Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

MOMEN

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Minggu, 24 Januari 2021

Ojo Sok Goroh (Jangan berbohong)

NASIHAT PENDAHULU KITA

Tulisan 10

         Ojo Sok Goroh (Jangan berbohong)

            Kejujuran kini menjadi barang mahal dan kebohongan seolah-olah dilegalkan lantaran banyak yang melakukannya. Maka seakan-akan ada pembenaran bahwa kegiatan yang telah umum itu  dianggap benar. Artinya kita ini membenarkan yang umum dan tidak mengumumkan yang benar. Maka kini tidak sedikit orang yang keblinger karena mengikuti kejahatan dan kebohongan secara kelompok.

            Kebohongan merupakan penyakit kejiwaan manusia sekaligus penyakit kronis masyarakat. Akibat kebohongan antara lain dapat menurunkan kredibilitas seseorang, menafikan kepercayaan masyarakat, dan menurunkan kewibawaan atasan di mata bawahan. Sedangkan kejujuran akan meneguhkan kepercayaan masyarakat pada seseorang dan mengangkat derajat seseorang.

            Mereka yang tamak jabatan dan kekuasaan kadang tidak segan-segan melakukan kebohongan untuk meraih dan/atau mempertahankan jabatan. Berbagai cara kebohongan dan kelicikan dilakukan untuk memenangkan kepentingan diri dan kelompoknya. Mereka tidak malu lagi untuk melakukan segala cara untuk mempertahankan kedudukannya.

            Orang berlaku bohong lantaran ketidakberdayaan seseorang dalam mengendalikan hawa nafsu terutama nafsu kekuasaaan, golongan, gengsi, atau memperjuangkan orang lain. Pada saat itu nurani manusia tertutup oleh berbagai kepentingan. Lalu nuraninya tidak mampu membuat keputusan yang jernih. Semestinya nurani itu bicara dan memberikan keputusan terakhir dalam penentuan tindakan. Sebab hati nurani itu pada dasarnya tidak bohong. Ia dapat memutuskan sesuatu dengan tepat dan mengetahui mana yang salah  dan mana yang benar.

            Besar kecilnya dampak kebohongan tergantung pada status dan peran orang dalam struktur masyarakat. Kebohongan yang dilakukan oleh pejabat publik atau mereka yang memiliki status sosial tinggi, akan memengaruhi citranya dalam masyarakat. Sebaliknya kebohongan yang dilakukan oleh orang yang tidak memiliki kedudukan berarti, maka hal ini tidak begitu besar pengaruhnya terhadap citra masyarakat padanya.

            Kejujuran akan meningkatkan kepercayaan masyarakat atau bawahan pada pimpinan. Kemudian kebohongan akan menurunkan kredibilitas seseorang. Kemudian kufur dan kemusyrikan adalah kerangkanya. Maka betapa pentingnya kejujuran. Hal ini sebagaimana ditekankan oleh Rasulullah Saw dalam sabdanya :” Ada empat perkara yang Insyaa Allah akan melancarkan kamu sekalian dari segala urusan dunia, yakni melaksanakan amanah, jujur dan benar dalam perkataan, berakhlak karimah, dan baik dalam usaha “ (H.R. Ahmad).

            Kini masyarakat memerlukan kejujuran dan keterbukaan. Mereka telah jenuh dengan kebohongan yang dipertontonkan pada masyarakat. Kejujuran akan mengangkat posisi seseorang dalam sistem kemasyarakatan dan menumbuhkan kepercayaan masyarakat. Rasulullah Saw menytakan :” Sebesar-besar pendustaan kalau orang mengaku bahwa matanya itu melihat apa yang sebenarnya tidak melihat, mengaku mimpi apa yang tidak diimpikan:. (H.R. Bukhari)

 

Lasa Hs

Kamis, 21 Januari 2021

DADIA GURU, AJA GRUMUTAN LAN AJA NGGRUMUT DUWEKE LIYAH

NASIHAT PENDAHULU KITA

TULISAN - 8

DADIA GURU, AJA GRUMUTAN LAN AJA NGGRUMUT DUWEKE LIYAH

 

Nasihat nenek moyang kita tersebut cukup singkat tetapi padat makna. Dadia guru N bermakna sedapat mungkin jadilah orang yang digugu (didengar, ditunggu nasihatnya, dinantikan tulisannya (buku, artikel, dll). Juga ditiru (diteladani, dicontoh, dan diikuti) perilaku, perangai, tindakan, dan perjuangan dan kerja kerasnya.        

