Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Selasa, 18 Juni 2019

MENGEMBANGKAN KECERDASAN EMOSI


Untuk mencapai kesuksesan, tidak harus menjadi mahasiswa suatu perguruan tinggi terkenal. . Dengan pengembangan kecerdasan emosi, orang juga bisa sukses dalam hidupnya. Maka untuk berhasil tidak harus bergelar akademik (apalagi beli ijazah palsu), ber IP tinggi, atau lulus suma cumlaude.
            Sebenarnya tiap orang  mampu mencapai kebahagiaan dan keberhasilan itu dipengaruhi oleh beberapa kecerdasan. Misalnya kecerdasan intelektual, kecerdasan  sosial, kecerdasan religi, kecerdasan tubuh, kecerdasan majemuk , kecerdasan kreatif, atau kecerdasan emosi. Kecerdasan emosi ini merupakan teori yang dikemukakan oleh Daniel Goleman yang ternyata mampu membuka mata masyarakat yang selama ini terjebak pada kecerdasan intelektual/intellectual quotient/IQ.
            Kecerdasan emosi atau emotional quotient/EI adalaah kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lain. Emosi itu sendiri sebenarnya merupakan dorongan untuk bertindak sesuai rencana untuk mengatasi masalah. Sedangkan bentuk emosi  yang muncul sering didasarkan pada suasana perasaan saat itu.
            Banyak para ahli yang mendefinisikan kecerdasan emosi dengan batasan yang berbeda. John Mayer misalnya, seorang psikolog University of Hampshire menyatakan bahwa kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk memahami emosi orang lain dan cara mengendalikan emosi diri sendiri. Maka orang yang memiliki kecerdasan emosi tinggi akan mampu mengembangkan diri antara lain dengan penyesuaian diri dengan keadaan saat itu dan mampu mengambil manfaat untuk mengatur kekuatan diri. Apabila orang mampu membawa diri pada komunitas yang lebih luas, maka akan semakin terbuka kesempatan untuk pengembangan diri.
Lain halnya dengan pendapat Cooper dan Sawaaf tetang kecerdasan emosi. Kedua orang pakar psikologi ini menyatakan bahwa kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk merasakan, memahami, dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber kekuatan dan pengaruh yang manusiawi. Dalam hal ini dapat dipahami bahwa orang yang mampu mengelola kecerdasan emosi akan mengembangkan potensi, energi, dan kekuatan diri untuk mempengaruhi orang lain. Untuk itu diperlukan kepemilikan perasaan yang kuat untuk belajar mengakui dan menghargai perasaan orang lain dan mengatur perasaan diri. Kemudian orang ini mampu menanggapi keadaan itu dengan cepat dan mampu menerapkan energi emosi itu secara efektif dalam kehidupan sehari-hari.
            Dari paparan di atas dapat dipahami bahwa kecerdasan emosi itu merupakan kemampuan untuk mengenal, mengelola, dan mengekspresikan diri dengan tepat. Oleh karena itu orang harus mampu memotivasi diri, memahami orang lain, mengendalikan emosi diri, dan mampu membina hubungan dengan orang lain.
Jenis-jenis Emosi
Kata emosi memang erat dalam kehidupan kita. Namun kadang kita sulit mendefiisikannya. Kita sering emosional berarti sering mengikuti dan mengekpresikan apa yang kita rasakan saat itu. Gejala ini merupakan respon terhadap keadaan dan sikap yang muncul saat itu. Maka dalam menghadapi keadaan tertentu, orang bisa memunculkan rasa takut, tegang, was-was, sedih, gembira, bingung, terkejut, dan cinta

