Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Minggu, 10 Februari 2019

#BERHENTIDIKAMU


Judul Buku      : #BERHENTIDIKAMU
Penulis Buku   : dr. Gia Pratama
Penerbit           : Mizania, PT. Mizan Pustaka
Cetakan           : I, Desember 2018
Ketebalan        : 277
ISBN               : 978-602-418-183-3


Mencari belahan jiwa kadang membutuhkan proses yang tidak sebentar, melalui patah hati, kekecewaan karena berharap lebih kepada manusia dan menjadi insan yang kecewa dengan takdir yang telah ditetapkan oleh Allah SWT. Jodoh biasanya begitu dekat dengan kita, tetapi kita tidak menyadari bahwa itu adalah jodoh yang telah ditetapkan Allah, bahkan jika merasa baru pertama berjumpa, bisa jadi sebelumnya pernah berpapasan, teman satu sekolah, teman saudara tetapi belum saling mengenal karena memang belum waktunya untuk saling mengenal.
Buku yang berjudul #BERHENTIDIKAMU menceritakan sebuah kisah nyata seorang Dokter yang berusaha menemukan belahan jiwanya. dr. Gia Pratama pergi berangkat umrah dengan tujuan berdoa secara khusus agar segera bertemu dengan pasangan yang diridhai oleh orangtuanya dan Allah SWT. Ketika menjalankan ibadah umrah dr. Gia bertemu dengan seorang wanita yang Ia yakini sebagai jawaban atas doa-doanya.
Buku ini juga mengajarkan bahwa kehidupan manusia di dunia seperti halnya melakukan tawaf yaitu terus berputar dan tidak ada yang kekal, kekayaan dan kehidupan tidak ada yang abadi, seperti anak menjadi ayah, ayah menjadi kakek dan seterusnya. Buku ini juga menjelaskan bagaimana cara mendapat kehormatan, keutamaan dan kemuliaan yaitu dimulai dari kesucian, kejernihan hati dan pikiran.
Dengan bahasa yang ringan dan santai, buku yang berjudul #BERHENTIDIKAMU dapat membuat para pembaca lebih memahami kisah dan perasaan yang dialami dr. Gia Pratama. Bagaimana perasaan penulis yang menjadi tokoh utama dalam novel ini mengalami patah hati ketika di tinggal oleh wanita yang Ia yakini sebagai jodohnya.
Bagi penulis cinta yang sesungguhnya adalah cinta yang tidak ada kesan pura-pura, dibuat-buat atau berusaha menggunakan topeng agar disukai oleh pasangan. Cinta seharusnya membuat sepasang kekasih merasakan kenyaman dan perasaan aman satu sama lainnya. Cinta seorang pria juga seharusnya dibuktikan dengan meminta wanita yang dicintainya untuk menjadi istri yang halal dan membangun bahtera rumah tangga bersama dalam suka dan duka.
Penulis juga membuktikan bahwa manusia hanya bisa berencana tetapi hanya Allah SWT yang dapat menentukan jodoh bagi setiap hambanya. Berbagai perjuangan telah dilakukan, berbagai pengorbanan telah diberikan akan tetapi jika memang seseorang tersebut bukan ditakdirkan untuk kita maka sebagai seorang manusia kita hanya bisa berikhtiar agar nantinya diberikan pasangan yang di ridhoi Allah SWT.
Melalui buku ini para pembaca dapat memetik hikmah tentang kesabaran dan keikhlasan, ikhlas atas takdir yang telah ditetapkan oleh Allah SWT dan iklas ketika takdir tidak sesuai dengan harapan. Buku ini mengajarkan para pembaca bahwa pilihan Allah SWT adalah pilihan yang terbaik untuk umatnya.


