Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Kamis, 20 September 2018

MENGEMBANGKAN POTENSI PENULISAN KEPUSTAKAWANAN (Tulisan – 6)


Karya unggulan
            Orang selalu ingin unggul dari yang lain dalam beberapa hal. Lembaga bahkan perguruan tinggi dalam mencanangkan visinya adalah memiliki keunggulan dari lembaga/perguruan tinggi yang lain. Nilai-nilai keunggulan itu akan selalu diklaim masing-masing lembaga yang kadang diukur dengan ukurannya sendiri.
            Terlepas dari pemikiran ini, dalam kajian ini nilai keunggulan itu dapat dilihat dari unsur kebaharuan, keunikan, kemanfaatan, dan perubahan.  
  1. Kebaharuan
Sesuatu itu akan menarik dan mungin diacu, dicari, dipelajari orang lain kalau dalam kegiatan, proses, sistem, teori yang dikemukakan itu ada unsur kebaharuan. Artinya sesuatu itu memang betul-betul baru pertama kali, belum pernah terjadi, atau unsur inovatif kreatif. Maka untuk melahirkan kebaharuan perlu keberanian melangkah, beda dari yang lain, kecerdasan membaca peluang, berani membuat  terobosan dan pemikiran baru.
            Mereka yang memiliki keberanian dan inovasi tinggi akan menggapai keunggulan dalam profesi maupun dalam masyarakat. Untuk itu perlu kerja keras untuk menciptakan sesuatu yang baru.
  1. Keunikan
Sesuatu yang unik, nyleneh,aneh apabila dikelola, dikembangkan secara serius nanti akan menjadi keunggulan bahkan kemenangan tersendiri. Persoalannya adalah bagaimana kita bisa mengelola yang unik, nyleneh, dan aneh ini. Banyak contoh yang nyleneh ini menjadi dikenal seperti Gudeg Pawon, Sate mBah Galak (Solo) , Bakmi Lethek, dan lainnya. 
  1. Kemanfaatan
Sesuatu dapat menjadi unggulan apabila ternyata banyak memberikan manfaat, mudah diakses, fleksibel. Untuk menciptakan sesuatu yang banyak manfaat inipun perlu pemikiran, keberanian, kecerdasan tersendiri. Sekedar contoh adalah software SLIMs yang ternyata banyak digunakan oleh sebagian perpustakaan kita. Karena perangkat lunak ini mudah diakses, sederhana, murah, dan ternyata memberikan kemanfaatan maka memiliki nilai keunggulan dari yang lain.
  1. Perubahan
Dalam kehidupan profesi, keilmuan, dan masyarakat tidak ada yang abadi, dan yang abadi itu adalah perubahan. Artinya dalam kehidupan ini herus ada perubahan dan itu berarti adanya kemajuan. Tanpa adanya perubahan berarti tidak ada kemajuan. Nah, nilai kemajuan itulah sebenarnya letak keunggulan suatu keadaan. Orang, kegiatan, gerakan, teori, maupun komunitas yang mampu melakukan perubahan dan itulah yang memiliki keunggulan.
Penutup
            Di era kompetitif ini, orang harus berani bersaing. Sebab hidup pada hakekatnya adalah kompetisi. Untuk itu perlu memahami potensi diri dan berusaha mengembangkannya.
            Kemampuan menulis merupakan salah satu potensi untuk berkompetisi. Sedangkan untuk bisa menulis cukup diperlukan motivasi tinggi, percaya diri, kemauan, keberanian, kesabaran, tak mudah menyerah, dan berlatih. Tanpa mau mencoba, sulit diharapkan bisa menulis apalagi menjadi penulis. Takut gagal berarti itu indikator sulit maju. Kegagalan adalah umpan balik untuk menuju keberhasilan.
            Untuk mencapai keunggulan harus memiliki keberanian dan kreativitas yang tinggi. Sedangkan indikator keunggulan itu terletak pada kebaharuan, keunikan, kemanfaatan, dan ada perubahan.
 
