Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Minggu, 12 Juli 2020

UPT Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan Merajut Asa Menuju Perpustakaan Terakreditasi


UPT Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan Merajut Asa Menuju Perpustakaan Terakreditasi

Oleh
Imam Setiobudi, S.I.Pust.
Pustakawan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP) adalah Universitas baru yang ada di wilayah Pekalongan Provinsi Jawa Tengah. Universitas ini merupakan gabungan dari tiga perguruan tinggi Muhammadiyah di Pekalongan yaitu Politeknik Muhammadiyah Pekalongan, STIKES Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan dan STIE Muhammadiyah Pekalongan dengan berdasarkan Surat Keputusan (SK) Kemenristek Dikti No. 314/kpp/1/2019 tahun 2019. Seiring penggabungan perguruan tinggi tersebut menjadi Universitas tentu berdampak pada bergabunganya lembaga dibawahnya termasuk perpustakaan sehingga terbentuklah UPT Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan.  
Pada periode pertama yaitu tahun 2019-2023 UPT Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan di pimpin oleh Bapak Usamah, M.Si yang sebelumnya adalah Kepala Perpustakaan STIE Muhammadiyah Pekalongan. Langkah awal merajut asa menuju perpustakaan terakreditasi yang menjadi mimpi bersama segenap tim pustakawan UMPP adalah dengan membuat program kerja yang terbagi dalam empat langkah utama yaitu Konsolidasi, Penguatan Lembaga, Peningkatan SDM, dan Perpustakaan terakreditasi.
Langkah pertama UPT Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan dalam merajut asa menuju perpustakaan terakreditasi adalah konsolidasi. Konsolidsai meliputi beberapa hal yaitu menyatukan, memperkuat dan menyamakan persepsi serta karakter kebersamaan meraih visi, misi, dan tujuan organisasi baru, hal ini sangat penting mengingat pada periode sebelumnya masing-masing perpustakaan mempunyai persepsi yang berbeda.
Langkah kedua yang dilakukan adalah penguatan lembaga, hal ini dilakukan dengan cara  Reorganisasi yang merupakan proses pembentukan norma atau nilai baru agar terbentuk keserasian dalam tubuh organisasi yang telah mengalami perubahan dari tiga perguruan tinggi menjadi universitas. Kemudian penguatan lembaga juga melakukan adalah menjalin kerjasama pada sesama perpustakaan dalam Forum Perpustakan Perguruan Tinggi Muhammadiyah Aisyiyah (FPPTMA), Perpustakaan Perguruan Tinggi lainya, Perpustakaan Daerah dan Perpustakaan Nasional. Selain itu juga menjalin kerjasama dengan Majelis Pustaka dan Informasi Muhammadiyah, Majlis DIKDASMEN Pengurus Daerah Muhammadiyah, Kerjasama Dosen AIK dan terakhir bercita-cita merealisasikan Muhammadiyah Corner. 
Langkah ketiga adalah peningkatan SDM yaitu mengembangkan kompetensi yang dimiliki pustakawan, melalui seminar, webinar, pelatihan dan workshop, dimana tujuannya adalah pustakawan perpustakaan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan dapat tersertifikasi oleh lembaga sertifikasi Perpustakaan Nasioanal.
Langkah terakhir perpustakaan terakreditasi, langkah ini perpustakaan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan mencoba mengisi borang akreditasi terbaru dari Perpustakaan Nasional secara jujur yang mencakup pada Instrumen Akreditasi Perpustakaan Perguruan Tinggi yang terdiri atas 6 komponen utama yaitu, koleksi perpustakaan, sarana dan prasarana perpustakaan, pelayanan perpustakaan, tenaga perpustakaan, penyelenggaraan dan pengelolaan perpustakaan dan penguat. Hasilnya nilai komulatif masih di bawah 60 dari seluruh komponen penilaian sehingga hal tersebut dijadikan dasar dan patokan perbaikan perpustakaan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan menjadi lebih baik lagi.
Usamah, M.Si. Kepala Perpustakaan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan mengatakan “Harapannya dengan nafas baru penggabungan tiga perpustakaan menjadi satu wadah perpustakaan universitas menambah sumber daya yang baik seperti segi sarana prasana, SDM dan lainya. Kemudian tentu kami berharap bantuan doa restu, kerjasama dan dukungan kerja nyata dari temen-temen saudara kandung dalam wadah FPPTMA”


Kamis, 09 Juli 2020

RESENSI BUKU: MUDA. BERDAYA. KARYA RAYA!


