Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Kamis, 23 November 2017

Dunia yang Melalaikan


Dalam islam, hidup adalah suatu fase untuk mempersiapkan kematian. Fase dimana kita berlomba-lomba untuk mengumpulkan bekal amalan sebanyak-banyaknya untuk di akhirat. Sayangnya, tidak sedikit  manusia lalai dan terhanyut dengan arus “manisnya” dunia, sehingga hanya fokus untuk menguras kenikmatan duniawi dan bersusah payah untuk memenuhi rasa “haus” mereka akan gemerlapnya kehidupan dunia.  Wajar apabila kita selaku manusia memiliki rasa keinginan untuk mendapatkan sesuatu, namun terkadang apa yang kita inginkan itu belum tentu menjadi hal yang sebenarnya kita butuhkan dan kita tidak harus memenuhi rasa ingin tersebut, seperti yang tercantum dalam Q.S. An-Naziat ayat 40-41, “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya).”.
Trend lah yang membuat kita merasa terkejar untuk bisa mengikutinya, dan gengsi lah yang menjadi faktor pendorong terbesar. Gengsi sudah menjadi harga mati bagi mereka yang sudah terlanjur terseret arus modern yang semakin lama semakin maju. Bagi kaum hedon, sudah kewajiban mereka untuk mengikuti trend dunia tanpa memikirkan “sebenarnya butuh banget gak sih?”. Mungkin dalam hati kecil mereka mengatakan “jangan sampai aku kudet” atau “aku harus lebih kece dari dia”, atau mungkin “jangan sampai aku dipandang rendah”. Gengsi memang segalanya untuk mereka yang berfikir demikian.
Tidak sedikit orang yang meninggal dunia dalam keadaan yang banyak harta, tapi sedikit pahala. Hal tersebut bisa dilihat dari gaya hidupnya yang selalu berusaha mengejar materi dan materi, sehingga lalai dalam ibadahnya dan menyampingkan peran Allah dalam hidupnya.  “Dunia adalah penyihir yang lebih hebat dari Harut dan Marut, dan kamu harus menghindarinya.” (Syaikh Abdul Qadir Al-Jailani). Sungguh orang yang merugi orang-orang yang bernasib seperti itu. Mereka diberi umur yang panjang, tapi umur tersebut hanya dihabiskan untuk menjadi budak uang di dunia.
Sepatutnya kita bisa menyeimbangkan antara dunia dan akhirat. “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (Q.S. Al-Qashash:77). Kenikmatan di dunia kadang melalaikan seseorang akan kehidupan akhirat. Padahal Allah SWT memerintahkan kita agar menyeimbangkan keduanya, karena sesungguhnya posisi kita di dunia hanyalah seperti musafir yang hanya “mampir” untuk mencari minum dan selanjutnya berjalan menuju ke tempat tujuan, yaitu akhirat. Dan semua harta benda yang kita miliki kelak akan dipertanggung jawabkan di akhirat.
Dapat disimpulkan bahwa kita sebenarnya boleh untuk mengais apa yang ada di dunia, namun akan lebih bijaknya apabila kita menggunakan itu untuk jembatan kita mendapatkan amal, contohnya seperti kita bekerja dan uang tersebut sebagian disisihkan untuk dijalan Allah seperti shodaqoh, infaq dan lain sebagainya. Karna jangan sampai uang kita hanya dihabiskan untuk memenuhi rasa gengsi yang ada dalam diri kita  J
Aidilla Qurotianti
Perpustakaan UMY


0 komentar:

Posting Komentar