Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Minggu, 17 Desember 2017

MENGEMBANGKAN KREATIVITAS PENULISAN BUKU


PENDAHULUAN
            Buku sebagai media rekam ilmu pengetahuan berkembang seirama dengan perkembangan ilmu pengetahuan. Melalui rekaman ini, ilmu pengetahuan terdokumentasikan, menyebar lebih luas, dan memiliki keawetan. Namun demikian
perkembangan perbukuan kita belum signifikan dengan perkembangan pendidikan kita. Hal ini sangat mungkin karena rendahnya tradisi penulisan kita.
            Melalui penulisan buku, sebenarnya dapat dilakukan kegiatan penyimpanan dan pengembangan ilmu pengetahuan. Melalui penulisan, seseorang mampu mengekspresikan diri, mampu bersaing secara terbuka, memberikan manfaat kepada sesama, dan mengabadikan diri dalam perjalanan hidupnya.
            Penulisan buku dan tradisi penulisan memang masih rendah di kalangan intelektual, profesional, dan masyarakat pada umumnya. Penulisan memang telah ditradisikan dalam kehidupan akademik. Namun tradisi ini seolah-olah beban berat dan kewajiban tersendiri. Selepas dari ikatan akademik, mereka merasa terbebas dari penjara penulisan. Akhirnya tidak tumbuh kesadaran untuk pengembangan ilmu pengetahuan melalui penulisan buku maupun  artikel.
            Terdapat beberapa kemungkinan rendahnya penulisan buku di kalangan intelektual. Mungkin mereka kurang percaya diri terhadap hasil pemikiran sendiri. Kadang mereka beralasan karena kesibukan diri, takut dikritik, takut dicemooh, dan takut tidak diterima oleh penerbit maupun redaksi majalah/jurnal.         
            Selama ini, tidak sedikit orang yang kepingin menulis. Keinginan ini tidak ditunjang dengan motivasi tinggi, disiplin, ulet, telaten, dan tidak mau bekerja keras. Akhirnya keinginan menulis  buku hanyalah khayalan belaka.
            Menulis buku sebenarnya dapat dipelajari asal ada kemauan kuat dan berani mencoba. Memelajari segudang teori penulisan buku memang baik. Namun tanpa adanya keberanian mencoba, maka teori itu hanyalah wacana. Belajar, berlatih, dan berani mencoba merupakan salah satu cara untuk maju. Albert Einstein mengatakan :”Learn from yesterday, hope for tumorrow. The important things is not stop questioning (belajarlah dari hari kemarin, berharap untuk hari esok. Yang penting jangan pernah berhenti bertanya).
            Mencoba dan mencoba, semangat, disiplin, tak kenal menyerah merupakan kiat-kiat untuk bisa menulis dan menjadi penulis. Barbara Sher seorang penulis ulung menasehatkan: “You can learn new things at any time in your life. If you’re willing to be beginner. If you actually learn to like beginner, the whole wolds opens up to you”. (Anda bisa memelajari sesuatu yang baru kapan saja asalkan berpikir sebagai pemula. Jika anda benar-benar mau belajar seperti pemula, maka dunia akan terbuka bagi anda).
            Menulis adalah proses berpikir jangka panjang. Dalam jangka waktu tertentu, kagiatan menulis telah memaksa orang untuk merenung dan memusatkan perhatian lebih panjang terhadap suatu masalah.
            Mungkin malas berpikir inilah yang menyebabkan rendahnya penulisan buku dalam masyarakat kita. Memang sering orang itu malas berpikir dan cenderung mencari jalan pintas dalam menghadapi sesuatu. Thomas Alva Eddison menyatakan:”Five percent of the people think, ten percent of the people think they think, and the other eighty five percent would rather die than think/hanya lima persen manusia yang berpikir, hanya sepuluh persen manusia merasa bahwa dirinya telah berpikir, dan yang delapan puluh lima persen memilih mati daripada berpikir.
Penulisan Buku
            Dunia penulisan buku bukanlah dunia yang menakutkan. Siapapun berkesempatan dan dipersilahkan masuk ke dunia ini.Di sana tidak ada misteri dan tidak ada hal-hal yang menakutkan, alias bukan dunia lain yakni dunia yang hanya dihuni oleh makhluk tertentu.