Daftar pustaka
-          Abbas, Ersis Warmansyah. 2008. Menulis Mudah; dari Babu Sampai Pak Dosen. Yogyakarta: Gama Media
-          Adhim, M. Fauzil. 2004. Dunia Kata. Bandung: Mizan Bunaya Kreativa
-          Camus, Albert dkk. 2003. Menulis itu Indah. Yogyakkarta: Jendela
-          Forum Kajian Budaya & Agama. 2001. Melejitkan Potensi Diri EI & QL. Yogyakarta: FKBA
-          Lasa Hs. 2005. Gairah Menulis; Panduan Menerbitkan Buku untuk Penulis Pemula. Yogyakarta: Alinea
-          -----------. 2006. Menulis itu Segampang Ngomong. Yogyakarta: Pinus
-          Prama, Fede. 2004. Inovasi atau Mati. Jakarta:PT Elex Media Komputindo
-          Romli, Asep Syamsul M. 2003. Lincah Menulis, Pandai Berbicara. Bandung: Nuansa Cendekia
-          Satiadarma, Monty P.; Fidelis E. Waruwu. 2003. Mendidik Kecerdasan.Jakarta: Pustaka  Obor
-          The Liang Gie. 1992. Pengantar Dunia Karang Mengarang. Yogyakarta: Liberty.
Selesai


Lasa Hs


Rabu, 19 September 2018

MENGEMBANGKAN POTENSI PENULISAN KEPUSTAKAWANAN (Tulisan – 5)