Mengembangkan Kecerdasan Emosi
            Ada pendapat yang mengatakan bahwa orang yang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi dan mampu mengembangkannya secara optimal, maka orang itu akan sukses dan bahagia. Sebab dia itu selalu percaya terhadap potensi diri, mampu mengelola emosi, dan mempunyai kesehatan mental yang baik.
            Berangkat dari pemahaman ini, maka kecerdasan emosi itu dapat dikembangkan secara optimal. Dalam upaya pengembangan kecerdasan emosi ini, Salovey seorang pakar psikologi memberikan gambaran tahapan pengembangan emosi ini. Tahapan-tahapan pengembangan itu antara lain; mengenal emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri, memahami emosi orang lain, membina  hubungan, dan mau mendengarkan orang lain.
Mengenal Emosi Diri
Memahami perasaan diri ketika emosi sedang bergejolak merupakan dasar kecerdasan emosi. Kita perlu memahami perkembangan emosi diri dari waktu ke waktu terutama ketika terjadi keadaan yang sangat sensitif. Keadaan ini misalnya ketika sedang menerima keadaan yang sangt menyedihkan, menyenangkan, menegangkan, ketakutan, dan lainnya. Sebab pada saat-saat seperti ini biasanya terjadi ledakan emosi yang luar biasa, dan kadang sulit dikendalikan
Mengelola Emosi
            Emosi yang dikelola dengan baik akan menjadi kekuatan untuk memajukan diri. Sebaliknya, emosi yang tidak diarahkan pada hal-hal yang positif, maka mungkin bisa mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Hal ini bisa terjadi karena emosinya tidak terkontrol lagi.
            Orang yang mampu mengelola emosi berarti telah mampu menguasai diri dan orang lain itulah sebenarnya yang disebut sebagai orang yang kuat. Rasulullah SAW pernah bersabda :”Orang kuat itu, bukanlah seorang petinju, tetapi mereka yang dikatakan kuat adalah mereka yang mampu mengendalkan diri ketika marah’
Memotivasi Diri
            Emosi merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan diri Maka emosi ini perlu didorong terus menerus untuk merealisir tujuan. Motivasi mempengaruhi kualitas kegiatan, maka motivasi tinggi akan menghasilkan produk tinggi. Sebaliknya motivasi rendah akan melahirkan produk yang kurang bermutu.
Memahami Orang Lain
            Eksistensi seseorang akan diterima dengan baik dalam suatu komunitas apabila orang itu mampu menunjukkan empatinya. Yakni bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain. Orang ini juga mampu memahami gejala emosi orang lain lalu mampu mengendalikan emosi itu.
            Dengan memahami emosi orang lain inilah, maka seseorang dapat diterima dalam komunitas tertentu. Dari sini mereka dapat mempengaruhi komunitas tertentu.
Membina Hubungan
            Kecerdasan emosi akan berkembang baik apabila ditunjang dengan kemampuan untuk menjalin hubungan dengan individu maupun komunitas secara harmonis. Untuk itu diperlukan kelincahan dan kelancaran komunikasi lisan maupun tulis. Dengan dua kemampuan ini, orang semakin dikenal secara luas dan dari sini dapat dikembangkan kemampuan diri.
Mau Mendengarkan Orang Lain
            Memang gampang-gampang susah untuk menjadi pendengar yang baik. Artinya mungkin kita ini lebih gampang menjadi pembicara (ngomongin orang lain) daripada mendengarkan omongan orang lain. Padahal kita ini diberi dua daun telinga dan satu lubang  mulut. Mestinya kita ini mampu menjadi pendengar yang baik karena mempunyai alat perekam dua buah yakni dua daun telinga. Kemudian mulut kita hanya satu yang tentunya harus lebih sedikti bicara dan memperbanyak mendengarkan orang lain (bukan berati ngerumpi tentang orang lain).
Kalau kita mau mendengarkan orang lain, berarti kita menghormati orang lain. Disamping juga kita mendapatkan masukan dari orang lain itu.
Tidak sedikit orang yang mampu mencapai karir puncak dengan mengembangkan kecerdasan emosi ini meskipun mereka tidak memiliki IP atau NEM tinggi. Salah satu contoh adalah Bill Gates seorang super milyader Amerika Serikat. Ia pemilik perusahaan perangkat lunak Microsoft. Dia berhenti kuliah dari Havard Business School karena merasa  tidak mendapat apa-apa selama kuliah. Meskipun dia ini drop out dari perguruan tinggi terkenal, toh beliau tercatat sebagai penyumbang nomor satu untuk perguruan tinggi tersebut. Demikian pula halnya dengan Stephen K. Scout yang dikenal sebagai milyader Amerika Serikat itu. Ketika sekolah dulu, ia tidak dikenal dan biasa-biasa saja. Kini dia bergerak di bidang bisnis pemasaran yang terkenal di negeri  Paman Sam itu.
            Adam Malik yang dikenal lincah dan cerdik itu hanya bermodal ijazah SMP dan membawa mesin ketik butut ketika sampai di Jakarta. Dengan kemauan dan kecerdasan emosinya, beliau bergerak dan berkembang di bidang jurnalistik. Dari sini beliau terus mengembangkan diri dan dalam perjalanan karirnya sampai pada keberhasilan menjadi Meteri Luar Negeri dan Ketua MPRS
            Berkaitan dengan pengembangan kecerdasan emosi ini, Purdi E. Chandra yang sukses dengan Primagamanya itu pernah mengatakan :” Untuk menjadi entreupreneur sejati tidak perlu IP tinggi, ijasah, apalagi modal uang. Saat yang paling tepat itu justru pada saat kita tak punya apa-apa. Pakai ilmu street smart saja.Kemampuan otak kanan yang kreatif dan inovatif sudah memadai. Banyak orang ragu berbisnis cuma gara-gara terlalu pintar. Sebaliknya orang yang oleh guru formal dianggap bodoh karena nilainya jelek, justru jadi wirausahawan yang sukses (Berwirausaha edisi 2 tahun 1/2002). Bahkan T. Kiyosaki secara ekstrim mengatakan :”If you to be rich and happy, don’t go to school”
            Kecerdasan emosi dapat dikembangkan menjadi soft skill. Yakni kemampuan yang tidak kasat mata yang berupa ketelatenan, kesabaran, kemampuan adaptasi, dan tahan terhadap stress yang menimpanya. Kemampuan ini memang tidak bisa dilihat, tidak bisa diukur, dan tidak pernah diperoleh melalui bangku sekolah maupun kursi kuliah. Kemampuan soft skill ini dapat diperoleh melalui organisasi, dunia kerja, bermasyarakat, maupun komunitas lain. Semakin banyak interaksi seseorang terhadap berbagai komunitas, maka akan semakin baik soft skill seseoraang.
            Soft skill ini pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua kategori yakni yang disebut dengan intrapersonal skill dan interpersonal skill. Intrapersonal skill adalah sesuatu yang berkaitan dengan kemampuan seseorang mengenai diri sendiri, memotivasi diri, ambisi, dan bekerja keras. Kemudian interpersonal skill lebih berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain seperti empati, kepemimpinan, kemampuan bernegoisasi, memotivasi, dan mengarahkan orang lain  (M. Sholekhudin, 2006).

