Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Kamis, 14 Desember 2017

MEM”BACA”KAN MASYARAKAT dan ME”NULIS”KAN INTELEKTUAL

Pendahuluan
Membaca dan menulis merupakan dua kegiatan yang tak terpisahkan. Ayat Al Quran yang turun ke bumi diawali dengan iqra’ (bacalah). Beberapa bulan kemudian turun ayat Nun, wal qalami wama yasthurunNun, w (Nun, demi qalam dan apa yang mereka tulis).
Iqra’ bukan sekedar melek huruf, tetapi proses penyerapan dan penggalian ilmu pengetahuan  melalui proses merekam, merenung, berpikir, melakukan penelitian, dan lainnya pada fenomena alam dan kemasyarakatan. Hasil kegiatan ini lalu dirumuskan dan disempurnakan. Setelah itu seharusnya direkam, ditulis, dan disosialisasikan/kembangkan kepada masyarakat. Disnilah proses nun wal qalami wama yasthurun.
Telah banyak penelitian dan pendapat tentang rendahnya minat baca dan minat tulis di negeri ini. Tidak diketahui berapa milyar rupiah yang telah dihabiskan untuk sekedar “ngrumpi” tentang minat baca. Sementara itu minat baca belum beranjak menjadi gemar membaca, apalagi menjadi kultur membaca. Justru yang meningkat minat baca televisi , smartphone, dan pengguna internet.
Badan Pusat Statistik/BPs (2012) menyatakan bahwa sebanyak 91,68 % penduduk berusia 10 tahun ke atas lebih menyukai menonton televisi. Hanya sekitar 17,66 % dari mereka yang membaca dari beberapa sumber bacaan. Sementara itu, pengguna internet menaik tajam dari tahun ke tahun. Di negeri ini pengguna internet pada tahun 2001 tercatat 1,9 juta orang (JITU dalam Lasa Hs, 2016). Kemudian minat penggunaan internet ini menjadi 88,1 juta pada tahun 2014 (APJII, 2015 dalam Lasa Hs, 2017).
Kesadaran menulis di kalangan intelektual masih rendah apalagi dalam masyarakat umum. Penulisan di kalangan akademisi sebatas keterpaksaan (peraturan akademik, proyek, kenaikan jabatan, lomba, call paper). Ilmu dan hasil penelitian mereka disosialisasikan secara lisan (ceramah,  mengajar narasumber seminar, dialog, diskusi). Bahkan karya akademik yang mungkin bernilai suma cumlaude  itu disembunyikan di lemari besi. Juga sebagian besar hasil-hasil penelitian itu tidak sempat diketahui masyarakat dan hanya sebagai dokumen pertanggungjawaban keuangan.
Untuk itu perlu dorongan-dorongan untuk open access  terhadap sumber-sumber ilmiah itu agar masyarakat tercerahkan oleh pemikiran para intelektual itu.

Membaca dan menulis   
            Membaca dan menulis merupakan dua elemen yang saling mendukung dan tak bisa dipisahkan. Menulis tanpa membaca ibarat orang buta berjalan. Artinya dalam proses penulisan diperlukan ide, pemikiran, pengalaman, dan hasil penelitian yang diperoleh melalui proses baca (merekam, mengamati, melihat). Menulis tanpa diawali dengan membaca (dalam arti luas) kiranya akan kehabisan materi penulisan dan akan mengalami kebingungan bahkan kemandekan. Sebaliknya membaca tanpa menulis ibarat orang pincang yang berjalan. Artinya apalah gunanya ide, teori, pengalaman yang dimiliki seseorang itu apabila tidak disampaikan melalui lisan atau tulisan kepada orang lain. Dengan demikian,apa yang ada di benak seseorang itu tak banyak memberikan memberikan makna dalam kehidupan.
            Membaca merupakan proses penyerapan informasi dan akan berpengaruh positif terhadap kreativitas seseorang. Membaca pada hakekatnya adalah menebarkan gagasan dan upaya yang kreatif. Siklus membaca sebenarnya merupakan siklus mengalirnya ide pengarang/penulis dalam diri pembaca yang pada giliranya akan mengalir ke seluruh penjuru dunia melalui buku aau rekaman lainnya. Dalam hal ini Arthur Shopenhauer (1851) seorang penulis Jerman menyatakan bahwa membaca setara dengan berpikir dengan menggunakan pikiran orang lain, bukan pikiran sendiri (Hernowo, 2003: 35).