Menulis sebagai pengembangan kreativitas.
            Menulis memerlukan kreativitas, menciptakan hal baru, ide baru, pemikiran  baru, atau cara baru. Oleh karena itu penulis harus selalu berpikir untuk menciptakan sesuatu yang baru/belum pernah ada.  
Ciri-ciri orang kreatif
  1. Terdorong untuk berprestasi
Mereka yang memiliki motivasi tinggi ingin selalu berprestasi. Mereka memacu dirinya untuk berkompetisi (meskipun dengan dirinya sendiri), berusaha menjadi terdepan/pertama dalam bidangh-bidang tertentu. Upaya pencapaian prestasi ini disebut dengan achievmenet motivation atau needs for achivement.
Motif berprestasi ini merupakan dorongan untuk menyelesaikan kesukaran, mengatasi kesulitan, dan berusah untuk melebihi prestasi orang lain. Oleh karena itu motif berprestasi ini dapat dipahami sebagai motif yang mendorong individu untuk mencapai kesuksesan. Kesuksesan tidak harus diukur dengan materi, kedudukan, jabatan, maupun pangkat. Kesuksean dapat juga diukur dengan ukuran keberhasilan kompetisi itu sendiri antara lain dapat diukur degan prestasinya sendiri sebagai ukuran keunggulan/standard of excelence. 
  1. Optimis berhasil
Kata Teddy Rooselvelt (mantan Presiden Amerika Serikat) “Seluruh sumber daya yang anda perlukan itu sebenarnya telah ada pada diri anda.Anda telah memiliki segala yang diperlukan untuk menjadi pemenang”. Pesan ini mendorong orang untuk selalu optimis dalam menghadapi berbagai persoalah hidup.  Sebab dalam diri orang telah disediakan alat penangkal kegagalan.
Optimis adalah kegigihan memperjuangkan sasaran. Orang yang optimis tidak gentar menghadapi kegagalan dan tantangan. Sebab dalam pikirannya telah tertanam keyakinan bahwa dalam setiap kegiatan hanya ada dua pilihan yakni gagal atau berhasil. Bila gagal, dia siap menerima kegagalan dan berusaha untuk bangkit lagi. Kemudian bila usaha itu berhasil, maka inilah yang diharapkan dan akan berusaha mempertahankan keberhasilan tertentu. Kemudian orang yang memiliki optimisme tinggi biasanya memiliki kecakapan:
a.Tekun dalam mencapai tujuan meskipun ditemukan hambatan dan kesulitan;
b.Bekerja dan berusaha dengan harapan sukses
      c.Berpandangan bahwa segala sesuatu itu pasti ada solusinya.
Dengana optimisme yang tinggi, orang bisa mencapai keberhasilan meskipun tadinya biasa-biasa saja.
  1. Mandiri
Sikap mandiri merupakan kemampuan seseorang untuk tidak tergantung pada orang lain serta bertanggung jawab atas apa yang dilakukaknnya. Orang yang kemandiriannya kuat akan memiliki inisiatif, mampu mengatasi kesulitan, percaya  diri, dapat melakukan kegiatan sendirian tanpa bantuan orang lain. Dalam mengatasi kesulitan ini, Michael Jordan mengingatkan “Obstackles don’t have to stop you. If you run into a wall, don’t turn around and give up. Figure out how to climb it/Adanya tantangan janganlah menghentikan langkah anda. Apabila anda menghadapi tembok (kesulitan, hambatan, duka, penderitaan dll.) jangnlah berputar dan menyerah. Cobalah temukan jalan keluar bagaimana anda bisa memanjatnya.
            Kemandirian seseorang dapat dilihat dari aspek emosi, aspek ekonomi, aspek intelektual, dan aspek sosial (T. Havighurst, 1972). Dari aspek emosi, orang dikatakan mandiri apabila telah mampu mengontrol emosi diri dan tidak terpancing oleh emosi maupun kemarahan orang lain. Dia tidak cepat gembira apabila mendapatkan kegembiraan. Orang ini juga tidak cepat sedih apabila menerima penderitaan. Semua itu disikapi dengan wajar-wajart saja. Dari segi ekonomi, orang dapat dikatakan mandiri apabila tidak lagi menggantungkan kebutuhan ekonominya kepada orang lain. Orang ini betul-betul ingin berdiri di atas kekuatan sendiri. Dia tidak ingin merepotkan orang lain apalagi menjadi benalu orang lain. Orang dikatakan mandiri secara intelektual apabila memang betul-betul mampu mengatasi masalah yang dihadapinya. Dia yakin bahwa setiap persoalan pasti ada jalan keluar dan setiap masalah pasti ada solusinya. Secara sosial, orang dikatakan mandiri apabila orang itu mampu mengadakan interaksi dengan orang lain tanpa menunggu aksi dari orang lain. Orang yang mandiri akan percaya diri dan mudah bergaul dalam bermasyrakat. Dengan modal ini orang akan dikenal masyarakat secara luas. Dari sinilah dia bisa mengekspresikan diri dan mengembangkan diri dan berani bersaing secar aterbuka. 
4.Berinisiatif
            Orang yang berinisiatif adalah orang yang mampu menangkap bahkan mampu menciptakan peluang dan sekaligus mampu memanfaatkan peluanag itu. Adapun cirri-ciri orang yang berinisiatif antara lain:
a.       Siap memanfaatkan peluang
b.      Mengejar sasaran lebih dari yang diharapkan
c.       Berani melanggar batas-batas yang tidak prinsip agar tugas dapat dilaksanakan
d.      Mengajak orang lain untuk melakukan sesuatu yang tidak lazim dan bernuansa petualangan
  1. Berani menghadapi kegagalan
Seperti yang pernah dikatakan oleh Abraham Lincoln bahwa yang penting bukan kegagalan itu yang ditangisi, tetapi bagaimana orang itu bangakit dan bangkit setelah mengalami kegagalan. Kata-kata ini dilontarkan oleh anak manusia yang berkali-kali mengalami kegagalan. Lincoln pada umur 7 tahun dan keluarganya diusir dari rumahnya. Pada umur 22 tahun ia bekerja dan tak lama dipecat. Pada usianya yang ke 31 tahun ia mencalonkan diri sebagai angota legislatif tapi gagal.Kemudian pada usianya yang ke 34 dan 39 mencalonkan diri sebagai anggota Kongres tetapi juga gagal. Saat itu juga ditinggal mati ketiga anak-anaknya.
      Semangat yang membara tetap menyala meskipun berulang kali mengalami kegagalan. Di usianya yang ke 45 tahun ia mencalonkan diri sebagai anggota Senat Amerika Serikat. Ia kemudian  mencalonkan diri sebagai Presiden AS pada umur ke 47, dan berhasil menjadi Presiden AS di usianya yag ke 51.
  1. Komitmen
Komitmen adalah usaha menyelaras diri dengan sasaran kelompok. Orang yang amemiliki komitmen adalah mereka yang:
  1. Siap berkorban untuk pemenuhan kepentingan kelompok
  2. Menggunakan nilai-nilai kelompok dalam pengambilan keputusan
  3. Aktif mencari peluang untuk memenuhi misi kelompok
Bersambung
Salam Iqra’