Lasa Hs

Senin, 17 Juni 2019

Biografi Kyai Haji Ibrahim (Ketua 1923 - 1933)

Sebelum Kyai Haji Ahmad Dahlan wafat, ia berpesan kepada para sahabatnya agar tongkat kepemimpinan Muhamadiyah sepeninggalnya diserahkan kepada Kiai Haji Ibrahim, adik ipar KHA. Dahlan. Mula-mula K.H. Ibrahim yang terkenal sebagai ulama besar menyatakan tidak sanggup memikul beban yang demikian berat itu. Namun, atas desakan sahabat-sahabatnya agar amanat pendiri Muhammadiyah bisa dipenuhi, akhirnya dia bisa menerimanya. Kepemimpinannya dalam Muhammadiyah dikukuhkan pada bulan Maret 1923 dalam Rapat Tahunan Anggota Muhammadiyah sebagai Voorzitter Hoofdbestuur Moehammadijah Hindia Timur (Soedja‘, 1933: 232).

K.H. Ibrahim lahir di Kauman Yogyakarta pada tanggal 7 Mei 1874. Ia adalah putra K.H. Fadlil Rachma­ningrat, seorang Penghulu Hakim Kesul­tanan Yogyakarta pada zaman Sultan Hamengku­buwono ke VII OGRE(Soedja‘. 1933: 227), dan ia merupakan adik kandung Nyai Ahmad Dahlan. Ibrahim menikah dengan Siti Moechidah binti Abdulrahman alias Djojotaruno (Soeja‘, 1933:228) pada tahun 1904. Pernikahannya dengan Siti Moechidah ini tidak berlangsung lama, karena istrinya segera dipanggil menghadap Allah. Selang beberapa waktu kemudian Ibrahim menikah dengan ibu Moesinah, putri ragil dari K.H. Abdulrahman (adik kandung dari ibu Moechidah).

Ibu Moesinah (Nyai Ibrahim yang ke-2) dikaruniai usia yang cukup panjang yaitu sampai 108 tahun, dan baru meninggal pada 9 September 1998. Menurut penilaian para sahabat dan saudaranya, Ibu Moesinah Ibrahim merupakan potret wanita zuhud, penyabar, gemar sholat malam dan gemar silaturahmi. Karena kepribadiannya itulah maka Hj. Moesinah sering dikatakan sebagai ibu teladan (Suara ‘Aisyiyah. No.1/1999: 20).

Masa kecil Ibrahim dilalui dalam asuhan orang tuanya dengan diajarkan mengkaji Al-Qur’an sejak usia 5 tahun. Ia juga dibimbing memperdalam ilmu agama oleh saudaranya sendiri (kakak tertua), yaitu KH. M. Nur. Ia menunaikan ibadah haji pada usia 17 tahun, dan dilanjutkan pula menuntut ilmu di Mekkah selama lebih kurang 7-8 tahun. Pada tahun 1902 ia pulang ke tanah air karena ayahnya sudah lanjut usia.

