Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Senin, 20 Mei 2019

PERPUSTAKAAN UNISA YOGYAKARTA ADAKAN BUKBERPUS SAMBIL DISKUSI BUKU “A.C.U.H”


Perpustakaan Unisa Yogya bekerja sama dengan Prodi Komunikasi Unisa menyelenggarakan kegiatan BukBerPus dan Diskusi Buku A.C.U.H” pada hari Sabtu tanggal 18 Mei 2019. Ya, Bukberpus adalah Buka Bersama Perpustakaan di bulan suci Ramadhan. Acara dimulai dengan penyampaian literasi informasi tentang akses berbagai sumber oleh Kepala Perpustakaan Unisa Yogyakarta, Ibu Irkhamiyati, M.IP. Perpustakaan selalau mengajak untuk gemar membaca dan tidak bingung mencari informasi.
Bukberpus kali adalah yang ke 2, yang dilakukan di halaman parkir Gedung A kampus Terpadu Unisa Yogyakarta. Jumlah peserta sekitar 150 orang baik dari dalam dan luar Unisa. Peserta dari luar seperti dari UAD, MMTC, UPN, dan beberapa perguruan tinggi serta SMA/SMK di Yogyakarta.
Agung Purwandono sebagai Narasumber, sekaligus pimpinan redaksi Kedaultan Rakyat, memberikan apresiasi atas terbitnya buku A.C.U.H. Dia juga memberikan pujian kepada para penulis karena telah berani memunculkan tema-tema yang beragam dan menantang. Tema Sengsu dan bakso babi yang banyak dikupas dalam diskusi ini. Pak Agung juga mengupas bagaimana cara mendapatkan informasi yang akurat, cara minta ijin untuk melihat, mewawancarai dan mendokumentasikan kegiatan, sebagai bagian dari jurnalisme.
Aliefah Rachma sebagai perwakilan dari penulis menyampaikan suka duka penulisan buku ini. Dia menyampaikan proses pengumpulan materi sampai dengan proses cetak yang memakan waktu lama dikarenakan naskah yang diberikan kepada penerbit masih banyak kekeliruan dalam penulisannya. Kegiatan ini di tutup dengan buka Bersama dan pemutaran film menggunakan bioskop keliling dari Pusbang UMY. Film yang diputar adalah karya mahasiswa Prodi Komunikasi Unisa dan Pusbanmg UMY. Acara berakhir pada pukul 23.00 WIB. Acara ini memberikan banyak manfaat bagi civitas akademika Unisa dan peserta dari luar Unisa. (Irkhamiyati)

