Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

MOMEN

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Minggu, 29 November 2020

TIGA ASPEK KEHIDUPAN MANUSIA

 Manusia merupakan makhluk mulia dan memiliki tanggung jawab besar terhadap tatakelola alam ini. Manusia mendapat amanah dan tugas berat terhadap Allah dan makhluk lantaran kelebihannya dibanding makhluk lain. Allah Swt menegaskan dalam firmanNya :”Dan sungguh Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dan Kami bawa  mereka di darat dan di laut, dan Kami beri rizki dari yang baik-baik dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna”.

Dalam berbagai literatur dapat disimpulkan bahwa manusia memiliki beberapa  kewajiban antara lain: beribadah, belajar, dan bekerja.

1.    Beribadah

Kewajiban beribadah ini sebagaimana dimaksud dalam Firman Allah Swt dalam Q.S. Adz Dzariaat: 56 yang artinya :”Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku”. Ibadah yang dimaksud disini bukan sebatas ritual saja. Ibadah di sini mencakup beragam aspek, baik ibadah individual maupun ibadah sosial. Dalam melaksanakan ibadah ini harus disertai keikhlasan dan ketulusan hati.

Kiranya perlu disadari bahwa seseorang belum dikatakan sebagai orang beriman dengan hanya menjalankan shalat wajib sehari semalam lima kali. Namun juga harus dilengkapi dengan ibadah sosial. Ibadah bukan sekedar melaksanakan wajib (shalat, puasa, zakat dll) tetapi harus memberikan manfaat secara sosial.

Rasulullah Saw menegaskan dalam salah satu sabdanya :”Jika seseorang meninggal dunia, maka amalnya terputus kecuali 3 (tiga) perkara yakni sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shaleh yang mendo’akan kedua orang tuanya”. (H.R. Muslim).  

2.    Belajar

Sebagai khalifah di muka bumi, manusia dibekali kemampuan berpikir. Agar pikiran ini terpelihara dan terus berkembang, maka agama memerintahkan manusia untuk selalu belajar. Belajar memiliki arti penting terutama untuk aktualisasi diri sebagai hamba Allah (abdullah) dan sebagai khalifatan fil ardhi.

Memang berbeda antara orang berilmu dengan orang yang tidak berilmu. Rasulullah Saw menegaskan dalam sabdanya :” Keutamaan orang berilmu diatas ahli ibadah bagaikan keutamaan bulan purnama atas seluruh bintang-bintang. Sesungguhnya ulama itu pewaris para Nabi. Para Nabi tidak mewariskan dirham dan dinar. Mereka mewariskan ilmu. Maka barangsiapa yang mengambilnya, sungguh dia telah mengambil keberuntungan yang besar”. (H.R. Abu daud).

3.    Bekerja

Bekerja merupakan eksistensi diri, membahagiakan orang lain, kemandirian, dan menggerakkan ekonomi. Pekerjaan apapun tidak masalah asal dilakukan dengan ikhlas, profesional, dan halalan thayyyiban.

a.      Halalan thayyiban.

Dalam memeroleh rizki/bekerja dituntut bernilai halal dan baik/berkualitas. Seorang muslim tidak boleh melakukan pekerjaan yang disitu ada unsur haram (cara memeroleh, maupun dzat/barang yang diperoleh).

b.     Tidak menjadi beban orang lain

Orang yang bekerja akan menghasilkan sesuatu, memberikan kabahagiaan, dan tidak menjadi beban orang lain. Sebab, sebaik-baik rizki itu bila diperoleh dari keringat sendiri. Jangan sampai hidup ini membebani orang lain apalagi menjadi benalu bagi orang lain.

c.      Mencukupi kebutuhan keluarga (sa’yan ’ala ’iyalihi)

Sebagai kepala rumah tangga memiliki tanggung jawab untuk mencukupi kebutuhan keluarga (isteri & anak-anaknya). Keluarga merupakan amanah dan investasi dunia dan akhirat. Untuk itu perlu dipenuhi kebutuhan mereka. Rasulullah Saw besabda:” Tidaklah seseorang memeroleh  hasil terbaik melebihi yang dihasilkan tangannya. Dan tidaklah sesuatu yang dinafkahkan seseorang kepada diri, keluarga, anak, dan pembantunya kecuali dihitung sebagai sedekah”. (H.R. Ibnu Majah)

d.     Meringankan beban hidup teteangga (ta’aththufan ’ala jarihi).