Lasa Hs

Selasa, 18 September 2018

MENGEMBANGKAN POTENSI PENULISAN KEPUSTAKAWANAN (Tulisan – 4)


Nilai penulisan
            Menulis itu memang menyenangkan dan mengasyikkan. Sebab dengan menulis dapat keluar dari kesumpekan dan merasa puas karena ada sesuatu yang dapat diberikan kepada orang lain. Di samping itu terdapat manfaat dan nilai penulisan antara lain:
1.      Memenuhi kebutuhan:
a.       Religi, ibadah
b.      Sosial kemasyarakatan
c.       Ekspresi diri
d.      Penghargaan
e.       Materi
2.      Pengembangan nilai, ajaran, dan ilmu pengetahuan
3.      Keabadian
4.      Kepuasan
Peluang
            Di era keterbukaan ini terbuka kesempatan tiap orang untuk mengemukakan ide melalui lisan, penerbitan, atau media elektronik yang harus disertai tanggung jawab. Kemudian untuk menulis buku terdapat beberapa faktor yang memberikan kesempatan untuk penulisan antara lain:
  1. Penerbit buku
Penulis itu mitra penerbit yang saling membantu. Ide dan pemikiran penulis bisa menyebar ke masyarakat luas berkat jerih payah penerbit. Penerbitlah yang menyeleksi naskah, mengedit, lay out, menentukan huruf, dan mendistribusikan ke masyarakat luas. Penerbit sangat memerlukan kontribusi naskah dari para ilmuwan, profesional, akademisi, seniman, budayawan, dan lainnya.
  1. Penerbit media cetak; surat kabar, majalah, jurnal
Redaksi media cetak juga menungu sumbangan naskah terutama artikel dari penulis, di samping mereka juga menerima naskah dari reporter/wartawan masing-masing. Peluang ini jarang dimanfaatkan oleh ilmuwan untuk mensosialisasikan bidang atau profesi mereka. Hal ini mungkin karena ketidak mampuan mereka dalam menulis  dengan bahasa populer. Sebab rata-rata para akademisi menggunakan bahasa ilmiah dalam komunikasi tulis. 
  1. Media elektronik
Bagi penulis pemula dapat berlatih menulis melalui media elektronik seperti pembuatan blog. Dari sini mereka bisa menulis apapun dan tak perlu ada seleksi. Apabila tulisan-tulisan itu berkualitas dan marketable, maka akan diakses orang. Oleh karena itu dalam membuat blog ini harus bertanggung jawab. 
  1. Buku dan media tulis memiliki kelebihan
Media cetak terutama buku merupakan media perekam, penyimpan, dan penyampai ilmu pengetahuan yang memiliki kelebihan bila dibanding dengan media lain. Buku dan artikel memiliki beberapa kelebihan antara lain:
    1. lebih luwes/flexibility
    2. lebih nyaman/convenience
    3. dapat dinikmati/enjoyable
    4. mudah dibaca/readibility   
  1. Angka kredit untuk jabatan fungsional tertentu 
Karya tulis ilmiah memiliki nilai angka kredit tinggi bagi jabatan fungsional tertentu terutama jabatan dosen. Buku karya dosen yang terbit nasional bernilai 40 AK. Sementara itu penulisan buku hanya bernilai 12,5 bagi jabatan fungsional dokter dan pustakawan.
Penulisan karya ilmiah merupakan tuntutan tersendiri bagi pemangku jabatan fungsional terutama untuk kegiatan pengembangan profesi. Hal ini untuk mendorong para pelaku fungsional untuk mengambangkan ilmu,bidang, atau profesi mereka. 
Menulis sebagai pengembangan potensi diri.
            Setiap orang memiliki potensi yang perlu dikenali dan selanjutnya dikembangkan. Menulis merupakan salah satu potensi yang dapat dikembangkan dan memberikan manfaat pada diri dan masyarakat. Untuk itu perlu ditanamkan:
  1. Memotivasi diri