Keadaban Dunia Digital, Era Post-Truth, dan Ancamanny


Bicara beragama yang mencerahkan khususnya dalam membangun keadaban tentu memiliki kaitan dengan nilai-nilai fundamental Islam yang menjadi fondasi dari nilai keadaban yang dalam bahasa normatif kita tentang akhlak. Tetapi akhlak yang kemudian di elaborasi atau dikontruksi menjadi etika individual dan etika sosial dalam kehidupan masyarakat itulah yang disebut keadaban.
Hal ini disinggung Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah dalam Pengajian Ramadhan 1440 H Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DIY di Amphitorium, Kampus Utama Universitas Ahmad Dahlan (UAD) yang mengusung tema “Keadaban Dunia Digital Muhammadiyah”
Dalam paparan materinya “Beragama yang Mencerahkan di Era Digital” itu, Haedar mengupas akar epistemologi bagaimana dunia digital itu lahir.
Bicara dunia digital adalah dunia masyarakat modern yang kehidupan sehari-harinya disebut sebagai every the live itu dipengaruhi dan menggunakan instrumen yang paling dominan yakni teknologi digital yang serba mesin sejak internet bahkan mutahir tentang fenomena artificial intelligence(baca: kecerdasan buatan) dan berbagai perangkat yang di bangun di atas sistem numerik yang menjadi alat kita berkomunikasi lewat teknologi informasi bahkan melahirkan media sosial yang kita pakai sehari-hari dimana kita sekarang berinteraksi lewat facebook, twitter, instagram dan whattapps yang paling mudah.
“Bahkan penggunaan digital itu bukan hanya alat bagi kita, tetapi sudah menjadi kebutuhan yang melekat dengan manusia modern yang kita semua bahkan sudah masuk dalam tahap “kranjingan”, persis seperti pengguna narkoba, yang kalau tidak menggunakan itu ada sesuatu yang hilang,” ucap Haedar.
Dunia digital, lanjut Haedar, merupakan dunia baru bagi kita dan masyarakat yang ada di belahan negara lain. Ketika orang menyebut globalisasi sebagai hadirnya era 3.0, dan kini sudah masuk bicara era industri 4.0 dan sebagainya, sebenarnya banyak hal positifnya karena lewat dunia kita dengan perangkat-perangkat teknologi digital itu dapat semakin mudah berkomunikasi dalam tempo yang sangat cepat dan singat, mungkin tidak akan pernah mengenal waktu bahkan melampaui ruang.  
Bahkan kata Haedar, dunia digital telah menjadi impersonal sehingga dalam relasi kita dengan orang lain bahkan untuk menumpahkan amarahnya dengan kebencian, dendam, dan asrikulasi lain nyaris tidak ada sekat berbeda ketika kita berhubungan langsung antara personal.
“Kita tidak lagi menjadi masyarakat personal tetapi impersonal. Nah ini dunia baru bagi kita semua, “kata Haedar.
Namun tanpa disadari juga banyak hal positif yang didapat dari dunia digital, misalnya lebih gampang mencari informasi melalui google, tetapi harus tetap kritis apalagi daya kritis sekarang menjadi lemah karena serba sudah ada.
Ancaman Dunia Digital terhadap Kemanusiaan       
Kendati banyak hal positif lewat dunia digital, singgung Haedar, ada banyak pula ancaman terhadap dunia kemanusiaan kita. Apa ancaman dunia digital terhadap kemanusiaan itu? Pertama, ada yang disebut oleh Jean Baudrilladr sebagai fenomena simulacra atau simulacrum, yaitu dunia khayal kemudian dikontruksi lewat dunia digital yang imaji (khayal, fiktif atau fiksi) itu seolah menjadi realitas.
“Apalagi dengan permainan teknologi seolah bisa menyambung berita yang terpenggal-penggal dan tidak ada hubungannya itu kemudian dihubung-hubungkan seolah berhubungan. Orang tidak lagi kritis kenapa itu terjadi, tetapi dunia imaji yang seperti itu sekarang bertebaran setiap detik lalu menciptakan kontruksi itu sesuatu yang benar,” sebut Haedar.
Sehingga manusia menjadi kehilangan kalau dalam istilah Kiai Dahlan adalah kehilangan ‘akal suci’ nya, yaitu akal qolbu syalim, akal yang mencerahkan yang di dalamnya selalu ada dialog di dalam akal itu tentang baik-benar, baik-buruk, pantas dan tidak pantas lalu diambil mana yang lebih baik.
Itu menjadi lemah (luruh) atau tumpul daya akalnya. Atau kalau meminjam istilah Immanuel Kant itu, sebagai hilangnya ‘sapere aude’, yaitu manusia yang berakal murni lalu menjadi akil baligh, dan setelah dia aqil baligh itu manusia menjadi dewasa termasuk dewasa dalam berfikir dan ada keberanian untuk berfikir, mengelaborasi dan mengekspresikan akal pikirannya lalu melahirkan pikiran-pikiran cerdas. Bahkan melahirkan ilmu pengetahuan.
“Nah ditengah dunia simulacra, manusia menjadi tumpul daya ‘sapare aude’ nya. Lalu menusia menjadi kembali ke masa kekanak-kanakan,” jelas Haedar.
Hal lain dari ketergantungan digital sebut Haedar, mulai adanya kecemasan tentang hidup masa depan, bahkan tentang kematian lalu dia mencoba mencari apa yang disebut oleh Sigmund Freud sebagai ‘self defense mechanism’ (mekanisme pertahanan diri), orang kehilangan kedewasaanya lalu dia kembali menjadi childish(kekanak-kanakan), dan dia menjadi larut di situ.
Kedua,adalah fenomena yang disebut oleh Travis sebagai ‘post truth’ (dunia pasca kebenaran). Hal ini menrut Haedar juga sangat akrab di dunia akademisi, dan semakin populer.
Apa yang disebut post truth itu, Haedar menyebutkan manusia sekarang lewat media sosial dan interaksi melalui digital mempercayai kebenaran dan sampai pada keyakinan kebeneran itu, tetapi bukan dari pencarian, terutama pencarian akal pikiran dan pergumulan tentang data, dan tentang fakta.
“Tetapi mereka menerima kebenaran sebagai hasil dari apa yang disebut keyakinan dan imajinasi atau semacam prasangka-prasangka personal, yang diproduksi menjadi masif. Hal itu yang lama kelamaan orang menerima sebagai kebenaran,”sebut Haedar.
Kata Haedar, mengubah alam pikiran dari post truth ini tidak lah mudah. Ini yang sebagian sosiolog disebut sebagai masyarakat yang dulu rasional termasuk para akademisi dan ilmuan (sosial atau eksakta) yang biasa dia yakin dengan angka-angka, numerik, fakta, data dan objektifitas (kualitatif atau kuantitatif). Itu tidak lagi hirau.
“Fenomena ini melahirkan apa yang disebut seperti rational irrationality (irasionalitas rasional), masyarakat yang rasional tetapi menjadi irrasional,” sebut Haedar. (Andi)


sumber : http://www.muhammadiyah.or.id/id/news-16761-detail-keadaban-dunia-digital-era-posttruth-dan-ancamannya.html

