Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Seminar Layanan Prima di UAD

oleh Dr. Muhammad Sulhan,SIP.,M.Si. dan Drs. Tedi Setiadi,M.T.

Munas di solo

Foto bareng pemateri

Kamis, 18 Januari 2018

BUDAK dan ANJING

  Pemberian yang pantas apalagi sesuatu yang diberikan itu masih kita senangi sebenarnya merupakan penghormatan bagi yang diberi dan menjaga martabat  pemberi. Kalau memang mampu, memang sebaiknya pemberian itu dalam jumlah banyak dan ikhlas. Sedikitpun asal ikhlas itu juga sudah ada kebaikan dan syukur rutin. 
          Dulu ada seorang kaya raya dan dermawan bernama Abdullah bin Ja’far yang memiliki putra bernama Ja’far bin Abi Halaib.  Pada suatu hari yang panas, beliau berjalan-jalan mengelilingi kebunnya. Setelah dirasa cukup mengelilingi kebun, ia pun bermaksud berteduh di bawah pohon milik orang lain. Kebun itu dijaga oleh seorang budak yang saat itu membawa bekal 3 (tiga) potong roti.
          Dari kejauhan ada seekor anjing lari-lari sambil menjulurkan lidahnya karena lapar dan kehausan. Anjing itu mendekati budak tadi sambil menggerak-gerakkan ekornya dan menjilat-jilat sesuatu di sekitar budak tadi. Melihat perilaku anjing itu, hati budak terketuk dan memberikan sepotong rotinya. Anjing itupun memakannya sampai habis. Akan tetapi anjing itu masih penasaran dan tetap menengadah meminta kepada budak yang masih memegang dua potong roti itu. Lalu diberikanlah sepotog roti lagi dan anjing itupun memakannya sampai habis. Dasar anjing, sudah diberi dua  potong roti,nampaknya masih kurang juga.
          Melihat kondisi anjing yang memelas seperti itu, budak itu tidak tega makan roti yang tinggal satu potong itu. Dia pun merelakan sepotong roti terakhir untuk anjing itu. Dia sendiri tidak makan roti. Sedianya satu potong untuk makan di pagi hari, satu potong siang hari, dan satu potong lagi untuk makan nanti sore. Berhubung 3 (tiga) potong habis diberikan pada anjing, maka jatah makan hari itu habis.
          Menyaksikan kejadian itu, Abdullah bin Ja’far memanggil budak tadi dan bertanya.” Hari Saudara, berapa potong roti yang diberikan tuanmu untuk makan hari ini ?”. Budak itu menjawab, :”Ya sebnyak yang Bapak lihat, yakni 3 (tiga) potong roti yang sudah saya berikan pada anjing tadi”. Kemudian dia melanjutkan :”Saya melihat anjing itu bukan anjing dari sekitar sini. Sepertinya anjing itu datang dari jauh dan mengembara sampai ke sini karena kelaparan. Saya sangat kasihan pada anjing tadi dan tidak sampai hati melihatnya kelaparan dan tak berdaya”  lanjutnya..
          Abdulah pun seperti mengulang pertanyaannya lagi :”Lalu apa yang kau makan hari ini?”. Dengan lugas budak itu menjawab,:”Aku akan mengikatkan ikat pinggangku kuat-kuat agar tidak terasa lapar.”, tkasnya.
Mendengar jawaban budak itu, Abdullah bin Ja’far termenung dan berkata pada dirinya sendiri.”Sampai di mana aku dikenal sebagai seorang dermawan. Padahal budak itu lebih dermawan dari pada aku. Ia telah memberi makan pada anjing. Padahal roti itu   akan dimakan untuk satu hari hanya karena tidak tahan melihat seekor anjing nyaris mati karena kepalaran”.
          Abdullah bin Ja’far merenung beberapa saat, kemudian ia memanggil budak tadi dan minta ditunjukkan rumah majikannya. Setelah diberi alamat yang jelas, ia pergi ke rumah yang dituju yaitu majikan budak tadi. Sesampai di suatu rumah, ia ditemui langsung oleh sang majikan. Kemudian Abdullah bin Ja’far mengutarakan maksudnya bahwa ia ingin membeli sepetak kebun dan budak (saat itu budak dijualbelikan)  yang menjaga kebun itu yang selanjutnya akan dimerdekakannya.
          Setelah mendapatkan kesepakatan harga, lalu dibayarlah harga kebun dan budak itu. Abdullah bin Ja’far lalu pergi ke toko alat-alat perkebunan. Dari sana, beliau langsung menemui budak tersebut di kebun yang dijaganya. Saat itu, budak sedang menjaga sambil menahan lapar dan haus. Dijelaskannya, bahwa kebun yang dijaganya dan diri budak itu telah dibeli oleh Abdullah.
          Tak disangka, kemudian  Abdullah bin Ja’far berkata, :”Mulai sekarang kebun ini saya serahkan kepadamu. Dan engkau sendiri sekarang telah menjadi orang merdeka (bukan budak lagi). Kemudian semua peralatan perkebunan ini gunakanlah sebaik-baiknya untuk mengelola dan mengembangkan kebun. Hiduplah engkau dengan bahagia dalam memelihara dan memberdayakan kebun ini untuk kehidupanmu yang lebih baik ”.



