Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Senin, 04 Desember 2017

PROFESI PUSTAKAWAN: ANTARA HARAPAN DAN KENYATAAN


Kiranya tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa di Indonesia masih sedikit orang yang mengenal bahwa bekerja di perpustakaan memerlukan pendidikan formal. Belum banyak orang mengerti bahwa pustakawan adalah suatu profesi yang tidak kalah dengan profesi lain. Pertanyaan klasik tentang profesi pustakawan dan ruang lingkup tugas serta tanggung jawabnya masih selalu saja muncul. Sering muncul pertanyaan-pertanyaan seperti: apakah ilmu perpustakaan itu?; apa beda antara perpustakaan, pusat dokumentasi, pusat informasi, pusat analisis informasi dan Clearinghouse?; apakah tugas pustakawan benar tugas seorang professional?; dan masih banyak pertanyaan lain yang berhubungan atau berkaitan dengan ruang lingkup perpustakaan dan pustakawan (Sudarsono, 1992:149).
Kadangkala karena profesi pustakawan dianggap kurang bergengsi, atau kurang dikenal, mereka yang melakukan pekerjaan yang sama dengan pustakawan menyebut dirinya “ahli dokumentasi”atau “ahli informasi” dan lembaganya disebut sebagai “ pusat dokumentasi dan informasi” ataukah ini suatu kritikan terhadap pustakawan yang masih bersifat pasif, tidak pernah berusaha untuk mengikuti perkembangan zaman (Zen, 1992:21).
Pustakawan masa kini harus aktif, menyesuaikan diri ditempat mana mereka bekerja dan harus mempelajari tingkah polah pencari informasi (user). Dengan kata lain, para pustakawan diharuskan berorientasi pada pemakainya (user-oriented), tidak hanya sibuk dengan dunianya sendiri. Pustakawan semestinya sadar bahwa bekerja di perpustakaan merupakan pekerjaan jasa untuk melayani informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat disekitarnya, pustakawan selalu berinteraksi dengan masyarakat (User), dapat disimpulkan bahwa pustakawan merupakan makhluk sosial.
Sebagai makhluk sosial dan sebagai sosok professional, pustakawan diharapkan mampu mempertanggungjawabkan hak-hak dan kewajiban yang melekat pada diri seorang pustakawan. Pertanyaan-pertanyaan klasik dari masyarakat tentang profesionalisme pustakawan dapat dijadikan sebagai evaluasi apakah memang benar pustakawan sudah melaksanakan tugasnya secara professional? Atau malah pustakawan sendiri tidak memahami bahwa pustakawan merupakan pekerjaan professional?
Selain permasalahan keprofesionalan pustakawan, tentu saja masyarakat juga akan mempertanyakan peranannya dalam kehidupan sosial sebagai dampak dari perkerjaan professional masyarakat (user) mengharapkan pustakawan memiliki kontribusi dan berperan aktiv dalam menghimpun, mengelola, dan menyebarluaskan informasi sebagai wujud dari keprofesionalan tersebut. Terlebih pada abad elektronik saat ini, masihkah pustakawan dibutuhkan ketika semua sudah tergantikan oleh perangkat-perangkat canggih yang menawarkan kecepatan dan kemudahan.
Harus diakui bahwa pemaparan yang akan disampaikan penulis dalam belum tersusun secara sistematis karena baru merupakan perkenalan tentang profesionalisme pustakawan dan peranan nya sebagai makhluk sosial yang perlu dikaji dan sangat diharapkan untuk dievaluasi demi perbaikan konten dalam tulisan ini.
Apakah benar tugas pustakawan adalah tugas seorang profesional?
Pustakawan adalah praktisi yang dalam bekerja sehari-hari menghadapi gencarnya serbuan electronic devices, di samping aneka ragam tuntutan para pengguna jasa perpustakaan agar layanan informasi menjadi mudah dan cepat (Sudarsono, 2006: 147).  