Islam menganjurkan adanya solidaritas sosial. Tetangga itu sebenarnya saudara kita. Tetanggalah yang lebih dulu diminta tolong bila kerepotan. Ketika sakit,tetanggalah yang lebih dulu menolong. Bukan anak kandung yang dokter dan tingggal jauh disana.

Apabila orang itu bekerja, dari segi lain tidak merepotkan tetangga. Tetangga tidak harus dibayangi kehidupan ekonomi kita bila kita bekerja.

 

Nur Hasyim Latif.

NASIHAT PENDAHULU KITA : Tulisan 4 Kepemimpinan menurut KGPAA Mangkunegara IV

 

            Dalam beberapa buku peninggalan pendahulu kita telah banyak diwariskan nilai-nilai adiluhung yang masih relevan dengan perkembangan jaman. Namun kadang kita lebih bangga kalau menggunakan teori-teori dari asing. Lebih bergengsi katanya. Diantara nasihat kepemimpinan itu dikemukakan oleh KGPAA Mangkunegara IV, yakni:

1.      Nur wiradat/tanggung jawab

         Seorang pemimpin harus bertanggung jawab (amanah) yang diberikan. Dalam arti luas, hal ini berarti bahwa pemimpin itu harus mau mengakui kekurangan maupun kesalahan dalam melaksanakan kepemimpinan. Mereka tidak menyalahgunakan kekuasaan dan fasilitas sebagai pejabat tertentu.

2.      Sagawene/rajin dan kerja keras

Seorang pemimpin harus rajin, disiplin, dan mau bekerja keras. Kepemimpinan bukan sekedar mencari popularitas dan gengsi. Kepemimpinan yang baik adalah pengabdian dan ketulusan. Bukannya mumpung dan peluang pengerukan kekayaan negara/daerah.

3.      Mbiyantu marang kemakmuran lan katentreman kawula/menciptakan ketenangan dan kedamaian masyarakat

Kepemimpinan harus mampu menciptakan dan menjaga ketenteraman, ketenangan, dan kedamaian masyarakat. Bukannya menimbulkan konflik dan adudomba masyarakat. Pemimpin yang baik selalu diharapkan kehadirannya. Sebaliknya, pemimpin yang buruk akan ditolak dimana-mana. Tidak terpilih, meskipun berulang kali mencalonkan diri.

4.      Ngowel ing kapitunan/hati-hati dalam bertindak

Pemimpin harus hati-hati dalam bertindak dan waspada atas bawah, kanan kiri. Sebab tidak sedikit pemimpin yang jatuh gara-gara orang dekat atau bawahannya. Sebab mereka sangat paham kekurangan atasannya itu. Dari modal ini, mereka ingin kuasa dan menelanjangi kekuarangan atasannya. Kalau perlu justru membuat fitnah/hoaks dimana-mana

5.      Melu rumeka pakewuh/membela negara

Pemimpin yang baik harus menjaga kehormatan bangsa dan menjaga kedaulatan rakyat. Bukannya mereka yang mementingkan diri dan kelompoknya. Tidak seenaknya sendiri.Tidak mau mengikuti tatanan dan aturan yang berlaku.  Pemimpin-pemimpin yang korup itu justru menggerogoti kekayaan dan menurunkan wibawa negara. .  

Pada hakekatnya mereka merusak, meskipun selalu bilang sebagai pembela negara dang bangsa. Demi kepentingan orang kecil, dan lainnya.

