Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Kamis, 16 November 2017

Kesombongan

Manusia diciptakan di muka bumi ini memiliki kelebihan dan kekurangan satu dari yang lain.Dengan kelebihan itu seyogyanya manusia bersyukur. Sebaliknya dengan adanya kekurangan, maka selayaknya  mereka itu sabar.
Namun demikian, dalam kehidupan sehar-hari tidak sedikit orang yang diberi kelebihan justru sombong dan merendahkan orang lain. Orang bisa saja sombong lantaran diberi kelebihan harta,  jabatan& kekuasaan, keturunan,dan ilmu
Memang  ada orang yang diberi kelebihan harta entah itu berasal dari warisan, hasil kerja keras atau penemuan. Dengan kekayaan yang melimpah itu dikiranya mereka mampu menggapai segala yang diinginkannya. Dengan harta dikira semua bisa diatur, semua orang bisa  diperintah, dibentak-bentak dan lainnya. Kadang tidak disadari bahwa harta  yang diburu sejak bangun tidur sampai tidur lagi itu malah menjebak dan menipu bagaikan fatamorgana.
Kisah Qarun menjadi pelajaran menarik  bagi mereka yang menyombongkan harta. Qarun diberi anugerah harta yang melimpah dan itu tidak mengakui bahwa kekayaan itu dari Allah. Qarun mengklaim bahwa kekayaan itu diperolehnya melalui kepandaian/ilmu dan kerja kerasnya. Tidak ada campur tangan Tuhan disitu, katanya.. Alquran S. Al Qashash: 76 menyatakan yang artinya: Sesungguhnya Qarun adalah termasuk kaum Nabi Musa, maka ia berlaku aniaya terhadap mereka, dan Kami telah menganugerahkan kepadanya perbendaharaan harta yang kunci-kuncinya sungguh berat dipikul oleh sejumlah orang yang kuat-kuat. (Ingatlah) ketika kaumnya berkata kepadanya: “Janganlah kamu terlalu bangga; sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang terlalu membanggakan diri”.
Nasib Qarun memang mengenaskan yakni seluruh harta kekayaan, bahkan Qarun sendiri hancur ditelan bumi. Hal ini dinyatakan  dalam Alquran S.Al  Qashash: 81 yang artinya:
“Maka Kami benamkan dia (Qarun) bersama rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang menolongnya selain Allah, dan dia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri”.   
Ternyata harta yang dicari siang malam itu kalau tidak hati-hati justru mengenaskan pemiliknya. Tanah luas, rumah mewah, mobil model mutakhir tau-tau disita negara. Hal ini terjadi karena dalam menjalankan kehidupan dan kekuasaan tidak amanah. Mereka bangga dengan memamerkan kekayaan yang justru ujung-ujungnya menghabiskan sisa hidupnya di penjara.
Demikian pula halnya dengan pangkat dan jabatan, yang kadang membuat orang menjadi pongah  dan sombong. Ketika ingin meraih kekuasaan, mereka mengumbar janji simpati. Berbagai cara mereka tempuh untuk menjadi pejabat penting Sejak tidur di makam-makam tokoh sampai mandi kembang tiap malam Jum’at, bahkan minta wansit pada ular yang hidup di suatu sendang. Setelah terpilih menjadi orang penting, lalu muncul sikap aslinya yakni  sombong sebagai pejabat karena memiliki kekuasaan.Padahal jabatan yang dipangkunya itu hanya beberapa tahun.
Kalau tidak hati-hati, dengan jabatan itu justru menjadi sengsara. Fir’aun mati mengenaskan tenggelan di Laut Merah karena kesombongan kekuasaan. Fir’aun telah menunjukkan keangkuhan, kecongkakan, dan ksewenang-wenangan pada rakyatnya. Kekejaman dan kebengisan Fira’un ini digambarkan Allah dalam Q.S. Al Qashash: 4:
Artinya: “ Sesungguhnya Fir’aun telah berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya Fir’aun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan”.
Kepongahan, arogansi, dan kesombongan Fir’aun ini hendaknya menjadi pelajaran bagi kita bahwa akhir sikap ini adalah kehinaan dan kenistaan. Apalah artinya sombong jabatan kalau toh akhirnya tanah, rumah, dan rekening disita KPK/negara. Mereka menghabiskan sisa hidupnya di penjara. Isteri lepas dan anak-anak merana.
Untuk itu bagaiamanaa nasib Fir’aun yang notabene melambangkan kesombongan itu. Dalam Q.S. Al A’raf: 136:  yang artinya:” Kemudian Kami menghukum mereka, maka Kami tenggelamkan mereka di laut disebabkan mereka mendustakan ayat-ayat Kami dan mereka adalah orang-orang yang melalaikan ayat Kami itu”.
Orang bisa sombong lantaran keturunan. Mereka bangga dengan nenek moyangnya. Memang ada orang yang merasa lebih karena masih keturunan darah biru, anak cucu orang terkenal. Mereka tidak mau bergaul denan orang-orang kebanyakan. Bahkan mereka menolak informasi, ajaran, dan dalil yang datang dari luar garis keturunan. Maka benar bahwa kesombongan itu bisa menolak kebenaran, karena nuraninya tertutup oleh berbagai kepentingan