Kesempatan ini terbuka kepada siapapun dengan maraknya penerbit, melimpahnya sumber informasi (media cetak, media elektronik), perkembangan ilmu pengetahuan, dan kebebasan penuangan ide.
Fenomena Penulisan Buku
            Konon, pada masa dahulu buku dianggap sebagai barang mewah, sehingga hanya orang-orang tertentu yang memilikinya. Demikian pula dulu kepandaian menulis hanya dimiliki oleh para pujangga, pencipta tembang, penulis hikayat, penulis pantun, dan lainnya.
            Kini buku dan kemahiran menulis dapat dimiliki oleh siapapun. Bahkan tradisi penulisan buku semakin berkembang sesuai dinamika masyarakatnya. Katanya kemajuan suatu bangsa itu berbanding lurus dengan kedekatan bangsa itu pada buku. Oleh karena  itu maju mundurnya suatu bangsa dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas buku yang dihasilkannya.
            Dengan kondisi seperti ini sebenarnya peluang menulis buku terbuka lebar bagi setiap orang dalam berbagai bidang. Apalagi profesi sebagai penulis buku di negeri ini jarang yang menekuninya. Peluang ini juga didukung dengan maraknya penyelenggaraan pendidikan kita.
            Namun demikian, fakta  menunjukkan bahwa penulisan buku di negeri yang kaya sumber daya alam ini ternyata masih rendah bila dibanding dengan negara-negara maju. Bahkan di tingkat Asia Tenggara saja, Indonesia menempat urutan bontot dalm hal penulisan dan penerbitan buku.
            Nampaknya menulis buku atau  penulisan dalam masyarakat masih terdapat beberapa anggapan bahwa menulis itu menakutkan, bakat, cuma mengoplos, perang ide, seni, bahkan menulis itu sebagai profesi. Tetapi sebenarnya menulis itu dapat dipelajari asal mau berlatih, memiliki motivasi tinggi, disiplin, ulet, telaten, dan tidak mudah putus asa.
Menakutkan
            Banyak orang yang ingin menulis tetapi jarang yang mau menulis. Kemauan menulis sangat memengaruhi karir dan pengembangan diri seseorang. Kemauan adalah dorongan dalam diri seseorang untuk berbuat meskipun terdapat beberapa hal yang menakutkan atau yang menghalanginya.
            Sebagian besar orang termasuk para intelektual beranggapan bahwa menulis buku itu merupakan dunia yang misterius, menyeramkan, dan menakutkan sehingga untuk memasukinya perlu keberanian tersendiri. Mereka takut jangan-jangan naskahnya ditolak penerbit. Kadang mereka terbayang-bayang jangan-jangan apa yang ditulis itu banyak salahnya. Ada lagi diantra mereka yang takut ketahuan kedangkalan ilmunya.Bahkan ada yang khawatir jangan-jangan nanti bukunya dibajak. Padahal menulis saja belum.
            Ketakutan harus dilawan dengan berusaha menaklukkan ketakutan itu sendiri. Orang yang takut berenang misalnya, maka harus diceburkan ke air agar berani berrenang. Dengan demikian mereka akan berusaha untuk bisa renang.
            Demikian halnya dengan penulisan buku. Jika ingin menjadi penulis buku atau bisa menulis, maka harus bisa melawan ketakutan itu. Sebab memang para penulis profesional itu pada mulanya juga memiliki pengalaman yang salah satunya adalah kekhawatiran bahwa karyanya itu dianggap jelek. Kemudian dengan optimisme yang tinggi dan keberanian, mereka akhirnya berhasl menjadi penulis
Bakat
            Memang ada pendapat bahwa menulis itu bakat.Mereka berasumsi bahwa kalau orang yang tidak mempunyai bakat, maka dipaksakan seperti apapun, maka tak akan bisa menulis. Demikian pula dengan seni. Para seniman itu memang semula tidak memiliki kemampuan seni. Namun karena bakat dan terus mengembangkannya maka orang itu menemukan jati dirinya sebagai seniman.
            Penulis-penulis berbakat mendasarkan tulisan mereka  pada datangnya ide dan inspirasi yang kuat. Bagi orang seperti ini, menulis tidak banyak memerlukan waktu. Ia hanya menantikan ide sampai datangya perasaan untuk bisa menulis. Sejalan dengan itu, Hainston mengemukakan teori sentuhan magis/magic touch theory. Yakni teori yang menyatakan bahwa seorang penulis menggerakkan tangannya untuk menulis karena adanya sentuhan magis yang datang tiba-tiba (Kusniawan, 2004: 28).
