Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Jumat, 27 Oktober 2017

UNIKNYA WAKTU


Artinya “Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasihati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabarab (Q.S. Al “Ashr: 1 – 3)

            Waktu merupakan sesuatu yang unik. Jatah waktu untuk si kaya dan si miskin adalah sama. Jendral dan jembel memiliki waktu 24 jam sehari semalam. Penjual bubur  diberi waktu yang sama dengan gubernur dalam jangka waktu sehari semalam. Oleh karena itu dapat dipahami bahwa jatah waktu itu sebenarnya sama untuk setiap makhluk hidup dalam sehari semalam. Maka waktu itu bisa dianggap mahal bagi seseorang, tetapi bagi orang lain kadang waktu yang berharga itu justru  disia-siakan, dan dibuang-buang untuk hal-hal yang tidak produktif. Betapa banyak kita ini mengecer-ecer waktu untuk berjam-jam menonton televisi, tidur, foya-foya, bahkan menghabiskan waktu tua di penjara. Maunya sih, selagi muda foya-foya, besok tua kaya raya, dan besok bila mati maunya masuk surga. Tetapi bila tidak bisa memanfaatkan waktu dan kesempatan justru ketika muda sengsara karena narkoba masa tua habis di penjara, tidak tau besok kalau mati ditempatkan dimana ?. Sebab banyak kejadian bahwa jasad orang jahat itu tidak boleh dimakamkan di tanah kelahirannya sendiri atau di negaranya sendiri. Mungkin biar orang itu tidak membawa jelek pada daerah atau negaranya.
            Waktu sebenarnya sangat berharga bagi orang yang bisa memanfaatkannya. Hal ini tergantung pada kejelian seseorang dalam menangkap peluang dan ketrampilan memanfaatkan waktu/kesempatan.
  Kehadiran waktu tidak dapat diganti, tidak dapat ditabung, dan tidak dapat diputar ulang. Jam tujuh hari ini berbeda dengan jam tujuh kemarin. Hari kemarin telah hilang ditelan masa dan tak dapat diganti. Banyaknya waktu mungkin tidak begitu penting, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana pengelolaannya agar tidak berlalu begitu saja.
            Pada umumnya, orang memanfaatkan waktu untuk melakukan tugas-tugas rutin. Jarang sekali orang yang memiliki perencanaan waktu yang matang. Pejabat tinggi biasanya telah memiliki pengaturan waktu yang seolah-olah diatur oleh sekretarisnya. Maka waktunya dapat efektif dan efisien. Tetapi nanti bila tidak menjabat lagi, lalu tidak memiliki perencanaan waktu yang teratur lagi.
            Sebenarnya waktu yang akan datang itu seharusnya dapat diperlakukan sebagai modal/aset bagi kehidupan individu maupun lembaga. Ini bisa terrealisir dengan baik apabila dilakukan perencanaan yang matang.
            Apabila waktu dapat dimenej dengan baik, maka tentunya akan dapat dihemat beaya, tenaga, dan sumber-sumber daya yang lain. Berangkat dari pemikiran inilah, maka Peter F. Drucker (1961) meyatakan dalam tulisannya yang berjudul How to Be an Effective Excellence bahwa waktu adalah sumber yang paling angka dan apabila tidak dapat dikelola, maka hal-hal lainpun tidak dapat dikelola pula.
            Waktu adalah sesuatu yang hidup. Kehidupan itu memerlukan waktu, maka orang yang tak mampu menghidupkan waktu berarti menyia-nyiakan kehidupan. Padahal kehidupan seseorang akan memiliki makna dan nilai luar biasa apabila mampu memenj waktu dan kesempatan. Banyak perusahaan yang menghasilkan produktivitas tinggi berkat pengelolaan waktu yang efektif dan efisien. Perusahaan itu antara lain AT & Bank of America, IBM, Lever Brithers, Standard Oil Compaany of California dan sejumlah instansi pemerintah, negara bagian, dan pemerintah Federal. Konsep pemanfaatan waktu ini juga telah dibuktikan oleh orang-orang yang sibuk dan berhasil seperti Gloria Steinam (penulis dan tokoh pergerakan wanita), Malton Glaster (perancang busana), Neil Diamond (penyanyi rekaman (Laken, 1997: 3).
            Dalam hal pemanfaatan waktu ini, sahabat Ibnu ‘Abbas r.a mengatakan :”Waktu bagi seorang hamba hanyalah ada empat, yakni waktu nikmat, waktu celaka, waktu taat, dan waktu maksiat. Siapa yang memanfaatkan waktunya untuk ketaatan, maka itu pertanda akan mendapat karunia dari Allah, mendapatkan hidayahNYa, dan dapat menyesuaikan diri dengan syari’at yang telah digariskan oleh Allah. Siapa yang waktunya terlanjur untuk kemaksiatan, maka hendaknya segera istighfar, menyesali perbuatannya, dan bertaubat. Siapa yang waktunya dalam kenikmatan, maka hendaklah selalu mensyukurinya. Siapa yang waktunya sedang dalam musibah/celaka, maka hendaknya diisi dengan ridho dan  ikhlas, dan tawakal atas ketentuan/cobaan itu (Labib Mz, tanpa tahun)
            Agar waktu yang kita miliki ini dimanfaatkan optimal, kiranya perlu adanya perencanaan yang efektif dan efisien. Untuk itu dalam perencanaan waktu ini perlu dipertimbangkan peningkatan kualitas penggunaan waktu dan sistem akses informasi yang berdayaguna dan berhasil guna.
            Sistem ini harus disusun sesuai dengan maksud dan tujuan individu maupun lembaga/organisasi. Sebab betapa banyak dan tidak disadari bahwa selama perjalanan hidup manusia, telah hilang waktu dan kesempatan dengan sia-sia. Padahal kesempatan hanya datang sekali. Kesempatan yang akan datang belum tentu untuk kita.
            Betapa banyak diantara kita ini telah memubadzirkan waktu untuk hal-hal yang kurang manfaat dan kurang produktif. Kita ini betah berjam-jam ngobrol ngalor ngidul tidak jelas jluntrungnya, menonton televisi, duduk berpangku tangan, dan lainnya.
            Tentang pemanfaatan waktu ini Marrild Douglas (1977) menyatakan bahwa hampir setiap orang menghamburkan waktu secara sia-sia selama 2  (dua) jam seetiap hari. Penelitian ini terjadi di luar negeri yang masyarakatnya telah berusaha memanfaatkan waktu untuk kemajuan. Mungkin angka itu akan lebih tinggi apabila penelitian itu dilakukan di negeri kita yang sebagian besar masyarakatnya masih kental dengan budaya ngrumpi itu.

