Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Selasa, 31 Oktober 2017

ANDA KEPINGIN MENULIS ARTIKEL ?

               Para penulis pemula kadang mudah putus asa. Sebab mereka berulang kali mengirim naskah artikel ke redaksi surat kabar/majalah dan belum satupun yang dimuat. Tidak jelas nasib naskah tersebut karena tidak ada informasi dari redaksi, apakah naskah itu ditunda, perlu direvisi, atau ditolak.
               Memang tidak semua redaksi menginformasikan tentang naskah yang dikirim oleh penulis. Hal ini mungkin karena kesibukan redaksional, menghemat beaya, atau kesulitan lain. Keadaan ini justru yang membuat penulis bingung dan cemas karena tidak ada kejelasan. Mereka tidak mengetahui secara pasti tentang kriteria apa saja yang harus  dipenuhi untuk suatu artikel sehingga layak muat.
Artikel Populer
               Artikel merupakan karangan lepas yang dimuat oleh media cetak seperti surat kabar, majalah, buletin, maupun jurnal. Karya tulis ini menyajikan hal-hal yang aktual disertai pembahasan dan penilaian penulisnya untuk memberikan wawasan bahkan jalan keluar tentang suatu masalah kepada khalayak.
               Artikel dapat dibedakan dalam pelbagai kategori antara lain ada yang membagi menjadi artikel populer, artikel ilmiah populer, dan artikel ilmiah. Dengan memahami kategori ini, seorang penulis bisa memilih artikel yang akan ditulis.
               Artikel untuk surat kabar memang dapat ditampilkan setiap hari, maka artikel jenis ini banyak diterima redaksi surat kabar. Oleh karena itu saingannya banyak. Hal ini agak berbeda dengan artikel yang diterima oleh majalah atau jurnal. Redaksi terbitan ini kadang dibuat pusing karena sedikitnya naskah yang diterima.
               Kriteria artikel populer berbeda dengan kriteria artikel ilmiah. Namun demikian secara garis besar kriteria artikel populer antara lain:
1.            Naskah itu orisinil/asli
Naskah yang dikirim ke redaksi hendaknya betul-betul asli dan karya sendiri. Tulisan itu bukan jiplakan, bukan terjemahan, dan bukan merupakan ringkasan suatu karya.
2.            Menyoroti masalah yang aktual.
Sebelum memutuskan untuk mengirim naskah ke redaksi tertentu, perlu dipikirkan apakah masalah yang diangkat itu membicarakan masalah yang sedang menjadi pembicaraan atau problem sebagian besar masyarakat
3.            Tidak memojokkan agama, suku, paham, ras, politik, atau profesi tertentu
Mengingat tulisan itu dibaca oleh masyarakat awam, maka perlu dijaga jangan sampai menimbulkan keresahan, mengusik kateteraman, bahkan jangan sampai menimbulkan kerusuhan dalam masyarakat.
4.            Naskah itu tidak melanggar etika akadmeik, etika penulisan, undang-undang hak cipta, dan peraturan-peraturan yang berlaku.
Dalam kegiatan intelektual dikenal adanya hak-hak intelektual yang harus dipatuhi oleh siapapun termasuk oleh penulis artikel. Sebab penulisan artikel merupakan kegaiatan intelektual, ilmu pengetahuan, dan profesi.
5.            Menggunakan bahasa yang mudah dipahami oleh pembaca surat kabar atau majalah tertentu
6.            Memperhatikan kepentingan redaksi dan mengetahui selera bahasa pembaca potensial
7.            Keutuhan naskah
Naskah yang baik akan berisi ide dan pengetahuan yang utuh tentang suatu masalah yang dibahas. Tulisan yang utuh memiliki bagian-bagian yang harus ada dan berfungsi saling mendukung satu dengan yang lain, sehingga mampu mengungkapkan pengertian yang utuh dari suatu persoalan yang diuraikan.
8.            Naskah ditulis sistematis
Dalam mengekspresikan ide melalui tulisan harus mengikuti sistem penulisan yang berlaku sesuai jenis tulisannya, terpola, dan runtut. Aturan-aturan inilah yang harus dipahami oleh seorang penulis agar apa yang dipaparkan itu tidak membingungkan redaksi dan enak dibaca
9.            Kalimat-kalimatnya tidak berbelit-belit dan tidak  terlalu panjang
Pengungkapan ide yang berbelit-belit itu akan menyulitkan pemahaman. Sebab pembaca dipaksa untuk berpikir dua kali dalam memahami bacaan. Redaksi pun enggan mengoreksi naskah seperti tu karena dianggap menambah beban kerja dan ini dianggap cara kerja yang tidak efektif dan kurang efisien. Oleh karena itu dalam penulisan sebaiknya menggunakan kalimat yang pendek-pendek dan padat makna sehingga mudah dipahami. Sebab kalimat yang panjang kadang malah mengaburkan makna. Lagi pula dalam bahasa Indonesia dikenal memiliki sifat pendek, pasif, dan sederhana. 
               Betapapun panjang pendeknya susunan kata-kata dalam suatu kalimat, maka kalimat itu dianggap baik apabila memiliki kesatuan yang utuh dan baku. Oleh karena itu, suatu kalimat dianggap sempurna apabila mampu berdiri sendiri, terlepas dari konteksnya, dan mudah dipahami