Orang yang digugu lan ditiru itu tidak harus secara formal mendapat SK sebagai tenaga pendidik (guru, dosen, tutor, dll). Mereka itu adalah sosok yang menyebarkan ilmu pengetahuan, nilai, dan ajaran dan bisa memberikan contoh perilaku yang baik dan benar. Apa yang dikatakan itu sesuai apa yang dilakukan. Mereka berani merubah perilaku diri dari yang jelek menjadi yang baik. Perilaku ini akan melahirkan kepribadian yang kokoh untuk menjadi orang yang lebih baik. Kalau orang sudah menjadi baik perkataan, perilaku, dan sikap hidupnya sesuai ajaran agama yang dianutnya atau nilai-nilai moral yang berlaku, maka  mereka itu akan memiliki kedudukan yang eksis dalam komunitasnya. Mereka yang mampu menjaga eksistensi diri dan kehormatan diri, mereka akan memberikan manfaat pada orang lain. Orang seperti ini Insyaa Allah akan dihormati orang lain. Dari sini cepat atau lambat akan dicontoh, ditiru, atau diteladani tindakannya, semangatnya, dan kerja kerasnya.

Aja grujmutan berarti jangan melangkah untuk menuju pada perbuatan yang tidak terpuji. Sebab perbuatan tidak terpuji ini bisa menurunkan harga dan jati diri, memalukan keluarga besar, merugikan negara, dan merusak citra profesi dan negara.

Aja nggrumut duweke liyan berarti jangan sampai mengambil hak orang lain seperti mencuri, korupsi, manipulasi, plagiasi, merampok dan lainnya. Perilaku seperti ini bisa meresahkan masyarakat dan mengganggu stabilitas politik, ekonomi, dan sosial.

 

 

Lasa Hs.

 

Rabu, 20 Januari 2021

IBU KAUM MUSLIMIN

 

IBU KAUM MUSLIMIN

Mulia, indah, cantik berseri
Kulit putih, bersih, merah di pipimu
Dia Aisyah, putri Abu bakar
Istri Rasulullah

Sungguh sweet Nabi mencintamu
Hingga Nabi minum di bekas bibirmu
Bila marah, Nabi 'kan bermanja
Mencubit hidungnya

Aisyah, romantisnya cintamu dengan Nabi
Dengan baginda kau pernah main lari-lari
Selalu bersama…

 

Lagu di atas mengalun sangat merdu, dibawakan generasi milenial, kecintaan generasi milenial kepada ibu seluruh umat muslim digambarkan secara indah tentang wanita yang sangat mulia dan wanita yang sangat dicintai oleh Rasululluah SAW.   Ummul Mukminin Aisyah yang berparas cantik berkulit putih dengan pipi kemerahan sehingga Rasulullah memberikan julukan  “Humaira”. Aisyah wanita yang disiapkan Allah untuk menjadi pendamping Rasulullah SAW dalam mendampingi beliau bertugas untuk menyampaikan risalah Islam. Dalam HR tirmidzi “ Dalam salah satu Riwayat bahwa suatu hari Malaikat Jibril memperlihatkan kepada Rasulullah SAW, “gambar Aisyah pada secarik kain sutra hijau sembari mengatakan “ Ia adalah calon istrimu kelak, di duia dan di akhirat”.

Keteladanan ibu kaum muslim ini sungguh luar biasa, kecerdasan meliputi berbagai ilmu diceritakan  oleh Hisyam Bin Urwah dari ayahnya berkata “ Sungguh aku telah bertemu dengan Aisyah, maka aku tidak mendapatkan seorangpun yang lebih pintar darinya tentang Al-Qur’an , perkara wajib, Sunnah, ilmu nasab, sejarah Arab, syair dan ilmu-ilmu lain termasuk ilmu kedokteran” Ilmu kedokteran didapatkan dari pengalaman beliau sakit memperatikan gejala-gejalanya, ketika ada orang sakit menceritakan penyakitnya  Beliau dengar dan dihafalkan. Beliau banyak meriwayatkan hadist, lebih dari 2000 hadist diriwayatkan beliau dari Rasulullah SAW dan menjadi guru baik utuk kaum muslimat maupun kaum muslimin. Beliau dididik di Madrasah nubuwah, madrasah iman dan madrasah para pahlawan, dari guru yang sangat mulia Nabi Muhammad SAW dan Abu bakar Ash Shidiq.

