Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Rabu, 20 Desember 2017

ANDA INGIN MERESENSI BUKU ?

                                                                                
Resensi merupakan bentuk pembahasan kritis terhadap karya intelektual dan/atau karya artistik orang lain. Pembahasan ini meliputi isi, gaya bahasa, sistematika penulisan, fisik, maupun unsur lain.
                Kegiatan ini juga dapat dikatakan sebagai media promosi buku dan bacaan lain. Oleh karena itu dalam meresensi buku perlu mempertimbangkan tema, penulis, sistematika penulisan, penerbit, kemutakhiran, dan perkembangan keadaan. Sebab tidak semua karya tulis itu layak diresensi karena tidak memiliki nilai-nilai keilmuan, pendidikan, moral, ekonomi, dan budaya.
                Dalam dunia perpustakaan, resensi berfungsi sebagai media temu kembali, media seleksi, dan media promosi koleksi. Dalam hal ini, pustakawan sebagai tenaga profesional kurang memiliki kreativitas memanfaatkan resensi sebagai media mempromosikan sumber informasi yang dikelola perpustakaan. Padahal perpustakaan sering menerima buku-buku baru dalam berbagai bidang sesuai tingkat perpustakaannya. Sebagian besar pustakawan masih berpikir konvensional, terjebak pada pola pikir stagnan, takut melangkah, bahkan cenderung birokrasi. Keadaan ini ibarat ayam yang mati kelaparan di lumbung padi.
Latar Belakang
                Dunia resensi seharusnya mendapat perhatian pustakawan dan dikembangkannya. Sebab aktivitas resensi mampu meningkatkan kemampuan penulisan, berfungsi sebagai media promosi, media seleksi, dan sebagai media temu kembali akan sumber-sumber informasi yang dikelola perpustakaan. Oleh akrena itu, kegiatan ini perlu disosialisasikan kepada para pustakawan dengan berbagai pertimbangan dan realita bahwa:
1.            Pustakawan kurang mampu meresensi  atau bedah buku.
Pustakawan yang memproklamirkan dirinya sebagai seorang profesional ternyata sangat lemah dalam penulisan. Padahal menulis bagi pustakawan memiliki banyak manfaat antara lain bahwa penulisan bermanfaat sebagai media komunikasi antarpustakawan dan masyarakat, dikenal orang lain, dan memperoleh angka kredit. Lemahnya penulisan terutama meresensi ini juga diakui oleh Hermanto (2004: 26) seorang peneliti Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan Bogor yang menyatakan bahwa sedikit sekali pustakawan di Departemen Pertanian yang telah menulis artikel di surat kabar untuk tujuan promosi perpustakaan.
2.            Pustakawan kurang percaya diri
Pustakawan itu sebenarnya bisa menjadi ilmuwan berbagai bidang apabila memiliki keberanian, kemauan kuat, dan percaya diri. Mereka dapat mendalami berbagai ilmu pengetahuan melalui sumber informasi dan fasilitas perpustakaan yang mereka kelola dan memanfaatkan perpustakaan atau pusat informasi lain.
3.            Pustakawan kurang kreatif
Kreativitas merupakan tuntutan tersendiri bagi seorang profesional. Kurangnya kreativitas menyebabkan lambannya perkembangan profesi. Kreativitas akan muncul karena adanya inspirasi, ilham, maupun rangsangan yang diperoleh melalui renungan, bacaan, diskusi, pengalaman orang lain, memperhatikan peristiwa, dan mengalami sendiri.
4.            Terbuka media bedah/ resensi buku
Di era ini terbuka kesempatan untuk berdiskusi keilmuan termasuk bedah buku yang pelaksanaannya melalui perguruan tinggi, organisasi profesi, event organizer, penerbit, toko buku, maupun perpustakaan. Di samping itu resensi buku dapat dilakukan melalui media cetak seperti majalah profesi dan surat kabar. Memang surat kabar tertentu menyediakan rubrik perbukuan pada hari-hari tertentu. Peluang ini kurang dimanfaatkan oleh para pustakawan. Semestinya mereka menangkap peluang ini, sebab perpustakaan sering menerima buku-buku baru sesuai jenis perpustakaan itu.
Resensi dan fungsinya
