Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Jumat, 13 Desember 2019

Jejak Haedar Nashir Mengawal Moderasi Indonesia

Haedar Nashir, lahir pada tanggal 25 Februari 1958 di Desa Ciheulang, Ciparay, Bandung Selatan dari pasangan Haji Bahrudin dan ibu Hajah Endah binti Tahim. Haedar lahir dari keluara santri, ayahnya seorang Kyai (Ajengan), serta sejak kecil mengenyam pendidikan agama sampai mengantarkannya ke Pondok Pesantren Cintawana Tasikmalaya.
Selepas dari pesantren, Haedar melanjutkan pendidikan di SMP Muhammadiyah 3 Bandung dan SMAN 10 Bandung. Setamat dari SMA, Haedar merantau ke kota pelajar Yogyakarta, melanjutkan studi di STPMD APMD Yogyakarta.
Haedar masuk APMD karena ingin pulang ke Ciparay menjadi Camat memajukan daerahnya yang sering terisolasi secara politik dampak buruk dari DI/TII di wilayahnya Jawa Barat selatan. Tahun 1984 lulus sarjana muda, kemudian kerja tahun 1987, lalu menyelesaikan S1 di APMD tahun 1991 sebagai lulusan terbaik.  

Haedar tidak jadi pulang kampung dan menjadi Camat karena menikah dengan Siti Noordjannah Djohantini, aktivis Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) aseli kelahiran Yogyakarta, yang membuat dirinya betah menetap di kota ini sampai sekarang. Dari pernikahan dengan Siti Noordjannah lahir Hilma Nadhifa Mujahidah dan Nuha Aulia Rahman, keduanya dokter lulusan UMY dan UGM.  

Minatnya pada ilmu pengetahuan bidang Sosial mendorong untuk melanjutkan studi hingga meraih gelar Master tahun 1998 dan gelar Doktor tahun 2006 di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta yang juga dengan predikat cumlaude. 
Disertasi Haedar di UGM diterbitkan menjadi buku yang telah dua kali terbit, yakni Islam Syariat. buku ini sulit disanggah. Referensinya sangat kaya dan metodologinya pun sangat kuat, kata Prof.Dr Mahfud MD.  Prof. Mahfud sampai menulis kolom khusus di majalah ternama tentang disertasi Haedar itu. 


Kiprah Organisasi

Sejak usia belia Haedar adalah sosok pemuda yang gemar berorganisasi. Ikatan Pelajar Muhamamdiyah yang merupakan sayap organisasi otonom Muhammadiyah adalah organisasi pelajar yang ditekuninya semenjak dari ranting sampai pimpinan pusat.

Selain aktif di organisasi, Haedar adalah sosok yang rajin membaca dan menulis. Ketekunannya dalam dunia literasi telah mengantarkannya menjadi seorang penulisprolific. Tebaran goresan penanya, banyak menghiasai rubrik-rubrik koran baik lokal maupun nasional. 

Kepiawaian Haedar dalam menulis, sebagai buah dari kegemarannya membaca, semakin teraktualisasi ketika Haedar aktif di Majalah Suara Muhammadiyah, sebuah majalah terbitan Muhammadiyah yang dirintis oleh Kyai Haji Ahmad Dahlan sejak tahun 1915, yang keberadaannya masih eksis melampaui kurun 1 abad. Karir di Suara Muhammadiyah mulai dari menjadi juru ketik, wartawan, editor dan puncaknya menjadi pemimpin redaksi sampai sekarang.

Karir akademik Haedar dimulai ketika menjadi dosen di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta tahun 1992 pada program studi Ilmu Pemerintahan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, tahun 1992.

Disamping menjadi dosen, Haedar juga seorang intellectual cum activist penggerak Muhammadiyah. Jiwa kekaderan dan kepemimpinan Haedar semakin terpupuk ketika pada tahun 1985 mulai aktif di Badan Pembina kader Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang bertugas merancang, mendesain, dan menyiapkan pengaderan pemimpin Muhammadiyah. 

Pada Muktamar ke-45 tahun 2000 di Jakarta, Haedar terpilih menjadi anggota Pimpinan Pusat dan diberi amanah menjadi Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah mendampingi Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif. Ketika menjadi sekretaris umum, Haedar yang sudah sangat terlatih, piawai mengelola laju gerak Muhammadiyah sekaligus menjadi ideolog Muhammadiyah dengan karakter inklusifisme Islam. Duet Syafii Maarif dan Haedar Nashir saling melengkapi dalam menjaga kapal besar Muhammadiyah di tengah situasi bangsa yang berubah dan penuh gejolak saat Reformasi 1998. 