Sebagai istri beliau  menjadi istri yang romantis, penyejuk mata dan penenang jiwa buat suami tercinta Rasululah SAW saat menghadapi ummatnya dalam menyampaikan Risalah. Kesabaran beliau ketika suatu saat tidak ada makanan yang bisa dimakan bersama suami tercinta bahkan beberapa hari tidak ada asap roti dan masakan rasa lapar beberapa hari diobati hanya dengan makan kurma dan air.  Kedermawanan beliau  sungguh luar biasa diceritakan ketika beliau mempunyai seratus ribu dirham beliau sedekahkan  semua sampai tidak ada suatu apapun dirumahnya padahal beliau sedang shaum, sampai tidak ada yang akan dimasak ketika beliau akan berbuka. Kefakiran  tidak membuat beliau menjadi sedih, meratap dan  Kekayaan tidak menjadi beliau congkak, pelit. Karena beliau selalu menjaga izzah di jiwanya sehingga dunia bukan segalanya, Allah yang menjadi tujuan segalanya.  

 

Dari kisah Ummul Mukminin Aisyah bisa diambil teladan:

  1. Hendak menjadi seorang ibu selalu belajar mencari ilmu dan mencari teladan orang –orang sholeh, karena sebagai madrasah pertama bagi anak-anaknya untuk mendidik generasi yang beriman dan berakhlak mulia.
  2. Perlakuan baik istri kepada suami akan menjadi penyejuk dan penenang hati bagi suaminya dan menjadi kebanggan tersendiri.
  3. Kesabaran dalam menghadapi cobaan, dilalui dengan bersandar kepada Allah.kefakiran tidak membuat berkecil hati.
  4. Harta yang banyak tidak membuat congkak, karena semua akan kembali kepada Allah

 

By. Tri Mulyati_Pustakawan Perpustakaan UMS

Minggu, 17 Januari 2021

AKREDITASI PERPUSTAKAAN SEKOLAH/MADRASAH MUHAMMADIYAH-‘AISYIYAH : Tulisan 1

 

Pengantar

        Sesuai misi FPPTMA antara lain membina perpustakaan Amal Usaha Muhammadiyah (antara lain perpustakaan sekolah/madrasah), maka diharapkan setiap perpustakaan PTMA membina perpustakaan Amal Usaha Muhammadiyah di wilayahnya.

        Untuk itu, mengingat semakin banyak perpustakaan sekolah/madarash Muhammadiyah-‘Aisyiyah yang berbenah dan ingin mengajukan akreditasi, maka bersama ini diberikan arahan. Untuk itu mohon bantuan teman-teman perpustakaan PTMA semoga berkenan menyampaikan tulisan ini pada perpustakaan sekolah/madrasah Muhammadiyah-‘Aisyiyah di wilayah masing-masing.

 

A.   Akreditasi sebagai Standar Mutu

        Di era kompetitif ini, para penyedia jasa dan pengelola produk berusaha untuk mencapai mutu tertentu. Jasa dan produk yang tidak mutu , maka tidak akan dilirik orang.

Oleh karena itu orang beramai-ramai mencapai mutu layanan dan kualitas barang. Dari sini akan terjadi persaingan yang ketat. Dalam kompetisi ini, penyedia jasa dan penghasil produk yang tidak mutu akan gulung tikar.

        Mutu adalah kondisi dinamis yang berkaitan dengan barang, jasa,  manusia, proses dan lingkungan yang memenuhi atau melampaui batas harapan. Untuk memenuhi mutu tertentu, maka diperlukan standar dan proses standardisasi.