Seni
            Proses penulisan memang sangat pribadi, karena penulisan ini hanya dapat dilakukan secara pribadi oleh seseorang. Hasil tulisan itu mencerminkan kepribadian, pikiran, dan emosi penulis. Dalam praktik penulisan tentunya tidak ada setengah kelimat ditulis oleh seseorang, lalu kalimat berikutnya ditulis oleh orang lain.Hal ini sama halnya dengan lukisan seseorang. Apabila seseorang melukis kepala dan leher manusia dan yang lain melukis tangan dan kakinya misalnya. Maka lukisan semacam ini tidak akan menjadi karya seni yang indah, karena tidak mewakili ”dunia dalam” pelukisnya.
            Tulisan yang berupa susunan kata, kalimat, dan alinea itu merupakan karya emosional seseorang. Penulis secara pribadi dengan perasaan seni memilih kata, menyusun kalimat, merangkai kalimat, dan memilih tema. Dari proses ini setiap penulis memiliki gaya penulisan, pengungkapan,  dan penyusunan kalimat berbeda satu dengan yang lain. Dengan kata lain setiap penulis memiliki gaya tersendiri dan itu merupakan ciri masing-masing. Tentang penulisan ini, Claude Levi-Strauss (Antropolog Perancis) menyatakan bahwa tulisan merupakan ciptaan ajaib yang pengembangannya membawa manusia pada suatu kesadaran yang lebih besar untuk mengatur masa sekarang dan masa depan (The Liang Gie, 1992: 9).
            Proses penulisan memerlukan kreatifitas dan harus memiliki naluri bahasa yang kuat, lincah, dan efektif. Kemahiran memilih kata dan merangkai kalimat inilah merupakan seni tersendiri. Dalam pengungkapan pemikiran ini memerlukan instuisi yang tinggi di samping kekuatan menulis sesuaai inspirasi yang muncul. Maka menulis itu merupakan dunia kerja yang menuntut banyak rasa sepi.
Bukan mengoplos
            Kadang orang meremehkan dunia penulisan yang dianggap hanya model copy paste atau mengoplos ide orang lain. Menulis kata mereka sama dengan mengoplos oli dengan minyak tanah. Oplosan itu menghasilkan oli murahan.
            Menulis yang benar bukan sekedar mengoplos ide dan pemikiran orang lain. Menulis merupakan ekspresi diri secara total yang dalam prosesnya memerlukan ilmu pengetahuan, teori, pelatihan, renungan yang dalam, analisis yang tajam, dan menuntut berbagai kecerdasan antara lain kecerdasan kata/word smart. Yakni kecerdasan untuk memilih kata dan merangkai kalimat yang mampu melahirkan ekspresi jiwa dan berpengaruh kuat pada pembaca. Maka tulisan yang baik adalah tulisan yang mendorong orang lain untuk berbuat.
            Kiranya tidak bisa dipungkiri bahwa dalam penulisan ilmiah terjadi kutip mengutip dan sitir menyitir dan hak ini merupakan kewajaran. Pola sitiran ini akan menggambarkan adanya hubungan antara sebagian artikel yang disitir dengan artikel yang menyitir. Pola pengutipan dan penyitiran ini akan mengandung obyektivitas dan manfaat antara lain:
  1. Menjunjung etika keilmuan
  2. Adanya pengakuan atas prestasi orang lain
  3. Membantu pembaca dalam penemuan sumber informasi yang diperlukan
  4. Mengenal metode, teori, hasil penelitian yang pernah ditemukan orang laina
  5. Memperoleh latar belakang masalah yang akan dibahas dalam suatu tulisan ilmiah
  6. Mengoreksi karya atau pendapat orang lain atau pendapatnya sendiri
  7. Membuktikan keaslian data
  8. Mengembangkan pemikiran, ide, maupun hasil penelitian orang lain
Menulis bukan sekedar tatabahasa, ejaan, dan tanda bahasa. Menulis merupakan proses pengembangan kemampuan berpikir dinamis, penumbuhan sikap kritis, kemampuan analisis, dan kemampuan membedakan berbagai hal yang valid dan akurat. Maka menulis bukan sekedar mendemonstrasikan apa yang diketahui atau hasil bacaan. Maka tidak salah apa yang dikatakan oleh Francis Bacon seorang filosof Inggris yang juga disebut sebagai Bapak Ilmu Pengetahuan. Beliau mengatakan :” reading make a full man, conference a ready man, and writing an exact man”.