Ketika Buya Prof. Dr.Syafii Ma’arif mengakhiri masa tugasnya, Haedar Nashir masih terus melanjutkan kiprahnya menjadi Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada masa kepemimpinan Prof.Dr. Din Syamsudin menjadi Ketua Umum PP Muhammadiyah periode 2005-2015. Pada Muktamar Muhammadiyah ke-47 di Makassar tahun 2015, Haedar diamanahi menjadi Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah sampai sekarang

Kesibukan Haedar Nashir dalam mengurus Muhammadiyah, tidak menjadikan Haedar lupa dan melupakan tanggungjawab akademiknya sebagai dosen. Haedar tetap melaksanakan tugas catur dharma perguruan tinggi, mengajar, memberi kuliah kepada mahasiswa, membimbing, menguji, melakukan riset, menulis jurnal internasional bereputasi dan pengabdian kepada masyarakat. Hal ini terasa cukup istimewa di tengah kesibukan dalam menahkodai organisasi Islam modern terbesar di dunia saat ini.

Tugas melayani masyarakat dari Sabang sampai Merauke, termasuk kunjungan ke pelosok-pelosok tanah air menyapa penggerak perubahan di grassroot, bahkan sampai ke panggung internasional ditunaikan penuh dedikasi bersamaan dengan tugas dan perannya sebagai seorang cendekiawan kampus tanpa kehilangan karakter intelektual organik.
Karya Intelektual

Sebagai akademisi, Haedar Nashir terbilang sebagai penulis yang produktif, banyak karya tulisan yang diterbitkan baik berupa artikel lepas, buku utuh dan paper hasil penelitian. Hingga pada puncaknya, pada hari ini Doktor Haedar Nashir dikukuhkan sebagai Guru Besar dalam bidang Sosiologi.

Dari deretan panjang karya dan sepak terjang Haedar, tergambar dengan jelas betapa kuat perhatian, komitmennya pada Islam dan keindonesiaan, yang semuanya bermuara pada moderasi Indonesia yang autentik. Faham keislaman yang moderat, tengahan, damai dan toleran yang ditopang dengan kondisi sosial bangsa yang majemuk menjadikan Haedar mempunyai pemikiran, sikap dan tindakan yang meletakkan moderasi sebagai sebuah jalan menuju kedamaian dan kemajuan berbangsa. Moderasi politik Haedar adalah menjaga bangsa dan merawat keberagaman bersama.

Dalam konteks Moderasi, Haedar adalah sosok yang anti kekerasan, dirinya sangat sensitif jika menyaksikan kekerasan dalam bentuk apapun. 

Sebagai sosok yang tekun baik dalam organisasi, Haedar juga dikenal sangat tekun dalam tradisi intelektual. Karya-karya intelektualnya sejak usia muda, sangat konsisten dengan ideologi menyuarakan “Moderasi Indonesia”. Hal ini dapat dilihat dari buku-buku yang diterbitkan, antara lain:  

Budaya Politik dan Kekuasaan, 1997;
Agama dan Krisis Kemanusiaan Modern, 1997, 1999; 
Pragmatisme Politik Kaum Elit, 1999; 
Perilaku Politik Elit Muhammadiyah, 2000; 
Dinamika Politik Muhammadiyah, 2001; 
Revitalisasi Gerakan Muhammadiyah, 2001; 
Ideologi Gerakan Muhammadiyah, 2002; 
Islam dan Perilaku Umat di Tengah Perubahan, 2002; 
Kristalisasi Ideologi dan Komitmen Bermuhammadiyah, 2007; 
Manifestasi Gerakan Tarbiyah, 2007, 2009; 
Muhammadiyah Gerakan Pembaharuan, 2010; 
Muhammadiyah Abad Kedua, 2011; 
Islam Syariat, 2007, 2013; 
Ibrah Kehidupan, 2013; 
Pendidikan Karakter dalam Perspektif Agama dan Kebudayaan, 2013; 
Memahami Ideologi Muhammadiyah, 2014; 
Gerakan Islam Pencerahan, 2015, 2017, 2019; 
Muhammadiyah a Reform Movement, 2015; 
The Understanding of the Ideology of Muhammadiyah, 2015; 
Muhammadiyah A Reform Movement, 2015; 
Dinamisasi Gerakan Muhammadiyah: Agenda Strategis Abad Kedua, 2015; 
Tragedi Neo-Holocaust, 2017; 
The Tragedy of Holocaust, 2017; 
Indonesia Hitam-Putih, 2017; 
Black and White Indonesia, 2017; 
Kuliah Kemuhammadiyahan 1, 2018; 
Kuliah Kemuhammadiyahan 2, 2018; 
Konstruksi Pemikiran Politik Ki Bagus Hadikusumo Islam, Pancasila dan Negara, 2018; 
Indonesia dan Keindonesiaan: Perspektif Sosiologis, 2019.