Hindari 7 (tujuh) hal
               Kecuali hal-hal tersebut, penulis artikel perlu memerhatikan hal-hal yang sering mengganggu penyuntingan. Masalah ini kadang dianggap sepele oleh penulis. Padahal masalah-masalah seperti inilah yang sering mengganggu proses penyuntingan bahkan merupakan hambatan tersendiri bagi redaksi. Hal-hal yang perlu dihindari oleh penulis artikel yakni:
1.            Tidak konsisten
Konsistensi sangat diperlukan dalam penulisan agar tidak menimbulkan salah persepsi bagi pembaca. Konsistensi diperlukan dalam hal ejaan, penomoran, tanda baca, cara pengutipan, dan lainnya.
2.            Pernyataan tidak tepat
Pernyataan dalam kalimat yang kurang tepat bisa menimbulkan salah tafsir dan membingungkan pembaca. Untuk itu perlu dipilih kata-kata yang tepat dalam pengungkapan ide.
3.            Obral kata dalam penyampaian ide
Komunikasi dalam bentuk tulisan berbeda dengan komunikasi dalam bentuk lisan. Komunikasi tulis diperlukan kelihaian penyusunan kalimat yang sederhana, singkat, dan tidak berulang-ulang, apalagi terlalu banyak kata yang mubadzir. Hal ini harus dihindarkan agak komunikasi tulis itu bisa efisien dan efektif.
4.            Penggunaan kata-kata yang kurang tepat
Penggunaan kata-kata yang kurang tepat dapat menimbulkan salah persepsi.
5.            Penggunaan kata-kata yang terkesan megah, jargon
6.            Tidak memperhatikan selera, pendidikanm dan kultur pembaca
7.            Kurang memperhatikan perangkat kebahasaan
Naskah yang tidak diterima bukan berarti naskah itu jelek, cuma kurang sesuai dengan visi dan misi suatu penerbitan. Oleh karena itu agar naskah yang ditawarkan ke redaksi  itu tidak menyulitkan, kiranya perlu memerhatikan unsur-unsur keterbacaan, ketaat-asasan, kebahasaan, ketelitian fakta, dan kesopanan.
Keterbacaan
               Naskah yang dikirim ke redaksi hendaknya mudah dibaca. Naskah yang sulit dibaca/dipahami mungkin saja terjadi karena kurang tepatnya pemilihan kata, pemilihan huruf, penggunaan tanda baca, maupun sistematikanya. Kadang penulis hanya berpikir yang penting isinya dulu sehingga tidak memerhatikan kesalahan tulis, tanda baca, susunan kalimat, dan lainnya.
Ketaat-asasan
               Dalam penulisan keilmuan perlu adanya konsistensi dalam penggunaan kata, penomoran, ejaan, sistematika, maupun pemilihan huruf. Penulisan yang tidak konsisten bisa membingungkan redaksi dan pembacapun sulit memahami naskah itu.
Kebahasaan
               Bahasa merupakan media untuk menyampaikan buah pikiran kepada orang lain. Orang lain akan dapat memahami maksud seseorang apabila ide yang disampaikan itu menggunakan bahasa yang mudah dipahami dan tidak berbelit-belit.
Dalam hal kebahasaan ini perlu diperhatikan tata bahasa seperti penggunaan kata, ejaan, dan struktur kalimat. Oleh karena itu, agar naskah itu bagus, sebaiknya sebelum dikirim ke redaksi supaya dibaca orang lain terutama mereka yang memahami dunia tulis menulis. Langkah ini untuk mendapatkan masukan dalam hal isi, sistematika penulisan, maupun penggunaan bahasa. 
Ketelitian Fakta
               Keakuratan fakta dan validitas data merupakan pertimbangan tersendiri bagi redaksi dalam penerimaan naskah. Hal ini juga memengaruhi kredibiltas seorang penulis
Kesopanan
               Dalam mengekspresikan ide melalui tulisan, mestinya telah dipikirkan secara matang tentang apa, bagaimana, bahasa, dan cara pengungkapan masalah. Untuk itu perlu dicek ulang bagaimana tulisan itu apakah masih terdapat hal-hal yang kurang sopan, menghina, memojokkan, atau menyerang pihak lain atau tidak. Demikian pula dalam pencantuman gambar, foto, dan ilustrasi lain perlu diperhatikan.
Penutup
               Tidak sedikit orang yang kepingin menulis dan menjadi penulis terkenal. Namun keinginan itu seharusnya ditunjang dengan motivasi, usaha keras, berlatih, dan mencoba. Tanpa itu keinginan menulis hanya menjadi impian belaka. Sebab para penulis profesional memang bermula dari kegagalan. Kemampuan mengatasi kegagalan itulah salah satu indikator adanya kemajuan.
               Bagi penulis pemula harus berani belajar dan mencoba. Mereka perlu berguru pada penulis-penulis yang telah berpengalaman. Kamudian mereka harus berani mencoba dan mencoba. Kalau orang takut mencoba, maka berarti kegagalan. Sebab orang yang takut itu tak akan pernah maju. Penakut itu mati seribu kali dan pemberani itu hanya mati sekali.

Lasa Hs

Perpustakaan UMY

0 komentar:

Posting Komentar