K.H. Ibrahim yang selalu mengenakan jubah panjang dan sorban dikenal sebagai ulama besar dan berilmu tinggi. Setibanya di tanah air, K.H. Ibrahim mendapat sambutan yang luar biasa dari masyarakat. Banyak orang berduyun-duyun untuk mengaji ke hadapan K.H. Ibrahim. Beliau termasuk seorang ulama besar yang cerdas, luas wawasannya, sangat dalam ilmunya dan disegani. Ia hafal (hafidh) Al-Quran dan ahli qira’ah (seni baca Al-Quran), serta mahir berbahasa Arab. Sebagai seorang Jawa, ia sangat dikagumi oleh banyak orang karena keahlian dan kefasihannya dalam penghafalan Al-Qur’an dan bahasa Arab. Pernah orang begitu kagum dan takjub, ketika dalam pidato pembukaan (khutbah al-’arsy atau sekarang disebut khutbah iftitah) Kongres Muhammadiyah ke-19 di Bukittinggi Sumatera Barat pada tahun 1939, ia menyampaikan dalam bahasa Arab yang fasih.


Senin, 27 Mei 2019

SYUKUR ITU SUBUR, KUFUR ITU HANCUR


Dalam berbagai kesempatan kita sering diingatkan untuk bersyukur kepada Allah swt atas segala nikmat yang telah kita terima. Sebab manusia kadang tidak menyadari bahwa hanya kemurahan Allahlah mereka mendapat fasilitas dan kenikmatan hidup. Oleh karena itu tidak sedikit diantara manusia yang kurang mensyukuri kenikmatan itu, bahkan sering menyalahgunakan nikmat. Betapa banyak orang yang menyalahgunakan kekuasaan, harta benda, pangkat, tenaga, dan nikmat ilmu pengetahuan untuk ambisi pribadi atau kelompoknya.
Bersyukur kepada Allah pada hakekatnya adalah mempergunakan segala kenikmatan dengan cara yang sebaik-baiknya sesuai ketentuan Allah. Orang diberi mata, seharusnya digunakan untuk melihat sesuatu yang dibolehkan atau diperintahkan oleh Allah untuk memandangnya. Demikian pula dengan anggota-anggota badan yang lain seperti tangan, kaki, telinga, mulut hendaknya digunakan untuk hal-hal yang diperintahkan atau dibolehkan oleh Allah.
Apabila direnungkan dengan seksama ternyata dalam berbagai urusan kita terdapat hal-hal yang bermanfaat di dunia dan akhirat seperti ilmu pengetahuan dan akhlakul karimah. Tetapi ada pula hal-hal yang merugikan kehidupan dunia dan akhirat seperti kikir, dengki, jahil, perangai buruk, maupun kebodohan. Ada pula hal-hal yang hanya menyenangkan (untuk sementara) kehidupan di dunia seperti kepuasan hawa nafsu pada harta, pangkat, jabatan, kekuasaan, dan lainnya. Disamping itu juga terdapat hal-hal yang untuk sementara agak memberatkan di dunia, tetapi menguntungkan kehidupan akhiran seperti pengendalian hawa nafsu, beramal sholeh, berderma, dan lainnya.
Dengan adanya karakteristik tersebut, manusia diharapkan mampu memanfaatkannya secara baik. Memang, sesuatu yang manfaat di dunia dan akhirat itulah yang disebut dengan kenikmatan hakiki. Sedangkan hal-hal yang merugikan kehidupan dunia dan akhirat itu bernama bencana. Oleh karena itu manusia perlu memahami apa saja yang membawa kenikmatan dunia dan akhirat. Disamping juga harus memahami apa yang nikmat di dunia tetapi menyengsarakan di akhirat. Hal inilah yang sering diibaratkan bagai madu yang mengandung racun.. Nah hal-hal yang mengandung racun  tentunya harus hati-hati menyikapinya.
Di samping itu ada pula hal-hal yang menguntungkan di akhirat, tetapi pahit di dunia. Hal ini kadang juga dipandang sebagai nikmat bagi mereka yang berpandangan futuristik dan mendalam. Sebab masalah ini dianggap sebagai pil pahit yang justru menyembuhkan dan menyegarkan badan.