6.      Nyegah rusaking praja/tidak membuat kerusakan

Pemimpin sejati adalah mereka yang tidak membuat kerusakan sosial. Tidak mengacaukan kehidupan sosial. Tidak merusak tatanan, tuntunan,   dan tidak profokatif.Mereka harus mau menegakkan amar ma’ruf nahi munkar secara baik.

Pemahaman tentang karakteristik kepemimpinan ini sangat penting.Apalagi kini masanya muncul calon-calon pemimpin. Pemahaman ini penting juga bagi calon pemilih. Pemilih harus cermat dan teliti dalam memilih pemimpin. Kadang pemilih itu menjatuhkan pilihan karena popularitas. Ternyata setelah terpilih, kepemimpinannya mengecewakan misalnya.

           

Bersambung

 

            Lasa Hs

Rabu, 25 November 2020

MENGENAL ORGANISASI OTONOM MUHAMMADIYAH Tulisan – 2

 

     MENGENAL ORGANISASI OTONOM MUHAMMADIYAH

                                             Tulisan – 2

                                          Raisa Fadelina

                                       Pustakawan UMY

 

5. Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah

          Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah/IMM adalah sebuah organisasi gerakan mahasiswa sekaligus sebagai Ortom Muhammadiyah yang bergerak di bidang keagamaan, kemahasiswaan, dan kemasyarakatan. IMM berdiri di Yogyakarta tanggal 14 Maret 1964 dengan tujuan untuk mengusahakan terbentuknya akademisi Islam yang berakhlak mulia dalam rangka mencapai tujuan Muhammadiyah. Organisasi ini memiliki struktur dari tingkat pusat, daerah, cabang dan komisariat.

          Peresmian yang diselenggarakan di Gedung Dinoto Yogyakarta ini ditandai dengan penandatanganan ”Lima Penegasan IMM oleh K.H. Badawi, yang berisi:

a.     Menegaskan bahwa IMM adalah gerakan mahasiswa Islam;

b.     Menegaskan bahwa kepribadian Muhammadiyah adalah landasan perjuangn IMM;

c.      Menegaskan bahwa fungsi IMM adalah organisasi mahasiswa yang sah dengan mengindahkan segala hukum, undang-undang, peraturan, serta dasar dan falsafah Negara;

d.     Menegaskan bahwa ilmu adalah amaliah dan amal adalah ilmiah;

e.      Menegaskan bahwa amal IMM adalah lillahi ta’ala dan senantiasa diabdikan untuk kepentingan rakyat.

Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah ini berdiri berdasarkan faktor eksternal dan internal  dengan tujuan:

a.     Turut memelihara martabat dan membela kejayaan bangsa;

b.     Menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam;

c.      Sebagai upaya untuk menopang, melangsungkan dan meneruskan cita-cita pendirian Muhammadiyah;

d.     Sebagai pelopor, pelangsung, dan penyempurna cita-cita Muhammadiyah;

e.      Membina ilmu serta amal dalam kehidupan bangsa, umat, dan Persyarikatan.

 

6.Tapak Suci Putera Muhammadiyah

Tapak suci milik Muhammadiyah ini berdiri di Kauman tanggal 31 Juli 1963 dengan memiliki motto :”Dengan iman dan akhlak saya menjadi kuat, tanpa iman dan akhlak saya menjadi lemah”.

Organisasi bela diri ini berdiri dengan tujuan:

a.     Mendidik dan membina ketangkasan dan ketrampilan pencak silat sebagai seni beladiri Indonesia;

b.     Memelihara kemurnian pencak silat sebagai seni beladiri Indonesia yang sesuai dan tidak menyimpang dari ajaran Islam sebagai budaya bangsa yang luhur dan bermoral;

c.      Mendidik dan membina anggota untuk menjadi kader Muhammadiyah;

d.     Melalui seni beladiri menggembirakan dan mengamalkan dakwah amar ma’ruf nahi munkar dalam usaha mempertinggi ketahanan Nasional;