Selain buku, beliau juga melahirkan karya akademik-ilmiah yang berbobot, antara lain: 
Electoneering is a Religious Practice? Electoral Politics of Muhammadiyah Cadres At The Regent Elections In Yogyakarta Province, Indonesia, Jurnal Internasional, Dimuat di International Journal of Sciences and Research, Volume 73 Nomor 11 November 2017; 
Bottom Up-Sharia Formalization in Indonesia’s Nation State, Dimuat di Jurnal :Ilmu Studi Pemerintahan, Volume 8 Nomor 1 Agustus 2017; 
Re-Islamisation: the Conversion of Subculture Abangan Into Santri in Surakarta, Jurnal Internasional, Dimuat di Jurnal Internasional Islam and Muslim Societies, Vol. 8 No. 1 Tahun 2018; 
Social Capital and Disaster: How Does Social Capital Shape Post-Disaster Conditions in the Philippnes?, Jurnal Internasional, Nama Journal: Journal Of Human Behavior in The Social Environment, Volume 29 No. 1 Januari 2019; dan 
Muhammadiyah’s Moderation Stance in the 2019 General Eelection, Jurnal Internasional, Nama Jurnal: Al Jami’ah, Volume 57 No. 1 Tahun 2019, Penerbit: UIN Sunankalijaga Yogyakarta.

Dari karya-karya tersebut tercermin kemenyatuan pandangan keislaman dan keindonesian Haedar Nashir, yang merefleksikan pemikiran, sikap dan posisi sebagai seorang tokoh dan simbol dari Moderatisme Indonesia dengan bingkai Islam Berkemajuan. 

Penulis: Bachtiar Dwi Kurniawan
Editor: Azaki Khoirudin


sumber : https://ibtimes.id/jejak-haedar-nashir-mengawal-moderasi-indonesia/

Rabu, 11 Desember 2019

MODERASI INDONESIA DAN KEINDONESIAAN : Perspektif Sosiologi

Oleh Dr. H. Haedar Nashir, M.Si
*Disampaikan dalam Pidato Pengukuhan Guru Besar
Kamis, 12 Desember 2019

Indonesia dalam kurun terakhir seakan berada dalam darurat “radikal” dan “radikalisme”. Radikalisme dan khususnya terorisme menjadi isu dan agenda penanggulangan utama. Narasi waspada kaum “jihadis”, “khilafah”, “wahabi”, dan lain-lain disertai berbagai kebijakan deradikasasi meluas di ruang publik. Isu tentang masjid, kampus, BUMN, majelis taklim, dan bahkan lembaga Pendidikan Usia Dini (PAUD) terpapar radikalisme demikian kuat dan terbuka di ruang publik yang menimbulkan kontroversi nasional. 

Jika konsep radikal dikaitkan dengan apa yang oleh Taspinar (2015) disebut “violent movements” (gerakan kekerasan) seperti dalam berbagai kasus bom teror, penyerangan fisik, dan segala aksi atau tindakan kekerasan di Indonesia maka dapat dipahami sebagai pandangan dan kenyataan yang objektif. Radikalisme agama, termasuk di sebagian kecil kelompok umat Islam pun tentu merupakan fakta sosial yang nyata. Dalam posisi yang demikian baik pemerintah maupun banyak komponen bangsa berkomitmen untuk bersama menolak segala bentuk paham dan tindakan radikal atau radikalisme yang bermuara pada kekerasan, makar, dan merusak kehidupan manusia dan lingkungannya yang Tuhan sendiri melarang tegas karena masuk dalam tindakan “fasad fil-ardl” atau merusak di muka bumi (QS. Al-Baqarah [2]: 11, 12, 60; QS. Al-’A`raf [7]: 56, 74, 85; QS. Al-’Anfal [8]: 73; QS. Hud [11]: 85,116; QS. Ash-Shu`ara’ [26]: 151, 152; QS. Al-Qasas [28]: 77, 83, QS. Al-`Ankabut [29]: 36; QS. Ar-Rum [30]: 41; dll.).