Kenikmatan adalah sesuatu yang mendatangkan kesenangan, kelezatan, dan sedap yang dirasakan oleh akal maupun perasaan. Ilmu pengetahuan adalah suatu kenikmatan yang dirasakan oleh akal. Makan minum adalah kenikmatan yang dirasakan oleh perasaan. Maka ketika badan sakit, maka makan minum terasa tidak terasa nikmat. Oleh karena itu perlu bersyukur betapapun kecilnya suatu nikmat. Apabila yang kecil tidak disyukuri, maka diberi yang besar/banyakpun tidak akan bersyukur.
Tahap-tahap bersyukur
Wajar apabila seseorang yang menerima nikmat itu bergembira. Tetapi ada juga yang merasa menyesal, mengapa yang diterima cuma sedikit. Sikap seperti ini kurang menghargai yang memberi dan kurang bersyukur. Kesediaan bersyukur menunjukkan akhlak yang mulia. Sedangkan orang kufur nikmat akan hancur sendiri.
            Adapun tahap-tahap syukur nikmat antara lain:
  1. Merasa gembira atas nikmat yang diterima meskipun sedikit/kecil;
  2. Menyatakan kegembiraan itu dengan ucapan dan perbuatan. Ketika menerima kenikmatan, minimal mengucapkan Alhamdulillah atau bersujud syukur. Allah swt berfirman yang artinya: “Adapun nikmat Tuhanmu hendaklah engkau beritahukan”. (Q.S. Adh Dhuha : 11)
  3. Memelihara kenikmatan itu sebaik-baiknya dan menggunakannya menurut cara yang dituntunkan agama Islam. Pemeliharaan harta benda misalnya dengan sebagian diinfakkan untuk anak yatim, fakir miskin, dhu’afa, danlainnya. Bukan untuk foya-foya menuruti nafsu. Kemudian pemeliharaan ilmu dengan dikembangkan melalui lisan maupun tulisan.
  4. Membalas pemberian dan pertolongan yang sepadan atau lebih baik.
Mereka yang memberi memang tidak ingin dibalas kecuali untuk kepentingan tertentu seperti pemilihan kepala daerah, pemilihan legilatif, dan lainnya. Namun bila memungkinkan kebaikan orang itu sebaiknya juga dibalas sepadan dan syukur lebih baik. Allah swt berfirman :”Dan berbuatlah kebaikan kepada sesama sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu. Lagi pula janganlah engkau mempergunakan kesempatan yang ada padamum untuk berbuat kerusakan di muka bumi, sebab Allah tidak menyukai orang yang berbuat kerusakan”. (Q.S. Al Qashash: 77).
Syukur itu Subur
            Banyak kejadian membuktikan manfaat syukur nikmat yang ternyata membawa rahmat. Dalam  hal ini bersyukur pada hakekatnya bukan sekedar membaca Alhamdulillah, tetapi juga memanfaatkan nikmat itu sesuai tuntunan agama. Menginfakkan sebagian harta juga termasuk salah satu bentuk syukur nikmat.
            Mensyukuri nikmat harta dicontohkan sebuah kisah seorang budak penjaga kebun kurma. Di suatu hari yang sangat panas, datanglah seekor anjing dengan menjukur-julirkan lidahnya karena haus dan lapar. Anjing itu mendekati budak itu sambil menggoyang-goyangkan ekornya seakan-akan minta dikasihani. Kebetulan budak itu diberi 3 (tiga) potong roti untuk makan hari itu. Lalu anjing itu diberi sepotong roti dan dimaknnya. Dasar anjing, setelah makan roti itu lalu mendaki budak minta roti lagi. Budak itupun tidak sampai hati, diberikan roti sepotong lagi. Roti itu dimakan oleh anjing sampai habis. Di tangan budak masih ada sepotong roti yang rencananya untuk makan nanti sore. Namun anjing itu terus mendekatinya untuk minta roti yang tinggal sepotong itu. Budak itupun mengikhlaskan roti yang tinggal satu itu. Roti itupun dimakan anjing itu sampai habis. Setelah merasa kenyang, maka anjing itupun pergi.