            Kalau membaca itu merupakan proses perekaman gagasan, ide, dan pemikiran orang lain, maka menulis merupakan proses penuangan gagasan dan ide tersebut dalam bentuk tulisan. Dengan demikian persoalan penulisan menjadi penting, karena merupakan masalah pendokumentasian ide dan pengembangan ilmu.
            Namun demikian, pembaca yang baik belum tentu berbanding lurus dengan menjadi penulis yang baik. Sebaliknya penulis yang baik pasti sebagai pembaca yang baik.
            Penulis terutama penulis buku hanya bicara sekali tetapi kesannya akan melekat terus dalam hati pembaca dan menjadi buah bibir sepanjang masa. Buku yang berisi pikiran-pikiran penulis itu akan mampu membentuk pendapat umum (public opinion).Yakni pandangan orang banyak yang tidak terorganisir dan menyebar kemana-mana. Mereka memiliki kesamaan pandangan tentang sesuatu dan dalam keadaan tertentu bisa menjadi revolusi.  
Membaca dan Manfaatnya
            Membaca memiliki manfaat dan banyak makna. Dengan banyak membaca bacaan yang berkualitas dan selektif akan memeroleh pengalaman dan pelajaran dari orang lain. Bahkan dengan membaca buku, seseorang dapat terhindar dari kerusakan jaringan otak  di masa tua. Maka orang yang suka membaca (belajar, berpikir positif) insya Allah tidak mengalami kepikunan. Suatu penelitian pernah menyatakan bahwa membaca buku dapat membantu seseorang untuk menumbuhkan syaraf baru (Hernowo, 2003: 33). Beberapa manfaat membaca:
1.     Merangsang sel-sel otak
Membaca merupakan proses berpikir positif karena menyerap ide dan pengalaman orang lain. Kegiatan ini akan merangsang sel-sel otak. Otak sebagai pengatur kegiatan manusia memiliki struktur dan sifat yang unik, misteri, dan penuh keajaiban. Otak memegang peran penting dalam kehidupan intelektual manusia karena seluruh syaraf diatur oleh otak ini. Maka otak perlu dijaga vitalitasnya, dijaga kesegarannya, dan perlu dicegah proses penuaannya. Penuaan dan penyusutan orang, insya Allah dapat dikurangi dan dapat dicegah sejak dini.
Aktif menulis pasti aktif membaca. Tetapi aktif membaca belum tentu aktif menulis. Jadi seorang penulis itu orang yang aktif menggunakan otaknya untuk membaca dan menulis untuk meng up date  ilmu pengetahuannya agar tulisannya tidak out of date . Maka seorang Achdiat Kartamiharja penulis novel itu masih me-launching bukunya di usia 95 tahun pada tahun 2006 (Leo, 2017)
Secaraa psikologis, agar otak terjaga vialitasnya, hendaknya digunakan untuk berpikir positif, rasional, obyektif,  khusnudhan, dan rileks. Sebab pikiran-pikiran yang negatif, emosional dapat menimbulkan distress dan merusak kesehatan. Mereka yang mampu mengoptimalkan kerja intelektual otak dengan menghasilkan pemikiran yang positif (misalnya menulis buku, artikel, pengalaman, kebijakan) , inovatif,  dan membawa kemaslahatan manusia adalah orang yang mampu memperpanjang usia otak secara fisik dan psikologis
2.     Menumbuhkan kreativitas
Dengan membaca, kita memeroleh pandangan, ide, dan pengalaman orang lain. Hasil bacaan ini kemudian kita renungkan, pikirkan, dan praktekkan serta dikembangkan kepada orang lain. Cara baca inilah sebenarnya merupakan cara baca yang berkualitas. Sebab dalam proses baca ini terjadi proses seleksi, pengolahan, dan usaha kreatif untuk dikembangkan. Maka dapat dikatakan bahwa orang yang kreativitasnya menonjol, rata-rata memilki kemampan baca yang tinggi., Hanya orang-orang yang kreatif dan beranilah yang mampu membawa perubahan.
3.     Meningkatkan perbendaharaan kata
Banyaknya kata-kata yang diserap seseorang akan memengaruhi kelancaran komunikasi lisan dan tulis. Maka membaca merupakan penyerapan kosakata, pengetahuan, tatabahasa, dan pengenalan ungkapan. Kegiatan ini merupakan salah satu cara untuk meningkatkan perbendaharaan kata
4.     Membantu mengekspreskan pemikiran
Banyak orang yang lancar bicara dalam ceramah, pidato, sebagai narasumber dalam mengekpresikan pemikirannya, Tetapi sedikit orang yang mampu menulis dengan baik. Hal ini mungkin disebabkan kurang terbiasa mengekspresikan pemikiran melalui tulisan.
