Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Senin, 27 November 2017

MENGEMBANGKAN KECERDASAN EMOSI

Untuk mencapai kesuksesan, tidak harus menjadi mahasiswa suatu perguruan tinggi terkenal. . Dengan pengembangan kecerdasan emosi, orang juga bisa sukses dalam hidupnya. Maka untuk berhasil tidak harus bergelar akademik (apalagi beli ijazah palsu), ber IP tinggi, atau lulus suma cumlaude.
            Sebenarnya tiap orang  mampu mencapai kebahagiaan dan keberhasilan itu dipengaruhi oleh beberapa kecerdasan. Misalnya kecerdasan intelektual, kecerdasan  sosial, kecerdasan religi, kecerdasan tubuh, kecerdasan majemuk , kecerdasan kreatif, atau kecerdasan emosi. Kecerdasan emosi ini merupakan teori yang dikemukakan oleh Daniel Goleman yang ternyata mampu membuka mata masyarakat yang selama ini terjebak pada kecerdasan intelektual/intellectual quotient/IQ.
            Kecerdasan emosi atau emotional quotient/EI adalaah kemampuan untuk membina hubungan dengan orang lain. Emosi itu sendiri sebenarnya merupakan dorongan untuk bertindak sesuai rencana untuk mengatasi masalah. Sedangkan bentuk emosi  yang muncul sering didasarkan pada suasana perasaan saat itu.
            Banyak para ahli yang mendefinisikan kecerdasan emosi dengan batasan yang berbeda. John Mayer misalnya, seorang psikolog University of Hampshire menyatakan bahwa kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk memahami emosi orang lain dan cara mengendalikan emosi diri sendiri. Maka orang yang memiliki kecerdasan emosi tinggi akan mampu mengembangkan diri antara lain dengan penyesuaian diri dengan keadaan saat itu dan mampu mengambil manfaat untuk mengatur kekuatan diri. Apabila orang mampu membawa diri pada komunitas yang lebih luas, maka akan semakin terbuka kesempatan untuk pengembangan diri.
Lain halnya dengan pendapat Cooper dan Sawaaf tetang kecerdasan emosi. Kedua orang pakar psikologi ini menyatakan bahwa kecerdasan emosi adalah kemampuan untuk merasakan, memahami, dan secara efektif menerapkan daya dan kepekaan emosi sebagai sumber kekuatan dan pengaruh yang manusiawi. Dalam hal ini dapat dipahami bahwa orang yang mampu mengelola kecerdasan emosi akan mengembangkan potensi, energi, dan kekuatan diri untuk mempengaruhi orang lain. Untuk itu diperlukan kepemilikan perasaan yang kuat untuk belajar mengakui dan menghargai perasaan orang lain dan mengatur perasaan diri. Kemudian orang ini mampu menanggapi keadaan itu dengan cepat dan mampu menerapkan energi emosi itu secara efektif dalam kehidupan sehari-hari.
            Dari paparan di atas dapat dipahami bahwa kecerdasan emosi itu merupakan kemampuan untuk mengenal, mengelola, dan mengekspresikan diri dengan tepat. Oleh karena itu orang harus mampu memotivasi diri, memahami orang lain, mengendalikan emosi diri, dan mampu membina hubungan dengan orang lain.
Jenis-jenis Emosi
Kata emosi memang erat dalam kehidupan kita. Namun kadang kita sulit mendefiisikannya. Kita sering emosional berarti sering mengikuti dan mengekpresikan apa yang kita rasakan saat itu. Gejala ini merupakan respon terhadap keadaan dan sikap yang muncul saat itu. Maka dalam menghadapi keadaan tertentu, orang bisa memunculkan rasa takut, tegang, was-was, sedih, gembira, bingung, terkejut, dan cinta