            Kejadian itu dilihat oleh Abdullah bin Ja’far yang terkenal dermawan. Beliau adalah putra Ja’far bin Abu Thalib salah seorang pahlawan yang gugur pada perang Mut’ah. Melihat kejadian itu Abdullah bin Ja’far menghampiri budak itu seraya bertanya berapa banyak roti yang dibawanya. Budak itu menjawab :”Hanya tiga potong dan  habis saya berikan kepada anjing tadi. Saya kasihan pada anjing yang kehausan dan kelaparan itu. Nampaknya anjing itu dari jauh”. Beliau kembali bertanya :”Apa yang akan kau makan hari ini ?. “saya akan mengencangkan ikat pinggang saya agar tidak sakit karena menahan lapar” jawab anak itu. Mendengar jawaban yang polos ini, Abdullah bin Ja’far merenung dan berkata pada dirinya sendiri “sampai dimanakah kedermawanku dan rasa syukurku bila dibanding dengan budak ini?.
            Kemudian budak itu diminta oleh Abdullah bin Ja’far untuk menunjukkan alamat pemilik kebun kurma itu. Kemudian beliau mencari dan menemukan rumah pemilik kebun kurma itu. Abdullah bin Ja’far ketemu tuan dari budak itu, lalu menawar harga kebun dan sekaligus harg abudak itu. Beliau ingin membeli kebun dan membeli budak itu untuk dimerdekakannya.
            Setelah selesai transaksi dan proses administrasinya, maka Abdullah minta diri lalu mampir ke pasar untuk membeli alat-alat perkebunan. Dia tidak pulang ke rumah, tetapi mampir ke kebun yang ditunggu budak tadi. Sesampai di sana dan ditemuinya budak itu lalu berkata :”Nak, kebun ini sudah kami beli dan engkau telah kubeli dan ini surat-suratnya. Jadi mulai hari ini engkau telah merdeka”. Kemduian lanjutnya :”Mulai hari ini engkau kumerdekakan dan kebun kurma beserta alat-alatnya aku serahkan kepadamu. Untuk itu, hiduplah dengan bahagia dengan cara mengelola kebun kurma ini:.
Kufur itu Hancur
            Betapa banyak contoh memberikan pelajaran kepada kita bahwa kufur nikmat ternyata membawa kehancuran. Kufur atas nikmat kekuasaan telah menghancurkan Fir’aun yang takabur dengan menganggap dirinya sebagai Tuhan. Kufur harta telah membenamkan Qarun dan harta bendanya.
            Qarun dulunya melarat yang dalam perkembangan hidupnya menjadi kaya dan konon pernah menjadi gubernur yang diangkat Fir’aun. Kekayaannya melimpah ruah dan tidak mau bersyukur. Bahkandia smbong dan tidak mau membayar zakat seperti yang diajarkan oleh Nabi Musa a.s.Dia beranggapan bahwa hartanya itu diperoleh berkat kerja keras dengan banting tulang dan bukan dari Allah. Hal ini seperti dnyatakan dalam Q.S. Al Qashash : 78 yang artinya:” Aku diberi harta ini karena ilmu atau keahlian yang ada padaku”. Memang suatu ketika memang Qarun memerkan kekayaannya di uka umum dengan berkendaraan kuda dan keledai sekitar 4.000 ekor yang dihiasi dengan berbagai perhiasan.
            Karena kekufuran dan kesombongannya itu, Qarun dan hartanya hancur ditelah tanah. Hal ini sebagaimana ditegaskan dalam Q.S. Al Qashash: 81 :”Lalu kami (Allah ) benamkan Qarun bersama rumahnya ke dalam tanah. Maka tiadak satu golongan pun yang mampu menolongnya selain Allah. Bahkan dia sendiri tidak mampu menolong dirinya”.
Apalah artinya bangga dengan kekuasaan, harta, keturunan, ilmu pengetahuan kalau toh semua itu hanya titipan sementara. Untuk itu perlu disyukuri, jangan sampai kufur nikmat. (Lasa Hs)   