Standar adalah hasil kesepakatan para pihak terkait yang telah didokumentasikan yang didalamnya terdiri dari spesifikasi-spesifikasi teknis, ukuran yang akurat . Standar ini digunakan sebagai peraturan, petunjuk, dan pedoman untuk menjamin bahwa suatu produk atau jasa telah sesuai dengan yang dinyatakan.

Dalam pengertian lain, standar adalah  persyaratan teknis atau sesuatu yang dilakukan, termasuk tata cara dan metode yang disusun berdasarkan konsensus semua pihak/pemerintah/keputusan internasional yang terkait dengan memperhatikan keselamatan, keamanan, kesehatan, lingkungan hidup, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, pengalaman, serta perkembangan masa kini dan masa depan untuk memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya (Undang-Undang No. 20 Tahun 2014 tentang Standardisasi.

        Standardisasi adalah proses merencanakan, merumuskan,  menetapkan, menerapkan, memberlakukan, memelihara, dan mengawasi standar yang dilaksanakan secara tertib dan bekerjasama dengan semua pemangku kepentingan.

Salah satu cara mengetahui suatu jasa atau barang telah memenuhi standar mutu atau belum dengan penyelenggaraan akreditasi. Untuk itu, sejak tahun 2011 Perpustakaan Nasional RI menyelenggarakan  akreditasi pada perpustakaan sekolah, perpustakaan perguruan tinggi, perpustakaan umum , perpustakaan daerah, maupun perpustakaan kota/kabupaten.

Perlunya perpustakaan sekolah/madrasah dilakukan akreditasi yang bisa disebut standardisasi dengan maksud dan tujuan untuk; a) meningkatkan jaminan mutu; b) meningkatkan efisiensi; c) meningkatkan daya saing; d) meningkatkan perlindungan kepada masyarakat; e) meningkatkan kepastian, kelancaran, dan efisiensi kegiatan.

Akreditasi merupakan rangkaian kegiatan pengakuan formal oleh lembaga/badan akreditasi yang menyatakan bahwa suatu lembaga (perpustakaan sekolah misalnya) telah memenuhi persyaratan untuk dilakukan penilaian terhadap kinerja dan sarana prasarana lembaga itu. Proses akreditasi dimulai dari penyusunan borang, melengkapi sarana prasarana dan lampiran-lampiran, sampai visitasi, dan penilaian akhir.

B.Makna Akreditasi

Para pengelola perpustakaan sekolah/madrasah masih banyak yang bertanya-tanya dan cenderung ragu-ragu tentang kegunaan akreditasi. Malah ada yang beranggapan bahwa akreditasi hanya rekayasa dan bisa diatur. Mereka yang beranggapan seperti ini tidak bisa disalahkan. Karena itu hak mereka untuk berpendapat. Dan memang mereka belum tahu makna akreditasi yang sesungguhnya. Mereka itu ibarat orang yang berenang di laut atau di sungai. Mereka itu baru di bagian atas air. Mungkin hanya sampah dan riak air yang terlihat, bahkan ombak yang bergulung-gulung menakutkan.

         Tentu hal ini berbeda dengan orang yang berhasil menyelam ke dasar laut. Mereka mampu melihat panorama alam dasar laut yang indah. Mereka bisa menyaksikan beraneka ragam ikan dan indahnya mutiara.

Akreditasi memiliki makna perubahan. Yang tadinya tidak punya, menjadi punya. Yang tadinya kotor menjadi bersih. Yang tadinya konvensional menjadi modern. Beberapa makna akreditasi antara lain:

1.     Perpustakaan sekolah/madrasah semakin eksis.

       Sebelum akreditasi, mungkin orang melihat perpustakaan sekolah dengan sebelah mata. Sebab tata letak (lay out)nya tidak menarik, ruangnya sempit sesak selonjor saja susah, koleksi sedikit dan lainnya.

        Dengan adanya akreditasi yang menuntut standar perpustakaan, maka kondisinya akan berubah. Perubahan itu meliputi jumlah koleksi, sarana prasarana, anggaran, sumberdaya manusia, dan sistem pengolahan dan layanan

        Apabila perpustakaan telah berhasil terakreditasi dengan nilai sangat baik (A) maka hal ini akan meningkatkan kepercayaan pada pimpinan sekolah, guru, dan siswa.  Dengan adanya kepercayaan ini akan ada peningkatan perhatian dan pemberian fasilitas bagi perpustakaan sekolah/madrasah.