Lasa Hs.     

Kisah Imam Ahmad dan Penjual Roti

Dulu, ada seorang ulama fikih yang bernama Imam Ahmad bin Hambal. Suatu ketika beliau sedang bepergian jauh. Di tengah perjalanan beliau memutuskan untuk beristirahat disebuah masjid. Lalu datanglah salah seorang takmir yang melarang dan mengusir beliau keluar dari masjid itu. Pada waktu yang bersamaan, lewatlah seorang penjual roti. Karena iba, kemudian ia mengajak Imam ahmad untuk beristirahat di rumahnya itu.

Sesampai di rumah penjual roti, Imam ahmad mulai melihat pemandangan yang luar biasa. Beliau melihat penjual roti itu sedang mmbuat adonan roti, dan luarbiasanya ia sambil membaca istighfar tanpa henti. Melihat pemandangan  itu, maka imam ahmad pun bertanya kepada si tukang roti.

Wahai tuan, dari tadi aku melihatmu sedang membuat adonan roti, tp mulutmu tidak ada hentinya untuk mengucap istighfar. keutamaan apa yang telah engkau dapat dari Rabmu?

lalu si tukang roti itu menjawab. wahai sahabatku.... semenjak q istikomah dan rutin membaca istighfar, alhamdulilah semua apa yang menjadi keinginanku, dan apa yang menjadi cita citaku semuanya diijabah oleh Allah, kecuali impian satu saja


kemudian Imam ahmad bertanya : impian apa yang belum diijabah oleh Allah, wahai tuan?

Tukang roti menjawab: dari dulu aku ingin sekali bertemu dengan ulama fikih yang hebat, beliau adalah Imam Ahmad bin hambal

Mendengar jawaban itu, maka Imam Ahmad bin Hambal pun memeluk si penjual roti utu, dan berkata : wahai tuan, Allah sudah merencanakan semuanya, dan hari ini semua apa yang engkau inginkan bisa tercapai, karena Akulah yang bernama Imam Ahmad bin Hambal.

Dari cerita itu, maka dapat kita ambil hikmah bahwa ketika kita mampu merutinkan membaca istighfar, maka Allah akan mempermudah segala urusan kita, dan Allah pun akan mengabulkan semua apa yang menjadi keinginan kita

#jumatCerah

Susunan Pengurus dan Program Kerja yang telah terbentuk

Selain Korwil Jatim yang telah terbentuk pada tanggal 17 Januari 2018 lalu, korwil Banten, DKI dan Jawa Barat juga sudah terbentuk. diharapkan dengan terbentuknya susunan pengurus dan program kerja dapat memberikan manfaat bagi kita semua. Amin.
Berikut Susunan Pengurus Banten
Susunan Pengurus Banten
JABATAN
NAMA
INSTANSI
Ketua
Nurhadi Susanto, S.IP UMT
Universitas Muhammadiyah Tangerang
Wakil
Dr. Avenzor
Akbid Aisyiah Serang
Sekretaris I
Sri Komalasari, S.IP
STFM
Sekretaris II
Aldias Satriavi, S.IP
UM Tangerang
Bendahara I
Erma Yunita, S.IP
UM Tangerang
Bendahara II
Amaliah, S. IP 