Mengasyikkan
            Menulis itu menyenangkan dan mengasyikkan. Sebab melalui tulisan, seseorang bisa mengekspresikan kesumpekan diri, menyalurkan emosi dan dapat keluar dari tekanan. Disamping itu penulis memperoleh kebahagiaan karena mampu memberikan sesuatu bahkan pencerahan kepada orang lain. Maka jarang sekali penulis itu kena stres meskipun berulang kali mengalami tekanan politik, ekonomi, dan psikologis.
            Tulisan merupakan media untuk mengembangkan pemikiran, ekspresi, dan eksistensi diri. Melalui tulisan, seorang penulis mampu menyebarkan ide dan pemikiran kepada masyarakat yang lebih luas. Dengan demikian, penullis sedikit banyak mampu memengaruhi orang lain untuk bersikap, berpikir, dan bertindak sesuai keinginan penulis. Hal ini merupakan kepuasan dan keasyikan tersendiri.
            Keasyikan juga dirasakan oleh penulis ketika menlihat bukunya dipajang di toko buku, pameran buku, di perpustakaan, atau dibaca orang. Bahkan ketika buku dibedah atau diresensi, penulisnya merasakan kepuasan tersendiri yang mungkin tidak bisa dirasakan oleh orang lain.  
Dapat dipelajari
            Menulis itu dapat dipelajari asal ada motivasi kuat, disiplin, ulet, tidak mudah putus asa,  telaten, dan berani mencoba. Tanpa ini, maka menulis hanyalah angan-angan belaka. Mereka hanya terbuai oleh khayalan belaka. Belajar tentang menulis belum tentu bisa menulis apalagi menjadi penulis profesional. Tetapi praktik langsung manulis, Insya Allah akan bisa menulis. Di sinilah berlaku sebagai learning by doing.
            Motivasi merupakan modal utama bagi seseorang untuk melakukan kegiatan penulisan terutama penulisan buku. Yakni dorongan dari diri yang berasal dari lubuk hati yang paling dalam untuk mencapai tujuan tertentu. Tanpa motivasi yang kuat memang tidak akan mampu menulis apalagi menjadi penulis yang profesional. Sebab menulis merupakan kreativitas yang didasarkan pada fungsi berpikir, merasa, mengindra, dan instuisi. Unsur-unsur ini diperlukan agar orang tidak kehabisan tema yang akan ditulis.
            Kecuali itu jga diperlukan kedisiplinan dan kemampuan. Kemampuan menulis di sini bukan berarti bahwa menulis itu bakat. Sebab pada hakekatnya bakat itu sendiri baru diketahui setelah seseorang berani mencoba dan berlatih terus menerus. Maka seseorang itu tidak akan pernah mengetahui bakat dan kemampuan diirnya apabila tidak mau mencoba.
Kreativitas penulisan buku
            Untuk bisa menulis diperlukan kreativitas tinggi, menciptakan hal-hal baru, pemikiran baru, atau cara baru. Oleh karena itu penulis harus selalu berpikir untuk menciptakan sesuatu yang baru atau belum pernah ada. Adapun ciri-ciri orang yang kreatif antara lain; terdorong untuk berprestasi, optiiis akan berhasil, mandiri,  berinisiatif, dan berani menghadapi kegagalan.
1. Terdorong untuk berprestasi
            Mereka yang memiliki motivasi tinggi ingin selalu berprestasi. Mereka memacu dirinya untuk berkompetensi (meskipun dirinya sendiri), berusaha menjadi terdepan/pertama kali dalam bidang-bidang tertentu. Upaya pencapaian prestasi ini disebut dengan achievement motivation atau needs for achievement.