Organisasi olah raga ini dalam upaya mencapai tujuan, menentukan lagkah-langkah pencapaian dengan usaha-usaha:

a.     Memperteguh iman, menggembirakan dan memperkuat ibadah serta mempertinggi akhlak yang mulia sesuai ajaran Islam;

b.     Menyelenggarakan pembinaan dan pendidikan untuk melahirkan kader Muhammadiyah;

c.      Menyelengarakan pembinaan seni beladiri Indonesia;

d.     Mengadakan penggalian dan penelitian ilmu seni beladiri Indonesia;

e.      Aktif dalam lembaga olahraga dan seni yang diadakan oleh Pemerintah maupun swasta yang tidak menyimpang dari tujuan Tapak Suci;

f.       Menggembirakan penyelenggaraan dakwah amar ma’ruf nahi munkar sesuai dengan proporsi seni beladiri;

g.     Menyelenggarakan pertandingan dan lomba serta pertemuan untuk memperluas pengalaman dan persaudaraan;

h.     Menyelenggarakan usaha lain yang dapat mewujudkan tercapainya maksud dan tujuan.

             

7. Hizbul Wathan

          Organisasi kepanduan Muhammadiyah ini didirikan pada masa K.H.Ahmad Dahlan pada tahun 1918. Organisasi kepanduan ini didirikan untuk menyiapkan dan membina angkatan muda Muhammadiyah agar mereka memiliki akidah kuat, berilmu dan berteknologi, berakhlakul karimah untuk mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya dan siap menjadi kader persyarikatan, umat, dan bangsa.

HW ini memiliki struktur dari pusat sampai ranting. Di tingkat Nasional disebut Kwartir Pusat, di tingkat provinsi disebut Kwartir Wilayah, di tingkat kabupaten/kota disebut Kwartir Daerah, di tingkat kecamatan disebut Kwartir Cabang. Kemudian untuk tingkat desa/kelurahan disebut Qabilah.

          Organisasi kepanduan ini telah melahirkan tokoh-tokoh nasional seperti Jenderal Soedirman, Abdul Kahar Mudzakir, Brigjen Polisi Abdulhamid Swasana, Muhammad Marzuki Yatin dan lainnya. Drs. Sri Purnomo, MSi (bupati Sleman dua periode) itu juga alumni HW.

HW merupakan organisasi yang berazaskan Islam dengan memiliki ciri/sifat khas HW, yakni:

a.     Terbuka

Organisasi ini menerima anggota dari siapapun asal memenuhi syarat keanggotaan;

b.     Sukarela

Untuk menjadi anggota HW tidak ada paksaan atau instruksi dari manapun.

c.      Nasional

Organisasi kepanduan ini diperuntukkan bagi seuluruh bangsa dan masyarakat Indonesia dan bergerak di bumi Indonesia dalam rangka mencerdaskan bangsa;

d.     Islami

Organisasi ini bersifat Islami sebagai ortom yang mengemban misi dan visi Muhammadiyah

 

Habis

 

SELALU MENJADI SOLUSI dan TIDAK SUKA BERTENGKAR

 

SELALU MENJADI SOLUSI dan TIDAK SUKA BERTENGKAR

         

Mengapa Muhammadiyah dapat bertahan bahkan terus berkembang sampai hari ini ?. Padahal usia Muhammadiyah sudah lebih dari 108 tahun.

Salah satu jawabannya adalah karena Muhammadiyah selalu dapat menjadi solusi pada setiap kebutuhan umat. Setidaknya itulah kesimpulan yang penulis dapat dari beberapa edisi majalah Suara Muhammadiyah dari tahun 1915 – 1940 an dan majalah Suara Muhammadiyah edisi agak baru yang sempat dibaca penulis.

Tentu saja ini hanya salah satu jawaban diantara sekian banyak jawaban lain yang jauh lebih tepat dengan analisa berbagai teori ilmu yang berkembang hari ini.

Sebagai organisasi yang dirintis oleh orang Jawa dan bertitik tolak di wilayah ibu kota budaya Jawa (Yogyakarta) Muhammadiyah tidak bisa dipisahkan dengan berbagai adat yang menjadi dasar kehidupan masyarakat Jawa.