Motivasi merupakan upaya penggunaan hasrat yang paling dalam untuk mencapai sasaran, membantu inisiatif, bertindak efektif, dan bertahan dalam menghadapi kegagalan. Orang yang memiliki motivasi tinggi akan berusaha keras dan penuh kreativitas dalam mencapai sasaran. Dalam diri mereka timbul inisiatif untuk mencari jalan keluar yang berupa tindakan untuk mencapai sasaran dengan efektif dan efisien. Mereka yang memiliki motivasi tinggi tidak mudah goyah karena angin yang berembus sepoi-sepoi.
  1. Tiap orang pada dasarnya penutur dan penulis
Proses komunikasi yang dikuasai anak manusia berawal dari kemampuan bicara dan kemudian menulis. Kedua kemampuan itu terus berkembang dan dapat dikembanagkan sesuai kemauan dan kecenderungan seseorang. Betapa banyak orang ayang pandai bicara, tetapi tak bisa menulis. Ada pula yang pinter menulis, tetapi tak pandai bicara. Ada pula yang menguasasi kedua-duanya.
  1. Menumbuhkan “mimpi” menjadi penulis
Untuk mencapai keinginan perlu “diimpikan”. Dengan adanya impian ini orang akan berusaha keras, tekun, sabar, dan telaten untuk mewujudkan impian itu.
Pada tahun 1975 , tumbuh ”impian” kapan nama saya muncul di Toko Gramedia, Gunung Agung (dulu), dan toku buku Sari Ilmu. Dengan kesungguhan hati dan kerja keras, alhamdulillah impian itu terwujud pada tahun 1990 sampai sekarang.
  1. Menulis mampu memenuhi berbagai kebutuhan/needs
Menulis merupakan bentuk ekspresi diri yang mampu memenuhi kebutuhan materi, penghargaan, religi, dan sosial. Dari hasil tulisan seseorang mampu memenuhi kebutuhan materi seperti buku Lasykar Pelangi yang dicetak 750.000 eks itu kiranya dapat dihitung berapa rupiah untuk penulis. J.K.Rowling menjadi wanita terkaya di Inggris dari bukunya berjudul Harry Potter. Dari tulisan, orang mendapatkan penghargaan karena jasanya telah menyebarkan ajaran, nilai, panduan, dan bimbingan. Dari segi religi, penulis mendapatkan nilai/pahala karena ilmunya dimanfaatkan masyarakat banyak dan bernilai abadi. Ilmu yang ditulis itu bermanfaat pada masyarakat bawah dan ini berarti penulis telah memberikan manfaat. Kata orang bijak bahwa sebaik-baik orang itu adalah orang yang mampu memberikan manfaat kepada sebanyak-banyak orang.
  1. Menulis merupakan pengembangan kecerdasan emosi
Menulis tidak saja memerlukan kecerdasan intelektual, tetapi juga memerlukan kecerdasan emosi. Sebab dengan kecerdasan emosi ini orang akan mencapai keberhasilan. Hal ini sebagaimana dikatakan oleh para ahli jiwa bahwa kecerdasan intelektual itu hanya menyumbang 20 % keberhasilan orang, sedangkan 80 % keberhasilan seseorang didukung dari faktor lain antara lain berupa kecerdasan emosi. Kecerdasan ini bekerja secara sinergis dengan ketrampilan kognitif. Orang-orang yang berprestasi biasanya mampu mensinergikan kecerdasan emosi dengan ketrampilan kognitif.  Orang-orang seperti ini biasanya memiliki kesadaran diri yang tinggi, mampu mengatur diri, memiliki motivasi kuat, empati, dan memiliki ketrampilan sosial yang baik.
  1. Memupuk sikap juara/menjadi yang pertama
Orang-orang yang berprestasi selalu berusaha untuk mencapai yang terbaik, yang pertama, atau juara. Mereka berprinsip hidup adalah kompetisi dan manusia lahir kedua sebenarnya telah menang dalam kompetisi.
Sikap seperti inilah antara lain yang mampu mendorong seseorang untuk menulis. Kejuaraan bukan harus dinilai oleh tim, tetapi bisa dinilai oleh masyarakat dalam bentuk pengakuan, dibutuhkan, dicari, diundang, dan lainnya.
  1. Kegagalan itu umpan balik yang akan membawa keberhasilan
Kalau orang mau memelajari kegagalan diri/orang lain, insya Allah akan mampu menemukan jalan keberhasilan. Untuk itu diperlukan kecerdasan dalam menganalisis kegagalan dan kemampuan mengatasi kegagalan itu. Di sinilah sebenarnya makna kegagalan itu umpan baik keberhasilan.