2.     Pemanfaatan tenologi informasi

        Di era teknologi informasi ini, sudah semestinya tidak ada lagi perpustakaan sekolah/madrasah yang masih konvensional. Dengan adanya akreditasi, perpustakaan sekolah dituntut untuk memanfaatkan teknologi informasi dalam pengolahan, manajemen, administrasi, maupun layanan.

      Apabila masih ada perpustakaan sekolah yang konvesional, maka dapat diramalkaa pasti akan sepi pengunjung.

3.     Menuju sistem mutu

        Dengan adanya akreditasi, menuntut pengelolaan perpustakaan sekolah/madrasah oleh tenaga profesional. Tenaga inilah yang nanti akan melakukan pekerjaan kepustakawanan dengan sistem manajemen mutu.

4.     Mendukung kinerja lembaga induk (sekolah)

     Dalam proses akreditasi lembaga induk (sekolah) pasti ditanyakan bagaimana akreditasi perpustakaannya. Apabila ternyata perpustakaan sekolah/madrasah belum terakreditasi,maka hal ini akan memengaruhi nilai akreditasi lembaga induk (sekolah) nya. 

5.     Merupakan indikator kemajuan

        Akreditasi tidak hanya dilakukan sekali, tetapi dilakukan secara rutin dalam jangka waktu tertentu. Apabila suatu perpustakaan sekolah terakreditasi A, maka akan dilakukan reakreditasi setiap 5 tahun sekali. Apabila suatu perpustakaan sekolah terkareditasi B,maka akan dilakukan reakreditasi setiap 4 tahun sekali. Apabila mendapatkan nilai akreditasi C, maka akan dilakukan reakreditasi setiap 3 tahun.

        Proses penilaian ini dilakukan secara rutin untuk mengetahui maju mundurnya suatu lembaga. Maka sangat mungkin terjadi bahwa perpustakaan sekolah dulunya mendapat nilai A, tetapi pada 5 tahun mendatnag turun menjadi nilai B karena pengelolaannya tidak memenuhi standar  dan ini merupakan kemunduran. Demikian pula bisa terjadi bahwa pada akreditasi pertama , perpustakaan sekolah mendapat nilai C, dan 3 tahun kemudian dilakukan reakreditasi lalu mendapat nilai A. Hal ini berarti ada kemajuan sesuai Standar Nasional.

 

Lasa Hs

 

Bersambung

 

ETIKA PELAYANAN PERPUSTAKAAN

     Perpustakaan merupakan lembaga layanan publik, tidak mementingkan keuntungan materi, dan berorieantasi pada jasa.Mungkin faktor inilah yang menyebabkan sebagian besar orang tidak tertarik pada dunia kepustakawanan.Menurut sebagian orang bahwa bekerja di perpustakaan tidak bisa kaya dan kurang bergengsi. Kekayaan harta kadang menjadi tujuan hidup seseorang.Namun perlu direnungkan bahwa orang bodoh itu hidup untuk makan. Sementara orang yang pandai makan itu untuk hidup.Artinya tujuan hidup ini bukan hanya untuk makan, berfoya-foya, mengikuti hawa nafsu, dan lainnya

Oleh karena itu bekerja di sektor pendidikan dan jasa layanan publik, perlu adanya integritas dan dedikasi tinggi dengan mengutamakan kualitas layanan. Dedikasi yang tinggi ini akan menghasilkan layanan yang memuaskan dan memiliki makna dalam kehidupan.

Perilaku layanan inilah yang antara lain sering menjadi sorotan pemustaka apakah suatu perpustakaan itu memberikan layanan yang profesional atau tidak. Perilaku ini akan terkait dengan etika layanan. Oleh karena itu petugas perpustakaan dan pustakawan perlu memahami etika layanan.

Etika merupakan penilaian kelakuan manusia ditinjau dari segi kesusilaan.Di sini, suatu perilaku dilihat dari segi baik buruknya, dan pantas tidaknya untuk dilakukan.Menurut paham instuisionisme bahwa kemampuan untuk membedakan baik buruk perilaku itu memang sudah pembawaan. Sedangkan paham emirisme mengajarkan bahwa segala pengetahuan itu berasal dari  pengalaman manusia. Kemudian paham instrumentalisme menyatakan bahwa susila tidaknya suatu tindakan itu tergantung diri pribadi dan pengalamannya.