            Misalnya ana catur mingkur ana bapang nyimpang (tidak melayani ajakan atau provokasi untuk melakukan pertengkaran). Seloka ini sangat akrab dengan tradisi Jawa. Yakni tidak suka berkonflik serta menghindari upaya provokasi pihak lain. Muhammadiyah sejak generasi awal hingga kini juga menganut filosofi ini.

            Walaupun tidak dinyatakan dalam dokumen apapun, banyak kebijakan Pimpinan Muhammadiyah yang terekam di dalam Suara Muhammadiyah menyiratkan hal ini. Misalnya pada masa asal berdirinya, Muhammadiyah terus diprovokasi dan difitnah berbagai pihak seperti dituduh sebagai agen atau cabang Wahabi, sebagai Islam Blesteran Kristen (karena sekolah pakai bangku dan pakai celana saat shalat juga khutbah Jum’at pakai bahasa Jawa, serta menghalalkan sepak bola)., Muhammadiyah tidak pernah melayani tudingan-tudingan semacam itu.

            Alih-alih melayani perdebatan, Muhammadiyah terus fokus bekerja mengembangkan berbagai amal sosial yang ditekuninya. Kalau ada yang masih ngeyel, para tokoh itu hanya disarankan untuk membaca AD-ART dan buku-buku tentang Muhammadiyah.

           Dalam buku karya Abdul Munir Mulkan berjudul Pesan dan Kisah Kiai Dahlan Dalam Hikmah Muhammadiyah (terbitan Suara Muhammadyah, 2007) ditulis, saat mendengar laporan berita yang tidak benar tentang Muhammadiyah, Kiai Dahlan hanya berkomentar :”Jarno bae, sing gawe goroh mongso betaho, bakal kaweleh, tur bosok ilate”. (Biarkan saja, yang berdusta tidak mungkin tahan, bahkan terbongkar, dan lidahnya akan membusuk).

         Demikian pula ketika orang-orang Islam saat itu asyik dan suka berdebat tentang hukum-hukum fiqh. Muhammadiyah tidak mau terjebak ke dalam perdebataan yang tidak produktif itu. Muhammadiyah malah mengingatkan kalau di sekitar kita orang-orang yang harus menerima zakat jumlahnya masih banyak dan terus bertambah.

Hal itu setidaknya dapat kita baca dalam tulisan Drijo Wongso yang berjudul Roomsch Katholiek Beractie dalam Suara Muhammadiyah nomor 9 tahun 1926, di sini Sekretaris PKO pertama menyatakan “Apa kita umat Islam belum puas bertengkar mulut, tapi bertongkat ruas ?. Singkat tapi menyodok ulu hati.

          Pernyataan Drijo Wongso ono seperti memperkuat tulisan AD Haannie yang berudul Agama Islam yang dimuat Suara Muhammadiyah tahun 1921) ketika menjawab keluh kesah pembaca yang menyoroti kegemaran umat Islam yang suka berselisih dengan sesamanya  yang seakan-akan hampir semu aspek kehidupan selalu diperselisihkan.

         Di sini pimpinan redaksi Suara Muhammadiyah kala itu menulis “Memang benar celaka dan terpuruknya orang Islam itu terbawa dari kesukaannya berselisih. Karena kitab yang dipelajari adalah kitab yang memicu perselisihan, diajarkan oleh guru yang suka menangkarkan bibit perselisihan”.

       Pada banyak kesempatan, Prof. Malik Fajar (Allahu Yarham) juga sering mengingatkan agar dalam mengurus apapun, warga Muhammadiyah selalu menjauhkan diri dari petengkaran. Mantan Menteri Agama, Menteri Pendidikan, juga Menko Kesra ini selalu menekankan kalau pertengkaran (apapun alasannya) itu hanya akan menjauhkan kita dari keberkahan.

          Barangkali inilah yang menjadikan Muhammadiyah terus dapat berkembang meliNtasi zaman. Muhammadiyah  yang sedikit bicara dan banyak bekerja  serta benci  terlibat pertengkaran dengan siapapun.

