang pengembangannya membawa manusia pada suatu kesadaran yang lebih besar untuk mengatur masa sekarang dan masa depan (the Liang Gie, 1992: 9)
            Proses penulisan memerlukan kreativitas dan harus memiliki naluri bahasa yang kuat, lincah, dan efektif. Kemahiran memilih kata memerlukan instuisi yang tinggi di samping adanya inspirasi yang muncul.
  1. Cuma mengoplos ide orang lain
Dalam penulisan karya ilmiah memang terjadi saling mengutip pendapat atau tulisan orang lain. Pengutipan ini bukan berarti sekedar mengoplos. Sebab menulis itu merupakan bentuk ekspresi diri secara total yang dalam prosesnya memerlukan ilmu pengetahuan, pelatihan, renungan, dan menuntut berbagai kecerdasan antara lain kecerdasan kata/word smart.
            Pengutipan atau penyitiran dalam penulisan karya ilmiah itu dibolehkan asal menyebutkan data bibliografi secara lengkap. Pola sitiran ini menggambarkan adanya hubungan antara sebagian atau seluruh artikel yang disitir dengan artikel yang menyitir. Adanya pengutipan ini akan memberikan nilai yang obyektif dan manfaat antara lain:
a.       adanya pengakuan atas prestasi orang lain
b.      menjunjung etika keilmuan
c.       membantu pembaca dalam penemuan kembali

  1. Dapat dipelajari, berlatih, dan mencoba
Menulis (buku, artikel, resensi, berita, dll.) itu sebenarnya dapat dipelajari asal ada kemauan, keberanian, sabar, ulet, telaten, dan tak mudah putus asa. Membaca buku-buku teori penulisan kiranya kurang berkembang apabila takut mencoba. Sebab dengan ketakutan mencoba ini, maka selamanya tidak pernah bisa menulis. Membaca teori itu baru sekedar belajar tentang menulis dan belum belajar menulis. Dalam hal ini, Abdul Hadi WM (2002) menjelaskan bahwa bakat menulis itu hanya 5 % lalu keberuntungan 5 %, sedangkan sisanya sebanyak 90 % tergantung pada kesungguhan dan kerja keras.
Belajar, berlatih, dan berani mencoba merupakan salah satu cara untuk maju. Albert Einstein menyatakan “Learn from yesterday, hope for tumorrow. The important things is not stop questioning:. Artinya belajarlah dari hari kemarin, lakukanlah untuk hari ini, dan berharaplah untuk hari esok. Yang penting jangan pernah berhenti bertanya.
Barbara Sher seorang penulis ulung juga menasehatkan bahwa untuk bisa menulis harus banyak berlatih dan tidak mudah putus asa. Dalam hal ini beliau menyatakan “You can learn new things at any time in your life if you’re willing to be beginner. If you actually learn to like a beginner, the whole worlds opens up to you”. Artinya anda bisa memelajari sesuatu yang baru kapan saja asalkan berpikir sebagai pemula. Jika anda benar-benar mau belajar seperti pemula, maka dunia akan terbuka bagi anda. 
Hambatan
            Suatu keinginan itu pasti ada hambatan baik dari dalam diri orang atau dari  luar diri sendiri. Dalam hal ini bukan takut hambatan itu, tetapi bagaimana mengenal hambatan itu dan berusaha untuk mengatasinya. Adapun beberapa hambatan calon penulis atau penulis pemula antara lain:
  1. Hanya ingin dan belum/tidak punya kemauan
  2. Mudah putus asa
  3. Kurang ulet
  4. Malas berlatih
  5. Malas bertanya dan berguru
  6. Terlalu ideal, gengsi
  7. Kurang percaya diri
  8. Berbagai ketakutan.
Calon penulis termasuk para akademisi bisa mengalami ketakutan yang berlebihan antara lain takut :
    1. ditolak penerbit
    2. dikritik
    3. disepelekan
    4. ketahuan kapasitas keilmuannya
    5. dibajak
    6. difotokopi
    7. dibohongi penerbit
    8. tak dibayar royali
Saran/solusi
            Sekecil apapun hambatan, perlu adanya upaya mengatasinya. Sebab kebakaran itu berasal dari percikan api. Beberapa saran solusi bagi penulis pemula antara lain:
  1. ada kemauan yang kuat
  2. putus asa sama dengan “mati gantung diri” sebelum perang
  3. sabar, ulet, dan telaten
  4. malu bertanya sesat ke kuburan
  5. orang bisa renang karena berlatih, bukan hanya membaca buku tentang renang
  6. percaya diri itu potensi terpendam
  7. Hantu itu hanya ada pada diri kita
  8. Berlatih menulis
Belajar teori saja tidak menjamin seseorang akan menjadi penulis. Berani mencoba dan berlatih terus merupakan modal untuk bisa menulis. Balajar menulis tidak harus melalui sekolah menulis. Belajar di manapun selau ada gunanya. Sekolah baru disebut berhasil apabila mampu menggugah orang untuk senantiasa belajar dan mencari. (Prama, 2004:7)
     Bersambung
     Salam Iqra’

