Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Senin, 13 November 2017

JANGAN TAKUT GAGAL.

“Tidak penting berapa kali anda gagal, yang penting berapa kali anda bangkit “. (Abraham Lincoln).
            Kata-kata itu dilontarkan oleh seorang anak manusia yang berkali-kali mengalami kegagalan. Namun toh dengan kegagalannya itu akhirnya berhasil menjadi orang nomor satu  Amerika Serikat di usianya yang ke 51. Wajahnya yang keras itu pernah menghiasi dolar Amerika Serikat.
            Pria kelahiran tahun 1809 itu, dulu ketika masih berumur 7 (tujuh) tahun dia dan keluarganya diusir dari tanah miliknya. Kemudian pada umur 9 tahun, ibunya meninggal dunia.  Pada umur 22 tahun, ia bekerja sebagai staf administrasi suatu toko. Namun karena terlibat hutang, dia lalu dipecat. UntUk melunasi hutangnya diperlukan waktu untuk mengangsur selama 17 tahun.
            Penderitaan dan kegagalan ini tidak membuat anak manusia yang berhati baja ini loyo dan cepat menyerah. Justru dengan kegagalan itu dia bangkit dan bangkit lagi. Diapun nekad untuk mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dan kali ini juga gagal. Lalu ia mencoba berbisnis lagi dan usaha ini ternyata bangkrut. Sementara kepedihan satu belum sirna, lalu muncul kepedihan lain yakni ditinggal mati kekasihnya yang bernama Ann Rutledge.
            Ketika memasuki usia 31 tahun, ia kembali nekad mencalonkan diri sebagai anggota legislatif dan gagal lagi. Kemudian pada usia 34 tahun dan 39 tahun ia mencoba mencalonkan diri sebagai anggota Kongres dan kali ini  juga gagal. Bahkan saat itu ditinggal mati ketiga anak-anaknya (satu berumur 4 tahun dan yang lain umurnya tidak sampai 18 tahun).
            Penderitaan demi penderitaan ini tidak membuatnya frustasi dan tidak kehilangan semangat hidup. Justru dengan berbagai kegagalan ini akan menempa diri seseorang untuk semakin tangguh dalam menggapai cita-cita luhur. Semangat yang luar biasa ini mendorongnya untuk mencalonkan diri sebagai angggota Senat Amerika Serikat di usianya yang ke 45. Kenekadannya ini semakin menjadi dengan mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika Serikat di umurnya yang ke 47. Untuk pencalonan ini memang gagal. Namun dengan semangat baja, keuletan, kelincahan, dan keberanian akhirnya toh cita-cita luhur sebagai Presiden Amerika Serikat  itupun tercapai di usianya yang ke 51. 
            Ini sepenggal kisah seorang anak manusia yang bernama Abraham Lincoln yang sejak kecil nasibnya terlunta-lunta. Kegagalan dan penderitaan selalu menyelimuti kehidupannya. Kegagalan dan penderitaan yang bertubi-tubi itu antara lain; diusir dari tanah kelahirannya sendiri, ditinggal mati oleh orang-orang yang dicintainya (anak, kekasih, dan ibunya) dan kegagalan menggapai cita-cita  sebagai anggota Senat, maupun anggota Kongres. Bagi mereka yang tidak kuat iman dan jiwanya, dengan penderitaan semacam ini mungkin membuat orang itu sakit jiwa, stress, frustasi, bunuh diri, atau masuk penjara.
            Dari berbagai kepedihan dan penderitaan yang dialaminya itu akhirnya beliaupun memberikan pesan :”Tidak penting berapa kali anda gagal, yang penting berapa kali anda bangkit”.
Keteguhan hati
            Berbagai macam penderitaan yang menimpa seseorang bisa membuat patah semangat terutama bagi mereka yang nyalinya kecil. Sebaliknya, berbagai penderitaan itu justru akan mendorong seseorang untuk bangkit dan bangkit lagi lantaran orang itu memiliki keteguhan hati.
            Keteguhan merupakan kekuatan yang mampu mendorong seseorang untuk mencapai kesuksesan meskipun harus mengalami kondisi yang menyulitkannya. Dengan keteguhan hati seseorang dapat mencapai prestasi gemilang meskipun tadinya biasa-biasa saja. Salah satu contoh adalah Kolonel Sander’s si pendiri dan pemilik Kentucky Fried Chicken. Pensiunan ini memiliki keteguhan hati dalam meraih keberhasilan. Dia tidak ingin menggantungkan nasibnya pada bantuan sosial. Kemudian ia mendirikan usaha penyajian ayam goreng. Beliau tidak segan-segan menawarkan sajian ayam goreng itu dari satu restoran ke restoran lain bahkan dari satu kota ke kota lain. Dengan keteguhan hati, akhirnya ada juga restoran yang mau menerimanya. Usaha ini dikelola dengan sabar, telaten, ulet, dan kreatif. Akhirnya perkembangan usaha ini sampai ke berbagai mancanegara. Di Indonesia sendiri juga banyak berdiri Kentucky Fried Chicken di beberapa kota.
            Menghadapi kesulitan atau kondisi belum sukses perlu keteguhan hati. Maka tidak berlebihan bila Ray Kroc si mantan Kepala Cabang Restoran cepat saji McDonald mengatakan :”Jalani terus. Di dunia ini tidak mungkin ada yang bisa menggantikan posisi kebulatan tekad (keteguhan). Hanya mengandalkan bakat saja tidaklah cukup. Banyak sekali orang yang memiliki bakat, tetapi mereka gagal. Hanya mengandalkan intelektual saja tidaklah cukup karena banyak sekali orang pintar yang tidak bisa memetik manfaat dari keintelektualannya. Hanya mengandalkan pendidikan saja tidaklah cukup karena seorang ilmuwan dikelilingi oleh para murid yang kurang menghargainya. Akan tetapi, kebulatan hati (keteguhan) mampu untuk melakukan segalanya (Ibrahim Elfiky, 2005: 136).