(Isngadi Marwah Atmadja, dalam Suara Muhammadiyah 22/105 , 16 – 30 November 2020: 21)   oleh Lasa Hs,                             

 

Selasa, 24 November 2020

Panca Pratama

           Menjadi pemimpin itu sebenarnya merupakan kepercayaan (amanah). Namun tidak sedikit pemimpin yang tidak amanah alias tidak bisa dipercaya.

Kepemimpinan adalah kemampuan untuk memengaruhi seseorang atau kelompok untuk mencapai tujuan tertentu. Untuk itu seorang pemimpin harus menguasai ketrampilan manajemen, ketrampilan teknis, manusiawi, dan konsepsual.

          Pengejawantanan teori kepemimpinan dalam masyarakat sederhana dapat diekspreskan dengan kalimat ing ngarsa sung tuladha (di depan memberi teladan/contoh), ing madya mangun karsa (di tengah memberi semangat dan memotivasi), tut wuri handayani (di belakang memberi dukungan).

          Kearifan lokal yang lain menyatakan bahwa efektivitas kepemimpinan dapat disimak dari ajaran Panca pratama. Teori Panca pratama ( lima hal yang terbaik) ini ditulis oleh Ranggawarsita dalam bukunya berjudul Serat Witaradya. Beliau adalah pujangga Kraton Surakarta pada masa pemerintahan Paku Buwana VII sampai Pakubuwana IX.

          Dalam buku tersebut, Ranggawarsita menyebutkan bahwa panca pratama itu terdiri dari; mulat, amilata, amiluta, miladarma, dan parimarma.

1.Mulat

          Mulat berarti awas atau hati-hati. Hal ini berarti bahwa seorang pemimpin harus memahami kemampuan anak buah serta waspada terhadap anak buah yang komitmen dan yang tidak sejalan. Sebab tidak sedikit suatu kepemimpinan itu jatuh karena olah orang-orang dekat.  Orang dekat kadang ibarat musuh dalam selimut.

2. Amilata

          Amilata berarti memelihara atau memanjakan. Nasihat ini dapat diartikan bahwa pemimpin perlu memberikan penghargaan kepada mereka yang berprestasi, berkorban dalam membela kebenaran dan keadilan. Prestasi mereka akan memotivasi, menjadi contoh, dan memberikan manfaat kepada banyak orang

3. Amiluta

          Amiluta berarti membujuk . Artinya seorang pemimpin harus bisa mendekati bawahan, komunikatif, dan mampu melakukan pendekatan ke pihak-pihak terkait.

Pemimpin harus mampu berkomunikasi ke segala arah dengan sejuk, tenang, dan tidak menyakitkan pihak lain.

Dukungan rakyat (yang dipimpin) dan jaringan komunikasi akan memperkokoh posisi pemimpin dan kepemimpinan.

4. Miladarma

          Miladarma berarti menghendaki atau kebijakan. Ini berarti bahwa seorang pemimpin harus dapat memberikan solusi dan pencerahan. Pemimpin yang baik adalah mereka yang bisa menunjukkan ke arah yang jelas. Bukannya membuat resah dan bingung masyarakat.

5. Parimarma

          Parimarma berarti belas kasih dan mencintai yang dipimpin. Dalam bahasa Jawa dapat digambarkan paring pangan marang kang kaluwen, paring sandang marang wong kawudan, paring banyu marang wong kasatan, paring payung wong kang kodanan, dan paring kudhung wong kang kepanasen, lan paring teken marang kang kalunyon. Artinya kepemimpinan yang baik itu memberi makan kepada mereka yang kelaparan (terdampak virus Corona misalnya), memberi pakaian mereka yang telanjang, memberi air/minuman kepada mereka yang haus, memberi payung pada mereka yang kehujanan, memberi pelindung pada mereka yang kepanasan, dan memberi tongkat kepada mereka yang berjalan di jalan yang licin.