     Lasa Hs

MENGEMBANGKAN POTENSI PENULISAN KEPUSTAKAWANAN (Tulisan - 2)


Tujuan Penulisan
            Kegiatan penulisan masih perlu terus menerus disosialisasikan dan digalakkan teruatama pada masyarakat intelektual dengan tujuan:
  1. Menggugah “tidur nyenyak dalam budaya omong” para ilmuwan agar bangun untuk menulis
Dalam proses transfer ilmu pengetahuan dan kehidupan keilmuan kita masih didominasi dengan cara ngomong. Kita telah lama terlena dalam tradisi kelisanan ini yang seharusnya berkembang menjadi tradisi kepenulisan.
Di era keterbukaan ini terbuka kesempatan untuk mengemukakan pendapat melalui tulisan (buku, artikel, dll) melalui media cetak, maupun media elektronik. Kini bukan lagi jamannya memonopoli ilmu pengetahuan. Kini kita harus sharing ilmu pengetahuan dan siapa yang memiliki kompetensi itulah yang akan maju.
Bentuk kerjasama dan saling mengisi ini merupakan kekuatan untuk menuju kehidupan keilmuan dan profesi yang berkemajuan.. Orang kuat, pintar,atau  kaya secara sendiri belum tentu menang. Tetapi orang yang lemah belum tentu kalah apabila mampu bekerja sama. Pemenang itu akan selalu bekerja sama, sementara si kalah berpikir bagaimana ia menjadi orang hebat sendirian.  
  1. Menyadarkan ilmuwan dan profesional agar kegiatan penulisan merupakan tanggung jawab moral/agama dan keilmuan
Menulis hendaknya tidak dipandang sebagai sekedar mencari popularitas, angka kredit, hadiah, rupiah, dan keterpaksaan. Menulis terutama menulis buku hendaknya disikapi sebagai bentuk kesadaran seorang yang memiliki ilmu pengetahuan, nilai, pikiran, dan ajaran yang harus disampaiakn  kepada masyarakat  luas. Dari sini mereka itu akan memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat. Kata orang bijak bahwa sebaik-baik orang adalah orang yang bisa memberikan sebanyak-banyak manfaat kepada orang lain.
Kegiatan penulisan itu bila ditinjau dari segi religi, maka sebenarnya merupakan usaha pencapaian tujuan hidup jangka panjang (hidup sesudah mati). Apabila kita berusaha mencapai tujuan hidup jangka panjang, maka tujuan hidup jangka pendek insya Allah akan tercapai juga.  Oleh karena itu perlu direnungkan lagi “Jangan sampai ilmu dan pengalaman ilmuan dan profesional itu terkubur bersama jasad mereka”.
  1. Menyejajarkan bangsa kita dengan bangsa lain terutama dalam penerbitan (buku, surat kabar, jurnal, majalah)
Kuantitas dan kualitas penerbitan suatu bangsa akan memengaruhi posisi dan status keilmuan bangsa itu di mata bangsa lain. Bangsa yang maju antara lain dapat dilihat dari tinggi rendahnya minat baca dan minat tulis bangsa itu. Oleh karena itu dapat kita lihat dan saksikan bahwa bangsa-bangsa yang maju, mereka itu suka membaca di manapun berada. Hal ini jauh berbeda dengan kultur bangsa kita yang sangat senang ngerumpi dan menonton.
  1. Menyediakan bacaan berkualitas untuk masyarakat
Buku dan artikel yang diterbitkan  pada dasarnya bisa terbit setelah mengalami penyelesaian dengan kriteria tertentu oleh penerbit/redaksi. Dengan demikian terbitan itu telah memenuhi kriteria dan standar mutu tertentu, meskipun ada juga buku asal terbit.
Dengan adanya bacaan berkualiats itu akan tercipta informasi yang berkualitas dan akan mendorong masyarakat untuk belajar sepanjang hayat melalui bacaan yang berkualitas. Oleh karena itu mereka yang bergerak di dunia pendidikan, budaya, agama, seni, dan lainnya itu diharapkan mampu menyediakan bacaan yang berkualitas melalui penulisan.
            Bersambung
             Salam Iqra’