Berbagai macam definisi tentang pustakawan mulai muncul dengan berbagai sudut pandang dalam mendefinisikan  pustakawan. Hermawan (2006:45) melakukan pendekatan secara etimologi mendefinisikan bahwa kata pustakawan berasal dari kata “pustaka”, dengan demikian penambahan kata “wan” diartikan sebagai orang yang pekerjaanya atau profesinya terkait erat dengan dunia pustaka atau bahan pustaka, dalam perkembangan selanjutnya, istilah pustakawan diperkaya lagi dengan istilah-istilah lain, meskipun hakikat pekerjaanya sama, yaitu sama-sama mengelola informasi, diantaranya pakar informasi, pakar dokumentasi, pialang informasi,manajer pengetahuan, dan sebagainya. Sedangkan Qalyubi, dkk (2007: 4) mendefinisikan pustakawan yaitu orang yang bekerja diperpustakaan atau lembaga sejenisnya dan memiliki pendidikan perpustakaan secara formal (di Indonesia criteria pendidikan minimal D-2 secara formal dalam bidang ilmu perpustakaan, dokumentasi dan informasi.
Sulistyo-Basuki (1991:159) menyebutkan bahwa pustakawan adalah tenaga professional yang dalam kehidupan sehari-hari berkecimpung dengan dunia buku, di segi lain, pustakawanpun dituntut untuk giat membaca demi kepentingan profesi, ilmu, maupun pengembangan kepribadian si pustakawan itu sendiri. Ikatan Pustakawan Indonesia (IPI) sebagai organisasi yang menghimpun para pustakawan dalam kode etiknya juga menyatakan bahwa “pustakawan” adalah seorang yang melaksanakan kegiatan perpustakaan dengan jalan memberikan pelayanan kepada masyarakat sesuai dengan tugas lembaga induknya berdasarkan ilmu pengetahuan, dokumentasi dan informasi yang dimilikinya melalui pendidikan. Kalau menyimak perkembagan profesi, timbul tanda Tanya apakah pustakawan dapat digolongkan kedalam profesi atau tidak.Hal ini tergantung pada kemampuan dan tanggapan pustakawan terhadap profesi dan jasa yang diberikan pustakawan serta andangan masyarakat itu sendiri terhadap pustakawan. Adapun ciri profesi menurut Sulistyo-Basuki (1991: 159) adalah sebagai berikut:
1.     Adanya sebuah Asosiasi atau Organisasi Keahlian
Tenaga professional berkumpul dalam sebuah organisasi yang teratur dan benar-benar mewakili kepentingan profesi. Dalam dunia pustakawan dikenal organisasi bernama Library Association (Inggris), American Library Association (AS), serta Ikatan Pustakawan Indonesia(disingkat IPI).
2.     Terdapat Pola Pendidikan Profesi yang Jelas
Profesi didasarkan atas batang tubuh teori atau teknik yang dapat diajarkan. Hal ini berarti bahwa subjek tersebut dapat diperlukan sebagai sebuah disiplin akademis serta pekerjaan professional harus memiliki sifat intelektual, pada umumnya dalam bidang pendidikan, terdapat perbedaan pendidikan antara subjek yang bersifat akademis dengan subjek yang bersifat professional. Yang disebut terakhir ini merupakan masalah pelik karena perlu dikaitkan antara teori dan praktek, karena masih banyak teori yang belum dikembangkan.
3.     Adanya Kode Etik
Dalam tugas pustakawan, kode etik ini diperlukan karena banyak yang belum dibahas dalam peraturan namun dijumpai dalam tugas sehari-hari. Tujuan kode etik adalah untuk memastikan professional akan membeikan layanan atau hasil kerja dengan kualitas tertinggi dan paling baik untuk kliennya, jadi untuk melindungi para pemakai jasa dari perbuatan atau tindakan yang tidak professional (Purwono, 2013: 57).
4.     Berorientasi Pada Jasa
Kepustakawanan berorientasi pada jasa, dengan pengertian jasa perpustakaan dengan pembaca memerlukan pengetahuan dan teknik khusus yang dimiliki pustakawan. Pustakawan tidak memungut imbalan dari pembaca dan pustakawan dapat dihubungi setiap kali berada diperpustakaan dengan tidak memandang keadaan pembaca.
5.     Adanya Tingkat Kemandirian
Sebagai tenaga professional maka tenaga profesioanl harus mandiri, dalam arti bebas dari campur tangan pihak luar. Pada kenyataanya kemandirian professional sulit diterapkan, sifat kemandirian pustakawan bersifat ganda artinya di satu pihak dia dapat mandiri namun di pihak lain ia terikat pada pemerintah sehingga sering disebut adanya kesetiaan ganda.