Radikalisme agama memang terjadi dalam kehidupan, sebagaimana radikalisme lainnya di belahan bumi manapun. Stigma radikalisme Islam itu begitu kuat dan kadang bersentuhan dengan Islamophobia, yang akarnya kompleks, sebagaimana dijelaskan Esposito dan Deyra (2018): “radicalism is used interchangeably when referring to Islamist radicalism or generically to denote levels of extremity. Islamophobia and Islamist Radicalism are exclusivist ideologies which survive and thrive by blaming, defaming and despising the other and such exclusivist ideologies do not occur in a vacuum.”. Fakta sosial pun tidak terbantahkan adanya gerakan kaum radikalis-ekstirmis seperti Hizbut Tahrir, Al-Qaeda, Jamaah Islamiyah, dan berbagai kelompok Jihadis baik di tingkat global maupun nasional dan lokal yang menimbulkan banyak persoalan dan kekerasan dalam perikehidupan umat manusia di era mutakhir.

Senin, 09 Desember 2019

ELYDA DJAZMAN; Pendidik dan Aktivis ‘Aisyiah


Djazman, Elyda (11 Juli 1940 -        ) lahir di Medan. Beliau adalah putri pasangan HM Bustami Ibrahim dan Rohana yang keduanya  berasal dari Bukittinggi dan aktifis Muhammadiyah. Elyda sejak kecil dibesarkan dalam keluarga Muhammadiyah. Ia menapaki pendidikan dimulai dari Sekolah Dasar, Sekolah Menengah, sampai Sekolah Guru Atas/SGA Muhammadiyah Medan. Kemudian beliau merantau ke Jawa, masuk Institut Keguruan Ilmu Pendidikan (IKIP) Muhammadiyah Surakarta tahun 1960 – 1962. Ia semoat rehat setahun karena kembali ke Medan. Kemudian pada tahun 1963 – 1964, beliau menyelesaikan Sarjana Muda (BA). Setelah itu, beliau rehat lagi karena kembali ke Medan untuk mengajar di sana. Setelah itu, beliau menyelesaikan studinya program Sarjana di Surakarta pada tahun 1966 – 1967. Pendidikan nonformal diperoleh dari berbagai kursus dan pelatihan di Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dan Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA).
Elyda menapaki karir dari sebagai guru Sekolah Dasar Muhammadiyah Medan pada tahun 1958 – 1960. Kemudian beliau mengajar di Pendidikan Guru Agama (PGA) ‘Aisyiyah Medan pada tahun 1962 – 1963. Setelah itu, beliau mengikuti kuliah dan lulus  Sarjana Muda (setingkat vokasi)  di IKIP Muhammadiyah (sekarang UMS) Surakarta. Kemudian beliau kembali ke Medan untuk mengajar di Sekolah Guru Taman Kanak-Kanak (SGTK) tahun 1964 – 1966 sebagai guru negeri yang diperbantukan. Pada tahun 1967, Elyda melanjutkan kuliah tingat Sarjana di Surakarta sambil mengajar di Sekolah Pendidikan Guru (SPG) ‘Aisyiyah setempat sampai tahun 1984. Pada tahun 1984 – 19999, beliau mengajar di Sekolah Pendidikan Guru Muhammadiyah Yogyakarta tahun 1984 – 1999.
Keculai bergerak dalam pendidikan Muhammadiyah, isteri Djazman Al KIndi ini pernah menjadi Wakil Ketua Nasyiatul ‘Aisyiyah Cabang Medan  tahun 1960. Kemudian ketika kuliah di IKIP Muhammadiyah Surakarta, beliau menjadi anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan pada tahun 1963 – 1964 menjadi anggota Badko HMI Jawa Tengah. Mulai tahun 1964, beliau menjabat Ketua Bagian Pembinaan Kader PP Nasyiatul ‘Aisyiyah dan pada saat itu beliau juga mengajar di SGTK ;Aisyiyah Surakarta.
Pada Muktamar ‘Aisyiyah ke-40 tahun 1978, beliau dipercaya duduk dalam kepengurusan PP ‘Aisyiyah sebagai bendahara. Dalam beberapa kali Muktamar ‘Aisyiyah, beliau terpilih sebagai Ketua PP ‘Aisyiyah berturut-turut pada periode 1985 – 1990, 1990 – 1995, 1995 – 2000. Selama memimpin ‘Aisyiyah, beliau telah melakukan lawatn ke luar negeri seperti ke Saudi Arabia, Malaysia, Bangkok, Turki, Singapura, dan Belanda.
(Imran Nasri)