RESENSI BUKU: MUDA. BERDAYA. KARYA RAYA!
Muda Berdaya Karya Raya - Republika Penerbit
Judul              : Muda. Berdaya. Karya Raya!
Penulis          : Fahd Pahdepie
Editor              : Triana Rahmawati
Penerbit         : Rebuplika Penerbit, Jakarta
Tahun Terbit : 2019
ISBN               : 9 786025 734724quarterb
Tebal              :  xx + 336 halaman.

Konon, fase terberat dalam hidup adalah usia dua puluhan. Jika seseorang berhasil melewati fase ini dengan baik, hidup akan baik-baik saja hingga akhir. Jika gagal, segalanya menjadi lebih berat lagi di fase berikutnya. Setiap orang mengalami Quarter life crisis tentang penemuan jati diri. Melalui buku ini, Fahd Pahdepie bercerita dan mengajak kita melihat betapa serunya melewati fase hidup yang menegangkan ini.
Buku Muda. Berdaya. Karya Raya! adalah sebuah jurnal tentang perjuangan melewati krisis perempat usia yang ditulis oleh Fahd Pahdepie, ia adalah alumni Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), pada tahun 2018 mendapatkan Outstanding Achievement Award dari UMY dan menjadi alumni termuda yang menerima pengharhaan itu.  Buku ini menceritakan tentang perjalanan hidup penulis, merasakan bagaimana jatuh secara luar biasa, dan kini ia telah menjadi seorang penulis, pengusaha dan aktivis. Jadi buku ini adalah sebuah kisah nyata.
Fahd Pahdephie tidak ingin menjadikan buku ini sebagai panduan hidup bagi pembacanya, karena setiap orang mempunyai masalahnya sendiri yang unik dan tentu saja latar belakang, lingkungan dan identitas diri yang berbeda akan melahirkan masalah-masalah yang berbeda pula. Sehingga tidak akan bisa menggunakan satu formula untuk mencari jalan keluar.
Kelebihan
Fahd Pahdepie membawakan buku ini dengan gaya bahasa yang mudah dimengerti, buku ini dilengkapi dengan quote di setiap bab, kata-kata sederhana yang mampu menjadi pengobat hati. Quote yang paling singkat dan mengena di hati adalah “Jadilah penulis. Jika Kau mati, kata-katamu tidak”. Dapat dimaknai bahwa menulis bukan sekedar royalti dan popularitas, tetapi sebuah kebermanfaatan.
Fahd di dalam buku ini memberikan sebuah gambaran hidup yang ia jalani dan ia pilih dengan banyak pertimbangan, meninggalkan zona nyaman yang mungkin bagi sebagian orang itu adalah hal gila, namun dia tidak ingin mengatakan bahwa keputusannya adalah hal paling benar, dia hanya ingin menjadi Fahd yang bisa lebih bermanfaat bagi banyak orang.
Membeli buku atau membaca buku ini Anda telah memberi sepiring makan kepada orang miskin, anak jalanan dan mereka yang kehabisan bekal di perjalanan. Fahd Pahdepie mengajak kita untuk berbagi. 
Kekurangan
Buku ini adalah buku perjalanan hidup Fahd Pahdephie, mungkin tidak semua orang yang membaca akan setuju dengan keputusan-keputusan yang diambil. Sehingga buku ini harus dibaca oleh orang yang berpikiran terbuka dan mampu membawa diri.
Ditulis oleh Umi Haniati, Pustakawan STIKES Muhammadiyah Gombong.