Oleh karena itu, masalah etika adalah menyangkut apakah suatu perbuatan itu pantas dilakukan atau tidak  meskipun tidak ada orang yang melihatnya. Misalnya ada atasan memarahi anak buah di depan umum, atau masuk rumah orang lain tanpa minta ijin dulu. Perbuatan seperti ini jelas tidak etis.Dengan demikian, ranah etika bukanlah ranah hukum, tetapi lebih pada masalah moral.

Banyak teori tentang etika pelayanan yang dikemukakan para ahli. Etika semacam ini sudah diaplikasikan oleh beberapa industri, perdagangan, perbankan, dan lembaga layanan publik.  Dalam hal ini Hariadi (2006) menyodorkan teori dasar layanan antara lain:

a.       Memuaskan pelanggan (customer) dengan cara:

1)      Mendengarkan dengan penuh perhatian apa yang dibicarakan oleh pelanggan (tamu, pemustaka, sales, vendor dll). Dalam hal ini, petugas perpustakaan atau pustakawan hendaknya memerhatikan sikap tubuh dan bertindak tenang serta rileks

2)      Menatap wajah pelanggan saat berbicara dengan tatapan yang teduh dan sambil tersenyum

3)      Memperhatikan ekspresi wajah dengan selalu tersenyum

4)      Menanggapi pembicaraan tamu apabila mengharapkan tanggapan

5)      Memperhatikan nada bicara secara wajar. Tidak perlu rendah diri yang berarti kurang percaya diri atau tidak terlalu tinggi (emosional), merasa kesal, atau marah-marah, acuh, dll)

6)      Mengutamakan layanan pada tamu daripada melakukan pekerjaan lain.Jangan sampai melayani tamu sambil main HP. Bila terpaksa menerima tilpon harus minta ijin dulu pada tamu atau orang yang sedang dilayani.

7)      Berusaha memahami gelagat para tamu, misalnya gelisah, berkenan, pasif, positif, dan lainnya

b.      Meningkatkan harga diri pelanggan (customer) dengan cara:

1)      Segera menyambut pelanggan  dan berusaha jangan sampai pelanggan itu menunggu terlalu lama

2)      Menyebut nama pelanggan sesering mungkin dalam pembicaraan

3)      Tidak menggerutu atas kehadiran pelanggan  siapapun mereka

4)      Berusaha memuji pelanggan

c.       Membina hubungan dengan pelanggan (customer)  dengan cara:

1)      Mendengarkan perkataan pelanggan sampai selesai. Hendaknya diusahakan tidak memotong pembicaraan

2)      Berusaha menunjukkan simpati dan berusaha untuk berbicara dengan penuh perasaan

3)      Memberi kesempatan pada pelanggan untuk menanggapi dan sedapat mungkin mencari solusi

d.      Memberikan penjelasan dan keterangan secukupnya dengan cara

1)      Menjelaskan kebijakan secukupmya sampai pelanggan memahaminya

2)      Memberi penjelasan secara baik dan benar

3)      Menanyakan keinginan pelanggan

4)      Mencoba mengklarifikasi keinginan pelanggan dan menarik inti persoalan

e.       Mengalihkan layanan kepada orang lain bila ternyata tidak mampu

Apabila apa yang diinginkan pelanggan itu tidak dapat dipenuhi karena satu dan lain hal, maka harus diusahakan untuk dialihkan ke orang atau lembaga lain. Dengan demikian, mereka bisa memahami bahwa layanan perpustakaan itu professional. Layanan yang baik akan ikut menaikkan citra perpustakaan.

 

Lasa Hs.