Kamis, 05 Desember 2019

SITI BADILAH ; Berulang kali Menjadi Ketua A’isyiyah




Kelahiran Yogyakarta ini merupakan salah satu dari 6 murid perempuan yang dididik langsung oleh K.H.Ahmad Dahlan dan Ny. Ahmad Dahlan. Di pagi hari, Siti Badilah sekolah di Sekolah Netral, dan sore hari digembleng pengatahuan agama Islam oleh K.H.Ahmad Dahlan sendiri. Kursus Alquran ini kemudian menjadi Sapa Tresna  Disamping itu, beliau juga mendapat didikan dari MULO. Setelah tamat dari MULO, oleh K.H. Dahlan, beliau ditugasi untuk bertabligh di kalangan pelajar yakni di Kweekshool Yogyakarta dan luar Yogyakarta. 
            Pada tahun 1917, saat itu Hoofdbestuur (HB)  Muhammadiyah membentuk bahagian ‘Aisyiyah, Siti Badilah dipercaya sebagai sekretaris/penulis dan ketuanya adalah Siti Bariyah. Kemudian ketika HB Muhammadiyah bahagian ‘Aisyiyah akan menerbitkan majalah Soeara ‘Aisjijah  , maka Siti Badilah dipercaya sebagai staf redaksi bersama dengan Siti Juhainah (pimpinan redaksi), Siti Aisjah, dan Siti Jalalah.
Siti Badilah berulang kali terpilih untuk menduduki jabatan Ketua ‘Aisyiyah, bahkan sejak kepemimpinan Siti Bariyah (1917 – 1920) beliau telah aktif dalam jajaran HB Muhammadiyah bahagian ‘Aisyiyah. Kemudian dalam kongres Muhammadiyah ke 29 yang berlangsung di Yogyakarta, Siti Badilah mendapat amanah sebagai ketua Majelis ‘Aisyiyah untuk periode 1941 – 1943.
Kemudian pada Muktamar Muhammadiyah ke 31  di Yogyakarta tahun 1951, Siti Badilah dipercaya sebagai Ketua ‘Aisyiyah untuk periode 1951 – 1953. Juga pada Muktamar Muhammadiyah di Purwokerto tahun 1953 beliau terpilih lagi sebagai Ketua ‘Aisyiyah
(Lasa Hs)


Fikih Kebinekaan

Judul Buku : Fikih Kebinekaan
Pengarang : Ahamad Syafii Ma`arif,dkk. 
Penerbit : Maarif Institut dan Mizan


Fikih Kebinekaan adalah sebuah rumusan fikih yang berpijak pada fenomena keragaman di masyarakat. Tujuannya adalah untuk memberikan panduan filosofis, teoretis-metodologis, dan praktis kalangan umat Islam Indonesia dalam mendorong hubungan sosial yang harmonis, menghilangkan diskriminasi, memperkuat demokratisasi, dan memberikan landasan normatif-religius bagi negara dalam memenuhi hak-hak warga masyarakat secara berkeadilan.

Pembahasan Fikih Kebinekaan dilandaskan pada aspek metodologis, yaitu merekonstruksi model pembacaan terhadap doktrin-doktrin kunci agama yang termaktub dalam kitab suci. Fikih Kebinekaan mensyaratkan proses pembacaan secara kritis-kontekstual-historis terhadap literatur keagamaan dengan mempertimbangkan konteks sosial yang senantiasa berkembang secara dinamis. Model pembacaan tersebut dilakukan dengan menekankan pada makna yang sesuai dengan tujuan hukum Islam (maqâshid al-syar'ah) untuk mencapai kemaslahatan umum (al maslahah al-'ammah).

Buku ini membahas tiga topik utama yang menjadi isu penting dalam kajian fikih mu'âmalah (hubungan sosial) dan fikih siyâsah (polit Kontemporer, yaitu konsep umat yang lebih terbuka dan egalitik hubungan sosial antar umat beragama dalam relasi setara tandiskriminasi, dan kepemimpinan non-muslim dalam masyarakat yang majemuk.