Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Kamis, 23 November 2017

Memanusiakan Manusia

Suatu ketika ada seorang santri yang bertanya kepada pak kiayi.

Santri : “wahai pak kiayi, kemarin kami bertemu dengan dua orang,,,,,, orang pertama, ia adalah orang yang sangat rajin beribadah. Sholatnya rajin, ngajinya rutin, apalagi puasa sunnahnya juga istikomah. Akan tetapi yang membuat kami aneh, dia selalu berbuat maksiat, dan bahkan perilakunya itu sering membuat orang saikit hati…

Kemudian orang yang ke dua,, Ia adalah sosok orang yang baik hati, rajin bersedekah, sopan santun, dan bahkan ia selalu menolong sesama. Namun lagi – lagi kami merasa aneh, karena ternyata orang itu jarang melakukan sholat lima waktu, dan bahkan ia pun tidak bisa membaca Al-Qur`an……
Dari ke dua orang itu, orang mana yang menurut pak kiayi bisa dikatakan sebagai orang yang baik?”…

Lalu pak kiayi menjawab “ Kedua orang tersebut adalah orang – orang yang baik”.

Mendengar jawaban itu, santripun terkaget kaget,, dalam hati “kok bisa,,, ????????”.

Kemudian pak kiayai melanjutkan “ Wahai santriku, Orang (pertama) yang selalu berbuat maksiat, dan selalu melukai hati orang lain, bisa jadi karena sholatnya, karena ngajinya itu, Allah memberikan hidayah kepadanya, sehingga jadilah ia sebagai orang yang alim, yaitu orang yang rajin sholat dan berakhlakul karimah.

Sedangkan orang yang ke dua, bisa jadi karena amal kebaikannya kepada sesama itu, Allah ketuk pintu  hatinya, sehingga ia pun bisa menjadi orang yang ahli ibadah”.
Mendengar jawaban itu, santripun terteunduk malu.

Dari secuil cerita di atas, maka bisa kita ambil beberapa hikmah :

  1. Tidak ada satupun dari kita yang tau nasip/keadaan kita di masa yang akan datang, sehingga jangan sampai kita menghakimi seseorang seolah – olah ia adalah orang yang hina, karena bisa jadi suatu saat Allah akan mengangkat derajatnya, dan bisa jadi pula kitalah yang dihinakan oleh Allah
  2. Anggaplah manusia sebagai manusia, jangan menganggap manusia seperti malaikat (Kata Gus Mus). Ketika kita menganggap teman atau saudara seperti malaikat, maka yang terjadi ketika teman atau saudara tersebut melakukan kesalahan, kita susah untuk memaafkan, namun sebaliknya, jika kita menyadari bahwa teman atau saudara kita itu juga sebagai manusia, maka kita akan memaklumi dan mau memaafkan jika mereka melakukan kesalahan, karena kita sadar bahwa manusia itu selamanya tidak akak lepas dari yang namanya kesalahan.



0 komentar:

Posting Komentar