Jadikanlah Shalat Sebagai Penolongmu


Judul Buku     : Jadikanlah Shalat Sebagai Penolongmu
Penulis Buku  : Abdul Malik al-Qasim
Penerbit         : Darul Qasim lin Nasyr
Cetakan          : I, 2005
Ketebalan       : 133
ISBN                : 979-3956-40-2


Shalat merupakan salah satu tiang agama bagi umat Islam, dimana pokok segala urusan tiangnya adalah shalat dan puncaknya adalah jihad di jalan Allah. Shalat juga ikatan akhir yang akan hilang dari agama kita, jika kita menghilangkan shalat maka akan hilang pula agama secara keseluruhan.
Perkara shalat juga tidak bisa dipandang sebelah mata, Allah SWT senantiasa mengingatkan kita untuk menunaikan shalat dimana ditulis dalam (Q.S Al-Baqarah: 1-3) yang berbunyi:
"Alif laam miim. Kitab (al-Qur-an) ini tidak ada keraguan padanya; petunjuk bagi mereka yang bertakwa, (yaitu) mereka yang berirnan kepada yang ghaib, yang rnendirikan shalat, dan menafkahkan sebagian rizki yang Kami anugerahkan kepada mereka.
Buku  yang berjudul Jadikanlah Shalat Sebagai Penolongmu ini menulis tentang pentingnya menunaikan ibadah shalat, kedudukan shalat dalam agama Islam, hukum meninggalkan shalat serta kesungguhan orang-orang sebelum kita dalam menunaikan ibadah shalat.
Buku karya Abdul Malik al-Qasim ini mengingatkan ketika seseorang meninggalkan shalat maka hilanglah agama Islam dari orang tersebut, meninggalkan shalat juga akan mendatangkan adzab yang pedih, dan  bagi mereka yang meninggalkan shalat maka akan dimasukan ke dalam Al-Ghayyu yaitu lembah di Neraka Jahannam yang sangat buruk dan dalam.
 Shalat juga sebagai penolong bagi hamba Allah yang membutuhkan pertolongan, dengan mendekatkan diri kepada Allah dan menjalankan segala perintahnya, maka Allah akan memenuhi kebutuhannya dan memudahkan segala urusannya. Allah juga akan menolong hambanya yang sedang dalam kesusahan.
Kisah menarik dari buku ini adalah kisah-kisah orang terdahulu yang sangat istimewa dalam menjalankan ibadah shalat, para pengikut nabi Muhammad SAW di zamannya tidak pernah melalaikan shalat, mereka berbondong-bondong datang ke masjid dan melakukan shalat berjamah.
Buku ini juga menceritakan kisah Umar bin al-Khattab yang tidak sadarkan diri ketika ditikam dan mendapatkan luka yang cukup parah, tetapi tiba-tiba beliau sadar dan bangun dari pingsannya ketika sahabatnya menyebutkan “Shalat wahai Amirul Mukminin. Engkau telah shalat”, dan Umar bin Al-Khattab pun tersadarkan dan segera melaksanakan shalat dengan darah mengalir deras dari lukannya.
Buku ini dapat membuat para pembacanya iri akan kesungguhan hati dan perbuatan orang-orang terdahulu dalam menunaikan ibadah shalat sekaligus menyadarkan para pembaca atas kelalaiannya di dunia yang hanya sementara ini.
Yuliana Ramawati