  1. Penakut itu mati seribu kali dan pemberani hanya mati sekali
Penakut itu sudah mati sebelum melangkah. Maka penakut selamanya tidak akan pernah maju dan tak mungakin menjadi yang pertama dalam arti positif. Sebaliknya, pemberani itu sebenarnya telah memenangkan diri karena telah mengalahkan sekian ribu orang yang takut melangkah.
      Bersambung
      Salam Iqra’

      Lasa Hs

Senin, 17 September 2018

MENGEMBANGKAN POTENSI PENULISAN KEPUSTAKAWANAN (Tulisan – 3 )


Anggapan tentang penulisan
            Dalam masyarakat kita terdapat beberapa anggapan bahwa menulis itu menakutkan, bakat, seni, mengoplos ide, dan dapat dipelajari
  1. Menakutkan
Orang enggan menulis mungkin lantaran berbagai ketakutan. Mereka takut kalau tulisannya itu ditolak penerbit, padahal sudah punya nama beken. Mereka juga was-was kalau tulisannya itu terdapat kesalahan dan kekurangan, sehingga takut dikritik, dicemooh, atau diserang orang lain melalui rensensi atau dalam bentuk buku. Bahkan banyak yang  khawatir jangan-jangan bukunya nanti dibajak. Padahal buku itupun belum tentu laku. Sebab buku yang dibajak itu adalah buku-buku yang best sellers. Sedangkan buku mutu belum tentu laku karena kurang marketable.
Dunia penulisan sebenarnya bukan dunia lain yang menakutkan. Para pelaku ilmu pengetahuan dan moral yang takut menulis buku ibarat burung bersayap satu yang hanya mampu meloncat dari dahan/pohon satu ke dahan/pohon lain. Mereka juga bisa dimisalkan seorang yang berani menceburkan diri ke sungai tetapi idak bisa berrenang. Lama kelamaan akan mati tenggelam. Dengan kata lain dapat dinyatakan bahwa ilmuwan itu akan tamat riwayatnya setelah pensiun yang itu merupakan kematian apabila tidak memiliki kemauan dan keamampuan menulis buku/lain. Maka  penakut itu akan mati seribu kali dan pemberani hanya mati sekali. Sebab penakut itu telah mati sebelum melangkah. 
  1. Bakat
Memang ada beberapa penulis itu benar-benar bakat. Mereka mendasarkan penulisan pada ide dan inspirasi yang kuat. Bagi mereka, menulis itu tidak akan memerlukan waktu khusus. Ia hanya menantikan ide sampai datangnya perasaan untuk menulis. Setelah itu biasanya mereka menuangkan ide ke dalam bentuk tulisan. Dalam hal ini mereka menggerakkan tangannya untuk menulis karena adanya sentuhan magis/magic touch yang datang tiba-tiba.
  1. Seni
Tulisan merupakan hasil ekspresi ide atau perasaan sebagaimana lukisan yang merupakan curahan perasaan seorang pelukis. Pengungkapan ini lantaran munculnya gerak batin secara tiba-tiba seperti orang yang mendadak menyanyi atau bersiul karena kegembiraan. Dalam hal ini Claude Levi-Strauss (antropolog Perancis) menyatakan bahwa tulisan merupakan ciptaan ajaib yang pengembangannya membawa manusia pada suatu kesadaran yang lebih besar untuk mengatur masa sekarang dan masa depan (the Liang Gie, 1992: 9)
            Proses penulisan memerlukan kreativitas dan harus memiliki naluri bahasa yang kuat, lincah, dan efektif. Kemahiran memilih kata memerlukan instuisi yang tinggi di samping adanya inspirasi yang muncul.
  1. Cuma mengoplos ide orang lain
Dalam penulisan karya ilmiah memang terjadi saling mengutip pendapat atau tulisan orang lain. Pengutipan ini bukan berarti sekedar mengoplos. Sebab menulis itu merupakan bentuk ekspresi diri secara total yang dalam prosesnya memerlukan ilmu pengetahuan, pelatihan, renungan, dan menuntut berbagai kecerdasan antara lain kecerdasan kata/word smart.
            Pengutipan atau penyitiran dalam penulisan karya ilmiah itu dibolehkan asal menyebutkan data bibliografi secara lengkap. Pola sitiran ini menggambarkan adanya hubungan antara sebagian atau seluruh artikel yang disitir dengan artikel yang menyitir. Adanya pengutipan ini akan memberikan nilai yang obyektif dan manfaat antara lain:
a.       adanya pengakuan atas prestasi orang lain
b.      menjunjung etika keilmuan
c.       membantu pembaca dalam penemuan kembali