Rabu, 06 Februari 2019

106 Tahun Muhammadiyah: Ta’awun Untuk Negeri BERUBAH UNTUK KEMAJUAN Tulisan 8 (Teori Lippits)


106 Tahun Muhammadiyah: Ta’awun Untuk Negeri BERUBAH UNTUK KEMAJUAN
  Tulisan 8    
 e. Memilih peran yang sesuai
            pada tahap ini, perlu adanya suatu pemilihan seorang pemimpin atau manajer yang ahli dan sesuai bidangnya. Manajer tersebut akan dapat memberikan masukan dan solusi terbaik dalam perubahan. Perubahan akan berhasil dengan baik apabila antara manajer dan staf memiliki komitmen yang tinggi, saling memahami, dan memiliki dedikasi tinggi.
f.Mempertahankan perubahan yang telah dimulai
            Sekali perubahan dimulai, maka harus dipertahankan dengan penuh komitmen. Komitmen adalah sikap menyesuaikan diri dengan mantap pada sasaran yang akan dicapai seseorang atau kelompok. Orang-orang yang memiliki komitmen tinggi itu akan kelihatan kinerjanya. Biasanya orang yang memiliki komitmen tinggi itu memiliki karakteristik:
1)      Mau berkorban untuk mencapai sasaran, profesi, maupun suatu bidang;
2)      Selalu mencari peluang, memanfaatkan peluang, mengembangkan peluang, bahkan berusaha menciptakan peluang’
3)      Merasa ada dorongan dalam dirinya untuk selalu berkembang dan meningkatkan prestasi.
g. Menjaga kesinambungan perubahan  
Selama proses perubahan, harus selalu diikuti perencanaan yang berkelanjutan.Hal ini dimaksudkan agar individu yang terlibat dalam perubahan ini memiliki tanggung jawab untuk melakukan perubahan terus menerus. Dalam hal ini pimpinan harus mampu menjadi konsultan perubahan dan secara aktif terus menerus terlibat dalam perubahan. Sebab kualitas suatu kegiatan itu antara lain dipengaruhi kontinuitasnya.
Perpustakaan sebagai sistem dan sumber ilmu pengetahuan akan berjalan baik apabila dikelola/manaj dengan manajemen yang prfesional, memiliki sumber daya manusia yang kompeten, dukungan lembaga, dan anggaran yang memadai. Dengan adanya manajemen yang baik, maka semua aktivitas perpustakaan akan mengarah pada upaya pencapaian tujuan dan seluruh elemen perpustakaan akan berusaha memfungsikan diri sesuai ketentuan perpustakaan. Maka manajemen berfungsi untuk mengatur aktivitas elemen perpustakaan. Oleh karena itu dalam proses manajemen perlu adanya perencanaan, pengorganisasian, penganggaran, pengaturan sumber daya manusia, dan pengawasan.
Perpustakaan sebagai organisasi, memerlukan manajemen untuk mencapai tujuan secara efektif dan efisien. Dengan adanya manajemen ini seluruh komponen perpustakaan dapat diatur dan diarahkan untuk mencapai tujuan perpustakaan yang telah disepakati bersama.
Memang telah banyak penulis yang memberikan pengertian tentang manajemen perpustakaan. Sesuai perkembangan ilmu perpustakaan, maka penulis memberikan definisi manajeman perpustakaan adalah optimalisasi pemberdayaan sumber daya manusia dan sumber daya lain untuk mencapai tujuan perpustakaan secara efektif dan efisien melalui kegiatan perencanaan, pengorganisasian, kepepemimpinan, penganggaran, dan pengawasan.
(Habis)

Lasa Hs



Minggu, 03 Februari 2019

Yuk, Pacaran Dengan Al-Quran


Judul Buku      : Yuk, Pacaran Dengan Al-Quran   
Penulis Buku   : Baba Gezel  
Penerbit           : PT. Nazaret Bagindo Corpora  
Cetakan           : I, November 2016
Ketebalan        : 207
ISBN               : 978-602-60605-01





Jatuh cinta yang terbaik adalah mencintai Allah, Rasul dan orangtua. Pacaran memang bukanlah hal yang baik, apalagi jika pacarannya pasangan muda-mudi yang belum menikah, berdua-duan, pegangan tangan, bahkan dapat membawa pasangan ke dalam jurang ke maksiatan, alih-alih ingin mengenal pasangan lebih baik, pasangan yang pacaran seringkali terjerumus ke dalam jurang kenistaan.

Begitulah yang disampaikan oleh buku Yuk, Pacaran Dengan AL-Quran. Buku ini tidak mengajak kita berpacaran dengan lawan jenis, tapi bagaimana pacaran dengan Al-Quran sehingga kita bisa lebih mencintai Allah, Rasul, Nabi Muhammad SAW dan keluarga kita.  Dengan cinta kepada Al-Quran hidup kita dijamin akan penuh berkah dan kebahagian, nggak ada kata galau apalagi patah hati karena dikhianati pasangan.