MENJAGA KESEHATAN



                                                Oleh : Lasa Hs

Semua orang pada umumnya kepingin sehat. Mereka tidak ingin sakit meskipun hanya sakit panu misalnya. Sehat memang mahal, maka perlu dijaga sebaik-baikmya.
Orang sehat insya Allah dapat melakukan banyak aktivitas. Sehat dalam hal ini adalah sehat dalam segala aspek; fisik, mental, sosial. ekonomi, dan akidah. Mereka yang sehat adalah orang yang kuat. Untuk itu perlu dipahami prinsip utama dalam kesehatn, yakni mengupayakan sehat secara teratur da optimal agar orang menjadi kuat. Rasulullah saw menyatakan yang artinya :”seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada mukmin yang lemah (H.R. Muslim, riwayat Abu Hurairah).
            Dari hadist ini dapat dipahami bahwa Islam sangat memerhatikan kesehatan fisik, jiwa, akal, sosial, ekonomi, dan lainnya. Oleh karena itu menjaga kesehatan di saat sehat lebih baik daripada berobat ketika telah sakit. Sebab mencegah itu lebih baik daripada menghilangkan. Sehat rohani dan jasmani merupakan kebahagiaan tersendiri bagi seseorang dalam hidup di dunia ini dan akhirat nanti. Rasulullah saw bersabda dalam suatu hadist dari ‘Abdullah bin ‘uMar, ia berkaa bahwa Rasululah saw senantiasa tidak meninggalkan doa-doa ini pada pagi dan sore hari, Ya Allah aku memohon kepada-Mu kesehatan di dunia dan di akhirat.Ya Allah, aku mohon kepada-Mu ampunan dan kesehatan agamaku, duniaku, dan hartaku (HR Ahmad, Abu Daud, dan Ibnu Majah).
            Agar orang tetap sehat, beberapa pakar kesehatan menganjurkan untuk menkonsumsi gizi yang cukup, olah raga yang cukup, jiwa yang tenang, dan menjauhkan diri dari berbagai pengaruh yang menjadikannya kena penyakit, Sedangkan Badan Kesehatan Dunia (World Health Organization)  memberi batasan tentang sehat adalah suatu keadaan jasmaniah, rohanian, dan sosial yang baik, tidak hanya tidak berpenyakit atau catat (health os a state of complete phusical, mental and social being, not merely the absence of disease on infimity. Definisi ini pada tahun a984 ditambah dengan kesehatan agama. Dengan demikian sehat itu meliputi bio-psiko-socio-spiritual. Oleh karena itu seorang dapat dikatakan sehat yang sebenarnya apabila jasmani tidak berpenyakit, mental yang baik,kehidupan sosial yang baik,  dan agama yang baik,
            Dalam hal kesehatan ini, Ibnul Qayyim al Jauziyah (wafat 1350 M) salah seorang ulama terkenal dalam bukunya yang berjudul al Thib al Nabawi  membagi cara penjagaan kesehatan Nabi Muhammad saw menjadi 3 (tiga) kategori, yakni obat alami, obat Ilahi, dan gabungan diantara keduanya (Departemen Agama RI, 2002: 24). Sedangkan al Dzahabi dalam bukunya al Thib al Nabawi menyatakan bahwa inti pengobatan Nabi Muhammad saw adalah keterpaduan kesehatan pada diri seseorang yang meliputi berbagai aspek yakni: aspek-aspek spiritual, psikologi, fisik, dan moral. Diantara cara pengobatan Nabi   Muhammad saw adalah pola makan minum, menjalankan puasa, menjaga keseimbangan, minum madu, menggunakan air jernih, minum air susu murni, makan buah kurma, pencegahan, pengobatan dan olah raga.
Pola makan minum
            Sebagaimana dipahami bahwa makanan dan minuman merupakan unsur penting untuk menjaga kesehatan. Kemudian makanan dan minuman ini dalam Islam disyaratkan  yang halalan thoyyiban. Hal ini sebagaimana tersebut dalam Q.S. al Baqarah: 168 yang artinya “Hai manusia, makanlah  yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi”. Pengertian makanan/minuman yang halal dalam hal ini harus dilihat dari 4 (empat) aspek, yakni dari segi zat, sifat, cara memeroleh, dan akibat yang ditimbulkan bila mengkonsumsinya. Kemudian pengertian thayyiban berarti makanan yang baik dan bergizi.Makanan inipun harus dilihat dari segi kebersihan, rasa, dan cara peyajiannya, cara memeroleh, dan cara mengonsumsinya.
            Islam menjaga kebersihan makanan minuman antara lain dari cara memerolehnya. Bila cara memerolehnya dengan cara yang tidak halal seperti mencuri, korupsi, merampok, suap menyuap, memalsu cap, memalsu tanda tangan dan lainnya, maka cara-cara ini tidak dibenarkan dalam agama Islam.
            Demikian pula keharaman makanan/minuman dapat dilihat dari jenisnya seperti bangkai, daging babi, darah, minuman keras, dan lainnya. Dalam hal ini Rasulullah saw menyatakan bahwa “Setiap tubuh yang tumbuh dari makanan/minuman yang haram, maka nerakalah lebih layak untuknya”(HR. al Turmudzi).
            Disamping itu, dalam mengkonsumsi makanan dan minuman hendaknya sesuai kebutuhan dan tidak berlebihan. Hal ini sesuai dengan apa yag difirmankan Allah swt dalam Q. S. Al A’raf: 31) yang artinya:”makan dan minumlah kamu sekalian dan janganlah berlebihan, sesungguhnya Allah swt tidak menyukai orang-orang yang berlebihan”.
Dari ayat ini dapat dipahami bahwa pengaturan pola hidup sederhana merupakan rahasia untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Resep sehat disini adalah tengah-tengah, artinya tidak berlebihan, tidak terlalu kenyang sehingga di dalam perut itu ada rongga sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk  sepertiga untuk minuman, dan yang sepertiga untuk bernafas.
            Pola makan seperti itulah ysng digunakan oleh Rasullulah saw yang dalam catatan sejarah hanya sakit 2 (dua) kali sepanjang hidup beliau. Bahkan pernah dikirim dokter khusus untuk menjaga kesehatan beliau. Akhirnya dokter itu minta ijin untuk pulang karena dokter tersebut menganggur, karena Rasulullah selalu sehat.
Menjalankan puasa
            Puasa wajib maupun puasa sunah, kecuali bernilai ibadah juga memiliki nilai sosial, pendidikan, dan kesehatan. Dalam berbagai penelitian telah dibuktikan bahwa puasa itu dapat menyehatkan badan, terutama pada pencernakan dan kegemukan/obesitas. Adapun makna puasa dilihat dari kacamata kesehatan:
a.Memberi kesempatan pada organ pencernakan untuk istirahat
   sementara;
b. Meremajakan sel-sel tubuh yang mulai menua;
c. Mengendalikan emosi.Sebab dengan pengendalian ini akan memberikan penggaruh positif terhadap organ tubuh seprti jantung, paru-paru yang mulai menua.
d. Menuju keseimbangan makan dan minum
e. Menghindarkan diri dari kegemukan/obesitas
f. Menyehatkan lambung;
g. Berpengaruh positif terhadap rohani;