UM Tangerang
Bidang Digital Library
Surdani SE

Bidang Sumber Daya Manusia
Nuriva Sukmawibawa. S.IP

UM Tangerang
Bidang Kerjasama
Marlina S.IP



MUSYAWARAH WILAYAH (MUSWIL) FPPTMA KORWIL JAWA TIMUR

Telah terbentuk kepengurusan Forum Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiah/FPPTMA Koordinator Wilayah Kawa Timur pada tanggal 17 Januari 2018 di Perpustakaan UM Malang.  Pembentukan Kepengurusan dan penyusunan program kerja ini disepakati dalam Musyawarah Wilayah FPPTMA Jawa Timur yang dihadiri oleh para Kepala Perpustakaan Perguruan Tinggi-‘Aisyiah  se Jawa Timur. Mereka yang hadir antara lain; Prof. Dyah (Kepala Perpustakaan UM Malang), Mufiedah Nur, S.Sos., M.Si (Kepala Perpustakaan UM Jember), Ayu Wulansari, S.Kom (Kepala Perpustakaan UM Ponorogo, Ainur Rahmaniah, M.Si (Kepala Perpustakaan UM Sidoarjo , Ketua FPPTMA, dan para pustakawan UM Malang. Adapun susunan PenguruFPPTMA Korwil Jawa timur sebagai berikut: 

Pelindung
:
Ketua Majelis Pustaka dan Informasi Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur
Penasehat
:
1.      Dr. H. Nazaruddin Malik, SE., MSi. (Wakil Rektor II UM Malang)
2.      Lasa HS, M.Si (Ketua FPPTMA Pusat)
3.      Kepala Perpustakaan UM Malang
Ketua
:
1.      Mufiedah Nur, S.Sos, M.Si (Kepala Perpustakaan UM Jember)
2.      Arif Yuni Ismanto, ST (UM Malang)
Sekretaris
:
1.      Ayu Wulansari, S.Kom (Kepala Perpustakaan UM Ponorogo)
2.      Tri Wahyuni, SPd. (UM Malang)
Bendahara
:
1.      Ani Herwatin, S.Sos. (UM Malang)

Koordinator Bidang


Digital Librarty
:
1.      Hafiz Ahyanoor, ST (UM Malang)
2.      Ainur Rochmaniah, M.Si (Kepala Perpustakaan UM Sidoarjo)
3.      Yolan Priatna, SIP (UM Ponorogo)
Sumber Daya Manusia
:
1.      Asykaria Purwaningsih, SIIP. (UM Malang)
2.      Dra. Masulah, MA (Kepala Perpustakaan UM Surabaya)
3.      Nisa Ardhianingtyas, SST, M.Kes (Akbid Muhammadiyah Madiun)
Kerjasama

1.      Muhammad Ali Basyah, SH, M.Kes (Kepala Perpustakaan STIEKHAD Lamongan)
2.      Ainur Rofik, S.IIP (Kepala Perpustakaan UM Gresik)
3.      Subiyanto, S.Ikom (STISIP Muhammadiyah Madiun)
4.      Irwan Sulistyawan, S.I Pust (STIKES Muhammadiyah Lamongan)



Rabu, 17 Januari 2018

MENGELOLA KONFLIK (2)