Babe Gezel menuliskan buku ini dengan bahasa yang santai dan sangat mudah dipahami oleh anak muda, orangtua dan berbagai kalangan.  Bahwa dengan mencintai Al-Quran maka kita akan selalu berusaha memahaminya dengan benar dan mengamalkan segala ajarannya di kehidupan sehari-hari. Sehingga kehidupan yang kita jalani akan lebih terarah dan menjadi lebih baik lagi.

Jika mencari jalan kita membutuhkan peta, buku ini menjelaskan bahwa Al-Quran dapat menjadi petunjuk untuk segala yang kita butuhkan, AL-Quran adalah peta kehidupan umat manusia, dengan mecintainya akan membuat kehidupan menjadi lebih damai, tenang dan segala masalah menjadi lebih ringan.

Buku Yuk, Pacaran Dengan Al-Quran ini juga mengajarkan bagaimana kita menghadirkan Al-Quran di dalam hati, apalagi dengan perkembangan teknologi yang semakin maju saat ini. Sehingga sangat disayangkan apabila masa muda hanya dihabiskan untuk berkumpul dan mengobrol dengan sesuatu yang tidak bermanfaat.
Penulis juga menceritakan bagaimana peran Al-Quran dapat memberikan inspirasi bagi kehidupan kita, bagaimana seorang anak muda harus santun terhadap orang tua, dan apa yang dimaksud dengan cinta sejati. Ibarat GPS kehidupan, Al-Quran bisa menjadi panduan kebenaran dari ilahi dan menjadi obat galau serta harmonisasi kehidupan. Bagi penulis, anak muda yang unggul adalah anak muda yang pacarannya  dengan Al-Quran.
Yuliana R.






Jumat, 01 Februari 2019

106 Tahun Muhammadiyah: Ta’awun Untuk Negeri BERUBAH UNTUK KEMAJUAN

Tulisan : 7
TEORI PERUBAHAN
 (Teori Roger dan Teori Lippits)




  1. Teori Roger (1962)
Teori ini dikenal dengan teori AIETA, yakni singkatan dari awareness (kesadaran), interest (keinginan), evaluation (evaluasi), trial (mencoba), adoption (penerimaan). Dalam teori ini, Rogers berpendapat bahwa proses penerimaan terhadap perubahan itu lebih kompleks dari teori yang dikemukakan oleh Lewin. Rogers berpendapat bahwa setiap individu yang terlibat dalam perubahan itu mungkin mulanya mereka menerima perubahan, akan tetapi setelah dilakukan proses perubahan, kemudian mereka justru menolak.
  1. Teori Lippits (1973)
Teori perubahan ini ditujukan untuk merubah status quo/kemapanan, baik perubahan itu direncanakan atau tidak direncanakan. Kemapanan ini terjadi dalam individu, jabatan, situasi, proses, maupun sistem kerja.
Memang sering terjadi bahwa sesuatu itu kalau sudah dianggap mapan dan berjalan lama, maka orang-orang tertentu sulit untuk diajak berubah. Begini saja sudah nyaman, mengapa harus berubah kata mereka. Sikap status quo inilah yang kadang menghambat kemajuan. Sebab mereka sudah merasa nyaman.
            Lippits selanjutnya menyatakan bahwa untuk menghadapi perubahan, perlu mengidentifikasi 7 (tujuh) tahap yakni a.mendiagnosis/menentukan masalah; b) mengkaji motivasi dan kapasitas perubahan; c. mengkaji motivasi agen perubahan dan sarana yang tersedia; d. menyeleksi tujuan perubahan; e.memilih peran yang sesuai; f.mempertahankan perubahan yang telah dimulai;  g.menjaga kesinambungan perubahan.
s. Menentukan masalah
     Dalam tahap ini setiap individu yang terlibat dalam perubahan harus membuka diri. Mereka juga harus menghindari suatu tindakan sebelum data dan informasi terkumpul. Sebab dalam usaha perubahan ini setiap individu harus menginformasikan fenomena yang terjadi. Semakin banyak informasi yang diterima manajemen, maka akan semakin bagus dalam pembuatan keputusan untuk melakukan perubahan. Oleh karena itu setiap orang yang memiliki potensi harus diikutsertakan secara aktif dalam proses perubahan ini.
b. Mengkaji motivasi dan kapasitas perubahan
          Perubahan nampaknya merupakan sesuatu yang mudah. Namun keberhasilan perubahan memerlukan kerja cerdas, kerja keras, kerja ikhlas, dan kerja tuntas. Pada tahap ini setiap individu yang terlibat dalam perubahan harus dikaji kemampuan mereka, hambatan yang mungkin terjadi, dan dukungan yang akan diberikan.
c. Mengkaji motivasi agen perubahan
Pada tahap ini diperlukan komitmen dan motivasi para pimpinan dalam proses perubahan. Pemikiran pimpinan untuk melakukan perubahan harus dipahami betul oleh anak buah dan dapat dipercaya. Disamping itu, pimpinan harus mau mendengar masukan, usulan, dan pemikiran anak buah yang terkait dengan perubahan itu.
d. Menyeleksi tujuan perubahan
Pada tahap ini, perubahan harus sudah disusun sebagai suatu kegiatan secara operasional, terorganisir, berurutan, dan kepada siapa perubahan itu ditujukan. Untuk itu diperlukan target waktu capaian perubahan.
Bersambung