 

 

 

 

 

 

Kamis, 14 Januari 2021

BAPAK SAJA YANG MENGAJAR

 

BAPAK SAJA YANG MENGAJAR

 

          Masih di sekitar tahun 1967 – 1968. Pak AR diminta mengisi pengajian rutin setiap hari Rabu. Pengajian ini bertempat di kampung Ledok Ratmakan. Sebuah kampung di lembah Code Yogyakarta. Permintaan ini disanggupi Pak AR. Pengajian berjalan sekitar 2 tahun. Menjelang akhir dua tahun,  Pak AR usul kepada jama’ah agar yang mengisi pengajian diganti ustadz lain. Usul ini dimaksudkan agar jama’ah mendapatkan wawasan lebih luas, disamping memberi kesempatan yang lain untuk mengabdi dan menebarkan kebaikan. Usul inipun diterima jama’ah.

        Pengajian berikutnya diisi ustadz X, dan Pak AR tidak mengisi pengajian itu lagi. Setelah berjalan satu bulan, pengurus sowan Pak AR. Pengurus ini matur bahwa setelah pengajian diisi oleh ustadz X, lalu jama’ahnya mreteli satu persatu . Bahkan Rabu kemarin tinggal dua orang yang datang kata pengurus itu. Kalau Pak AR tidak keberatan dimohon mengisi pengajian Reboan itu. Ustadz X itu tidak mau mengisi pengajian lantaran jama’ahnya hanya dua orang. Memperhatikan ini, Pak AR pun bertanya dengan penasaran. “Mengapa berkurang”. Pengurus itu menjawab :”Pak ustadz X itu ketika mengisi pengajian sangat keras, banyak jama’ah yang tersinggung dan  merasa dikafir-kafirkan, didhalim-dhalimkan, dan difasik-fasikkan. Itu lho beliau membaca beberapa ayat waman lamyahkum bima anzallahu faulaika humul kafirun. Lalu dhalimun lalu fasiqun. Maka jama’ah pada takut dan mreteli. Saya sudah menghubungi jama’ah dari rumah ke rumah supaya aktif kembali ke pengajan. Namun jawaban mereka sama, yakni kalau yang mengisi pengajian Pak AR saya ya mau ngaji lagi. Kalau yang mengisi pegajian Pak X, lebih baik saya pamit saja. Pengurus itu selanjutnya matur “Karena itu, kami mohon Bapak berkenan mengisi kembali pengajian kami”. Setelah adu argumentasi agak lama, akhirnya Pak AR mangalah dan sambil mencari ustadz yang pas, Pak AR kembali mengisi pengajian di kampung Ledok Ratmakan di lembah Code itu.

 Nampaknya masyarakat kita tidak sreg dengan yang radikal kanan maupun radikal kiri (Komunis, PKI)

 

 

Lasa Hs.

(Sumber Anekdot dan Kenangan Lepas tentang Pak AR, 2013)

Jumat, 08 Januari 2021

Gus Mus: Seorang Kiai Pesantren

Oleh : Raisa Fadelina

Pustakawan UMY

 

Kiai Haji Ahmad Mustofa Bisri atau lebih sering dipanggil dengan Gus Mus adalah pengasuh Pondok Pesantren Raudlatut Thalibin, Leteh, Rembang dan menjadi Rais Syuriah PBNU. Beliau lahir di Rembang tanggal 10 Agustus 1944. Kiai Mustofa masa kecilnya banyak dihabiskan di berbagai pesantren, seperti Pesantren Lirboyo Kediri, Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta, dan pesantren ayahnya, Raudhatut Talibin Rembang. K.H. Ahmad Mustofa Bisri (Gus Mus) adalah kiai yang fenomenal. Selain menyandang predikat kiai yang mengasuh pondok pesantren, ia juga seorang intelektual muslim (cendekiawan), sastrawan, seniman, dan budayawan. Ia juga seorang penulis yang sangat produktif, mulai dari puisi, cerpen, dan essai. Ia juga telah menerbitkan banyak buku.

Gus Mus adalah kolomnis dan penyair yang cukup menonjol dan diperhitungkan dalam jagat kepenyairan dan kepenulisan. Aksi-aksinya yang bergaya khas di panggung ketika berorasi dan membaca puisi juga mampu memukau publik. Sebagai seorang kiai dan ulama, puisi-puisi Gus Mus sarat pesan-pesan agama dan religi, namun juga sangat kritis dan tajam dalam merespons persoalan sosial, khususnya menggugat ketimpangan sosial-politik. Gus Mus juga memiliki pergaulan yang luas dan beragam. Ia memiliki jejaring yang luas di kalangan seniman, budayawan, dan masyarakat lainnya.