  1. Dapat dipelajari, berlatih, dan mencoba
Menulis (buku, artikel, resensi, berita, dll.) itu sebenarnya dapat dipelajari asal ada kemauan, keberanian, sabar, ulet, telaten, dan tak mudah putus asa. Membaca buku-buku teori penulisan kiranya kurang berkembang apabila takut mencoba. Sebab dengan ketakutan mencoba ini, maka selamanya tidak pernah bisa menulis. Membaca teori itu baru sekedar belajar tentang menulis dan belum belajar menulis. Dalam hal ini, Abdul Hadi WM (2002) menjelaskan bahwa bakat menulis itu hanya 5 % lalu keberuntungan 5 %, sedangkan sisanya sebanyak 90 % tergantung pada kesungguhan dan kerja keras.
Belajar, berlatih, dan berani mencoba merupakan salah satu cara untuk maju. Albert Einstein menyatakan “Learn from yesterday, hope for tumorrow. The important things is not stop questioning:. Artinya belajarlah dari hari kemarin, lakukanlah untuk hari ini, dan berharaplah untuk hari esok. Yang penting jangan pernah berhenti bertanya.
Barbara Sher seorang penulis ulung juga menasehatkan bahwa untuk bisa menulis harus banyak berlatih dan tidak mudah putus asa. Dalam hal ini beliau menyatakan “You can learn new things at any time in your life if you’re willing to be beginner. If you actually learn to like a beginner, the whole worlds opens up to you”. Artinya anda bisa memelajari sesuatu yang baru kapan saja asalkan berpikir sebagai pemula. Jika anda benar-benar mau belajar seperti pemula, maka dunia akan terbuka bagi anda. 
Hambatan
            Suatu keinginan itu pasti ada hambatan baik dari dalam diri orang atau dari  luar diri sendiri. Dalam hal ini bukan takut hambatan itu, tetapi bagaimana mengenal hambatan itu dan berusaha untuk mengatasinya. Adapun beberapa hambatan calon penulis atau penulis pemula antara lain:
  1. Hanya ingin dan belum/tidak punya kemauan
  2. Mudah putus asa
  3. Kurang ulet
  4. Malas berlatih
  5. Malas bertanya dan berguru
  6. Terlalu ideal, gengsi
  7. Kurang percaya diri
  8. Berbagai ketakutan.
Calon penulis termasuk para akademisi bisa mengalami ketakutan yang berlebihan antara lain takut :
    1. ditolak penerbit
    2. dikritik
    3. disepelekan
    4. ketahuan kapasitas keilmuannya
    5. dibajak
    6. difotokopi
    7. dibohongi penerbit
    8. tak dibayar royali
Saran/solusi
            Sekecil apapun hambatan, perlu adanya upaya mengatasinya. Sebab kebakaran itu berasal dari percikan api. Beberapa saran solusi bagi penulis pemula antara lain:
  1. ada kemauan yang kuat
  2. putus asa sama dengan “mati gantung diri” sebelum perang
  3. sabar, ulet, dan telaten
  4. malu bertanya sesat ke kuburan
  5. orang bisa renang karena berlatih, bukan hanya membaca buku tentang renang
  6. percaya diri itu potensi terpendam
  7. Hantu itu hanya ada pada diri kita
  8. Berlatih menulis
Belajar teori saja tidak menjamin seseorang akan menjadi penulis. Berani mencoba dan berlatih terus merupakan modal untuk bisa menulis. Balajar menulis tidak harus melalui sekolah menulis. Belajar di manapun selau ada gunanya. Sekolah baru disebut berhasil apabila mampu menggugah orang untuk senantiasa belajar dan mencari. (Prama, 2004:7)
     Bersambung
     Salam Iqra’

