Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Senin, 25 September 2017

PERLUNYA PENGEMBANGAN SISTEM KLASIFIKASI ISLAM

Pada dasarnya sistem klasifikasi menyediakan sederetan daftar nomer kelas atau bisa disebut dengan notasi disertai subjeknya serta berbagai ketentuan yang menyangkut mekanisme pembentukan notasi dan penelusurannya. Daftar notasi dalam sistem klasifikasi disebut dengan bagan klasifikasi. Beberapa bagan klasifikasi yang baik yang pernah berkembang adalah Dewey Decimal Classification, Universal Decimal Classification dan Library of Congress Classification (Eryono, 2002: 5.22).
DDC termasuk sistem klasifikasi yang baik karena memenuhi kriteria dan ciri-ciri sebagai bagan klasifikasi yang universal, terperinci dalam pembagian kelas, fleksibel dalam pengembangan kelas, mempunyai susunan yang sistematik dengan notasi yang sederhana, mudah diingat, mempunyai indeks relatif dan mempunyai badan pengawas (Eryono, 2002: 6.1).
Namun demikian sistem ini tidak sepenuhnya mengadopsi kenyataan-kenyataan di Timur dan cenderung mementingkan peradaban dan perkembangan di Barat terutama Amerika dan Kristen. Pada DDC, kelas untuk agama lain misalnya agama Yahudi, Budha, Hindu menempati posisi yang sempit. Terbukti dengan adanya penempatan kelas agama pada kelas 200, sedangkan dalam pembagian kelas yang lain adalah kelas untuk beberapa hal yang berkaitan dengan Kristen, misalnya 220 untuk Alkitab, 230 untuk Teologi Kristen, 240 Moral Kiristen, 250 untuk Gereja Kristen, 260 untuk Teologi Sosial, 270 untuk Sejarah Gereja dan 280 untuk Sekte-Sekte Kristiani. Kelemahan DDC dalam bidang keislaman yaitu adanya keterbatasan dalam subjek keislaman dan hanya menempatkan subjek keislaman pada kelas 297, sedangkan utuk agama lain ditempatkan pada kelas 290 (Lasa Hs, 2009: 163).
Arianto (2006) menjelaskan bahwa kekurangan yang ada pada sistem klasifikasi DDC mendapat tanggapan dari berbagai pihak, baik itu sarjana muslim maupun non-muslim (Barat). Tanggapan non-muslim mengenai hal ini dijelaskan bahwa DDC masih cenderung terhadap Kristiani dan Anglo-Saxon, selain itu meskipun DDC telah digunakan secara luas namun masih belum memenuhi kebutuhan berbagai budaya dan negara lain. Begitupun tanggapan dari sarjana muslim yang menjelaskan bahwa sistem klasifikasi DDC didominasi oleh Barat dalam bidang manajemen informasi sehingga tidak kondusif untuk kelanjutan sudut pandang Muslim. Klasifikasi tersebut hanya berorientasi pada barat baik itu literatur, agama, budaya, adat dan lain sebagainya, sehingga tidak memadai untuk subjek keislaman.
Kelemahan tersebut tentunya sangat berpengaruh terhadap koleksi keislaman yang ada di berbagai perpustakaan karena dalam DDC porsi agama Islam terlampau kecil kelas nya dikarenakan tidak adanya kelas utama dan divisi hanya ada seksi yaitu 297. Oleh karena itu dalam mengatasi kelemahan mengenai klasifikasi Islam ini lembaga pemerintah telah melakukan upaya pengembangan dengan mengadakan perluasan pada notasi 297.
Banyak diantaranya yang telah berusaha mengembangkan klasifikasi Islam ini diantaranya adalah Badan Wakaf Perpustakaan Islam Yogyakarta, Panitia Tahun buku Internasional Indonesia, The Indian Institute of Islamic Studies, Institut Pendidikan Darussalam Gontor, Pusat Perpustakaan Islam Indonesia, Mc Gill University dan terakhir pengembangan ini dilakukan oleh Departemen Agama Republik Indonesia yang sekarang menjadi Departemen Agama dengan mengganti notasi 297 menjadi 2X dengan ringkasan bagan klasifikasi nya seperti: 2X0 Islam (Umum)
2X1 Alquran dan Ilmu yang berkaitan
 2X2 Hadits dan Ilmu yang berkaitan
2X3 Aqaid dan Ilmu Kalam
2X4 Fiqih
2X5 Akhlak dan Tasawuf
2X6 Sosial dan Budaya
2X7 Filsafat dan Perkembangan
2X8 Aliran dan Sekte 2X9 Sejarah Islam dan Biografi
Secara sistematika ringkasan klasifikasi Islam ini sudah mencakup subjek keilmuan secara rinci, namun pada setiap seksinya ditemukan pembagian subjek yang kurang rinci, sehingga ada beberapa bahan perpustakaan dengan subjek tertentu tidak bisa ditempatkan pada subjek manapun. Oleh karena itu perlunya kembali pengembangan sistem klasifikasi islam, agar keseluruhan subjek yang terdapat dalam notasi keislaman dapat lebih terperinci.

Referensi:
Arianto, M Solihin. 2006. “Islamic Knowledge classification Scheme in Islamic Countries’             Libraries” volume 44, no 2. Uin Sunan Kalijaga.
Eryono, Kailani. 1999. Daftar Tajuk Subyek dan Sistem Klasifikasi Islam Adaptasi dan             Perluasan DDC Seksi Islam. Jakarta: Departemen Agama RI.

Lasa Hs.2009. Kamus Kepustakawanan. Yogyakarta: Pustaka Publisher.






Nita Siti Mudawamah
Pustakawan UMY

0 komentar:

Posting Komentar