            Motif berprestasi ini merupakan dorongan untuk menyelesaikan kesukaran, mengatasi kesulitan, dan berusaha untuk melebihi prestasi orang lain. Oleh karena itu, motif berprestasi ini dapat dipahami sebagai motif yang mendorong inidividu untuk mencapai kesuksesan. Kesuksesan tidak harus diukur dengan materi, kedudukan, jabatan, maupun pangkat. Kesuksesan juga dapat juga diukur dengan ukuran keberhasilan kompetisi itu sendiri antara lain dapat diukur dengan prestasinya sendiri sebagai ukuran keunggulan/standard of excelence
2. Optimis berhasil
            Kata Teddy Rooselevelt (mantan Presiden Amerika Serikat) “Seluruh sumber daya yang anda perlukan itu sebenarnya telah ada pada diri anda. Anda telah memiliki segala yang diperlukan untuk menjadi pemenang”. Pesan ini mendorong orang untuk selalu optimis dalam menghadapi berbagai persoalan hidup. Sebab dalam diri manusia telah disediakan alat penangkal kegagalan.
            Optimis adalah kegigihan memperjuangkan sasaran. Orang yang optimis tidak akan gentar menghadapi kegagalan dan tantangan. Sebab dalam pikirannya telah tertanam keyakinan bahwa dalam setiap kegiatan hanya ada dua pilihan, yakni keberhasilan atau kegagalan. Bila gagal, dia siap untuk menerima kegagalan dan berusaha untuk bangkit lagi. Kemudian apabila usaha itu berhasil, maka inilah yang diharapkan dan akan berusaha mempertahankan keberhasilan itu. Kemudian orang yang memiliki optimisme tinggi biasanya memiliki kecakapan-kecapakan; tekun dalam mencapai tujuan, berusaha dengan harapan sukses, dan berpandangan bahwa segala sesuatu itu pasti ada solusinya. Dengan optimisme yang tinggi, orang bisa mencapai keberhasilan meskipun tadinya biasa-biasa saja.
3. Mandiri
            Sikap mandiri merupakan kemampuan seseorang untuk tidak tergantung pada orang lain serta bertanggung jawab atas apa yang dilakukannya. Orang yang kemandirianya kuat akan memiliki inisiatif, mampu mengatasi kesulitan, percaya diri, dapat melakukan kegiatan sendirian tanpa bantuan orang lain. Dalam mengatasi kesulitan ini, Michael Joradan mengingatkan: “obtackles don’t have to stop you. If you run into a wall, don’t turn around and give up. Figure out how to climb it (adanya tantangan, janganlah menghentikan langkah anda. Apabila anda menghadapi tembok (kesulitan, hambatan, kendala dll.) janganlah berputar dan menyerah. Cobalah temukan jalan keluar sebagaimana anda bisa memanjatnya).
            Kemandirian seseorang dapat dilihat dari aspek emosi, aspek ekonomi, aspek intelektual, dan aspek sosial (T. Havighurst, 1972). Dari aspek emosi, orang dikatakan mandiri apabila telah mampu mengontrol emosi diri dan tidak terpancing oleh emosi maupun kemarahan orang lain. Dia tidak cepat gembira apabila mendapatkan kegembiraan. Orang ini juga tidak cepat sedih apabila menerima penderitaan. Semua ini disikapi dengan wajar-wajar saja. Dari sesi ekonomi, orang dapat dikatakan mandiri apabila tidak lagi menggantungkan kebutuhan ekonominya kepada orang lain. Orang ini betul-betul ingin berdiri di atas kekuatan sendiri. Dia tidak ingin merepotkan orang lain apalagi kalau menjadi benalu orang lain. Orang dikatakan mandiri secara intelektual apabila betul-betul mampu mengatasi masalah yang dihadapinya. Dia yakin bahwa setiap persoalan pasti ada jalan keluar dan setiap masalah pasti ada solusinya. Secara sosial, orang dikatakan mandiri apabila orang itu mampu mengadakan interaksi dengan orang lain tanpa menunggu aksi dari orang lain. Orang yang mandiri akan percaya diri dan mudah bergaul dalam bermasyarakat. Dengan modal ini orang akan dikenal masyarakat secara luas. Dari sinilah dia bisa mengekspresikan diri dan mengembangkan diri dan berani bersaing secara terbuka.
4. Berani menghadapi kegagalan
            Seperti pernah dikatakan oleh Abraham Lincoln bahwa yang penting bukan kegagalan itu yang ditangisi, tetapi bagaimana orang itu bangkit dan bangkit setelah mengalami kegagalan. Kata-kata ini dilontarkan oleh anak manusia yang berkali-kali mengalami kegagalan. Lincoln pada umur 7 tahun dan keluarganya diusir dari rumahnya. Pada umur 22 tahun ia bekerja dan tidak begitu lama dalam pekerjaan ini, tidak lama kemudian dia dipecat, Pada usianya yang ke 34 dan 39 dia mencalonkan diri sebagai angota Kongres tetapi gagal juga, bahkan pada waktu itu tiga orang anaknya meninggal dunia.