Mengembangkan Kecerdasan Emosi
            Ada pendapat yang mengatakan bahwa orang yang memiliki kecerdasan emosi yang tinggi dan mampu mengembangkannya secara optimal, maka orang itu akan sukses dan bahagia. Sebab dia itu selalu percaya terhadap potensi diri, mampu mengelola emosi, dan mempunyai kesehatan mental yang baik.
            Berangkat dari pemahaman ini, maka kecerdasan emosi itu dapat dikembangkan secara optimal. Dalam upaya pengembangan kecerdasan emosi ini, Salovey seorang pakar psikologi memberikan gambaran tahapan pengembangan emosi ini. Tahapan-tahapan pengembangan itu antara lain; mengenal emosi diri, mengelola emosi, memotivasi diri, memahami emosi orang lain, membina  hubungan, dan mau mendengarkan orang lain.
Mengenal Emosi Diri
Memahami perasaan diri ketika emosi sedang bergejolak merupakan dasar kecerdasan emosi. Kita perlu memahami perkembangan emosi diri dari waktu ke waktu terutama ketika terjadi keadaan yang sangat sensitif. Keadaan ini misalnya ketika sedang menerima keadaan yang sangt menyedihkan, menyenangkan, menegangkan, ketakutan, dan lainnya. Sebab pada saat-saat seperti ini biasanya terjadi ledakan emosi yang luar biasa, dan kadang sulit dikendalikan
Mengelola Emosi
            Emosi yang dikelola dengan baik akan menjadi kekuatan untuk memajukan diri. Sebaliknya, emosi yang tidak diarahkan pada hal-hal yang positif, maka mungkin bisa mencelakakan diri sendiri dan orang lain. Hal ini bisa terjadi karena emosinya tidak terkontrol lagi.
            Orang yang mampu mengelola emosi berarti telah mampu menguasai diri dan orang lain itulah sebenarnya yang disebut sebagai orang yang kuat. Rasulullah SAW pernah bersabda :”Orang kuat itu, bukanlah seorang petinju, tetapi mereka yang dikatakan kuat adalah mereka yang mampu mengendalkan diri ketika marah’
Memotivasi Diri
            Emosi merupakan salah satu alat untuk mencapai tujuan diri Maka emosi ini perlu didorong terus menerus untuk merealisir tujuan. Motivasi mempengaruhi kualitas kegiatan, maka motivasi tinggi akan menghasilkan produk tinggi. Sebaliknya motivasi rendah akan melahirkan produk yang kurang bermutu.
Memahami Orang Lain
            Eksistensi seseorang akan diterima dengan baik dalam suatu komunitas apabila orang itu mampu menunjukkan empatinya. Yakni bisa merasakan apa yang dirasakan orang lain. Orang ini juga mampu memahami gejala emosi orang lain lalu mampu mengendalikan emosi itu.
            Dengan memahami emosi orang lain inilah, maka seseorang dapat diterima dalam komunitas tertentu. Dari sini mereka dapat mempengaruhi komunitas tertentu.
Membina Hubungan
            Kecerdasan emosi akan berkembang baik apabila ditunjang dengan kemampuan untuk menjalin hubungan dengan individu maupun komunitas secara harmonis. Untuk itu diperlukan kelincahan dan kelancaran komunikasi lisan maupun tulis. Dengan dua kemampuan ini, orang semakin dikenal secara luas dan dari sini dapat dikembangkan kemampuan diri.
Mau Mendengarkan Orang Lain
            Memang gampang-gampang susah untuk menjadi pendengar yang baik. Artinya mungkin kita ini lebih gampang menjadi pembicara (ngomongin orang lain) daripada mendengarkan omongan orang lain. Padahal kita ini diberi dua daun telinga dan satu lubang  mulut. Mestinya kita ini mampu menjadi pendengar yang baik karena mempunyai alat perekam dua buah yakni dua daun telinga. Kemudian mulut kita hanya satu yang tentunya harus lebih sedikti bicara dan memperbanyak mendengarkan orang lain (bukan berati ngerumpi tentang orang lain).
Kalau kita mau mendengarkan orang lain, berarti kita menghormati orang lain. Disamping juga kita mendapatkan masukan dari orang lain itu.
Tidak sedikit orang yang mampu mencapai karir puncak dengan mengembangkan kecerdasan emosi ini meskipun mereka tidak memiliki IP atau NEM tinggi. Salah satu contoh adalah Bill Gates seorang super milyader Amerika Serikat. Ia pemilik perusahaan perangkat lunak Microsoft. Dia berhenti kuliah dari Havard Business School karena merasa  tidak mendapat apa-apa selama kuliah. Meskipun dia ini drop out dari perguruan tinggi terkenal, toh beliau tercatat sebagai penyumbang nomor satu untuk perguruan tinggi tersebut. Demikian pula halnya dengan Stephen K. Scout yang dikenal sebagai milyader Amerika Serikat itu. Ketika sekolah dulu, ia tidak dikenal dan biasa-biasa saja. Kini dia bergerak di bidang bisnis pemasaran yang terkenal di negeri  Paman Sam itu.
            Adam Malik yang dikenal lincah dan cerdik itu hanya bermodal ijazah SMP dan membawa mesin ketik butut ketika sampai di Jakarta. Dengan kemauan dan kecerdasan emosinya, beliau bergerak dan berkembang di bidang jurnalistik. Dari sini beliau terus mengembangkan diri dan dalam perjalanan karirnya sampai pada keberhasilan menjadi Meteri Luar Negeri dan Ketua MPRS
            Berkaitan dengan pengembangan kecerdasan emosi ini, Purdi E. Chandra yang sukses dengan Primagamanya itu pernah mengatakan :” Untuk menjadi entreupreneur sejati tidak perlu IP tinggi, ijasah, apalagi modal uang. Saat yang paling tepat itu justru pada saat kita tak punya apa-apa. Pakai ilmu street smart saja.Kemampuan otak kanan yang kreatif dan inovatif sudah memadai. Banyak orang ragu berbisnis cuma gara-gara terlalu pintar. Sebaliknya orang yang oleh guru formal dianggap bodoh karena nilainya jelek, justru jadi wirausahawan yang sukses (Berwirausaha edisi 2 tahun 1/2002). Bahkan T. Kiyosaki secara ekstrim mengatakan :”If you to be rich and happy, don’t go to school”
            Kecerdasan emosi dapat dikembangkan menjadi soft skill. Yakni kemampuan yang tidak kasat mata yang berupa ketelatenan, kesabaran, kemampuan adaptasi, dan tahan terhadap stress yang menimpanya. Kemampuan ini memang tidak bisa dilihat, tidak bisa diukur, dan tidak pernah diperoleh melalui bangku sekolah maupun kursi kuliah. Kemampuan soft skill ini dapat diperoleh melalui organisasi, dunia kerja, bermasyarakat, maupun komunitas lain. Semakin banyak interaksi seseorang terhadap berbagai komunitas, maka akan semakin baik soft skill seseoraang.
            Soft skill ini pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua kategori yakni yang disebut dengan intrapersonal skill dan interpersonal skill. Intrapersonal skill adalah sesuatu yang berkaitan dengan kemampuan seseorang mengenai diri sendiri, memotivasi diri, ambisi, dan bekerja keras. Kemudian interpersonal skill lebih berkaitan dengan kemampuan seseorang dalam berinteraksi dengan orang lain seperti empati, kepemimpinan, kemampuan bernegoisasi, memotivasi, dan mengarahkan orang lain  (M. Sholekhudin, 2006).
Lasa Hs

Perpustakaan  UMY

0 komentar:

Posting Komentar