Ekspresi melalui tulisan memang berbeda dengan ekspresi melalui lisan. Kegiatan menulis memerlukan penguasaan materi, pemilihan kata, perenungan masalah, dan penyusunan kalimat. Semua kegiatan ini harus dilakukan dengan cermat, teliti, dan penuh pertimbangan, Maka kualitas dan kuantitas bacaan akan mememgaruhi kualitas tulisan., Kata Peter Bolsius “If you do not read, you do not write (Nurudin, 2004: 81)   
Menulis dan Manfaatnya
            Masalah penulisan tidak dapat dipisahkan dengan kegiatan intelektual dan kemasyrakatan. Sebab dalam pelaksanakan kegiatan itu diperlukan ide, pemikiran, dan pengalaman  yang dituangkan dalam bentuk tulisan. Melalui tulisan-tulisan itulah, suatu ide dan pemikiran dapat dipahami orang banyak, diikti dan dikembangkan .
            Dari sisi lain, menulis sebenarnya merupaka kegiatan keilmuan dan pendidikan. Betapa besar peran penulis dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan kemajuan seseorang, Seorang ilmuwan yang tidak menulis ibarat burung bersayap satu. Burung itu hanya mampu hinggap dari ranting satu ke ranting lain, atau dari satu pohon ke pohon berikutnya. Ilmuwan yang menulis (buku, penelitian, artikel) ibarat burung bersayap dua. Artinya ide dan pemikirannya menyebar ke seluruh penjuru dunia.
            Faktor kepenulisan inilah yang membedakan ilmuwan satu dengan lainnya. Maka ada yang mengatakan all scientist are same until one of them writes books. Mereka yang memiliki kesadaran, kemauan, dan kemampuan menulis inilah yang akan memeroleh manfaat materi dan nonmateri
Mitos penulisan
            Rendahnya kesadaran penulisan diakui oleh bayak pihak. Jangankan di kalangan masyarakat, bahkan di kalangan akademikpun juga rendah. Dalam hal ini antara lain dikemukakan oleh Ahmad Fauzi (2017:1) selaku anggota Evaluasi Guru Besar menyatakan bahwa pada tahun 2015 jumlah publikasi ilmiah inernasional Indonesia yang mempunyai dampak dari Scimago Journal Rank /SJR haanya 6.280, sementara Malaysia sudah 23.414, Singapura 17.976, dan Thailand 11.632. Padahal pada tahun 2016 tercatat 5.273 orang bergelar profesor. Andaikata mereka itu setiap tahun menulis buku 1(satu) judul saja, maka setiap tahun akan terbit 5.273 judul buku. Tetapi kenyataannya tidak seperti yang diharapkan.
            Penulisan di kalangan akademik nampaknya belum menjadi kesadaran menulis, tetapi terpaksa menulis. Mereka menulis dipaksa oleh kebutuhan angka kredi, royalti, dan popularitas yang bersifat materialis dan bukan  idealis. Dalam hal ini Sudarsono (2010: 138) melakukan penelitian produktivitas dosen perguruan tinggi negeri terkenal di Yogyakarta dengan 208 respnden. Hsilmya adalah sebanyak 69 orang dosen (33,17 %) menulis buku untuk mencari angka kredit, 28 orang (13,46 %) untuk mendapatkan royalti. Kemudian 22 orang (10,58%) untuk mencari popularitas. Sedangkan 89 orang (43,84 %) menyatakan lainnya.  
            Data lain menyebutkan bahwa rendahnya kesadaran penulisan juga terjadi pada guru sebagai tenaga pendidik. Sekedar contoh bahwa di Indonesia terdapat 1,4 guru yang berstatus PNS pada tahun2009 . Umumnya guru-guru tersebut menduduki golongan pangkat III/a – III/d yang jumlahnya 996.926 orang. Mereka yang menduduki golongan panagkat IV/a sebanyak 334.189 orang, golongan IV/b sebanyak 2.314 guru, dan golongan IV/c hanya 84 orang guru, dan hanya 15 orang guru menduduki golongan pangkat IV/d (Kedaulatan Rakyat, 27 Maret 2009). Menumpuknya guru di golongan II atau golongan IV/a ini kemungkinan kurng mampu menulis karya ilmiah. Sebab untuk naik ke golongan IV/b harus menuis karya ilmiah.