Kamis, 16 Mei 2019

WORKSHOP PROGRAMMING AT THE LIBRARY


Jum`at , 10 Mei 2019 Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengadakaan serangkaian kegiatan dengan tema “Live Love Library” (L3). Kegiatan  L3 tersebut dimaksudkan agar dapat membranding Perpustakaan UMY sehingga dapat menumbuhkan citra yang baik bagi civitas akademika. Ada 4 acara dalam rangkaian kegiatan L3, salah satunya yaitu workshop “Programming at the library”. Acara tersebut dilaksanakan di ruang sidang Perpustakaan UMY (Gedung D LT. 3) dimulai pada pukul 13.00 – 15.00 WIB.
Workshop tersebut dihadiri oleh beberapa peserta, yaitu pustakawan UMY, volunteer Muhammadiyah Corner, volunteer American Corner (Amcor), volunteer Warung Perancis (WP), serta pustakawan dari berbagai perguruan tinggi di Jogja dan DIY. Acara workshop ini di isi oleh Puthut Ardianto,M.Pd. Beliau merupakan dosen Pendidikan Bahasa Inggris di UMY, serta merangkap sebagai Direktur Amcor dan WP. Melalui pengelaman mengelola ke dua corner tersebut, beliau berhasil membawa Amcor dan WP menjadi juara terbaik tingkat Nasional. Salah satu indikator penilaiannya yaitu bagaimana Amcor dan WP mengemas beberapa kegiatan sehingga menjadi menarik.
Tujuan diadakannya workshop ini yaitu agar perpustakaan tidak lagi dianggap hanya sebatas kumpulan buku, akan tetapi bagaimana peprustakaan mempunyai kegiatan yang inovatif sehingga dapat menarik pengunjung perpustakaan. Dalam kesempatan itu, beliau menjelaskan banyak hal, diantaranya pentingnya menetapkan tujuan terlebih dulu sebelum mengadakan kegiatan, bagaimana membuat kegiatan yang mampu mendukung visi institusi, trik membuat tagline yang simple,  membuat judul kegiatan yang menarik, pentingnya konfirmasi peserta sebelum acara dimulai, manajemen waktu, dsb.

Minggu, 05 Mei 2019

Live, Love, Library



Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) mengadakan serangkaian kegiatan yang diberi tema Live, Love, Library. Kegiatan tersebut berupa :
1.     Pelatihan Strategi Pencarian Ide Kreatif
Narasumber : Oki Wijaya, S.P., M.P (kepala Devisi PKM LPKA UMY)
Tempat          : Ruang siding Lt. 3 Gedung Perpustakaan UMY

Tanggal 9 Mei 2019, Pukul 08.30 – 11.30 WIB


2.     Nonton Bareng Fil Sang Pencerah dan Bedah Sejarah Muhammadiyah
Narasumber : Ikhwan Ahada,S.Ag., M.Ag.

Tempat : Mini theater Lt 4 Gedung Perpustakaan UMY
Tanggal 10 Mei 2019, Pukul 08.00 – 11.00 WIB. 


3.     Workshop Programming at the library
Narasumber : Puthut Ardianto,M.Pd (Director American Corner UMY)

Tempat          : Ruang siding Lt. 3 Gedung Perpustakaan UMY
Tanggal 10 Mei 2019, Pukul 13.00 – 15.00 WIB.