Manusia dan Waktu

            Kegiatan manusia tidak dapat dipisahkan dengan waktu. Malah kadang-kadang manusia diatur oleh waktu. Padahal seharusnya manusialah yang mengatur waktu. Bukan sebaliknya.
            Apabila ditinjau dari kesibukan orang dalam pemanfaatan waktu, kegiatan manusia itu dapat dibagi menjadi manusia yang gila waktu, overdoer, dan manusia pengorganisasian.

Gila waktu

             Memang ada tipe orang yang gila waktu. Yakni orang-orang yang selalu memenuhi waktunya dengan berbagai kegiatan. Orang tipe ini sangat ketat dalam pengaturan waktu, malah kadang membuat orang lain repot. Maunya semua itu tepat waktu dengan disiplin kaku. Orang tipe ini tidak kenal toleransi. Rapat terlambat lima menit saja sudah marah-marah. Ia selalu pontang-panting sendiri dalam pemenuhan kebutuhan waktu. Tipe seperti ini bukan tipe orang yang menyenangkan. Biasanya orang ini bersikap kaku dan disiplin mati.

Overdoer

            Orang tipe ini memang menyibukkan diri luar biasa. Namun dalam pemanfaatan waktu kurang memberikan produk yang berarti. Orang seperti ini pada umumnya  kurang disenangi orang. Sebab mereka itu selalu menyatakan kepada orang lain apa yang harus dilakukannya. Dimana-mana selalu mengatakan sibuk. Padahal apa yang disibukkan itu tidak membawa produk apa-apa. Saking sibuknya seolah-olah orang ini tidak punya waktu untuk istirahat.