            Di kalangan pustakawanpun, kesadaran menulis masih rendah. Dalam hal ini Sutarji dan Sri Ismi Maulidyah melakukan penelitian terhadap artikel yang ditulis dalam Jurnal Perpustakaan Pertanian tahun 2001 – 2010 (sepuluh tahun), ternyata hanya 0,04 artikel/pustakawan/tahun.  
Menulis dan Manfaatnya
Kepenulisan merupakan dunia idealis, ilmu pengetahuan, budaya, informasi, dan nilai. Dari kepenulisan sering muncul ide cemerlang yang terekam, menyebar, dan berkembang. Perkembangan ilmu pengetahuan lebih cepat karena didukung kepenulisan. Nilai dan budaya bangsa akan turun temurun karena adanya tradisi penulisan.
            Menulis memiliki banyak makna dan manfaat. Ide sederhana apabila ditulis kadang  menjadi berkembang hebat kalau ditulis. Seperti karya Man and the Sea yang pernah mendapat hadiah nobel itu hanya cerita tentang nelayan. Sebaliknya ide yang cemerlang tidak akan jadi apa-apa apabila tidak diekspresikan antara lain melalui tulisan.
            Seorang penulis dapat memeroleh popularitas dan namanya menasional bahkan mendunia. Buah pikiran mereka dapat menembus belahan dunia lain, mampu memengaruhi sikap, tindakan, dan perilaku orang lain. Maka dapat diaakan bahwa pikiran penulis itu tetap hidup dan berkembang terus seolah-olah mereka masih hidup diantara kita. Mereka itu hidup (pikiran dan ide) dalam kematian (jasad). Maka kata Pramudya Ananta Toer “orang boleh pandai setinggi langit, tetapi selama tidak menulis, ia akan hilang” (Leo, 2017: 8)
            Para penulis profesional (ikhlas) mengaku mendapatkan manfaat darikegatan menulis antara lain:
1.     Mendapatkan kemuliaan.
Penulis profesional adalah seorang yang ikhlas memberi dan tidak mebgahrapkan balasan materi (royalti, angka kredit, jabatan, popularitas, hadiah). Mereka memberi ilmu pada banyak orang (dikenal atau tidak dikenal). Bukankan tangan diatas (pemberi) lebih baik/mulia dari tangan dibawah (yadu al ‘ulya khairun min al yadi as sufla)
       Dalam hal ini, Imam Ghazali menyatakan : If you neiher a prince nor a chlid of famous religious leader, do write (apabila kalian bukan anak raja dan bukan anak ulama, maka menulislah). Disini ada pesan bahwa penulis itu akan mendapatkan kemuliaan sama dengan mulianya anak raja atau anak ulama/kiyai. Begitu mulianya kedudukan penulis sebagai perekam dan pengembang ilmu pengetahuan. Maka Khalifah ‘Ali bin Abi Thalib pernah mengingatkan qaid al ‘ilma bil kitabah (ikatlah ilmu dengan tulisan).
            Dari sisi lain, ilmu yang ditulis akan dimanfaatkan banyak orang. Maka penulis memberkan manfaat kepada sebanyak-banyak orang. Bukankah Rasulullah  SAW pernah menyatakan bahwa khairunnasi anfa’uhum linnas.
2.     Memeroleh keberanian
Kebanyakan orang takut menulis, karena khawatir jangan-jangan tulisannya dicemooh, kurang bermutu, tidak dibayar royalti, dibajak dan lainnya. Menulis saja belum kok takut dibajak, maka sampai mati tak akan pernah menulis. Ketakutan menulis harus dilawan dengan keberanian menulis. Pasra penulis terkenal memang pada awalnya mengalami kekhawatiran.Namun berkat keberanian dan nekat mencoba, berlatih, maka ketakutan itu berubah menjadi kesenangan dan kepuasan
3.     Menyehatkan kulit wajah
Fatimah Mernisi, wanita penulis Islam dari Maroko itu pernah menulis dalam salah satu bukunya :”Usahakan menulis setiap hari, niscaya kulit anda akan menjadi segar kembali akibat kandungannya luar biasa. Dari saat anda bangun, menulislah. Sebab menulis itu akan meningkatkan aktivitas sel. Dengan coretan pertama di atas kertas kosong, kantuk di mata anda akan hilang dan kulit wajah anda akan terasa segar kembali”.