Rabu, 08 Juli 2020

HUKUM PENYELENGGARAAN SHALAT JUM’AT DI SELAIN MASJID Tulisan – 4




Di masa pandemi ini, penyelenggaraan shalat di masjid diharuskan memenuhi protokol kesehatan yang ketat, di antaranya adalah mengatur jarak shaf. Hal itu mengakibatkan daya tampung masjid berkurang. Timbul pertanyaan di masyarakat, bolehkah mengerjakan shalat Jum’at di luar masjid atau di lokasi lain selain masjid ?.
Pada prinsipnya shalat Jum’at idealnya dikerjakan di masjid. Namun demikian, apabila ada keperluan yang mendesak, maka shalat Jum’at dapat dilaksanakan tidak hanya di masjid, tetapi di lokasi lain, seperti di mushala, langgar, tanah lapang, halaman, gedung pertemuan, rumah, ruangan kosong yang telah dipersiapkan untuk tempat ibadah atau tempat-tempat luas lain yang layak. Hal ini didasari oleh beberapa alasan, antara lain:
Pertama
            Lafadz perintah shalat Jum’at yang bersifat umum tanpa mensyaratkan shalat hanya di satu tempat. Hal ini disebutkan dalam Q.S. al-Jumu’ah: 9, yang artinya :” Hari orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum’at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui”.
Kedua
            Pengertian dari kata ”masjid” yang secara etimologi memiliki arti tempat sujud. Dengan demikian, kata ”masjid” pada hakikatnya tidak terbatas pada masjid yang berupa bangunan khusus untuk shalat semata, tetapi tempat manapun yang dapat dilakukan shalat (sujud) maka dapat berfungsi sebagai masjid. Dalam sebuah hadis disebutkan yang artinya :”Dari Abi Sa’id al-Khudri (diriwayatkan) ia berkata, bahwa Rasulullah saw bersabda :”Bumi ini semuanya merupakan masjid (tempat sujud untuk shalat) kecuali jamban (kamar kecil) dan kuburan” (HR. Al-Hakim)
Ketiga
            Perluasan makna atas lafadz ”masjid” di atas diperkuat oleh perbuatan sahabat Mus’ab bin Umair tatkala menjadi utusan Rasulullah saw ke Madinah setelah Bai’at al-’Aqabah. Dalam keterangan yang dinukilkan oleh Ibnu Sa’ad dalam kitabnya Tabaqat al-Kubra disebutkan bahwa Mus’ab pernah mendirikan shalat Jum’at berjamaa’ah di rumah Sa’ad bin Khaisamah. 
            Mus’ab kemudian menuliskan surat kepada Rasulullah saw untuk meminta izin kepada beliau agar bisa mengumpulkan kaum Anshar yang telah masuk Islam untuk mendirikan shalat. Rasulullah pun mengizinkannya dan menuliskan perintah untuk Mus’ab: cermatilah bagaimana persiapan kaum Yahudi untuk beribadah Sabat. Tatkala matahari tergelincir (masuk waktu dhuhur) bersegeralah engkau menunaikan shalat Jum’at menghadap Allah swt dan berkutbahlah. Maka Mus’ab mengumpulkan para kaum Anshar di rumah Sa’ad bin Khaitsamah sebanyak dua belas orang dan itulah shalat Jum’at pertama kali yang didirikan di Madinah (Ibn Sa’ad, III: 110)


Keempat
            Shalat Jum’at yang dilaksanakan di masjid dalam keadaan seperti sekarang ini dapat menimbulkan kesulitan, karena dituntut adanya pengetatan protokol kesehatan, antara lain pembatasan jumlah akibat dari perenggangan shaf. Sementara itu, salah satu sifat agama Islam adalah selalu menghindarkan  dari kesulitan dan kesempitan. Dalam Q.S. al-Hajj: 78 disebutkan :”Dia Allah) sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama suatu kesempitan”.
            Tercatat dalam sejarah bahwa memindahkan lokasi shalat hakikatnya pernah diperbolehkan oleh Rasulullah saw kepada sahabat bernama ’Itban yang meminta izin khusus kepada Nabi  saw untuk menjadi imam di rumahnya. Dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, yang artinya:” Dari ’Itban bin Malik al-Anshari, dia berkata, saya menjadi imam shalat kaum saya, Bani Salim. Lalu saya temui Nabi saw, saya tanyakan kepada beliau, saya tidak bisa terima penglihatan saya, sementara banjir menghalangi rumah saya dengan masjid kaum saya, sungguh saya ingin sekali engkau datang ke rumah saya, engkau tunaikan shalat di rumah saya di tempat yang akan saya jadikan sebagai masjid. Nabi saw menjawab, insyaa Allah saya datang. Pagi menjelang siang yang memanas, Nabi saw bersama Abu Bakar menemui saya. Nabi saw minta izin masuk dan saya mengizinkan. Beliau tidak duduk sampai berkata, di mana engkau ingin saya tunaikan shalat di rumahmu?. Kepada beliau saya tunjukkan tempat yang saya ingin beliau shalat. Lalu Rasulullah saw berdiri untuk shalat. Kami berbaris di bekakangnya. Beliau tutup shalat dengan salam. Kami pun membaca salam (H.R. al-Bukhari)
            Berdasarkan hadis di atas, dapat diketahui bahwa alasan ’Itban meminta keringanan adalah karena adanya kesulitan yaitu gangguan mata dan adanya hujan yang menyebabkan banjir. Sementara ancaman pandemi Covid - 19 tidak lebih ringan daripada alasan yang dikemukakan oleh ’Irban dan direstui oleh Rasuullah saw.
            Dengan demikian, menambah lokasi pelaksanaan shalat Jum’at di selain masjid seperti mushala, langgar, tanah lapang, halaman, gedung pertemuan, rumah, ruang kosong yang telah dipersiapkan untuk tempat ibadah atau tempat-tempat luas lain merupakan hal yang diperbolehkan, dikarenakan adanya kemaslahatan (al-hajah) yang menuntutnya dan adanya masyaqqah melaksanakannya di tempat terpadu yang biasa dilakukan.
            Ketika tingkat bahaya pandemi Covid-19 ini telah dinyatakan mengalami penurunan di beberapa daerah oleh pihak yang memiliki otoritas, maka kegiatan ibadah berjamaah pun dapat dilakukan kembali meskipun dengan menerapkan serangkaian protokol kesehatan yang ketat sebagai bentuk kehati-hatian dan tetap berupaya mencegah penyebaran wabah Covid-19. Hal ini selaras dengan kaidah-kaidah fikih:
            Adhdhoruratu tuqaddaru biqadariha
            (Kemudharatan itu dibatasi dengan kadarnya (al-Asybah wa a l-Naza’ir oleh al-Suyuthi: 84)
            Idzaa dhaqa al-amru ittasa’a waidza ittasa’a dhaqa
            (segala sesuatu, jika sempit maka menjadi luas, dan jika (kembali) luas maka menjadi sempit (Muhammad az-Zubaili, al-Qawa’id al-Fiqriyyah, 1: 272)
            Al-amru idza tajawaza ’an haddihi in’akasa ila dhiddihi
(segala sesuatu apabila melampaui batas, maka hukumnya berbalik pada sebaliknya (Al-Asybah wa a-Naza’ir oleh al-Nu’mah: 72)   