            Semangat yang membara tetap menyala meskipun berulang kali mengalami kegagalan. Di usianya yang ke 45 tahun ia mencalonkan diri sebagai anggota Senat Amerika Serikat. Ia kemudian mencalonkan diri sebagai Presiden Amerika Serikat pada usianya yang ke 47,  dan baru  berhasil menjadi Presiden negara  adikuasa itu di usianya yang ke 51.  
            Apabila ingin bisa menulis dan ingin menjadi penulis , maka tidak boleh putus asa bila naskahnya belum dimuat media cetak atau belum diteima penerbit. Kegagalan adalah sukses yang tertunda memang menjadi kenyatakaan. Masalahnya adalah begitu seseorang sekali gagal (tidak mampu menulis atau naskahnya ditolak) lalu putus asa dan tidak berusaha untuk menulis dan menulis.

Langkah-langkah
            Setiap penulis itu memiliki langkah penulisan yang berbeda satu dengan yang lain. Perbedaan ini sebenarnya terletak pada kepandaian penulis pada pengolahan ide. Ide yang baik belum tentu menjadi tulisan yang baik karena tidak bisa mengolah dan tidak bisa mengembangkan ide. Sebaliknya ide sederhana justru bisa menjadi tulisan yang menarik apabila diolah dan disajikan dengan baik.
-Menemukan ide
Sebelum menulis tentunya sudah ada ide lebih dulu. Ide dapat diperoleh melalui mata (membaca), telinga (mendengarkan), khayalan, perenungan, dan merasakan. Ide yang baik diharapkan menjadi tulisan yang baik. Untuk itu perlu diketahui criteria ide yang mungkin bisa menjadi tulisan yang baik yakni:\
  1. Ide yang akan dituangkan ke dalam buku itu memiliki kelebihan apa dari buku lain meskipun tema dan objeknya sama.
  2. Ide itu merupakan sesuatu yang actual
  3. Tema yang akan ditulis benar-benar dikuasai penulis
  4. Ide itu bermanfaat bagi masyarakat pada umumnya
  5. Buku yang akan ditulis itu memiliki kelebihan atau sesuatu yang menarik bila dibanding dengan buku-buku yang telah terbit.
-        Mengamati fenomena masyarakat
Kejadian, peristiwa, atau keadaan yang dialami orang lain atau masyarakat pada umumnya dapat dicermati, diperhatikan, dan direnungkan. Fenomena ini apabila dipandang perlu sebenarnya dapat ditulis dalam bentuk artikel bahkan bisa menjadi sebuah buku. Hal ini tergantung sejauh mana kepekaan dan ketajaman daya analisis seseorang dalam menangkap suatu fenomena. Fenomena yang terjadi di sekeliling kita mungkin tidak memiliki nilai apa-apa bagi sebagian besar orang. Tetapi bagi mereka yang memiliki kreaivitas tinggi dan kemampuan berpikir divergen, maka hal-hal yang nampaknya sepele, justru menjadi karya besar. 
-        Mencari literatur
Setelah ditemukan tema, seorang penulis buku seharusnya mencari literature yang relevan. Literatur dapat dicari di internet, took buku, perpustakaan, pameran buku, acara bedah buku, maupun berkomuniaksi dengan teman sejawat/visible college. Literatur ini digunakan untuk mnambah wawasan, mencari solusi, mencari landasan teori, dan pengembangan gagasan. Oleh karena itu bobot tidaknya suatu tulisan dipengaruhi oleh kualitas dan kemutakhiran literatur yang digunakan sebagai acuan.
-        Survei ke toko buku atau pameran buku
Surevi ke took buku atau pameran buku perlu dilakukan. Survei ini diperlukan untuk mengetahui tema-tema apa saja yang telah ditulis orang, tema apa yang paling laris, atau tema apa yang jarang ditulis orang tetapi ditunggu masyarakat. Survei sekilas dapat diketahui secara garis besar masyarakat itu cenderung pada buku apa dengan mengamati kelompok  buku apa saja yang banyak diminati pengunjung took buku.
Di samping itu, bisa juga sering bersilaturrahim ke penerbit. Penerbit biasanya memiliki pengalaman tentang tema-tema yang menarik dan belum banyak digarap penulis. Pengalaman mereka itu besar manfaatnya bagi penulis.
