Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Jumat, 27 Oktober 2017

PERCAYA DIRI

Betapa banyak orang yang mencapai keberhasilan berkat percaya diri meskipun mereka tidak memiliki gelar. Hamka yang dikenal sebagai ulama, budayawan, sastrawan, dan  sejararawan  itu ternyata secara formal hanya pernah sekolah desa selama  tiga tahun. Kemudian juga ia pernah sekolah agama di Padang Panjang dan Parabek kira-kira tiga tahun.  Beliau tidak pernah terdaftar sebagai mahasiswa perguruan tinggi manapun. Namun berkat percaya dirinya sangat kuat, toh akhirnya menjadi orang yang sukses. Beliau malah menjadi dosen tidak tetap di bebeberapa perguruan  tinggi antara lain di PTAIN (sekarang UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta, Universitas Islam Jakarta, Fakultas Hukum dan Filsafat Muhammadiyah Padang Panjang, Universitas Muslimin/UMI Makasar, dan Universitas Islam Sumatera Utara
            Mengingat keluasan wawasan dan penguasaan berbagai ilmu pengetahuannya, maka beliau dipercaya Pemerintah RI untuk duduk sebagai Ketua Umum Majelis Ulama/MUI pertama kali pada tahun 1957. Namun sebelum berakhir masa jabatannya, beliau mengundurkan diri sebagai ketua umum. Sebab saat itu beliau memiliki pandangan yang berbeda dengan pemerintah tentang perayaan natal bersama. Beliau selaku Ketua Umum MUI mengeluarkan fatwa yang mengharamkan umat Islam untuk merayakan Natal bersama.
            Ketokohan Hamka tidak saja dikenal di Indonesia, tetapi juga diakui di Malaysia dan Timur Tengah. Bahkan Tun Abdul Razaq selaku Perdana Menteri Malaysia saat itu menyatakan bahwa Hamka bukan hanya milik bangsa Indonesia, tetapi juga menjadi kebanggaan bangsa-bangsa Asia.
            Tidak sedikit karya tulis yang beliau tinggalkan untuk kita. Karya-karya itu ditulis dengan kesungguhan, telaten, banyak membaca, berdiskusi, dan tak kenal putus asa. Buku-buku beliau itu ditulis meliputi bidang-bidang agama, sejarah, kebudayaan, biografi, novel, filsafat, sastra, dan tasauf. Buku-buku roman dan novel sebagai karyanya antara lain; Mandi Cahaya di Tanah Suci, Di Lembah Sungai Nil,  Di Tepi Sungai Dajjah, Di Bawah Lindungan Ka’bah (1938), Tenggelamnya Kapal van der Wijk (1939), Merantau Ke Deli (1940). Kemudian karya monumentalnya antara lain adalah Tafsir Al Azhar (30 juz) yang beliau tulis selama meringkuk di penjara pada masa rezim Orde Lama (Presiden Soekarno) merupakan tafsir yang sampai kini menjadi rujukan para ulama, cendekiawan, atau umat Islam pada umumnya (Ensiklopedi Muhammadiyah, 2005).
            Kesuksesan seseorang, kecuali perlu adanya percaya diri, juga perlu keberanian/sourage. Yakni keberanian bertindak apapun resiko yang menghadangnya. Ya, secara sederhana dapat dikatakan bahwa orang yang memiliki rasa percaya diri yang kuat akan berprinsip “Lebih baik berbuat meskipun kurang/salah dari pada merasa benar/baik tetapi diam. Sebab diam itu tidak akan mampu merubah. Orang yang membeo selamanya tidak berani bertindak dan takut berbeda dengan sikap orang lain.
            Dale Carniege seorang penulis terkenal itu juga mulanya hidup dalam kemiskinan. Ia sebagai guru di Warrensburg pernah tak kuat membayar uang asrama saking melaratnya. Maka dengan kepercayaan diri yang kuat, dia berkarir sebagai wiraniaga sebuah kursus jarak jauh di Denver. Dua tahun kemudian, dia menjadi wiraniaga Armour & Company di Omaha yang bertugas melakukan penjualan di wilayah Dakota Selatan. Dengan ketekunan dan antusiasnya yang tinggi, dia menjadi wiraniaga yang terkemuka di perusahaan yang memproduksi makanan itu.