Optimis
            Optimis adalah harapan lebh baik di masa mendatang. Orang yang optimis akan memiliki pandangan jauh ke depan dan berusaha untuk mencapai keadaan yang lebih baik daripada keadaan sekarang. Apapun yang terjadi, orang ini tetap memiliki harapan sukses lebih besar dari pada orang lain. Kesuksesan ini tidak harus diukur dengan materi, pangat, jabatan, maupun kedudukan. Harapan ini ibarat sebuah mobil yang membawa seseorang ke tempat tujuan. Orang yang optimis, insya Allah apa yang  dikehendakinya akan tercapai asal mau berusaha sekuat tenaga, berani menderita. Sebab jaman sekarang tidak ada istilah tenguk-tenguk nemu getuk (diam saja menunggu rizki datang). Justru sekarang ini tenguk-tenguk remuk (kalau diam saja akan hancur sendiri). Maka kalau mau mamah (makan) harus obah (berusaha). Oleh karena itu secara sederhana dapat dikatakan bahwa harapan secara total akan menjadi kenyataan dalam hidup seseorang asal serius dalam merealisirnya.
            Akal dalam diri manusia ibarat magnet dalam ilmu metafisika. Magnet ini akan menarik situasi, lingkungan, keinginan, dan tugas pada pikiran yang serupa. Ketika seseorang memikirkan sesuatu yang positif, maka hal-hal yang positif pula akan mengikutinya. Demikian pula dengan yang negatif. Ketika orang berpikiran negatif (menjadi orang yang negatif) , maka hal-hal yang negatif pula yang mengelilinginya. Kalau orang berpikiran (senang, hobi) sepak bola, maka bacaannya, kawannya, bahkan kamarnya bernuansa sepak bola. Demikian pula orang yang berpikiran/bergelut di bidang bisnis. Otaknya, pergaulannya, dunianya siang malam adalah dunia bisnis.
            Orang-orang yang optimis tidak takut  akan kesulitan dan kegagalan. Kegagalan justru dijadikan sebagai pelajaran dan kekuatan. Bukankah Henry Ford si raja mobil itu bolak-balik gagal dan pernah bangkrut. Demikian pula dengan Bung Karno yang berulang kali dipenjara bahkan nyaris terbunuh ketika menggerakkan revolusi kemerdekaan dan memimpin negeri ini. Dipenjara secara politis lebih terhormat daripada dipenjara karena korupsi.
            Mereka yang optimis menyadari bahwa kualitas hidup itu tergantung sejauh mana respon/tanggapan seseorang terhadap kejadian dan fenomena yang terjadi. Kalau orang itu tidak responsif terhadap fenomena yang dialaminya terutama fenomena yang menyangkut kepentingan masyarakat luas, maka sulit diharapkan adanya kualitas hidup pada orang itu. Mereka cenderung memikirkan apa yang terjadi pada dirinya. Padahal kualitas hidup itu 10 % ditentukan oleh apa yang menimpa seseorang dan yang 90 % tergantung respons/tanggapan seseorang terhadap kejadian-kejadian tersebut. Maka disinilah perlunya orang itu harus bersikap proaktif dalam merespon kejadian-kejadian yang mereka alami, lihat, dengar, dan rasakan.
            Proaktif menurut Stephen R. Covey adalah keleluasaan, kebebasan, dan kemampuan untuk memilih respon-respon terhadap apa yang menimpa seseorang berdasarkan nilai-nlai yang mereka anut. Mereka mampu mengembangkan dan memberdayakan karunia Allah yang berupa kesadaran diri, hati nurani, imajinasi, dan kebebasan.
            Kesadaran diri adalah perasaan yang timbul pada diri manusia akan eksistensi dirinya sebagai manusia dan kesadaran untuk bertindak sebagai pengejawantahan eksistensi dirinya. Dengan kata lain aku berbuat karena aku ada.
            Hati nurani yang merupakan karunia Allah itu merupakan landasan moral seseorang untuk bertindak dan berperilaku berdasarkan tuntunan Allah SWT. Nurani inilah yang akan menghubungkan diri orang dengan kearifan jaman dan kebijaksanaan hati, memahami bakat dan minat, dan menentukan visi dan misi hidupnya.
                Orang-orang yang proaktif akan memiliki imajinasi kreatif. Yakni kemampuan melihat jauh ke depan, mampu memberikan tanggapan, dan mampu mencari solusi dengan kegiatan-kegiatan yang sinergis. Imajinasi kreatif ini adalah fokus dari gerakan visualisasi dan kekuatan pikiran. Kekuatan pikiran ini juga disebut positive thinking (Vincent Peale dkk), possibility thinking (Robert Schuller dk), ateral thinking (Edward de Bono), psycho-cybernetics (Maxwell Malzt) (Harefa, 2005: 130)
            Manusia memiliki kebebasan dalam bertindak.Namun kebebasan ini juga sebenarnya dibatasi oleh kebebasan orang lain. Kebebasan di sini berarti kemauan untuk menemukan jalan dalam mengatasi problema yang terjadi. Mereka yakin bahwa segala problema pasti ada solusinya. Dengan kata lain, dimana ada kemauan tentu ada jalan, tiada derita tanpa prestasi/no pain no gain

Lasa Hs

Perpustakaan UMY

0 komentar:

Posting Komentar