Disamping itu, kesombongan dan kepongahan bisa menimpa pada para intelektual. Mereka yang memiliki kemampuan bidang tertentu merasa lebih hebat dari yang lain. Lulusan dari perguruan tinggi tertentu kadang merasa lebih berkualitas dari lulusan perguruan tinggi lain. Demikian pula mereka yang lulusan luar negeri sering merasa lebih berbobot dari lulusan dalam negeri. Mereka kadang kurang menyadari bahwa wafauqa dzi ‘ilmin alim.(Di atas orang pintar masih ada lagi yang lebih pintar)
Sikap sombong/kibr, takabur adalah sikap bahwa  dirinya merasa lebih tinggi, lebih hebat, dan lebih agung dari yang lain. Sikap ini akan menjauhkan diri dari yang lain dan akan membentuk kelompok-kelompok kelas elit.
Penyakit  sombong, pongah,congkak ini dapat menghapus kebaikan dan jasa orang itu. Apabila sikap ini dikembangkan dapat merusak akidah.  .
Apabilasikap ini telah berakar dalam hati dan selalu bersikap sombong dalam kehidupan kesehariannya, maka penyakit  ini sulit dihilangkan. Untuk itu sikap ini perlu dipahami dan diantisipasi sebelumnya.
Bahaya sombong
Untuk  menghindarkan diri dari sikap smbong ini, perlu dipahami bahaya-bahaya yang ditimbulan dari sikap ini antara lain:
Terhalang dari kebenaran
Kesombongan dapat menutup akal sehat dan menyelimuti hati nurani. Oleh karena itu  orang yang sombog  tak dapat membedakan manayan terang dan mana yang gelap. Telinga tertutup dari saran dan masukan dari orang lain meskipun yang disampaikan itu merupakan kebenaran.  Dalam  hal ini Allah berfirman dalam Q.S.: Al A’raf: 146 yang  artinya: “Aku akan memalingka dari tanda-tanda (kekuasaanKu) orang-orang yang menyombongkan diri di bumi tanpa alasan yang benar”
Mendapat balasan neraka dan azab/siksa yang pedih
Keagungan, kebesaran, kekayaan, dan kemuliaan itu sebenarnya mutlak milik Allah. Manusia hanya diberikan  sangat sedikit dari kelebihan-kelebihan itu. Tentunya dengan kelebihan-kelebihan itu seseorang harus bersyukur. Sebab tidak semua orang diberikan kelebihan harta, kekuasaan, keturnan, maupun kelebihan ilmu pengetahuan. Dalam hadits Qudsi Allah berfirman,yang artinya:”Kesombongan itu adalah pakaian kebesaran-Ku dan keagungan itu adalah kain penghias-Ku. Oleh karena itu,siapa saja yang menyaingi Aku pada salah satu dari keduanya, maka Aku akan memasukkannya ke dalam Neraka Jahannam”
Tidak disukai Allah
Sikap menjunjung diri dan merendahkan orang lain ini merupakan salah satu sikap yang tidak disukai Allah SWT, baik itu  sombong ilmu,sombong kekuasaan, sombong keturunan, maupn sombong harta/kekayaan. Dalam hal ini Allah menyatakan dalam  Q.S Lukman: 18 ,yang  artinya: Dan janganlah kamu memalingkan wajah dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di bumi dengan angkuh. Sungguh, Allah tidak menyukai orang-orang yan sombong dan membanggakan diri:.
Hina di dunia dan akhirat
Sikap sombong tidak hanya dimurkai oleh Allah, tetapi menusiapun muak melihat kesombongan dan pamer kekayaan misalnya dengan pamer akiknya seharga  sekian milyar, rumahnya di hampir tiap kota, mobilnya model mutakhir. Sikap pamer di media publik ini justru menyakitkan orang lain terutama bagi orang miskin yang cari makan sendiri saja susah.     
Dalam pentas kehidupan kita, dapat disimak bagaimna akhir dan nasib
orang-orang yang sombong. Dalam kenyataan, ribuan tanah mereka akhirnya diberi papan bertuliskan; Tanah Ini Disita oleh KPK atau Rumah ini menjadi pengawasan  Kehakiman dan lainnya..
Menyikapi kesombongan ini, Imam Ghozali dalam bukunya “Minhajul Abidin mengutip perkataan Hatim yang menyatakan:”Hindarilah bertemu kematian dalam tiga keadaan; sombong, rakus, dan angkuh. Orang yang sombong itu tidak akan bertemu kematian sebelum dihinakan oleh keluarga, kerabat, dan pelayannya. Sedangkan orang yang rakus, ia tidak akan menemui kematian sebelum hidup dalam kekurangan makanan dan minuman. Bagi orang yang angkuh, tidak dikeluarkan oleh Allah swt dari dunia ini (kematian) sebelum dilumuri oleh kencing dan kotorannya sendiri. Siapa saja yang bersikap sombong atas sesuatu yang tidak dibenarkan, maka Allah swt akan mewariskan kepadanya kehinaan yang tidak ada kebaikan sedikitpun padanya::
 
Lasa Hs


Universitas Muhammmdiyah Yogyakarta.

0 komentar:

Posting Komentar