     Lasa Hs

MENGEMBANGKAN POTENSI PENULISAN KEPUSTAKAWANAN (Tulisan - 2)


Tujuan Penulisan
            Kegiatan penulisan masih perlu terus menerus disosialisasikan dan digalakkan teruatama pada masyarakat intelektual dengan tujuan:
  1. Menggugah “tidur nyenyak dalam budaya omong” para ilmuwan agar bangun untuk menulis
Dalam proses transfer ilmu pengetahuan dan kehidupan keilmuan kita masih didominasi dengan cara ngomong. Kita telah lama terlena dalam tradisi kelisanan ini yang seharusnya berkembang menjadi tradisi kepenulisan.
Di era keterbukaan ini terbuka kesempatan untuk mengemukakan pendapat melalui tulisan (buku, artikel, dll) melalui media cetak, maupun media elektronik. Kini bukan lagi jamannya memonopoli ilmu pengetahuan. Kini kita harus sharing ilmu pengetahuan dan siapa yang memiliki kompetensi itulah yang akan maju.
Bentuk kerjasama dan saling mengisi ini merupakan kekuatan untuk menuju kehidupan keilmuan dan profesi yang berkemajuan.. Orang kuat, pintar,atau  kaya secara sendiri belum tentu menang. Tetapi orang yang lemah belum tentu kalah apabila mampu bekerja sama. Pemenang itu akan selalu bekerja sama, sementara si kalah berpikir bagaimana ia menjadi orang hebat sendirian.  
  1. Menyadarkan ilmuwan dan profesional agar kegiatan penulisan merupakan tanggung jawab moral/agama dan keilmuan
Menulis hendaknya tidak dipandang sebagai sekedar mencari popularitas, angka kredit, hadiah, rupiah, dan keterpaksaan. Menulis terutama menulis buku hendaknya disikapi sebagai bentuk kesadaran seorang yang memiliki ilmu pengetahuan, nilai, pikiran, dan ajaran yang harus disampaiakn  kepada masyarakat  luas. Dari sini mereka itu akan memberikan manfaat sebesar-besarnya kepada masyarakat. Kata orang bijak bahwa sebaik-baik orang adalah orang yang bisa memberikan sebanyak-banyak manfaat kepada orang lain.
Kegiatan penulisan itu bila ditinjau dari segi religi, maka sebenarnya merupakan usaha pencapaian tujuan hidup jangka panjang (hidup sesudah mati). Apabila kita berusaha mencapai tujuan hidup jangka panjang, maka tujuan hidup jangka pendek insya Allah akan tercapai juga.  Oleh karena itu perlu direnungkan lagi “Jangan sampai ilmu dan pengalaman ilmuan dan profesional itu terkubur bersama jasad mereka”.
  1. Menyejajarkan bangsa kita dengan bangsa lain terutama dalam penerbitan (buku, surat kabar, jurnal, majalah)
Kuantitas dan kualitas penerbitan suatu bangsa akan memengaruhi posisi dan status keilmuan bangsa itu di mata bangsa lain. Bangsa yang maju antara lain dapat dilihat dari tinggi rendahnya minat baca dan minat tulis bangsa itu. Oleh karena itu dapat kita lihat dan saksikan bahwa bangsa-bangsa yang maju, mereka itu suka membaca di manapun berada. Hal ini jauh berbeda dengan kultur bangsa kita yang sangat senang ngerumpi dan menonton.
  1. Menyediakan bacaan berkualitas untuk masyarakat
Buku dan artikel yang diterbitkan  pada dasarnya bisa terbit setelah mengalami penyelesaian dengan kriteria tertentu oleh penerbit/redaksi. Dengan demikian terbitan itu telah memenuhi kriteria dan standar mutu tertentu, meskipun ada juga buku asal terbit.
Dengan adanya bacaan berkualiats itu akan tercipta informasi yang berkualitas dan akan mendorong masyarakat untuk belajar sepanjang hayat melalui bacaan yang berkualitas. Oleh karena itu mereka yang bergerak di dunia pendidikan, budaya, agama, seni, dan lainnya itu diharapkan mampu menyediakan bacaan yang berkualitas melalui penulisan.
            Bersambung
             Salam Iqra’

            Lasa Hs