HABIS


Lasa Hs.

Penerapan Google Analytics di Perpustakaan

Pada tulisan sebelumnya telah dijelaskan bagaimana fungsi google analytics untuk perpustakaan. Lalu bagaimana penerapannya?. Hal pertama yang harus dilakukan yaitu perpustakaan harus mempunya email gmail (harus gmail). Kenapa harus gmail?. Karena google analytic merupakan produk google sehingga emailnya pun diharuskan dari google, yaitu gmail.

Beberapa langkah yang bisa kita lakukan untuk menerapkan/mengimplementasikan Google analytics yaitu sebagai berikut :

  1. Akses ke website resmi google analytics pada alamat https://analytics.google.com/analytics/web/#/
  2. Kemudian login dengan email gmail
  3. Klik mulai mengukur

  4. Pada kolom nama akun, isikan nama perpustakaan anda
  5. Kemudian klik berikutnya
  6. Klik berikutnya lagi
  7. Pada kolom nama situs isikan nama website perpustakaan anda, misalnya website perpustakaan UMY
  8. Pada kolom URL situs isikan alamat website perpustakaan anda
  9. Kemudian klik buat
  10. Lalu centak chekbox (persetujuan persyaratan), kemudian klik saya setuju
  11. Kemudian klik simpan
  12. Setelah itu, aka ada script yang harus ditempel pada website perpustakaan anda, jika kebetulan anda tidak mempunyai hak akses ke hosting/server website, maka script tersebut anda berikan kepada staff IT kampus untuk kemudian ditempel pada website perpustakaan.

Setelah script tersebut ditempel di website perpustakaan, maka google akan mendeteksi berapa pengunjung website, baik pengunjung unik atau hanya sekedar page view, lokasi pengunjung, kata kunci yang digunakan oleh pengunjung dalam mengakses website perpustakaan, berapa lama kira2 pengunjung mengakses website perpustakaan kita dll.

Terkait bagaimana cara mendeteksi hal di atas, akan dibahas pada tulisan berikutnya

Selasa, 07 Juli 2020

Fungsi Aplikasi Google Analytics dan SimilarWeb untuk Perpustakaan

Mengetahui jumlah pengunjung website perpustakaan merupakan hal yang sangat penting,  hal tersebut dapat digunakan untuk acuan dalam promosi perpustakaan, peningkatan optimasi SEO dan lain sebagainya. Tidak hanya jumlah pengunjung, sebuah Perpustakaan juga penting untuk mengetahui kata kunci apa saja yang sering digunakan oleh pengunjung untuk mengakses website perpustakaan, hal tersebut digunakan untuk acuan dalam memenuhi kebutuhan informasi. Bahkan, perpustakaan juga perlu mengetahui kira-kira berapa menit pengunjung betah membaca artikel di website perpustakaan, hal tersebut menjadi indikator apakah website perpustakaan tersebut berkualitas atau tidak. 

Tidak hanya itu saja, perpustakaan juga penting mengetahui kira-kira yang mengakses website perpustakaan itu banyak yang menggunakan komputer atau justru banyak yang menggunakan handphone. Kenapa itu penting?. hal tersebut digunakan untuk indikator dalam proses pengembangan interface website agar tampilannya responsive.  

Untuk itu, ada beberapa aplikasi yang dapat digunakan untuk mengetahui hal tersebut, diantaranya yaitu aplikasi Google Analityc dan Aplikasi SimilarWeb. Bagaimana implementasi keduanya? akan dibahas pada tulisna berikutnya