Macam-macam konflik
      Konflik yang terjadi dalam organisasi, lembaga, partai politik, maupun perpustakaan bisa terdiri dari berbagai macam, antara lain:
  1. Konflik dalam diri sendiri
Setiap individu memiliki sikap yang berbeda dalam menghadapi  tugas, kewajiban, dan tanggung jawab, baik itu tugas baru maupun  tugas lama. Konflik bisa terjadi pada diri seseorang apabila menghadapi ketidakpastian tugas, mendapat tugas di luar kemampuannya, atau banyaknya tuntutan tugas atau perintah atasan.
  1. Konflik antarindividu
Perbedaan peran dan perbedaan kepribadian antarindividu dapat menimbulkan konflik dalam suatu perpustakaan. Konflik ini bisa terjadi antara atasan dan bawahan, sesama bawahan, atau antarunit kerja dalam suatu perpustakaan. Konflik ini bisa saja disebabkan oleh individu-individu yang malas, egois, pendengki, iri, mau menang sendiri, dan lainnya. Mereka perlu diberi pengarahan dan pembinaan.
  1. Konflik individu dengan kelompok
Seseorang dapat saja diasingkan, dikucilkan bahkan dikeluarkan dari kelompok atau komunitasnya. Mereka dianggap tidak bisa menyesuaikan diri dan melanggar norma-norma adat. Pihak yang diasingkan itu akan mengalami konflik yang dapat membuat suasana kaku bahkan bisa menjadi ketegangan tersendiri.
  1. Konflik antarkelompok
Terjadinya pertentangan antarbagian di suatu perpustakaan memungkinkan terjadinya konflik antarkelompok. Misalnya saja bagian pelayanan berkeinginan agar buku-buku baru itu segera dapat dipinjamkan. Namun bagian pengolahan tidak bisa melakukan pengolahan buku secara cepat karena semua harus menggunakan prosedur yang berlaku. Ketidaksesuaian sistem kerja ini kadang menimbulkan konflik antarunit kerja
  1. Konflik antarorganisasi, paham, dan aliran
Kepentingan politik, kepentingan ekonomi, perbedaan keyakinan, persaingan karier, dan perbedaan kultur dapat menimbulkan konflik organisasi. Konflik seperti inilah yang kadang menimbulkan keresahan dan kerusuhan yang kadang berakhir dengan pengasingan, pengorbanan, bahkan pembunuhan (Lasa Hs., 2005: 34-35).
Konflik dalam organisasi maupun perpustakaan merupakan dinamika tersendiri apabila pihak-pihak yang terlibat mampu menyikapinya dengan arif. Adanya konflik itu akan membuat semua pihak memahami kekurangan dan menghargai keinginan masing-masing serta dapat diselesaikan secara baik. Namun apabila tidak disadari, konflik itu justru menjadi penyebab perpecahan.
Penyelesaian konflik
Konflik tidak sekonyong-konyong terjadi begitu saja, tetapi ada penyebab awal dan melalui tahapan proses. Yakni suatu benturan, pergulatan, pertarungan, bahkan pertentangan berbagai kepentingan, opini, maupun tujuan yang terjadi dalam diri, bahkan bangsa dan negara.
      Dalam berbagai literatur dapat dikemukakan beberapa cara penyelesaian konflik antara lain:
  1. Kompromi atau negoisasi
Kompromi merupakan strategi penyelesaian konflik ketika semua pihak yang terlibat saling menyadari dan sepakat pada keinginan bersama. Penyelesaian strategi ini sering diartikan sebagai lose-lose situation. Yakn kedua belah pihak yang terlibat saling menyerah dan menyepakati  hal yang telah diperbuat. Biasanya penyelesaian ini digunakan dalam tingkat manajemen atas (top management) dan manajemen menengah (middle management).
  1. Kompetisi
Strategi kompetisi ini sering disebut sebagai win-lose situation. Dalam penyelesaian konflik ini menekankan hanya ada satu orang atau kelompok yang menang tanpa mempertimbangkan pihak yang kalah. Akibat negatif dari strategi ini adalah timbulnya kemarahan, putus asa, bahkan kerusuhan. 
  1. Akomodasi
Akomodasi sering disebut dengan cooperative situation. Pada strategi ini seseorang berusaha mengakomodasi permasalahan dan memberi kesempatan pihak lain untuk menang. Pada cara ini, masalah utama yang terjadi sebenarnya tidak terselesaikan. Strategi ini biasanya digunakan oleh partai politik atau kelompok-kelompok yang berebut kekuasaan dengan segala konsekuensinya.
  1. Smothing
Teknik ini merupakan penyelesaian konflik dengan cara mengurangi komponen emosional dalam konflik. Pada strategi ini, individu yang terlibat dalam konflik berupaya mencapai kebersamaan dari perbedaan dengan penuh kesadaran dan intropeksi diri. Strategi ini bisa diterapkan pada konflik yang ringan dan tidak digunakan untuk mengatasi konflik yang bersifat besar
  1. Menghindar
Pada strategi ini, semua pihak yang terlibat dalam konflik menyadari tentang masalah yang dihadapi. Namun mereka memilih menghindar atau sengaja tidak menyelesaikan masalah. Strategi ini dipilih apabila ketidaksepakatan dianggap akan membahayakan kedua belah pihak.
  1. Kolaborasi
Strategi ini biasa disebut dengan win-win solution. Dalam cara ini kedua belah pihak yang terlibat menentukan tujuan bersama dan bekerja sama dalam mencapai suatu tujuan. Keduanya yakin akan bisa mencapai tujuan bersama itu. Strategi kolaborasi tidak akan bisa berjalan apabila kompetisi insentif sebagai bagian dari situasi tersebut, kelompok yang terlibat tidak mempunyai kemampuan dalam menyelesaikan masalah, dan tidak adanya kepercayaan dari kelompok/seseorang (Nursalam, 2015).



                               Oleh :Lasa Hs
                                 (Tulisan II)