            Lasa Hs

Jumat, 14 September 2018

MUSTOFA KAMAL PASHA Salah satu Pioner UMY



Universitas Muhammadiyah Yogyakarta/UMY yang kini menjadi salah satu Perguruan Tinggi Muhammadiyah papan atas tidak lepas dari ide besar para pendirinya yang salah satuya adalah Mustofa Kamal Pasha. UMY merupakan salah satu Amal Usaha Muhammadiyah/AUM dalam pendidikan yang dibangun dengan modal semangat kebersamaan, keikhlasan, dan mohon ridha Allah Swt.
Ide ini bermula dari kegelisahan para alumni Madrasah Mu’allimin dan Mu’allimat Muhammadiyah terutama yang tergabung dalam IKMAMM (Ikatan Keluarga Mahasiswa Arbuturient Mu’allimin Mu’allimat Muhammadiyah) dan KABAMMMA (Keluarga Besar Arbiturent Mu’allimin Mu’allimat ) untuk arbiturent/alumni yang bukan mahasiswa.
Pada akhir tahun 1970 an, para alumni itu secara intensif melakukan diskusi setiap malam Jum’at yang terus memikirkan perlunya pendidikan lanjutan bagi alumni dua sekolah kader Muhammadiyah tersebut. Dalam diskusi rutin ini terdapat 7 (tujuh) orang yang sangat intens bertemu yang kemudian menamakan dirinya sebagai “tim tujuh”. Mereka itu adalah Muhadi, S.H, Humam Zaenal S.H. (adik Muhadi), Mustofa Kamal Pasha (Allahu Yarham), Darwin Harsono, Fahmi Muqoddas, Abdullah Effendi, dan Alfian Darmawan Muhammad. Untuk mengenang mereka, maka di UMY masih memiliki mobil bernomor AB 7017 yang berarti 7 (tujuh ) 0 (0rang) 1 (satu) 7 (tujuan).  
Pada tahun 1980 bertemulah beberapa tokoh Muhammadiyah terutama para alumni Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah Yogyakarta yang menggagas betapa pentingnya mendirikan Universitas Muhammadiyah di Yogyakarta. Ide besar ini berdasarkan pemikiran bahwa Yogyakarta sebagai kelahiran Muhammadiyah perlu memperkuat diri dalam pendidikan dan untuk memberikan kesempatan para lulusan Madrasah Mu’allimin Muhammadiyah  agar menguasai pendidikan yang lebih tinggi. Apalagi Madrasah Mu’allimin dan Mu’allimat Muhammadiyah merupakan lembaga pendidikan kader Muhammadiyah.
Keinginan untuk mendirikan Universitas Muhammadiyah di ibukota Muhammadiyah ini semula  dapat diketahui dari berbagai lontaran pemikiran Prof. Dr. Kahar Mudzakir dalam berbagai kesempatan. Kemudian pada tanggal 18 November 1960, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan yang diresmikan PP Muhammadiyah Majelis Pengajaran ini  secara tersurat akan menjadi salah satu bagian   dari Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Hasrat mendirikan Universitas Muhammadiyah itupun muncul dalam berbagai tanggapan positif yang dilansir beberapa media cetak saat itu.
Pak Mukhlas Abrar, sebagai tokoh Muhammadiyah juga mendukung ide itu. Hal ini beliau tegaskan dalam makalahnya yang disampaikan pada sidang Tanwir tahun 1980 di Yogyakarta. Dalam makalah itu, beliau menekankan betapa pentingnya mendirikan Universitas Muhammadiyah di Yogyakarta
Begitu besar jasa Mustofa Kamal Pasha pada kelahiran Universitas Muhammadiyah Yogyakarta/UMY. Untuk mengenang dan sebagai kehormatan, maka taman sebelah utara Sportorium dan Gedung kegiatan mahasiswa diberi nama Mustofa Kamal Pasha
Karya tulis beliau  berupa buku antara lain; 1) Psikologi Umum; 2) Psikologi Perkembangan; 3) Psikologi Kepribadian; 4) Ilmu Pendidikan; 5) Akhlak Sunah; 6) Fikih Islam; 7) Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam; 8) Fiqh Sunah; 9) Libasut Taqwa; 10) Qalbun Salim; 11) Pendidikan Kewarganegaraan; 12) Pancasila Dalam Tinjauan Historis; 13) Fiqh Islam (karya bersama); 14) Ilmu Budaya Dasar; 15) Muhammadiyah Sebagai Gerakan Islam (karya bersama); 16) Pancasila, UUD 1945, dan Mekanisme Pelaksanaannya.