4.     Training Public Speaking for Teacher Librarian
Narasumber : Ranny Al Banny (MC dan Public Speaking Trainer)
Biaya : Rp. 150.000,-
Tempat          : Ruang siding Lt. 3 Gedung Perpustakaan UMY
Tanggal 11 Mei 2019, Pukul 09.00 – 15.00 WIB

Informasi lengkap : 087715200505
Pendaftaran : bit.ly/2vgg86o



Rabu, 01 Mei 2019

Pembentukan HIMPUSMA dan Pemberian Hibah dalam Pelatihan Perpustakaan Sekolah Muhammadiyah Se Kabupaten Sleman Oleh Perpustakaan Unisa Yogyakarta



Senin, 29 April 2019, mulai pukul 08 sampai 15.00 WIB, bertempat di Kampus Terpadu Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, telah dilakukan pelatihan Perpustakaan Sekolah Muhammadiyah se Kabupaten Sleman. Pelatihan kali ini merupakan tindak lanjut dari pelatihan yang sudah diselenggarakan Perpustakaan UNISA Yogya selama dua tahun berturut-turut sejak 2016 yang lalu. Pelatihan ini terselenggara atas kerja sama antara Peprustakaan Unisa Yogyakarta dengan Majlis Dikdasmen PDM Sleman.
Bpk. Dr. H. Suwadi, M.Ag., M.Pd, selaku Ketua Majlis Dikdasmen PDM Sleman, dalam sambutannya menyampaikan bahwa poin kelemahan akreditasi sekolah pada tenaga pendidik, termasuk petugas lab dan perpustakaan. Dengan begitu beliau berharap agar pelatihan ini dapat menjadi motivasi petugas perpustakaan untuk meningkatkan kualitasnya, dengan berpedoman pada amalan IQRA untuk memotivasi murid gemar membaca dan meningkatkan gerakan literasi di sekolah. Beliau juga menyampaikan bahwa pelatihan ini sebagai bentuk sinergi yang diprakarsai oleh Perpustakaan Unisa Yogyakrta ini sebagai bentuk kepedulian terdahap sesama amal usaha Muhamamdiyah ‘Aisyiyah. Oleh karena itu, beliau sangat menyambut baik akan pelatihan ini, terlebih karena dalam pelatihan ini juga diberikan hibah ke beberapa sekolah Muhammadiyah di Kabupaten Sleman. Selain itu juga dibentuk pengurus HIMPUSMA sebagai wadah pengelola perpustakaan sekolah Muhammadiyah di Kabupaten Sleman.
Ibu Warsiti, M.Kep., Sp.Mat, Rektor Unisa Yogyakarta, dalam sambutannya juga menyampaikan apresiasi yang tinggi atas terselenggaranya pelatihan ini, agar menguatkan jejaring antara sesama perpustakaan sekolah yang dimotori oleh Perpustakaan Unisa Yogyakarta. Rektor berharap dengan adanya HIMPUSMA Sleman nantinya dapat saling tolong menolong dan sharing antar Perpustakaan Sekolah Muhammadiyah. Sekolah yang menerima hibah buku dan komputer kali ini yaitu SMK Muhammadiyah Berbah, SMK Muhammadiyah 1 Tempel, SMK Muhammadiyah 1 Moyudan, dan SMA Muhammadiyah Kalasan. Hibah diserahkan oleh Rektor Unisa, yang diterima oleh kepala sekolah masing-masing atau yang mewakili, dan disaksikan oleh Ketua FPPTMA serta Ketua Majlis Dikdasmen PDM Sleman Yogyakarta. Hibah bertujuan untuk mewujudkan dan meningkatkan otomasi perpustakaan.


 Materi pelatihan diawali tentang manajemen dan standar mutu perpustakaan sekolah yang disampaikan oleh Kepala Perpustakaan UMY, sekaligus Ketua Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammdiyah ‘Aisyiyah (FPPTMA), Drs. Lasa Hs, M.Si. Materi selanjutnya tentang otomasi perpustakaan menggunakan SLiM/Senayan Library Information System yang disampaikan oleh Abdul Wachid Azis, A.Md, Pustakawan Perpustakaan SMA Muhammadiyah I Yogyakarta dibantu oleh Subhi Waltono, S.I.Pust. (Pustakawan SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta). Jumlah peserta yang hadir ada 97 dan sangat antusias mengikuti acara sampai selesai, yang menunjukkan keseriusan pengelola Perpustakaan Sekolah Muhammadiyah se Sleman untuk maju Bersama.  Irkhamiyati, M.IP., selaku ketua panitia sekaligus Kepala UPT Perpustakaan UNISA Yogyakarta mengucapkan terima kasih kepada semua tim perpustakaan dan pihak terkait lainnya yang sangat mendukung lancarnya pelatihan ini. Pelatihan yang merupakan wujud pembinaan terhadap Perpustakaan Sekolah Muhammadiyah di wilayah sekitar UNISA Yogyakarta sebagai perwujudan amanah dari FPPTMA ini inshaalloh akan menjadi program rutin Perpustakaan Unisa selanjutnya.  (Irkhamiyati-April 2019).