                Kata resensi berasal dari kata recensie (bahasa Belanda) yang berarti membicarakan dan menilai/beordelend en besproken. Dari makna inilah, maka media cetak Belanda menyediakan halaman atau kolom khusus sebagai wadah pembicaraan buku ini. Untuk menyebut resensi ada beberapa isttilah. Ada yang menyebutnya boeksennieuws/berita buku, onze bestaafel/meja baca kita, boekbespreking/pembicaraan buku, dan pas veschenen/baru terbit (N. Daldjoeni, 1993: 33).
Dari pengertian ini dapat dipahami bahwa resensi berarti menguraikan isi buku saja, menilai saja, atau menguraikan dan menilai suatu buku. Pengertian yang terakhir inilah yang banyak digunakan oleh para pecinta buku itu dalam menyelenggarakan kajian perbukuan itu.
                Pengertian resensi dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia/KBBI (1991) adalah pertimbangan atau pembicaraan buku, atau ulasan buku yang baru saja terbit. Dari pengertian ini dapat dipahami bahwa dalam kegiatan resensi terdapat tiga unsur yang saling terkait yakni adanya buku, penilaian/evaluasi, dan unsur kebaharuan. Dengan resensi ini, antara lain dimaksudkan untuk memperkenalkan produk (buku) kepada masyarakat luas. Buku perlu dikenalkan kepada masyarakat luas dan ini menuntut penerbit untuk menyikapinya secara aktif. Apalagi kecenderungam masyarakat itu lebih senang ke mall daripada ke toko buku dan perpustakaan.
                Dalam kegiatan resensi juga perlu adanya penilaian yang seimbang. Penilaian yang seimbang akan memberikan makna tersendiri bagi penulis, penerbit, dan pembaca/peserta bedah buku.
                Mengingat salah satu fungsi resensi itu untuk mengenalkan, maka sebaiknya buku yang diresensi /dibedah itu adalah buku baru. Kriteria buku baru memang relatif. Namun demikian sebaiknya buku yang diresensi itu minimal terbitan 3 – 4 bulan lalu dan syukur buku yang diresensi itu buku yang terbit bulan ini.
                Kegiatan ini juga disebut timbangan buku/book review. Book review dalam Webster’s Home University Dictionary (1965: 128) diartikan a critical notice of a newly published book. Dari segi ini dapat dipahami bahwa resensi/timbangan buku merupakan kritikan atas suatu karya tulis baik deskripsi, evaluasi, maupun analisa. Kritik  pada dasarnya adalah hasil usaha pembaca dalam mencari, dan menilai karya melalui pemahaman dan penafsiran yang sistematis dan dinyakatan dalam  bentuk tulisan atau lisan. Kritikan yang baik menurut Liauw Yock Fung dalam Atas Semi (1984: 11) harus memiliki unsur mencari kesalahan/fault finding, memuji/to praise, menilai/to judge, membandingkan/to compare, dan menikmati/to appreciate. Dalam hal ini bisa juga diartikan suatu bagian atau halaman suatu majalah atau surat kabar yang menyajikan  deskripsi dan evaluasi buku-buku terbitan baru/a section or page newspaper or magazine devote to such descriptions of newly published books (The Random House Dictionary of the English Language, 1968).
Fungsi
                Resensi berkembang seirama dengan perkembangan perbukuan suatu negara. Artinya apabila dunia perbukuan berkembang, maka kegiatan resensi semakin marak. Apalagi dengan perhatian media massa yang cukup besar terhadap arena perbincangan buku ini.
                Di negara-negara yang sudah maju, resensi selalu disajikan oleh hampir semua surat kabar. Hal ini merupakan cerminan dinamika intelektual suatu bangsa. Kini media cetak kita juga mulai menyajikan halaman atau rubrik resensi pada hari-hari tertentu. Kegiatan ini dihaapkan berfungsi sebagai media informasi buku baru, memberi hiburan, membangun sinergi antara penulis, toko buku, penerbit,  dan pembaca, serta sebagai alat seleksi bahan pustaka/majalah, surat kabar. .
1.            Media informasi pustaka baru