Lasa Hs

MENGEMBANGKAN POTENSI PENULISAN KEPUSTAKAWANAN (Tulisan 1 )


Pendahuluan
            Menulis masih dianggap beban dan keterpaksaan dalam kehidupan intelektual dan kemasyarakatan kita. Oleh karena itu, bangsa kita belum mampu bersaing dalam kehidupan keilmuan dengan bangsa lain. Justru budaya menonton dan ngomong yang berkembang pesat.
            Lambannya perkembangan penulisan karena kurangnya kesadaran, ketidakmampuan, dan rendahnya kemauan menulis di kalangan ilmuwan dan masyarakat kita. Dunia tulis menulis sebenarnya merupakan media efektif untuk menyimpan, melestarikan, dan mengembangkan ilmu pengetahuan dan mengekpresikan diri dan mampu memenuhi kebutuhan fisiologis, sosial, penghargaan, dan eksistensi diri.
            Melalui tulisan seseorang akan mampu mengekspresikan diri, mampu bersaing secara terbuka, memberikan manfaat kepada sesama, dan mengabadikan diri dalam perjalanan hidupnya. Pikiran-pikiran mereka akan menjadi pelajaran, acuan, dan pengembangan diri orang lain meskipun jasad penulis itu telah hancur dimakan tanah. Oleh karena itu  nama sebenarnya bukan nama yang tertulis di batu nisan kuburan kita nanti.
            Untuk itu perlu dorongan, penciptaan kesadaran penulisan untuk bisa melahirkan karya-karya unggulan dengan pemikiran-pemikiran inovatif produktif untuk mencapai kemajuan.
Latar Belakang
            Perlunya menumbuhkan minat dan motivasi penulisan didasarkan pada pemikiran dan realita :
  1. Rendah minat baca dan tulis
Minat baca dan minat tulis bangsa kita rendah bila dibanding dengan minat baca/tulis bangsa lain. Justru yang menonjol adalah minat ngomong dan minat menonton. Di era teknologi  informasi ini seharusnya masyarakat kita beranjak pada literasi informasi. Yakni kemampuan untuk mengakses, mengelola, dan mengembangkan sumber informasi untuk meningkatkan kualitas hidup yang penuh persaingan ini. 
  1. Rendah produksi buku dan penerbitan
Produksi buku kita tergolong rendah bila dibanding dengan produksi buku di negera-negara lain. Sekedar ilustrasi bahwa UNESCO pernah mencatat pada tahun 1993 bahwa jumlah judul buku yang terbit di Indonesia hanya 0,0009 % dari jumlah penduduk. Hal ini berarti bahwa pada tahun itu saja setiap satu juta orang Indonesia hanya tersedia 9 judul buku. Padahal di negeri ini tiap tahun diluluskan sekian ribu sarjana S1, S2, S3, bahkan sekian puluh  profesor.
Kondisi ini jauh berbeda bila dibandingkan dengan kondisi perbukuan negara-negara berkembang yang rata-rata 55 (lima puluh lima) judul buku untuk setaip satu juta penduduk. Sedangkan dunia perbukuan di negara-negara maju, produksi buku telah mencapai 513 (lima ratus tiga belas) judul untuk setiap satu juta orang.
Kemudian apabila dibandingkan dengan produksi buku di beberapa negara Asia, maka Indonesia hanya mampu menerbitkan sekitar 10.000 judul/tahun. Padahal Korea telah mampu menerbitkan 26.000 judul/tahun, dan Jepang mampu menerbitkan 100.000 judul/tahun (Nur Zakiyah, 2002: 2).    
  1. Menulis dianggap beban dan keterpaksaan