Lasa Hs

Kamis, 31 Januari 2019

106 Tahun Muhammadiyah: Ta’awun Untuk Negeri BERUBAH UNTUK KEMAJUAN


Tulisan : 6 
TEORI KEMAJUAN

Memang sering terjadi perbedaan pesepsi adanya perubahan. Manajemen sering memandang bahwa perubahan itu peluang. Namun di kalangan akar rumput sering muncul anggapan bahwa perubahan itu menakutkan dan khawatir munculnya kekacauan. Pada dasarnya mereka itu ingin adanya perubahan, namun apabila perubahan ini menyangkut diri mereka dan keluarga, justru usaha perubahan ini ditentang dan dimusuhinya. Dalam hal ini Peter Scholters berpendapat bahwa pada dasarnya karyawan/pegawai itu tidak menolak perubahan, tetapi mereka menolak untuk diubah (Wibowo, 2016: 152). Dikatakan selanjutnya bahwa resistensi perubahan itu bersifat afektif (affective), perilaku (behavior), dan kognitif (cognitive).
            Komponen afektif adalah bagaimana orang merasakan adanya perubahan. Komponen perilaku adalah bagaimana orang berperilaku dalam perubahan. Kemudian komponen kognitif adalah bagaimana orang berpikir tentang perubahan.
Perubahan akan dialami oleh setiap manusia dalam berbagai aspek kehidupan, baik kehidupan pribadi, kehidupan bermasyarakat, kehidupan berprofesi, maupun kehidupan berbangsa dan bernegara. Banyak teori perubahan yang telah dikemukakan oleh para pakar. Diantara teori-teori ini adalah teori Kurs Lewin, teori Roger, dan teori Lippits.
  1. Teori Kurs  Lewin (1951)
Dalam mengantsipasi perubahan, Lewin menyatakan bahwa perubahan itu dapat dibedakan menjadi 3 (tiga) tahapan, yakni tahapan pencairan (unfreezing), bergerak (moving), dan pembekuan (freezing). Tahapan pencairan (unfreezing)  merupakan upaya menyadarkan dan menumbuhkan  motivasi yang kuat perlunya perubahan. Yakni beranjak dari keadaan semula dan mengubah kesimbangan yang ada. Pada tahap ini perlu ditumbuhkan sikap siap untuk berubah, menyiapkan mental karyawan/pegawai, dan disusun rencana perbahan yang sitematis, bertahap, berkesinambungan. Maka dalam tahap ini perlu ditanamkan bahwa perubahan itu merupakan keniscayaan. Maka apabila tidak mau berubah, maka akan kalah.
Tahapan bergerak (moving) adalah tahapan adanya sikap untuk bergerak menuju pada keadaan baru atau tahapan baru. Kemauan bergerak menuju kemajuan ini harus didukung dengan penguasaan ilmu dan informasi, sikap dan kemauan untuk berubah, pemahaman terhadap masalah, dan mengetahui langkah-langkah penyelesaian maslah yang dihadapi nanti.
            Adapun yang dimaksud tahapan pembekuan (freezing) adalah keadaan di saat motivasi telah mencapai tingkatan baru atau mencapai keseimbangan baru. Tingkatan baru yang telah dicapai ini harus dijaga agar tidak mengalami kemunduran pada tahap sebelumnya. Oleh karena itu harus selalu diberi umpan balik bahkan tantangan kepada para staf perpustakaan, pegawai/karyawan.

Bersambung


Lasa Hs.