Untuk mengetahui judul-judul buku yang baru terbit, tidak saja melalui internet, toko buku, pamerwn buku, maupun perpustakaan. Melalui resensi buku juga bisa .diketahui penerbitan buku baru. Hal ini merupakan keuntungan tersendiri bagi pembaca resensi. Sebab sekali baca halaman resensi yang dimuat surat kabar, telah diketahui ringkasan beberapa buku tanpa harus berkunjung ke perpustakaan.
Penulis buku juga beruntung karena bukunya semakin dikenal masyarakat. Masyarakat diharapkan memberikan kritikan, evaluasi, dan saran untuk perbaikan karya berikutnya. 
2.            Meningkatkan minat baca
Bukan lagi menjadi rahasia bahwa minat baca kita rendah meskipun di tingkat ASEAN. Fakta ini ditunjukkan oleh beberapa penelitian. Kondisi ini berdampak pada rendahnya kualitas sumber daya manusia kita.
Resensi merupakan salah satu upaya ikut mencerdasakn kehidupan bangsa. Sebab melalui media ini masyarakat bisa membaca secara ringkas isi berbagai macam buku. Apabila mereka tertarik pada salah satu/lebih buku yang diresensi, mereka
bisa membeli di toko buku atau pinjam ke perpustakaan terkait.
3.            Mengenalkan keahlian
Melalui penyajian buku-buku tertentu oleh orang-orang tertentu, akan dikenal orang-orang yang betul-betul ahli dalam bidangnya. Melalui buku yang ditulisnya, akan diketahui kemampuan intelektual dan kedalaman pengetahuan seseorang. Maka semakin banyak buku yang dihasilkan oleh seseorang ,  berarti akan semakin menokohkan orang itu pada bidang yang digelutinya. Sebab buku yang diterbitkan dan beredar secara nasional/internasional itu pada hakikatnya adalah bentuk ujian dan penilaian publik terhadap karya seorang pengarang.
4.            Mengembangkan perbukuan
Dunia perbukuan kita mengalami pasang surut karena beberapa faktor antara lain: rendahnya kesadaran membeli buku, budaya fotokopi, permainan pengadaan buku sekolah, dan kurangnya perhatian pemerintah terhadap penerbitan buku.
                Dengan maraknya resensi dan bedah buku diharapkan mampu memberikan masukan kepada masyarakat tentang perkembangan perbukuan dalam berbagai bidang. Usaha ini akan membantu pemasaran dan sekaligus pengembangan perbukuan pada umumnya.
5.            Sebagai alat seleksi bahan pustaka.
Dalam pengadaan bahan pustaka suatu perpustakaan perlu pemilihan buku yang relevan dengan pemustaka, edisi mutakhir, reputasi pengarang, maupun sistematika penulisan. Faktor-faktor ini antara lain dapat diperoleh melalui resnsi di media cetak maupun bedah buku.
Peluang resensi
                Pustakawan dan tenaga perpustakaan memiliki banyak kesempatan untuk meresensi buku maupun bedah buku. Mereka sering mendapatkan buku-buku baru yang diterima melalui  pembelian, tukar menukar, maupun hadiah. Buku-buku dalam berbagai bidang itu dapat diresensi sesuai selera mereka.
Media cetak yang terbit di daerah maupun pusat rata-rata menyediakan kolom bahkan halaman tertentu untuk memuat resensi ini minimal seminggu sekali. Media ini dapat dimanfaatkan pustakawan dan tenaga perpustakaan untuk menyajikan resensi dalam berbagai bidang.
                Disamping itu, pustakawan dan tenaga perpustakaan dapat menyelenggarakan bedah buku di lembaga tempat bekerja. Mereka bisa menyelenggarakan acara bedah buku dengan mengundang pustakawan atau tenaga perpustakaan di kantor itu sendiri dan bisa ditambah beberapa orang dari perpustakaan lain.
Selama ini pustakawan bernyali kecil dan kurang berani tampil di forum ilmiah atau tidak mau membuat forum keilmuan sebagai pengembangan diri dan profesi. Kalau sikap seperti tidak berubah, maka sulit diharapkan profesi kita ini akan berubah.
Etika  resensi
                Dalam dunia akademik dan tulis menulis terdapat etika yang harus dijaga, dihormati, dan ditaati. Ketaatan pada etika ini menunjukkan tinggi rendahnya moral seseorang.Sedangkan pelanggaran pada suatu etika kadang berakibat pada penderitaan batin dan moral seseorang.