-        Penulisan
Proses penulisan dapat dilakukan di mana saja dan kapanpun waktuya. Sebenarnya menulis itu tidak harus dilakukan di ruang sunyi di malam hari. Di tempat keramaianpun, orang dapat melakukan penulisan seperti ketika mengikuti seminar, mengikuti rapat yang berjam-jam, naik kendaraan, menunggu ujian, dan lainnya tergantung kemauan dan kedisiplinan.
Menulis pada dasarnya adalah ekspresi perasaan, emosi, pemikiran, dan kemauan secara total. Oleh Karen aitu dalam menulis buku hendaknya dikeluarkan seluruh emosi, perasaan, pikiran, dan ide tentang tema yang sedang digarap itu secara tuntas.
Agar semua ide tercurah semua dalam suatu naskah, maka disarankan untuk sementara tidakmemikirkan tatabahasa, ingat-ingat literature yang pernah dibaca terutama yang terkait dengan tema buku yang akan ditulis. Dan penulisan buku tidak harus dari awal, atau tidak harus dari bab I lalu ke bab II dan seterusnya.
-        Penyuntingan
Sebaiknya penyuntingan dilakukan setelah seluruh ide, pemikiran, teori, pendapat, dan perasaan tentang tema itu telah dicurahkan semua. Cara ini untuk menjaga agar pikiran lebih tenang dan lebih teliti dalam mengoreksi naskah. Penyuntingan dapat dibuat secara bertahap meliputi penyuntingan isi, sistematika penulisan, dan perangkat kebahasaan. Adapun penyuntingan mengenai perangkat kebahasaan meliputi perhurufan, penomoran atau angka, lambing, ejaan, dan tanda baca. 
-        Pendokumentasian
            Salah satu kelemahan ilmuwan kita atau para penulis adalah kurang memperhatikan pendokumentasian naskah. Naskah  yang telah dikirim ke redaksi atau penerbit, sebaiknya memiliki dokumennya. Pendokumentasian ini pentng dan nanti dapat digunakan untuk:
a.      Mengetahui tema apa saja yang pernah kita tulis;
b.     Apabila  naskah yang dikirim itu tidak diterima penerbit, maka naskah (cetak atau softcopy) yang di tangan kita (didokumentasikan) dapat diperbaiki seperlunya lalu dapat ditawarkan ke penerbit lain.
c.      Mengetahui naskah itu telah dikirim ke penerbit mana saja;
d.     Mengetahui seberapa banyak naskah yang kita tawarkan ke beberapa penerbit;
e.      Sebagai bukti kepemilikan (hak) atas naskah apabila ternyata naskah yang disampaikan ke penerbit itu diaku oleh orang lain. Sebab sering terjadi ada orang yang mengaku karya tulis orang lain sebagai karyanya
-        Penawaran naskah ke penerbit
Setelah naskah dianggap final perlu segera ditawarkan ke penerbit yang relevan. Sebab tiap penerbit memiliki karakteristik buku yang diterbitkan seperti tentang agama Islam, ekonomi, pendidikan, komputer, politik, dan lainnya. Penawaran atau pengiriman naskah dapat dilakukan melalui e-mail, pos, jasa kiriman, dan lainnya.
Dalam pengiriman ini sebaiknya tidak mengirim langsung naskah utuh apalagi softcopynya. Sebaiknya yang dikirim cukup sinopsisnya, daftar isi, biodata penulis, deskripsi pangsa pasar,  cara pemasarannya menurut pandangan penulis, foto, dan lainnya. Apabila nanti sudah ada kejelasan naskah itu diterima, baru dikirim naskah utuh beserta softcopynya. Sebab mengirim softcopy ke penerbit yang tidak disertai perjanjian atau jaminan, sangat bahaya.
Sebelum memutuskan naskah itu akan dikirim ke suatu penerbit, maka perlu dipahami kriteria naskah buku yang layak terbit. Naskah buku yang diterima dan insya Allah diterbitkan penerbit dipertimbangkan dari segi kualitas naskah, potensi pasar, dan reputasi penulis. Namun demikian rata-rata penerbit itu mementingkan kualitas naskah.