Jika mengacu pada ciri-ciri profesi di atas, dapat dipastikan bahwa pustakawan itu merupakan sebuah profesi. Meskipun tidak semua poin dimiliki oleh pustakawan maupun asosiasi kepustakawanan. Misalnya permasalahan kode etik, selama ini apakah sudah ditaati oleh tiap-tiap diri pustakawan? Apakah tiap-tiap pustakawan tahu ada kode etik profesinya? Ataukah sampai saat ini pustakawan masih sebuah profesi administratif (saja)?. Mungkin ini hanya sebuah “uneg-uneg” saya saja sebagai seorang yang belum tahu banyak tentang dunia kepustakawanan. Mungkin juga para senior juga sudah membuat rancangan besar membenahi yang salah, melengkapi yang kurang, dan menambah dengan yang baik untuk  profesi pustakawan yang sangat membanggakan ini.
Dilema dalam Ketidakmapanan
Akhir-akhir ini sedang ramai perbincangan tentang nomenklatur baru yang ditetapkan untuk jurusan bidang perpustakaan. Selama ini banyak yang memahami perpustakaan itu sebagai sebuah ilmu hingga dalam penjurusan kuliah diberikan nama “ilmu perpustakaan”. Selain itu juga dimungkinkan pengaruh dari penterjemahan library and information science yang kemudian diartikan sebagai ilmu perpustakaan dan informasi bukan perpustakaan dan ilmu informasi. Sehingga ketika kata “ilmu” pada “ilmu perpustakaan” dihilangkan seperti menjadi sebuah bencana yang membahayakan kelangsungan hidup perpustakaan. Padahal mungkin saja sudah dari awalnya memang perpustakaan itu bukan ilmu.
Namun, jika perpustakaan itu pada perjalanannya sampai saat ini dirasakan pantas menyandang  sebuah “ilmu” maka yang dibutuhkan adalah sebuah landasan ontologi, epistemologi, dan aksiologi. Seandainya pondasi yang dibangun untuk mengokohkan bahwa perpustakaan itu pantas dinyatakan sebagai “ilmu” mungkin nomenklatur untuk lulusan pendidikan perpustakaan tidak sesering ini dirubah. Atau mungkin saja ilmu perpustakaan akan percaya diri tanpa selalu di dampingi embel-embel “informasi”. Atau bisa jadi semua penyelenggara pendidikan perpustakaan akan menyeragamkan gelar untuk lulusannya. Semua memang masih menjadi sebuah “kemungkinan” karena kemungkinan-kemungkinan itu masih belum terealisasi sampai saat ini. Rujukan rujukan yang digunakan oleh Penulis dalam tulisan ini yang masih menggunakan tahun tahun lawas agaknya memang masih relevan untuk sekedar merenung bahwa fenomena 25tahun yang lalu hingga saat ini belum mengalami perubahan yang signifikan dalam hal administrasi dan Pendidikan kepustakawanan di Indonesia.
            Perpustakaan memang sebuah oraganisasi yang terus berkembang. Perubahan-perubahan memang akan selalu menyertai keberadaanya menyesuaikan dengan kondisi yang dihadapai. Sebuah ke-optimisan tentu masih ada karena lulusan perpustakaan atau ilmu perpustakaan dari generasi millenial sudah banyak melakukan pembaruan mekipun belum secara keseluruhan.  Geliat dan semangat Perubahan dari kaum muda dengan kreasi dan inovasi menjadi penyemangat mempertahankan eksistensi Perpustakaan. Inovasi dalam bidang teknologi, kegiatan, promosi, dan lain sebagainya sedikit banyak telah mengubah paradigma tentang perpustakaan.

Referensi
Hermawan S, Rachman dan Zen , Zulfikar. (2006). Etika Kepustakawanan: Suatu Pendekatan terhadap Kode Etik Pustakawan Indonesia. Jakarta: Sagung Seto.
Purwono. 2013. Profesi Pustakawan Menghadapi Tantangan Perubahan. Yogyakarta: Graha Ilmu.
Qalyubi, Shihabbudin, dkk. 2OO7.Dasar Dasar Ilmu Perpustakaan Dan Informasi. Yogyakarta: Jurusan Ilmu Perpustakaan Fakultas Adab dan Ilmu Budaya.
Sudarsono. 1992. “Pendekatan untuk Memahami Kepustakawanan” dalam buku Kepustakawan Indonesia: Potensi dan Tantangan. Jakarta: Kesaint Blanc.
Sulistyo-Basuki. 1991. Pengantar IlmuPerpustakaan. Jakarta: Gramedia.
Zen, Zulfikar, dkk.1992. Kilas Balik 4o Tahun Pendidikan Perpustakaan Di Indonesia 1952 1992 dalam buku Kepustakawan Indonesia: Potensi dan Tantangan. . Jakarta: Kesaint Blanc.


Atin Istiarni
UM Magelang


0 komentar:

Posting Komentar