          Memang banyak orang  yang kepingin menjadi pemimpin. Namun kultur dan perilakunya kadang tidak dapat menjadi contoh sebagai seorang pemimpin.

 

Bersambung

 

Lasa Hs

Senin, 23 November 2020

Workshop Pernak-Pernik Sukses Webinar

 

Selasa, 17 November 2020, Perpustakaan Unisa Yogyakarta melakukan kegiatan Workshop Pernak-Pernik Sukes Webinar”. Acara berlangsung dari pagi hingga pukul 12.00 WIB. Workshop secara resmi dibuka oleh Bapak Taufiqur Rahman, SIP., M.A, P.Hd., selaku Wakil Rektor I Unisa Yogyakarta. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa pandemi menjadi perubahan cepat dalam teknologi informasi, terutama dalam web conference atau webinar seperti workshop. Ada 2 pembicara dalam workshop kali ini. Pembicara pertama adalah Bpk. Basit Adhi Prabowo, ST, selaku Kepala Pengembangan Teknologi dan Sistem Informasi (BPTSI) dari Unisa Yogyakarta yang menyampaikan materi tentang pengalamannya selama menjalankan berbagai kegiatan webinar baik nasional dan internasional. Pembicara ke dua adalah Ibu Arda Putri Winata, M.A,  yang menyampaikan tentang apa dan bagaimana webinar itu, dan bagaimana mengatasi berbagai kendala yang ada. Acara ini diikuti oleh 68 peserta dari FPPTMA, HIMPUSMA dan peserta umum lainnya dari berbagai daerah di Indonesia. Acara berjalan dengan lancar dan tertib tanpa kendala yang berarti, yang didukung oleh tim panitia Pustakawan Unisa Yogyakarta dan Kepala BPTSI. Irkhamiyati, M.IP, selaku Kepala Perpustakaan Unisa Yogyakarta, yang bertugas memandu workshop menyambut semangat acara ini yang merupakan Kerjasama dengan Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhamadiyah ‘Aisyiyah (FPPTMA) Korwil DIY-Jateng Selatan. Harapannya adalah peserta dapat menambah banyak ilmu dan pengetahuan tentang sukses menyelenggarakan webinar, baik secara teknis dan non teknis, guna meningkatkan resource sharing, terlebih di saat panemi seperti sekarang ini. (Irkham-Nisak-Agung)

Minggu, 22 November 2020

HASTABRATA

 NASIHAT PENDAHULU KITA Tulisan 2

 

                                            HASTABRATA

 

Nenek moyang kita mewariskan nilai, budaya, dan norma kepemimpinan yang diekspresikan antara lain dalam cerita pewayangan. Warisan nilai yang adiluhung ini hampir tak dikenal lagi oleh generasi milenial. Bahkan dianggap kuno, jadul, dan tidak njamani lagi. Padahal kalau kita bisa berpikir jernah dan mampu menganalisa, bahwa wayang itu merupakan seni tradisional Indonesia yang memiliki fungsi sebagai media tontonan (pementasan), tuntunan (suri tauladan), dan tatanan  (aturan)

            Nilai-nilai kepemimpinan dapat disimak, dipelajari, dan diaplikasikan apabila kita bisa menangkap apa yang tersirat dari lakon Makutarama. Dalam lakon pagelaran ini terdapat ajaran hastabrata yang diberikan oleh Kesawasidhi  kepada Arjuno (satria Pandawa) yang berupa pedoman kepemimpinan warisan Ramawijaya yang meneladani sifat-sifat alam semessta. Misalmya watak bumi, api, air, angin, matahari, bulan, bintang, dan awan. Adapun ajaran hastabrata  adalah sebagai berikut:

1.Hambeging surya (sifat matahari)

            Matahari memancarkan sinar panas sebagai sumber kehidupan yang membuat semua makhluk tumbuh dan berkembang. Maka suatu kepemimpinan (individu maupun kologial) harus dapat menumbuhkembangkan daya hidup masyarakat/rakyat/komunitas yang dipimpinnya, memberikan kehidupan serta memberikan semangat terus menerus kepada mereka

Matahari ikhlas memberi dan tak pernah minta kembali. Matahari terus memberi tak pernah berhenti. Tidak akan mati suri meski dibulli. Tidak akan sakit hati meski dicaci maki. Dan tidak tinggi hati bila dipuji.

