Bersama Mencapai Keunggulan Informasi Untuk Memajukan Bangsa

Kamis, 28 Desember 2017

TAWADHU’

Firman Allah SWT yang artinya:”Dan janganlah kamu sekalian memalingkan wajahmu dari manusia (karena sombong) dan janganlah berjalan di muka bumi ii dengan keangkuhan. Sesungguhnya Allah itu tidak menyukai orang-orang yang sombong dan membanggakan diri. Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara adalah suara keledai (Q.S. Lukman: 18 – 19).
            Rendah hati (tawadhu’) merupakan sikap yang tidak menonjolkan kelebihan diri. Sikap bersahaja ini justru akan menambah karismatik seseorang, respek, dan hormat pada orang lan. Mereka yang low profil ini biasanya tidak suka ribut-ribut. Mereka yang suka ribut-ribut itu kadang kena stress.
            Mereka yang memiliki sikap tawadhu’ ini biasanya lebih mendahulukan kewajiban dari pada hak. Bagi mereka, hak itu akan datang sendirinya apabila benar-benar melaksanakan kewajiban dengan baik dan ikhlas. Tentunya sikap ini berbeda dengan orang yang selalu mengedepankan hak. Mereka menuntut haknya lebih dulu dan kewajibannya kadang tak jelas. Bahkan hak orang lain diserobotnya. Itupun kadang tidak merasa dosa.
            Sikap rendah hati dan bersahaja telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat beliau. Dalam suatu hadist dikatakan bahwa sahabat Anas berkata “Pernah ada seorang budak sahaya kota Madinah yang menggandeng tangan Rasululah SAW berjalan kesana kemari” (H.R. Imam Bukhari). Ketawadhu’an ini juga ditunjukkan oleh Khalifah  ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz (cucu ‘Umar bin Khattab r.a.) . Dalam kitab Minhajul Muslim (2014) dikisahkan bahwa pada suatu malam sedang menulis, lalu kedatangan tamu. Sedangkan lampu ruang tamu hampir padam (karena menggunakan minyak). Melihat keadaan seperti ini, maka tamu itu matur kepada ‘Umar bin ‘Abdul ‘Aziz “Saya akan memperbaiki lampu  ini”. Lalu Umar bin ‘Abdul ‘Aziz pun mencegahnya seraya berkata “Bukan termasuk orang yang mulia apabila memperlakukan tamu sebagai pembantu”. Mendengar perkataan ini, lalu tamu itu menimpali dengan berkata :”Kalau begitu saya akan membangunkan pembantu saja”. Sejenak kemudian Khalifah itu bangkit dari tempat duduknya lalu mengambil botol berisi minyak untuk mengisi lampu itu dengan minyak. Menyaksikan kejadian ini, tamu itu lalu berkata “Mengapa Amirul Mukminin mengisi minyak pada lampu itu sendiri ?. Kemudian Khalifah yang adil, sederhana, dan bijaksana itu menjawab :”Saya pergi sebagai Umar dan datang sebagai Umar, tidak kurang apapun dari saya. Sebab sebaik-baik manusia di sisi Allah adalah mereka yang bertawadhu’.
            Dalam hal tawadhu’ ini patut kita renungkan nasehat ulama satu kepada yang lain. Pada suatu saat Abu Salamah berkata kepada Abu Sa’id al Khudri “Bagaimana penilaian anda tentang cara berpakaian, minum, berkendaraan, dan makan orang-orang sekarang?. Beliau berkata “Hai saudaraku, makanlah karena Allah, minumlah karena Allah dan berpakaianlah krena Allah. Sebab segala sesuatu yang disitu ada kesombongan, kebanggaan, dan pamer atau biar menjadi orang terkenal, maka sesungguhnya hal itu merupakan kemaksiatan  dan pemborosan. Laksanakan dan lakukan tugas-tugas rumah tanggamu seperti Rasulullah SAW melaksanakan tugas-tugas rumah tangga. Beliau memberi makan, minum, dan menambatkan unta,menyapu rumah. memerah susu kambing, memperbaiki sandal beliau sendiri, bahkan menambal baju. Beliau juga tidak sungkan-sungkan menjabat tangan orang-orang fakir miskin sebagai rayat kecil. Beliau selalu mengucapkan salam dan menyapa lebih dulu pada setiap orang yang dijumpainya, baik orang kaya, orang miskin, anak-anak maupun orang dewasa.
            Dari beberapa sumber dapat dikemukakakn tentang ciri-ciri orang yang tawadhu’ adalah:
1.                  Tidak selalau menonjolkan diri
Dalam pergaulan sehari-hari,orang tawadu’ biasanya tidak mudah sakit hati bila tidak disapa dan tidak dendam bila dicela. Andaikan orang in kaya, maka tidak menampakkan apalagi memamerkan kekayaannya. Mereka berpenampilan apa adanya seperti orang-orang biasa.
2.                  Menghormati tamu
Meskipun orang ini memiliki kedudukan penting, dia selalu menghormati tamu. Tamu baginya adalah rizki (dalam arti luas). Setiap tamu yang datang, disambutya dengan segera (gupuh), disapa (tambuh) dengan sopan, lalu disajikan (suguh)  minum/makanan. Apabila tamu itu pulang, lalu diantarnya sampai pintu. 
3.                  Makan, minum, berkendara, berpakaian tidak berlebihan
Dalam hal makan minum, orang tawadhu’ tidak berlebihan, baik dalam jenis makanan, tempat, maupun cara menikmatinya. Mereka berkeyakinan bahwa perut adalah sumber segala penyakit (jasmaniah & rohaniah)
4.                  Bergaul dan duduk-duduk bersama-sama orang kecil, fakir miskin, penyandang catat dll.
Orang-orang yang tawadhu’ dalam pergaulan tidak membedakan orang berpangkat dan orang-orang miskin. Mereka tidak membuat jarak dalam pergaulan.Mereka tidak angkuh dengan orang kecil, dan tidak merasa bangga bila ketemu dengan orang-orang terkenal
5.                  Memenuhi undangan orang lain meskipun yang mengundang itu orang-orang kelas bawah.  
Orang yang diundang adalah orang yang dipilh dan sekaligus dihormti. Sebab tidak semua orang dipilih untuk hadir dalam pertemuan. Kehadiran mereka merupakan kehormatan diri dan kehormatan bagi yang mengundang. Apabila tidak bisa menghadiri undangan, sebaiknya memberitahu atau minta ijin.
Sikap tawadhu’ akan menumbuhkan kenyamanan dalam pergaulan dan kesejukan pula pada orang lain. Orang lain akan menghormatiya bahkan bisa meningkatkan kharismatik seseorang di mata masyarakat.


Lasa Hs.

            Perpustakaan UMY

0 komentar:

Posting Komentar