Apabila dilihat dari kualitas naskah, maka naskah yang akan diterima penerbit buku dengan urutan:
  1. Naskah buku itu berkualitas dan marketable
  2. Naskah buku itu berkualitas meskipun kurang marketable
  3. Naskah itu kurang bermutu, tetapi marketable
  4. Naskah itu tidak mutu dan tidak marketable.
Apabila naskah yang kita kirim ini hanya masuk kriteria nomor 4 yakni tidak mutu dan tidak marketable, maka kecil kemungkinan untuk diterima penerbit.
            Suatu naskah buku akan dipertimbangkan untuk diterima atau ditolak penerbit juga dilihat dari potensi pasar. Artinya siapa dan seberapa banyak calon peminat naskah buku yang ditawarkan penulis untuk diterbitkan itu. Dalam hal ini penerbit memiliki urutan ketentuan diterima/tidaknya suatu naskah berdasarkan potensi pasar yakni
  1. Naskah itu memiliki pasar (peminat) yang lebar/banyak dan buku itu memiliki lifecycle panjang
  2. Naskah buku itu memiliki pasar/market/peminat sempit/sedikti tetapi memiliki lifecycle panjang
  3. Naskah buku itu memiliki pasar/market lebar/banyak meskipun lifecycle pendek s
  4. Naskah buku itu kira-kira pangsa pasarnya sempit dan memiliki lifecycle pendek
Popularitas penulis juga menjadi pertimbangan tersendiri bagi penerbit dalam penerimaan naskah. Maka tidak heran kalau penulis-penulis terkenal diburu oleh penerbit. Namun demikian bagi penulis pemula tidak perlu mati nyali apabila ingin menjadi penulis. Sebab yang dikenal itu bermula dari tidak dikenal. Kemudian perlu dicari kiat-kiat dan langkah-langkah bagaimana caranya untuk menjadi dikenal.
Dari segi poplaritas penulis, penerbit rata-rata memiliki urutan prioritas seagai berikut;
  1. Penulis populer dan tema naskah bukunya populer
  2. Penulis populer dan tama naskah bukunya kurang populer
  3. Penulis tidak populer dan tema populer
  4. Penulis tidak populer apalagi naskahnya tidak populer.    
Penutup
            Penulisan buku dan yang lain merupakan fenomena tersendiri di kalangan terpelajar maupun dalam masyarakat. Penulisan dianggap menakutkan, profesi, bakat, sulit, sekedar mengoplos, kurang percaya diri, dan lainnya. Kondisi ini antara lain yang menyebabkan penulisan buku di negeri ini masih rendah bila dibanding penulisan buku di negara lain.
            Penulisan buku sebenarnya memiliki banyak makna antara lain menyehatkan kulit wajah, mampu memengaruhi orang lain, memberikan pendidikan, sharing ilmu pengetahuan dan lainnya secara luas. Disamping itu, media cetak ini lebih fleksibel bila dibanding dengan media trasfer  lain. Sebab buku dapat dibaca di berbagai tempat tanpa memerlukan sarana pendukung, dapat dibawa ke mana-mana, dan relatif terjangkau oleh masyarakat banyak.
Daftar Bacaan
-        Arifin, E. Zaenal. 1998. Dasar-Dasar Penulisan Karangan Ilmiah. Jakarta: Grassindo
-        Camus Albert dkk. 2003. Menulis Itu Indah. Yogyakarta. Jendela
-        Hernowo. 2003. Quantum Reading. Bandung. Mizan Learning Centre
-        -----------. 2003. Quantum Writing. Bandung: Mizan Learning Centre
-        Kartanegara, Mulyadhi. Seni Mengukir Kata; Kiat-Kiat Menulis Efektif Kreatif. Bandung: izan Learning Centre
-        Lasa Hs. 2005. Gairah Menulis. Yogyakarta: Alinea
-        ----------. 2009. Menulis Itu Segampang Ngomong. Yogyakarta: Pinus
-        Nurudin. 2004. Menulis Artikel Itu Gampang. Semarang: Effhar.
-        -----------. 2004. Membangkitkan Roh Menulis Artikel. Malang: Cespur
-        ------------. 2003. Kiat Sukses Meresensi Buku di Media Massa. Malang Cespur.
-        Stevenson, Robert Louis. Seni Menulis dan Membuat Buku. Yogyakarta: Jendela



Yogyakarta, 18 Desember 2017

Lasa Hs
Perpustakaan UMY


0 komentar:

Posting Komentar