                Etika meresensi pada dasarnya hampir sama dengan etika penulisan pada umumnya. Adapun sopan santun meresensi antara lain:
1.            Tidak mengirim satu judul naskah ke dua media cetak sekaligus
Penulis pemula kadang mengirim 1 judul naskah ke dua media atau lebih. Mungkin mereka berharap mana yang dimuat lebih dulu dan syukur semuanya dimuat. Cara seperti ini akan mengurangi reputasi penulis itu sendiri. Sebab bagi media cetak yang memuat belakangan dapat dituduh sebagai plagiat dari tulisan yang telah memuat lebih dulu.
2.            Secara jujur menyebutkan sumber kutipan
Kejujuran merupakan salah satu etika yang dijunjung tinggi dalam tata krama penulisan  dan kehidupan keilmuan. Hal ini dimaksudkan untuk menanamkan sikap menghormati ilmuwan dalam mengembangkan pemikiran masing-masing.
Oleh karena itu dalam meresensi harus mancumkan kutipan yang dikutip dari penulis lain dan menyebutkan sumbernya. Ketidak jujuran dalam penulisan bisa berakibat turunnya kredibilitas seorang ilmuwan.
3.            Tidak terlalu banyak memasukkan opini
Meresensi memang memberikan pendapat pada suatu buku. Namun apabila pendapat/opini itu terlalu mendominasi, maka timbul kesan seolah-olah resensi itu merupakan artikel ilmiah. Termasuk opini ini adalah memberikan ilustrasi yang berlebihan terhadap diri penulis.
4.            Mematuhi azas-azas penulisan
Penulis resensi juga harus mengikuti azas-azas penulisan pada umumnya. Azas-azas penulisan itu antara lain adalah kejelasan, keringkasan, kesatupaduan, keterpautan, dan ketepatan.
                Kejelasan dalam resensi berarti bahwa resensi itu mudah dipahami oleh pembaca media cetak dan tidak menimbulkan salah tafsir. Resensi harus ringkas berarti bahwa resensi itu tidak berlebihan dlaam kata, tidak ada pengulangan ide, dan tidak berputar-putar dalam penyampaian uraian. Kesatupaduan berarti bahwa antara kalimat satu dengan yang lain atau antara alinea satu dengan alinea yang lain merupakan penjelasan, penafsiran, rincian, maupun penegasan. Kemudian yang dimaksud dengan keterpautan adalah bahwa antar kalimat satu dengan kalimat lainnya saling mendukung. Adapun ketepatan berarti bahwa resensi itu memang sesuai dengan keinginan penulis reensi. Juga naskah itu harus sesuai dengan kaidah penulisan, ejaan, pemilihan kata, dan penggunaan tanda baca.
Penutup
                Resensi buku maupun bedah buku merupakan media yang dapat dimanfaatkan untuk mempromosikan pustaka. Penerbit dapat memanfaatkan media ini dalam usaha mengenalkan buku-buku terbitannya. Untuk itu diperlukan peresensi-perensensi yang memiliki kemampuan. 
                Pustakawan dan mereka yang bekerja di perpustakaan memiliki peluang tinggi untuk melakukan kegiatan resensi mampu bedah buku. Sebab mereka berkecimpung di dunia informasi dan perbukuan. Persoalannya adalah apakah mereka memiliki kemapuan dan kompetensi atau tidak.
Daftar Pustaka
-              Baribin, Raminah. 1989. Kritik & Penilaian sastra. Semarang: IKIP Semarang Press
-              Djuroto, Otong . 2001. Panduan Membuat Karya Tulis. Bandung. Irama Widya
-              Camus, Albert dkk. 2003. Menulis Itu Indah. Yogyakarta: jendela.
-              Hernowo (Editor). 2003. Quantum Writing. Bandung Mizan Learning Centre.
-              Lasa Hs. 2005. Gairah Menulis. Yogyakarta: Alinea
-              ---------. 2006. Menulis Itu Segampang Ngomong. Yogyakarta: Pinus
-              ----------. 2017. Kamus Kepustakawanan Indonesia. Yogyakarta: Calpulis
-              ----------. 2012. Menulis Artikel & Literatur Sekunder. Jakarta: Universitas Terbuka
-              ---------. 205. Menaklukkan Redaktur. Yogyakarta: Ombak
-              Nurudin. 2003. Kiat Meresensi Buku di Media Mass. Malang: Cespur
-              Samad, Daniel. 1997. Dasar-Dasar Meresensi Buku. Jakarta: Grasindo.

Yogyakarta, 20 Desember 2017

Lasa Hs

Perpustakaan UMY

0 komentar:

Posting Komentar