Pernyataan ini dikuatkan suatu penelitian yang hasilnya ditulis  dalam buku Opening Up; The Healing Power of Expressing Emotions. Dalam buku ini diuraikan bahwa mengungkapkan pengalaman pahit dalam bentuk tulisan akan memengaruhi pemikiran, perasaan dan kesehaan tubuh seseorang (Hernowo, 2003).
4.     Mengatasai trauma
Dalam sejarah hidup seseorang kadang mengalami kehidupan yang tidak menyenangkan. Kondisi ini bisa ditulis dan kadang menjadi buku best seller.. Adalah Azka Gorbuizer (10 tahun) menulis nasib dirinya, A Gol A Gong yang kehilangan tangan kanannya menjadi penulis novel yang produktif dan terkenal. Bahkan seorang pengemis Prancis pernah menulis buku yang best seller di negaranya.
Begitu juga dengan Dave Pelzer menceritakan kisah hidupnya semasa kecil dalam bukunya berjudul A Child Called it. Dalam buku ini, beliau menceritakan pedihnya disiksa ibu kandungnya sendiri yang merupakan pengalaman yang tak bisa dilupakan. Ternyata buku ini menjadi best seller pada jamannya. Karl Mark yang menulis buku Das Capital ketika ia hidup miskin, menderita, dan golongan buruh diekploitir kaum borjuis. Tan Malaka menulis buku Madilog ketika dihimpit kemiskinan dan sakit parah. Bahkan Buya Hamka merampungkan Tafsir Al Azhar 30 juz itu, justru ketika dipenjara oleh rezim orde lama. 
Dunia kepenulisan dan dunia perbukuan identik dengan perkembangan ilmu pengetahuan bangsa. Bangsa yang maju adalah bangsa yang menjunjung tinggi ilmu pengetahuan dan teknologi. Kalau dunia perbukuan bagus, maka masyarakatnya akan berkualitas. Tanpa buku, sejarah akan diam, sastra terbungkam, sains akan lumpuh, dan pemikiran macet (Taufik Ismail, 2005)
Datftar Bacaan
-        Lasa Hs. 2005. Menulis Itu Segampang Ngomong. Yogyakarta: Pinus
-        ---------. 2006. Menaklukkan Reaktur. Yogyakarta: Pinus
-        ---------. 2017. Kamus Kepustakawanan Indonesia. Yogyakarta: Calipus
-        ---------. 2017. Menulis Artikel dan Luteratur Sekunder (naskah). Jakarta: Universitas Terbuka
-        -----------. 2017. Manajemen dan Standardisasi Perpustakaan Perguruan Tinggi Muhammadiyah-‘Aisyiyah/PTMA. Yogyakarta: MPI PP Muhammadiyah
-        -----------; Roby Kurniadi. 2015. Manajemen dan Standardisasi Perpustakaan Sekolah/Madrasah Muhammadiyah. Yogyakarta: Mengari Publisher (MPI PDM Kota Yogyakarta). 
-        Leo, Sutanto. 2017. Mencerahkan Bakat Menulis. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
-        Siregar, A.Ridwan., 2004. Perpustakaan Energi Pembangunan Bangsa. Medan: USU Press
-        Susan, Bunda. 2017. Biblioterapi Untuk Pengasuhan. Bandung: Noura Publishing.
Biodata
Lasa Hs, lahir 1 Januari 1947 di Nogosari Boyolali. Pendidikan terakhir S2 Manajemen Perpustakaan UGM. Pengalaman; pustakawan utama (IV/e), guru, dosen, asesor BAN PT, kepala perpustakaan PT, penulis, mitra bestari/reviewer jurnal UGM dan UII, juri berbagai lomba kepustakawanan, tim penyiapan akreditasi perpustakaan DIY, redaksi jurnal. Karya tulis berupa buku, baru 53 judul (mandiri atau kolaborasi, diterbitkan 15 penerbit), ratusan artikel dan makalah. Tulisannya disitasi oleg Google scholar 1.400 kali, dan webometrik repositiry 807 kali. B

* Makalah Workshop Kopi Darat Nasional Pegiat Literasi Muhammadiyah tanggal 8 – 10 Desember 2017 di Universitas Muhammadiyah Surakarta

      Lasa Hs
      Ketua FPPTMA




0 komentar:

Posting Komentar