Bukan hanya di ranah agama, seni, dan budaya, Gus Mus juga ternyata pernah berkiprah di parlemen sebagai anggota legislatif dan wakil rakyat pada rentang 1987-1992. Namun, ternyata ia merasa tak cocok berkiprah di wilayah politik (praktis) karena acapkali bertentangan dengan hati nurani. Setelah 1992, Gus Mus lalu menarik diri dari wilayah politik (praktis). Gus Mus lebih banyak berjuang di jalur kultural daripada wilayah politik.

Gus Mus adalah kiai yang bisa diterima semua kalangan. Ia selalu berada di tengah-tengah dan tetap menjaga kenetralannya di tengah pertikaian kiai NU yang tergolong senior dan disegani karena faktor-faktor tertentu. Gus Mus tidak ingin menambah kerunyaman suasana dengan cara memihak salah satu kubu kiai NU. Yang ia lakukan justru ingin menjadi juru damai atau minimal bersikap diam dan tak mau menambah keruhnya suasana. Gus Mus adalah sosok penyejuk dan pengimbang di tengah berbagai kesalahpahaman dan pertikaian antartokoh Nahdliyyin dan kiai yang kadang terjadi dalam suatu masa tertentu.

Pada tahun 2009, Gus Mus dianugerahi gelar Doktor Honoris Causa (HC) oleh UIN Sunan Kalijaga karena jasa-jasa beliau yang masih terus berjalan dalam mengemban dan mengembangkan kebudayaan Islam. Melalui pidato, pena, dan lukisan, Gus Mus tak henti-hentinya mengunggah, mendorong, mencerahkan, dan menyejukkan semua orang. Muslim, non-Muslim, kaya, non-kaya, muda, tua, gegap gempita menyambut karya-karya gemilang Gus Mus yang sering menghibur sekaligus mengingatkan sesama akan tugas luhur menata bangsa dan negara.

Dalam karya-karyanya, Hus Mus menyuarakan Islam yang menyejukkan, Islam yang mengntaskan, Islam yang mengayomi, Islam yang membebaskan, dan Islam yang mencerahkan. Diantara karya-karya terbaiknya sepanjang masa adalah:

·         Dasar-dasar Islam (terjemahan, Penerbit Abdillah Putra Kendal, 1401 H).

·         Ensklopedi Ijma' (terjemahan bersama KH. M.A. Sahal Mahfudh, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1987).

·         Nyamuk-Nyamuk Perkasa dan Awas, Manusia (gubahan cerita anak-anak, Gaya Favorit Press Jakarta, 1979).

·         Kimiya-us Sa'aadah (terjemahan bahasa Jawa, Assegaf Surabaya).

·         Syair Asmaul Husna (bahasa Jawa, Penerbit Al-Huda Temanggung).

·         Ohoi, Kumpulan Puisi Balsem (Pustaka Firdaus, Jakarta, 1991,1994).

·         Tadarus, Antalogi Puisi (Prima Pustaka Yogya, 1993).

·         Mutiara-mutiara Benjol (Lembaga Studi Filsafat Islam Yogya, 1994).

·         Rubaiyat Angin dan Rumput (Majalah Humor dan PT. Matra Media, Cetakan II, Jakarta, 1995).

·         Pahlawan dan Tikus (kumpulan pusisi, Pustaka Firdaus, Jakarta, 1996).

·         Mahakiai Hasyim Asy'ari (terjemahan, Kurnia Kalam Semesta Yogya, 1996).

·         Metode Tasawuf Al-Ghazali (tejemahan dan komentar, Pelita Dunia Surabaya, 1996).

·         Saleh Ritual Saleh Sosial (Mizan, Bandung, Cetakan II, September 1995).

·         Pesan Islam Sehari-hari (Risalah Gusti, Surabaya, 1997).

·         Al-Muna (Syair Asmaul Husna, Bahasa Jawa, Yayasan Pendidikan Al-Ibriz, Rembang, 1997).

·         Fikih Keseharian (Yayasan Pendidikan Al-Ibriz, Rembang, bersama Penerbit Al-Miftah, Surabaya, Juli 1997).