            Ibunya semula berkeinginan agar Dale besok menjadi pendeta, misionaris, atau guru sekolah. Namun ternyata Dale sejak kecil bercita-cita ingin menjadi aktor, orator, atau penulis novel yang terkenal. Untuk mewujudkan cita-cita inilah kemudian dia memutuskan diri untuk pergi ke New York dan masuk ke American Academic of Dramatic Art.
            Pada tahun 1912, dia ingin mengubah jalan hidupnya dari wiraniaga otomotif di Packard truck lalu kepingin hidup untuk menulis dan menulis untuk hidup. Di New York, dia rela hidup menderita, hidup di daerah kumuh, makanan kotor, dan kamarnya penuh kecoak. Namun demikian, Carniege memiliki potensi diri yang tidak dimiliki orang lain. Dia menyadari bahwa dirinya memiliki potensi untuk berkembang, terutama setelah direnungkan bahwa ia pernah menjadi juara debat di kampusnya. Ia juga pernah membimbing dua mahasiswa yang kemudian mahasiswa ini berhasil menjuarai lomba pidato dan deklamasi di kampus yang sama. Maka di kota ini, ia membuka kursus pidato yang bernama Public Speaking for Busines. Dari lembaga ini, beliau memiliki modal lumayan lalu mendirikan Dale Carnieges Institute pada tahun 1922. Mulai tahun itu, Dale semakin sibuk. Pada malam hari, ia mengajar dan pagi hari ia menulis buku. Ketekunan menulis memang luar biasa dan semakin banyak buku-buku yang dihasilkannya. Buku karyanya yang berjudul How to Win Friends and Influence People (1936) merupakan salah satu bukunya yang selama puluhan tahun menduduki papan atas sebagai buku best seller dunia saat itu. Royalti yang diterima pertama kali dari hasil penjualan buku itu berjumlah 90.000 dolar AS saat itu. Luar biasa memang. Bahkan Carniege sendiri kaget dan tidak menduga bahwa  bukunya itu bisa menjadi magnit yang menarik pembaca dan royalti yang diterimanya luar biasa banyaknya.. Maka ada benarnya orang yang mengatakan bahwa orang yang tak pernah mau mencoba, selamanya tidak akan tau potensi dirinya.
            Buku terlaris kedua berjudul How to Stop Warning and Start Living (1948) konon telah terjual 4 juta ekemplar.Buku-bukunya juga telah diterjemahkan ke berbagai bahasa. Bahkan Dale Carniege Training sebagai lembaga pelatihan peningkatan SDM itu telah merambah ke sekitar 70 negara saat ini.
            Dale Carniege berhasil menjadi penulis terkenal antara lain karena memiliki rasa percaya diri atas kemampuan diri dan berusaha untuk mengembangkan potensi diri.Tekadnya “Hidup untuk menulis dan menulis untuk hidup”  yang dicetuskannya pada tahun 1912 ternyata menjadi kenyataan. Untuk merealisir impian ini, ia memang belajar jurnalistik di Columbia University of Journalisme (1913) dan kursus sejenis di New York University (1914).
            Dengan keberhasilannya sebagai penulis ini, Dale Carineige termasuk dalam daftar 100 orang yang paling berpengaruh dalam sejarah Amerika. Ia sesungguhnya telah membuat keputusan yang mendasar yakni melakukan sesuatu yang diyakininya sesuai dengan minat, bakat, dan kemampuannya. Keputusan ini bukan sekedar memenuhi kebutuhan jasmaniah, tetapi cenderung pada pemenuhan kebutuhan kepuasan rohaniah.
            Keputusan yang telah menjadi kontrak batinnya itu direalisir dengan antuisiasisme yang tinggi. Ia berani menghadapi resiko tinggi dan tidak mudah putus asa/nglokro ketika novel pertamanya ditolak beberapa penerbit. Justru ditolak dan ditolak inilah yang memicu dan memacu Dale untuk terus berusaha untuk menulis dan menulis lagi. Ia belajar sungguh-sungguh dari rekan sekampungnya yakni Abraham Lincoln yang menyatakan :”Tidak penting berapa kali  anda gagal, tetapi yang penting adalah berapa kali anda bangkit:”. Kegagalan adalah sukses tertunda merupakan kenyataan selama orang itu mau berusaha. Putus asa sama dengan bunuh diri sebelum maju perang.



Lasa Hs- UMY

0 komentar:

Posting Komentar