Bagi sebagian besar akademisi, menulis karya akademik seperti menyusun skripsi, tesis, dan disertasi dianggap beban berat. Mungkin masa perkuliahan hanya 2 semester, tetapi tugas penulisan karya akhir bisa  10 tahun lebih. Demikian pula bagi para profesor, yang pidato pengukuhannya cuma dibacakan selama 25 menit, tetapi menyusunnya bisa satu semester.
Para guru sekolahpun mengalami hal yang sama. Guru yang PNS cukup pasrah pada golongan IV/a untuk pensiun. Sebab untuk naik ke jenjang berikutnya harus memiliki kemampuan menulis karya tulis ilmiah. Maka di negeri ini masih langka guru yang mampu menyandang guru utama.. Padahal sebagian besar mereka telah memiliki pendidikan minmal S1, bahkan beberapa ribu telah berpendidkan S2, dan beberapa puluh bergelar doktor. Hal ini mungkin terbentur keterbatasan kemampuan penulisan ilmiah.
Hasil penelitianpun sebagian besar hanya berfungsi sebagai dokumen ilmiah dan jarang dimanfaatkan karena para peneliti kurang mampu menulis buku, artikel jurnal, atau menulis artikel di surat kabar. Akhirnya penelitian yang menghabiskan jutaan bahkan milyaran rupiah itu seolah-olah hanya menghasilkan kertas beberapa lembar, coin, dan point.
Bagi jabatan fungsional pun tidak jauh berbeda. Dalam usulan kenaikan  jabatan, pangkat dan golongan  fungsional pustakawan dengan berkas yang “berbobot”  tetapi kurang bermutu. Mereka bangga dengan ketebalan kertas yang isinya sekedar statistik peminjaman dan pengembalian dan daftar buku yang diolah, meskipun itu Pustakawan Muda bahkan Pustakawan Madya.   
  1. Tulisan/rekaman sebagai media efektif dalam pengembangan diri dan potensi masyarakat
Penulis atau pengarang adalah profesi yang terhormat dan tidak semua orang  mampu meraih posisi itu meskipun berpendidikan tinggi secara akademis. Sebaliknya terdapat penulis-penlis terkenal meskipun secara formal hanya mengenyam pendidikan SLTA.
Konon publish or perish (muncul atau bunuh diri) menjadi icon bagi kehidupan keilmuan di beberapa negara luar negeri. Maka menulis merupakan ekspresi diri dan pengakuan atas reputasi keilmuan seseorang. Mereka bangga dan bercerita tentang karya-karya mereka terutama buku bila ketemu dengan teman sejawat mereka. Hal ini jauh berbeda dengan kehidupan keilmuan para ilmuwan kita yang bangga dengan proyek dan  jumlah jabatan struktural yang dipangkunya. Mereka tidak tergerak untuk menulis buku meskipun telah disediakan anggaran sekian juta bahkan milyaran rupiah.Toh anggaran itu tidak terserap.
Penulis mampu  berperan sebagai seorang guru, pendidik, ustadz, dan ilmuwan yang memberikan nilai, ajaran, norma, dan ilmu pengetahuan bukan karena semata-mata keterpaksaan tetapi berkat panggilan.
Tulisan-tulisan mereka mampu menggerakkan potensi masyarakat, merubah sikap, dan mendorong masyarakat untuk melakukan kegiatan meskpun perlu waktu. Rasulullah SAW mampu melakukan perubahan tatanan kehidupan manusia berabad lamanya lantaran ajaran-ajarannya yang dibukukan dalam Al Quran dan hadist. Karl Marks mampu mengubah Rusia melalui pikiran-pikiran yang tertuang dalam bukunya  Das Capital. Galileo seorang ilmuwan lulusan Fakulatas Kedokteran Universitas Pisa itu sempat menggegerkan masyarakat Eropa dan dikenal sebagai penulis metode eksperimen. Demikian pula dengan buku Ayat-Ayat Cinta, Lasykar Pelangi, dan lainnya.
       (Bersambung)
      Salam Iqra’

      Lasa Hs