Gila pengorganisasian

            Ada lagi orang yang selalu membuat rancangan yang detail dan rinci dalam setiap kegiatan yang akan dilaksanakan. Dia tidak akan beraktivitas sebelum meyusun perencanaan waktu yang matang. Akibat dari kesibukan yang luar biasa ini, sering tidak mampu menyelesaikan banyak hal yang harus diselesaikannya.

Pemanfaatan Waktu

            Waktu yang begitu berharga itu perlu dimenej sebaik mungkin. Untuk itu perlu diperhatikan hal-hal berikut:
1. Perencanaan Kegiatan
            Kadang kurang disadari bahwa sebagian besar kita ini terjebak oleh rutinitas kegiatan, monoton, dari itu ke itu saja. Kita kurang memiliki kesadaran tentang pemanfaatan waktu.
Oleh karena itu, agar kita ini efektif dan efisien dalam pemanfaatan waktu, kiranya perlu perencanaan dalam pemanfaatan waktu. Misalnya membuat catatan harian tentang kegiatan apa saja yang diakukan hari itu. Dengan catatan ini akan diketahui seberapa banyak waktu yang dapat dialokasikan untuk hal-hal yang produktif dan manfaat. Disamping itu juga akan diketahui nanti berapa jam ternyata waktu kita untuk hal-hal yang sia-sia.
2. Penentuan Prioritas
            Sering terjadi pada diri kita, terutama pejabat bahwa dalam waktu yang sama ada beberapa kegiatan atau undangan yang harus dilaksanakan/dihadiri. Kadang sulit untuk menentukan mana yang harus didahulukan. Dalam hal ini dapat saja diprioritaskan dari segi lokasi, kedekatan emosi, atau pertimbangan politis. Bisa juga diusahakan dihadiri semua meskipun hanya sebentar. Sebab  kehadiran seorang yang dihormati pada suatu pertemuan memberikan makna sendiri meskipun hanya sebentar.
            Apabila cara tersebut sulit dilakukan, maka dapat ditempuh dengan penentuan prioritas kemanfaatan. Artinya seberapa besar manfaat dan kehadiran diri kita di suatu pertemuan bila dibanding dengan pertemuan yang lain. Dengan penentuan prioritas ini akan dihemat waktu. Kemudian tugas-tugas lain dapat didelegasikan kepada orang/pajabat lain yang berkompeten. Sebaiknya kita tidak menghamburkan waktu untuk prioritas yang rendah.
3. Keajegan kegiatan
            Waktu akan bermanfaat dan memiliki nilai tinggi apabila diisi dengan kegiatan yang rutin/ajeg meskipun sedikit. Sedikit asal terus menerus dilakukan, insya Allah akan lebih berkualitas daripada banyak lalu berhenti. Dari sedikit ke sedikit inilah lama kelamaan akan menjadi bukit. Disamping itu dengan keajegan ini, kita mengerjakannya juga terasa enak. Seolah-olah kegiatan itu telah menjadi bagian dari kehidupan kita.
4. Mampu berkomunikasi ke segala arah
            Kemampuan komunikasi seseorang ke segala arah akan memperlancar komunikasi dan menghemat waktu. Sebab mereka dapat memperpendek jarak dan mempercepat komunikasi kepada siapapun. Dengan kelihaian komunikasi yang efektif akan didapat kejelasan komitmen dan kreatifitas.
            Kemampuan komunikasi ini tersirat adanya dorongan silaturrahim yang akan mengekalkan sejarah dan memperluas usaha. Rasulullah SAW menyatakan
:”Siapa yang ingin dilimpahkan rizkinya dan dikembangkan bekas peninggalannya (umur), hendaklah suka bersilaturahim (H.R. Bukhari).
            Mereka yang suka bersillaturrahim berarti telah mampu melaksanakan komunikasi kepada siapapun dengan baik dan dialah yang berhasil. Adanya silaturrahim dapat menghilangkan hambatan kejiwaan, tidak kaku, dan dari sana dapat dikembangkan beberapa kepentingan.

                                                                                             


                                                               Lasa Hs -UMY.

0 komentar:

Posting Komentar