Matahari selalu membangkitkan/memajukan kehidupan flora, fauna, dan manusia. Matahari tetap bersinar meski dicaci maki. Sampai kapanpun matahari akan tetap menyinari bumi. Niatnya untuk melaksanakan perintah Ilahi (yusabbihu lillaahi maa fissamaawaati wamaa fil ardhi). Bukan pula pujian yang dicari.

2. Hambeging candra (sifat bulan)

            Bulan memiliki sifat memancarkan sinar di kegelapan malam. Maka seorang pemimpin harus menyenangkan, memberikan pencerahan (bukan malah ngisruh), memberikan solusi terhadap persoalan yang dihadapi komunitas, rakyat, kelompok yang dipimpinnya. Bukannya malah membuat masalah lagi. Bila tak bisa memberi solusi, lebih baik berdiam diri. Jangan sampai  membuat rumit negeri ini.

3. Hambeging kartika (sifat bintang)

            Bintang itu memancarkan cahaya indah kemilauan di langit biru menghiasi indanya malam. Dengan sifat ini, bintang menjadi pedoman arah dan tanda-tanda tertentu. Untuk itu, seorang pemimpin seharusnya bisa menjadi suri tauladan (uswah hasanah), panutan, dan tempat bertanya. Pemimpin yang baik akan memberikan solusi. Bukan malah bikin ruwet negeri ini.

4. Hambeging hima (sifat awan)

            Awan yang tebal biasanya akan mendatangkan hujan, bila tidak digiring angin kencang. Awan menunjukkan kewibawaan dan kharisma. Maka pemimpin yang baik akan memiliki wibawa dan kharisma yang tinggi. Pemimpin seperti ini ketika sudah meninggalpun tetap akan dihormati.

5. Hambeging samirana (sifat angin)

            Angin memiliki watak selalu bertiup kemanapun tanpa membedakan tempat dan selalu mengisi ruang yang kosong. Sifat ini memberi pelajaran kepada kita, bahwa seorang pemimpin yang baik harus dekat dengan yang dipimpin. Pemimpin yang baik tidak membedakan paham, suku, aliran, agama, politik. Harus berdiri tegak diatas semua golongan. Maka kepemimpinannya dirasakan oleh akar rumput.

6.Hambeging samudra (sifat air atau laut)

            Laut sangat luas dan mampu memuat apa pun seolah-olah tak terbatas. Maka seorang pemimpin harus mampu menampung segala persoalan sesuai tingkat kemampuannya, adil, visioner. Bukan malah  selalu mencari-cari persoalan yang bisa menimbulkan kontroversi

7. Hambeging dahana (sifat api)

            Api memiliki sifat membakar habis dan menghanguskan. Hal ini dapat dipahami bahwa seorang pemimpin harus berani menghadapi tantangan, menegakkan kebenaran dan keadilan. Tidak perlu takut gertak sambal dan berusaha untuk selalu amar ma’ruf nahi munkar. Dalam penyampaian amar ma’ruf nahi munkar ini dilakukan bilhikmah wal mau’dzah hasanah.

8. Hambeging bantala (sifat tanah)

            Tanah memiliki sifat yang kuat dan murah hati. Maka seorang pemimpin harus rendah hati, tidak takabur. Tidak gila hormat dan tidak haus pujian. Tidak minta dielu-elukan. Pemimpin seperti ini selalu baik hati meski dicaci maki. Tenang dan sabar dalam memimpin meski digoyang kanan kiri, tanpa harus tinggi hati.

          Nasihat tersebut kiranya masih relevan di era society 5.0 ini. Maka perlu hati-hati dan selektif dalam memilih pemimpin. Keliru memilih, penyesalan di kemudian hari.

                            

Bersambung

 

Lasa Hs